Archive for the 'temennya bangaiptop' Category

Tentang Kekuasaan Yang Melengkung

Di depan saya kanvas kosong. Dan harus diisi. Entah diisi apa orang lain mungkin tidak akan tahu. Yang pasti harus diisi agar bisa memperlihatkan sesuatu. Tadi malam lebih mudah, ‘sesuatu’ yang harus muncul adalah aplikasi perangkat lunak komputer yang mempermudah manusia mengunduh aplikasi yang mempermudah hidup mereka dalam menjaga kesehatan. Bingung mencernanya? Iya, sama dong. Saya juga bingung bagaimana memulainya. Tapi untunglah tadi malam sudah dimulai dan juga sudah selesai.

Ini sama seperti jaman sekolah dahulu. Pak Guru meminta kami, para siswa, untuk mendeskripsikan sesuatu benda dalam format ilustrasi pointilisme. Bagaimana cara membuatnya? Gampang. Pointilisme itu tehnik melukis dengan memakai titik-titik kecil, jarak antar titik bahkan hingga warna dan ketebalan sebagai pola yang membentuk sebuah gambar. Pertama kali dipakai oleh George Seurat sebagai mediumnya. Cara saya, pakai pena bernama Rotring yang memiliki ketebalan ujung bermacam-macam. Area yang lebih gelap akan dilukis dengan pena bermata tebal dan bagian terang jelas pakai pena bermata tipis. Gampang? Tidak juga sih sebenarnya. Butuh kesabaran dan ketekunan. Sebab untuk mendeskripsikan sebuah kisi jendela dari sudut 45 derajat. Sebab dalam format kertas A5 saja sudah butuh kira-kira tiga ribu titik dengan ketebalan mata pena yang berbeda. Tapi ini bukan yang paling susah. Yang susah jelas ketika menghadapi kertas kosong. Pertanyaan terbesar adalah… Apa yang harus saya isi disana?

Pagi ini saya memiliki kebingungan yang sama. Mau menulis apa? Tadi malam banyak ide, harusnya ditulis. Tapi karena esoknya sebagai buruh pabrik kecil-kecilan ini saya harus memimpin rapat, maka saya putuskan tidur lebih awal. Hilang sudahlah semua ide yang muncul di kepala itu. Maka kali ini saya iseng-iseng saja lah menulis.

Topik yang saya pilih sederhana. Tentang polisi. Mau cari topik apa lagi coba? Yang gampang saja lah. Kakek saya polisi. Teman-teman saya polisi. Tetangga saya polisi. Dulu jaman sekolah pernah pacaran, juga sama polisi. Adik ipar saya pas nikah, lah walinya juga polisi. Hidup saya dikelilingi polisi. Ya sudah cerita yang gampang saja. Cerita soal polisi.

Kata orang-orang polisi Indonesia itu galak. Nah! Kalau ini saya pasti membantah. Polisi-polisi yang saya kenal itu kalah galak dibandingkan Ibu saya. Wah Ibu saya kalau mengamuk, itu gawat deh pokoknya. Apalagi kalau mengamuknya ke saya. Orang-orang satu kampung itu bisa sampai prihatin campur pusing mendengarnya.

Beberapa waktu ini, orang-orang rajin marah pada polisi. Biasa lah, namanya juga profesi yang paling dekat sama warga, yaa biasa diomeli. Polisi diomeli ketika memalak warga dipinggir jalan soal lalu lintas. Warga bingung, susah membedakan mana polisi mana preman. Polisi diomeli lagi ketika tahanan status koruptor kelas kakap kabur dari tahanan mereka. Warga lagi-lagi bingung, katanya mau jadi polisi tesnya berat dan susah sebab pakai tes kesehatan segala. Loh kok pas jadi polisi, matanya jadi pada buta? Orang dibalik jeruji bisa mabur seenak jidatnya. Memangnya di kantor polisi diajari ilmu ‘ngilang’.

Beberapa minggu lalu, wanita Ontario kelahiran Uganda bernama Irshad Manji datang ke Jakarta, kampung saya. Ini perempuan, rencananya datang untuk diskusi. Namanya diskusi yaa pakai mulut dan otak. Kalau pakai mulut dan tangan terus ditempat gelap, itu mah pacaran a’la anak Cilincing namanya. Hehe.

Ketika asik-asik Irshad Manji sedang diskusi, tiba-tiba segerombolan orang kampung saya lainnya datang sambil teriak-teriak nama tuhan mereka dan bawa golok. Rencananya menghentikan diskusi Mbak Manji ini. Waduh malu-maluin banget yah. Masa orang diskusi pake mulut dibalas golok. Coba kalau diskusi pakai mulut dibalas juga dengan mulut, ada kemungkinan beradu mulut. Kemungkinan besar lagi, ciuman. Asoy geboy tuh. Kan lebih enak ciuman pakai mulut daripada pakai golok. Buset dah!

Apa saya malu? Yaa iya dong. Mbak Manji kan tamu. Seajaib-ajaibnya tamu, yaa kita hargai dan kita jamu dengan baik. Dilindungi kemaslahatannya. Kalau memang beliau kurang ajar, yaa diberi tahu baik-baik. Didiskusikan untuk cari solusi. Masak tamu dilempar golok? Memangnya kita perguruan kungfu, tamu datang disodori alat tempur?

Untung saja saat itu polisi datang. Menghentikan.

Menghentikan. Iya benar. Polisi datang untuk menghentikan. Tapi ajaibnya, polisi datang untuk menghentikan diskusi Mbak Manji dan teman-temannya.

Ini menarik loh. Yaitu polisi datang bukan untuk menghentikan langkah kekerasan yang ditempuh orang-orang bergolok.

Ada dua premis yang bisa ditarik disini. Premis pertama adalah: “Polisi tidak mendukung Mbak Manji”. Sedangkan premis kedua, yang paling ekstrim yaitu: “Polisi menyetujui tindak kekerasan”.

Mari kita ulas premis pertama. Yaitu “Polisi tidak mendukung Mbak Manji”. Sebagai institusi (Jelas bukan sebagai perorangan. Sebab yang melarang adalah Polri, bukan tetangga saya si Otong yang kebetulan polisi juga). Maka itu sebagai institusi independen polisi berhak tidak mendukung siapa-siapa. Posisi mereka sebagai pelayan publik adalah netral. Polisi, sebagai hamba hukum hanya mengabdi pada satu dan hanya satu hal saja, yaitu hukum. Disanalah kaki polisi berpijak. Jika pada Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tertera: “Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan bahwa Irshad Manji soenggoeh tidak seksama dan harus diusir dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja”, maka polisi memang harus mengusir Irshad Manji. Tapi lah memang ada nama Mbak Manji dalam tetapan hukum RI? Jika bukan dari tetapan hukum, darimana itu dasar hukum datangnya pembubaran diskusi Mbak Manji? Disini, premis awal dengan kalimat “Polisi tidak mendukung Mbak Manji” ternyata tidak memiliki dasar hukum yang kuat.

Sekarang premis yang kedua. Yaitu “Polisi menyetujui tindak kekerasan”.

Saya benci mengulas ini. Sebab implikasinya menyebalkan. Tapi kalau kita mau jujur, kita harus mengulas ini. Pertanyaannya adalah, apa benar polisi menyetujui tindak kekerasan?

Berdasar kasus yang terjadi pada Indonesia tahun 65-66, perang sipil Maluku, bahkan hingga humor miring soal warga yang sial tertangkap ketika mencuri lalu dinterogosi, kekerasan memang terjadi di tubuh kepolisian. Tapi ketika polisi mulai memilah-milah dan bermain dengan politik kekerasan ini, maka yang terjadi adalah korupsi.

Korupsi? Polisi? FBR dan FPI? Irshad Manji? Apa hubungannya?

Ketika polisi (yang diwakili Pasar Minggu Police Chief. Comr. Adri Desas Furyanto) membubarkan diskusi Irshad Manji tanggal 3 May 2012 sekitar pukul 1900 di Jakarta Selatan atas desakan organisasi massa FBR dan FPI, yang terjadi adalah korupsi. Polisi, dengan segala kewenangan dan kekuatannya, tanpa didasari aturan hukum yang kuat telah melanggar konstitusi UUD 1945 pasal 28. Lebih parah lagi, Polri melalui tangan Adri Desas Furyanto secara terang-terangan melanggar UU no 12 tahun 2005 mengenai jaminan hak-hak sipil dan hak politik. Ketika kepolisian dengan terang-terangan telah melanggar konstitusi, menyerang kebebasan hak sipil dan politik warga, berpihak pada pelaku kekerasan terorganisir, maka yang terjadi adalah POLRI tengah korupsi.

Benar. Ini saya ulangi. Anda tidak salah baca. POLRI tengah korupsi.

Korupsi pada polisi adalah bentuk spesifik dari penyelewengan polisi yang dirancang untuk mendapatkan keuntungan finansial, keuntungan pribadi lain, atau kemajuan karir bagi seorang polisi atau petugas dalam pertukaran untuk tidak mengejar, atau selektif mengejar, penyelidikan atau penangkapan.

Salah satu bentuk umum dari korupsi polisi adalah meminta atau menerima suap sebagai imbalan untuk tidak melaporkan kejahatan terorganisir atau jaringan prostitusi atau kegiatan ilegal lainnya. Contoh lain adalah ketika polisi mencemooh kode etik mereka sendiri dalam membantu tersangka kejahatan – misalnya melalui pemalsuan barang bukti. Lebih parah lagi adalah ketika polisi mungkin dengan sengaja dan sistematis berpartisipasi dalam kejahatan terorganisir itu sendiri.

Di kota-kota besar di penjuru dunia yang memiliki institusi kepolisian ada bagian urusan internal untuk menyelidiki korupsi yang dilakukan oleh polisi. Korupsi pada polisi merupakan masalah yang tersebar signifikan di beberapa negara, seperti Rusia, Ukraina, India dan Meksiko.

Bentuk korupsi pada polisi terbagi menjadi beberapa diantaranya:

  • Korupsi wewenang: polisi menerima minuman gratis, makan, dan imbalan lainnya hanya karena ia seorang polisi.
  • Suap: menerima pembayaran dari merujuk orang untuk bisnis lain. Hal ini dapat mencakup, misalnya, kontraktor dan operator mobil derek.
  • Mencuri dari tersangka, tahanan atau korban kejahatan atau mayat mereka.
  • Shakedowns“: menerima suap untuk tidak mengejar pelanggaran pidana.
  • Perlindungan kegiatan ilegal: menjadi bodyguard, atau menerima pembayaran untuk meelindungi kegiatan ilegal: seperti pelacuran, kasino, atau pengedar narkoba untuk melindungi mereka dari penegakan hukum dan menjaga mereka ketika beroperasi.
  • Fixing“: Dengan sengaja merusak tuntutan pidana dengan menahan barang bukti atau mengagalkan barang bukti muncul di sidang pengadilan.
  • Kegiatan kriminal langsung dari aparat penegak hukum sendiri.
  • Hadiah internal: Membeli dan menjual hak istimewa yang diperoleh dari aparat penegak hukum lainnya. Misalnya waktu tugas, wilayah dinas, atau cuti/libur.
  • Tukang Timpa“: yang menanam atau menambah bukti, terutama dalam kasus narkoba.
  • Memplonco sesama penegak hukum.
  • Lewat aja santai“: polisi lalu lintas membatalkan tilang sebagai hadiah ke teman dan keluarga petugas polisi lainnya.

Nah Anda sudah baca sekarang bentuk korupsi yang terjadi di atas? Kenal? Pernah kejadian dengan Anda atau dengan orang terdekat?

Hell yeah, saya tahu Republik Indonesia bukan satu-satunya yang negara dimana Kepolisiannya korup. Masih banyak negara di dunia ini yang juga punya polisi korup. Haji Mamadov di Uzbekistan yang terkenal selain sebagai seorang reserse polisi, ternyata adalah pembunuh bayaran yang sialnya telah berhasil mengeksekusi puluhan manusia. William King dan Antonio Murray di Baltimore, US sana, bahkan menjadi kepala geng sindikat pengedar narkoba di malam hari ketika siang harinya menjadi detektif satuan polisi anti narkoba.

Tapi… Tapi.., saya kenal polisi Indonesia dan saya mencintai mereka. Gila jika saya biarkan mereka korup. Dan saat ini, kepolisian Indonesia entah bagaimana tingkahnya, kok tiba-tiba cenderung ke korup.

Punya kuasa itu berat. Apalagi jika membawa hukum sebagai pijakan kaki di setiap langkah ini. Menurut Lord Acton, kekuasaan itu cenderung kepada korup dan kekuasaan mutlak adalah sebuah korupsi yang mutlak. Semakin besar kuasa polisi, semakin besar pula kekuatan yang akan menariknya ke jurang korupsi.

Maka sore ini di akhir minggu, ijinkanlah saya bicara pada keluarga, teman-teman, tetangga, dan orang-orang yang saya cintai dan kebetulan jadi polisi dengan kalimat, “Hati-hati kena korupsi. I love you loh”


Lelaki Dari Indonesia

Saya dipanggil oleh rekan kerja dari departemen Sumber Daya Manusia. Kata beliau, ada training yang mungkin menarik untuk saya. Saya tanya training apa, dia jawab, training personal branding. Saya tanya lagi apa ada makan siang gratis, dia ketawa. Padahal saya serius. Saya mau ikut kalau ada makan gratisnya. Maklum lah, mental kere macam saya begini kan doyannya gratisan.

Teman saya, si trainer, bilang kalau training ini dibutuhkan sebagai bagian dari sekolahnya. Ia harus mentraining enam kali karyawan pabrik agar bisa lulus sekolah. Jadi atas dasar bantu teman, saya ikuti lah training ini.

Training ini dilaksanakan pagi hari. Diikuti oleh sembilan peserta dari negara-negara yang berbeda. Satu-satunya orang asia dan kebetulan dari Indonesia, yaa saya. Jadi, saya dapat perhatian khusus memang pada sesi pagi ini.

Saya biasa dapat perhatian khusus. Mirip bule di Candi Borobudur di Jogja sana yang dikerubuti anak sekolah untuk minta foto bersama. Saya bukan bule, ini jelas. Tapi kan sekeliling saya bule semua, jadi jelas juga kalau saya eksotis.

Ini bukan belagu. Bukan pula sok-sokan. Ini fakta. Jadi berbeda itu memang mengundang tatap mata. Satu anak punk berambut mohawk di komunitas santri berpeci pasti jadi lirikan sekelilingnya. Nah logika yang sama kita terapkan pada seorang lelaki tinggi standar berkulit coklat berambut panjang awut-awutan diantara manusia-manusia setinggi dua meter lebih berkulit terang pucat berambut pendek jambul mirip model tokoh kartun tintin. Jelas jadi tatapan. Sekali lagi, jadi berbeda itu mengundang tatap mata. Mau menafikkan fakta ini, silahkan

Sebelum acara dimulai, kami diminta memperkenalkan diri. Setiap orang pun mengenalkan dirinya masing-masing. Bagaimana mereka mengidentifikasi dirinya dan apa yang akan mereka perbuat di masa depan untuk personal brandingnya.

Ketika kami bicara sosial media, ini adalah topik yang sangat menarik. Sebab tidak semua orang ternyata memiliki akun sosial media dan bahkan ada yang membencinya.

Ketika giliran saya harus mengenalkan diri di training ini, saya bilang kalau saya sudah melakukan personal branding sejak lama. Si trainer kaget. Dia tanya kenapa dia tidak bisa menemukan saya di mesin pencari dan sosial media lainnya. Padahal saya sudah mengaku kalau saya punya lima blog, tiga akun facebook, dua akun twitter dan hampir setengah lusin alamat email.

Jawabnya sederhana, saya melakukan semua itu atas nama anonimitas.

Saya tahu personal branding itu penting. Yang jadi pertanyaan, apa itu yang saya butuhkan?

Tahun 2006 blog saya dikunjungi kira-kira tiga ribu pengunjung dari alamat unik perhari. Orang yang berbeda. Tapi lantas apa yang saya dapat? Nama besar? Uang? Jumlah fans membludak?

Tidak! Saya tidak dapat itu semua dan semua itu memang bukan kebutuhan saya.

Yang saya dapatkan adalah diri saya dibelakang komputer tiga jam perhari untuk membalas komen-komen atas nama ‘kode etik ngeblog’.

Bayangkan, tiga jam perhari? Kalau iya saya tidak punya pekerjaan lain seperti nyuci baju, ngepel, beres-beres rumah, masak, nyari nafkah, menservis partner, jelas saja saya bisa meluangkan waktu tiga jam perhari hanya untuk menjadi terkenal dalam imaji diri sendiri. Semacam onani jiwa. Tapi kalau saya tidak punya waktu menanggapi? Maka jadilah itu bumerang buat saya. Semacam melempar opini pada publik dan lalu lari tidak bertanggung jawab atas apa yang ditulisnya. Mirip anjing yang kencing di tiang listrik. Main lempar air seni sembarangan, endus-endus dikit dan lalu pergi lenggang kangkung setelahnya.

Jadi, pada saat saya mengenalkan diri, saya jawab bahwa saya muak jadi terkenal. Bahkan ketika anonimitas melindungi buruknya muka asli saya pun, saya tetap tidak bisa menghindari bahwa saya harus meluangkan waktu untuk menjaga ‘imaji personal’ digital di depan publik. Dan menjaga ‘branding’ itu butuh waktu, tenaga dan upaya.

Jadi pada intinya, jika anonim saja sudah susah jaga branding, apalagi pakai nama asli. Betapa membosankannya harus mati-matian jaga imaji 24 jam sehari melalui semua akun-akun sosial media. Sebagaimana betapa membosankannya jadi orang yang terus-terusan tersenyum dan melambai-lambai di depan publik setiap kali. Memangnya apa? Keluarga raja? Huh!

Tapi yaa begitulah hidup. Kata Kang Adi teman saya. Setiap orang harus mengenalkan personal brandingnya pada publik. Kalau presiden kita saja punya politik pencitraan diri (yang kemudian dengan sangat bangganya diikuti oleh istri, anak, dayang dan siapa saja yang mempu menjilat pantatnya), masak sih kita sebagai warganya tidak mau ikutan?

Jadi, menuruti saran Kang Adi, ikut-ikutanlah saya punya personal branding.

Personal branding saya jelas. Yaitu seorang ayah, sopan dan selalu tersenyum. Singkat kata, dalam bahasa asing, ‘a nice guy’. Tipikal manusia yang tidak menjadi ancaman buat sekelilingnya.

Punya personal branding sebagai nice guy itu susah-susah gampang. Gampangnya, saya tidak perlu susah-susah jadi nice guy. Senyum sedikit, ibu-ibu pedagang jengkol tetangga saja sudah ikutan senyum. Jadi ayah? Apalagi. Apa susahnya? Lah wong saat ini saya sudah dikaruniai seorang putri yang ramah baik dan cantik jelita. Apa susahnya berperan jadi ayah?
Lantas sopan? Lah kalau itu mah kewajiban. Sudah dari bawaan orok memang harus sopan kalau lahir di kampung saya Cilincing sana. Mau rusuh? Yaa siap-siap aja muka babak belur digebugin orang sekampung. Jelas saya harus sopan. Dan itu kewajiban.

Susahnya, yaa dengan orang-orang tertentu saja sih. Terutama gadis-gadis. Ehem…

Iya, saya ini single. Bukan sebuah kebanggan, apalagi kewajiban. Hanya sekedar fakta. Bahwa saya hidup sendiri, membujang, dan melakukan semua kegiatan cuci-mencuci, masak-memasak, membersihkan rumah, mencari nafkah, membesarkan anak, secara sendiri adalah fakta bahwa saya single. Tidak usah ditutup-tutupi. Realita. Pahit memang. Tapi hadapi saja.

Lantas apa hubungannya dengan personal branding sebagai nice guy dan single?

Lah banyak loh!

Sudah berapa kali saya ini diomeli beberapa orang. Ada yang menggerutu dibelakang ada yang terang-terangan memaki di depan. Biasanya yang diumbar adalah, “Kamu ini gimana sih, kalau flirting sama aku… yaa aku saja dong. Masak semua cewek digoda. Dasar buaya!”

Tinggallah saya bengong termehek-mehek. Apa maksudnya? Lah sejak kapan saya flirting sama beliau? Dan sejak kapan saya menggoda gadis-gadis?

Dan dengan seksama dalam tempo sesingkat-singkatnya secara gagah perkasa, saya tangkis omongannya dengan jawaban, “Saya? Beneran nih?”

Beliau sambil marah-marah menukas, “Ya iya kamu! Masih aja pura-pura nggak tau! Kemarin kamu di pestanya si Ayu, duduk disamping dia sambil senyum-senyum. Terus pas di dapur kamu sama Siti, masak bareng. Masih juga senyum-senyum. Trus pas kamu nyanyi maen gitar. Ngeliatin aku terus. Udah gitu lagunya love is in the air lagi. Kamu ini apa sih maksudnya? Kalian ini orang Indonesia berlaku nice dan doyan flirting yaa?”

Wah ini jelas saya tidak bisa terima. Itu generalisasi. Tidak semua orang Indonesia itu nice. Masih ada yang bawa-bawa parang pakai nama agama melarang diskusi buku. Masih banyak di Indonesia yang bakar-bakarin rumah ibadah. Masih banyak orang Indonesia yang cuek lihat tetangganya lapar. Jelas saya tidak terima. Tidak semua orang Indonesia itu nice! (*Pakai tanda kutip, biar efeknya jelas kalau saya tidak terima. Hihihi*)

Lalu kalau soal flirting. Ini jelas merupakan sebuah tantangan untuk menjawabnya. Katanya, orang Indonesia itu suka senyum. Dan oleh beberapa bangsa, yang kelihatannya jarang senyum, senyum itu memang bentuk flirting. si Soni sahabat saya bilang, “Men, kita ini orang dari negara tropis. Katanya mudah jatuh cinta”. Lah saya belum tentu setuju pendapat si Soni. Oke lah memang ada wakil rakyat Indonesia di Senayan sana yang mungkin jatuh cinta dan dengan asoynya memperlihatkan kepada publik adegan rekam mereka ketika tengah bercinta, tapi itu kan bukan berarti semua orang Indonesia mudah jatuh cinta. Lalu menggoda umat manusia sebanyak-banyaknya. Kalau memang orang Indonesia suka menggoda umat manusia dan ditakdirkan lahir sebagainya, pasti kita sebangsa sudah dikerangkeng di neraka. Idih amit amit naujubilah mijalik. Jelas yang pasti saya tidak terima.

Maka itu dengan perlahan tapi pasti, saya jawab beliau dengan, “Neng, nggak semua orang Indonesia begitu. Apalagi saya. Nggak semua orang Indonesia seperti saya. Kami ini terdiri dari banyak manusia yang berbeda. budaya berbeda. Pakaian berbeda. Bahasa berbeda. Tidak bisa semua orang Indonesia dikategorikan sama. Apalagi disama ratakan dengan saya”

Sambil berdiri dan pergi ia dengan ketus menjawab, “Ahh dasar laki-laki. Semuanya sama. Gombal. Bisanya ngeles saja”

Sambil garuk-garuk kepala saya berfikir. Dalam hati. Ahh susahnya jadi laki-laki… Apalagi jadi laki-laki Indonesia. Mau senyum, dibilang menggoda. Mau cemberut, dibilang sombong.

Lah kita, lelaki Indonesia. Harusnya bagaimana yaaa?


Lola – Lonte Lanang

orandum est ut sit mens sana in corpore sano.
fortem posce animum mortis terrore carentem,
qui spatium uitae extremum inter munera ponat
naturae, qui ferre queat quoscumque labores,
nesciat irasci, cupiat nihil et potiores

Sudah lama saya tidak menulis. Terutama menulis kelanjutan tulisan yang dahulu soal privasi. Secara literal memang tidak menulis. Biasanya jika saya tidak mempublikasikan sesuatu di blog, saya tetap menulis.

Alasan tidak menulis sebenarnya sepele, yaitu Faktor K, singkatan dari “Kesehatan”. Kata teman-teman saya, itu bukan ‘Faktor K’, melainkan ‘Faktor U’ alias “Usia”. Katanya, kalau umur bertambah, kesehatan menurun.

Saya tertawa mendengarnya. Masa sih begitu? Ada tetangga saya makin berumur malah makin sehat dan berotot. Habis kerjanya olahraga terus. Bukan hanya sembarang olahraga, melainkan lari berlari.

Olahraga saya yah apa? Paling push-up kalau bangun tidur. Itu pun bukan gara-gara biar sehat, melainkan agar tidak mengantuk lagi setelah buka mata. Sebab saya ini parah. Sudah pasang jam weker, sudah minta dibangunkan, sudah niat bangun pagi, nah ketika bangun buka mata bukannya segera sigap mandi dan ganti baju, malahan tidur dan mimpi mandi dan ganti baju. Nah si push-up itu cukup membantu biar bangun dan terjaga.

Olahraga lain? Naik sepeda? Aduh, sejak kunci sepeda saya hilang, itu sepeda dengan bangganya berdiri mematung jadi bagian dari lapangan parkir stasiun kereta. Hebat dia, ada hujan ada angin, ada badai ada terik, tetap saja berdiri dengan anggun. Tidak ada yang berani menungganginya. Jangankan para junkie yang hobi mencuri sepeda, saya sendiri sebagai tuannya tidak bisa mengayuh itu sepeda. Lah bagaimana bisa, wong digembok habis-habisan pakai tiga utas rantai kapal. Lalu kuncinya, semua hilang! Waladalah…

Sejak sepeda hilang dan musim dingin makin menggila yang membuat matahari terbit pukul sembilan pagi dan lelap pada tiga sore, saya jadi jarang olahraga. Lebih tepatnya, jarang gerak badan. Bisa jadi gara-gara itu, badan jadi kurang sehat.

Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Itu semboyan yang mencuat di plang papan kotak dari triplek di lapangan upacara SDN 25 pagi, tempat saya sekolah dulu. Saya boro-boro percaya bahwa dalam hidup ini ada jiwa yang kuat. Jiwa mah sama saja dimana-mana, pakai dikuat-kuatkan segala? Manusia terlalu pandai mencari-cari alasan dalam hidupnya. Padahal sungguh hidup itu sederhana. Anda tidak percaya? Ini saya kasih bukti. Kebanyakan pembunuh, pemerkosa, koruptor dan kriminal lainnya itu punya badan yang sehat. Apa lantas jiwa mereka ikut sehat? Omong kosong!

Saya push-up bukan gara-gara ingin sehat, tapi biar mata tidak mengantuk lagi. Atau malah, agar putri semata wayang bicara serius mengenai kesehariannya (yang tentu saja ia lakukan sambil duduk di atas punggung saya yang sedang push-up). Saya naik sepeda bukan gara-gara ingin sehat, tapi karena itu cara termudah, termurah, dan tercepat untuk berangkat kerja ke pabrik. Saya panjat itu dinding dan tebing bukan gara-gara ingin sehat, melainkan karena sedang dapat diskon untuk melanjutkan sekolah memanjat lagi.

Sesungguhnya kita bergerak karena alasan yang sangat pragmatis.

Percaya atau tidak, teori diatas ini sering dibantai habis-habisan oleh banyak orang, alasannya; karena tidak ada integritas dan idealisme disana.

Tidak punya integritas? Tidak memiliki idealisme? Ajaib, bagaimana seseorang bisa mengalamatkan kalimat itu pada orang lain ketika ia menjalani hidup yang berbeda?

Sahabat saya Aji, sering dipanggil Lola oleh teman-teman yang lain. Itu singkatan. Diambil dari profesinya, salah satu cabang pekerjaan paling tua di muka bumi; prostitusi. Lola, singkatan dari lonte lanang, pelacur pria.

Saya panggil Aji yaa tetap Aji. Tidak pernah mau saya panggil ia sebagai Lola. Dan itu membuat Aji bingung, sehingga suatu hari ia bertanya.

“Lo kenapa sih manggil nama gua pake nama gua?”

“Lah emang gua harus manggil lo apa?”

“Anak-anak manggil gua Lola. Lo kan betemen ama gua bukan setaon dua taon men. Lo kayak ga tau gua aja. Lo nggak suka gua mecun, men?”

“Ji, gua hargain profesi apa aja men. Lo mao mecun, mau apa kek itu urusan lo. Tapi kalo lo masuk abri trus lo jadi mayor, masa lo gua panggil mayor? Tiap lo naek pangkat lo punya nama baru dong? Emang kita tinggal di mess tentara?”

Aji diam. Lama. Saya juga diam. Habis mau apa lagi? Trik ad hominem saya terambil olehnya.

Akhirnya ia buka mulut, “Anak-anak taik juga sih. Gua dipanggil Lola sejak dapet ama si Lia. Lo tau kan Lia, yang waktu itu gua ngeluh nggak bisa bayar kost-kostan trus pas dia pulang pagi ada duit dua ratus ribu dia atas meja gua. Pas gua cerita, anak-anak ketawa trus manggil gua Lola. Anjing banget ga sih! Padahal waktu gua cerita, anak-anak gua traktir pecel lele. Trus duitnya yaa duit si Lia itu. Anak-anak kan tau. Tapi gua dipanggil Lola. Kalo gua dipanggil lonte lanang, trus mereka apaan? Palo? Parasitnya lonte? Taik lah!”

Saya diam. Adiknya Aji itu autis, biaya sekolahnya mahal. Cerita belum usai sebab papanya kabur dengan perempuan lain ketika anak-anaknya balita. Dan masih ditambah plot ala sinetron Indonesia ketika mamanya, bertahan hidup jadi tukang jahit yang buka praktek di beranda depan rumah. Semuanya bergantung ke Aji untuk bisa tetap hidup. Klise? Mungkin iya. Sama seperti drama hidup lainnya, klise.

Semua orang punya dramanya masing-masing. Dan hampir semuanya klise. Tapi apa sih yang baru di bawah matahari? Apa sih yang baru di muka bumi ini ketika hidup di bawah garis kemiskinan?

Ini cerita tentang hidup yang sederhana. Sesederhana survival of the fittest. Tentang Aji. Tentang banting tulang sedekah sperma kepada siapa saja yang mampu membayar.

Aji sering cerita soal hidupnya. Malam-malam. Hanya kepada saya? Ooh iya. Ini jelas cerita eksklusif. Memulai karir dari sauna dan klab fitnes untuk penyuka sesama. Kata dia, “cepet duitnya tapi nggak banyak sih”. Tanpa merinci lebih lanjut apa maksudnya. Membiarkan saya menerawang sedih tidak bisa tidur membayangkan dia mengangkang dan lalu berbaring di kamar kost tidak bisa masuk kelas karena kesakitan.

Aji bilang Lia menginspirasi. Membuatnya belajar di sebuah forum internet dan mulai memasarkan diri. Sayang tidak laku. Gimana mau laku, dia tidak berani pasang foto? Aji masih malu buka-bukaan. Tapi hari berganti hari. Dia punya klien tetap sekarang. Laki-laki, perempuan, dan bahkan katanya kalau rumput yang bergoyang bisa bayar, pun ia sedia mengangkang.

Suatu hari, Aji pulang ketika saya mau masuk kelas pagi. Lemas. Kausnya kotor, banyak bercak darah. Saya buatkan mie instan dan teh manis ketika ia mandi. Keluar dari sana, badan pemanjatnya yang kukuh liat bagai terbuat dari susunan batu bata rumah kokoh terlihat banyak guratan luka memanjang. “Gua dicambukin, men”

“Dicambuk? Ama siapa?”

“Ama nenek-nenek…”

“Ama nenek-nenek? Kok lu bisa disiksa ama nenek-nenek?”. Saya bengong. Mau ketawa. Tapi tidak bisa. Sedih juga ada didalamnya. Ironi.

“Klien gua, men. Gua diborgol, abis itu ditutup matanya. Abis itu gua ditelanjangin trus dicambukin. Gila sakit banget men. Gua ampe nangis-nangis, abis perih banget badan gua. Eh abis itu gua malah dianjing-anjingin ama dia. Abis itu dia nyuruh jilat-jilat kakinya. Abis itu pas dia puas, dia pergi dah…”

Saya kaget luar biasa, “Trus lu bisa lepas gimana ceritanya?”

“Yaa gua teriak-teriak laah. Untung di denger ama satpam rumahnya”

“Wah parah, Ji. Ayo laporin polisi?”

“Nggak men. Abis gua dikasih duit ama satpamnya. Kata satpam, emang majikannya gitu kalo maen. Gua dikasih tiga ratus ribu men. Lumayan lah buat lebaran nanti emak gua ama adek gua bisa belanja”

Cerita Aji menjual jasa prostitusi tidak lama kemudian menyeruak. Jelas gosip. Sebab banyak yang bergunjing Aji tidak punya integritas. Tidak punya moral sebagai cowok. Sebagai laki-laki, harusnya punya idealisme dan harga diri. Lalu mengukuhkan Aji sebagai Lola.

Tidak punya integritas dan idealisme? Apa yang mereka tahu tentang Aji? Sehingga berani mengalamatkan kalimat ajaib nan mewah begitu pada orang sesederhananya.

Hidup itu sederhana, sayang manusia tidak. Hingga berani-beraninya bikin puisi roman latin Juvenal di awal tulisan ini dalam bahasa latin yang isinya agar berdoa terhadap dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Jiwa yang tidak takut mati. Diberkahi panjang usia. Agar dapat kuat menanggung semua penderitaan yang ada, tanpa kenal marah dan keinginan untuk memiliki.

Di dalam badan yang sehat terdapat jiwa kuat? Dan dalam jiwa yang kuat terdapat integritas, moral dan idealisme? Ahh, pendapat kita pasti berbeda. Buat saya itu omong kosong. Orang yang paling banyak bicara jargon dan kalimat-kalimat mewah macam begitu biasanya orang yang paling memuakkan yang pernah saya temui.

Tapi pendapat kita pasti beda. Tidak apa-apa. Kita kan manusia yang berbeda :)

Apapun yang beda, Aji tetap jadi Lola. Tapi tarifnya jelas bukan tiga ratus ribu lagi per cambuk.

(*Aji, salam dari sini. Biar indah tubuhmu. Dijamah orang-orang. Tapi cinta tulusmu. Harus jadi milik mereka yang mencintaimu*)


Galau Permanen

Saya dapat banyak surat. Isinya hampir sama semua, mempertanyakan mengapa saya sudah sebulan lebih ini tidak membuat tulisan baru. Semuanya bertanya, apa kabar?

Saya baru saja bikin lagu baru. Single. Entah bahasa Indonesianya apa, yang pasti artinya bukan bujang. Melainkan hanya satu lagu saja. Judulnya, “apakabar?”. Belum dirilis, masih dalam proses mixing. Isinya yaa soal apakabar itu lah, mau apa lagi coba? Masak sih lagu apakabar isinya apakabur? Kan agak aneh. Tapi itu lagu memang buat konsumsi pribadi, bukan buat publik. Hehe.

Apakabar saya?

Jawabannya: letih. Di luar kesibukan sebagai manusia biasa lainnya seperti makan, main, sekolah, kerja, ngurus anak, menerima tamu, mencoba jadi teman yang baik dan bla-bla-bla lainnya, saya ternyata letih.

Saya punya banyak kabar. Saking banyaknya sampai bingung mau cerita yang mana.

Karena bingung, lebih baik saya cerita yang lain saja. Bukan soal kabar saya. Tapi kabar teman saya.

Begini ceritanya:

Suatu malam saya ditanya seorang teman, si Yunus. Ia bertanya, “Bang, kalo dokter bilang umur lo tinggal dua tahun lagi, lo jawab apaan?”

Saya membelalakkan mata. “Gila dua taon! Lama tuh! Gua mah bakalan senang-senang aja”

Yunus bengong, “Yang bener dong Bang, gua serius nih?”

“Yaelah masa gua becanda sih? Dua tahun itu cukup tau buat senang-senang?”

Dia terdiam. Lama. Sambil manggut-manggut dan melihat langit. Dan akhirnya setelah diam cukup lama, ia buka suara lagi, “Senang-senang maksud lu gimana bang?”

“Yaa senang-senang lah. Makan nasi padang, maen sepeda ama anak gua, cengar-cengir tiap malem ama temen-temen gua, bikin teka-teki silang buat warisan, ama nerusin hobi gua ngeriset arsitektur penyebaran kota”

“Nasi padang? Kenapa nasi padang?”

“Lah lu ga tau nasi padang itu enak? Wah kasian banget idup lu!”

Dia ketawa terbahak-bahak. “Yaah gua bisa ngerti bang, maen sepeda ama anak itu nyenengin. Tapi buset dah, masa sih ninggalin warisan teka-teki silang?”

“Yaelah, gua pan betawi mungkar. Dimana-mana orang betawi punya tanah, gua mah boro-boro. Udah tanah kaga punya. Rumah juga ngontrak. Duit ada palingan cukup buat idup aja. Mao ninggalin apa gua buat warisan? Yaa teka-teki silang aja dah… Masih untung gua ninggalin TTS. Coba kalo gua ninggalin utang ama polusi. Pan sial banget tuh anak cucu gua nanti”

Dia cengar-cengir. “Tapi bang, ngapain juga ngeriset trus nerusin penelitian. Lu kan udah sebentar lagi mao mampus. Kok masih mikirin penelitian?”

Saya mendelik, “Yee kampret lu ah. Siapa nyang bilang gua mao modar? Lagian riset itu pan hobi. Mao ada beasiswa apa kaga kek, mao dunia tebelah tujuh kek, mao riset gua diketawain orang kek, bodo amat. Itu pan hobi gua. Urusan amat ama nyang laen? Emang gua pikirin…”

Dia masih saja cengar-cengir. “Bang, lu mah aneh yaah?”

Saya garuk-garuk kepala menjawabnya, “Kok gua yang aneh, ada juga lo yang aneh. Kaga ada ujag-ujug trus nanyain gua kalo idup gua tinggal dua taon lagi. Emang lo mao mati dua taon lagi, Nus?”

“Nggak Bang, kemaren lusa katanya dokter si Imron abang saya kena kanker. Umurnya nggak lama lagi. Palingan juga sekitaran dua tahun lagi gitu deh”

“Wah sori yaa, Nus. Tapi serius gua tadi kaga becanda. Besok kita bikinin nasi padang yuuk. Kita kirimin ke Imron”

“Gimana bikinnya bang?”

“Resepnya pan banyak di internet”

“Trus yang bikin siapa?”

Lagi-lagi saya mendelik, “Yaa kita bedua lah. Masa gua sendirian. Kampret luh!”. Dan Yunus tertawa terbahak-bahak mendengarnya.

Besoknya sepulang mengantar nasi padang dari rumah Imron, saya dan Yunus naik sepeda berdua. Selepas taman rumput menjelang rumah, saya bilang sama Yunus, “Nus, tadi gua dapet SMS. Temen gua udah capek ama idup ini. Letih katanya. Mao mati aja”

Yunus menengok dari sepedanya ke arah saya, “Trus lo bilang apa bang?”

“Yaa gua nggak bilang apa-apa”

“Masa sih bang lo nggak bilang jangan?”

“Nggak tuh… Gua kepengen tau dulu aja dia kepengen mati kenapa? Kalo dia masih berguna buat orang laen, yaa jangan. Tapi kalo emang gara-gara dia idup nyusahin semua makhluk di muka bumi, yaa lebih mati aja kali yaah”

“Waah lu sadis banget bang?”

“Yee.. jangan salah men. Lu tau ga, kalo Jos Bus sebelom ngebom negara-negara laen nelpon gua dulu trus dia bilang dia galau permanen trus abis itu bilang mao bunuh diri, yaa gua dukung. Gua pasti bakalan bilang, Jos, yaa udah lu mati aja deh daripada lu idup malah nyusahin banyak orang”

“Waah lu parah banget bang. Trus kalo dia nggak mao mati gimana?”

“Gua bilang, Jos, mendingan lu jadi budak gua aja dah. Bersiin wese, mandiin sepeda gua dan laen-laen. Kan bagus itu, masih bisa produktif. Nah kabar baiknya, kalo jadi budak gua, ntar gua kasih makan nasi padang”

“Tai luh, Bang. Maksud gua temen lu, bukannya Jos Bus”

Saya bengong sementara dan sambil mengayuh sepeda saya jawab,  “Yaa kalo dia nggak mao mati, ngapain juga bunuh diri?”

“Gua bingung bang, Si Imron mati-matian minum obat tiap hari banyak banget. Idupnya juga nggak keren-keren amat sih. Dia kan cuma satpam. Dia utang kiri-kanan biar bisa nebus obat. Emak gua sampe jual mas kawin buat nalangin beli obatnya. Istrinya susah ampe dengkul tiap hari dagang di pasar, biar bisa nyambungin nyawa suaminya. Dunia ini aneh yaa bang, ada yang kepengen mati dan ada juga yang kepengen idup. Kok nggak bisa nerima aja ikhlas sambil terus ngejalanin apa yang emang harus dijalanin?”

Wah kali ini saya shock. Tumben-tumbenan Yunus pikirannya sedalam ini. Dia ini kan tipikal temen saya yang pokoknya apapun yang terjadi, cengar-cengir saja lah. Jangan-jangan gara-gara lewat taman yang banyak pohon besarnya dia kemasukan jin rumput.

“Nus, mana gua tau jawabnya! Gila luh, kok jadi sok bijak kayak gitu?”

Yunus diam tidak menjawab apa-apa. Sementara, rumah kontrakan saya semakin dekat saja.

Dan kali ini. Hari ini. Di hati ini. Ketika banyak yang bertanya saya apakabarnya dan ingin sekali menjawab dengan mengeluh dan bilang betapa letihnya hidup. Saya pikir saya harus menahan diri sambil mengingat omongan Yunus.

Jalani saja apa yang harus dijalani.

Dan jika semua jalan harus ada konsekuensinya, yaa jalani saja. Pakai sepatu saya sendiri, tidak perlu pakai alas kaki orang lain. Ini sepatu memang buruk, rombeng, bau, kadang bikin lecet dan jamuran, tapi toh ini kaki saya sendiri. Dan ia akan menemani saya menjalani apa yang harus dijalani.


Ditelan Kelam Malam

Robinson Crusoe book cover imageKalau tidak ada orang di rumah, biasanya saya suka kesepian. Dalam hati berpikir, “Kemana yaa orang-orang? Kok sepi amat?”. Tapi giliran banyak orang di rumah, saya juga sering bertanya-tanya, “Kok banyak amat orang-orang? Ini kapan bubarnya?”

Bingung? Iya lah, saya saja yang menjalaninya kadang suka bingung sendiri.

Malam ini saya sendiri. Hebatnya, kalau saya sedang sendiri begini, tiba-tiba kok yaa keinginan untuk menulis dahsyat sekali. Mungkin dengan menulis, bisa membunuh sepi. Tapi kenapa pula saya hendak membunuh sepi? Bukankah bulan sepenggal di langit cerah sana kelihatannya menemani malam ini? Kenapa pula sepi harus dibunuh, apakah ia sebegitu menakutkannya? Entahlah. Yang penting biarkan saja saya tetap menulis.

Dalam karyanya yang terinspirasi dari perjalanan Ibnu Tufail, Daniel Dafoe menulis The Life and Strange Surprizing Adventures of Robinson Crusoe, sebuah fiksi autobiografi perjalanan seorang pria yang bernama Robinson Crusoe terperangkap di pulau tak berpenghuni selama 28 tahun. Dalam novel fiksi itu, Crusoe menulis catatan hariannya. Selain mendokumentasikan hidup, juga untuk menjaga ‘kewarasannya’.

Saya bukan Robinson Crusoe. Tidak pula terdampar dalam pulau tak berpenghuni selama 28 tahun. Saya hanya kesepian malam ini. Dan menemani diri sendiri dengan kalimat demi kalimat mantra jampi.

Sudah sebulan lebih saya kedatangan tamu. Tidak tanggung-tanggung, di luar tamu tetap yaitu gerombolan teman-teman dan anjingnya, saya kedatangan tamu baru hampir sekitar 30 orang lebih. Setiap hari selalu muncul orang baru, muka baru dan cerita baru. Tapi saya senang. Walaupun juga ternyata saya letih. Selama sebulan ini kedatangan banyak tamu, senang, letih dan rasa lain sebagainya jadi satu campur aduk tak terkira. Lalu saya jadi enggan menulis. Sebab di ujung hari sudah terlalu berat mengangkat tangan untuk menulis.

Malam ini, tidak ada orang. Saya pikir, walaupun masih letih selama sebulan memforsir diri dengan tamu dan kegiatan pekerjaan yang penuh deadline, ini saat yang tepat untuk menulis. Saya memang bukan Tuan Crusoe, tapi saya harus menjaga kewarasan jiwa.

Yaa sudah. Maka itu, ijinkanlah saya bercerita malam ini. Mungkin sebuah cerita drama sederhana buat banyak orang. Tapi tidak buat saya. Dan daripada saya jadi gila, lebih baik dituliskan sajalah di dunia maya.

Cerita ini dimulai ketika saya kedatangan tamu. Tamu yang datang ke rumah saya silih berganti. Kadang menginap selama dua hari atau lebih. Semuanya menarik. Semuanya ajaib. Semuanya punya khas masing-masing. Namun diantara mereka semua itu, ada sepasang anak muda berusia 22 tahun yang berasal dari Swedia. Yang laki-laki bernama Eric dan yang wanita, pacarnya, bernama Rara. Diantara semua tamu saya, mereka inilah yang paling luar biasa.

Saya kenal Rara lebih dahulu, dari sebuah website dimana para pejalan di muka bumi berbagi keramah-tamahan ketika saling berkunjung. Suatu hari ia mengirim email bertanya apakah ia dan pacarnya boleh bertamu ke rumah saya. Yang serta merta saya jawab saja tanpa banyak cing-cong dengan ‘Iya’. Sebelum ke rumah saya, belum pernah sekalipun saya mampir ke rumah Rara, apalagi ke rumah Eric. Tapi tidak apalah, toh bukankah dalam menjalin pertemanan harus ada yang memulai duluan?

Suatu malam, ketika Eric sudah tidur. Teman-teman saya sudah tidur. Bahkan seekor anjing yang kebetulan bertamu di balkon saya pun sudah tidur. Saya duduk di dapur. Sambil senyum-senyum menatap foto putri saya, Novi Kirana. Malam itu, sebagaimana malam lainnya, saya rindu sekali kepada bocah perempuan berusia tiga tahun itu. Rara datang, mengambil kursi duduk di depan saya sambil berkata, “Cantik sekali putri kamu”

Saya jawab dengan senyum mengangguk, “Terimakasih”

Ia batuk-batuk sebentar. Katanya, sudah seminggu ini radang tenggorokan. Kurang nyaman. Saya berdiri sebentar, mengambil jeruk sitrun di kulkas, menyeduhnya dengan air panas dan lalu mencampur dengan madu dalam sebuah gelas berukuran sedang. “Silahkan diminum Rara. Kami orang Cilincing percaya bahwa sitrun mampu meredakan sedikit batuk. Semoga kamu bisa tidur nyaman malam ini”

Dia menatap saya heran, “Kamu baik sekali?”

Saya terkejut sambil tertawa, “Baik? Aneh, saya tidak punya maksud apa-apa selain berpikir jika suatu hari anak saya seusia kamu dan ia bepergian ke negeri jauh dan lalu batuk-batuk, ada orang yang memberinya sitrun hangat”

Ia menatap saya lekat, “Kamu bapak yang baik…”

Kali ini saya merasa agak kurang nyaman. Entah kenapa saya tidak begitu suka dinilai oleh orang lain cara ketika saya melakukan interaksi antara bapak dengan anak. Baik atau buruk, yang saya tahu saya memberikan semua kasih sayang saya sebagai bapak kepada putri semata wayang. Sebut saya egois. Sebut saya narsistis. Atau bahkan gila sekalipun. Tapi saya tidak peduli sebab saya merasa tidak ada orang lain yang perlu memberitahu betapa cintanya saya kepada putri saya.

Jadi saya jawab dengan agak enggan, “Baik? Perspektif siapa? Saya hanya menjalankan kewajiban sebagai seorang ayah”

“Buat saya kamu baik. Kamu beda dengan ayah saya”

Alis saya mengerenyit, “Bukankah semua ayah itu baik?”

Ia tersenyum getir ketika menjawab, “Ayah menyuruh saya les piano sejak saya berusia enam tahun. Ia selalu berharap anaknya adalah seorang jenius musik. Tapi saya bukan. Saya fals. Ketika saya umur delapan tahun lalu menekan tuts yang salah, dan ia benci mendengarnya, ia mengajak saya keluar rumah. Di halaman depan, ia mengambil Vidi, kelinci saya. Menyembelihnya di hadapan mata saya. Esok hari ketika saya menekan tuts yang salah lagi, ia mengambil Momo, kelinci peliharaan saya satu-satunya yang tersisa. Tangan kiri memegang kedua kuping Momo dan tangan kanan menyembelihnya. Di depan mata saya. Pesannya sederhana, jangan main tuts salah lagi”

Saya berhenti mengunyah permen karet. Menatapnya kaget dan tidak bisa bicara apa-apa. Ketika akhirnya kami diam selama beberapa menit, saya beranikan diri buka suara, “Tidak pernah terpikir di otak saya ada manusia… Apalagi seorang ayah, melakukan begitu kepada anaknya…”

Rara menunduk, membetulkan syal di lehernya. Kedua tangannya memegang bibir meja makan. “Bukan cuma itu. Waktu umur saya tiga belas tahun, ia pulang mabuk di akhir minggu. Sebagaimana hari-hari lainnya, ia suka pukul mama dan adik-adik saya. Malam itu ia mabuk sekali. Lalu datang ke kamar saya. Ia melakukan hal buruk sekali kepada saya”

Seluruh bulu kuduk di tangan saya merinding. Sedih, kecewa sekaligus marah jadi satu.

Rara sudah tersengguk-sengguk ketika meneruskan ceritanya. Setelah ia menyeruput sitrun hangat dari gelasnya. Emosinya mereda. Ia menjadi tenang kembali.

Tapi saya tidak. Entah kenapa, saya gelisah sekali. Sulit buat otak saya membayangkan seorang laki-laki yang menjadi pemabuk di akhir pekan lalu memukuli keluarganya hingga bahkan memerkosa anak perempuannya selama setahun lebih dan ketika anaknya depresi malah mengirim si anak ke rumah sakit jiwa. Dan semua itu, dilakukan oleh laki-laki yang berpendidikan cukup tinggi hingga mampu menjadi seorang dokter bedah. Astaga!

“Saya selalu menyalahkan diri saya sendiri. Apa saya yang berpakaian buruk dan membuat ayah terangsang? Atau saya berperilaku tidak baik yang membuat ayah jadi memerkosa saya? Saya selalu menyalahkan diri saya sendiri sejak pertama kali ayah memerkosa saya”

Saya raih tangannya. Menggenggam erat sambil berkata, “Rara, kamu tidak salah. Yang salah bajingan itu. Tidak semestinya ia masih hidup. Rara, kamu jangan khawatir. Dia tidak akan bisa mengganggu kamu lagi”

Matanya berlinang air dengan deras, “Dua minggu lalu, saya baru saja lulus ujian. Setelah susah payah akhirnya saya bisa menyelesaikan sekolah, saya lulus juga. Ia datang, menyelamati. Saya kira saya sudah bisa berdamai dengannya ketika akhirnya mama menceraikannya. Tapi di malam kelulusan itu, ketika ada pesta, ia coba untuk memperkosa saya lagi. Kali ini, saya sudah kuat. Saya dorong dia dan saya lari. Sejak dua minggu lalu, saya pergi dari rumah. Saya tinggalkan semuanya. Saya tinggalkan rumah. Saya tinggalkan pekerjaan. Saya tinggal semuanya! Saya benci Swedia!”

Saya tidak bisa bicara apa-apa. Saya hanya bisa memeluknya. Membiarkannya ia menangis di bahu saya. Membiarkan kaus saya basah terkena airmatanya. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya hanya bisa memberikannya perhatian melalui sepasang telinga untuk mendengar cerita-cerita perjalanan hidupnya.

Ketika akhirnya ia bisa tenang, saya tanya, “Eric tahu?”

“Saya baru pacaran dengan Eric sejak enam bulan lalu. Kamu orang pertama selain mama dan Nina kakak saya, yang tahu kejadian ini”

Saya genggam kedua tangannya, “Rara, terimakasih. Saya tahu ini cerita yang sungguh luar biasa buat saya dan sangat sedih untuk kamu. Tapi saya merasa tersanjung kamu percaya pada saya”

Ia senyum, walaupun sambil tetap menyeka air mata, “Iya, saya belum pernah cerita ini kepada orang lain. Hubungan saya buruk dengan laki-laki yang mau memacari saya. Entah kenapa saya bisa cerita pada kamu?”

Saya senyum menjawabnya, “Walaupun rambut saya jelek, tapi gini-gini saya seorang lelaki yang memiliki putri. Dan saya bukan ancaman buat kamu. Sebab kamu tahu saya cinta sekali dengan putri saya”

“Saya selalu kecewa, mengapa hidup ini tidak adil? Kenapa saya tidak bisa dapat ayah yang normal sebagaimana ayah teman-teman saya lainnya?”

Lagi-lagi saya tidak bisa jawab. Apa yang bisa saya jawab? Kalau bapaknya sakit dan berbahaya? Itu sih sudah jelas. Yang lebih tidak bisa saya jawab adalah, bagaimana masyarakat bisa membiarkan kejahatan terhadap anak-anak dan perempuan hanya karena dominasi kultur pria?

Ketika pria tergoda, apa mereka bisa berbuat apa saja? Merenggut kehormatan bahkan hingga secara brutal paksa, apa apologinya?

Rara pergi dua hari kemudian setelah malam itu. Bersama Eric. Kata mereka, tujuannya adalah selatan. Saya tidak bisa memberi apa-apa kepada pasangan muda yang sudah beranggapan bahwa dunia sudah sedemikian tidak adilnya selain selimut dan kasur angin. Hari sudah sedemikian dingin, musim gugur hampir tiba. Mereka tidak punya banyak uang. Mungkin hanya bisa menumpang pada supir truk mengharap belas kasih tranportasi atau malah menginap di taman kota.

Saya kira, drama asal Swedia usai sudah.

Tapi ahh… Tentu saja selalu ada tapi. Dan sebagaimana cerita-cerita hidup lainnya, saya jelas salah.

Hari selanjutnya, Mamanya, Dora dan Nina, datang ke rumah saya. Setelah menjebol akun email Rara (dibantu oleh kepolisian lokal), mereka menemukan bukti bahwa Rara dan Eric menginap di rumah saya. (*Entah kenapa, tiba-tiba nama saya jadi sedemikian terkenalnya di sebuah kota kecil di sudut Swedia sana*)

Jelas saya kaget ketika suatu hari satu orang ibu-ibu dan dua orang anak perempuannya berkendara selama 17 jam non-stop memencet bel rumah. Wajah mereka letih dan pucat ketika saya buka pintu pertama kali melihatnya. Mereka khawatir nasib Rara.

Saya ajak mereka makan malam. Sebab saat itu sudah jamnya. Mereka pasti lapar. Lalu setelah itu ke bar yang pernah dikunjungi Rara dan Eric, mencari kedua sejoli itu. Mamanya Rara terlihat paling stress. Ia sedih sekali. Ini pertama kali ia kehilangan kontak dengan anaknya. Saya tidak bisa bilang apa-apa selain bilang bahwa saya juga orang-tua dan amat mengerti perasaannya.

Malam itu di bar, saya traktir mereka bir. Ada gitar. Saya ambil dan mainkan lagu-lagu raggae dan dangdut ala Cilincing untuk menghibur mereka. Walaupun jelas bukan hanya mereka yang terhibur, tapi ternyata juga tamu-tamu lainnya. Sepasang gadis Spanyol yang duduk di sudut tergoda dan akhirnya ikut bermain gitar menyanyikan balada gembira Flamenco.

Malam itu, sebelum pergi, Mamanya Rara memeluk saya. Beliau bilang, “Kami tidak mampu menemukan Rara, tapi saya bersyukur akhirnya saya bisa senyum lagi setelah dua minggu letih tak terkira”

Saya pulang ke rumah dini hari. Jalan kaki. Setelah sampai rumah, rencananya mau mandi. Lalu tidur karena besoknya harus presentasi.

Di tengah jalan dapat SMS dari teman. Katanya ia dalam kesusahan dan butuh bantuan. Sudah cari kiri kanan namun belum juga ada yang membantunya.

Saya bingung mau jawab apa. Makin lama, seret langkah makin jauh ditelan kelam malam.


Istirahat Dan Kecantikan

Memberi Suara Pada Yang Bisu - Dr Dede OetomoHari ini saya tidak punya banyak kegiatan. Sebab prioritas utama saya memang hanya sekedar istirahat. Idealnya, duduk, menikmati matahari dan lalu baca buku karya pak Dede Oetomo yang berjudul Memberi Suara Pada Yang Bisu, sebuah catatan cukup penting bagi pergerakan homoseksual Indonesia di luar negeri maupun dalam negeri. Tapi itu idealnya. Maksud saya, yang ideal memang begitu. Sebab kenyataan toh bilang lain.

Hari ini, saya ambil cuti. Mau istirahat. Sudah dua minggu penuh beraktifitas hingga nyaris setiap siang atau malam dihabiskan dengan hal-hal yang menyenangkan, namun juga menguras tenaga. Siapa yang bisa bilang jika pergi ke kebun binatang bersama putri tercinta adalah hal yang tidak menyenangkan? Siapa yang bisa bilang jika menghadiri pesta ulang tahun makan dan minum enak sambil menyanyi bersama teman-teman bukanlah hal yang menyenangkan? Siapa bilang pergi ke tempat jauh hingga harus bawa paspor segala hanya untuk memotret tidak menyenangkan? Semuanya menyenangkan. Tapi tetap saja toh menguras tenaga.

Saya mau istirahat. Maka jadilah saya mencoba istirahat hari ini. Tapi, ahh lagi-lagi ada tapinya. Itu jemuran sudah berhari-hari kering minta diangkat dan dilipat lalu dimasukkan dalam lemari. Ada pakaian bekas ompol anak saya membuat pesing sekamar mandi minta dicuci dan dijemur secepatnya. Ada makanan yang meminta dimasak agar memenuhi isi perut saya dan tamu-tamu. Ada lantai yang berdebu kusam minta disapu dan dibersihkan segera. Ada foto-foto hasil perjalanan yang minta diedit dan dikirimkan pada mereka yang semestinya mendapatkannya. Ada… Ada… Ada-ada saja lainnya yang membuat akhirnya saya baru bisa beristirahat mulai pukul tiga sore. Dan saya yakin tidak bisa bertahan lama. Sebentar lagi, tiga jam lagi, tamu-tamu saya juga sudah akan datang.

Akhirnya pukul tiga sore ini saya bisa beristirahat. Saya duduk di depan monitor. Lalu mulai menulis. Aneh? Bukankah menulis juga butuh tenaga? Ya jelas iya. Bukan hanya tenaga, tapi juga pikiran. Tapi kenapa masih menulis? Jawabnya sederhana; itu istirahat. Setidaknya buat saya. Dalam tiga jam ini saya akan istirahat. Saya akan menulis.

Sore ini, ketika akhirnya saya bisa sendiri, saya pun menulis. Seperti biasa, catatan-catatan saya hanya sekedar remah kehidupan sehari-hari. Tidak begitu penting buat siapa-siapa. Tapi ijinkanlah saya menulis dan berbagi cerita, sebab hanya dengan begini saya bisa istirahat. Hehe. Egois banget saya. Tapi cuek aja lah. Hehehe…

Jadi begini ceritanya;

Teman saya, panggil saja Mas Don, seorang putra Jawa aseli, baru saja putus cinta. Kejadiannya belum lama, kira-kira baru dua bulan lalu. Itu cinta, sebegitu putusnya, membuat beliau uring-uringan (“Pernah jatuh cinta yang sedemikian jatuhnya sehingga enggan untuk bangkit lagi?“). Bagaimana tidak uring-uringan, sebab dia bilang semua orang baik dari keluarga pasangan hingga ke keluarganya sendiri, menyalahkan Mas Don. Seakan putusnya pertunangan mereka, salahnya Mas Don.

“Coba Bang, masak sih aku yang disalahin? Padahal kan dia yang menerima ajakan kencan dari cowok lain. Masak dia kalo dapet SMS dari cowok lain terus diajak makan abis itu ngasih tau aku? Siapa yang nggak panas coba?”

Saya diam saja. Cengar-cengir seperti biasa. Sambil bertanya, “Trus?”

“Yaa iyalah, masak aku dituduh psikopat. Gara-gara putus pertunangan kita, aku dituduh psikopat. Aku dituduh main gila. Main gila apa aku, Bang? Aku kerja banting tulang mati-matian di sini mengumpulkan uang supaya tahun depan bisa pulang ke Indonesia biar bisa kawin sama dia. Kok dia begitu? Kencan sana kencan sini. Dia yang minta putus eeh malah status fesbuknya bilang kalo aku yang mutusin… Siapa yang nggak panas coba?”

“Yaa udah lah. Kamu tenang aja, Mas Don. Masih banyak gadis-gadis di muka bumi ini yang mau sama kamu”

“Tapi aku kan jelek, Bang… Gigiku maju begini. Banyak orang yang bilang aku mirip Dono”

Saya terperanjat, “Siapa yang bilang kamu jelek. Mas Don, semua manusia itu sama. Soal cantik atau tidak, itu masalah selera. Omong-omong soal Dono, almarhum itu senior saya loh. Dan dibalik karirnya sebagai komedian, pejuang dia itu. Ganteng. Punya kepercayaan diri”

Dia sambil cengar-cengir bilang, “Yang bilang aku jelek sudah banyak, Bang. Kalau aku kondangan terus bawa mantan cewekku, orang-orang pada tanya, apa rahasianya cowok macam aku bisa dapat secantik begitu”

Saya melamun. Sedih. Saya bilang, “Mas Don, kalo ada yang bilang kamu jelek kamu inget-inget aja lagu Christina Aguilera liriknya yang bilang ’kamu cantik, walau apapun yang mereka bilang. Tidak ada kalimat yang mampu menjatuhkanmu’. Biar sukses, nih saya kasih amalan”

“Amalan apa Bang, sejak kapan situ jadi dukun?”

“Udah jangan berisik. Nih amalannya. Tiap bangun pagi kamu usahakan liat kaca. Kamu senyum. Senyum sama diri kamu sendiri. Trus kamu bilang, ‘Eh kamu manis banget sih’ pada diri kamu sendiri. Ini amalan mujarab. Kalo dipraktekkan tiap hari kamu bisa jadi ganteng”

“Buktinya mana?”

“Saya dong! Loh kamu nggak ngeliat betapa saya manis banget nih!”

Kami berdua tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban saya. Mas Don menganggap jawaban canda saya dengan hati senang.

Saya tidak tahu apakah Mas Don mengikuti nasihat ajaib saya itu. Tapi saya pribadi mah (eh jangan bilang-bilang, ini rahasia kita bedua saja yaah) setiap bangun tidur lihat kaca lalu senyum dan berkata pada diri sendiri, “Bangaip, kamu cute banget sih” atau “Bangaip, kamu topdeh” atau “Bangaip ketika kamu jalan-jalan, dunia jadi ceria”.

Agak gila memang, tapi saya tidak peduli. Meskipun di luar hujan deras dan saya harus genjot sepeda termehek-mehek melawan angin pergi ke stasiun berangkat kerja ke pabrik, saya sudah sarapan dengan senyum. Kalau tidak bisa senyum, saya pakai dua jari tarik ujung bibir ke atas. Supaya kelihatan senyum. Yang ada malah kelihatan aneh. Dan saya lalu ketawa-ketiwi sendirian di kamar mandi pagi-pagi.

Gokil? Hahaha, biarlah. Yang penting senang! Haha…

Beberapa hari lalu saya ketemu Mas Don lagi. Ia bilang, “Bang tadi aku ketemu cewek Brazil di bis. Aku dikasih nomor telpon ama fesbuknya. Waduh senang aku, Bang. Kita sudah kontak-kontakan, mau ketemuan”

Saya lihat fesbuk perempuan yang ia bilang. Ya benar, Mas Don tidak salah. Cantik itu wajah sang wanita. Dengan penampakan lain pirang, tinggi dan seksi. Saya bilang, “Mas Don, mungkin ini jalan kamu. Tiap orang kan ada jalannya masing-masing. Moga-moga aja ini perempuan baik hatinya. Kamu ini orang baik, sepantasnya dapat perempuan baik. Kalau dia hatinya baik dia juga sangat pantas dapat kamu”

Mas Don cengar-cengir malu, “Ahh bisa aja kamu, Bang”

“Hehe, ngomong-ngomong kamu praktekin ga amalan dari saya”

Ia senyum membalas pertanyaan saya. Saya tidak peduli sebenarnya apakah ia benar-benar mengikuti anjuran saya. Tapi saya sudah bahagia melihat ia akhirnya senang dan punya secercah harapan dalam melalui hari-harinya yang penuh kerja keras dan patah hati selama ini.

Oke, itu cerita Mas Don. Cerita tentang seorang laki-laki yang jatuh cinta.

Sekarang saya coba ceritakan sebuah cerita lainnya. Ini cerita tentang wanita berusia 57 tahun. Namanya Jeanette. Perempuan aseli Brussel, Belgia.

Hari jumat lalu saya diundang makan malam di rumah Jeanette. Disana juga ada Gaby, wanita Jerman paruh baya eksekutif sebuah perusahan pengembang perangkat lunak yang super sibuk dan Rayes, perempuan Kanada yang menghabiskan separuh hidupnya untuk berkelana di muka bumi dan kali ini sedang bangkrut, patah hati, mencoba hidup menetap dan mencari kerja.

Kami makan malam bersama. Empat orang asing yang belum banyak kenal satu sama lain duduk dalam satu meja. Oh ya, jelas saya lelaki satu-satunya di ruangan itu. Jangan tanya saya bagaimana bisa kenal mereka, yang pasti ketika makan malam usai obrolan pun lalu menjadi lebih intim. Kami bicara tentang hidup kami.

Gaby bicara tentang kesibukan yang semakin hari semakin menyiksanya. Karir semakin tinggi, ia sibuk di tempat kerja. Untuk mengimbangi, ia ikut fitnes dua kali seminggu. Agar badan tetap sehat, bugar dan kencang. Di sisi lain, pacarnya yang lumpuh di Munchen sana juga ikut menyita waktu dan tenaga. Ia bicara tentang kesibukannya.

Rayes cerita tentang lelaki-lelaki yang selalu datang dan pergi dalam hidupnya. Ia cerita kalau ia separuh menyesal bertemu dengan para pria yang ia pikir akan jadi pelabuhan terakhir dan akhirnya mengecewakan. Dan kini, ia harus memulai kembali dari awal atas segalanya. Ia cerita tentang masa lalu dan penyesalannya.

Lalu jelas giliran saya. Saya cerita apa? Ahh saya jelas cerita tentang anak saya. Seorang perempuan berusia tiga tahun yang selalu membuat saya jatuh cinta. Tentang bagaimana saya mengajarinya naik sepeda dan obrolan-obrolan kami dalam multi bahasa yang selalu membuat saya tertawa. Saya cerita tentang cinta.

Jeanette, yang dari tadi hanya diam dan senyum menanggapi akhirnya mulai bercerita.

“Suatu hari ketika saya ada di India untuk berkelana, bangun tidur di pagi hari mendapatkan bahwa setengah tubuh saya tidak bisa bergerak. Dokter yang datang satu jam kemudian hampir pasti berkata bahwa saya kena stroke. Kejadian ini dua tahun lalu. Sejak saat itu saya lumpuh”

Saya dan mata-mata lainnya dalam ruangan memandang dengan tercekat ke arah Jeanette. Iya kami tahu Jeanette agak pincang ketika berjalan. Tapi kami tidak tahu kalau ia pernah lumpuh total.

“Bukan hanya stroke, saya juga kena Afasia yang membuat saya kesulitan dalam berkomunikasi. Apa yang mau saya bilang di otak keluarnya lain di mulut”

Saya benar-benar terperanjat. Saya tanya, “Kamu… Apakah kamu merasa frustasi dengan kondisi tersebut?”

Jeanette memandang saya, ada airmata di sana. “Iya, saya frustasi. Apalagi saat itu saya di India, saya tidak bisa menghubungi keluarga di Brussel. Akhirnya untung ada kedutaan yang membantu memulangkan saya. Setahun saya merasa gagal. Saya benci diri sendiri. Berjuta pertanyaan muncul. Kenapa ketika saya di India? Atau malah, kenapa harus saya? Saya merasa hidup saya sudah tidak ada gunanya lagi sebagai manusia”

Saya sadar betul. Sebagai orang yang selalu jalan-jalan dalam bekerja, lumpuh memang amat menyulitkan. Apalagi ditambah kelainan fungsi di otak.

Gaby dan Rayes bertanya hampir bersamaan, “Lalu kok kamu sekarang bisa jalan lagi?”

Jeanette tersenyum. Dia bilang, “Kalau saya menyesali hidup, pasti tidak ada gunanya. Saya pasti suatu saat akan mati. Tidak perlu lah saya percepat. Maka itu saya lawan saja. Saya pergi ke pusat rehabilitasi untuk orang cacat. Saya berjuang setiap hari berkata pada diri sendiri bahwa saya pasti akan bisa menggerakkan telunjuk saya”

Diai berhenti sejenak, ambil teh dan lalu menyeruputnya. “Dan kamu tahu… Suatu hari telunjuk saya bergerak. Setelah enam bulan saya melatih diri di depan kaca berkata pada diri sendiri bahwa saya bisa menggerakkan jari jemari, tiba-tiba ia bergerak”

Saya kaget, “Eh masa sih segampang itu?”

Dia ketawa, “Yaa tidak. Tidak semudah itu. Besoknya setelah jari saya kedut-kedut tiba-tiba, tidak ada perubahan lain. Saya sempat frustasi lagi. Tapi saya lawan. Saya bilang pada diri saya sendiri kalau saya bisa. Hari demi hari ada kemajuan. Tidak serta merta saya bisa bergerak seperti ini, tapi saya mulai bisa menggerakkan jari jemari tangan saya. Dan itu sebuah anugrah. Buat saya. Buat orang-orang bisa jalan atau bisa tepuk tangan itu biasa. Buat saya waktu itu, luar biasa. Dan kini betapa saya sangat menghargai hidup dan tubuh walaupun hanya jalan ke WC atau membuka lembaran buku”

Saya benar-benar terharu mendengarnya. Hampir menangis. Semua bulu kuduk saya merinding ketika Jeanette cerita mengenai perjuangannya untuk sembuh dari stroke dan afasia. Lebih terharu ketika ia bilang bahwa ia merasa tetap cantik walau semua urat wajahnya menjadi amat kendur hingga amat susah dibedakan dengan Jeanette yang dulu sebelum terserang penyakit-penyakit itu.

“Waktu diputuskan oleh pacar ia bilang, saya sudah tua. Saya singel, cacat dan muka saya rusak. Tapi saya tidak peduli. Saya lawan saja semua prasangak buruk dengan senyum. Ia boleh bilang apa saja, tapi saya tetap merasa wanita dan saya cantik dan bahagia”

Saya lagi-lagi terharu dan senyum mendengarnya. Saya bilang, “Jeanette, kamu perempuan cantik dan tetap akan selalu cantik. Saya bangga bisa kenal dengan kamu. Saya bangga pada perjuangan kamu dan saya bangga pada kamu”

Satu persatu, saya, Gaby dan Rayes memeluk Jeanette. Ia menitikkan air mata. Ahh iya, saya juga. Saya menitikkan airmata. Jadi lelaki yang cukup cengeng malam itu. Tapi biar saja. Ini airmata respek pada perjuangan hidup anak manusia.

Kita semua dilahirkan cantik dan akan selalu cantik hingga akhir hayat nanti. Maka jika suatu hari hidup sudah sedemikian berat himpitannya. Lihat saja ke cermin di pagi hari. Senyum dan berkatalah pada orang di seberang sana bahwa Anda mencintainya.

Selamat sore, selamat senyum dan selamat menjadi cantik (atau ganteng, atau apalah sebutannya, hehe) buat teman-teman pembaca semua.

*Terimakasih sudah membantu saya istirahat :) *


AJarPul (Anak Jarang Pulang)

Saya mengobrol dengan Kang Adi, berbagi cerita. Cerita kami topiknya soal manusia dan nasibnya.

Kami berdua sama-sama tidak percaya bahwa ada faktor luar biasa yang mengubah nasib manusia selain manusia itu sendiri. Maksudnya mungkin, bahwa manusia menentukan apa yang ia jalani dalam hidup.

Lalu obrolan kami mulai menjurus spesifik, yaitu contoh nyata.

Kang Adi temannya wartawan kecil. Hidupnya pas-pasan. Tapi selalu bermimpi jadi pembalap mobil rally. Aneh sekali. Bagaimana mungkin gaji wartawan yang hanya bisa menyambung hidup pas-pasan keluarga mereka mampu membiayai si kepala keluarga jadi pembalap mobil?

Nasib berkata lain. Tepatnya, si wartawan kecil ini memilih nasibnya sendiri. Ia meliput berita-berita olahraga dan akhirnya diterjunkan ke desk balap mobil. Disana bertemu dengan orang-orang sejiwa, belajar, dan saling berbagi. Disana ia bertemu sahabat-sahabat baru yang mengerti panggilan jiwanya. Sesama pembalap.

Dan kini, ia benar-benar jadi pembalap mobil rally.

Saya ganti cerita. Contohnya jelas cerita soal tetangga saya, si Man. Kata orang-orang dia itu edan. Bapaknya tukang kebun sekolah, sementara mamanya ibu rumah tangga. Orangtuanya sih biasa saja. Maksudnya tidak ada seorangpun dari keluarga mereka menampakkan kegilaan-kegilaan tertentu. Hidup mereka sederhana. Kakaknya si Man satu. Adiknya tiga. Semuanya sekolah dekat rumah. Wajar-wajar saja. Lah waladalah kenapa pula si Man itu ternyata gila olahraga dirgantara terbang layang (hang gliding).

Bapaknya Man bisa jadi model tipikal bapak-bapak yang entah karena tuntutan hidup sedemikian keras, harus cari sampingan kiri-kanan membiayai anak-anaknya. Selain tukang kebun, ikut potong-potong ranting pohon tetangga kiri-kanan sebagai tambahan harian. Jadi, bapaknya Man ini sama sekali bukan pilot, superman apalagi gatotkaca yang bisa melayang. Kok yaa punya anak yang kepingin terbang?

Mamanya si Man, benar-benar ibu rumah tangga biasa yang baik. Sedari kecil semua anak-anaknya tidak pernah absen di Posyandu. Imunisasi lah. Lomba bayi sehat lah. Pokoknya, kesehatan anak harus tetap jadi prioritas, walaupun mereka bukan dari keluarga kaya. Mamanya si Man ini ibu rumah tangga yang baik. Namun sebaik-baiknya beliau yang lulusan SD Kemayoran ini sangat punya kemungkinan besar tidak pernah membaca tragedi Yunani yang melibatkan anak Daedalus yang bernama Ikarus yang melarikan diri dari Pulau Kreta dengan merekatkan lem dan bulu dijadikan sayap agar bisa terbang.

Maksudnya, mamanya si Man kelihatannya bukan pencinta dunia aeronautika. Kok yaa salah satu anaknya bisa sangat mencintai berada di atas langit sana?

Sejak kecil, si Man sudah menunjukkan gejala-gejala yang menurut warga kampung kelas rendahan macam kami, sama sekali tidak masuk di akal. Sejak kecil, Man gemar mengumpulkan gambar pesawat, mulai dari pesawat kecil hingga yang besar.

Lulus SD, Man terpaksa dibawa ke rumah sakit. Ia memanjat loteng dan lalu loncat dari atas sana dengan payung besar yang biasanya dipakai Umi kakaknya kalau mengojek ketika hujan.

Kali ini bapak yang biasa diam melihat kelakuannya pun berkomentar, “Lain kali, kalau mau matahin, jangan payung Umi. Jangan pula kaki kamu…”

Man menganggap komentar itu sebagai sebuah persetujuan. Tentu saja persetujuan untuk aksi-aksi selanjutnya.

Lulus SMP dan mulai mengerti bahwa daerah Puncak yang dekat Jakarta itu ternyata tinggi dan lebih banyak anginnya ketimbang Cilincing. Ia sering bolos dari sekolah untuk pergi ke sana.

Suatu hari ia ajak Umi untuk bolos bersama. Ketika Umi menolak, Man bersikeras memberitahu bahwa ia bukan hanya sudah berhasil mendisain layang-layang raksasa. Melainkan juga sudah membuatnya dengan bantuan tukang jahit di sebelah pabrik kerupuk. Rangkanya dari jari-jari roda sepeda. Kain pembalutnya dari jaket parasit yang ia sering temukan di sampah lokalisasi pelacuran dekat kampung kami. Kata Man, “Mi, gua ngiket badan gua ke layangan biar bisa terbang. Lu nanti yang manggil orang-orang buat narik kalo gua mao turun”

Umi jelas menolak dengan ide gila adiknya. Padahal kata Man, ia sudah mati-matian mengantar koran tiap bulan dan tidak jajan demi mewujudkan mimpinya terbang bersama layangan raksasa di Puncak sana.

Man tidak patah hati. Ia bolos lagi. Membawa buntalan besar ketika berangkat sekolah dan tidak pulang setelahnya.

Bapak mama si Man bukan tipikal orang tua yang anaknya baru tidak pulang semalam sudah seperti kebakaran jenggot. Lagipula track record si Man ini memang sudah terkenal sebagai AJarPul (singkatan dari Anak Jarang Pulang). Namun tiga hari tidak ada di sekolah dan tidak pulang ke rumah, membuat kedua hati orang-tuanya kebat-kebit juga.

Hari selanjutnya ketika Umi akhirnya mau buka suara, ada roda mobil berhenti di depan rumah. Yang turun kelihatannya bukan orang kampung kami. Anak muda, gondrong-gondrong. Kulitnya bersih. Mobilnya juga bukan mobil pick-up bau ikan asin sebagaimana mobil-mobil yang banyak beredar di kampung kami.

Salah satu yang badannya paling besar, membawa Man dalam papahan. Katanya, mereka menemukan Man dalam ‘posisi yang aneh sekali’. Jelas aneh, mana ada anak kecil normal dengan layang-layang raksasa yang tidak mau terbang dan akhirnya terpuruk di perkebunan teh membuat api unggun sendirian di malam hari?

Man jadi terkenal di kampung kami. Bukan karena terkenal karena keanehannya. Itu sih lagu lama. Melainkan Man terkenal di kalangan gadis-gadis kampung. Cowok-cowok gondrong berkulit bersih itu kata mereka anak orang kaya yang cool. Entah darimana tahunya, biar sajalah. Yang pasti Man sering dititipi salam dari gadis-gadis itu untuk para cowok gondrong. Bukan apa-apa, Man jadi sering nongkrong sama para cowok gondrong itu.

Aneh, Man jadi rajin sekolah. Tiap jumat sore dijemput teman-temannya naik mobil. Entah kemana. Saya tidak peduli. Ahhh… Salah. Sebenarnya saya sangat peduli. Lebih tepatnya, sangat cemburu.

Ahh tapi saya sudah punya laut dan pantai. Kenapa harus cemburu pada Man?

Kata mamanya, Man ikut klub para-para. Waktu saya tanya apa maksudnya paragliding, beliau mengangguk mengiyakan. Katanya, “Pokoknya yaang bisa terbang-terbang gitu deh. Duh Mamah maah cuman bisa ngedoain aja. Abis bisa apa lagi Mamah? Kata temen-temennya dia kudu rajin sekolah. Kalo rajin, nanti diajakin maen. Ikut klub. Dipinjemin peralatan. Itu loh, biar bisa terbang naek layangan raksasa”

Hari berlalu. Dan berlalu. Dan berlalu. Berlalu…

Man kini dewasa. Kalau bertemu kami berdua selalu memlilih warung makan pinggir laut yang dekat bandara. Kata Man, disitu ia bisa melihat benda-benda terbang kesayangannya di udara sambil bercanda dengan sahabat didepannya yang selalu takjub menatap riak-riak ombak.

Saya tertawa. Saya pikir, mungkin karena ia pilot sekarang. Jadi lebih suka rendezvouz dekat tempat kerjanya.

Ahh iya. Man jadi pilot sekarang. Siapa sangka anak tukang potong ranting kebun yang hidupnya sangat sederhana itu bisa jadi pilot?

Tidak ada.

Kecuali Man. Sebab sore itu ia berkata, “Lu tau ga? Waktu kita mancing dulu sama-sama setiap gua ngeliat ke langit gua pasti yakin kalo gua selalu bisa terbang di sana”

Setiap saya dapat kesusahan menatap jalan hidup ke depan yang kelihatannya selalu membingungkan dan rumit, saya selalu ingat Man. Bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Cita-cita dan kerja keras selalu bisa mengubah segalanya.

Ahh apa iya yaah?

Saya pikir bukan hanya cita-cita dan kerja keras… melainkan juga bertemu orang yang tepat.

Tapi siapa sih sebenarnya orang yang tepat? Entah buat Anda, yang pasti menurut saya, mungkin memang tidak selamanya hidup dikelilingi orang yang tepat atau semestinya. Yang pasti jika teman-teman saat ini selalu mampu membuat tertawa bahagia, maka beruntunglah saya. Sebab mungkin mereka tidak mampu menjadikan saya menjadikan saya petani atau penari yang selalu saya cita-citakan. Tapi mereka selalu mampu membuat tersenyum.

Toh dengan senyum kita mampu mengubah dunia. Setidaknya dunia kita :)

(*Eh boleh minta tolong? Kalau habis baca ini, mohon senyum ke makhluk pertama yang Anda lihat. Bisa cowok, cewek, kakek, bocah, orang di seberang cermin, bahkan pada semut jika ada… Boleh? Senyum sejenak nggak dosa dan nggak bikin anda susah loh… Jujur aja, saya sendiri abis nulis ini nggak berani senyum ke orang pertama yang saya lihat. Maka itu, saya memberanikan Anda menjadi contoh pertama korban… hihihi*)


Jika Kemewahan Itu Bernama Sakit

Bagian Satu: Satu Dollar Kriminal

Umurnya tidak muda lagi, sudah 59 tahun. Terakhir bekerja, di Coca Cola, mengabdi di sana selama 17 tahun sebagai pengantar botol ke warung-warung. Tidak pernah membuat musuh, bekerja dengan keras dan rajin dan selalu patuh memenuhi jadwal pengiriman. Itu etos kerja James Richard Verone.

Tahun 2008 badai krisis ekonomi melanda Amerika Serikat. Badai yang sama, melanda pula Coca Cola. James pun diberhentikan paksa. Ia pikir akan cepat dapat kerja, duduk dibelakang kemudi sebagai supir truk pengantar barang. Namun apa daya, tak ada lowongan pekerjaan yang sama untuk manula.

James lalu jadi kasir di warung kecil dekat kotanya. Tidak lama. Nyeri tulang punggung yang dideritanya, radang di kaki, (tentu saja, usianya sudah tidak muda lagi) membuat ia berakhir duduk di rumah beristirahat tanpa bisa meneruskan kerja. Mengandalkan hidup dari uang tabungan dan kerja sporadis serabutan.

Hingga suatu hari dadanya terasa nyeri. Hendak ke rumah sakit, meminta pengobatan. Tapi hukum Amerika Serikat yang hingga saat ini masih bersitegang akibat jaminan sosial kesehatan warganya, membuat James tidak mendapatkan kesempatan untuk berobat. Intinya, apapun warna kulitnya, warga miskin memang tidak dapat hak yang sama di mata dewa medis di Amerika sana.

Suatu hari ia menyadari bahwa uang tabungannya habis, hasil dari kerja serabutan tak lagi mencukupi. Ia jual seluruh perabotan rumah dan membayar uang sewa kontrak bulanan terakhir. Dan lalu menjadi gelandangan mengandalkan hidup dari satu yayasan kemanusiaan ke yayasan lainnya hanya untuk sekedar makan minum dan bertahan dibawah dinginnya malam.

Tuan Verone tahu benar akan hal itu.

Dadanya semakin nyeri.

Hingga akhirnya pada tanggal 9 Juni, di siang yang cerah ia mandi, menyetrika pakaian, lalu memanggil taksi. Merampok bank pertama yang ia lihat.

Di depan kasir bank, ia menyodorkan secarik kertas yang isinya meminta uang satu dollar Amerika dan layanan pengobatan.

Kasir panik, Bank mereka belum pernah dirampok. Meskipun tanpa membawa senjata, kasir masih panik ketika dirampok dengan tuntutan satu dolar (kira-kira saat tulisan ini diturunkan adalah setara dengan Rp 8.620,-) dan permintaan medis.

Kasir memijit bel alarm dan polisi pun datang.

James tanpa rasa takut, bilang kepada si kasir wanita, “Saya akan duduk di lobi ruang tunggu sampai polisi datang”. Tak lama kemudian, polisi dengan kesatuan yang bagaikan anti-teroris datang menyergap dan menggelandang James ke penjara.

Ketika ditanya alasannya mengapa merampok dan hanya menuntut satu dollar saja, “Kalau saya masuk penjara, saya harap saya bisa dapat pengobatan gratis dari negara” jawab James dengan pelan.

Tuan Verone pun dipenjara. Entah sampai berapa lama. Di dalam bui, ia hanya makan pagi dan siang saja. Tidak makan malam. Katanya, pada saat makan malam ia akan bergabung dengan hampir semua narapidana. Ia takut. Ia tahu, penjara Amerika itu buas. Jadi lebih memilih saat makan pagi dan makan siang saja yang biasanya hanya diikuti oleh pesakitan yang telah lanjut usia.

Hingga saat ini, belum ada kabar apakah ia akan dapat pengobatan untuk nyeri dadanya.

Ketika berita ini akhirnya dimuat surat kabar gastongazette dan lalu melesat ke boingboing, hampir semua orang Amerika berteriak kecewa dan sedih. Menuntut keadilan atas kebutuhan pelayanan medis untuk warganya.

Bagian Dua: Satu Bangsa Satu Penjara

Beberapa minggu lalu saya kedatangan tamu, namanya Bas. Kawan-kawan Mexico yang ia bawa memangilnya ‘El Gringo’, terjemahan ugal-ugalan dalam bahasa Indonesia kira-kira ‘bule’.

Bas lahir di California, lebih mewarisi gen mamanya yang berambut pirang dan bermata biru ketimbang papanya yang asli dari Mexico City. Walaupun punya kewarganegaraan ganda, Amerika dan Mexico, ketika saya tanya apa isi dadanya ia jawab dengan senyum, “Saya Mexican”.

Bas tinggal bersama papa mama dan adiknya di Nogales, sebuah desa di Arizona yang benar-benar terletak di perbatasan antara US dan Mexico.

“Saya bingung tinggal di Amerika. Hampir semuanya serba ilegal. Kamu tahu, saya pernah dipenjara gara-gara nyetir mobil tanpa alas kaki! Sebab di Nogales, itu ilegal. Bajingan, masa sih saya dua hari di kantor polisi sampai papa mama saya jemput ketika mereka pulang dari liburan!”, keluh Bas.

“Jadi kamu suka di Mexico saja?” tanya saya sambil senyum-senyum. Vik, sahabat Bas yang berasal dari Hermosillo tertarik mendengar jawaban dari Bas. Ia mendengarkan dengan seksama.

Bas mengangguk. “You know, dua malam sebelum saya ke rumah kamu ini saya bangun jam dua pagi. Gila ada helikopter di atas rumah saya”

Saya bengong. Kaget. Hah! Masa sih ada helikopter di atas rumah. Memang rumahnya pakai helipad?

“Kamu tahu ga? Itu polisi Arizona yang sedang mencari pengungsi ilegal dari Mexico. Mereka pakai alat pencari infra merah untuk mengidentifikasi para pengungsi itu”

Vik menimpali, “Orang kampung Sebastian gila-gila. Di sana bahkan ada milisi yang bersenjata. Kerja mereka memburu orang-orang Mexico yang miskin dan lalu menyebrang ke Amerika untuk mencari pekerjaan. Itu manusia, dikejar-kejar, trus kalau sudah dalam jangkauan tembak, yaa ditembak”

Saya makin bengong. “Jangkauan tembak. Maksud kamu seperti berburu? Loh bukannya di Amerika apa-apa itu ilegal. Masa berburu manusia tidak ilegal?”

Bas ketawa-tawa, “Yaa ilegal, tapi yaah namanya juga manusia gila.”

Saya ternganga, “Trus orang-orang gila itu ditangkep ga?”

“Yaa ditangkep”

“Trus gimana orang mexiconya?”

“Yaa ditangkep juga. Dipenjara sama-sama”

“Lah terus kalo dipenjara bareng-bareng, apa nggak bunuh-bunuhan?”

“Yaa bunuh-bunuhan lah. Itu mah biasa. Kamu lihat film hollywood mengenai perang antar gang di dalam penjara? Yaa seperti itulah kejadiannya”

Melihat saya diam seakan seperti tidak percaya, Bas bilang. “Rakyat kami dalam ketakutan. You know, bukan hanya pada teroris tapi juga pada pencari kerja tanpa dokumen, pada cuaca yang makin panas dan banyak lainnya”

“Kalian hidup dalam ketakutan dong?”

“Yaa nggak semua orang sih. Tapi menurut saya, hampir semua orang hidup dalam ketakutan di sini. Kalau tidak takut, yaa ditakut-takuti biar takut. Hehe. Saya pikir kok mirip hidup dalam penjara. Satu bangsa, satu penjara.”

Saya manggut-manggut. Tapi jelas tidak berani cengar-cengir. Sebab kelihatannya ia serius.

Bas menambahkan, “Omong-omong kamu tahu ga kalau Amerika Serikat itu negara dengan jumlah penjara ternbanyak di muka bumi? Bahkan populasi penghuninya sudah sedemikian parah, sampai-sampai lapangan basket yang harusnya jadi tempat narapidana buat olahraga dialihfungsikan jadi barak tidur loh. Saking banyaknya penghuni penjara. Tapi omong-omong penjara Indonesia bagaimana?”

Saya tidak banyak bicara. Saya bilang, “Bas, saya ngantuk. Besok ngeburuh. Saya tidur duluan yaah” sambil cengar-cengir. Yaah mau pakai trik apalagi? Saya tidak punya jawaban pertanyaannya. Lebih baik saya kabur. Hehe.

Bagian Tiga: Ketika Mamanya Nopal Sakit

Waktu itu saya masih di Jakarta. Ada sms masuk dari Nopal. Bilang minta bantuan. Katanya mamanya sakit. Sudah lama merasa nyeri. Bahkan sampai pendarahan segala. Setelah dicek, ternyata mamanya Nopal kena serviks, nama lain dari kanker leher rahim.

Kanker ini termasuk penyakit yang cukup berbahaya. Menurut WHO di tahun 2007, kira-kira setiap tahunnya sebanyak 15.000 perempuan Indonesia dihinggapi oleh kanker leher rahim dan sebanyak 7500 orang terbunuh karenanya.

Saya pikir ini masalah serius. Tapi ada lagi yang lebih serius. Pertama, kenapa Nopal mengadu ke saya? Kedua, Nopal kan dalam penjara gara-gara kasus narkoba kok dia bisa sms saya?

Penjelasannya ada di sms antara saya dan Nopal.

LO DAH DILUAR?

G.MSH DI DLM.2THN LG.TLG MEN.MAMA GW NIH.DUIT GW G CKP BWT KEMO MAMA

KEMOTERAPI?ASTAGA.PARAH AMAT MEN!

YOI MEN.TMN LO KAN BNYK.ADA DOKTER GA?

MAMA LO KAN PEGAWAI NEGRI.ADA ASURANSI

ASKES G CKP.G JAMIN FULL COVER.

LO GA KERJA DI DLM?

KERJA.GW NYETOK BRG TRUS NYEBARIN DI DLM SKRG.DPT HP PULSA MA DUIT600RB/BLN

LMYN KAN.MKN MA TIDUR KAN GRATIS?DUIT BISA LO TABUNG.

KT SIAPA?GW BYR KMR 400RB/BLN.CADONGAN ISINYA BATU.EMANG ENAK MAKAN BATU.LO KIRA PENJARA GRATIS?

SERIUS LO?

MASA GUA BOONG MEN.LO SATU2NYA YG GA RESE MA GW.ABIS LO JG BEJAT SIH :) PENJARA INDONESIA ANCUR MEN.

PARAH!YA UDAH NANTI MLM GW KE RMH LO NGOMONG AMA MAMA LO.BTW LO BRENTI DONG NYEBAR RACUN KE ORANG2!

KL GW BRENTI BKN CUMA GW YG MATI MEN.TLG MAMA GW MEN PLIS

Saya diam sejenak. Termangu. Kalau Nopal sudah bilang bahwa nyawanya terancam, itu artinya benar-benar terancam. Dia itu salah satu prajurit jalanan Cilincing yang saya kenal. Hidupnya dari dulu memang dibayang-bayangi bau kematian. Dan dia tidak pernah mengeluh apalagi takut karenanya. Namun kali ini masalahnya pasti serius.

Terjebak dalam sindikat narkoba yang melibatkan banyak orang, baik dari dunia hitam maupun berseragam dan satu-satunya orangtua yang tersisa terbaring di rumah terkena kanker, pasti masalah serius.

Penjara, kata Nopal, sudah berubah jadi rumah indekos. Narapidana kaya, yang mampu membayar tentu saja dapat fasilitas lebih. Bahkan seorang bos sepakbola di Indonesia mampu memboyong AC hingga fax ke dalamnya lalu menjadikan dua kamar jadi satu demi kelangsungan pekerjaannya ketika ia harus menjalani hidup dalam bui. Semuanya atas nama tahu sama tahu.

Singkat kata singkat cerita, mamanya Nopal akhirnya beristirahat dengan tenang di pemakaman umum Cilincing setelah enam bulan bergulat dengan kanker leher rahim yang mengerikan. Semua tenaga medis yang saya hubungi menyerah sambil mengatakan bahwa harapan hidup beliau sudah semakin menipis.

Tidak berselang lama, Nopal menghidup udara bebas. Dia jadi big shot. Ternama karena kinerja kerja. Prestasinya sebagai bandar narkoba di dalam lembaga pemasyarakatan memberinya semacam previlige yang mampu mengantarkan surat sakti agar dapat keluar lebih cepat.

Tapi tidak lama. Hanya beberapa bulan setelah bebas, ia meninggal karena tabrak lari. Bisik-bisik rumor jalanan berkata bahwa sebelumnya ia tidak mampu closing deal sebuah perjanjian bisnis dengan pesakitan kelas kakap. Kata kabar burung, Nopal harus membayar dengan nyawanya.

Dibandingkan dengan Nopal, Tuan Verone tidak akan lama bertahan hidup jika ia dalam penjara Indonesia.

Tuan, ini negeri dimana orang miskin diharamkan sakit!


Ksatria Cilincing

Beberapa hari belakangan ini banyak teman-teman yang bergiat di media membicarakan strategi pemasaran #petimati. Yaitu sebuah trik pemasaran yang kata pembuatnya ‘mampu mengenalkan sebuah produk dari mulut ke mulut’, dengan cara mengirim peti mati ke jaringan media di Indonesia. Tetangga saya, Mas Paman dan Pakde membahasnya dengan amat baik, dari sudut pandang etika hingga profesionalitas. Silahkan baca di halaman mereka pada link yang tercantum sana.

Saya tidak akan membahasnya di sini. Membahas peti mati bukan keahlian saya. Tapi mungkin akan membawanya ke topik makan siang nanti bersama para kolega. Saya pikir, sesama rekan buruh pabrik yang menyantap hidangan makan siang nanti akan sedikit mengerenyitkan kening. Mendengar ada manusia yang punya ide mengirim peti mati agar terkenal ke seluruh dunia. Ahhh saya yakin si pengirim peti mati ‘mampu mengenalkan produknya dari mulut ke mulut’. Walaupun sekarang jelas promosi macam apa yang dibicarakan dari mulut ke mulut mengenai peti mati kirimannya.

Promosi itu masalah penting dari dagangan. Katanya, tanpa promosi akan habislah sirkulasi. Teori ini sempat dibantah oleh beredarnya film ‘Super 8‘ karya Steven Spielberg dan JJ Abrams. Itu film, dari pembuatan bahkan sampai munculnya di bioskop, penuh bisik-bisik rahasia. Akibat rahasianya, bahkan blog pengendus terbaik macam BoingBoing dan GeekDad langganan saya pun baru tahu di menit-menit terakhir sebelum akhirnya dipublikasi di bioskop. Tapi bukankah bisik-bisik rahasia pun sebenarnya adalah promosi?

Promosi? Ahh iya. Ini yang mau saya bahas.

Dulu teman saya si Anung kesengsem habis-habisan pada kembang satu SMA yang bernama Lina. Setelah memberanikan diri bahkan hingga puasa senin kamis agar diberi kekuatan langit dalam menyampaikan cinta, mulailah ia promosi. Tidak tanggung-tanggung, akibat kebanyakan membaca novel romantika abad pertengahan, si Anung mendekati Lina di kantin ketika sedang jajan bakso. Dia bilang, “Lin, aku laki-laki terbaik yang akan kamu miliki di muka bumi ini. Kamu mau jadi perempuanku?”

Cerita-cerita CanterburyBukan gara-gara Lina yang tidak baca The Canterbury Tales yang bercerita kisah cinta antara para ksatria Inggris dan para putri raja. Bukan pula gara-gara si Anung yang menyatakan cinta setelah selesai upacara bendera hingga memakai dasi kupu-kupu dipadu celana abu-abu. Bukan… Bukan karena itu Lina menolak cintanya. Sebab Lina tidak pernah menolak cinta Anung (*bahkan hingga detik ini*). Lina hanya balas bertanya, “Eh, siapa yaa?” yang membuat hati Anung berantakan dirundung malu.

Maka jika suatu hari Anung bertanya pada saya apa kekurangannya, saya sama sekali tidak bisa menjawabnya. Astaga! Saya bukan Don Juan. Tapi saya jelas bisa bertanya, “Nung, kok si Lina bisa nggak kenal ama lu sih? Kapan terakhir kali lu ngobrol sama dia?”

Sambil menunduk seakan langit mau runtuh Anung menjawab, “Waktu kita inisiasi lah men. Kan belum lama tuh. Demi Tuhan, pertama kali lihat langsung jatuh cinta”

“Inisiasi? Maksud lu waktu kita orientasi sekolah? Hah, itu kan udah dua tahun lalu, men. Buset dah…”

Jadi pada intinya, si Anung ini diam-diam jadi penggemar rahasia Lina. Kalau pulang sekolah bahkan sempat menguntit Lina dengan sepeda hanya untuk sekedar tahu apakah rumah tinggalnya punya kotak surat untuk disampaikan kertas cinta. Dan selama dua tahun pula, Anung mengungkapkan cinta lewat sebuah surat yang tertandatangan dibawahnya oleh ‘Ksatria Cilincing’.
(*Kadang-kadang saya suka pikir, anak sekolah jaman dulu kok yaa ada-ada saja yaa tingkahnya? Tapi… Lha memang anak sekolah sekarang bagaimana kelakuannya?*)

Jelas Anung pikir bukan ide jenius ketika saya bilang bahwa ia harus membayar beberapa gadis di sekolah kami agar menulis ‘punyanya Anung segede terong’ di WC siswi sebagai langkah promosi dirinya. Saya bilang, “Oke kalo nggak terong, ketimun aja. Kan mantep men kalo barang lo terkenal sesekolahan kita!”. Namun tetap saja ia menggeleng.

Ketika saya tawarkan, “Gimana kalo lo bayar cewek-cewek yang agak gitu deh di sekolahan kita biar mereka bisik-bisik pernah bercinta ama lo dan bisikannya yaitu elo kayak kuda binal yang dahsyat kalo lagi bercinta? Kan hebat lu jadi pecinta sejati men. Bayangin di saat anak-anak laen lagi kesusahan ngilangin keperjakaan, lu malah udah jadi dewa ranjang. Pasti cewek klepek-klepek dah kalo ngeliat lu lewat. Pasti si Lina doyan ama lu men”

Anung menatap saya makin lesu, “Yaelah Rip, bapak emak gua kan haji. Masa gua terkenal sampe kedengeran nanti ama orangtua gua kalo gua cowok begituan. Lu mah enak udah nggak punya malu. Kalo gua kan cowok biasa aja men”

Aduh, ‘ksatria Cilincing’ di hadapan saya menjelma jadi ‘cowok biasa’. Di atas kertas, dia luar biasa. Di dunia nyata, ah-ah-ah… Hanya seorang pria yang putus asa berharap cinta.

“Bujug buneng, masa gitu aja lu nyerah, Nung. Promosi dong. Promosiii…”

Singkat kata singkat cerita, akhirnya Anung setuju membayari makan siang saya selama sebulan kalau Lina akhirnya mengetahui kalau ksatria dari Cilincing itu ternyata Anung. Namun baru setengah bulan, aksi ini dihentikan dengan paksa olehnya setelah mengetahui bahwa di meja kelas tempat gadis idolanya biasa duduk ada tulisan spidol ‘Lina Love Bangaip‘.

Anung hatinya semakin berdarah, sahabat dekatnya ternyata jatuh ke pelukan gadis pujaan. Orang yang dianggapnya menjadi benteng terakhir meminta bantuan ternyata menikamnya dari belakang.

Suatu siang yang panas Anung menantang berduel di kebun jamblang belakang sekolah. ia buka baju, itu artinya kami tidak akan pakai senjata. Ceritanya, mungkin ini hanya satu-satunya solusi antara dua laki-laki. Yang menang dapat Lina? Wallahualam jawabnya. Yang pasti, ada yang marah dan ada yang kecewa.

Anung buka baju, saya juga. Ketika berhadap-hadapan dengan jarak antara lima meter masing-masing, tulang iga kurus remaja pesisir pantai kami menonjol jadi tontonan warga sekitar yang memang haus hiburan dan hanya duduk di warung kopi sambil tertawa-tawa.

Anung: “Bajingan! Dasar lu pager makan jaro!”
Saya: “Ada juga pager makan taneman, kali. Tapi emang salah apa gua!”
Anung: “Duit gua lu makan, si Lina lu embat! Temen macem apa lu!”
Saya: “Emang salah gua kalo pas gua bacain puisi-puisi lu trus gua nyanyiin lagu-lagu lu yang buat si Lina, bikin dia demen ama gua? Emang salah gua kalo lu sampe segitu aja nggak berani?! Emang salah gua lu nggak promosi…!!!”
Anung: “Udah lu jangan banyak omong! Kemaren gua liat lu nyium pipinya Lina di pager rumahnya pas abis pulang sekolah! Temen macem apa lu!”
Saya: “Gua sumpahin mata lu bintitan gara-gara ngintipin orang!!!”

Tak lama kemudian kami terlibat baku hantam. Sang ksatria Cilincing ini memang mungkin akibat banyak membaca adegan pertarungan peperangan antar jawara, jadilah saya kewalahan juga. Tapi lima belas menit setelah saling mengeluarkan emosi jiwa berbagi tinju akhirnya kami berdua ngos-ngosan juga kehabisan nafas.

“Nung… Hhooohhh.. Hooohhh… Ambillah tuh… Hoohh… Hooohh… si Linaahh… Hooohh… Hoorrhh…”

“Hrrhhh… Hrrrhhh… Nggak rip… Hrrhhhh… Gua rela dahhh… Hrrhhh…”

Sambil tersengal-sengal, kami saling ‘memberi’ Lina.

Tanpa sadar, bahwa di bawah pohon jamblang seorang gadis manis berambut panjang berkepang dua memeperhatikan. Itu dia, perempuan pujaan yang kami perebutkan. Ketika akhirnya saya dan Anung berdiri dan saling memegang pundak mata kami menatapnya. Ia tidak banyak bicara apa-apa. Tidak ada tanda sedih, marah atau kecewa dimatanya. Ia hanya berbalik badan. Pergi. Dan sejak saat itu, tidak pernah lagi bicara pada kami.

Ini bukan kisah cinta. Ini hanya cerita tentang promosi. Entah promosi yang gagal, kebablasan atau malah tak tahu diri. Entahlah…

Walaupun hingga kini, saya selalu bertanya-tanya. Bagaimana rasanya memiliki pasangan cinta yang harus bertarung demi mendapatkannya?

Atau justru jangan-jangan Anda yang diperebutkan mereka? Eh, ajarin dong gimana sih promosinya? ;)


Waktu Papa Belajar Ballet

ini gambar tutu asli, bukan yang jadi-jadian yang dibikin oleh bangaiptopBegini loh, rumah saya tidak besar. Tapi punya jendela kaca yang walaupun tingginya hanya 30 cm tapi panjangnya sekitar dua meter. Dari kaca jendela tanpa tirai dan hanya dibatasi oleh beberapa pot bunga kecil dan kuas untuk melukis, semua sisi rumah saya bisa terlihat dengan baik oleh tetangga-tetangga yang melintasi gang depan. Pada intinya, saya memang tidak punya banyak privasi melalui jendela tersebut.

Beberapa hari lalu, putri saya main-main di depan monitor komputer. Kelihatannya dia terlalu asyik melihat tayangan tari ballet melalui youtube. Tiba-tiba dia turun dari kursi dan lalu ikut-ikutan bergerak-gerak melonjak kesana-kemari loncat-loncat seperti penari ballet. Saya ketawa-ketiwi melihatnya.

Begitu melihat saya tertawa, ia berhenti. Dengan mulut cemberut ia berkata, “Papa. Kenapa kamu tertawa! Kamu tidak lihat saya sedang sibuk? Ayo, kamu juga ikut menari seperti saya”

Hah! Saya bengong mendengar permintaannya. Tapi hanya sejenak. Lalu saya mulai bergerak-gerak disampingnya sambil menari mengikuti tari ballet anak-anak yang kami lihat melalui youtube.

Ia berhenti sejenak. Mulutnya masih tetap cemberut. “Papa! Bukan begitu caranya. Kamu harus benar-benar ikuti gerakan anak-anak itu”

Saya protes, “Tapi papa kan sudah bener bergeraknya, Novi. Papa harus bagaimana lagi?”

Dengan tanpa dosa dia bilang, “Kamu harus pakai pakaian seperti mereka papa”

“Tapi papa nggak punya rok sayang. Mereka itu pakai pakaian khusus untuk ballet. Namanya tutu. Papa nggak punya itu”

“Umur papa kan sudah empat tahun. Umur saya tiga tahun. Papa lebih tua daripada saya, papa harus cari cara dong!” katanya sambil melihat muka saya seakan seperti menuntut.

Eh buset bocah. Emang bapaknya siapa kok yaa minta-minta saya punya seragam penari ballet.

Tapi yaah demi anak perempuan semata wayang. Saya rela-relakan akhirnya ke gudang. Cari koran bekas. Dirangkai. Digunting. Lalu saya jadikan rok mini rumbai-rumbai demi menyenangkan si buah hati. Setelah itu saya balik lagi ke ruang tengah. Ke depan monitor, “Nah Novi, papa sudah punya tutu nih sekarang. Jadi, kita bisa menari sama-sama sekarang?”

“Yaa nggak dong papa. Kamu nggak boleh pakai baju dan celana itu”

“Lah terus papa pakai apa dong?!”

Dengan cueknya ia buka baju dan celana dan hanya menyisakan popok dan celana dalam saja. “Begini papa. Kalau mau menari ballet, nggak boleh pakai baju dan celana sembarangan”

Hah! Sekali lagi saya terbengong-bengong. Edan, masa iya saya harus hanya pakai celana dalam diliputi rok mini rumbai-rumbai dari koran bekas. Tapi sekali lagi, akibat tatapan mata Novi Kirana yang sedemikian mengiba, ya sudah saya turuti permintaannya.

“Papa, kamu kok nggak pakai popok sih? Pakai popok dong biar sama dengan saya. Nanti kalau lagi ballet kamu mau kencing bagaimana?”

“Yaelah Novi, papa kan sudah lebih besar daripada kamu. Papa nggak usah pakai popok lagi dong. Papa ke WC saja”

Jadi, saat itu di ruang tengah rumah saya, terlihatlah sepasang bapak dan anaknya sedang menari ballet hanya pakai celana dalam saja. Dan seketika itu pula, kami langsung beraksi meniru para penari ballet cilik yang ada di youtube.

Tanpa saya sadari, akibat musik ballet yang mungkin terlalu keras ternyata banyak kepala bermunculan dari balik jendela rumah saya. Buset, ternyata tetangga sedang melihat saya dan putri menari-nari mengikuti musik. Jadi, saya yakin dihadapan mereka terlihat anak kecil berusia tiga tahun dengan seorang laki-laki berambut awut-awutan berperut buncit yang hanya mengenakan celana dalam diliputi rok mini kertas koran rumbai-rumbai sedang pura-pura jadi penari ballet cilik.

Karena pemandangannya cukup ajaib, saya sambil cengar-cengir hanya melambaikan tangan ke arah mereka sambil berkata, “Halo. Hehehe….”

Mereka melambai balik. Dengan senyum yang terlihat dipaksakan. Dengan tatapan mata yang sukar dijelaskan dengan kata-kata.

Tidak lama setelah tetangga bubar akibat tayangan musik ballet habis dan putri saya sudah mengalihkan perhatian bermain balok-balok kayu menyusun rumah-rumahan, saya pun kembali ke ‘seragam normal’. Celana jeans dan t-shirt.

Begitu selesai berpakaian ada telpon masuk. Rupanya dari seorang sahabat. Dari suara telpon terdengar kalau ia panik.

“Bangaip… Gua stress nih”

“Lah kenapa? Santai aja. Gua kan satu-satunya temen lo yang punya nama belakang Top dengan tambahan Deh. Hehehe… Masa sih ada masalah yang ga bisa diselesaikan?”

“Adek gua bang.. Aduh masalah banget deh tuh anak”

“Kenapa ama adek lo?”

“Adek gua, aduuh stress banget gua nih. Masa foto-fotonya kesebar di internet. Udah gitu diperes pula. Aduuh gua stress nih, emak gua aja ampe stress… Aduuh pusiing!”

Dari telpon, saya minta ia duduk dan lalu minum air segelas. Ambil nafas, lalu baru mulai bicara. Kalau tidak, susah mendengar ia bilang apa. Untung saja ia menurut. Maka beberapa menit kemudian akhirnya ia bicara dengan lebih runut dan tidak lagi terengah-engah.

Saya dengar ceritanya dengan seksama. Rupa-rupanya si adik kangen dengan suaminya yang ada di luar negeri. Mereka bercinta melalui internet. Si adik, mengirimkan beberapa foto kategori panas dan video-video syur ke alamat email suaminya. Rencananya, materi tersebut tentu saja berguna sebagai pengobat rindu sang suami. Bagaimana menggunakannya, tentu saja tidak perlu saya ceritakan di sini. Yang perlu saya ceritakan adalah bahwa alamat email si suami rupanya dimasuki orang nakal. Entah alasannya apa, akhirnya foto-foto si istri tersebar luas di internet. Yang paling parah, sekarang malah ada oknum yang mengancam untuk meminta uang segala. Tidak tanggung-tanggung, kalau tidak diberi 20 juta rupiah maka foto-foto dan video si istri yang sekaligus dosen ini akan disebarkan ke sekolah dan mahasiswanya.

20 juta rupiah walaupun bisa dibayar oleh sang suami, tentu saja bukan sejumlah uang yang sedikit. Maka sore itu, kakak iparnya yang sekaligus sahabat saya menelpon dengan suara bergetar akibat sedih, marah dan kecewa yang bercampur jadi satu.

“Bang, gimana kalo foto-foto ama video adek gua kesebar dikampusnya?”

“Adek lo kan korban, Wi. Dia kan cuman kangen ama suaminya dan suaminya kangen ama dia. Jadi kalo ada orang yang memanfaatkan itu buat kepentingan pribadi, yaa jelas bukan salah adek lo”

“Kalo sesial-sialnya mahasiswa dia dapet tuh foto gimana ceritanya? Adek gua nanti jadi bahan coli dong? Apalagi amit-amit deh kalo adek gua ditangkep polisi”

“Saran gua sih jujur aja ama sekolah dan civitas akademikanya kalo ada orang yang mau berbuat jahat sama dia. Dan mengakses dan nyebarin materi personal dia, sama aja setuju dengan kejahatan yang terjadi. Adek lo itu korban kejahatan. Bukan pelaku”

“Tapi Bang lo tau ga Ariel Peterpan itu kena kasus UU pornografi? Dia kan sama kayak gini kasusnya. Emangnya dia niat nyebarin videonya. Kok bukan yang nyebarin yang dihukum malah si Arielnya yang dihukum?”

“Buat gua, itu nggak adil. Tapi gua pribadi sih nggak begitu ngikutin kasus Ariel jadi nggak bisa komentar banyak. Buat gua saat ini yang penting adek lo. Yang jahat dalam kasus ini kan orang yang nge-hack account email adek ipar lo. Yang jahat kan yang meras duit dan ngancem mau nyebarin foto-foto telanjang adek lo. Nah kalo mahasiswa adek lo apalagi rekan sesama dosen ikutan download tuh foto, apalagi ikutan nyebarin. Mereka bukan lagi ngaco secara etika. Tapi juga ikut nyebarin kejahatan dan sama-sama melakukan tindak kejahatan. Lebih parah lagi, kalo bahkan ikutan menghakimi adek lo secara moral”

“Tapi Bang, orang Indonesia kan biasanya begitu. Nggak tau apa-apa tapi ujung-ujungnya maen hakim sendiri”

“Hell yeah, gini-gini gua orang Indonesia… Jangan generalisasi dong. Hehe”

Wiwik diam. Saya jadi tidak enak. Bisa jadi ia bicara begitu karena memang itulah satu-satunya kenyataan yang ia tahu. Saya pikir saya lebih baik membantunya secara kongkrit daripada bicara dalam tataran filosofis yang sama sekali malah membuat ia jadi tambah pusing.

Saya telpon mamanya Wiwik serta adik iparnya. Menjelaskan langkah yang tidak perlu saya ceritakan disini secara teknis (karena terlalu detil dan amat teknis) untuk memulihkan keadaan yang bikin panik keluarga mereka ini.

Langkah yang saya ambil secara garis besar adalah:

  • Mengambil ulang akun email dan facebook adiknya Wiwik dan mengganti passwordnya secepat mungkin (*Jangan tanya saya gimana caranya, yang jelas sih saya bukan hacker dan semuanya saya lakukan secara legal*)
  • Melakukan investigasi kepada siapa saja email berisi foto-foto dan video telah dikirimkan. Merekam jejak dan mendokumentasikannya sebagai bukti bahwa adik Wiwik dan suaminya sama sekali tidak ikut dalam penyebaran foto dan video mereka kepada publik.
  • Mengirim surat elektronik berisi cerita jujur apa adanya kepada pihak yang telah disebarkan materi dewasa tersebut agar tidak mendistribusikan foto dan video ke khalayak luas.
  • Meminta adik Wiwik untuk tetap sabar dan membuat blog pribadi. Isinya adalah kronologis mengapa foto dan videonya sampai tersebar di publik. Jelaskan kepada publik apa yang ia rasakan dan ia alami sejak akun surat elektronik suaminya dibobol dan mereka diperas.

Tujuan semua langkah-langkahnya sederhana, yaitu melawan balik. Mereka sudah diintimidasi dan mungkin akan disiksa oleh opini publik, satu-satunya jalan yaa jangan diam.

Yang saya kaget sebenarnya bukan dari cerita adiknya Wiwik. Yang membuat saya sedemikian terkejut adalah, belum sampai seminggu sudah empat ‘kasus’ serupa yang saya tangani. Saya sebut kasus pakai tanda kutip sebab saya sama sekali bukan profesional ahli informatika. Apalagi detektif swasta. Yang datang menelpon atau mengirim email minta bantuan juga biasanya teman atau temannya teman. Kalau bisa saya bantu yaa saya bantu. Kalau tidak yaa saya meminta maaf sebab tidak bisa berbuat banyak.

(*Ada yang meminta untuk membongkar akun facebook suaminya sebab ia pikir suaminya kawin lagi. Gara-gara cemburu, facebook jadi korban. Eh buset, saya belum sejago itu untuk bongkar-bongkar rahasia FB orang lain. Hehe. Oh ya, Wiwik itu bukan nama sebenarnya dan kasus di atas adalah contoh kasus yang atas perijinan teman saya boleh dipublikasi di blog ini. Segala peristiwa yang mungkin mirip dan telah terjadi, adalah kebetulan belaka. Sebab semuanya memang hampir mirip seperti ini. Modus paling mendominasi utamanya gara-gara ‘cinta’*)

Sejak makin maraknya sosial media melalui perangkat genggam, saya cermati secara subjektif bahwa makin banyak orang yang mengeluh atau merasa tersiksa akibat foto atau video personal mereka tersebar di publik. Ada yang mengeluh karena tanpa sadar foto personal tanpa seijinnya tersebar kepada publik melalui sosial media (jadi yang bawa hape pun bisa lihat). Ada yang mengeluh karena dulu waktu belum sadar dahsyatnya keganasan internet, buka-bukaan didepan publik (dan sekarang menyesal). Yang pasti, banyak sekali yang mengeluh.

Mudahnya akses internet dan mudahnya menampilkan gambar semau kita dihadapan publik adalah awal. Beberapa yang cerdas, tentu saja hati-hati dalam membuat status dalam sosial media dan menampilkan tayangan apa yang perlu diberitahu ke publik. Bisa jadi mereka lebih paham rimba lalu lintas data internet. Bisa jadi juga karena hanya ingin sekedar bergaya politik pencitraan diri dalam kata lain sok jaga image.

Beberapa yang kurang begitu hati-hati, yaa dengan bahagianya memberikan amunisi pada publik secara detail kehidupan mereka sehari-hari. Bisa jadi karena mereka ingin berbagi. Bisa jadi karena keinginan bawah sadar ingin menampilkan aurat di depan publik.

Yang pasti ujung-ujungnya memang banyak yang mengeluh.

Diantaranya mengeluh ke saya (*Loh, kok saya malah curhat begini. Hehe*). Saya sendiri sih tidak masalah. Sebab saya kan hobi menerima keluhan (*Jangan-jangan saya masochist? Haha*). Tapi kadang-kadang, keluhannya telat. Kasihan, ada bapak yang jual sawah dan kerbau hingga seluruh harta kekayaan untuk mengirim putrinya ganti sekolah dan domisili ke Singapura karena foto digital bercumbu sang anak yang masih kelas tiga SMP itu disebarkan oleh mantan pacarnya yang sakit hati.

Saya bukan moralis. Saya mendukung gerakan jangan telanjang di depan kamera bukan gara-gara ada hubungannya dengan reliji, moral, etik dan bla-bla-bla lainnya. Saya mendukung gerakan itu dengan alasan yang sederhana. Sebab undang-undang digital di RI (mau namanya yang berkaitan dengan pornografi atau intelejen, whatever lah. Sama saja semuanya. Isinya ajaib)  belum sepenuhnya berdiri untuk mendukung korban. Kasus Ariel Peterpan contoh yang sederhana bahwa wilayah pribadi digital informatika WNI masih bisa diusik oleh pemerintah atau WNI lain yang merasa bahwa mereka yang paling benar.

Itu contoh yang sederhana. Mau contoh yang lebih rumit? Sila google DNS Filtering di republik tercinta. Mau lagi yang lebih rumit? Pelajari data digital audit institusi negara. Lagi yang lebih rumit? Masih banyak. Makin teknis, makin menakutkan isinya. Semuanya sama. Ada hak-hak manusia dalam bertukar informasi melalui internet yang dilanggar oleh pemerintahnya. Ada wilayah pribadi yang selalu dilanggar demi rasa ingin tahu orang-orang yang sok tahu atau bahkan untuk institusi yang merasa perlu menyembunyikan pada publik sesuatu.

Saya ingat waktu cerita hal ini, Wiwik menukas cepat. “Bang, bukannya bagus kalo disensor pemerintah. Kan gampang, foto adek gua nggak bakal ditonton mahasiswanya?”

“Wik, kalo orang kebelet mah, apa aja dilakuin. Jangankan mutusin sensor, email orang laen aja bisa dia jebol. Menurut lu lebih bagus mana cara mendidik anak makan sayur. Dipaksa trus dipukul biar makan? Apa dibujuk dengan diberitahu jujur bahwa sayur itu bagus buat dirinya?”

Ia diam. Ia tahu maksud analogi yang saya lontarkan.

Untungnya hari itu selesai dengan penutupan yang baik. Kebetulan si pelaku pembobolan dan pemerasan akhirnya bisa didentifikasi. Bukti berhasil dikumpulkan untuk cukup menyeretnya ke meja pengadilan. Beberapa orang yang telah menerima foto-foto dan video seronok itu dengan sukarela memberikan pernyataan bahwa mereka tidak akan mendistribusikan tindak kejahatan.

Selesai mengobrol dengan Wiwik melalu telepon putri saya duduk di samping sambil melihat dengan tatapan mata serius ke ayahnya. “Papa, kamu tadi ngomong apa sama teman kamu?”

Yaelah, bocah kok yaa mau tahu aja bapaknya ngapain. Tapi dengan santai saya jawab, “Bantu teman Papa, Cintaku. Kasihan dia. Fotonya dicuri orang”

“Papa bantu ambil kembali fotonya teman papa?”

“Iya sayang. Kalau bukan milik kita kan bukan hak kita untuk mengambilnya”

“Papa, ayo kita ambil foto”

“Foto Novi berdua papa? Ayoo…”

“Bukan papa. Foto kamu sendiri saja. Papa jangan pakai baju itu. Itu baju kurang bagus. Papa pakai tutu saja yaa”

Saya melongo. Astaga, masa sih lagi-lagi saya harus pakai celana dalam saja dibalut rok mini kertas koran rumbai-rumbai. Apa kata dunia kalau foto ini jadi digital? Foto bapak-bapak buncit dari pinggiran kota memakai tutu palsu sambil meniru pebalet cilik.

Saya protes, “Novi, kalau foto papa dicuri orang bagaimana? Kasihan dong papa nanti?”

“Kenapa dicuri papa? Kalau ada yang minta, kasih saja”

Saya makin melongo ketika sambil tertawa ia mengangkat kamera dan blitz melahap saya dengan seketika itu juga.