Archive for the 'temennya bangaiptop' Category

Page 2 of 5

Mungkin Saya Terlalu Banyak Menonton Film Star Wars

Sebelum meninggal, pelukis Indonesia Salim pernah berkata pada Kang Adi sahabat saya. “Di, kalau berkarya jangan mengharapkan kaya. Jangan mengharapkan terkenal. Jangan mengharapkan dipuja. Berkarya saja sebab karena ia bagian dari hidup kamu. Kalau memang pada suatu hari karya kamu disukai publik, itu lain lagi ceritanya. Tapi, jadikan hidup kamu dengan berkarya”.

Lalu beberapa malam lalu, Kang Adi kembali mengulang nasihat itu ke saya. Bedanya, kalimat ‘Di’ diganti jadi ‘Rip’. Hehehe.

Kami sebelumnya memang membicarakan Salim. Pelukis asal Nusantara yang bersahabat akrab dengan para bapak bangsa seperti Sjahrir dan Hatta. Yang dikaruniai umur panjang bahkan sempat menginjak usia 100 sebelum akhirnya maut menjemput. Salim yang selalu bangga dengan peci Cap Indonesia yang ia sebut dengan, “Setiap bertemu orang Indonesia aku pakai selalu peci ini”. Salim yang sama yang tetap memakai pecinya bahkan ketika menjadi relawan berangkat perang ke Catalonia sebagai seniman dalam revolusi Spanyol tahun 1936, yang mungkin disana bertemu dengan Hemingway, pujangga Amerika.

“Jadi begitu lah, Rip. Kata Salim berkaryalah karena lu merasa bahwa berkarya itu bagian dari hidup lu. Masak motret cuma kalo mao ikut lomba aja? Nyari apa, nyari nama? Nyari duit? Nyari piala? Sekedar ngebuktiin kalo lu bisa menang? Yaah jangan lah. Ahh tapi aneh juga sih, gua sendiri bilang ama Salim, kan nggak semua seniman kebutuhannya sama. Seniman kan manusia. Kebutuhannya beda-beda”

Obrolan ini memang bermula dari beberapa riset foto yang akan saya lakukan. Sederhananya, saya keceplosan bahwa akan melakukan semacam riset dengan alasan yang kadang susah diterima dengan kebanyakan orang. Setidaknya, jika orang yang dimaksud adalah para ‘temennya bangaiptop’. Alasan saya riset, ternyata uang. Saya mau ikut kompetisi dan berharap menang lalu dapat duit dari sana. Kang Adi tidak melarang, menyayangkan atau melihatnya sebagai dilema moral berkesenian. Tidak. Sama sekali tidak. Ia hanya memberitahu bahwa ada lomba atau tidak, ikut kompetisi atau bukan, saya sebaiknya berkarya. Apapun karyanya.

Saya diam. Tidak bisa bilang apa-apa. Saya pikir Kang Adi benar. Hanya mungkin, prioritas saat ini yang saya miliki memang berbeda.

Tapi omong-omong sial prioritas, saya jadi ingat suatu hari obrolan bersama si Hadi anak juragan tembakau. Malam itu kami bergosip tentang beberapa orang teman. Namanya gosip, yaa makin digosok makin sip. Kebetulan, kami menggosipi si Diki yang dua tahun telah kembali pulang ke pangkuan bumi pertiwi.

Saya: “Di, si Diki gimana kabarnya yaah?”
Hadi: “Wah dia jadi kaya, bang”
Saya: “Bagus dong! Jadi kita bisa ditraktir, hihihi…”
Hadi: “Wah ati-ati bang, dia bergabung sama Dark Force sekarang”

Saya mau senyum. Tapi saya dan Hadi, kami sama-sama orang aneh yang menyukai film fiksi Star Wars. Dark Force adalah kekuatan besar yang dikomandani oleh Anakin Skywalker yang lalu berubah menjadi Darth Vader sebagai kekuatan antagonis dalam film Star Wars. Kekuatan ini, pada intinya hanya punya satu tujuan. Yaitu menguasai alam semesta dan membunuh para ksatria Jedi yang membela umat manusia. Setelah itu, menjadikan manusia dan semua makhluk serta kekayaan alamnya sebagai budak mereka.

Nah, kalau Diki pulang ke republik tercinta lalu bergabung dengan kekuatan hebat seperti Dark Force yang ada dalam budaya mainstream merusak bumi Indonesia, bisa gawat ceritanya.

Sebab Dark Force itu sebutan kami untuk konglomerasi yang mendapatkan banyak kemudahan dan fasilitas dari pemerintah untuk mendayagunakan seluruh sumber daya alam dan manusia yang melingkupi Indonesia hanya demi kesejahteraan konglomerasi dan eksekutif pemegang dividen.

“Di, kita kan cuman ngegosip doang. Kamu jangan serius-serius dong…”

“Yah abang… Kalo si Diki kerja disitu baru setengah tahun sih itu baru gosip, Bang. Dia kan sudah hampir dua tahun kerja di sana. Begitu selesai jadi doktor langsung pindah haluan. Dia kan ngambil kerjaan yang ditawarin ke abang”

Saya tergagap-gagap, “Loh kamu tau darimana ini posisi itu dulu ditawarin ke saya juga?”

“Halah, gosip yaa digosok makin sip. Kabar burung toh bang. Cek aja di twitter. Hihi…”

“Tapi si Diki? Wah masa sih. Si Diki kan idealis banget. Mana mau dia ngerusak hutan? Apalagi Kalimantan. Dia kan bapaknya orang Samarinda. Asli Kalimantan dia itu. Kok gabung sama perusahaan yang kerjanya ngebabat hutan Kalimantan?”

“Terakhir ketemu Diki…”

“Kapan kamu ketemu?” saya sela dengan cepat omongan Hadi. Biasanya kalau ia berbohong, akan gelagapan jawabnya. Saya kenal Hadi.

Tapi sial lancar sekali ia menjawab, “Saya kan baru dari Jakarta, bang. Baru dua minggu lalu. Disana ketemu Diki. Hebat dia bang. Apartemen dikasih kantor, itu juga plus pembantu. Mobil juga dikasih sama supir-supirnya. Wah bang, pembantunya cakep loh. Hebat tuh perusahaan. Bisa ngasih pembantu model gitu ama si Diki. Si Diki kan bujangan bang. Dikasih pembantu muda, seksi dan aduhay begitu ya betah lah dia di rumah. Dia sering kerja dari rumah aja sih. Ke kantor kalo meeting doang. Wah hebat lah tuh anak. Nggak kena stress macet Jakarta. Belum lagi gajinya bang. Kayaknya sih annualnya bisa satu milyar lebih. Posisinya tinggi bang. Nih kartu namanya, baca aja. Tapi bang, males banget ngomongin Diki. Dia sekarang kebuka deh kedoknya sebagai PhD project. Jadi doktor cuman kalo gara-gara ada duitnya. Cuman gara-gara project. Mana mau dia ngebangun negeri? Jangankan peduli masyarakat se indonesia, kampungnya sendiri aja dikhianatin. Lah capek deh ngomongin Diki. Ngomongin pembantunya aja yuuk?”

Saya cengar-cengir menjawabnya.

Saya sama sekali tidak tertarik isu yang akan dibawa Hadi, yaitu semulus apa paha pembantu Diki. Apalagi bagaimana si Diki menghabiskan gajinya. Itu bukan urusan saya. Tapi yang saya ingin tahu adalah, sejauh mana si Diki sudah bergerak dengan keahliannya.

Akibat penasaran. Saya buka-buka arsip lama media yang ada di Indonesia. Mulai dari arsip digital hingga arsip cetak konvensional. Baru sadar sesadar-sadarnya, bahwa sebuah perusahaan yang dulu terkenal dianggap perampok kekayaan rakyat sejak dua tahun ini namanya sama sekali tidak banyak tersebut di media. Sejak Diki masuk sebagai bagian dari mereka. O-ow… Kelihatannya kesaktian Diki dipakai dengan semaksimal mungkin oleh perusahaan tersebut. Sebab hanya ada dua pilihan untuk memaksa orang berhenti membicarakan keburukan kita. Pertama, berhenti berbuat buruk. Kedua, menutupinya dengan semua tipu daya bahkan dengan yang belum pernah tercatat dalam sejarah manusia.

Kata Hadi, kenapa Diki dibayar semahal itu karena ia harus melakukan langkah yang kedua. Tapi toh hidup itu pilihan. Diki sudah memilih jalannya. Maka, konsekuensi adalah hal yang wajar ia terima. Saat ini, konsekuensinya adalah punya mobil mewah dengan supir, pembantu seksi, uang tabungan banyak dan hidup di Jakarta tanpa stress kena macet. Lanjut Hadi, “Asik juga yaah hidup begitu?”

“Apa asiknya sih digosipin ama dua orang manusia yang sudah jelas hidupnya nggak bagus-bagus amat? Hehe…”, kata saya sambil garuk kepala.

“Nah itu maksud saya, Bang. Kita kan secara akademis nggak sehebat Diki. Jangankan begitu, duit kita aja nggak sebanyak duit Diki. Tapi kita kan jauh lebih baik dari dia, kan? Maksud saya, kita aja yang udah sehina ini masih bisa menghina dia, berarti sampai mana taraf kehinaan dia yaah?”

“Wah itu sih kamu… Saya sih nggak ngerasa lebih baik dari siapa-siapa. Hehehe. Saya sih cuma bingung, Di. Kalo Diki direkrut sama mereka. Makin berat dah nasibnya bumi kita. Waduh, orang sepinter dan seberbakat Diki kok yaa harus jadi begitu?”

“Lah terus kalo udah pinter dan berbakat harusnya jadi gimana, Bang?”

Saya melongo. “Yaelah, mana saya tau Di?”

Obrolan berhenti sampai di situ. Hadi pulang lagi ke Indonesia. Ia mampir sebentar ke rumah saya karena memang sedang berbicara di hadapan sebuah forum internasional yang membutuhkan keahliannya. Sejak saat itu, saya tidak pernah lagi mendengar kabar Diki. Satu-satunya teman saya yang cukup akrab dengan Diki yaa Hadi.

Tapi sebagaimanapun jauhnya ia dan kapan kejadiannya, obrolan dengan Hadi malam itu memang sangat jelas masuk ke otak saya.

Intinya, jika seseorang mampu dan berbakat. Apa yang harus ia lakukan?

Balik ke omongan Salim, jawabannya jelas; Harus berkarya. Sebab berkarya itu adalah bagian dari hidup.

Saya pikir, saya jarang berkarya sebagai bagian dari hidup. Biasanya, saya berkarya karena saya gelisah. Gelisah karena deadline kerjaan. Gelisah karena harus mengumpulkan tugas dulu ketika sekolah. Atau gelisah karena butuh sesuatu. Saat ini saya gelisah mau membelikan putri saya mainan baru. Sayang saya belum ada uang. Jadi, saya berkarya, saya memotret, pada intinya memang hanya karena mau memberikan anak saya boneka anjing besar berbulu lembut yang bisa menyalak.

Edan memang, riset macam apa yang saya lakukan jika ujung-ujungnya hanya mau membelikan anak mainan.

Saya tidak idealis? Entahlah. Jawabnya iya atau tidak sama sekali tidak begitu banyak pengaruhnya. Saya sendiri tidak bisa menempelkan cap atau stigma pada diri saya. Sama sebagaimana saya tidak bisa menempelkan cap itu pada jidat Diki.

Mungkin saja Diki punya motif yang sama dengan Anakin Skywalker. Bergabung ke Dark Force lalu menjadi Darth Vader demi menyelamatkan jiwa istri yang amat dicintainya.

Sebab di ujung hari, riset atau tidak, toh saya biar bagaimanapun juga akan mendapatkan boneka anjing besar yang bisa menyalak.

Sebagaimana di ujung hari, perusahaan tempat Diki bekerja semakin berhasil mengaburkan jejak-jejak kejahatan mereka.

*Kelihatannya saya (lagi-lagi) patah hati dengan superioritas mafia hukum RI*


Operasi Payudara

Beberapa hari lalu saya mengobrol dengan putri saya Novi Kirana yang baru saja menginjak usia tiga tahun. Seperti biasa, kalau mengobrol posisi kami memang agak aneh. Sejak ia bayi, kami memang suka mengobrol serius ketika saya sit-up atau push-up. Kalau saya sit-up, ia duduk di atas kaki atau perut saya. Kalau saya push-up, ia duduk di atas punggung saya.

Kali itu, saya sedang melakukan beberapa sit-up. Ia keluar dari tepee, tenda Indian yang saya buat untuknya yang berdiri pas di ruang tengah rumah. Langsung duduk di atas perut saya. Tanpa tedeng aling-aling langsung bertanya, “Papa, kenapa dada kamu kecil?”

Dalam hati saya melengos, ‘Yaelah bocah, udah tau badan bapaknya segini-gini aja. Walopun udah olahraga segimanapun juga emang badan ini yah segini doangan. Pake ditanya-tanya segala’

Dan karena sudah ngos-ngosan saya jawab santai, “Karena papa anak laki-laki, sayang. Anak laki-laki kebanyakan nggak punya dada besar. Kalau anak perempuan punya dada lebih besar daripada anak laki-laki”

Dia buka kausnya. Dia lihat ke arah dadanya sendiri. “Kenapa dada saya sama seperti dada papa?”

Saya jawab, “Karena kamu anak papa, Cintaku”

“Tapi kan saya anak perempuan?”

“Iya, nanti juga kalau sudah besar dada kamu tambah besar”

“Kalau papa besar dada papa juga tambah besar?”

Saya bengong. Buset dah, anak kecil pertanyaannya memang ajaib kok yaa? Saya berhenti sit-up. Tapi matanya kecewa. Maka itu, saya sit-up lagi (*padahal sumpah saya sudah hampir kehabisan nafas. Tapi demi anak, ya sudah lah tambah satu set lagi*).

Sambil terengah-engah saya jawab, “Kalau berat papa tambah dada papa juga tambah besar nanti”

Mulutnya merocos dengan alis berkerut, itu tandanya dia sedang protes. “Tapi saya kan sudah besar! Saya sudah tiga tahun! Saya anak perempuan besar!”

Dengan lembut saya mengusap rambutnya yang makin panjang melewati dahi, “Iya kamu sudah besar. Tapi akan ada saat dimana semua anak perempuan akan lebih besar dadanya. Lebih panjang rambutnya. Lebih besar pinggulnya dan makin mengerti bahwa tubuh mereka berubah”

“Umur saya tiga tahun. Papa lebih besar daripada saya. Dada papa kecil. Umur papa empat tahun?”

Sambil cengar-cengir saya jawab, “Yaa nggak jauh beda lah kita. Papa juga masih muda kok”

Dia ke dapur. Saya bangun dari posisi sit-up sambil melakukan gerakan peregangan istirahat pada pinggul dan tangan. Saya lihat ia buka lemari pendingin mencari minuman es jeruk kesukaannya. Saya kira, obrolan siang itu selesai sudah. Namun dari balik pintu lemari pendingin ia bertanya lagi, “Kenapa dada papa kecil?”

Saya cuma diam, cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala. Itu tandanya, percakapan ini masih akan berlangsung lama. Dan saya harus lebih banyak berolahraga akibatnya.

Saya ikut ke dapur, menyeruput es teh manis. Setelah itu saya ambil nafas sebentar lalu mulai posisi push-up dan bertanya kepadanya agar duduk di atas punggung saya.

Sambil menghisap isi botol es jeruknya dengan sedotan, ia patuh duduk di atas punggung. Dan mulailah saya bercerita.

“Dulu papa minta sama Pak Ali bos papa, supaya papa sekolah lagi. Tapi Pak Ali bilang papa sudah terlalu banyak sekolah. Pak Ali bilang papa harusnya mengajar saja. Papa kecewa”

“Terus kamu marah, papa?”

“Marah sih nggak. Tapi papa sedih. Tapi papa nggak bisa sedih, karena bos papa bilang lebih baik ilmu papa dibagi sama orang jadi papa pikir ia benar. Kalau papa sekolah lagi ilmunya buat papa sendiri saja. Tapi kalau papa mengajar ilmunya kan bisa buat  papa dan buat banyak orang. Jadi papa mengajar deh. Salah satu mahasiswi papa namanya Mel. Kamu kenal Mel? Dulu kan pernah papa kenalkan”

Lalu saya tertawa mendengar jawabannya, “Dulu kan saya masih kecil papa. Kamu jangan mengharapkan saya ingat dengan banyak teman kamu dong?”

Saya semakin terbahak-bahak ketika ia turun dari punggung, mencabut sedotan dari botol es jeruk dan memperlihatkan ke depan mata saya. “Waktu itu pasti saya lebih kecil dari ini!”

Setelah ia naik lagi ke punggung, saya melanjutkan cerita. “Mel itu mamanya Georgie dan Anne. Mereka berdua waktu masih bayi, menyusu pada Mel. Sama seperti kamu juga dulu menyusu pada mama. Cintaku Novi, kalau perempuan menyusui bayi biasanya dadanya tambah besar. Karena ada susu di sana. Sama seperti dada Mel. Tapi sayangnya ketika Georgie dan Anne sudah tidak menyusu lagi, dada Mel masih tetap besar sekali”

Ia diam. Saya juga tidak dengar suara botol es jeruknya. Tanda kalau ia sedang amat mendengar cerita dengan penuh konsentrasi.

“Punggung Mel jadi sakit. Kalau jalan susah. Sebab dadanya besar sekali”

“Kalau begitu, kenapa Georgie dan Anne tidak menyusu saja terus?”

“Sayang, kalau anak sudah besar biasanya mereka berhenti menyusu sama mamanya. Georgie sudah sepuluh tahun, Anne juga sudah delapan tahun. Jadi mereka sudah tidak menyusu lagi sama mamanya”

“Mel sakit?”

“Iya kasihan Mel. Kalau jalan susah. Kalau duduk susah. Karena dadanya terlalu besar. Jadi ia ke dokter. Ke rumah sakit. Dada Mel harus dikecilkan. Jadi waktu di rumah sakit dada Mel dikecilkan”

“Bagaimana dikecilkan dadanya? Diambil susunya untuk rumah sakit?”

Saya tertegun berhenti push-up sebentar. “Wah kalau itu papa juga nggak tahu sayang. Yang pasti beberapa bulan kemudian Mel kembali ke kelas papa. Dan dadanya sudah lebih kecil daripada dulu. Kamu tahu cintaku, ternyata ia sekarang jauh lebih bahagia punya dada kecil ketimbang punya dada besar”

Novi Kirana diam. Saya tahu, logika dalam cerita yang telah saya ceritakan masuk ke dalam benaknya. (*Itu artinya; saya sudah boleh berhenti push-up. Hehe*). Ia lalu turun dari punggung. Saya duduk dihadapannya. Sambil masih memegang botol es jeruk lalu duduk diatas pangkuan saya.

Sambil memangkunya saya bilang, “Anakku sayang, papa cinta kamu. Super cinta kamu. Papa tahu kamu cinta papa. Tapi yang lebih penting lagi, kamu harus mencintai diri kamu sendiri”

Dia berdiri, berbalik lalu memberikan kecupan di hidung saya. Sambil memeluk ia berbisik di kuping saya, “Saya cinta kamu papa. Walaupun dada kamu kecil walaupun dada saya kecil”

Tiba-tiba, saya merasa jadi lelaki berdada kecil yang paling bahagia di muka bumi ini.


Jum and Jack: Empat

Ketika bapak saya meninggal dan kami menguburkannya di Kalibata, pulangnya saya ke Cilincing bersama Jumari, Dayat dan Piter. Dari Kalibata, kami naik angkutan kota bernama mikrolet M-16 dulu ke Terminal Kampung Melayu sebelum lanjut lagi ke Terminal Tanjung Priok. Jadi, di mikrolet saya duduk di pojok bersama tiga manusia ini. Hampir semua orang Cilincing yang saya kenal berdarah panas. Tapi Dayat dan Piter ini sudah terkenal sebagai manusia yang darahnya lebih panas ketimbang semua orang Cilincing yang saya kenal.

Pada intinya, di jalan kami ini semuanya benar-benar rusuh. Seakan lupa baru saja bersentuhan dengan mayat, tubuh dengan jiwa yang tidak ada lagi di dunia ini. Saya malas menceritakan apa yang terjadi di jalan pada saat itu, yang pasti semua penumpang kelihatannya merasa enggan duduk bersama kami dan lalu turun secepatnya. Tapi yang bisa saya ceritakan adalah ketika mikrolet kami berhenti menunggu lampu hijau, di sebelah ada bus yang isinya anak STM (Sekolah Menengah Teknik) Jakarta yang terkenal suka berkelahi. Piter dan Dayat melotot ke arah bus itu sambil mengacungkan jari tengah berteriak, “Woy anjing! Sini lu semua turun! Dasar banci!”. Ini artinya sederhana; tantangan.

Melihat satu bus kota besar PATAS yang kelihatannya berisi anak STM semua yang beberapa diantaranya memegang senjata tajam, darah saya berdesir. Saya baru saja mengubur Bapak. Masa sih setelahnya Ibu harus mengubur saya?

Sumpah mati, saya takut. Kami empat orang. Di mikrolet, mobil kecil yang semestinya hanya berkapasitas paling banyak 8 orang. Sementara, melihat puluhan anak-anak STM itu, saya pikir mereka akan dengan amat mudah menyegel mobil lalu membakar kami hidup-hidup. Jaman itu, perkelahian antar anak sekolah di Jakarta memang mengerikan. Dan apa yang saya bayangkan tentang maut kami, kemungkinan besar akan terlaksanakan.

Saya lihat Dayat dan Piter. Matanya ganas memang seperti sudah siap perang. Entah gara-gara kenapa, mungkin masih menyimpan dendam. Saya lihat Jumari, dia tenang-tenang saja. Sambil garuk-garuk kuping dia senyam-senyum seakan tidak ada apa-apa. Saya kaget, “Jum, lu kenapa ketawa?”

Dia tambah lebar senyumnya, “Lu tau ga Jack? Tuh anak-anak STM ga ada yang bakalan turun”

Saya tambah kaget. Tapi sebelum saya tanya lebih lanjut, Jum seakan sudah menebak karena menjawab, “karena kita pake peci”

Saya tidak tahu apa hubungannya antara peci, sebuah songkok yang ada di kepala dengan perkelahian massal yang gagal karena massa lawan melihat kami berkopiah. Yang pasti memang benar-benar tidak terjadi apa-apa siang itu. Para anak-anak STM terbengong-bengong melihat mikrolet kami para pemakai peci yang melaju tanpa berbuat apa-apa.

Begitu sampai di Cilincing setelah hari yang meletihkan dari Kalibata, saya mengalihkan topik. “Jum, kenapa bapak gua meninggal yah? Adek gua si Uul pan masih bayi. Jum, kenapa tuhan nggak adil. Bapak gua pan orang baek. Kok dicabut buru-buru?”

Jumari tersenyum sambil berkata, “Bapak lu udah dapet jalannya. Lu santai aja Jack. Sekarang yaah elu yang kudu jalan. Maka itu, sekarang cari jalan lu, Jack”.

Sejak saat, dari dulu ketika ada sahabat atau keluarga yang meninggal, saya selalu ingat perkataan Jumari yang selalu bilang, “Jack, lo udah jangan mikirin yang meninggal. Doi mah asik di sono. Santai aja. Pikirin tuh yang masih hidup. Yang ditinggalin. Cukupin idup mereka. Jangan sampe mereka blangsak idupnya”

Sampai saat ini, saya masih belum mengerti maksud Jumari. Apa dia maksud, kalau orang-orang yang berkopiah menantang publik maka publik akan diam saja? Apa yang dia maksud dengan ada jalan setelah kematian? Memangnya dia sudah pernah ke sana terus balik lagi ke sini? Entahlah?

Bahkan hingga akhirnya kami berpisah dan jarang bertemu, saya masih tidak mengerti dia bermaksud apa.

Yang saya bilang jarang bertemu memang secara literal benar-benar jarang bertemu. Saya tinggal di sebuah dunia yang sungguh jauh dari laut Cilincing tercinta. Jumari masih ada di sana. Dengan idealisme mencerdaskan anak bangsa. Dengan murid-muridnya yang banyak luar biasa. Dengan keluarga yang amat ia cintai. Dengan kail dan sampannya yang selalu setia dalam meluangkan waktu bersama.

Untung kemudahan teknologi semakin memurahkan internet. Hingga akhirnya Cilincing tersentuh keajaiban penemuan manusia bernama surat elektronik.

Ketika kami akhirnya benar-benar tidak bisa bertemu karena waktu, suatu hari dia kirim email. “Jack, gua ngerasa berdosa banget. Tapi pagi si Ravi nggak mau ngaji. Emosi gua. Tangan gua maen, Jack. Astagfirullah. Gua nggak konsentrasi nih ngajar. Mau nangis terus gua Jack. Nyesel banget gua nampar tuh anak. Bisa ketemu nanti malem Jack?”

Saya merasa sedih. Sungguh sedih sekali. Ia sahabat saya. Orang yang selalu melindungi ketika saya lapar atau marah. Orang yang sering berani mendukung atau malah menantang semua ide-ide gila yang selalu saya lontarkan. Saya sahabatnya, yang saat itu ada di belahan dunia lain. Tak mampu bilang apa-apa ketika orang yang saya cintai tengah sedih dan kecewa pada dirinya sendiri. Tanpa sengaja ia menyakiti putranya, orang yang amat ia cintai. Sebuah dosa yang dianggapnya tak berampun.

Dan saya hanya bisa menjawab melalui surat elektronik, “Jum, gua udah balik men. Malam ini gua nginep di KL. Besok berangkat lagi balik. Sori men kita nggak bisa ketemu”. Sambil menambahkan, “Minta maaf aja ama Ravi. Bilang sama dia lo cinta dia dan lo ga bakalan ngulangin lagi kayak gitu. Lo bapak yang hebat man. Tapi lo juga manusia. Kita semua toh pernah salah. Sebagai bapak yang hebat, lo pasti ngajarin anak lo bagaimana cara meminta maaf supaya suatu saat dia juga bisa jadi jentelmen sejati kayak lo, men”

Beberapa hari kemudian kami jarang bertemu sua lagi melalui dunia maya. Saya sibuk. Ia juga sibuk. Hingga akhirnya datang sebuah surat pendek yang isinya berbunyi, “Sekarang gua tau kenapa lo ada di luar Cilincing”

Saya yang penasaran bertanya balik kenapa. Tapi ia tidak pernah menjawab. Sama dengan lontarannya soal kopiah.

Hingga suatu malam beberapa minggu lalu saya baru keluar dari concertgebouw untuk melihat pertunjukan gitar klasik Izhar Elias yang diiringi dirigen dari London Philharmonic Orchestra (*dapat tiket hadiah ulang tahun dari teman-teman saya*). Begitu menyalakan kembali telepon genggam, masuk pesan dari Rojak, adiknya Jumari mengirim SMS. Bulan begitu bulat malam itu. Katanya, terbulat dan tercantik yang pernah ada setiap 18 tahun sekali. Begitu romantis diiringi flute dan biola orkes kamar. Namun keindahannya tak seberapa melihat SMS Rojak yang amat membuat dada sesak. “Minta doanya. Jumari koma. Udah sebulan. Hari ini paling kritis”.

Malam itu saya coba telpon ke Jakarta. Susah sekali. Saya pikir perbedaan waktu atau kalau tidak, masalah koneksi. Yang pasti, saya sungguh galau. Sahabat saya terbaring di rumah sakit. Ada apa?

Dalam galau saya jatuh tertidur, ketika bangun ada SMS lagi dari Rojak, “Innalillahi, Jumari pergi”

Saya jalan ke dapur dengan gontai. Cari tempat duduk. Susah sekali. Lemas. Tidak kuat menghadapi berita ini. Akhirnya saya duduk di lantai. Menatap layar telepon genggam seakan tidak percaya. Sahabat sekaligus musuh dalam diskusi-diskusi saya. Guru idola. Masih muda. Teman mancing setia. Nelayan tangguh tak terkira. Kini berlayar untuk selama-lamanya.

Saya gemetar ketika membuka dan membaca surat elektronik dari adik-adik saya. Yang juga mengabarkan berita duka. Seluruh anggota keluarga saya adalah sahabat Jumari. Mereka pula kehilangan.

Saya semakin gemetar ketika membuka laman-laman facebook Jumari. Ratusan murid-murid dan rekan kerja bergantian memberi salam perjalanan terakhirnya. Sahabat saya ini, ternyata pula dicintai banyak orang. Ia orang baik. Dan manusia, selalu menyukai orang baik.

Dulu dalam sebuah komentar di blog saya, ia meminta agar saya menuliskan kisah hidupnya. Tepatnya, hidup kami. Karena sibuk, itu selalu tertunda. Saya tidak tahu apa yang harus saya tuliskan. Saya tidak punya begitu banyak waktu memberikan testimoni betapa senangnya saya sebagai sahabatnya. Saya tidak bisa merangkaikan 140 karakter huruf untuk menyatakan betapa saya mencintainya. Saya tidak bisa bilang pada publik betapa luar biasanya Jumari.

Kini ironis. Setelah ia pergi, justru saya bisa membuat empat tulisan berseri hanya sebagai dedikasi saya untuknya. Entah doa saya sampai atau tidak, saya harap di surga sana ia diberi cara agar bisa mengetahui betapa saya bangga pernah jadi sahabatnya.

(*Foto milik Jum saat masih sehat dan jadi guru di SMK 36 Jakarta. Diambil dari laman facebooknya. Tertulis dua tahun lalu dan ia kelihatan masih amat segar bugar. Caption yang ia tulis, “superman pulang kampung, berganti orang kampung…… saya orangnya toleran, saya menghormati yang pake kaca mata dan yang tidak……… hehe36“. Ia selalu suka tertawa dan saya selalu amat tergila-gila dengan gurauannya*)

Selamat jalan, Jum. Selamat jalan sahabat. Salam dari ‘Jack’.


Jum and Jack: Tiga

Nasib memisahkan kami berdua. Saya pergi semakin jauh dan terus menjauh dari Cilincing. Mengunjungi semua pelosok yang ada di muka bumi seperti yang pernah saya cita-citakan sebelumnya. Jumari terus bergulat dengan keseharian Cilincing. Dengan orang-orang Cilincing. Dengan tanah, laut dan udara Cilincing yang panas.

Kami mencintai Cilincing dengan cara yang berbeda. Buat dia, menjadi guru dan mengamalkan ilmu di Cilincing adalah pencapaian tertinggi yang bisa dicapai manusia. Setidaknya, jika manusia yang dia maksud adalah kami setongkrongannya. Dan ia pun lalu jadi guru. Sesuai dengan idealismenya.

Buat saya, mencintai Cilincing adalah menyebarkan sebanyak-banyaknya pada dunia. Bahwa resistansi masih ada. Bahwa kami, manusia yang disisihkan secara terstruktur baik dari segi ekonomi, budaya, strata sosial dan macam-macam lainnya, masih bisa melawan.

Dan akhirnya ketika sama-sama beranjak dewasa, kami sepakat untuk tidak saling sepakat. Yang kami tahu cuma satu, kami sama-sama mencintai air, tanah dan udara bumi kelahiran.

Lalu di pagi itu, kami bertemu kembali. Setelah sekian lama hingga entah berapa purnama.

Sembil menggendong bocah berusia tiga tahun ia memeluk saya, “Gua senang lu pulang kampung, Jack. Kenalin nih jagoan gua pertama, Ravi”

“Gua juga seneng pulang kampung ketemu lu ama keluarga lo. Apakabar Ugi, sehat?”

“Lagi hamil lagi anak kedua kami. Insya Allah deh, lancar-lancar aja”

“Amiinn…”

Ibu masuk ke ruang tamu membawa teh manis dan kua nastar. Hari itu masih dalam suasana lebaran. Jumari tiba-tiba sambil ketawa lebar bicara, “Bu, saya seneng banget nih ngeliat dia. Wah sumpah mati. Dulu mah siapa sih yang nyangka dia bakalan jadi begini. Pasti nggak ada! Hidupnya nih anak pan blangsak banget. Bangga saya bu anak Ibu jadi begini”

Ibu mulutnya merucut, “Jangan dibilangin gitu di depan dia, Jum. Nanti idungnya yang gede jadi tambah megar”

“Hehe, biar aja Bu. Kasian nih anak, dari dulu kita hina-hina terus. Sekali-kali lah, mumpung lebaran, kita angkat sedikit. Biar kita masuk sorga”

Saya tertawa mendengar canda mereka, “Muji aja pake ngitung segala. Haha”

Jumari mendudukkan Ravi di sampingnya, “Anak sekarang, Jack. Nggak kayak jaman kita dulu”

Lagi-lagi saya ketawa, “Jum, lo ati-ati ah men kalo ngomong mulai pake kalimat ‘anak sekarang’. Itu tandanya lu udah mau uzur, men. Hahaha. Yaa anak sekarang beda ama jaman kita. Teknologinya beda, budayanya beda, maka outputnya juga beda”

“Bukan itu maksud gua, Jack. Kalo itu mah gua juga tau. Maksud gua gini. Lu tau lah kita bukan orang kaya. Orangtua kita juga mah kan idup seadanya. Tapi kita sih pan dulu mao kaya. Trus usaha. Anak sekarang gawat, Jack. Kalo masalah miskin, semua orang Cilincing miskinnya sih masih sama ama dulu. Lebih miskin malah. Tapi anak sekarang ini, udah susah banget begeraknya”

Jumari cerita tentang pembangunan pelabuhan peti kemas Cilincing baru yang menghancurkan rumah-rumah warga. Sebab rumah warga miskin katanya tidak layak huni. Bikin rusak kesehatan. Tapi kalau memang tidak menyehatkan, kok digusur? Bukannya disehatkan?

Jumari cerita tentang laut Cilincing yang semakin hari semakin ditimbun minyak buangan bekas solar nelayan miskin yang rendah pendidikannya dan bahkan tidak menyadari persoalan lingkungan.

Jumari cerita tentang anak-anak perempuan yang kami ketahui dulu masih bau kencur kini jadi pelacur-pelacur desa yang datang ke perbatasan Cilincing sejak beberapa raksasa multinasional ternyata menemukan fakta bahwa ada cadangan minyak di sana serta mendirikan semacam kilang.

Jumari cerita tentang bahwa kini sudah tidak ada lagi kambing dan sapi berkeliaran di jalan raya. Sebab lahan beternak sudah habis. Danau digusur. Hutan bakau menghilang. Banjir menghadang. Dimana-mana raja-raja kecil baru bermunculan minta upeti. Selalu saja ada ikan yang lebih besar. Dan dalam rantai makanan, warga kecil miskin lemah lah yang selalu jadi korban. “Kita tumbangin satu Soeharto besar, kini muncul lebih dari seribu Soeharto-soeharto kecil”, katanya lesu sambil mengusap kepala Ravi.

Ia mengajak duduk di teras rumah sambil berkata lagi, “Dulu kalo ngerampok, ditangkep aparat. Sekarang, aparat yang ngerampok. Siapa yang nangkep kalo duit rampokan dibagi rata antar para perampok yang ternyata punya kuasa?”

Saya tidak bisa membantahnya. Saya ingat beberapa hari yang lalu ketika beberapa orang teman kerja dari Italia yang pernah mengunjungi Jakarta bertanya keheranan, “Mengapa Jakarta dengan penduduk luar biasa banyak, tapi angka kriminalitas rendah dibanding kota megapolitan dunia lainnya?”. Saya jawab lesu, “Sebab semua preman nya saling bagi jatah wilayah rampokan dan hasilnya. Mulai dari gerombolan fasis berjubah relijius, gang anak kampung bekas wilayah jajahan RI yang dibeking oknum militer atau polisi, bahkan hingga bos-bos aparat itu sendiri. Semuanya bagi-bagi jatah. Jadi yaa di jalanan kriminalitas rendah. Tapi dibalik itu, pencurian uang dan fasilitas rakyat amat tinggi”.

Iya, saya tidak bisa membantah Jumari. Anak Cilincing, sesial-sialnya terpaksa jadi rampok. Paling jadi rampok ojek. Hina banget itu. Jadi rampok kok ngerampoknya ke orang susah? Tapi ngapain juga ngerampok ojek kalau kredit motor sudah sedemikian mudahnya? Dulu orang beli motor tadahan, gara-gara murah. Di bawah harga standar. Sekarang, beli motor curian, resikonya tinggi. Polisi semakin hari semakin canggih. Belum lagi kepercayaan lokal yang menganggap beli motor maling bisa bikin sial.

Saya sedih. Tidak tahu harus bilang apa lagi.

Di luar rumah Ibu, anak-anak yang dulu saya tinggal masih SD dan ceria sekali bermain bola, kini beranjak dewasa. Duduk luntang-lantung  di Poskamling yang sudah sedemikian tidak terawatnya. Tampak menatap nanar orang-orang yang lalu lalang di jalan raya. Hari itu siang. Mereka tidak sekolah tidak pula bekerja.

Menurut rumor lokal, hanya si miskin yang luar biasa cerdas kini bisa lanjut ke perguruan tinggi untuk dapat beasiswa. Bagi yang otaknya rata-rata, sekolah itu mimpi. Bagi yang otaknya rata-rata, kecil sekali kemungkinan untuk maju. Anak Cilincing, sama seperti anak-anak Indonesia lainnya. Ditambah gizi buruk dan lingkungan kumuh, belum tentu otaknya jadi rata-rata. Ahhh…

Ia gendong lagi Ravi sambil terus berkata, “Lo liat tuh Jack. Bentar lagi malem, tuh anak -anak yang nongkrong di Poskamling juga paling mabok, maen gitar, terus bacok-bacokan. Paling-paling ngebacok temennya atau orang lewat. Marah ama idup tapi nggak tau mau marah ke siapa”

Sejak saat itu, setiap melihat ada anak muda yang berwajah letih nongkrong di pinggir jalan menatap nanar hingar bingar manusia dan seakan tidak tahu harus berbuat apa-apa, saya selalu merasa tidak bangga pada diri saya. Entah kenapa.

Tapi, mereka selalu mengingatkan saya pada Jumari.


Jum and Jack: Dua

Lama tidak pulang ke Cilincing.

Saya akhirnya kembali lagi ke Jakarta. Badan kurus, hitam dan rambut gimbal bau air laut. Hubungan saya dengan Ibu sudah jauh lebih baik. Saya kembali ke Jakarta untuk kembali memulai sekolah baru, namun sebelumnya mengunjungi rumah Ibu. Di sana, seperti biasa bertemu teman-teman kecil lainnya. Diantaranya Jumari yang sudah berubah. Badannya kini besar dan kekar. Rambutnya cepak model tentara. Hampir lulus kuliah.

Kami duduk-duduk di teras rumah Ibu ketika Jumari memegang lengan saya sambil tertawa, “Lu pitnes dong, Jack”

“Capek Jum”

“Yaelah, si Kisut aja pitnes”

Saya menoleh ke arah Kisut yang berbadan kurus kering sedang makan kedondong, “Serius lo pitnes, Sut?”

“”Ho oh” katanya mengangguk sambil membuang biji kedondong ke taman Ibu. Ibu yang kebetulan ada di pintu masuk matanya mendelik. Kisut pelan-pelan sambil cengar-cengir memungut biji kedondong dan lalu memasukkannya ke tempat sampah. Takut pada mata Ibu.

Jumari menatap saya lagi, “Adek lu aja si Gugun kadang-kadang ikutan gua pitnes”

Saya sebal, ini kok tiba-tiba baru pulang ke rumah Ibu sudah dituntut untuk fitness. Saya tahu, teman-teman saya ini dipengaruhi Ibu agar saya menggemukkan badan. Ibu sedih melihat anaknya kelihatan kurus kering.

Saya pakai trik falacy, “Aah Odoy ama Rojak aja nggak pitnes, ngapain gua pitnes”

Jumari ketawa, “Rojak mah masih jogging tiap pagi gara-gara nganterin koran. Sehat dia. Nah kalo Odoy, lo suruh dia pitnes? Makin pendek dia nanti!”

Semua yang ada di rumah Ibu saya tertawa terbahak-bahak. Odoy yang ukuran tubuhnya normal bagi kebanyakan orang Indonesia namun paling pendek diantara kami sebenarnya mau protes, tapi hanya mulutnya yang megap-megap tanpa suara, kepedasan akibat kebanyakan makan asinan kedondong.

Malamnya saya ke rumah Jumari. Saya ajak dia ke asrama TNI-AL Dewa Ruci. “Jum gua lagi ada masalah nih. Ikut gua yuk…”

Jumari garuk-garuk kepala, “Wah lu mah parah Jack. Masa baru sampe Jakarta udah mau ribut ama marinir? Lu pan tau marinir Cilincing itu badannya segede gorila. Temennya juga banyak Jack. Lo nantangin marinir di perumahan angkatan laut sama aja nantangin gorila sekandang!”

“Pertama, cemen banget luh baru ama marinir aja takut. Kedua, kita ga nantangin marinir tapi gua mao bales dendam sama abangnya Sinta. Lu masih inget ga, Sinta, cewek gua pas jaman SMA dulu. Ngepet, masa sih dulu gua ama Sinta digebugin abangnya. Ketiga, biar lu tenang, abangnya Sinta itu bukan marinir”

Jumari menatap saya dengan mata menyipit. Kelihatannya dia tidak percaya. Tapi dari pintu depan Yono masuk. Yono itu kakaknya Jumari. Sebenarnya mau juga sih saya mengajak Yono untuk membantu membalas dendam. Yono ini atlet Pelatnas. Badannya lebih besar daripada gorila. Tapi Yono ini orangnya kalem. Setahu saya, walaupun badan besar tapi dia tidak pernah berkelahi. Buat saya mubazir. Sayang banget. Tapi buat Yono, kelihatannya saya tipikal manusia yang tidak tahu diri. Sudah kecil tapi petantang-petenteng sok kuat. Hahaha.

Jumari malam itu malas diskusi dengan Yono. Jadi ia setuju ikut saya ke Dewa Ruci. Kami boncengan naik sepeda yang saya pinjam dari Odoy. Jumari duduk di depan mengayuh. Saya di belakang membonceng. Janjinya, nanti kalau capek gantian. Tapi belum setengah jalan, saya sudah minta ganti. Saya tidak mau dong Jumari jadi lemas kecapekan mengayuh sepeda. Dia kan yang akan jadi jagoan saya untuk melawan abangnya Sinta. Staminanya harus dijaga.

Di jalan kami mengobrol sambil menatap nafsu ke arah warung-warung pecel lele dan warung bakso yang bertebaran di pinggir jalan. Sebenarnya saya sudah tidak tahan tergoda untuk berhenti dan jajan makanan dulu. Melupakan misi balas dendam. Tapi Jumari mengkonfirmasi, “Gua ga punya duit. Lu juga ga punya duit. Masa sih abis makan enak kita dimaki-maki warga kampung sini gara-gara makan nggak bayar? Nggak lah Jack”

Mulut saya manyun. Tapi untunglah tidak lama kemudian sampai ke rumah Sinta.

Wah Sinta kaget sekali melihat saya. Sudah tiga tahun kami tidak bertemu. Dia sudah hampir lulus Akademi Perawat. Sebentar lagi akan ditempatkan di sebuah rumah sakit angkatan laut di luar kota. Dulu, waktu kami masih pacaran dia ini baik banget. Nah sekarang, kelihatannya saya mau mencoba lagi trik lama. Yaitu dengan dibumbui bujuk rayu kalimat manis gombalisasi, meminta dua mangkok bakso untuk saya dan Jumari.

Sialnya, Sinta bukanlah Sinta yang dulu. Wah marah sekali dia melihat saya muncul lagi di depan pintu rumahnya, “Eh gila luh masih berani muncul di rumah gua. Udah pergi tiga tahun nggak ada kabar. Sekarang mao main ke sini lagi. Ada apa? Jangan lama-lama yaah…”

Saya bengong. “Sin. Kamu kok gitu banget sih. Aa’ sibuk, Sin. Terbang mengejar ilmu. Mengejar cita-cita. Tapi percayalah Sin, setinggi-tingginya Aa mengepakkan sayap, kalo hinggap pasti ga jauh dari hati kamu”

Belum selesai bicara saya dengar ada orang ketawa di depan halaman rumahnya Sinta. Kampret, ternyata si Jumari. Nguping rupanya. Mencuri dengar semua rayuan gombal. Lalu sambil terbahak-bahak dia teriak, “Kalo mao minta bakso mah jujur aja, Rip”

Mata Sinta membesar. Kelihatannya dia tambah marah. Bagaimana tidak marah, ketika pacaran ala ABG sedang hot-hotnya e-eh pacarnya malah kabur tak tentu rimbanya.

Saya yang dimarahi, seperti biasa, diam sambil cengar-cengir. Tidak tahu harus bagaimana.

Tiba-tiba pintu gerbang terbuka berderit, suara berat bariton dengan dalam mengucapkan salam. Dengan lutut gemetar saya menjawab “kumsalam”. Nah ini dia gorilanya datang. Bang Jarot. Kakanya Sinta yang paling besar. Rambut cepak. Dengan tinggi hampir dua meter. Berat badan alit hitam sempurna dipenuhi otot. Maklum saja, beliau atlit judo. Sebentar dia berhenti setelah menutup pintu. Lampu neon putih beranda rumah dengan jelas memperlihatkan wajah saya. Dia kaget, “Loh kamu lagi. Kok masih berani datang ke sini?”

Disaat-saat ini lah seharusnya saya berkata lantang sambil menunjuk jari telunjuk ke arah mukanya, “Wahai kampret! Beberapa tahun lalu lu pernah mukulin gua. Sekarang rasakanlah pembalasannya! Darah itu merah jendral! Jumari, ayo gebugin dia!!!”

Sialnya sebelum saya berkata ala drama queen begitu, Bang Jarot menoleh ke arah Jumari, “Loh, kamu Jum kok ada di sini. Saya baru saja pulang dari latihan bareng Yono tadi. Dia pulang duluan, katanya mau makan bareng kamu”. Astaga, ternyata si kampret gorila ini ini satu tempat latihan dan satu team dengan Yono kakaknya Jumari.

Jumari sambil cengar-cengir menjawab, “Nggak Bang, Yono mah kalo makan bareng biasanya sambil nyeramahin. Bosen saya”. Wah wah, saya merengut dalam hati. Ini kesialan ganda. Bodyguard saya ternyata kenal sama si gorila yang seharusnya kami sikat malam itu.

“Oooh kalo gitu kamu belum makan? Ya udah pesen aja makanan tiga porsi di warung sebelah. Beli soto aja, lebih sehat. Jangan bakso. Saya ganti baju dulu sebentar…”

Tidak lama kemudian, Jumari pergi pesan makanan ke warung sebelah. Bang Jarot masuk ke rumah ganti baju. Sementara si Sinta ke dapur ambil segelas air putih untuk saya.

Begitu Jumari kembali, saya sumpah mati terbengong-bengong. “Bang Jarot, udah jadi tuh sotonya”. Bang Jarot menjawab, “Sin buruan, ayo kita makan bareng sama si Jum”. Saya jelas kaget. Loh, apa-apaan ini? Kok nggak ada yang nawarin saya makan?

Jadi begitulah, ternyata Jum, Bang Jarot dan Sinta makan di warung bertiga. Meninggalkan saya sendiri di beranda rumah mereka sambil digigiti nyamuk Cilincing yang menyebalkan ganasnya. Saya jelas patah hati. Semua rencana tinggallah rencana. Bengong, sendirian, ditemani air segelas dan nyamuk sama sekali bukan niat saya datang ke rumah Sinta.

Setengah jam kemudian mereka bertiga keluar dari warung sambil tertawa-tawa. Jumari mengajak saya pulang. Dan saya yang sudah sedemikian bosannya, jelas saja setuju.

Di jalan saya marah-marah, “Temen macem apa lu Jum, waktu temennya digebugin lu diem aja!”

Jumari menjawab kalem sambil cengar-cengir, “Lu digebugin udah lama, Jack. Lu tau ga, Bang Jarot itu malu. Lu kalo pacaran ama Sinta, lu tuh agresip banget. Tuh anak lu sosor-sosor minta cium di teras rumah. Bang Jarot malu ama tetangga. Pak RT udah negor dia gara-gara kelakuan lu. Trus juga lu udah ditegor berkali-kali, tapi lu aja yang ngebet nggak tahu diri. Si Sinta juga udah malu ama tetangga kalo pacaran ama lu di teras rumah mereka. Kalo gua jadi Bang Jarot, kepala lu juga udah gua keplakin ampe pitak”.

Saya diam. Dalam hati berkata ‘Wah ketahuan belang gua’. Sepeda saya genjot pelan-pelan. Melewati jalan raya Cakung Cilincing. Melewati pos penjagaan marinir di tikungan. Melewati jalur KWK 05. Melewati debu-debu malam.

Jumari memecah senyap hati saya di antara deru mobil kontainer raksasa yang berseliweran di jalan, “Jack, nanti kalo pulang jangan langsung pulangin sepeda terus balik ke rumah”

Saya melengos, “Kenapa Jum?”

Saya tahu ia tersenyum ketika menjawab, “Tadi gua bungkusin soto buat lo. Makan dulu Jack…”

Entah kenapa, saya tahu sebungkus soto tidak akan merubah apapun di dunia ini. Tapi malam itu saya merasa bahwa tidak selamanya hidup dan rencana-rencana saya berantakan. Mungkin jika hidup sudah sedemikian jauh ruwet hingga dianggap sebagai jalan setan, setidak-tidaknya masih ada para malaikat yang berwujud kawan.

Sejak saat itu, apabila menikmati soto di malam yang dingin setelah hari yang meletihkan; saya selalu ingat Jumari.


Jum and Jack: Satu

Dia anak paling pintar di kampung kami. Selalu jadi idola saya. Rambutnya ikal, badannya gelap, kurus dan tinggi. Anak kuliahan. Setiap hari pulang pergi ke kampus. menyandang tas ransel berangkat pagi. Kadang pulang sore, kadang pulang malam. Kelihatannya, hidupnya bebas dan bahagia. Saya berharap, suatu hari jadi sepertinya. Dewasa, cerdas, bebas dan bahagia.

Kami berteman akrab. Ibu setiap mengomel selalu membawa-bawa namanya. “Kamu ini nakal banget sih. Nggak mau nurut kata orangtua. Tuh liat si Jumari. Biar kata bapaknya tukang mie ayam, emaknya ibu rumah tangga, tapi liat tuh sekolahnya tinggi. Sekolah guru di IKIP. Kamu udah bapak enggak punya, masih aja belagu. Contoh noh si Jumari!”

Saya selalu melengos lesu kalau Ibu bawa-bawa nama Jumari dalam percakapan kami. Yaelah, masa sih bandingin Jumari ama saya? Dia mah pan anak paling pinter se-Cilincing. Temen-temannya aja, mantep-mantep semua. Dulu di Jakarta ada radio SK (Suara Kejayaan). Saya sering menginap di sana, di studio siaran itu. Sebab yang siaran itu teman-temannya Jumari semua. Banyak yang jadi artis. Gile, si Jumari, walaupun kucel dari Cilincing, tapi kok bisa bergaulnya sama artis ibukota. Itu yang selalu ada di benak saya kalau diajak melihat temannya siaran.

Suatu hari yang naas, saya tertangkap basah oleh warga sedang melakukan perbuatan yang tidak semestinya dan lalu diserahkan pada Ibu. Tentu saja Ibu marahnya bukan main. Saya pikir, gelegar suara kemarahannya bisa terdengar di dua puluh rumah tetangga-tetangga sekitarnya. Saya diam saja. Saya tahu saya salah. Saya diam namun bersyukur langsung diserahkan pada Ibu, sehinigga tidak dihakimi massa. Omelan Ibu saat itu seperti biasa, pasti bawa-bawa nama Jumari. Anehnya, saat itu kebetulan Jumari sedang datang ke rumah mau mengajak saya main bola.

“Salamlekum, waah ada apa nih Bu rame banget?”

“Biasa nih bocah. Kaga ngerti adat. Bikin malu orang banyak”

“Ya udah Bu, ntar saya bilangin”

Lengan saya diapit Jumari. Kami lalu ke lapangan sepakbola di seberang sawah yang saat itu belum jadi pabrik industri. Jum menyelamatkan saya dari omelan Ibu yang nampaknya tidak putus-putus itu.

“Lu kenapa, Jack? Ngisengin anak perempuan orang lagi? Mabok terus maling lagi? Apa berantem lagi gara-gara iseng? Ahh lu mah iseng banget sih Jack. Apa lu tumben ngerampok?”  Tanyanya ramah.

Ahh ia selalu ramah. Dan ia, anehnya, selalu memanggil saya dengan sebutan ‘Jack’.

Saya membuang muka sambil menjawab, “Yaah gitulah…” malas menerangkan lebih lanjut.

“Lu digebugin, Jack?”

“Nggak Jum” kata saya sambil menghela nafas. “Untung aja gua nggak digebugin. Capek gua digebugin orang terus Jum. Sampe seminggu kadang susah tidur, ngilu-ngilu”. Kata saya sambil mengerenyitkan muka.

Bulan lalu, saya dipukuli anak muda sekampung di Bekasi Barat. Gara-gara saya teriak-teriak nyanyi-nyanyi di jalanan. Katanya, lagu saya menyinggung mereka. Disuruh diam, saya tidak mau. Saya tantang mereka sekampung. Sebab merasa jagoan akibat pakai jimat kebal peluru (pinjeman dari si Bandi). Hasilnya, saya dikeroyok satu kampung dan memang benar saya tidak kena luka bacokan apalagi tembakan (sebab memang tidak ada dari musuh saya yang bawa pistol). Tapi muka dan badan saya bonyok-bonyok. Hehe.

Dia memberi bola sambil tersenyum, “Jack, lo kalo mao jadi bandit jangan tanggung-tanggung. Jadi bandit yaa bandit yang pinter, Jack. Kalo bego lu digebugin orang terus. Muka lu berantakan terus”

Saya diam. Main bola setelahnya pun tidak konsentrasi.

Dan tidak lama kemudian setelahnya, saya jadi lebih giat belajar. Saya ingat pesan Jumari. Kalau jadi bandit, jangan tanggung-tanggung. Maka itu harus banyak belajar. Dan sejak itu pula saya belajar banyak. Terutama baca-baca buku kriminalitas dan hukum.

Kebanyakan belajar, saya malah lupa jadi bandit.

Walaupun susah payah, saya akhirnya berhasil menamatkan pendidikan Sekolah Menengah Atas. Hari itu, walaupun saya tahu ijasah saya tidak akan mengubah muka dunia ini, tapi entah kenapa senang sekali rasanya.

Waktu saya lulus, saya ingat Jumari.


Siapa Yang Bayar?

pig elephant

Sudah pernah mendengar cerita Anjing Yang Serakah?

Kalau belum, mari saya cerita sedikit. Begini ceritanya;

Suatu masa, hiduplah seekor anjing. Ia terkenal sebagai anjing yang serakah. Kelihatannya, suatu hari ia mencoba untuk insaf dari semua keserakahannya. Di hari itu, perutnya lapar dan tidak ada makanan di rumah. Lalu ia pergi ke jembatan di seberang rumah, melintasinya dan untunglah menemukan tulang terbaik yang pernah ia lihat dalam seminggu terakhir.

Terlintas dalam pikirannya bahwa ia harus segera pulang ke rumah. Bagaimana jika ada anjing lain yang melihatnya membawa tulang sebagus ini? Tidak mungkin. Ia tidak mau berbagi. Jadi dengan segara, dibawanyalah tulang ini digigit dengan gigi-giginya yang kukuh dan tajam melintas jembatan untuk pulang.

Di tengah perjalanan ketika hampir selesai melintasi jembatan, anjing ini menengok ke bawah. Astaga, ia lihat seekor anjing lain yang memiliki tulang sebagus tulangnya. Tapi lebih besar. Lebih lezat dan semua lebih lainnya. Timbul akal jahat diotaknya. Ia akan menakut-nakuti anjing yang ia lihat di bawah itu. Woof! Woof! Teriaknya menakut-nakuti anjing itu.

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Anjing yang ia takuti ternyata adalah pantulannya sendiri di sungai. Ketika ia teriak menakuti untuk mendapatkan tulang lebih banyak, ternyata mulutnya terbuka dan tulang yang ada dalam gigitannya jatuh tercebur di air sungai yang dalam.

Sampai di sini, mengerti apa yang mau disampaikan dalam cerita anjing yang serakah ini?

Kalau masih belum juga, sudah pernah dengar cerita Perjanjian Dengan Iblis?

Cerita ini adalah dongeng lama yang tersebar di tanah Eropa. Terkenal dengan sebutan Faustian Bargain. Asal kata Faustian adalah Faust, seorang sarjana sukses dalam legenda Jerman yang bosan dan serakah lalu mengadakan perjanjian dengan setan. Faust sendiri adalah tokoh nyata. Katanya mereka yang percaya, cerita ini berangkat dari kisah hidupnya.

Banyak sekali varian dari cerita ini. Mulai dari cerita karya Anton Chekov sastrawan Rusia yang menulis dalam novelnya ‘The Bet’, atau pop culture superhero Spider Man yang terbujuk kekuatan hitam kostumnya agar menjadikannya lebih kuat hingga tuduhan tokoh nyata seperti pemain biola terkenal Niccolò Paganini yang tawar menawar dengan iblis dengan taruhan jiwanya agar dijadikan violis terbaik di seluruh Italia Utara (dan juga seluruh dunia).

Yang paling saya sukai dari cerita perjanjian dengan setan adalah; cerita tentang seorang pria bujangan yang jauh dari perempuan yang dicintainya. Yang ia miliki dari gadis tercinta, hanya selembar foto lusuh dalam dompetnya. Gara-gara cinta, lalu mengadakan perjanjian dengan Iblis agar ia bisa menikahi perempuan tersebut. Tentu saja, iblis tetap iblis. Tidak ada yang namanya ‘free lunch’ buat mereka. Si bujangan ia minta memberikan jiwa sebagai imbalan atas pernikahan dengan gadis pujaannya. Si bujangan, secara cerdik mengakali surat perjanjian tersebut. Hingga akhirnya ia tidak usah memberikan jiwanya, namun tetap akan menikahi perempuan yang dicintainya. Dan iblis pun tidak bisa lari dari perjanjian mereka. Ia terpaksa memenuhi permintaan si pemuda. Membawa perempuan dalam foto lusuh dalam dompet menjadi nyata. Namun iblis tetap saja iblis. Ketika tahu bahwa ia tidak dapat membawa jiwa si pemuda, ia menghidupkan gadis dalam ukuran yang setiap hari si pemuda lihat. Sebesar ukuran foto dompet.

Sebelum menghilang iblis berteriak gusar pada si pemuda, “Keserakahan memakan bayaran”.

Beberapa malam lalu, saya baru saja sembuh dari sakit (*Ah iya, saya sakit lagi. Demam berminggu-minggu*). Karena dengar seorang sahabat Yoyo datang ke rumah Kang Adi, maka segeralah saya ke sana. Mau ngobrol. Mau ketawa-tawa. Yoyo dan Kang Adi itu dua-duanya seniman. Lucu. Saya suka nongkrong bersama mereka. Sebab dijamin pasti ketawa-tawa. Dijamin pula, banyak makanan ajaib.

Kami bertukar cerita. Utamanya soal Indonesia. Karena kami semua kebetulan berasal dari Indonesia.

Kalau bicara soal Indonesia, yaa utamanya memang tidak jauh dari Kalimantan dan para politisi praktis.

Kalau Kalimantan, yaa jelas mengenai laju penggundulan hutannya yang luar biasa. Yoyo cerita, hanya ada satu bagian kecil di sebuah propinsi di Kalimantan yang hutannya tidak disikat habis-habisan. Kenapa? Sebab hutan itu dihuni oleh suku yang menjadi konsultan peperangan pasukan elit Indonesia. Lantas kenapa hutan mereka tidak disikat? Sebab berdasarkan surat ijinnya, ternyata koperasi pasukan elit itu lah yang memiliki HPH (*artinya Hak Pengusahaan Hutan. Namun praktek lapangannya adalah Hak Penyalahgunaan Hutan*) tempat suku itu bermukim hingga ke hilir.

Yoyo yang baru saja dari Kalimantan untuk penelitian itu cerita, Kalimantan ini jadi pertarungan gajah-gajah Jakarta dalam memperebutkan lahan mencari nafkah. Hutannya ditebang. Tanahnya digali demi batubara. Langitnya dipolusi. Pokoknya™ apa saja yang ada di Kalimantan kini sedang dijarah habis-habisan. Banyak sekali nama pejabat, orang kaya, selebriti yang kelihatannya harum di surat kabar Ibukota, saat ini sedang berlaga di bumi Kalimantan.

Kalimantan yang seksi jadi rebut-rebutan jatah preman. Mulai dari preman Jakarta yang punya kuasa, hingga preman lokal macam bupati.

Lepas cerita Kalimantan, Yoyo cerita tentang para anggota dewan di Jakarta yang meminta gedung baru. Dia bingung, mereka itu sudah mati-matian minta suara dari rakyat. Lantas ketika terpilih, supaya mereka dan keluarga tidak lapar, digaji dengan baik oleh rakyat. Bahkan pajak penghasilannya juga disamakan dengan pajak rakyat. Supaya kerjanya lancar para anggota dewan itu diberi mobil oleh rakyat. Supaya tidak kedinginan dan kepanasan, mereka diberi perumahan yang baik sebaik-baiknya dengan pengatur suhu. Semuanya yang bayar rakyat. Rakyat Indonesia yang sebagian besar penghasilannya dibawah rata-rata.

Sekarang… Para wakil rakyat itu minta gedung baru? Gedung yang lama saja bagusnya sudah setengah mati. Jaraknya sungguh jauh dari gerbang. Warga yang mau ketemu wakilnya, harus dikawal setelah melewati gerbang itu. Yoyo marah, kenapa harus bikin gedung baru? Kalau butuh sesuatu yang baru maka sebaiknya gerbang gedungnya saja didekatkan, biar warga mudah komunikasi dengan wakilnya.

Saya diam saja. Kami berhenti tertawa-tawa.

Dalam cerita anjing yang serakah dan pemuda yang mengadakan perjanjian dengan iblis, ceritanya jelas. Bahwa pada akhirnya, yang serakahlah yang akan membayar ketamakannya.

Dalam cerita Kalimantan dan gedung baru wakil rakyat di Jakarta, ceritanya juga jelas. Bahwa ternyata pada suatu hari, kita dan anak cucu kita yang harus membayar ketamakan mereka.

(*Maaf sebesar-besarnya pada babi yang dijadikan  model pada foto di awal tulisan. Sumpah mati, walaupun kamu tidak pernah saya pilih untuk duduk di pemerintahan, kamu jauh-jauh lebih cute dan berguna daripada para wakil kami di Senayan sana*)


Perbuatan Tercela (Balada Tomi Sang Polisi)

Akibat dulu sempat tinggal di kompleks perumahan polisi dan beberapa anggota keluarga bekerja di kepolisian RI, stok cerita saya soal polisi Indonesia yaa cukup banyak. Mulai dari yang heroik dalam menjalankan tugas hingga yang aneh-aneh bahkan sampai ke yang memalukan.

Anehnya, diantara sekian banyak cerita hanya yang heroik dan yang memalukan saja yang tetap membekas di otak saya hingga saat ini. Hehe, entah kenapa.

Sampai saat ini para pelaku di kejadian heroik masih teringat. Saya dan teman-teman masih hormat dengan mereka. Ada yang pincang karena kakinya ditembus peluru ketika menggagalkan perampokan. Ada yang mukanya penuh luka-luka bekas bacokan sebab tetap tegar menghadapi massa ketika harus berjuang membela minoritas. Polisi-polisi ini sudah tidak muda lagi. Ada yang sudah tidak dinas karena kondisi tubuh. Ada pula yang masih dinas namun sudah tidak di lapangan lagi. Tapi kalau nongkrong bareng, mereka selalu dapat tempat duduk bangku dan dapat gelas bersih. Tanda hormat.

Tapi… Tapiiii… Haha, tentu saja ada tapinya. Para polisi heroik ini tidak banyak. Jika ada, ia akan lalu jadi legenda. Dan ketika ia jadi legenda, posisinya tinggi nun jauh di langit sana. Jadi mitos. Jadi panutan, bagaimana polisi muda harus bersikap. Gagah berani meski dihantam gaji kecil dan kebutuhan sehari-hari yang makin tinggi.

Para polisi gagah berani itu, bukan teman pergaulan saya sehari-hari. Iya saya kenal, tapi tidak dekat.

Jadi jangan salahkan saya kalau teman-teman saya adalah para polisi yang …err.., begitu deh.

Teman-teman saya itu bukan orang jahat. Itu perlu saya garis bawahi, karena hampir tiap hari saya bersama mereka. Namun biar bagaimanapun mereka manusia. Kadang kekuatan yang mereka miliki digunakan untuk … err.., begitu deh.

Diantara teman saya yang ‘begitu deh’, Tomi sama sekali dapat dikategorikan alim. Di saat yang lain malam jumat ikut pengajian dan malam minggu ikut saya mabu-mabu’an, Tomi lebih memilih main dengan adik saya. Sementara track record adik-adik saya lumayan bersih ketika malam hari tiba.

Jadi kagetlah saya pada suatu malam minggu menjumpai Tomi tiba-tiba datang berkumpul dengan saya dan teman-teman sambil memegang botol miras Topi Miring yang sudah kosong. Ia sudah mabuk sebelum sampai ke sini. Ada apa gerangan?

Dalam kebingungan Rahman yang nampaknya mampu membaca raut muka di samping saya berbisik, “Bang, minggu depan seragamnya di copot”

Saya kaget. Saya tahu peristiwa ini. Pencopotan seragam polisi secara fisik di depan upacara adalah hal yang memalukan. Selain artinya ia di pecat dari keanggotaan, juga merupakan pelajaran bagi rekan-rekannya agar tidak melakukan tindakan yang sama. Pada proses ini seorang polisi yang melakukan tindakan indisipliner akan di panggil di tengah lapangan. Di bacakan alasan pencopotan seragam oleh komandannya. Lalu komandan akan mencopot baju seragamnya. Hingga si naas hanya akan terlihat memakai pakaian dalam saja. Setelah itu, ia diminta meninggalkan lapangan. Pada saat ia meninggalkan lapangan, semua rekan-rekan (atau tepatnya; mantan rekan) akan diperintahkan untuk membalikkan badan. Tanda tidak hormat.

Tomi seragamnya di copot? Kenapa? Masa sih begaul sama adik saya jauh lebih parah daripada bergaul sama saya? Ini para bajingan di samping-samping saya yang hobi mabuk dan kadang memeras rumah judi, kok yaa aman-aman saja dan tidak pernah dicopot seragamnya?

Rahman dan Boy ganti-gantian membela diri, “Gua mah abis malak nyetor bang ke komandan” atau “Kalo mabok kan duit sendiri bang, bukan duit komandan. Yang penting mah pas jam masuk, kita ada di sono sebelom komandan dateng”

“Lah terus si Tomi ngapain? Ngerampok terus nggak bagi-bagi?”

Rahman menggeleng, “Istrinya hamil, Bang”

Saya menyerenyitkan kening, “Istrinya hamil kok dipecat? Bukannya dinaikin pangkatnya atawa dinaikin gajinya biar bisa ngasih makan anak kok malah dipecat? Emang yang ngebuntingin siapa? Komandan?”

Boy diam, garuk-garuk kepala sebentar. Lalu menjawab, “Bukan gitu. Waktu nikah dia emang sih bilang komandan kalo mao kawin lagi. Terus komandannya ngamuk, Bang. Kalo kawin lagi, bisa-bisa dia dikeluarin. Tapi si Tomi kan anaknya mantep. Prestasi terus tuh anak. Jadi komandan diem-diem aja akhirnya. Nah pas itu istri mudanya yang hamil ketauan deh ama istri tuanya. Sebab si Tomi rupanya ngebagi jatah belanja bulanan. Istri tua marah, trus lapor komandan. Malah pake ngancem segala, kalo si Tomi nggak ditindak dia bakalan lapor ke Pusat. Sial dah nasib si Tomi”

Saya bengong. Melihat Tomi yang menatap gelasnya sambil mengunyah kacang pelan-pelan. Saya jadi terbayang wajah komandannya. Komandan yang sehari-hari tugas bersama. Yang sudah seperti ayah, kakak dan teman sekaligus sahabat hingga pastur tempat kita mengadu dosa.

Saya lihat wajah Tomi muram. Semuram lampu lapo tuak yang tengah kami singgahi.

Singkat cerita, Tomi dipecat. Benar-benar dilucuti seragamnya. Setelah itu bagaimana? Kelihatannya tidak perlu saya ceritakan di sini. Tragis sih. Adik-adik saya sudah melarang saya untuk cerita lebih lanjut soal Tomi pasca pemecatannya.

Life goes on. Tahun berlalu. Kali ini, apabila ada cerita soal polisi saya tidak lagi hanya teringat para pahlawan yang pincang atau yang codet tercabik belati. Tapi saya juga ingat Tomi. Entah dia ada di bagian mana.

Dan masih segar ingatan saya tentang Tomi ketika beberapa hari lalu, ada berita soal polisi yang bernama Edmond Ilyas melakukan tindakan tercela. Tentu saja Edmond bukan Tomi dan Tomi bukan Edmond. Tapi judul headline berita ‘Brigjen Edmond Terbukti Lakukan Perbuatan Tercela’ membuat saya semakin tergelitik.

Apa itu tercela? Tindakan tidak terpuji seperti polisi yang mabu-mabu’an dan memeras rumah judi macam teman-teman saya?

Ahh bukan rupanya.

Di sana tertulis;

Mantan Direktur Direktorat Ekonomi Khusus Polri, Brigjen Pol Edmond Ilyas terbukti melakukan perbuatan tercela karena tidak melakukan pengawasan terhadap anak buahnya dalam kasus Gayus HP Tambunan…
Edmond terbukti tidak melakukan kontrol terhadap penyidikan yang dilakukan oleh anak buahnya terkait pengusutan kasus pencucian uang, korupsi, dan penggelapan yang diduga dilakukan Gayus…
Edmond tidak melakukan kontrol sehingga penyidik kasus Gayus seperti Kompol M Arafat Enani dan AKP Sri Sumartini melakukan pertemuan dengan pengacara Gayus dan jaksa…
…Edmond juga diwajibkan meminta maaf kepada institusi Polri. Permintaan maaf tersebut disampaikan langsung oleh Edmon di depan komite komisi kode etik dan disiplin…

Saya tahu apa yang mereka bilang soal komandan dan sebenarnya tidak mau ikut campur lebih lanjut. Walaupun ada yang janggal. Tercela akibat tidak mengawasi anak buah? Tuduhannya agak ajaib, kalau ia tidak mengawasi anak buah, jadi apa sebenarnya yang beliau kerjakan? Ini kantor polisi loh. Yang hierarkis dan sistematis. Bukan pasar kaget yang berantakan dan awut-awutan.  Di mana setiap orang bisa transaksi di mana saja. Ini kantor polisi. Divisi khusus. Tempat orang-orang cerdas yang terbiasa menangani kasus luar biasa pelik. Kok bisa ‘melakukan sesuatu tanpa diawasi’. Aneh kan?

Di tambah lagi  kalimat ‘tercela’ dalam tuduhan. Wah itu lebih dahsyat daripada kalimat ‘tidak terpuji’ atau ‘indisipliner’.

Tapi whatever lah. Sebab tiba-tiba makin saya baca tulisan itu makin pula saya ingat Tomi. Ahh di mana ia sekarang? Mungkin kalau pangkatnya tinggi, tidak akan di copot seragamnya di muka publik. Mungkin ia hanya perlu meminta maaf saja.

Sebab jika korupsi yang sudah mampu menghancurkan hidup orang banyak saja bisa dimaafkan, mengapa punya istri hamil tiba-tiba menjadi dosa yang tak berampun?


Manusia Yang Menyebalkan

Saya tidak punya akses internet sejak lama, maklum baru pindah rumah. Tanpa internet hidup jadi lebih susah tapi bahkan juga lebih mudah. Tergantung situasi dan sudut pandangnya saja sih.

Untuk orang seperti saya yang menggantungkan cari nafkah melalui internet, situasi ini boleh dibilang menyebalkan. Serba susah.

Susahnya kalau mau bayar ini itu jadi repot. Akhirnya bisa di duga, tagihan menumpuk. Aduh. Beberapa kali saya sampai ditelpon oleh orang/perusahaan yang harus saya bayar hutangnya. Ada tagihan kontrak rumah, tagihan listrik dan tagihan bla-bla-bla lainnya. Kok yaa hidup jadi seperti dikejar-kejar. Yang menyedihkan, dikejar hutang pula. Alamak. Mau tidak mau harus menguatkan badan yang sedang lemah ini beranjak ke bank untuk membereskan tagihan.

Enaknya tanpa internet, saya bisa jadi lebih banyak istirahat. Maklum kondisi kesehatan yang memburuk sejak satu setengah bulan terakhir ini memang mengharuskan saya banyak istirahat. Saya bisa tidur non-stop jam sembilan malam dan lalu bangun esok paginya pukul enam pagi.

Saya pikir, dengan adanya internet saya tidak akan mampu tidur sepanjang malam seperti ini. Bukan karena sambungan internetnya, tapi lebih ke arah psikologis kejiwaan di mana saya butuh informasi terkini dengan cepat (*Iya, ini buruk. Saya kecanduan. Kecanduan informasi terkini*). Walaupun badan butuh istirahat, tapi kalau keinginan sudah memuncak untuk mengecek email atau mempublikasikan tulisan di blog, mau tidak mau yaa kadang tangan jadi nakal untuk login.

Efeknya?

Wah efek hidup tanpa internet banyak rupanya. Selain tidak punya koneksi internet, saya pula tidak punya televisi, radio maupun saluran komunikasi lainnya kecuali telepon genggam yang dipakai pada saat darurat saja. Ternyata semua itu berakibat banyak. Tapi efek yang paling terasa adalah, kalau saya mengobrol dengan rekan ataupun sahabat saya lebih banyak membuka mulut. Melongo. Haha. Mirip manusia purbakala dari goa batu tiba-tiba terlempar ke masa kini. Benar-benar ketinggalan berita.

Saya tidak tahu kalau di Mesir, Yaman dan Bahrain ada pergolakan panas menyusul Revolusi Tunisia. Saya tidak tahu kalau ada heboh di blogsphere Indonesia tentang sinetron yang sama sekali tidak pernah saya dengar sebelumnya. Saya tidak tahu… Saya benar-benar tidak tahu.

Yang saya tahu, saya terbaring di tempat tidur. Dengan badan yang luar biasa letih. Makan. Bangun. Ke toilet. Minum obat. Dan lalu hingga 14-15 jam setelahnya.

Untung saja sejak beberapa hari lalu badan saya sudah lebih baik dan tidak bermasalah lagi. maka mulailah saya beraktivitas kembali.

Suatu hari di bis kota saya bertemu teman lama dan lalu ditanya apa kabar update terbarunya. Kok tidak ada berita tanya beliau. Saya jawab apa adanya. Sibuk ini, sibuk itu. Sakit ini, sakit itu. Pokoknya macam-macam lah.

Habis cerita, saya tertawa. Dia heran malah tambah bertanya, “Kenapa ketawa?”

Saya jawab saya tertawa karena senang bisa cerita semua itu. Memang semuanya belum berlalu, tapi setidaknya, saya sudah bisa cerita dan ia mendengarkan. Dan itu membuat saya senang.

Dia kebingungan. Biarlah.

Di akhir pertemuan, ia menjabat erat tangan saya. Ia bertanya, “Kalau sudah selesai semua masalah kamu, sudah siap kembali menghadapi dunia ini?”

Saya tidak menjawab. Pertanyaan yang aneh. Rasa senang saya terusik.

Bagaimana caranya menyelesaikan masalah? Setahu saya, tidak ada solusi jitu menyelesaikan masalah. Masalah A selesai, maka masalah B akan muncul. Lalu ketika suatu saat agak reda, maka di hari kemudian masalah C akan timbul. Masalah itu tidak akan selesai. Selama manusia ada, ia akan tetap ada.

Terlalu filosofis jawaban saya?

Oh sori. Kalau begitu mari kita implementasikan jawaban abstrak ini ke dalam peristiwa nyata. Begini; saya punya telpon genggam yang suatu ketika sistem operasinya rusak. Dengan bingungnya, saya setengah mati cari cara untuk memperbaiki. Di sini, ada suatu titik yang dimana kita semua setuju, bahwa ‘saya punya masalah dengan telepon genggam’.

Setelah instal kanan kiri, akhirnya ketemu solusi telepon genggam yang saya miliki. Saya pun senang kembali.

Tapi apa lantas masalah saya tuntas? Tentu saja tidak. Selama saya masih memiliki telepon genggam, maka masih akan sangat terbuka kemungkinan telepon saya itu pada suatu hari akan rusak.

Loh kalau begitu, buang saja telponnya. Bukankah masalah akan selesai?

Hei, kata siapa. Kalau saya buang lalu bagaimana orang akan menghubungi saya? Kalau saya buang, siapa yang akan menggantikan dengan telpon baru? Kalau saya buang, siapa yang akan bayari tagihan bulanan?

Di titik ini (walaupun amat bisa diperdebatan) nampaknya ada sedikit gambaran. Yaitu; jika saya buang telpon genggam, saya akan lebih banyak punya masalah.

Oke, sudah jelas sampai di sini? Kalau sudah, mari kita balik ke pertanyaan teman soal hidup itu.

Saya pikir pertanyaannya terlalu filosofis retoris. “Kalau sudah selesai masalah, akan hidup lagi?”

Pertanyaan apa itu? Saya curiga dengan segala syak wasangka yang saya miliki bahwa itu adalah pertanyaan snob yang dilontarkan tanpa perlu jawaban. Padahal saya sama sekali tidak butuh pertanyaan filosofis. Saya tidak butuh pertanyaan retoris. Setelah satu setengah bulan sakit terisolasi dari publik dan hidup terasing sendiri, saya tidak butuh semua pertanyaan itu. Saya tidak butuh pertanyaan dan pernyataan seperti; ‘Diinstal ulang susah? Kalau gitu buang dan ganti saja hidup kamu’.

Aneh. Saya kan bukan telepon genggam. Apabila hang bisa di-restart. Atau kalau kena virus dan lalu amat menyebalkan, bisa diganti sistemnya. Lah kalau manusia? Memang semudah itu?

Pada intinya, seharian setelah bertemu teman lama itu saya berlaku uring-uringan. Padahal tidak perlu. Tapi, mood saya memang amat mengijinkan untuk senewen. Cuaca buruk di luar bahkan seakan memberi saya peluang untuk ikut menyalahkan hujan yang turun seakan tiada berhenti.

Besoknya di pabrik saya curhat pada Mbak Ita. Semua saya ceritakan dari A hingga Z pertemuan saya dengan teman lama dan kejadian setelahnya.

Mbak Ita hanya menatap saya termangu ketika saya bilang, “Masa sih dia nanya begitu sama saya? Emangnya dia nggak mikir apa sebelum nanya?”

Mbak Ita menyahut pelan, bahkan bisa dibilang lirih. Ia bilang, “Pertanyaan kamu terlalu filosofis. Mungkin… Retoris”

Saya diam dalam ketakutan. Jangan-jangan.., saya latah terobsesi hingga ketularan jadi orang yang menyebalkan.

Eh definisi menyebalkan itu apa sih? Jangan-jangan, selama ini saya tidak sadar bahwa saya sudah jadi sedemikian menyebalkan.


Ganteng Itu Menular

Setiap orang punya ‘style’. Gaya yang kelihatannya unik dan dimiliki oleh masing-masing. Bisa gaya makan, gaya berjalan, gaya tidur, gaya bicara atau gaya di WC. Wajar saja. Bukankah setiap manusia berbeda. Maka adalah sebuah hal yang jamak ketika gaya mereka pun berbeda.

Dulu adik saya perempuan satu-satunya si Uul, waktu masih bujang kalau beli baju maunya yang bermerk. Ibu saya kalau menemani belanja ke pasar sempat mengurut dada berbisik, “Dia mah suka lupa kalo emaknya orang susah”

Saya yang mendengar cengar-cengir menjawab, “Biar aja lah, Bu. Biar miskin kan nyang penting gaya”

Ibu biasanya malas berdiskusi lebih lanjut kalau saya sudah cekikikan begitu. Tapi lah beliau mau bilang apa mengenai gaya saya? Baju yang saya pakai biasanya baju si Ami adik saya yang tinggal di Jogja. Sementara celana, biasanya punya si Gugun, adik saya yang satunya lagi. Jadi gaya berpakaian saya jelas sudah, yaitu ‘gaya pinjaman’. Ini style berpakaian satu-satunya yang saya miliki. Saya tidak pernah beli baju apalagi celana baru. Semua baju atau celana yang menempel di tubuh saya biasanya pemberian Ibu ketika lebaran tiba. Sementara kan tidak mungkin saya kemana-mana pakai sarung dan baju koko saja.

Gaya berpakaian saya makin parah ketika sudah mulai masuk sekolah di Depok dulu. Saya datang ke Jakarta hanya dengan membawa kaus tiga buah dan celana satu. Sesampainya di Depok terpaksa harus beli lagi, satu kemeja putih lengan panjang dan celana panjang katun hitam. Dua benda terakhir disebut, terpakai hanya satu kali ketika masa penataran P4 tiba. Dan ketika masa menyebalkan itu berakhir, saya sadar bahwa saya hanya akan mencoba hidup dalam dunia yang memakai kaus dan celana jeans saja.

Tetapi sesadar-sadarnya saya, tetap tidak bisa memungkiri kalau celana saya hanya satu dengan kaus tiga. Jadi ‘gaya pinjaman’ tentu saja masih berlangsung. Untunglah sahabat-sahabat saya satu rumah kost orang baik. Saya sering dipinjami pakaian. Entah itu kaus, kemeja, celana panjang bahkan hingga sarung. Sebelum meminjamkan biasanya mereka bilang, “Sono mandi dulu biar bersihan dikit”

(*Hingga kini saya masih tidak tahu, apakah mereka meminjamkan pakaian karena ikhlas atau karena terganggu dengan bau badan saya yang berhari-hari tidak mandi dan tidak ganti baju? Hahaha*)

Suatu hari rumah kost kami kedatangan tamu. Kakak kelas. Wah hebat dia. Pujaan. Ganteng. Keren. Banyak cerita pengalaman-pengalamannya. Ramah pula. Pokoknya, idola deh.

Kami senang kalau kedatangan dia. Beliau ini suka mentraktir soalnya. Kalau ada beliau, kami jarang lapar. Padahal semenjak jadi anak kost, lapar seakan sudah menjadi nama tengah kami.

Kalau ada Bob si kakak kelas, kami suka lebih banyak mandi dan bersolek. Maklum, gadis-gadis dari rumah kost sebelah atau adik-adik kelas suka datang menyambanginya. Lumayanlah, siapa tahu kecepretan keren. Sebab pernah ada pepatah di rumah kost kami, ‘ganteng itu menular’.

Entah siapa yang punya teori. Sebab begini penjelasan pepatah itu; “Kalo lo ganteng trus keren pula dan cool, pasti banyak cewek yang mao sama lo. Sementara, ga mungkin dong lu ngeladenin semua cewek. Bisa jadi karena terlalu banyak, jadi lo akan terlalu sibuk. Bisa jadi karena ada beberapa cewek yang bukan selera lo. Bisa jadi hal lainnya. Yang pasti, ga semua cewek bisa lo gebet. Ini seleksi alam namanya. Yang paling cocok yang kepilih. Nah diantara yang nggak kepilih, pasti ada yang mundur perlahan. Atau ada yang patah hati. Atau ada yang bales dendam. Tapi, ada juga yang masih berharap bahwa suatu hari ia akan kepilih. Nah dia pasti akan tetep nongkrong ama si cowok keren. Sementara, gimana caranya dia nongkrong ama si cowok keren padahal dia udah ditolak? Nah cewek kan banyak triknya. Supaya nggak keliatan dia lagi ngarep, maka dia akan ngedeketin lo deh sebagai temen si cowok keren. Kalo suatu hari dia dilirik ama si cowok keren, yaa itu namanya pucuk dicinta ulam tiba. Tapi kalo nggak kelirik, kan lumayan dia ada maenan. Nah, maenannya itu yaa elo. Kalo lo kepilih jadi maenan, yaa bermainlah sepuas-puasnya”

Jadi pada intinya, sebenarnya ganteng itu tidak menular. Dan teori ini amat seksis. Namun karena situasi teramat menyedihkan dan butuh win-win solution. Maka diciptakanlah pepatah ini.

Ganteng itu menular. Begitu terus saya ucapkan dalam hati ketika mandi dan ganti baju pinjaman. Siapa tahu ada seorang gadis pemuja Bob yang melenceng matanya ke arah saya dan bisa melihat betapa sumringahnya senyum saya. Doa saya waktu itu cuma satu; Yaa Yang Maha Keren, ijinkanlah daku sejenak hari ini dilirik ama sepasang mata wanita.

Malam hari kedatangan Bob, jelas ada pesta. Ada minuman es sirup buah-buahan. Ada makanan roti bakar keju yang atasnya ditaburi susu kental manis. Ini luar biasa. Makanan sehari-hari kami di rumah kost ya kalau tidak mie instan campur nasi putih, maka nasi putih campur mie instan. Dessert-nya… Buku dan tugas sekolah hari esok. Maka kalau ada Bob, artinya ada surga walau sesaat.

Bukan hanya makanan mewah yang tidak kami jumpai sehari-hari kalau Bob hadir hari itu, tapi juga sesuai dengan bisik-bisik sebelumnya. Ada dua puluh lebih gadis-gadis muda ikutan datang berpesta. Cihuiii…

Dan sibuklah saya dan teman-teman sambil mengunyah makanan menebar pesona. Sehebat-hebatnya Bob melayani gadis-gadis, paling banyak lima yang bisa ia kuasai di malam itu. Sisanya? Ahh, sisanya tentu saja jatah kami. Hehehe.

Maka teori ganteng itu menular pun diimplementasikan pada pesta. Sukses? Hmhh entah apa ukuran sukses, yang pasti saya bahagia dapat dua nomor telepon. Yang akan menjadikan akhir minggu ini sebagai cowok kabel. Cowok yang nongkrong di telpon umum merayu gadis yang baru dikenalnya. Yayat dan Toni malah dapat tiga nomor telpon. Eh lebih gila lagi, si Heru, katanya sempat dicium pipinya oleh seorang gadis yang pamit pulang. Wah, ganteng itu benar-benar menular rupanya.

Saya dan teman-teman kost bahagia. Oke, walaupun ada beberapa orang yang tidak dapat nomor telepon gadis, namun yang pasti sudah kenyang makan makanan enak di malam itu.

Bob tiga hari di rumah kost kami untuk menginap. Berbagi wejangan, berbagi cerita dan berbagi makanan kaleng yang datang dari tasnya. Lalu setelah itu, sebagaimana ia datang, ia pergi lagi dengan tas buntalan besarnya. Entah kemana, kami tidak tahu. Dengar-dengar, memang begitu hidupnya. Seorang pengelana. Terus berjalan dan terus bepergian. Pantas saja gadis-gadis tergila-gila kepadanya. Ia seorang avonturier.

Minggu depannya, saya Yayat, Toni dan Heru duduk di kantin sekolah. Sudah hampir sore. Entah kenapa, masing-masing kami tidak begitu banyak bicara. Saya ajak mereka main bola, namun semua orang tetap tidak banyak bicara.

Saya pikir, pasti ada apa-apa. Tapi ada apa?

“Lo pada kok diem aja, kena sakit gagu yee?”

Setelah diam cukup lama tidak ada yang menjawab. Heru menatap saya seakan mau menangis, “Sebentar lagi semester baru, Rip. Gua stress, uang bayaran ilang”

“Hah! Yang bener luh? Emang lo simpen dimana? Udah dicari belom?”

“Udah gua cari kemana-mana. Ke kamar anak-anak semuanya juga udah?”

“Ke kamar anak-anak? Lah kok anak-anak nggak bilang ama gua? Jangan-jangan lo juga nyari ke kamar gua?”

“Di kamar lo nggak ada apa-apa, cuman triplek selembar yang lo jadiin ranjang. Apa yang mao gua cari? Yang pasti udah gua cari deh. Gue stress men. Duit dari mana nyari ganti tiga ratus ribu buat bayaran?”

“Waduh kok bisa begitu?”

Toni menyela, “Cukuran elektrik gua juga ilang, men. Hadiah dari om gua tuh yang di Amerika. Sebel banget gua”

Yayat mengangguk, “Kaos-kaos gua juga ilang. Gila itu kaos surfing. Orisinil. Gua nabung mati-matian buat beli kaos itu”

Saya pucat. “Wah lo pada kok nggak bilang-bilang ama gua men? Kalian pikir gua malingnya?”

Yayat dan Toni menatap saya, “Udah men, nggak usah ngerasa bersalah. Kita tahu elo bukan maling. Walaopun lo hobi minjem pakean orang laen, tapi lo ngomong dulu. Lu bukan maling. Lagian Heru bener. Lu kan nggak punya apa-apa. Harta lo satu-satunya paling cuman dua nomor telepon gadis di kertas kucel”

Saya bengong. Pertama berfikir, sudah semiskin itu kah saya? Tapi pikiran ini lantas saya tepis. Pikiran lain yang muncul adalah, siapa yang setega itu menyikat barang-barang sahabat-sahabat saya?

Kami duduk termangu di kantin sekolah selama hampir dua jam lebih. Hari semakin beranjak sore. Heru masih merenggut-renggut rambut di kepalanya. Seakan dengan begitu semua masalah akan hilang.

Dan ketika hari sudah beranjak sore, sesosok bayangan masuk ke dalam kantin. Duduk di samping kami sambil berkata, “Hoi apakabar?”

Saya senyum. Itu Bob datang. Saya senang melihatnya. Ia terlihat sehat. Pasti kami akan ditraktir seperti biasanya. Tapi… Ahh tapi saya lalu garuk-garuk kepala. Kebingungan.

Yayat melongo. Toni dan Heru pun ikut melongo.

Sebab Bob memakai kaus surfing seperti yang dimiliki oleh Yayat. Dan dari resleting tas atasnya yang setengah terbuka, menyembul sebuah alat cukur elektrik dengan stiker bertuliskan Toni.

Apapun yang akan terjadi, saya belajar satu hal baru petang itu; ternyata untuk beberapa gaya, seseorang pasti butuh biaya. Yang jadi pertanyaan, siapa yang akan membayarnya?

*Omong-omong, bagaimana ‘syle’ hidup Anda?*