Archive for the 'teh' Category

Kabar Berita

Tadi pagi saya buka perangkat lunak pembaca berita. Perangkat lunak ini namanya RSS Reader. Isinya, berita-berita terkini. Ada berita yang dipublikasikan oleh jaringan berita internasional. Ada pula berita dari teman-teman maupun tetangga saya. Semuanya serba baru. Tapi entah kenapa, tadi pagi saya tidak begitu banyak dapat berita baru selain dari jaringan berita profesional yang memang kerjanya membuat berita.

Kemana berita teman-teman saya?

Saya bertanya-tanya cukup panjang. Mengapa akhir-akhir ini susah dapat berita dari teman-teman saya. Padahal setiap hari, secara diam-diam, saya membaca dengan tuntas apa yang mereka tulis. Mencoba merasakan apa yang mereka alami. Berusaha untuk tetap empati. Walaupun tetap dalam diam, saya coba untuk hidup sejenak dalam benak mereka.

Kemana teman-teman saya? Kemana berita mereka? Ada apa dengan mereka? Pergantian tahunkah yang membuat membuat mereka sejenak hening tenggelam dalam ambisi-ambisi baru?

Tidak habis-habisnya saya berfikir. Silih berganti mengapa dan mengapa terus berkumandang di benak saya.

Eh tapi, kok yaa saya yang mempertanyakan mereka? Bagaimana kalau situasinya dibalik? Bagaimana kalau ternyata mereka juga mempertanyakan kabar saya. Secara diam-diam memantau kabar saya. Dan secara diam-diam juga gelisah tidak dapat mengetahui kabar terbaru?

Uggh, mungkin saya gede rasa. Tapi saya pikir, terlalu mengada-ada jika ada orang yang peduli dengan kabar terbaru saya. Memangnya saya ini siapa? Eh tapi, kalau saya mengada-ada, toh bukannya saya yang juga merindukan kabar terbaru teman-teman maupun tetangga saya?

Jika saya memang berharap sesuatu dari teman-teman maupun orang yang saya kenal, bukankah bisa jadi mereka juga mempunyai pengharapan yang sama?

Jika saya benci mereka, bisa jadi mereka juga benci saya. Jika saya rindu mereka, bisa jadi mereka juga rindu saya. Bukankah itu yang namanya lingkaran hidup. Tak berawal tak berakhir. Namun selalu berputar.

Uhmm, ok… Ok… Kalau selalu berputar begitu yaa sebaiknya saya memulai. Untuk memulai hidup bukankah harus ada yang memulainya.

Kabar saya, yaah sebagaimana kabar hari-hari lainnya. Biasa-biasa saja.

Tadi malam saya ke IKEA beli lampu. Kata berita, ada lampu hemat energi yang sedang diobral. Murah, tiga lampu hanya sekitar tiga puluh ribu rupiah sahaja. Ini kabar bagus, hemat energi dengan harga yang terjangkau. Lalu pergilah saya ke sana naik metro. Beli lampu satu lusin. Rencananya untuk dipakai pada rumah kontrakan baru yang saat ini masih menggantung situasinya. Maksudnya menggantung, tidak tahu apakah bisa dapat atau tidak. Moga-moga sih dapat. Sebab tidak tahu lagi mau tinggal di mana. Namun dapat atau tidak kontrakan baru, toh saya sudah punya lampu.

Pulang beli lampu sudah malam. Seduh teh sambil melihat televisi. Bukan menonton. Melainkan melihat. Itu televisi tidak menyala. Saya biarkan mati dan menatap refleksi badan saya di tabungnya yang berwarna kelabu gelap. Narsis? Entahlah. Saya sendiri hanya melihat semacam silhoutte kelabu di sana. Tidak ada keinginan untuk mengagumi maupun mengasihani diri sendiri. Hanya sekedar melihat refleksi. Itu saya ada di sana. Di tabung itu. Kecil. Kelabu. Terdistorsi. Itu refleksi saya. Apa adanya.

Belum jam sepuluh saya sudah berangkat tidur. Sebab harus berangkat ke pabrik pagi-pagi untuk memburuh. Terima nasib. Yaa memang begini nasib buruh kecil. Berangkat pagi pulang malam. Kalau belanja, pun menunggu obral. Kalau masak atau makan, yaa di irit-irit. Hidup sederhana bukan gara-gara gaya, melainkan memang sudah tuntutan. Maka itu saya selalu kagum pada mereka yang mampu hidup luar biasa namun memilih untuk sederhana. Jadi kaya itu susah. Tapi lebih susah lagi untuk tetap sederhana ketika sudah kaya. Maka ketika ada yang memilih bisa sederhana di masa jaya, buat saya ia luar biasa. Sebelum tidur selamanya nanti, saya selalu berharap bisa bertemu manusia semacam itu.

Pagi-pagi bangun. Memenuhi panggilan alam menuju kamar kecil. Baca-baca sejenak. Lalu lagi-lagi seduh teh. Duduk sebentar melihat prakiraan cuaca di langit. Penting. Sebab harus memutuskan apakah pergi bersepeda atau tidak. Kalau kata prakiraan cuaca akan hujan, yaa lebih baik jalan kaki ke halte bus terdekat. Dari sana, menuju stasiun kereta yang walaupun gerbongnya penuh manusia namun tujuannya langsung menuju pabrik tempat bekerja.

Masuk kerja di pabrik pun semuanya berjalan biasa-biasa saja. Tidak lamban tidak pula terburu. Hanya hari ini sedikit berbeda. Pak Ali mandor saya pamitan. Katanya mau pulang kampung. Penggantinya Bek Hasim. Sama-sama orang sekampung Pak Ali. Kalau kata orang Cirebon, sedulur. Sedih campur kagum. Hampir tiga tahun saya ikut Pak Ali, akrab. Wah hebat orang kampung mereka. Semuanya jadi mandor bos. Moga-moga ada orang sekampung saya nanti juga bisa jadi mandor. Kan bangga juga saya kalau ada orang sekampung yang jadi mandor. Walaupun saya sendiri tidak jadi mandor, tapi yaah kok bisa bahagia kalau ada orang sekampung yang bisa dapat kerja yang bagus? Syukur-syukur kalau bisa membantu teman-teman sekampungnya kan lebih bagus lagi. Eh tapi, jangan-jangan itu kan nepotisme. Memasukkan sedulur dalam lingkar profesional. Aduh kalau tidak kompeten, jangan lah. Salah-salah, malah bikin dosa. Seperti PSSI. Ealah loh kok saya jadi melantur ke dosa? Kan saya tidak sedang menulis kitab suci, kok omong-omong dosa. Halah. Maap pemirsa. Saya sok tahu. Hehe.

Menjelang siang, di pabrik saya dapat kehormatan. Eh benar, ini saya dapatkan. Tidak saya renggut dengan paksa. Masa sih tega-teganya merenggut kehormatah pabrik? Memangnya saya cowok apaan? (*Hihihi, padahal mah saya cowok murahan*). Saya dapat kehormatan untuk mengambil foto-foto pabrik. Mulai dari barang-barang kecil hingga sekujur badan bangunan. Kenapa saya pikir saya dapat kehormatan? Sebab itu orang-orang kok yaah menurut saja saya paksa ganti baju pakai seragam pabrik. Ada bahkan yang saya minta untuk menyisir dahulu dan patuh menjalankannya. Salah seorang ibu-ibu bahkan berbisik kalau ia pergi ke salon di pagi hari upaya atas nama demi masuk bingkai jendela bidik.

Selesai memotret, balik lagi ke meja produksi. Tekan tombol ini tekan tombol itu, namanya buruh yaa kalau disuruh tekan yaa saya tekan. Enak juga sih. Sesial-sialnya paling juga salah tekan. Selama masih tombol mesin yaa tidak masalah. Walau macet salah pencet, masih bisa diperbaiki. Asal jangan menekan teman. Wah kalau itu ceritanya, gawat deh urusannya.

Pulang malam. Larut. Sudah letih. Tapi untung masih bisa sukur. Masih bisa kerja. Masih diberi tenaga. Masih diberi cara untuk untuk tidak selalu memikirkan masalah-masalah yang tengah melanda. Sukur. Sebab sesusah-susahnya hidup saat ini, ternyata masih bisa menyeruput teh. Nikmat euy.

Itu kabar saya. Biasa saja.

Bagaimana kabar Anda?


Gimana Ukuran Penis Orang Indonesia

Malam-malam saya jemput Hadi di halte dekat rumah. begitu sampai rumah dan kami sama-sama minum seduhan teh borbonia campur Asphalantus, sejenis dedaunan teh yang tumbuh di semak-semak Afrika Selatan.

Malam itu sudah dingin. Kelihatannya musim panas hampir usai. Baru duduk dan dalam seruputan pertama saya sudah di tembak Hadi sebuah pertanyaan, “bang apa pendapat abang soal Papua?”

Saya cengar-cengir. Sebab saya ingat pada suatu hari, sahabat saya Udin melontarkan pertanyaan yang hampir mirip, “Menurut lu, gimana yaa penis cowok Indonesia, bang?”.

Loh apa hubungannya Papua dengan Penis? Ehmmhh, apa yah? Wah, nampaknya selain sama-sama berawalan P dan memiliki lima huruf, saya tidak punya lagi analoginya. Lantas kenapa saya pikir pertanyaan itu mirip. Mungkin karena di tanya pada saat yang sama. Yaitu ketika saya sedang menyeruput teh.

Tapi apa jawaban saya?

Saya yakin jawaban saya tidak terlalu penting. Toh saya bukan siapa-siapa. Apapun jawaban saya, tidak akan mengubah dunia akhirat Papua. Tapi menurut saya, Hadi itu penting. bukan gara-gara ia anak juragan tembakau (yang secara aneh kadang ia sering saya analogikan dengan peran genial Dono sebagai ‘Raden Mas Ngabehi Slamet’ dalam film 80-an Gengsi Dong). Melainkan karena ia adalah teman yang selalu memotivasi ketika saya sedang jatuh terpuruk dalam masalah serius.

(Entah kenapa, saya selalu ingin memanggil Hadi dengan sebutan Mas Slamet). “begini Mas, err… Hadi. Kamu tau kekerasan dalam rumah tangga”

“Iya bang”

“biasanya gimana?”

“Suaminya kejam. Suka pukulin anak dan istri. Atau kalau tidak mukul yaa menyiksa batin”

“Yaa gitulah ama Papua. Sama aja kayak istri yang dijahatin suaminya. Tubuhnya dipakai sampe kering kerontang. Kalau protes dikit, digebukin. Minta cerai, digebukin. Anak nakal sedikit, digebukin. Makanan jatah kurang, digebukin”

Hadi diam. Saya lanjutkan ocehan tentang sedikit isu muncul di Papua. Ketika isu kecil muncul lalu ribuan tentara langsung diturunkan ke sana. Ketika prajurit-prajurit muda baru didoktrinasi agar menyiksa saudara mereka demi mempertahankan perkawinan sakit bernama NKRI. Ketika Papua masih terlihat seksi. Ketika banyak para panglima banyak cari muka. berharap suatu hari mengemut dari susu payudara bumi Papua. Oh ajaibnya.

Hadi pun masih diam ketika saya cerita sisi lain ketika perjuangan teman-teman Papua kadang diwakili oleh beberapa orang yang terlihat mencengangkan. Pada sebuah demonstrasi kemerdekaan Papua di benua Eropa, ada yang bagi-bagi selebaran kalau Papua hanya untuk orang Papua. Lah orang Papua itu siapa? Yang mengaku Papua? Si pembagi selebaran menggeleng. Katanya, hanya untuk mereka yang satu ras dengannya. Oh ajaibnya.

Hadi masih diam, ketika saya cerita suatu hari di Sydney bahwa ada seorang militan Papua yang mendapat kesempatan untuk berbicara dengan beberapa pembuat kebijakan penting di dunianya. Sialnya pada makan malam itu, ia hanya sekedar membanggakan diri telah berhasil memenggal dan menguliti puluhan kepala tawanan ABRI. Untuk apa? Kenapa di saat itu tidak ia ceritakan mengenai apa yang diinginkan oleh sahabat dekatnya, keluarganya, orang kampungnya dan semua mimpi tentang perdamaian dan kemanusiaan. Mengapa ia pikir cerita darah yang muncrat dari urat leher di meja makan akan membuatnya jadi manusia sakti? Oh ajaibnya.

“Jadi abang pikir Papua harus merdeka?”

“Saya pikir, Papua harus diberi kesempatan untuk bicara dan menentukan apa yang mereka mau. Terserah mereka. Mau merdeka. Mau masih sama-sama Indonesia. Mau otonomi lebih luas. Terserah aja apa maunya”

“Kok gitu bang. Kan baiknya dikasih tahu apa yang baik buat mereka”

Saya ketawa, “kamu kan nanya pendapat saya. Yaa itu pendapat saya. Kalau kita beda, yaa sah-sah aja dong”

“Sekarang gantian deh. Menurut kamu, gimana ukuran penis orang Indonesia?”

Hadi bengong, “Idih nanyanya aneh-aneh aja si abang”

Saya memang lagi malas bicara politik malam itu. Satu-satunya topik yang terlintas di otak saya (yang sedang capek, kedinginan dan bosan) adalah jika lebih dari satu orang pria berkumpul, maka topiknya tidak jauh dari lawan jenis atau narsisme diri macam ukuran penis.

Membicarakan penis itu menarik. Setidaknya buat pria. Katanya, disinilah letak ‘kebanggaan’ seorang lelaki. Dalam film kungfu Jianyu (dalam versi bahasa inggris yaitu Reign of Assassins, 2010, dibintangi Michelle Yeoh), menjelang akhir cerita ternyata baru tahu kalau plot film ini tidak jauh dari penis. Balas dendam seorang pembantu kaisar yang kecewa akibat dikebiri.

“Kamu tau, Di. Kalo penis itu tergantung ras. Jadi pada ras tertentu, ukuran penisnya memang lebih besar daripada yang lain. Penis itu nggak ada hubungannya ama jempol. Makin gede jempol seorang cowok, makin gede penisnya, itu mitooos”

Hadi tertawa terbahak-bahak. Mungkin karena itu sama saja saya bilang kalau penis dia (yang tinggi badannya hampir 190 cm) tidak lebih besar daripada punya saya.

“Tapi kan Bang, nggak imbang kalau badannya gede tapi itunya kecil”

Lalu kami main bantah-bantahan. Mengeluarkan semua logika, teori, omong kosong dan lain sebagainya. Biar saja, buat saya ini lebih mengasyikkan ketimbang bicara politik. Setidaknya untuk malam itu.

Saya keluarkan laman tersimpan di peramban internet. Isinya mengenai tabulasi data ukuran penis warga dunia (*aneh kan, ngapain juga yang kayak gini saya bookmark?*). Di sana terlihat ukuran penis warga dunia berdasarkan negara asal mereka.

Mau lihat, silahkan; ini tabelnya.

Ukuran Penis Manusia Dunia
Negara Panjang santai(cm) Panjang tegang (cm) Sumber
Amerika Serikat 8,8 cm 12,9 cm Wesseells H., Lue T., McAicnich J. (United States of America). The relationship between penile length in the flaccid and errect status: guidelines for penile lengthing. J Urol 1995; 153 Part 2: 379A.
Jerman - 14,48 cm Dr. Gunther Hagler, Urólogo.
Spanyol - 13,58 cm Dr. Javier Ruiz Romero. Clínica Tres Torres, Barcelona, 2001.
Perancis 12 cm 16 cm Anatomie topographique, descriptive et fonctionnelle, tome 1. Le système nerveux central, la face, la tête et les organes des sens, 2e édition. 1991
Jepang 8 cm 13 cm Japanese Journal of Sexology
Brazil - 12.4 (+/- 1.6) cm Dr. Paulo Palma, Urólogo. Brasil. Disfuncao sexual, Carlos da Ros, Claudio Teloken
Italia 10 cm 15 cm Dr. Jamal Salhi de la Sociedad de Andrología de Italia. Dr. Carpenito Ambulatori Especialista en Andrología.
Venezuela 9,5 cm 12,7 cm “Dimensiones peneanas en la población venezolana”, Servicio de Urología, Hospital Domingo Luciani.
Meksiko - 14,9 cm “Lifestyles Condom Co. In Cancún, México”, Dr. Francisco Ordóñez, 2001.
Yunani - 12,18 (+/- 1.7) cm Dr. Spyropoulos E. et coll. Hospital Naval de Veteranos, Atenas, 2003
India - 10,2 cm The Jacobus Survey
Saudi Arabia - 12,4 cm Dr. Mohamed Habos. Male Genital Organ Diseases and Behaviours, Saudi Arabia, 2000
Chili - 13,9 cm Dr. Eduardo Pino, Urólogo/ Andrólogo. Clínica Andromex, Santiago de Chile
Colombia 6,9 cm 13,9 cm Acuña A., Villalba J., Juan Carlos Villalba. A. Saio Clinic, Bogatá.
Afrika Selatan 13,3 cm 16,7 cm Universitat Klegenfurt Survey
Korea Selatan 6,8 cm 9,3 cm Self-Reported Premature Ejaculation Prevalence and Characteristics in Korean Young Males: Community-Based Data from an Internet Survey. Hwancheol Son, Sang Hoon Song, Soo Woong Kim, and Jae-Seung Paick. August 12, 2010
Thailand 11,2 cm 13,5 cm Muangman Research. Department of Surgery, Faculty of Medicine, Ramathibodi Hospital, Mahidol University, Bangkok, Thailand.
Malaysia 7,8 cm 12,4 cm The Straits Times dated 16th July 2000 (Singapore) taken from a 1996 survey by Hunter Welles, Tom Lue and McAnich
Indonesia 10,8 cm 14,2 cm Universitat Klegenfurt Survey

(*Tabel lebih lengkap dalam gambar*)

Hadi melongo, “Bang, punya bookmark apa lagi. Liat dong!”

Saya perlihatkan pada dia, beberapa catatan medis mengenai pasangan penis. Bukan, bukan kantung scrotum. Melainkan pasangan reproduksinya, yaitu vagina. Dan beberapa mitos yang terkuak mengenai penis yang berkembang di masyarakat berdasarkan etnografi.

“Jadi, orang bule nggak semuanya gede yaa, Bang?”

“Yaa nggak lah. Di pelem-pelem emang iya. Pan aktornya juga di pake kalo itunya gede. Lagian biar gede juga belom tentu bisa cocok. Punya perempuan kan beda-beda”

“Trus biar nggak bisa bediri, tapi masih bisa maen yaa?”

“Yaa bisa. Untuk bercinta nggak selalu harus pake tegangan tinggi”

“Kalo cowok punya pasangan kok masih tetep begituan sendiri?”

“Istri kan bukan pelampiasan nafsu, Di. Mereka itu bukan budak. Sementara banyak lelaki yang memiliki kebutuhan yang lebih banyak daripada yang bisa ia dapetin. Boong itu kalo nggak swalayan. Emangnya dia mau maen ama siapa? Pohon pisang yang dibolongin tengahnya?”

“Tapi… Tapi bang.., ngapain baca-baca beginian?”

“Cita-cita saya mao jadi ginekolog, Di. Kayak dokter Boyke. Sayang gagal”

“Tapi menurut saya sih, punya saya tetep lebih gede daripada punya abang”

“Heh kampret! Males banget saya dikasih unjuk barang kamu malem ini. Jangankan gratis, dibayar aja ogah. Lagian kamu tahu darimana punya kamu lebih gede?”

Sambil tertawa lebar si Hadi menjawab, “Yaa itu sih pendapat saya. Kalau kita beda, yaa sah-sah aja dong”

Sambil garuk-garuk kepala, saya baru sadar satu hal persamaan antara Papua dengan penis pada malam ini. Simpel; sebab apapun itu masalahnya ternyata kita boleh beda melihat semua sisinya.

Dan apapun perbedaannya, ternyata lebih enak dibicarakan sambil minum teh ketimbang berkelahi.