Archive for the 'server' Category

Tulisan Anak SMP

Iya saya tahu saya tidak adil. Membandingkan dua anak SMP yang berbeda. Mereka dipisahkan oleh lokasi geografis, kultur bahkan mungkin cara mengikat tali sepatu.

Anak pertama, menulis mengenai keamanan jaringan komputer dan kelemahan yang terkandung didalamnya dengan banyak sekali referensi daftar pustaka. Kelihatan sekali obsesinya di dunia jaringan keamanan komputer telah tertata baik sejak usia dini. Ini buktinya (kalau diklik menuju link asli):

x1_92e1d7e

Anak kedua, menulis juga obsesinya. Yaitu masuk surga. Ini buktinya (kalau diklik menuju link asli):

anak SMP yang terobsesi masuk surga

Diatas, dua-duanya, adalah tulisan anak SMP. Orangnya berbeda.

Tidak adil memang membandingkan sebuah karya ilmiah dengan tulisan curahan hati (yang dipenuhi gambar hati – literal). Tapi dari bukti ini, kadang bertanya saya pada diri sendiri, apa yang harus dilakukan untuk membantu anak SMP kedua (yang jelas-jelas dari Indonesia) agar menjadi lebih baik pendidikannya?

Atau minimal, bisa membantu dia untuk berkhayal lebih variatif daripada sekedar membayangkan pocong dan hati yang luka?

(*Atau memang saya yang harus sadar, bahwa di dunia ini ada manusia yang hanya butuh cerita hantu dan romansa untuk bertahan hidup dari hari ke hari?*)

Pengantar Pengetesan Keamanan Sederhana (cerita tentang Denbagus dan Celana Dalam Nenek Tetangganya)

Gambar seorang nenek tidur. Photo credit: Paula Bronstein/Getty Images

Saya sering dengar kalimat ini, “Lebih baik gua yang masukin daripada orang laen”, pada percobaan test keamanan mesin/jaringan tak diminta yang ketahuan.

Kalimat tersebut, secara personal (artinya buat saya pribadi), kedengarannya janggal. Kok yaa bisa-bisanya bilang begitu ketika ketahuan? Kalau tidak ketahuan gimana dong? Terus, orang lain itu siapa? Orang Botswana? Buset dah!

Contoh scenario kalimat diatas terdengar pada kasus:

  • A – Denbagus Manyun kebanyakan waktu luang. Ia belajar cari cara dapetin duit lebih banyak. Sebagai ABG yang baru kenal internet, membabi-butalah Denbagus Manyun mau tahu cara carding, jadi maling lewat mencuri kartu kredit orang. Ketika carding sepi, Denbagus Manyun coba peruntungan bikin ecommerce palsu dagang barang tidak baik. Ketika itu juga ketahuan, Denbagus Manyun ganti haluan. Email jadi sasaran. Kadang menyandera email orang lain (dengan tebusan duit tentunya). Kadang juga ngembat database orang lain yang isinya email-email untuk dijual. Pada sebuah aksinya, Denbagus ketahuan.
  • B – Denbagus Manyun iseng. Masuk ke mesin orang tanpa niat. Sekedar iseng. Walaupun scenario ini agak aneh. Percayalah, di muka bumi ini banyak orang aneh. Sama seperti scenario A, pada sebuah aksinya, Denbagus ketahuan.
  • C – Denbagus Manyun memiliki ideologi yang tidak sejalan dengan pemilik mesin yang ia masuki. Ketahuan atau tidak ketahuan, Denbagus akan bilang begini.

Jadi ketika suatu hari Denbagus Manyun ketahuan jadi kancil masuk ke rumah orang lain untuk mencuri ketimun. Terus pas ketahuan dia bilang “Lebih baik gua daripada orang laen” maka kalimat ini akan terdengar janggal.

Kenapa?

1. God Complex
Jika scenario A jadi patokan, maka Denbagus Manyun merasa dirinya tokoh protagonis dengan menggunakan kalimat “Lebih baik gua”. Lebih parah lagi, merasa berhak masuk ke WC manapun di dunia ini bahkan tanpa terlihat. Hanya karena ia adalah seorang Denbagus Manyun. God complex, menjustifikasi diri sebagai tuhan yang berhak menentukan nasib orang lain, telah menyerang Denbagus Manyun. Justifikasi kompleksitas ini bisa dengan banyak alasan latar belakang, “Gua kan miskin, jadi boleh” (miskin di sini bisa diganti jadi ganteng/pinter/kaya atau whatever lah) atau “Karena gua bisa”. Di sini, Denbagus Manyun nampaknya harus dibantu disadarkan kalau ia itu bukan Tuhan. Tapi pada scenario B, walaupun iseng, Denbagus Manyun juga tanpa sadar berkata bahwa, “karena gua bisa”. Jadi justifikasi menuhankan diri sendiri bisa dimasukkan dalam kategori scenario A dan B.
Saran solusi: Denbagus Manyun sebaiknya dibantuk untuk diobati. Penjara tidak akan mengurangi kompleksitas Denbagus. Hanya menghambat akses sementara. Kalau dipenjara, siapa yang bisa jamin dia keluar penjara jadi sehat dan akan berguna buat diri dan lingkungannya?

2. Arogansi
Ketika ketahuan jejaknya dan diciduk, baru Denbagus Manyun bilang “lebih baik gua”. Kalau tidak ketahuan, apa yang akan dia lakukan dengan akses gratis keluar masuk rumah orang? Apa yang dia lakukan kalau dia berhasil melihat koleksi beha rahasia milik nenek-nenek tetangganya, sementara si nenek-nenek tidak tahu koleksi bra nya itu mungkin sudah diendus-endus Denbagus Manyun tanpa sepengetahuan? Percaya diri beda dengan arogansi. Jika Denbagus Manyun amat PD bisa masuk kamar nenek-nenek dan nyolek-nyolek behanya, kenapa dia nggak bilang ama tuh nenek-nenek? Terus kenapa juga ia tidak membantu si nenek agar beliau dapat mengamankan behanya, jika suatu hari pemuda macam Denbagus Manyun mencoba memasuki peti harta karun berisi beha bekas itu? Lah kenapa Denbagus Manyun baru bilang “Lebih baik gua” ketika ia tertangkap tangan sedang memegang beha kondor nenek-nenek? Ini aneh, sebab secara bawah sadar Denbagus Manyun sedang mempraktekkan mekanisme pertahanan diri untuk menangkal kritik lebih lanjut. Bahasa kerennya, Denbagus Manyun “a-ro-gan”.
Saran solusi: Arogansi timbul akibat tidak bisa menerima kritik/realita. Untuk bisa menerima kritik/realita sebaiknya mempelajari diri sendiri dengan baik. Ini ada sekelumit operasi standar bagaimana cara mengetes keamanan diri sendiri dengan baik. Kalau bisa mengetes diri dengan baik, dan lalu jadi realistis, kira-kira dikemudian hari nanti, mampu mengetes keamanan rumah nenek-nenek tetangganya dengan baik. Rekomendasi dari National Institute of Standards and Technology mengenai panduan pengetesan keamanan. Kalau bisa, baca dokumen yang di link itu dari bawah sampai atas. Kalo nggak bisa, coba usahakan baca halaman 30. Ada tabel bagus di sana

3. Miskin Transparansi
Karena Denbagus Manyun tidak transparansi (artinya setelah ketahuan baru bicara), siapa yang tahu kalau Denbagus Manyun ketika mendongkel jendela rumah sang nenek tetangganya menggunakan obeng yang telah diguna-guna atau tidak? Bagaimana jika obeng itu ternyata sudah disembur oleh dukun dan ketika digunakan, ternyata tanpa disadari Denbagus Manyun, obeng itu mengumpulkan data celana dalam sang nenek-nenek. Ketidak-transparansi dalam pengujuan keamanan rumah si nenek tetangga, mampu berakibat lebih daripada hanya sekitar tuduhan ‘maling’ kepada Denbagus Manyun. Gimana kalau ternyata Denbagus Manyun selain dianggap maling (akibat mau mengendus beha nenek-nenek) ternyata juga dianggap pemerkosa (akibat obengnya blusukan ke celana dalam sang nenek yang sedang tidur)? Gawat itu. Denbagus Manyun bisa kena pasal berlapis.
Saran solusi: Biar tidak dianggap maling dan berselangkangan ganas, Denbagus Manyun ngobrol lah kalau mau mengetes keamanan rumah orang. Lebih baik ngobrol ke RT/RW biar malah dibantu pakai alat pengetes yang baik. Alat yang baik adalah alat yang diketahui pembuatannya secara aman dan bahkan mampu diaudit dari mana asalnya. Berikut ini di opensourcetesting ada alat-alat yang mampu diaudit dengan baik, silahkan dipilih mana yang cocok.

Nah, diatas hanya sedikit ulasan soal Denbagus Manyun. Bagi teman pembaca mungkin yang bernama Denbagus dan mulutnya manyun, saya mohon maaf. Ini bukanlah nama sebenarnya dan hanyalah tokoh fiktif rekaan saja. Jangan diambil hati.

Ada scenario yang ketiga, yaitu kalau Denbagus Manyun memiliki ideologi yang berbeda. Pada scenario ini, saya lebih memilih tidak berkomentar. Secara pribadi, bukan kewenangan saya bicara soal ideologi orang lain. Ditambah lagi, bicara ideologi pasti akan bicara soal hukum dan Undang-Undang Dasar si pemilik ideologi. Nah, hukum, UU dan ideologi, bukan keahlian saya. Apalagi ngasih kuliah 101. Saya mah bisanya masak doang. Jadi saya lebih baik masak aja buat makan siang anak saya. Huehehehe

Sampai jumpa kembali, kaka

Geek Dan Cinta

Selama ini, setiap ada masalah dengan server, saya dengan amat mudahnya mengirim email dan bertanya apakah ia bisa membantu. Dan selalu, iya selalu, bahkan ketika hujan badaipun (literal, waktu itu ada badai menghantam kota hingga rumah dan jalan-jalan kota kami tertimbun salju setinggi dua meter) ia tetap membantu saya.

Sudah sejak tiga tahun lalu, dengan sabarnya ia membantu saya yang selalu saja setelah selesai selalu menasihati, “Apache itu penting, kamu harus belajar”. Dan saya sungguh bosan mendengar nasihatnya. Hingga biasanya hanya dengan beberapa kali klik, yang membuat JBoss, Derby atau Tomcat jalan dengan baik, tidak merasa perlu buka-buka dokumentasi HELP.

Saya kena penyakit sindrom sok tua. Itu katanya. Orang kalau sudah merasa sok tua (‘sok’ loh, bukan ‘tua’ nya yang jadi penekanan defisini) katanya malas belajar. Iya, saya sok tua. Malas belajar.

Dan lalu, sabtu lalu. Ia pergi. Ia anak pintar yang begitu lulus, fresh grad, darah muda, direkrut pabrik sejak enam tahun lalu, dapat tawaran yang lebih jauh menggiurkan. Menikahi gadis idaman dan hidup di Alaska sana. Ditemani istri baru muda cantik beserta anjing-anjing Husky mereka.

Sabtu lalu, saya bilang, “Kamu geek, bahkan belum pernah membunuh binatang untuk dijadikan santapan makan malam. Bagaimana bisa hidup di alam keras dan jadi pemburu? Bagaimana hidup kamu tanpa komputer?”

Sambil tersenyum ia berkata, “Lihat saja, cinta akan mengubah segalanya”

Saya ketawa. Cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala. Oala, ada satu lagi geek yang sedang jatuh cinta.

Good luck, amigos. Have a great journey.

(*Saya bisa membayangkan hidup tanpa wanita. Tapi hidup tanpa komputer? Astaga…*)

Apache Musrik

Sesuai judul, saya bisa menulis pagi ini karena memang Apache, perangkat lunak penyedia jalannya server sedang down. Semua aplikasi yang dibuat team kami tidak bisa diakses. Yang parah, tadi pagi ada meeting bersama para ‘big guy‘ dan ketika mereka akan mengetik alamat URL website kami terpaksa saya bilang “Sori, lagi down, bapak-bapak ibu-ibu. Sedang diperbaiki. On progress”

Fiuhh, untung mereka mengerti.

Balik lagi ke Apache. Saya kira, seperti biasa. Masalah akan hilang ketika Apache di restart. Atau mesin di restart. Biasa lah, standar operasional IT toh begitu.

Namun, sialnya tetap saja tidak bisa. Maka, langsung saya nyalakan JBoss (*Yang selalu saya simpan sebagai backup untuk jaga-jaga jika ada masalah seperti ini*)

Astaga, JBOSS juga tidak mempan!

Saya coba untuk sabar. Walaupun berkali-kali dialog box dari OS muncul peringatan bahwa HTTPD crashed dan butuh ditindak-lanjuti.

Setelah bongkar-bongkar error log, saya coba mencarinya di Google. Tapi setelah sekian lama mencari, saya kebingungan. Bahkan mesin pencari pun tidak memberikan jawaban banyak (*saya hanya dapat empat entri link sebagai hasil pencarian dari Google. Dari Bing dan lainnya lebih parah, nol besar*)

Saya kirimi departemen IT surat dengan perincian masalah dan semua yang telah saya lakukan dalam mencari solusinya. Sambil terus terang berkata bahwa saya mencari nafkah menggunakan Apache, maka itu hal ini menjadi penting.

Orang IT menjawab pendek: “Mas kalo google aja nggak bisa jawab, apalagi kita!”

Saya cengar-cengir membacanya. Saya balas lagi: “Bantuin dong…”

Dan saya dapat jawaban yang mencengangkan. “Mas, kita ini IT bukan Tuhan. Jangan menggantungkan apa-apa sama kita. Itu musrik namanya”

Dan saya pun tak mampu lagi menahan tawa.

Qakbot Lagi

image qakbot on microsoft firefront

Edan hari ini qakbot menyerang terus dan semakin menjengkelkan. Sudah ada perintah dari pusat untuk memakai Microsoft Forefront (client) sebagai sarana admin kami untuk memaintain sistem PC yang  berbasis windows. Namun akibat kepandaiannya berevolusi, saya lihat beberapa kali virus ini menyamar menjadi nama-nama baru dan bersembunyi di balik folder C:/. Program-program exe jelmaan qakbot ini benar-benar canggih. Selama beberapa menit, ia akan menggandakan diri (*udah kaya amuba aja*) dan lalu berganti nama (*kayak buronan kartu kridit*)
Daripada berlarut-laut dan jumlah PC yang terinfeksi mencapai ribuan di puluhan negara, maka akhirnya kami bekerja sama dengan pihak Microsoft untuk menghandle issue ini.
Symantec, salah satu usaha yang menghidupi dirinya dari pemberantasan hama pada komputer, mengatakan bahwa qakbot ini dapat menyelundupkan data sebesar 2 Gigabyte setiap minggunya. Umumnya data-data yang ada di file-file yang tersimpan di browser. Misalnya data history browsing dan kadang menanamkan keylogging.
Astaga!
Maka dengan serta merta, saya menghapus semua data yang ada dan tersimpan di browser dan lalu melakukan proses yang membutuhkan logging di mesin virtual (Oh! I love VMWare clien) dan melakukan semuanya di Sistem berbasis Ubuntu.
Setidaknya, tidak ada Qakbot ataupun virus trojan dan sejenisnya di Ubuntu dan saya merasa lebih aman serta percaya diri dalam beraktifitas di dunia online :)

Qakbot

Salah satu yang menyebalkan dari memakai OS Micro$oft sebagai server adalah penularan worm/trojan antara satu mesin dengan mesin lainnya.

Tentu saja ini bisa diatasi dengan antivirus atau peringatan dini langsung. Namun tetap saja menyebalkan, mengingat banyaknya worm atau trojan yang harus muncul sebagai pop-up di layar screen.

Hari ini, kebetulan namanya Qakbot.

qakbot image

Tidak terlalu sukar membasminya. Namun tetap saja mengambil jatah sumber daya waktu yang ada.

Karena bosan dengan serangan-serangan yang menghabiskan waktu, maka cobalah saya mengobrol dengan seorang admin. Topiknya mengenai perpindahan sistem operasi dari M$ ke yang lain yang lebih terpercaya dan handal.

Sebelum obrolan kami mengarah ke OS opensource, ternyata beliau sudah ngamuk-ngamuk duluan dan menuduh Linux adalah OS yang tidak reliable dan menyulitkan.

Tidak reliable? Hmhh, saya nyengir. Apa variable nya kok dia bisa ngomong Linux begitu?

Menyulitkan? Hahaha… Ini yang bikin ketawa. Kalo punya niat belajar, tentu saja tidak akan ada istilah ‘menyulitkan’.

Pameo bahwa Linux atau OS opensource susah itu nampaknya memang harus diberantas.

Di akhir pembicaraan saya dengar beliau menyimpulkan “Semakin tua admin, semakin males dengerin orang lain”

Haha, ada-ada saja.

Hardisk Saya (Hampir) Penuh

image free nas opensource software

Beberapa hari terakhir ini saya tumben-tumbenan searching informasi tambahan mengenai Network-attached storage (NAS).

Asal mulanya sih sederhana, ketika akan menambahkan beberapa foto ke dalam hardisk saya langsung terkaget-kaget melihat kapasitas hardisk.

Hardisk internal PC sehari-hari ada total 2,75 Tb dalam PC (terdiri dari 2 SATA dan 1 IDE. OS: Win 7, iDeneb dan Ubuntu Gutsy). Dari 2,74 Tera, sisanya tinggal sekitar 300 GigaByte.

Hardisk external, beli empat bulan lalu sebesar 1 Tb. Saat ini sisanya tinggal 163 Gigabyte.

Jadi total dari 3,74 TeraByte yang saya miliki; saya hanya punya sekitar 463 GigaByte sahaja. Yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah; Ngapain aja saya selama empat bulan terakhir ini kok bisa punya data 3 Tb lebih? Padahal kan lagi nggak kerja dengan video/animasi rendering?

Tapi percuma jawab pertanyaan di atas.

Sebab pertanyaan baru yang tak kalah penting adalah, bagaimana mengalokasikan data-data yang ada di PC operasional harian ini bisa dioptimalkan?

Bagaimana mencapai optimalisasi data?

Menurut hemat saya adalah dengan cara;

  • Hapus data clone (data yang sama tapi lebih dari satu)
  • Klasifikasi sesuai kebutuhan saat ini (bisa berdasar ekstensi atau bisa juga berdasar subject)
  • Pertimbangkan manajemen penyimpanan data (SAN, NAS, DAS, CAS, cloud atau malah hybrid atau whatever)
  • Menyiapkan diri jika terjadi resesi data (misalnya hardware atau backup issue, leaking atau minimalnya data forensic)

Kemarin ada yang menawari router yang sekaligus berfungsi sebagai NAS. Belkin wireless router N+ yang katanya sudah mampu mencapai 300 Mbps data transfer meskipun browsing beda tiga lantai rumah. Tapi entah kenapa saya belum percaya.

Saya ini tipikal manusia purba yang masih percaya bahwa transfer data via kabel saat ini masih tangguh dan terpercaya. Hahaha

Server Berbasis Telepon Genggam

Sejak tahun 2006 saya mengikuti perkembangan implementasi server pada perangkat telepon jinjing (mobile phone). Entah kenapa, saya sempat bermimpi, bahwa suatu hari akan memiliki mobile server. Bentuknya ringan, mudah di akses, aman, hemat energi, harga terjangkau dan ringkas penempatan.

Kenapa saya bercita-cita punya server mobile?

  1. Saya ingin punya server personal khusus untuk berbagi data tapi saya tidak mampu membeli server rack U. Entah unit berapa, pokoknya(tm) semuanya terlalu mahal untuk kantong saya
  2. Ketika main-main ke datacenter di Haarlem waktu jaman sekolah dulu, ternyata sewa tempat menaruh server rackmount itu mahal banget. Di Antwerpen parah, lebih mahal lagi. Doh!
  3. Di datacenter, server didinginkan dengan chiller water cooler. Bahkan kadang agak edan pakai nitro. Belum lagi backup listriknya, biasanya pakai mesin diesel diatas 1500 KVA (contohnya si EVO ini). Semuanya boros energi
  4. Punya server itu artinya makan tempat. Andaipun dipaksa punya server pribadi di gudang rumah, yaah harus pandai-pandai pengaturan udara dan penempatannya. Dan saya belum sepandai insinyur-insinyur dari Utah Datacenter, Hewlett-Packard dan Google dalam mengatur pengaliran udara pendingin pada server

Jadi sekarang mengerti kenapa saya ingin punya server mobile?

Tapi pertanyaan selanjutnya yang paling penting adalah, “apakah bisa menjadikan telepon genggam menjadi server?”

Jawabannya banyak. Sebab server memang harus mumpuni. Loh wong mau diakses orang banyak atau diakses dari jarak jauh, yaa harus mumpuni, tho!

Tapi apa kategori server mumpuni. Mari kita telaah satu-satu beberapa jawaban di bawah ini;

  • Hardware / Perangkat Keras

Ini mah bukan rahasia, kalau makin tinggi processor makin bagus kecepatan dan daya olah server. Pada saat tulisan ini dipublikasikan (Maret 2010), server dengan spesifikasi berikut (Quad Core Intel Xeon X3430 Lynnfield 2.4 GHz 8MB-cache Quad Core Processor – 8 GB RAM – 1×500GB HD – 10000GB (10TB) Bandwidth – 8 Ip’s – Remote Reboot) adalah dedicated server terbaik yang ada di pasaran.

Perangkat keras pada telepon genggam memang belum mencapai angka sefantastis di atas pada saat ini, namun sudah menunjukkan arah yang lebih baik. Di pasaran, saat ini bahkan telah ada telepon genggam dengan kecepatan 1 Ghz (Gigahertz) dan mampu menyimpan kapasitas storage hingga 48 Gb (gigabyte)

  • Sistem Operasi

Saya pribadi, di rumah memakai distro Linux (CentOS atau Ubuntu) sebagai basis OS server. Sedangkan di kantor memakai Windows 2003 R2 sebagai basis sistem operasi server. Dua-duanya, tentu saja dipilih karena alasan tertentu. Pada intinya, gabungan antara efisiensi dan efektifitas kerja.

Beberapa orang menggunakan Free BSD sebagai landasan sistem operasi server mereka. Sebab sistem operasi berbasis BSD diyakini amat stabil dan telah sukses melayani banyak server.

Di perangkat lunak jinjing, sepengetahuan saya sudah ada empat sistem operasi yang mendukung pengembangan server sejak 2007. Mereka adalah Symbian (pada basis S 60 di Nokia), Windows Mobile (versi Pocket PC 5 ke atas), lalu iPhone OSX (pada iPhone) lalu Android (berbasis Linux).

Beberapa server khusus memang saya pernah dengar, seperti Pixo. Namun jika sayangnya Pixo hanya di buat untuk spesifikasi khusus seperti download ringtones saja. Maka tiga sistem operasi di atas sudah terbukti bisa menghandle WebDav dan transfer HTTPD.

  • Perangkat Lunak / Software

Saya jatuh cinta dengan LAMP. LAMP sendiri istilah yang merupakan singkatan dari Linux, Apache, MySQL dan Perl/PHP/Phyton. Mereka merupakan sebuah paket perangkat lunak bebas yang digunakan untuk menjalankan sebuah aplikasi secara lengkap. Biasanya saya pakai dalam menjalankan server berbasis web (internet). Dari LAMP sendiri, Apache memegang peranan penting sebagai web server.

Dalam OS Symbian, produsen telepon genggam Nokia mengembangkan Raccoon, Mobile Web Server dan PAMP, singkatan dari Personal Apache MySQL PHP sebagai perangkat lunak server mereka.

Android, sistem operasi yang dirintis oleh raksasa mesin pencari Google dan Open Handset Alliance, telah memiliki i-jetty. Ijetty adalah web server sumber terbuka (opensource) yang dapat berjalan di Android. Kelebihannya adalah memiliki akses ke API Android, ini berarti Anda dapat membawa/melihat isi ponsel ke browser desktop normal. Dalam tampilan monitor komputer. Katanya, i-Jetty ini makin hati makin stabil.

Sementara iPhone OSX memiliki serverman, sebuah perangkat server yang dikembangkan oleh FreeBit. Dinamakan serversman katanya di adaptasi dari ‘WalkMan’, perangkat pemutar kaset yang sempat populer di tahun 80-an dulu.

Yang menarik dari serversman adalah ternyata ada perangkat lunak bernama sama dan gratis berbasis Windows Mobile bagi pengguna smartphone berbasis Windows. Artinya, bagi pengguna telepon jinjing berbasis Windows Mobile pun tidak ketinggalan dapat membuat handphone mereka menjadi web server.

Sekian segini dulu. Besok-besok saya sambung lagi (kalo inget, hehe). Maap pemirsa, waktu saya usai sudah hari ini. Hehe. Namun kalau anda penasaran seperti apa server yang bagus, maka klasifikasi di bawah ini patut diperhitungkan.

  • Jaringan

Apakah 3G atau 3,5G atau HSDPA atau UMTS atau EDGE atau GPRS atau apalah sebutannya, yang pasti untuk jadi server memang harus punya jaringan yang stabil. Maka itu, nampaknya harus dipilih-pilah penyedia jasa telekomunikasi yang mampu menawarkan kestabilan koneksi. Jadi bisa sesumbar 99.99% uptime garansi. Hehe

  • Aman

Karena server berbasis telepon genggam ini ringkas, maka memang memudahkan untuk dibawa-bawa kemana-mana. Di sisi lain, membuka peluang lebih besar di embat maling atau dipijit-pijit tombolnya oleh anak anda. Hehe. Maka itu, hati-hati.

  • Bisa Di Upgrade

Ini yang berat. PC masih kita bisa bongkar pasang ganti RAM, Mobo atau processor. Kalau telepon genggam, nampaknya masih susah. Maka itu, kita doakan di masa depan ada handphone yang hardwarenya bisa dioprek.

  • Gampang Dikustomisasi

Kebutuhan client makin lama makin membesar. Maka itu OS maupun perangkat lunak di mobile server semestinya memang mudah untuk dikostumisasi. Jadi bisa ditambah atau dikurangi sesuai kebutuhan.

Saya harap, dengan membagi mimpi ini, anda juga ikutan bermimpi seperti saya. Dan lalu seperti kata John Lennon, “You may say that I’m a dreamer. But I’m not the only one”

Hihihi

Otherwise… I hope someday you’ll join us :)