Archive for the 'Uncategorized' Category

Tentang Tiga Bulan – Melaporkan Tindakan Asusila Duta Besar Republik Indonesia

Bapak Yusron Ihza Mahendra (handle twitter: @YusronIhza_Mhd) berdasarkan pengakuannya adalah seorang duta besar negara Republik Indoneia untuk Jepang; Wakil Ketua Komisi I DPR RI 2004-2009; Alumni Univ Tsukuba Jpn (Ph.D in Int’onal Political Economy). Dan memiliki kemampuan berbahas Indonesian, English & 日本語.

Menarik. Kelihatannya beliau orang cukup cerdas. Kalau tidak cerdas, susah sepertinya membayangkan beliau bisa menjabat sebagai duta besar.

Yang menarik, beberapa hari lalu, Pak Yusron dalam akun twitternya memberi komentar (berbau politis sepertinya, kelihatan berbumbu Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta). Dengan ucapan:

1-Nasehat Jendral bintang 3 ini pantas direnungkan: Jika sayang dg etnis Cina yg baik, miskin & tdk bisa lari ke LN jika ada kerusuhan etnik

Screen Shot 2016-04-02 at 14.19.21

lalu ditambah lagi dengan cuitan selanjutnya:

2- mk mohon Ahok tdk arogan dlm memerintah. Kasihan dg Cina2 lainnya yg miskin, baik & tdk salah jika mrk jd korban: http://www.posmetro.info/2016/03/ingatkan-ahok-suryo-prabowo-kalau.html?m=1 …

Screen Shot 2016-04-02 at 14.19.31

Jika kedua cuitan ini digabungkan, maka hasilnya adalah kira-kira:

Jika sayang dg etnis Cina yg baik, miskin & tdk bisa lari ke LN jika ada kerusuhan etnik. mk mohon Ahok tdk arogan dlm memerintah. Kasihan dg Cina2 lainnya yg miskin, baik & tdk salah jika mrk jd korban

Dari cuitan di atas, terlihat jika Pak Dubes mengutip pernyataan seseorang. Orang itu (dari link berita yang dibagi), adalah sepertinya mengaku sebagai tokoh militer dan politisi Indonesia Suryo Prabowo, mantan Kepala Staf Umum TNI .

Mari kita pecah kutipan dan pernyataan Mantan jenderal yang dikutip oleh Pak Dubes;
1. “Jika sayang dg etnis Cina yg baik, miskin & tdk bisa lari ke LN jika ada kerusuhan etnik”
# Sepertinya kalimat ini mengacu pada kejadian di tahun 1959 ribuan etnis China exodus ke RRC, tahun 1966 ribuan etnis China kembali ke RRC, tahun 1998 ribuan etnis China kabur ke luar negeri. Pak mantan jenderal ini sama sekali tidak memberi tahu publik, latar belakang dan alasan jelas kenapa mereka bisa lari ketakutan tak bisa lagi tinggal di negara yang mereka cintai, Republik Indonesia. Informasi sepenggal ini sangat membahayakan. ‘Kerusuhan etnik’ adalah terminologi rancu yang sama sekali tidak memiliki kekuatan linguistik dan realita sejarah. Pak jenderal menutup mata bahwa WNI (baca ini baik-baik, mereka itu WNI, warga negara Indonesia. Punya identitas resmi sebagai warga negara republik ini). Bahwa WNI keturunan atau terlihat seperti keturunan China, pada tahun 1998 di Jakarta dibunuh, diperkosa, dijarah dan dihinakan di depan publik. ‘Kerusuhan etnik’ adalah istilah yang sama sekali tolol untuk dikatakan di depan publik untuk peristiwa Jakarta 1998. ‘Pemusnahan etnik’ adalah kalimat yang lebih cocok. Percobaan terhadap pemusnahan etnik, bisa dapat dikategorikan sebagai bagian awal dari genosida. Dan itu yang terjadi di tahun 1998 di Jakarta.
2. “mk mohon Ahok tdk arogan dlm memerintah”
# Kelihatannya pernyataan ini pendapat yang mengacu pada cara/gaya kepemimpinan Basuki Tjahaya Purnama (Ahok), yang menjadi Gubernur DKI sejak 19 November (Acting: 1 June–22 July 2014 and 16 October–18 November 2014)
3. “kasihan dg Cina2 lainnya yg miskin, baik”
# Pernyataan ini bisa jadi sebagai komentar bahwa banyak (warga negara keturunan) Cina adalah tidak miskin dan tidak baik. Maka ada ada ‘Cina miskin dan baik’. Pernyataan yang aneh. Cina itu siapa? Atau apa? Jika seseorang sudah memiliki idantitas WNI, maka ia tidak berhak untuk memiliki kewarganegaraan ganda (setidaknya ketika tulisan ini muncul, april 2015, masih belum boleh WNI memiliki kewarganegaraan ganda). Jadi, jika beliau berkata Cina sebagai asosiasi bahwa semua WNI keturunan Cina berhak dipanggil ‘Cina’, ini sudah menjadi bagian dari generalisasi etnis. Proses ini sudah jadi bagian menyinggung Pasal 156 KUHP dan Pasal 28 ayat 2 UU ITE yang berkaitan SARA (Suku Agama Ras Antar golongan).
4. “tdk salah jika mrk jd korban”
# Ini adalah ancaman yang ditujukan kepada publik. ‘mrk’ (adalah singkatan dari ‘Mereka’) jika dikaitkan dengan kalimat sebelumnya adalah ‘Cina’ (atau WNI keturunan Cina). Tindakan ancaman yang dilakukan seseorang adalah tindakan yang dapat dikategorikan sebagai Perbuatan Tidak Menyenangkan dalam Pasal 335 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”). Untuk ini, pelaku dapat dikenakan Pasal 29 Jo. Pasal 45 ayat (3) Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (“UU ITE”).

Pasal 29 UU ITE
“Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mengirimkan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang berisi ancaman kekerasan atau menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi.”

Pasal 45 ayat (3) UU ITE
“Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau denda paling banyak Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).”

Pada intinya, Pak mantan jenderal Suryo Prabowo menyebarkan kebencian Ras di depan publik. Dan Pak duta besar Yusron Ihza Mahendra menggaungkannya ke seluruh dunia kebencian ini.

Maka pertanyaan selanjutnya ada dua:

  1. Apakah Pak Jenderal Suryo Prabowo bisa dituntut karena menyebarkan kebencian di depan publik?
  2. Apakah Pak Duta Besar Yusron Ihza Mahendra (yang pada tulisan ini masih menjabat sebagai Duta Besar di Jepang) juga bisa dituntut karena menggaungkan kebencian publik di depan publik?
  3. Bagaimana cara melaporkan manusia-manusia rasis dan penebar bibit benih kebencian rasisme ini ke kepolisian atau aparat hukum yang berwenang?

Saya belum tahu jawabnya hari ini. Tapi saya benar-benar mau tahu, apa yang bisa saya lakukan untuk menghentikan kebencian yang ditebarkan di depan publik.

Tentang Tiga Bulan – Pengantar

Sudah lama tidak mempublikasi tulisan. Alasannya sederhana: takut.

Takut apa?

Takut ketahuan publik kalau saya sebenarnya gila… Masak sudah tua masih saja gila? Huahahaha…

Anyway, dalam tiga bulan ke depan saya akan rajin menulis. Bisa panjang, bisa pendek. Tapi saya akan menulis. Tidak akan ada tema. Tidak akan ada riset panjang. Tidak akan ada bahaya mengancam. Tidak seru-seruan. Simpel saja lah. Sebab semua nanti hanya hasil pikir acak belaka. Sebagai pengingat, kalau saya sebenarnya masih bisa baca tulis. Sebuah kemampuan yang hampir selama tiga tahun belakangan ini terlupakan.

Tiga tahun belakangan ini saya bertualang dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya. Dari satu pelukan obat-obat keras ke obat-obatan lain yang tidak kalah kerasnya. Saya menjadi seorang pengembara. Diantara alam sadar dan tidak sadar karena pengaruh obat-obatan (yang semuanya di dapat secara resmi) dan tindakan-tindakan yang tidak dapat saya kontrol dengan baik (tapi untungnya teman saya banyak. Jadi saya syukur saat ini masih hidup dan tidak mendekam dalam penjara).

Sekarang saya bukan pengembara lagi. Tuntas sudah petualangan saya dengan obat-obatan. Sekarang saya adalah Bangaip yang sehat dan bisa menikmati hidup bersama yang dicintai.

Hidup tidak mudah dalam tiga tahun belakangan ini. Saya kehilangan pekerjaan dan rekan kerja yang saya cintai karena sakit. Kehilangan rumah keren. Kehilangan previlige sebagai seorang kepala departemen sebuah perusahaan MNC yang dalam sehari bisa jalan-jalan ke tiga negara beda benua sekaligus. Kehilangan uang. Dan tentu saja, kehilangan kesehatan.

Sempat jidat ini pula dilabeli sebagai ‘orang cacat’ dan harus mengemis ke pemerintah lokal dan teman-teman dekat untuk minta bantuan. Sempat harus menekan malu dan harga diri demi bertahan hidup dan bisa beli susu untuk anak. Sempat jatuh di jurang maksiat dan hampir mencelakakan jiwa manusia lain. Sempat juga menipu orang hanya agar bisa jalani malam menjadi hangat dan tenang. Semuanya sempat dilakukan. Tenang saja, kalau mau sesumbar tentu saja bisa bicara “Apa sih nyang kaga gua lakonin buat survive?”

Hidup tidak mudah dalam tiga tahun belakangan ini. Tapi saya lantas bertanya-tanya dalam hati, “Lah emang idup gua dari kecil udah gampang? Kalo emang, yaelah, boleh aja sih ngeluh. Tapi kalo dari lahir emang udah jadi orang susah, bujug tong, ngaca napa? Lo mo komplen ama sapa coba? Di pesbuk mo ngeluh paling dikomentarin. Sukur-sukur di like. Tapi abis itu lo mo ngapain? Sakit ya udah jalanin aja. Sehari, setahun, sepuluh tahun, apa sih bedanya kalo kita masih punya semangat buat idup?”.

Tiga tahun memang bukan waktu yang sebentar. Tapi dalam tiga tahun ini, selain sakit, saya juga dapat hikmah. Aneh kan? Apa hikmahnya dalam hidup tiga tahun dalam kondisi ‘mati segan hidup tak gampang’?

Hikmahnya, saya berhasil memfilter orang yang mencintai saya dengan sepenuh hati.., dan yang tidak.

Hehe, bingung ya? Kok hasil dari tiga tahun berjuang cuma itu?

Jangan bingung, bray en sis. Ini memang apa adanya. Bodo amat deh kalau memang tidak ada hasil lain. Memangnya semua ini dalam hidup harus ada hasil? Lagipula jika ada, apa iya saya harus membuktikannya pada semua orang?

Anda masih baca? Syukur deh. Anda tidak baca, juga saya mah syukur saja. Hehe.

Begini, yang bikin saya masih hidup adalah: Punya kepercayaan bahwa masih saja ada manusia yang mencintai saya tanpa pamrih membuat saya tetap masih bisa bertahan hidup. Kepercayaan ini lah yang ternyata membuat saya tetap gigih untuk bisa sembuh dan keluar dari lembah penyakitan.

Lalu apa hubungannya dengan tulisan ini?

Begini, saat ini saya tidak punya pekerjaan. Saya melamar ke beberapa tempat kerja, di tolak. Sebab tiga tahun dalam sakit, banyak yang berubah di muka bumi rupanya. Dan saya, selama tiga tahun itu bagaikan ashabul kahfi, pemuda yang tidur di gua batu di dalam gunung nun jauh di sana. Bedanya saya sendirian dan tanpa ditemani oleh anjing keren. Begitu saya bangun, yaa wajar orang-orang kaget. Dan saya juga kaget. Jadi daripada saya bingung cari kerja, lebih baik pekerjaan yang mencari saya.

Dari dulu saya memang tidak pernah cari kerja. Biasanya pekerjaan yang mencari saya. Sombong? Ahh tidak juga. Itu realita. Belajar dari kakek saya Haji Ali Musa. Daripada pusing cari kerja, dia sulap rumahnya jadi bengkel. Orang yang datang ke rumah dia, menawarkan pekerjaan. Nah kecerdasan beliau yang utama, bukan hanya membuat pekerjaan mencarinya. Melainkan, menyuruh semua anak laki-lakinya bekerja di bengkel itu. Satu, dia dapat uang buat belanja. Kedua, dia membuat sistem regenerasi. Ketiga, dia dapat ongkos buruh murah. Keempat, dia kontrol semuanya dalam sebuah lingkup kerja terpadu. Hebak kan tuh aki-aki. Sampai sekarang saja (walaupun beliau sudah almarhum) saya masih bingung kok bisa-bisanya polisi pangkat rendah macam beliau punya ide cemerlang. Pantas saja dia tidak  mau lagi jadi polisi 		</div><!-- .entry-content -->

		<div class=

Tentang Narsis dan Bencana Kota Jakarta

(*Maaf karena terlalu personal dan lebay, tulisan seri Tentang Rock Star saya publikasikan ke media lain. Hehe. Terimakasih untuk teman-teman disini yang mendoakan kesembuhan. Semoga kalian disana baik-baik selalu dan bisa kumpul dengan keluarga, sahabat dan tetangga*)

Sudah lama tidak menulis. Iseng ahh, menulis lagi. Hehe…

Jadi begini ceritanya, kemarin itu saya sedang berkomunikasi dengan adik saya si Uul melalui video internet. Sebagaimana tradisi Cilincing kami, tentu saja obrolan tidak jauh dari bercanda saling meledek dan mentertawakan kehidupan sehari-hari kami sendiri.

Gara-gara kuota internet si Uul habis, dan modem yang mengambang di air banjir jadilah obrolan itu terputus. Halah.

Ibu saya SMS tidak lama kemudian isinya: “Ibu seneng liat kamu kayak aripoter sekarang, tapi itu rambut makin panjang aja. Potong gih sana biar ganteng”.

Sambil tertawa saya membalas: “Ibu yang bener aja dong, ini lagi banjir ama bingung soal modem, lah kok ngomongin rambut saya kayak aripoter” (*Harap maklum  lidah betawi beliau lebih biasa melafalkan tokoh sihir Hogwarts Harry Potter dengan sebutan aripoter*)

Ibu balas: “Capek sehari-hari liat banjir mendingan ngomongin rambut kamu”

Saya tertawa ngakak tidak berhenti-henti. Ironi. Satu sisi khawatir tentang banjir, satu sisi lagi tentang pragmatisnya orang-orang kampung Cilincing. Sebuah desa pinggir laut di ujung Jakarta.

Sejenak saya lupa, kalau saya (lagi-lagi) sedang dirumahkan dari kerja memburuh harian akibat kondisi kesehatan yang kembali tidak stabil. Dan saya senang itu. Bisa lupa (atau tepatnya, istirahat) dari himpitan sehari-hari. Bicara dengan keluarga, yang walaupun jurang ideologi sangat mencolok tapi selera humornya sama, jadi penting untuk memulihkan kondisi kesehatan.

Tidak lama kemudian saya berbalas pesan dengan Gugun, adik yang lain. Isinya tidak jauh-jauh dari banjir Jakarta. Gugun tinggal di kampung kecil di ujung lain Jakarta. Ia sedikit mengeluh karena bersama keluarga kecilnya tidak bisa mengunjungi sanak saudara lain akibat transportasi yang sulit di masa banjir ini.

“Gua pengen sih ke rumah Ibu, tapi susah pake motor. Paling bisa pake mobil truk. Tapi mana punya gua mobil truk?”

Anaknya Gugun berusia empat tahun. Lahir di tahun 2010. Sebagaimana generasi yang lahir pada tahun ini di daerah Jakarta dan sekitarnya, mereka terbiasa dengan banjir. Bahkan dianggap sebagai hiburan tahunan, bermain dengan banjir.

Kami warga Cilincing sudah sangat akrab dengan banjir. Kalau musim hujan tiba, jalan-jalan kampung itu tergenang dengan banjir. Ibu adalah guru SD, yang walau banjir tetap mengajar. Anak muridnya, duduk dengan kursi diatas meja. Sebagaimana ia pun mengajar sambil berdiri di atas meja. Sebab itu satu-satunya KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) tetap dimungkinkan. Banjir boleh datang Jakarta boleh tenggelam, kata ibu saya, tapi pendidikan jalan terus dong!

Beberapa tahun lalu, banjir besar melanda Jakarta. Rumah Ibu saya tenggelam. Mereka mengungsi, ke loteng atas rumah. Ibu saya cerita:

“Tadi malem banjir parah banget. Ujannya deres sekali. Ibu ketakutan. Tapi untung ada adek-adek kamu di rumah sama anak-anaknya. Awalnya cuma 15 senti, tapi ujan kaga berenti-berenti. Trus Ibu bangunin adek-adek kamu. Kita ngambil ijasah ama surat-surat penting lainnya. Sama mindahin kompor ama terpal plastik ke loteng. Trus banjirnya naik 30 senti. Ibu, adek-adek kamu ama cucu-cucu Ibu naik ke loteng. Waduh disana banyak tikus juga ngungsi. Kotor banget dah. Udah cucu ibu pada masih bocah bayi gitu nangis ditambah tikus gotnya cicit cuit bikin berisik aja. Tikus segede kucing. Tengah malem buta. Listrik mati. Lah, pas ibu itung, loh kok adek kamu si Ami kaga ada. Ibu cepet-cepet manggil Gugun, nanyain dimana si Ami. Eh buset ga taunya tuh anak masih tidur. Dia mah gila, dia pikir lagi ngimpi. Pas kasurnya basah kebanjiran, dia ambil meja trus ditaro di atas ranjang. Abis itu tidur lagi. Pas banjir udah semeter lebih, dia baru sadar. Bloon banget dah tuh anak, sadar pas tidurnya miring trus kejebur di aer comberan banjir. Amit-amit jabang bayi. Tidur kok sampe kebluk begitu. Pas dia bangon akhirnya udah pada di loteng semua. Ujan masih deres, loteng udah mulai basah. Ibu ketakutan lagi, nanti kalo lotengnya ambruk pigimana? Ini pan loteng rumah tua, kayunya lapuk. Jadi Ibu sama semuanya ngungsi di atap rumah. Udah kayak pengungsi Vietnam. Alhamdulillah ujannya berenti dah udah subuh kira-kira. Ibu masak mi buat adek-adek kamu”

Saya bengong mendengar cerita itu. Terbayang Ibu saya, beserta anak menantu dan cucunya, semuanya berjumlah delapan orang, berjejalan di ujung lancip segitiga loteng rumah. Menangkring bagaikan burung. Saling menutupi anggota keluarga dari terjangan dingin dan hujan, pakai terpal plastik. Dan memasak mi instan dengan kompor minyak. Gila, itu sih akrobat namanya.

Ditambah binatang-binatang pengungsi, macam tikus got, anjing tetangga, kecoak, kucing liar, semut; terbayanglah sebuah cerita epik tentang kapal Nabi Nuh zaman modern, namun dalam versi karam dan terbalik.

Ini bukan keluarga saya. Tapi kira-kira begini illustrasinya. Bedanya sama banjir di Cilincing yang dialami keluarga saya adalah, ada lebih banyak manusia (plus binatang) di atap itu. Ditambah satu sama lain saling pegang terpal plastik biru melindungi dari hujan. Plus ditengah-tengah mereka, ada ibu-ibu yang sedang memasak mi instan pakai kompor minyak tanah.

Ini bukan keluarga saya. Tapi kira-kira begini illustrasinya. Bedanya sama banjir di Cilincing yang dialami keluarga saya adalah, ada lebih banyak manusia (plus binatang) di atap itu. Ditambah satu sama lain saling pegang terpal plastik biru melindungi dari hujan. Plus ditengah-tengah mereka, ada ibu-ibu yang sedang memasak mi instan pakai kompor minyak tanah. (kredit foto untuk deredactie)

Jadi pagi ini. Tepatnya dini hari, saya dan Gugun masih bertukar pikiran lewat pesan-pesan digital. Kami bicara banjir. Tentang pemerintah daerah yang kerja mati-matian. Tentang para politisi pusat yang belaku ugal-ugalan. Tentang harapannya bisa mengunjungi orangtua. Tentang bocah kecilnya yang sudah memiliki mind-set bahwa banjir adalah fenomena alam yang wajib dijadikan arena bermain. Tentang kegilaan warga Jakarta yang berharap datangnya seorang utusan Tuhan yang mampu menuntaskan banjir secepat kilat tapi tetap buang sampah seenaknya. Kami bicara semuanya.

Saya lebih banyak diam dan hanya bertanya. Tak mampu berbuat apa-apa. Paling bisa, kirim uang buat beli makanan siap saji dan pulsa. Tak bisa lebih dari itu. Saya salut dengan mereka yang mengambil tindakan cepat menuntaskan banjir ini. Sama salutnya dengan mereka yang langsung turun tangan membantu korban bencana. Doa saya, dalam diam, untuk para korban dan mereka yang membantunya. Lepas dari itu adalah bagian dari kerja mereka atau sukarela, tetap saja bahagia ada orang-orang yang mau membantu keluarga dan warga Jakarta lepas dari bencana banjir ini.

Tadi malam saya bicara dengan sahabat, Kang Adi. Soal banjir Jakarta. Beliau cerita tentang Paris yang dulunya adalah kota super jorok dan banjir menggenang di mana-mana. Ketika Napelon berkuasa di Perancis, walau diktator dan agak gila, tapi beliau sadar bahwa kota Paris butuh penguasaan terhadap tata kota. Dengan tangan besi, ia memerintahkan arsitek dan insinyurnya, Baron Hausmann dan Eugene Belgrand, untuk membangun jaringan gorong-gorong kota sepanjang 600 kilometer. Gunanya untuk mengontrol air bersih dan air kotor kota Paris. Kang Adi menambahkan, bahwa pekerjaan ini walau dikontrol dengan tangan besi dan bujet tak terhingga, tetap saja butuh waktu 23 tahun.

Saya lalu berbagi cerita tentang air kota New York, sebuah proyek yang sedang dikerjakan oleh teman-teman. Bahwa ini adalah salah satu proyek yang paling lama dan paling eksis di kota itu. Selama manusia di kota New York ada, selama itu pula proyek ini berjalan dan terus berkembang. New York dibangun dalam lapisan. Mirip kota diatas kota. Lapisan paling atas dihuni oleh manusia. Lapis bawahnya oleh jaringan transportasi bawah tanah. Dibawahnya lagi ada jaringan uap, telekomunikasi, gas dan sebagainya. Lalu dibawahnya lagi ada jaringan air. Namun mengandalkan jaringan gorong-gorong, saluran air dan penampungan. Walaupun terlihat kompleks dan rumit, sebenarnya sederhana. Para pendiri kota New York sadar bahwa mereka butuh ruang untuk menyaring air bersih. Maka itu, ada banyak bagian kota New York yang dibiarkan sangat hijau untuk menyaring kebersihan lingkungan mereka.

Tapi tentu kami tidak begitu saja membandingkan Paris (yang sudah ada sejak zaman batu, sekitar 700 ribu tahun lalu) atau New York (yang sudah dihuni  sejak 1524 M) dengan Jakarta (yang baru berapa puluh tahun merdeka). Tentu saja kami tidak berani membandingkan peraturan dan kedisiplinan kota-kota itu dengan kedisiplinan warga Jakarta dalam menerapkan peraturan mereka.

Tidak mungkin memaki-maki orang Jakarta. Sebab untuk saya, ibarat memaki refleksi di depan kaca. Lahir dan besar di Jakarta, serta masih memiliki kartu identitas Jakarta, membuat saya terlihat bodoh memaki diri sendiri pada bayangan refleksi. Hanya sekedar untuk memuaskan jiwa sementara, memaki warga Jakarta (atau mereka yang mengaturnya) jelas membuat saya tidak menjadi lebih hebat daripada lainnya.

Paling yang saya bisa, ketika berkaca di dapur berkata dalam hati “Aku cinta kamu. Aku nggak mau keluargaku hanyut kebanjiran lagi. Aku nggak mau kena penyakit gara-gara air kotor. Aku mau bantu tetangga dan teman-teman menanam pohon dan mendirikan taman jadi kami bisa main bersama. Aku mau ajak jalan-jalan anak di udara pagi bersih. Aku mau bantu siapa saja yang mau mengurangi stress akibat macet. Aku mau kerja keras, karena aku cinta kamu”

Agak narsis memang. Tapi tidak apa-apalah. Hehe.

Sebab mungkin saja kota ini butuh orang yang mencintai dirinya dengan tulus sebagaimana ia mencintai lingkungan tempat tinggalnya.

Namun jika tidak begitu, mari siap-siap kita hadapi Jakarta yang akan jadi rumpon Atlantis baru. Hehehe…

Cara Menentukan Solar Azimuth Yogjakarta (atau dimanapun kamu berada)

Apa itu Solar Azimuth?

Sudut azimuth adalah sudut matahari yang mendefinisikan arah datangnya radiasi matahari, sedangkan sudut zenith matahari atau elevasi surya mendefinisikan seberapa tinggi matahari. (Elevasi adalah bagian dari zenit.) Ada beberapa konvensi untuk azimuth matahari, namun secara tradisional didefinisikan sebagai sudut antara garis lintang selatan dan bayangan batang vertikal bumi. Konvensi ini menyatakan sudut adalah positif jika datang dari garis timur (condong ke selatan) dan negatif jika datang dari barat (condong ke selatan). Hitungan ini berdasar pada asumsi dasar matematika (sebab jika memakai asumsi dasar navigasi, akan menggunakan basis Utara/Selatan sebagai patokannya.
Misalnya karena timur akan menjadi 90 ° dan barat karena akan menjadi -90°.

Ada pula anggapan lain sebaliknya; Yaitu memakai asumsi navigasi. Jika arah asal adalah maka diambil langkah-langkah pendifinisian memakai sudut searah jarum jam. Sehingga timur menjadi negatif dan barat menjadi positif.

Namun, karena tradisi, yang paling umum diterima konvensi untuk menganalisis radiasi matahari (misalnya untuk analisa radiasi sebagai bahan energi surya) dipakai analisa searah jarum jam dari utara, sehingga timur adalah 90 °, selatan menjadi 180 ° dan barat adalah 270 °. Ini adalah definisi yang digunakan oleh National Renewable Energy Laboratory (Laboratorium Nasional Energi Yang Dapat Diperbaharui di colorado US) dalam perhitungan kalkulator posisi matahari mereka.

Dalam bahasa Indonesia sederhana, solar azimuth kira-kira adalah waktu terbit dan tenggelamnya matahari

Mengapa butuh penentuan solar azimuth?

  1. Jika kamu hobi beribadah dan butuh panduan matahari sebagai sarana penentuan waktu ibadah
  2. Jika kamu mau tahu kenapa matahari tenggelam suka pindah-pindah (seperti kejadian ketika saya, Almas dan Piere suatu sore di teluk Ambon. Almas berkata “Bang mataharinya biasanya tenggelam di laut, saya bingung kenapa mataharinya sekarang pindah tenggelam di balik bukit”. Untung bukit itu tidak jauh dari laut. Kalau jauh, saya bisa jadi menyarankan Almas segera ke tukang kacamata)
  3. Jika kamu iseng
  4. Jika kamu kesasar dan butuh panduan matahari
  5. Jika kamu riset dan suka naik gunung
  6. Jika kamu mau membuat pembangkit listrik tenaga matahari
  7. Jika kamu tidak punya kerjaan dan tiba-tiba rindu dengan makna hidup ini dan mendengar lagu Padi yang dikarang Piyu “Bayangkanlah bila aku terpisah jauh darimu. Bayangkanlah bila mentari tak mampu lagi menyinari dunia.”

Bagaimana cara menentukan solar azimuth Yogjakarta (atau dimanapun kamu berada)?

  1. Pergi ke Sun path chart program buatan Universitas Oregon
  2. Isi pertanyaan "Use these values:" Dengan latitude -7.7972 dan longitude 110.368 (Kenapa? Karena berdasarkan data itulah lokasi Daerah Istimewa Jogjakarta. Kalau lokasi kamu tidak ada dalam data tersebut, maka ikutilah petunjuk Mang Gugel dalam menentukan kordinat)
  3. Isi pertanyaan "Specify time zone" dengan jawaban UTC+7. Kenapa +7? Karena katanya Bang Roma berjudi itu haram (kalo kalah ama bandar). Tapi sebenarnya Jogja adalah UTC+7 karena itu adalah standar Greenwich Mean Time berdasarkan data local time. (*Situ nggak setuju dengan angka +7? Kalo berani bikin aja sendiri*)
  4. Isi pertanyaan "Choose data to be plotted" dengan "Plot dates 30 or 31 days apart, between solstices, December through June" kalau mau melihat data datangnya radiasi sinar matahari dari Desember sampai Juni. Kalau mau melihat dari bulan atau waktu tertentu lain, silahkan isi sendiri. banyak pilihannya kok.
  5. Isi pertanyaan "Set chart format parameters" dengan "Extend azimuth axis from 0° to 360°", "Extend elevation axis to 90°", "Show hours in international style". Jawaban lain akan dipilih dengan otomatis. Garis biru adalah kurva sinar matahari dan garis merah adalah jalur jam.
  6. Saya isi pertanyaan "Specify labeling options" dengan line 1 = A dan line 2 = B. Entah apa maksudnya, iseng aja biar gampang ngenalinnya nanti. Walopun ternyata ga berguna juga. Kampret.
  7. Di pertanyaan "Choose file format for chart" bisa output PDF bisa juga PNG. Terserah situ aja mana yang paling enak buat di print atau di simpan.

Hasil

Solar Azimuth Jogjakarta Solar Azimuth Jogjakarta

Cara baca

cara baca azimuth radiasi matahari jogjakarta

A = Timur B = Barat XXX = Rumah kamu (di jogja sana) Garis biru = arah matahari Garis merah = jam

Adakah cara lain?

Ada dong. Nah ini dia petunjuknya. Coba salah satunya:

  • Lihat di web time and date waktu terbit dan tenggelamnya matahari Jogja. Seting sendiri waktu yang dirasa pas. Sayangnya data yang keluar berupa angka. Nggak asoy geboy.
  • Datang langsung ke Jogjakarta dan lihat itu matahari kapan terbenam dan terbitnya.
  • Kalo nggak bisa dateng, coba telpon atau kontak sodara/teman atau siapalah yang tinggal di Jogja. Tanyain aja langsung ama mereka

Uninstall trusteer di OSX

  1. Buka Terminal (cmd+spasi: ketik terminal)
  2. Kopi paste nih ayat: cd /Library/Rapport
  3. Trus kopi paste lagi ayat ini (daripada ngetik malesbanget, hehe): sudo ./RapportUninstaller.sh
  4. Ketik paswotnya (iya, paswot mac kamu, masak macgyver)

Udah deh, beres kaka

Nggak bisa juga? Itu artinya sialan dangkalan. Harus ikutin ini http://qr.net/kscsm (trus liat di Library masih ada folder Rapportnya atawa kaga)

Kalo kamu orangnya bukan parnoan (yang tidak ada hubungannya dengan panuan) dan/atau nggak punya relasi ama US/foreign bank dan/atau percaya bahwa omongannya #snowden cuman dongeng isepan jempol semata gara-gara tai laler di lehernya itu terlihat kurang seksi dan/atau nginstall trusteer di kompie dan kamu lalu bahagia dan percaya bahwa kamu terlindungi oleh semua mara bahaya dunia akhirat, maka santai aja. Kamu ga harus uninstall kok.

Kalo ngerjain peer dikit, kaka akan ngeliat banyak hal ajaib soal usaha keamanan mereka ini tapi kalo ngerjain peernya sambil sedikit ngupil maka kaka akan ngeliat: trusteer nyimpen pass dan berbagi ke jaringan bank mereka. Tiap orang boleh punya pendapat masing-masing. Pendapat aye.., bangke banget bank-bank gede US/foreign nakut-nakutin  dan lalu membuat pelanggan nginstall b*atch di kompie mereka.

Mentang-mentang gede, klakson sembarangan, huh! Belom pernah dikencingin orang sekampung kali yee?

Tentang Rockstar 1 – Vonis Ukulele

(*Sudah beberapa bulan terakhir ini saya hidup dalam pengaruh obat resep dokter. Obat ini sedemikian keras membuat banyak sekali efek samping dalam tubuh. Efek samping ini saya tulis dengan rajin ke dalam telepon genggam. Kini tulisan-tulisan itu dijadikan tulisan berseri. Silahkan menikmati. Jika dirasa mengganggu, jangan anggap serius, anggap saja fiksi*)

16 Maret 2013

Ruangan ini serba putih. Kira-kira berukuran empat kali empat meter persegi. Sisi selatan ruangan adalah dinding kaca tebal sekitar sepuluh milimeter sebanyak dua kali lipat untuk menahan dingin di musim salju, saat ini tentu saja bukan musim dingin, matahari menyeruak masuk menerobos dinding kaca yang dibatasi tirai putih tipis sebagai sekatnya. Ada sebuah meja di sana dengan satu kursi dan komputer. Di belakang komputer seorang lelaki setengah baya yang bernama Job dengan kepala hampir setengah botak berwajah tirus memiliki senyum hangat menjabat tangan saya dan berkata, “silahkan duduk”.

Saya duduk di seberangnya. Ada dua kursi di hadapan meja beliau. Saya ambil kursi sebelah kanan, dekat dengan dinding kaca. Agar kena hangatnya sinar matahari. Iya, ini memang bukan musim dingin, ini sudah musim semi, tapi suhu di luar masih sekitar 6-7 derajat Celcius. Masih belum hangat. Namun ruang praktek ini cukup hangat.

Dokter Job adalah salah satu ahli saraf terbaik di Eropa. Dan saya, ahh saya hanya bisa berdoa semoga saya satu-satunya orang Cilincing yang jadi pasiennya. Sebab sama sekali tidak ada niatan untuk ajak-ajak orang sekampung untuk jadi pasien beliau.

Hari ini saya datang untuk kontrol tahunan. Sebagaimana hari lainnya, hari ini seperti hari suci buat saya, setiap tahun saya datang ke ruangan ini untuk kontrol satu bagian kecil di tubuh bernama saraf otak.

Saya tidak pernah tahu apa yang salah dengan otak saya. Saya pikir saya selalu baik-baik saja. Sebagaimana manusia bumi lainnya, saya pikir saya toh normal-normal saja. Saya bisa makan, berliur, batuk, bernafas, kencing, kentut, berak, dan alhamdulillah sekali-kali masih bisa orgasme. Apa yang salah? Saya pikir tidak ada yang salah?

Sayangnya, sejak 2006 saya sering sekali kena migrain. Sakit kepala. Bukan sembarang sakit kepala. Sebab hanya menyerang bagian kanan kepala. Tidak pernah bagian kiri. Sebagaimana sakit kepala, terang saja ia hanya menyerang kepala. Tidak pernah menyerang pantat. Sudah berkali-kali saya berobat. Tanya dokter ini, tanya dokter itu jawabnya sama; banyak-banyak istirahat-dengarkan tubuh. Saya ke pengobatan alternatif, tubuh disuntik-suntikkan jarum naudzubilah banyaknya dari ujung kaki sampai ujung kepala, tetap saja tidak sukses.

Oleh teman diajak ke orang pintar. Saya sebenarnya tidak pernah percaya, buat saya Muhammad Hatta itu orang pintar, Leonardo da Vinci itu orang pintar. Mbah Jambrong dari Gunung Kidul, apanya yang pintar? Tapi karena serangan migrain makin hari makin parah hingga saya pernah jatuh tak sadarkan diri di stasiun kereta hingga satu jam penuh terkapar di sisi jalan, akhirnya saya menurut. Hebat sekali Mbah Jambrong van Gunung Kidul, sebab ia menjamin kepintarannya mampu menyembuhkan penyakit migrain saya. Segala macam jampi-jampi beliau dan aroma dupa yang membuat sesak napas (walaupun aroma baju beliau lebih membuat saya sesak napas) ternyata sukses tidak membuat saya sakit kepala sebelah, melainkan seluruhnya. Semua bagian kepala, sakit semua, ketika saya keluar dari ruang praktek beliau.

Walaupun tentu saja bukan gara-gara Mbah Jambrong, sakit kepala sebelah ini makin ajaib. Mata saya makin sensitif terhadap cahaya. Kadang-kadang ketika memimpin rapat saya harus memakai kacamata hitam. Beberapa rekan dari laboratorium di Milan bahkan membawakan kacamata khusus untuk saya, kata mereka “kamu akan terlihat lebih modis dan vampiris dengan kacamata ini”. Kampret!

Saya pun makin jarang ke tempat hiburan malam. Teman-teman bahkan sampai bosan mengajak. Bukan karena apa, sebab sering pusing melihat lampu kelap-kelip. Jangankan clubbing, main game di komputer atau tablet saja sudah jarang. Sebab hasilnya sama, saya makin sering kena serangan migrain kalau melakukan dua hal itu.

Makin hari, dunia semakin riuh. Aneh, entah kenapa? Saya sendiri tidak mengerti. Saya akhirnya membeli headphone yang katanya mampu meredam suara luar hingga 32 desibel. Suara cempreng tapi pelan Amy Winehouse dan Iwan Fals yang akhirnya mampu menghibur saya dari bisingnya dunia. Mahal? Bodo amat! Sebab hanya dengan cara ini sakit kepala sebelah saya akibat berisiknya dunia bisa dikurangi.

Tahun 2011, saya bertemu Dokter Job. Spesialis saraf otak. Saya masih ingat saat itu bulan November. Beliau memberikan obat sakti bernama Topamax. Dosisnya rendah, hanya 25 miligram per dua hari. Saya hanya minum satu tablet kecil setiap dua hari. Gampang kan? Iya gampang. Hanya syaratnya yang agak susah, katanya beliau harus diminum selama 1,5 tahun lamanya.

Waktu itu saya tercengang. Buset dah 1,5 tahun? Lama amat, dok?

“Ente mao sembuh ga? Kalo mao, jangan cerewet jangan protes!”

Akhirnya dengan pasrah (walaupun sambil bersungut-sungut), saya jalani pula 1,5 tahun hidup bersama kekasih baru bernama aneh itu. Sebagaimana selingkuhan, tentu saja ia saya sembunyikan dari tatapan anak, keluarga dan teman-teman saya. Saya malu, punya selingkuhan. Satu-satunya tempat saya berani dengan terang-terangan mengakui bahwa ia adalah selingkuhan saya adalah ketika di bandara, sebab petugas keamanan bandara selalu bertanya, “Apa ini? Kamu bawa narkoba yaa?”. Yang dengan santainya saya jawab dengan lambaian surat cinta dari dokter spesialis bedah saraf.

November 2012 saya merasa jumawa. Sudah setahun ini saya tidak pernah jatuh tak sadarkan diri. Juga tidak pernah kena serangan migrain. Prestasi saya di pabrik membaik. Saya dapat bonus. Saya juga sampai bingung. Tumben saya dapat bonus. Biasanya saya kan biasa-biasa saja. Maka akibatnya, saya putuskan secara sepihak, bahwa saya sudah tidak membutuhkan selingkuhan saya ini. Oke Topamax, sudah saatnya kita berpisah. Itu yang ada di kepala saya. Habis manis sepah dibuang. Nasibmu ibarat permen karet. Bye bye, baby

Pelan-pelan, tanpa sepengetahuan siapapun juga, kecuali saya dan pil-pil (yang saya anggap laknat) ini, saya mengurangi dosis. Dari satu tablet per dua hari, jadi satu tablet per tiga hari. Lalu jadi satu tablet per empat hari. Lalu per minggu. Lalu per dua minggu. Hingga pada 16 Februari 2013, secara total akibat pil habis, saya berhenti total dari selingkuhan saya ini.

Maret 2013 saya putuskan untuk hidup sederhana. Maksudnya sederhana adalah tidak banyak riset dan bepergian lagi sebagaimana tahun-tahun terdahulu. Saya letih. Tahun ini saya mau tiarap. Mau istirahat. Mau jadi bapak yang baik dan benar. Vivere pericoloso wannabe dan jadi adrenalin junkie itu bukanlah hidup yang sederhana. Saya putuskan untuk membantu proyek sahabat saya berkebun cabe dan membuka kolam ikan nila. Jadi tani euy. Hehe.

Sulit? Hmhh, tidak juga. Jadi bapak yang baik dan benar itu ambisi personal saya. Tidak ada yang salah buat saya pribadi untuk jadi ayah putri semata wayang yang amat saya cintai itu. Saya mencintai Novi dan saya mencintai fungsi saya sebagai ayahnya. Apapun yang terjadi, akan saya tempuh.

Tapi berhenti jadi adrenalin junkie? Ugh, itu lain ceritanya. Satu satu, pelan-pelan, saya putuskan kontak dengan beberapa orang yang mampu membuat saya hidup dalam kondisi bahaya. Ini berat sekali. Banyak yang tidak bisa menerima dan lalu memutuskan kontak selamanya. Saya sangat bisa mengerti. Kami pernah bertarung bersama menantang bahaya gelapnya malam, mempertaruhkan nyawa. Saling melindungi, saling menjaga, saling merawat. Hidup dalam kode etik, disiplin dan sumpah setia. Kini ketika salah satu harus pergi demi hidup domestikasi, mereka kecewa. Saya mengerti. Hanya bisa mengurut dada dan mengikhlaskan. Yang terjadi mungkin memang harus terjadi. Yang bisa diterima, itu yang dijalani. Seperti kata Bob Marley, sahabat baik datang dan pergi. Hidup toh tak selamanya berujung bagai cerita akhir dongeng ceria.

Akhir Maret 2013 saya rindu. Ini tak disadari. Rindu menusuk hingga pembuluh nadi. Jauh merambat ke saraf otak. Saya kembali jatuh tak sadarkan diri. Di stasiun kereta. Di kantor. Di dapur. Di depan kantor pos. Di mana-mana. Selingkuhan pelan-pelan merayap menyayat di kepala menagih janji untuk ditelan lagi.

16 Maret 2013.

Saya duduk di hadapan Dokter Job. Dari tatap matanya, saya tahu ia kecewa ketika mendengar saya memutuskan sepihak dosis yang ia berikan.

“Kenapa kamu berhenti meminum obat?”

“Karena saya tidak mau hidup bergantung dari obat”

“Selama meminum obat itu kamu bagaimana?”

“Baik-baik saja, dok. Jadi saya pikir, saya bisa menghentikannya”

“Mulai sekarang kamu minum obat ini. Dosisnya naik empat kali lipat”

Saya bengong. Ini gila. Apa-apaan ini?

“Saya nggak terima, dok!”

“Yaa kamu harus terima. Ini hidup kamu sekarang. Kamu kena serangan. Kamu harus menerima ini sebagai bagian dari hidup kamu. Obat ini mencegah serangan itu terjadi. Kamu harus bisa menerima”

“Saya nggak terima!”

Dia senyum. Mungkin bosan mendengar saya terus mengulang-ulang pernyataan bagaikan kaset rusak.

“Kamu punya keluarga disini?”

“Saya punya anak, umurnya sebentar lagi lima tahun…”

“Kalau kamu masih mau hidup. Kalau masih mau jadi bapak untuk dia, kamu harus terima kenyataan ini”

Saya mau gebrak meja. Banting kursi. Menendang apa yang ada dihadapan saya saat itu. Untuk mengungkapkan bahwa saya kesal. Saya marah. Saya kecewa. Bahwa hidup saya bergantung pada zat kimia. Saya tidak bisa terima kebebasan saya terbatas. Saya mau menunjuk-nunjuk batang hidungnya dengan jari telunjuk dan berkata bahwa ia salah.

Sayangnya, dalam hati kecil ini, saya tahu kalau ia benar. Maka tidak ada satupun tindakan diatas saya lakukan.

Sore itu, saya tidak tahu mau kemana. Resepsionis memberikan daftar janji bahwa saya harus bertemu dokter Job lagi pada tanggal 16 Juli. Perempuan berjilbab itu bilang kalau saya secepatnya harus ke apotik.

Saya tidak mau ke apotik. Saya ambil trem menuju pusat kota. Tidak tahu mau kemana. Terserah langkah kaki akan membawa.

Di trem, perempuan asing manis berambut coklat sebahu yang duduk di seberang bangku memberikan tissu. “Ini untuk kamu”, sambil senyum walaupun matanya menyiratkan kalau ia khawatir.

Saya terperangah sejenak. Lalu senyum membalasnya. Menolak. Saya bilang saya tidak apa-apa. Tapi sebentar kemudian saya sadar, kenapa ia menyodorkan tissu? Saya belum pernah dalam hidup ini bertemu dengannya. Kenapa ia memberikan sesuatu kepada saya? Apa imbalan yang mau ia terima?

Saya tanya, “Terimakasih Mbak, tapi kenapa situ memberikan tissu?”

“Untuk airmata kamu…”, jawabnya sedih.

Saya kaget luar biasa. Airmata? Airmata darimana? Dari Hongkong? Saya menunduk. Saya lihat jaket hitam bagian dada basah. Astaga! Saya lihat kaca jendela. Refleksi disana terlihat seorang lelaki berwajah melayu kuyu dengan muka kebingungan dan air mata mengalir begitu saja tumpah ruah dari sela-sela matanya. Astaga! Saya menangis rupanya. Sh*t!

Saya malu sekali. Buru-buru menyetop tombol memberhentikan trem. Tidak tahu saya ada dimana.

Saya tidak terisak-isak. Tidak ada rasa ingin menangis. Tidak ada keinginan sedikitpun terpendam ingin sok memperlihatkan emosi di depan publik. Tapi kenapa ini airmata turun begitu saja?

Saya lap air mata sambil berjalan menyisiri kanal dalam udara siang yang dingin. Sinar matahari menerpa hangat wajah. Pelan-pelan saya sadar kalau saya sudah dekat stasiun pemadam kebakaran. Dekat sana ada toko yang khusus menjual ukulele.

Etalase terpampang banyak ukulele. Diantaranya ukulele yang ada lumba-lumbanya. Ahh, putri saya pasti suka ukulele itu. Toko ini tutup. Tidak ada orang di sana. Jalan ini sepi. Dan di situ, tiba-tiba saya merasa ingin menangis. Saya jatuh duduk di tepi jalan, di depan etalase toko ukulele. Tetap tidak menangis. Entah kenapa. Mungkin karena saya sok macho. Tapi kenapa juga saya sok macho? Padahal orang sok macho kan mati muda. Lihat itu Chairil Anwar? Lihat itu Jim Morrison? Sok macho semua itu manusia. Masak saya mau ikut-ikutan gerombolan mereka?

Saya lihat matahari di atas sana. Langit biru dan awan putih beararak-arak. Saya pikir saya harus tetap bertahan hidup. Untuk diri saya sendiri dan untuk putri yang amat saya cintai.

Sambil menangis saya senyum. Hidup ini lucu sekali ternyata. Mati-matian saya menjauhi diri dari bahaya maut yang mampu mengancam jiwa. Namun apa boleh dikata, tiap orang punya jalan hidup (dan juga jalan mati) masing-masing. Dengan segala kecerdikan, saya coba mengakali agar maut tidak mengintai dari balik jendela. Tapi, itu percuma. Yang ada, saya hanya terlihat membodohi diri sendiri.

Saya tatap langit. Matahari, awan, langit, masih disana. Saya satukan jari angkat tangan beri mereka salut tanda penghormatan sambil bergumam dalam hati, “terimakasih untuk humor hari ini”.

Kaki melangkah. Tujuan selanjutnya, toko musik yang masih buka. Tiba-tiba saya punya cita-cita baru. Dalam hidup yang indah tapi singkat ini, selain jadi bapak yang baik dan benar, saya juga ingin bisa main ukulele ☺

Jikalau saya ada di kampung saya, tepatnya di Kelurahan Cilincing Tercinta Merdeka Permai Asri Dirgantara, maka saya akan serta merta mencoret-coret plang papan yang tertera di depan Karang Taruna, tempat nongkrong kami semua. Dimana disana tertulis semboyan seperti “Anu Pangkal Anu”, “Jika Anu Maka Anu”, “Dilarang Menganukan Anumu ” atau blablabla lainnya.

Sumpah mati, kalau saya disana saya mau ambil cat putih. Saya sikat semua dogma-dogma itu dan saya tiban dengan cat semprot tulisan baru “Hidup ini indah, nikmati bro selagi bisa!”

Hehehe…

Macan Mati Kata Eko

Mana yang lebih benar?
A. Sastrawan bernama Pramudya Ananta Toer (almarhum) yang berkata bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian
B. Novelis Amerika, James Shelter, yang berkata ‘Menulislah atau Kau Musnah’
C. Pujangga wanita Emily Dickinson (1830-1886) yang bilang bahwa ia akan hidup abadi melalui puisi-puisinya

Jawabnya?

Jawabnya tidak penting. Hehe.

Kenapa? Sebab apapun pilihannya hasilnya sama, yaitu karya. Kata Eko teman saya, macan mati meninggalkan belang. Manusia mati (harusnya) meninggalkan karya. Jangan meninggalkan belang, sebab kamu bukan macan.

Hanya dengan karya kita berkomunikasi

Tentang Kutipan

Tahun ini saya putuskan bahwa saya tidak akan membuat anak saya jadi yatim gara-gara hobi riset yang sedang dijalani.

Konsekuensinya, saya meninggalkan dunia petualangan ugal-ugalan ala Jason Bourne yang penyendiri dan berganti menjadi seorang petani yang berhubungan dengan tanaman, kebun dan bunga-bunga. Konsekuensi lain, saya dicap tidak konsisten sebab dengan begitu saja meninggalkan riset selama 5 tahun pas ketika hampir mencapai puncak karya. Tapi saya tidak begitu peduli. Anak saya lebih utama daripada semua puja-puji umat manusia. Konsekuensi lain, kata beberapa orang hidup saya jadi sedikit membosankan. Sebab harus berhubungan dengan manusia baik-baik dan melakukan hal yang baik-baik saja. Haha…

Sejak saya berganti hobi, dari tukang ojek yang suka cari masalah menjadi tukang kebun wannabe, akhir-akhir ini saya sering mendengarkan orang-orang di sekeliling saya bicara. Hidup di dunia yang berbeda itu butuh adaptasi, mendengarkan adalah kunci. Iseng-iseng saya kumpulkan kalimat paling banyak dan yang paling sering mereka ucapkan. Biasanya, kalimat-kalimat itu lalu menjadi kutipan-kutipan.

Kutipan-kutipan ini dikumpulkan berdasarkan banyaknya kalimat yang diucapkan paling sering/aneh (berdasar frekuensi) ketimbang kalimat-kalimat lainnya yang didengarkan. Atau paling tidak sering diucapkan atau terdengar di telinga (saya). Sama sekali tidak penting. Dan kelihatannya tidak berguna sama sekali, tapi ini cara (saya) mengidentifikasi personal dan ide-ide dibelakang kepala mereka (teman-teman/keluarga/kerabat kerja saya).

Berikut ini kutipan ucapannya:

(*Pengucap hanya dijelaskan tanpa menjelaskan nama asli mereka. Atas alasan privasi. Berikut ini tabel pengucapan kutipan):

Kutipan Pengucap
“Matahari tanpa wibawa” Diucapkan seorang seniman dari penghuni mantan komunitas seni Jogj. Kini beliau tengah naik daun sebab karyanya diburu oleh kolektor seni. Pada sebuah siang di musim dingin, matahari bersinar terik namun suhu menunjukkan angka -7C
“Memangnya kenapa?!” Diucapkan dengan nada mengotot dan mata melotot jika perlu. Sering sekali terlontar jika pendiri salah satu organisasi jurnalistik terkenal ini berbeda pendapat dengan lawan bicaranya. Sangat cerdas dan sangat kritis
“Manusia sering lupa dan bilang kita harus menyayangi alam. Padahal, kita manusia itu sendiri bagian dari alam” Filosof, pelukis dan ahli masak. Lelaki setengah baya yang sering lupa umurnya
“Gua mah kayak cowok. Abis orgasme tidur” Seorang wanita muda dari Indonesia ahli finansial mikro ketika berkomentar tentang perilaku seksual laki-laki vs perempuan
“Oh ya? Begitu yaa?” Kalimat yang sering terlontar dari wartawan senior yang sering meliput perang. Asam garam hidupnya sudah terlalu banyak. Sering skeptis dengan data dan selalu mempertanyakan keabsahannya
“Aku ini sudah capek. Pulang kerja maunya istirahat. Tidak mau lagi dengar masalah. Eh, di rumah selalu saja ada masalah. Gimana aku nggak gila!” Teriak seorang perempuan muda yang bekerja sebagai buruh migran mengomentari keluarganya yang selalu minta uang dan mengeluh soal uang setiap ia telpon ke kampungnya
“Terus.., terus.., terus…” Dalam setengah jam bicara ia hanya mengucapkan kalimat ini berulang-ulang. Pakar gender. Pendengar yang baik. Kadang suka galau tanpa sebab
“Saya takut ke Indonesia. Sebab di sana banyak orang islamnya” Perempuan muda juga. Dari Italia. Pernah bermukim lama di Jepang dan bersumpah bahwa saudara angkatnya, perempuan Indonesia beragama islam, adalah orang yang sangat baik. Ia belum pernah ke Indonesia dan kalimat ini diucapkan ketika ia dijawab harus liburan ke Indonesia saja.
“Hidup itu petualangan. Semua orang juga tahu. Basi. Yang orang nggak tahu itu, jangan terlalu jujur (ketika menjalani petualangan). Yang jadi pertanyaan, apa bener mau berhenti (berpetualang)?” Seorang lelaki muda, pebisnis, penulis dan filosof wannabe menceramahi saya di stasiun kereta ketika bercerita tentang hubungan antara pria dan wanita. Pacaran dengan perempuan di nomor empat.
“Sejak koneksi internet, tivi dan telpon saya putus, saya jadi kenal tetangga dan bartender di seberang jalan” Lelaki Inggris, 42 tahun, bujangan, ahli jaringan komputer
“Jumlah kekayaan itu seharusnya berimbang. Jika ada yang lebih kaya dari yang lain, artinya ia mengambil kekayaan dari kantong orang lain” Wanita. 27 tahun. Punker. Tidak punya pekerjaan tetap. Hobinya hidup menumpang dari rumah teman satu ke teman lainnya
“Ketika lo menguasai satu bahasa baru, satu dunia baru…, kebuka” Orang yang sama di nomor tiga
“Apa salahnya orangtua memanjakan anak. Kalau orang tua tidak mampu terus memanjakan anak, itu salah. Kalau mampu, kenapa salah?” Salah seorang pendiri komunitas seni ketika ditanya mengapa ia memberi subsidi terus pada komunitas seni baru
“Jadi begini…, bukan, bukan begitu…, gini…, eh… gimana yaa?” Pria, menjelang 40 tahun. Bujangan. Tinggal bersama orangtua. Bekerja paling lama 2 tahun di satu tempat. Sambil meremas-remas rambut ketika menjelaskan kisah cintanya yang dalam dalam 20 tahun terakhir, berantakan. Sebagaimana kisah cintanya, rambutnya yang sering dicukur pendek itupun kini sering rontok tumbang ke haribaan bumi
“Api ama asep itu sepaket” Kata seorang ibu-ibu dari Cilincing, Guru SD, ketika menceramahi anaknya yang hidup dipenuhi rumor-rumor tidak jelas
“Saya depresi. Saya mau pulang” Pengakuan seorang petani penggarap. Pria muda beranak satu yang rindu keluarganya dan jauh dari rumah
“Kalau lu membunuh satu pohon, sama aja lu bunuh banyak nyawa. Sebab pohon itu sumber hidup, sumber air, sumber kita” Kata seorang seniman senior sekaligus mantan pelarian politik. Kini jadi arsitek sekaligus petani
“Kalau kita terpaksa harus one night stand, pikir yang bener. Sebab dia harus berguna di masa depan. Jadi kalo kita butuh apa-apa, dia inget masa lalu, sebab kuncinya adalah nostalgia” Diucapkan seorang playboy dari Kebon Nanas, Jakarta. Di sebuah siang di Monas ketika ditanya apa kiat-kiatnya menjadi seorang player yang terus digila-gilai banyak wanita. Saat ini hidup dari tunjangan perempuan-perempuan yang dikibulinya (tanpa mereka tahu satu sama lain)
“Gimana caranya mengetahui kalau cowok kita masih perjaka atau nggak?” Tanya seorang perempuan muda, baru lulus SMU, lugu, asal Brebes, yang tengah berpacaran dengan lelaki dari Yunani. Seorang pendengar menjawab, jika pacarnya berusia tiga tahun, kemungkinan besar masih perjaka
“Saya mencatat omongan orang-orang. Saya jalan-jalan hanya untuk mencatat” Sambil bicara, lelaki muda berambut pirang dari Swedia ini membuka buku tulis dan mengambil pulpennya. Saat ini beliau dirawat di rumah sakit jiwa di Malmö. Katanya mengidap hypomania
“Orang yang kuat gampang terlihat ketika mereka bicara. Bukan dari cara bicara, tapi dari isinya” Lelaki dari Rumania. Bekerja di industri film dewasa sebagai editor dan pendistribusi konten. Mahasiswa teknik informatika. Gitaris. Baru saja diputus pacar. Suka memberi kursus bagaimana tetap tegar, kepada pria-pria yang mengalami disfungsi ereksi.
“Abis aku mau gimana lagi dong? Aku kan juga manusia!” Seorang wanita muda dari Indonesia lulusan sekolah tinggi teknik berprestasi akademis banyak sekali, menjawab dengan pertanyaan ketika ditanya mengapa ia menggoda seorang lelaki Irlandia rekan kerjanya yang beristri perempuan Korea
“Yang penting duitnya. Mau gendut, mau jelek, mau hitam, mau bau, nggak masalah. Yang penting duitnya” Lelaki setengah baya. Tambun. Berkumis. Pandai berhubungan dengan angkutan besar. Berprofesi sebagai penjaja cinta di Jawa dan Bali. Melayani pria dan wanita. Menjawab pertanyaan, apa rasanya menjalani profesi saat ini
“Durhaka itu hanya sudut pandang saja sebenarnya” Bapak dua anak. Petani merangkap pengusaha restoran merangkap pustakawan. Tinggal sporadis di beberapa daerah di pulau Jawa. Berkomentar soal tradisi sungkem
“Orang kalo jatuh cinta suka malu-malu” Seorang tentara khusus, ahli tembak jitu, pengawal RI-1, tanpa-ditanya-tanpa-diskusi tiba-tiba bicara cinta di markas. Komandannya mendelik ketika mendengar ia melontarkan kalimat ini. Ada delapan orang di barak saat itu, tiba-tiba semuanya terdiam
“Abis kalo nggak begituan saya stress” Perempuan muda. Masih SMP. Menjawab waktu diinterogasi di kantor Polres Tanjung Priok. Ketika tertangkap basah mengutil lipstik di supermarket. Orangtuanya keluarga terpandang, jadi tidak diproses. Tidak lama kemudian si ABG ini dipindah ke sebuah pesantren di Banyumas
“Lebih baik kaya sekarang daripada lebih kaya tapi nanti” Presenter televisi infotainment ketika membuka acaranya. Beberapa orang penonton bisik-bisik berkomentar bahwa si presenter tengah melakukan ‘mind fuck’, menggunakan media untuk memperkosa audensinya. Dari sejak jaman sekolah di Depok dulu, ia memang suka memperkosa logika lawan bicaranya
“Domba itu binatang yang cute sekali. Aku mau banget reinkarnasi jadi domba” Suatu sore sambil merokok. Perempuan, 26 tahun, seksi, ahli perangkat keras komputer, bekas tentara IDF ini berkata. Kini tengah berjuang mendapatkan promosi karena efisiensi kerjanya
“Yang penting itu usaha. Ikhtiar yang bener. Soal rejeki, bukan urusan kita” Ustad di Denpasar berkomentar soal bisnis anti hama yang dijalani sejak sepuluh tahun belakangan. Mantan preman Cilincing. Di bahu kanan masih memiliki tatto bertuliskan 100% HARAM. Masih bangga menunjukkan di paha kanan dekat selangkangan ada tatto bergambar hati dan nama pacar pertamanya
“Tetangga yang baik itu adalah tetangga yang menolong tetangganya berbelanja” Seorang kakek dari Turki. Pengusaha meubel kayu. Berkomentar ketika harus membeli barang melalui internet banking dan tidak tahu bagaimana caranya
“Sistem bisa salah. Sebab gangster bisa menguasai negara dan membuat sistem pemerintahan” Kata seorang mahasiswi arsitektur Semarang ketika mendebat temannya yang berdiskusi bahwa sistem pemerintahan RI itu selalu benar dan yang salah adalah oknum
“Radio itu dari awal ditemukan hingga sekarang sama saja. Ketika dibungkus kemasan berbeda mereka menyebut dagangannya radio baru” Seorang mantan CEO perusahaan elektronika multinasional terkenal dari US ketika tengah meyakinkan anak buahnya yang sangat skeptis
“Saya itu ibarat buku yang terbuka. Semuanya saya ceritakan ke sahabat dan orang-orang terdekat saya. Tapi kata suami saya, harus hati-hati dengan informasi. Sebab tidak semua orang itu sama” Kata seorang Ibu dari Swiss beranak balita dua orang ketika berkomentar soal bisnis high tech barunya dan kepada siapa dia harus cerita

Bagaimana? Aneh? Tidak cocok? Tidak penting?

Jangan khawatir. Bukan Anda saja yang bingung. Saya sendiri suka bingung. Tapi itu tidak penting. Yang penting adalah manusia itu berkomunikasi dengan caranya masing-masing. Dengan hasil yang masing-masing berbeda.

Dan saya sudah berbagi dengan Anda.

Jadi, kalau mau berbagi, apa kalimat dari mulut manusia di sekitar Anda yang paling ajaib/sering Anda dengar?

Tentang Perburuan Wanita (Sebelas – No Woman Zone)

Impulsif merupakan konsep multi-faktorial yang melibatkan kecenderungan untuk bertindak atas kemauan sesaat, menampilkan perilaku yang ditandai dengan pemikiran sedikit (atau tidak ada), refleksi buruk, serta pertimbangan tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang. Tindakan impulsif biasanya dideskripsikan sebagai, “tergesa-gesa, prematur, terlalu berisiko, tidak layak, membahayakan tujuan dan strategi jangka panjang”. Namun anehnya, ketika impulsif dilakukan dan mendapat hasil positif maka dilihat sebagai indikasi sebagai “keberanian, kecepatan, spontanitas”. Konstruksi impulsif meliputi setidaknya dua komponen independen:

  1. Bertindak tanpa sejumlah musyawarah
  2. Memilih jangka pendek dibandingkan keuntungan jangka panjang

Peristiwa Rengasdengklok, “penculikan” yang dilakukan oleh sejumlah pemuda (antara lain Soekarni, Wikana dan Chaerul Saleh dari perkumpulan “Menteng 31”) terhadap Soekarno dan Hatta, pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 04.00. WIB dapat dikategorikan sebagai peristiwa impulsif positif. Jika Soekarno dan Hatta tidak dibawa ke Rengasdengklok, Karawang, untuk kemudian didesak agar mempercepat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, yang jadi pertanyaan adalah: “Kalau tidak diculik, adakah kesepakatan antara golongan tua yang diwakili Soekarno dan Hatta serta Achmad Subardjo dengan golongan muda tentang proklamasi? Akankah esoknya, 17 Agustus 1945, kemerdekaan RI diumumkan?”

Sementara secara sederhana, peristiwa impulsif yang berujung negatif dapat dilihat sehari-hari dari para pecandu. Bisa narkoba, seksual, judi atau apalah namanya.

Saya bukan impulsif. Entah ini benar atau tidak, kurang begitu tahu. Setidaknya berdasarkan keyakinan pribadi, bukan seorang impulsif. Padahal jika dilihat dari sejumlah adrenalin yang terlibat dalam cerita perburuan wanita ini, kelihatannya saya pun seorang pecandu. Dari kadar hormon yang terlibat, kelihatan benar memang saya pecandu adrenalin. Dan ini, harus di rem biar tidak kebablasan.

Beberapa minggu lalu, muka saya hancur babak belur. Dipukuli beberapa gelandangan di kota Poznan. Soalnya sepele, seorang nenek-nenek di sebuah kereta bilang pada mereka kalau saya melecehkan ia dan bayinya. Walaupun tidak benar, tidak masalah, sebeb setelah itu saya dipukuli hingga babak belur. Insting saya bilang untuk tidak melawan. Pepatah lama Cilincing berkata, “Ada yang jual kudu dibeli. Tapi kalo ada kamera, laen ceritanya”. Dan kota Poznan, banyak terdapat kamera. Termasuk di tempat dimana kepala saya diinjak-injak beberapa orang gelandangan.

Ketika polisi tiba dan para gelandangan itu kabur, kamera CCTV memperlihatkan bahwa para gelandangan itu bukan para gembel yang biasanya mangkal di stasiun kereta. Insting saya benar. Ketika mereka sibuk menjadikan saya sansak hidup, kamera jelas sekali merekam para manusia ini. Itu orang sewaan. Assassins. Jika saya tidak berhasil menyikat sindikat penculikan bayi diatas kereta, setidaknya saya bisa menyikat mereka dengan pasal penganiayaan dan pembunuhan berencana.

Saya umpannya. Iya. Dengan tolol, saya menjadikan diri saya umpan untuk mencegah si nenek dan bayinya lari.

(*Insting ini berawal dari jumlah kunjungan wisatawan Polandia ke RI pada 2011 hampir 1 juta orang. Kamar dagang RI dengan Poland sedang bersinar terang dengan membaiknya hubungan dagang antar negara. Apa hubungannya? Tentu saja mereka tidak bodoh membuat jeopardi dengan membiarkan seorang WNI dipukuli hingga hampir mati di pekarangan belakang rumahnya. Apalagi terhadap seorang undangan resmi sebuah acara internasional*)

Neneng merawat luka dan sebelah mata saya yang hampir buta di rumah sahabatnya. Cukup lama. Dan disaat sepi dan sakit begini, kadang bertanya-tanya, apa yang dilakukan ini memang benar?

Tapi biar begitu, tidak ada yang mampu mengerem tindak dan riset ini…, kecuali jelas saya sendiri.

Sehingga sore itu saya biarkan Mbak Icih, seorang gadis desa dari pedalaman Finlandia, untuk duduk disamping saya menatap danau kecil yang ada di sebuah dusun di Utara Polandia. Kami duduk di dermaga kecil yang terbuat dari kayu sebesar cukup jalan setepak. Membenamkan hingga semata kaki ke air danau. Menatap riak tenang air terpantul matahari musim panas.

“Neneng itu sahabat saya. Dia mau kamu ada disini biar bisa ketemuan sama kamu. Tapi saya tahu, kamu punya maksud lain. Jangan kasih Neneng harapan palsu. Saya nggak mau dia sedih apalagi menderita karena gombalan kamu”

menara air stasiun kereta elblag

Menara kota Elblag. Berfungsi multi. Melihat musuh (jaman dulu), pengontrol lalu lintas kereta dan jadi menara air. Disini pula saya bertemu anak-anak muda yang terkena down syndrome. Bermain bola bersama mereka dan sadar ketika semuanya tidak punya ayah, sebab hanya ibunya saja yang menunggu. Kabar bercerita, perkosaan atau hubungan incest di kota ini amat tinggi kuantitasnya.

Diam saya mendengarnya. Iya, saya diundang ke dusun ini karena sahabatnya, Si Neneng adalah panitia sebuah acara pertunjukan seni yang melibatkan seniman internasional. Acara ini diadakan di sebuah dusun seni ekologis yang terletak di Utara Polandia. Tidak jauh dari dusun itu, sekitar sejam setengah berkereta, ada kota bernama Elblag. Di kota itu, adalah target riset terbaru. Dipicu oleh adrenalin, suatu hari setelah dapat data mentah, saya putuskan sampai ke acara pertunjukan seni ini. Sukur-sukur, kenal Neneng dan Mbak Icih yang panitia. Tapi rupanya feeling Mbak Icih tahu kalau saya datang kesana bukan untuk pertunjukan happening art. Apalagi mau ketemu Neneng dan dirinya. Ia tahu, kalau saya datang dengan maksud lain. Setelah sembuh dari luka mulai pergi pagi pulang malam, dan ketika sampai penginapan langsung mengurung diri di kamar mengetik laporan. Mbak Icih curiga. Kini, adalah maksudnya untuk mengerem langkah saya. Bukan menghalangi untuk maju dalam riset, namun menghalangi agar saya tidak menyakiti hati sahabatnya.

Dalam hidup ini, saya sering kebablasan. Saya tahu itu. Sering gagal. Itu pun lebih tahu. Sering menyakiti perasaan orang. Bukan sekedar tahu, tapi lama-lama jadi ahli rupanya. Mbak Icih tahu hal ini.

Sudah lama saya kenal dengan Mbak Icih. Roda nasib membawa kami bertemu walau selintasan di beberapa titik di muka bumi. Ia memiliki relasi khusus dengan Saipul, salah seorang sahabat sekaligus rekan bisnis saya. Mungkin dari Saipul ia tahu siapa saya. Hingga suatu hari berkata, “Di dunia kamu yang ada hanyalah anak, riset dan realisasi project masa depan. Semua itu tanggung jawab. Buat kamu, tidak ada celah lagi buat romansa. Dengar omongan saya, suatu hari kamu akan merasa sepi sesungguhnya. Masak kamu nyari perempuan yang satu misi dan visi? Itu kan omongannya korporat! Kamu ini manusia atau mesin sih?! Kamu tahu ga sih jatuh cinta itu apa?!”

Iya memang benar. Di akhir pekan saya sibuk urus anak. Di hari kerja, sibuk urus bisnis atau sibuk mengajar dan belajar. Tidur sehari paling lama empat jam. Kadang sampai sakit gara-gara kecapekan, kebodohan yang terus berulang. Tidak pernah libur, tidak pernah cuti. Kalau pun libur atau cuti, pasti disambi riset atau disambi kerja sampingan lainnya. Giliran ada waktu luang, bloonnya, bukan istirahat, malah update blog. Heh, kelihatannya ia memang benar. Apa iya saya jatuh cinta? Bukan hanya sekedar kenal lalu memanfaatkannya? Kalau jatuh cinta, kok malah bertanya? Jatuh cinta itu soal keyakinan. Tidak perlu tanya-tanya. Jatuh cinta itu sederhana jawabnya. Sebab hanya punya pilihan dua, “tidak” atau “iya”.

Jangan-jangan saya robot? Tapi kalau robot (atau malah cyborg), sumpah mati saya jatuh cinta pada putri semata wayang.

Ahh, saya bukan robot. Masak saya robot? Kalaupun iya, saya menolak untuk dirobotisasi. Saya harus jadi manusia.

Salah satu cara jadi manusia adalah berbuat salah. Reckless. Tidak pikir panjang. Atau dengan kata lain, impulsif. Maka saya putuskan untuk impulsif siang ini.

Memalukan, berlagak impulsif hanya sekedar demi pencitraan agar terlihat manusiawi di depan Mbak Icih.

Bahkan untuk sekedar terlihat jadi manusia, dengan menyedihkan saya mengatur untuk “menampilkan perilaku yang ditandai dengan pemikiran sedikit (atau tidak ada), refleksi buruk, serta pertimbangan tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang”.

Jangan-jangan, saya ini memang robot? Tapi persetanlah.

peron 2 stasiun kereta elblag polandia

Stasiun Elblag. Sampai disana siang hari. Baru keluar dini hari. Sudah tidak ada lagi angkutan publik. Ini kota kecil. Pada musim panas, jam sembilan malam, angkutan publik dalam kota sudah habis. Untuk pulang ke Olsztyn dini hari, terpaksa harus merogoh kocek sekitar €135 untuk taksi

“Tadi malam saya ke lokalisasi pelacuran”

(*Sumpah mati saya berharap bahwa ia hanya sekedar akan menghakimi perilaku seksual dan menceramahi dengan sejuta khotbah moral. Dan saya hanya akan mengangguk-angguk, pura-pura mengiyakan bahwa saya sebenarnya adalah manusia cabul yang perlu dinasehati dan dibimbing sepanjang hidupnya. Sayangnya saya salah. Ia lebih pintar daripada sekedar tukang ceramah*)

Mata Mbak Icih menyipit. Curiga. “Neneng tahu?”

“Nggak. Saya dateng sendirian”

Ia diam. Lama sekali. Rambut pirangnya, bikini merahnya, likuk tubuh langsingnya, memantul di riak air danau depan saya. Ia mendesah bertanya kenapa.

Kali ini saya diam. Saya pikir sudah saatnya jujur. Bertindak impulsif. Bercerita kejadian terkini tanpa memikirkan konsekuensi keamanan selanjutnya.

“Saya harus bertemu Heidi, mantan germo. Suaminya pilot. Orang kaya mereka”

“Kamu ketemu mantan germo perempuan dan suaminya? Maksudnya? Kamu pesta orgy?”

“Nggak, saya wawancara sama Heidi. Suaminya duduk disamping menguatkan dia”.

Ketika mata Mbak Icih makin mengerenyit kebingungan, ceritalah saya semuanya.

Heidi adalah gadis muda. Umurnya baru 18 tahun pada tahun 1995. Bapaknya seorang haji sekaligus pedagang karpet kulit kambing di kota Baranavichy di Belarus. Aslinya mereka dari bagian barat Belarus. Dari suku Tatar. Suku yang terdiri dari campuran antara Eropa Selatan dan Asia Utara. Minoritas suku Tatar ditemukan di daerah Uzbekistan, Kazakhstan dan Ukraina. Abad ke-10, seorang misionaris sekaligus petualang bernama Ahmad ibnu Fadlan mengubah suku ini menjadi muslim. Salah seorang anggota suku ini terkenal menjadi petenis perempuan nomor wahid dunia bernama Dinara Safina. Namun perempuan-perempuan dari suku ini pula, incaran empuk para pedagang budak seksual mancanegara. Termasuk Heidi. Yang ketika baru menginjak 18 diculik dalam sebuah minivan. Diperkosa sepanjang jalur antara Lida, Alytus, hingga Olsztyn. Ketika baru berulang tahun, diperkosa diatas tiga negara.

Heidi bukan gadis bodoh. Ia tahu ayahnya, seorang pelaku bisnis yang memiliki banyak jaringan pasti akan mencarinya. Pelan-pelan ia cari cara melepaskan diri. Mencoba menggalang kekuatan bersama gadis-gadis lain yang juga diculik.

Sial, para penculik tahu usahanya. Heidi diperlakukan khusus. Mereka memperbaharui jadwal hariannya:

  • 0400 : Bangun tidur. Cuci baju para penculik.
  • 0430 : Sambil mencuci, harus melakukan orak seks kepada penculik
  • 0500 : Memasak untuk para penculik
  • 0530 : Diperkosa penculik
  • 0600 : Penculik mulai makan. Jika makanannya jelek, ia diikat dan dicambuki di pohon pada lapangan yang terletak di kamp penculikan hingga dua jam berikutnya. Jika makanannya memuaskan, ia diperkosa oleh tiga penculiknya secara bersamaan. Sambil mereka menceramahi betapa buruk jiwanya dan betapa ia tidak layak hidup dan kembali ke keluarga
  • 0800 : Sarapan dan mandi
  • 0830 : Dibawa berjalan-jalan dengan van. Para penculik menawarkan dirinya ke satu persatu rumah pelacuran. Ia harus laku. Kalau tidak laku, harus bergaya segenit mungkin agar laku. Sebab jika tidak laku juga, malamnya disiksa
  • 0900 : Mencuci piring dan gelas kotor yang ada di rumah pelacuran
  • 1000 : Menari telanjang (striptease) di rumah bordil untuk memikat tamu
  • 1100 : Jika tidak dapat memikat pelanggan, penculiknya datang lagi. Ia dibawa ke jalan. Dijajakan semurah mungkin. Sering ia terpaksa harus menungging untuk memenuhi hajat tiga puluh pekerja tambang yang istirahat makan siang. Jadi ia benar-benar secara literal harus menungging di tempat terbuka. Tiga puluh lebih laki-laki itu antri, bayar pada penculik, ketika giliran tiba buka celana, memasukkan penis mereka, ejakulasi, pasang resleting dan lalu memberikan lubang menganga Heidi ke laki-laki pembayar dalam antrian setelahnya.
  • 1400 : Dirantai di minivan. Diberikan makanan junk food. Hanya ada lima belas menit ‘istirahat’. Setelah itu kembali ia harus ‘bekerja’.
  • 1700 : Penculik pulang, mereka mau mandi. Ia dirantai dalam minivan kembali. Jika musim dingin, harus mati-matian menahan dingin sebab hanya memakai pakaian seadanya. Setelah penculik mandi, mereka ke rumah perjudian. Disana lehernya dirantai ikat di meja judi. Jika si penculik kalah, yang menang boleh mencambuki/memperkosa/meludahi Heidi di tempat keramaian pada saat itu juga
  • 2100 : Penculik membawa Heidi ke kamar atas rumah perjudian. Ia harus menerima diperkosa oleh sekitar dua puluh orang
  • 2400 : Heidi dibawa lagi ke kamp penculikan. Disuruh tidur agar segar esoknya untuk disiksa dan diperkosa

Ketika saya tanya apakah ada aparat hukum yang terlibat. Heidi bilang, hampir semua pemerkosanya di rumah judi adalah polisi lokal.

Ini bukan hal yang mencengangkan buat saya. Masih banyak cerita sedih lain yang melibatkan aparat hukum.

Dalam laporan Kapten AL AS yang tergabung dalam NATO, Keith J. Allred: Pasukan Penjaga Perdamaian PBB telah lama diterpa tuduhan pelecehan seksual serius selama bertahun-tahun. Insiden kekerasan seksual yang dilakukan oleh pasukan penjaga perdamaian PBB telah didokumentasikan di Angola, Kamboja, Timor Leste, Liberia, Mozambik, Kosovo, Sierra Leone, dan Somalia. Ketika pasukan penjaga perdamaian PBB dikerahkan ke Bosnia-Herzegovina, bordil yang berisi perempuan yang diperdagangkan berkembang cepat di daerah sekitar pemukiman penjaga perdamaian dari PBB. Peneliti dan Mantan aktivis pemerhati HAM, Martina Vandenberg menulis, “Rumah pelacuran tumbuh seperti jamur, berkembang di semua sisi markas (pasukan penjaga perdamaian PBB)”.

Tahun 2002 terdapat fakta memalukan ketika pejabat tingkat tinggi PBB diketahui pula mencoba menyembunyikan kesaksian tentang pelanggaran seksual oleh tentara dan misi kepolisian PBB di Bosnia.

Pada musim semi tahun 2004 terulang kembali kesalahan penjaga perdamaian di Kongo. Keluhan terdiri dari bahwa pasukan penjaga perdamaian PBB telah melakukan enam puluh delapan kasus pemerkosaan, pedofilia, dan prostitusi pada rakyat Kongo. Ini, diperburuk oleh laporan bahwa pasukan penjaga perdamaian telah mengganggu penyelidikan dengan membayar atau menawarkan untuk membayar saksi agar mengubah kesaksian mereka, mengancam penyidik, dan menolak untuk mengidentifikasi rekan yang dicurigai melakukan pelanggaran.

Pada akhir 2006 Penelitian intensif kemudian menyimpulkan bahwa sampai 90 persen dari perempuan terlibat dalam prostitusi normal di Balkan adalah korban perdagangan manusia. Akibatnya, bukan hanya itu, penjaga perdamaian PBB yang terlibat dalam pemerkosaan dan pedofilia, mereka, mungkin tanpa sadar (atau sadar), mendukung perdagangan perempuan dan makan pundi-pundi kejahatan terorganisir. Ahli anti perdagangan manusia dan juga mantan inspektur polisi Inggris, Paul Holmes, menunjukkan bahwa pasukan penjaga perdamaian yang mengeksploitasi perempuan yang diperdagangkan “tanpa disadari mendukung justru orang-orang yang tidak ingin lingkungan yang aman, stabil, dan aman”.

Tahun 2011 dalam sebuah tesis yang berjudul Iraq’s Next Battle: Combating Sexual Slavery in Post-Conflict Iraq, Kyle H. Goedert dari Universitas Michigan melaporkan bahwa untuk melarikan diri dari negaranya seorang penduduk Irak harus mampu mengeluarkan uang sebesar US$8,000 hingga $15,000 untuk visa palsu. Uang itu diberikan kepada agen untuk lari ke negara lain. Salah satu negara favorit pelarian selain Jordania adalah.., Indonesia.

Mei 2003 beberapa bulan setelah invasi AS di Irak, jumlah anak-anak sekolah di Baghdad berkurang drastis hingga 50%. Saat itu, Baghdad dijuluki “No-woman Zone”. Akibat mereka mengurung diri dirumah karena takut diculik dan didagangkan.

Tahun 2009, 14 wanita Uganda diiming-imingi bekerja di U.S Military base, namun ternyata dikunci, dicuri paspornya dan disiksa serta diperkosa. Tahun 2009 ini juga puncaknya ketika anak-anak lelaki di Baghdad adalah komoditi menarik untuk diperdagangkan organ tubuhnya.

Sejak tahun 2003, Syria mencatat bahwa pelacur bawah umur yang ada di negara mereka, sebanyak 50 ribu orang, berasal dari Irak akibat konflik milter. United States Uniform Code of Military Justice (UCMJ), pengadilan militer AS secara jelas dan eksplisit telah mengatakan bahwa personel militer yang di-deploy di negeri asing pun akan menerima sanksi jika mereka melakukan kejahatan dalam keikutsertaan perdagangan manusia. Namun sayangnya, catatan militer hanya untuk militer. Sementara publik telah banyak sekali mendengar bahwa banyak manusia ‘dari Asia’ yang dipaksa jadi pekerja untuk ‘membangun Irak’ dan sub-kontraktor militer adalah penyedia manusia-manusia ini. Maka itu, Juli 2011 American Civil Liberties Union, sebuah organisas warga non-profit yang terdiri dari mahasiswa hukum, pengacara dan publik luas di Amerika, menuntut pemerintah AS membuka dokumen pengadilan militer kejahatan tentara yang terlibat perdagangan manusia. Baik di Irak maupun Afganistan. Kasus ini masih dalam pertempuran di pengadilan.

Desas-desus tahun 2011, di beberapa forum militer dan kepolisian RI, terdapat kesatuan khusus yang menjaga perbatasan air wilayah RI memintah ‘jatah preman’. Uang ini berkisar antara US$ 2,500 per kepala. Modus: Para anggota kesatuan khusus ini dipersenjatai kapal laut anti bajak-laut dan senjata canggih, memburu perahu nelayan yang dicurigai membawa manusia yang lari dari Irak atau Afghan. Kapten kapal diberi ultimatum, penjara atau bayar di tempat. Dari kesaksian beberapa pengungsi Irak yang akhirnya selamat dan sampai pengungsian yang sekaligus jadi penjara di Australia (karena masuk secara ilegal), muncullah operasi gabungan antara penjaga laut RI-Aussie. Desas-desus ini semakin diperparah dengan kesaksian beberapa anak buah kapal (ABK) bawah umur yang kini dipenjara di lapas dewasa Australia akibat ikut dalam proses perdagangan manusia. (Lebih lanjut baca: Laporan Khusus Balada Bocah ABK Majalah Detik Digital 5-11 November 2012. Sumber 1 – FaceBook. Sumber 2 – PDF)

Cerita Heidi semakin melengkapi, bahwa kejahatan terhadap manusia, memang hanya bisa berlangsung jika ada pendukung aparat hukum yang terlibat.

restauran Elblag

Sebuah restoran di jantung kota Elblag. Sebelum interview, diliucuti dahulu disini oleh para penjaga keamanan rumah bordil. Mereka bahkan memaksa melihat foto-foto dalam SDCard camera dan ID. Saya tidak pakai identitas Agus. Sebab sudah terbongkar. Dan untungnya, foto-foto Poznan sudah dibackup di USB dan dikirim melalui jalur aman PGP. Pramuniaga restauran merasa kasihan dan aneh melihat satu-satunya pengunjung mereka, dari Asia pula, diperlakukan buruk di tempat ini. Mereka memberi makanan penutup dengan gratis

Heidi bicara terbata-bata. Kelihatannya ia tidak sanggup meneruskan kata-kata. Suaminya, si pilot menggengam erat jemari istrinya. Mencoba menguatkan.

Saya diam saja. Saya tahu cerita itu berat. Tapi saya lebih mau tahu, kenapa ia jadi seorang mucikari?

Suaminya menatap saya marah. “Kamu bukan manusia? Ia baru saja cerita hal yang sangat sensitif begini. Jangan lantas karena kamu kenal Lucija kamu bisa datang ke sini dan menghina istri saya!”

Heidi tidak bilang apa-apa.

Ia menjawab dengan menggulung lengan panjang bajunya.

Disana banyak terdapat bekas luka silet percobaan bunuh diri. Tidak lama kemudian, dengan diiringi tatapan melongo suaminya, ia membuka baju. Hanya pakai beha. Saya lihat ada bekas luka lama sabetan benda tajam dengan jahitan jelek sekali. Ia balik badan, banyak sekali bekas luka disana. Lebih jauh lagi, ia buka beha. Satu puting payudara, sebelah kanan, hilang. Ada bekas luka bakar di sana.

Saya pikir saya bukan robot. Sebab setelah itu menutup mulut mau muntah. Tidak kuat melihat bekas penyiksaan ini.

Dalam samar saya dengar Heidi berkata, “Lima tahun aku di neraka. Dan kamu mau mengharapkan aku jadi malaikat setelahnya? Aku harus bertahan hidup dari apa yang aku tahu”

Dengan terhuyung, saya keluar dari rumah pelacuran. Sebab hanya disana Heidi mau menyempatkan diri mau bertemu. Ia sudah tidak mau lagi bertemu keluarganya. Apalagi mencoba mengaitkan dirinya dengan masa lalu. Hanya demi sahabat akrabnya, ia mau menemui saya. Saya harus cari udara segar. Cerita Heidi semakin membuat mual.

Lepas dari para penculik, ia membantu para wanita yang diculik sopir truk antar negara.

Itu perempuan muda, libur musim panas dan mau jalan-jalan ke luar negeri. Tidak punya uang, menumpang pada sopir truk. Dan biasanya di perjalanan minuman mereka dibubuhi obat perangsang atau yang membuat tak sadarkan diri sebelum akhirnya digagahi. Ketika sadar, para perempuan muda ini menyadari bahwa mereka tergeletak di tepi jalan raya dengan pakaian seadanya. Sisanya dirampok supir. Mau pulang, tidak punya uang. Minta tolong pada pom bensin, malah diperkosa oleh si penjaga tangki. Akhirnya terlunta-lunta dan dipungut Heidi. Dan apa lagi keahlian Heidi dalam mencari nafkah untuk membantu mereka pulang ke negaranya? Yaa mereka harus bekerja, walaupun tentu saja tidak dicambuki dan disiksa.

Dan pekerjaan Heidi itu, namanya mucikari.

Sebab siapa saja, ternyata bisa ikut terjerat dalam perdagangan manusia.

mbak icih di tepi danau

Mbak Icih menatap lelaki berambut panjang dari Cilincing yang kepanasan dan lalu menceburkan dirinya lompat dalam air di tepi danau di Utara Polandia

“Jadi begitulah ceritanya Mbak Icih, tadi malam saya ada di lokalisasi pelacuran di Elblag”

Mbak Icih menatap saya lama, “Kamu sudah cerita pada Neneng?”

Saya melongo, “Kenapa saya harus cerita?”

“Kalau cinta, yaa cerita biar dia tahu, dan nggak ngarepin macem-macem dari orang macam kamu”

“Kalau cinta saya harus cerita? Kalau nggak cinta, nggak harus dong?”

“Cinta nggak cinta, pokoknya kamu harus cerita. Biar dia memutuskan untuk terus suka atau nggak”

“Lah terus saya gimana dong? Buset dah kalo dia boleh memutuskan, saya juga boleh dong?”

“Pokonya kamu harus cerita sama Neneng. Sebab yang dia tau, kamu itu kesini cuman buat dia!”

Saya semakin melongo. Cerita ini makin jadi aneh. Dan lebih aneh lagi ketika telepon genggam bergetar membawa SMS masuk. Dari Lucija. Menunggu di Kaliningrad, Rusia. Ada data baru. Ada perkembangan baru. Dan ada identitas baru. Semuanya menunggu.

Bingung. Mana yang harus dipilih? Bertemu dan bercerita pada Neneng si gadis desa, lugu nan manis, seksi dan baik hati yang telah merawat luka. Atau mengikuti Lucija yang membuat saya serasa jadi James Bond dari Cilincing. Dengan resiko, kembali akan luka-luka. Atau malah, hilangnya nyawa…

Yang mana?

Ketika bingung, yang harus dilakukan adalah melihat dimana semua ini berawal. Secara harafiah, semuanya ini berasal dari kereta.

Saya pamit pada Mbak Icih. Meninggalkannya bersama teman-teman lain yang masih bercengkrama di tepi danau di musim panas. Kembali ke penginapan, mengepak barang-barang dan.., kembalilah ke stasiun kereta.

Dan disana sebuah kereta, ternyata akan datang lima belas menit lagi. Kereta terakhir.

Kereta senja menuju Kaliningrad

Kereta senja menuju Kaliningrad. Terakhir. Ketika pilihan harus ditentukan.

Tentang Perburuan Wanita (Sepuluh – Kereta Menuju Poznan)

Saya ingin seperti dia yang duduk diseberang ruangan. Baru pulang liburan dari luar negeri, katanya disana berenang dengan lumba-lumba di hari ulang-tahunnya. Kado dari pacar. Enak kali yaa jalan-jalan dengan pacar. Romantis. Dapat hadiah ulang tahun begitu dahsyatnya.

Saya ingin seperti dia, yang lainnya. Tokoh dalam tulisan blog internet yang sering saya baca. Ia jalan-jalan kesana-kemari, ketawa-ketiwi, baik sendiri, dengan teman-teman atau keluarganya. Makan enak dan sebelum makan ini makan itu, makanan difoto lalu dipajang. Bikin saya ngiler dan iri. Perlihatkan di sosial media aksi wara-wirinya. Ahh hebatnya, bisa jalan berpetualang dengan gembira.

Saya ingin seperti dia, dia dan dia.

Kenapa?

Apa ada yang salah dengan saya? Kenapa mau jadi orang lain? Memangnya tidak cukup puas dengan terlahir seperti ini?

Akhir Juli 2012

Ibu kirim SMS. Katanya minta ditelpon. Beliau memang selalu begini, minta ditelpon. Bukan karena mau mengirit, sebab ternyata jauh lebih murah menelpon dari Cilincing sana ke posisi saya saat ini. Bukan. Sama sekali bukan.

Ini hanya karena Ibu, sejak 20 tahun lalu, tidak pernah tahu dimana lokasi geografis saya, anaknya, berada.

Sore itu obrolan kami berlangsung lirih. Banyak sekali jeda diam antara kami berdua.

kompartemen_jan_kiepura

Kompartemen kereta ekonomi Jan Kiepura (ini video jelasnya). Satu kamar bisa diisi enam penumpang. Pada siang hari, mereka duduk dibawah tiga berhadapan dengan tiga. Ketika matahari terbenam, masing-masing menuju tempat tidurnya. Pada kelas eksekutif, satu kompartemen hanya berisi ranjang dua orang dan kamar mandi pribadi. Saya duduk di kelas ekonomi. Sebab hanya disana bisa bertemu ‘mereka’

“Kamu ngapain di Polandia?”, ini adalah pertanyaan standar keluarga saya. Sedang apa, sampai kapan dan apa tujuannya. Ini pertanyaan yang menuntut jawaban.

Saya diam sejenak. Bagaimana menerangkan pada Ibu bahwa anaknya sedang mengejar sindikat perdagangan bayi yang terlahir dari perempuan-perempuan yang diculik dan jadi budak seksual. Saya diam. Susah untuk membentuk sepenggal kalimat sederhana bahwa saya sudah ada di kereta membelah Eropa menuju Poznan selama 14 jam hanya untuk bertemu seorang wanita yang mau memperdagangkan bayi 1,5 tahun yang terkena down syndrome.

Bagaimana menerangkan pada Ibu bahwa ada perempuan muda yang diperkosa lalu dibiarkan hamil dan melahirkan agar anak hasil kandungannya bisa dijual oleh penculiknya?

Bagaimana menerangkan pada Ibu bahwa ada manusia-manusia yang rela menjual bayi tersebut kira-kira hanya sekitar 3-5 juta rupiah saja?

Bagaimana menerangkan pada Ibu mengapa proses transaksi rumit ini harus berjalan di atas kereta yang membelah hukum negara-negara yang walaupun berdaulat ternyata memiliki celah masing-masing yang saat ini dimanfaatkan oleh para pedagang budak?

Bagaimana menerangkan pada Ibu, yang seumur hidupnya jauh dari kekerasan, bahwa di muka bumi ini ada manusia yang memiliki hati lebih gulita daripada malam yang kelam?

Setelah berdehem sejenak saya jawab, “Ada orang yang butuh bantuan, Bu. Katanya sih biar saya aja nyang nulungin anaknya”

Ibu diam sejenak disana. Beliau ini guru SD, sederhana. Tapi tidak bodoh. Saya kenal beliau sudah lama. Pertama kali belajar melihat sinar, yang saya pelajari adalah wajahnya. Saya tahu beliau diam lama disana, menyusun kalimat. Kelihatannya saat ini, kami sedang mencari strategi. Menyusun informasi. Saling menyelidiki dengan kata-kata yang disusun biar terlihat sederhana

“Lah kamu jalan-jalan gitu nyang bayar sapa?”

Ini pertanyaan yang berat. Serius. Kalau saya jawab apa adanya, bahwa uang tabunganlah membiayai hingga saat ini, Ibu pasti akan bertanya, “Uang kamu kan nggak banyak. Aneh, buat apa?”. Kalau itu sudah ditanyakan, tandanya skak mat. Saya harus cerita dari awal hingga akhir. Dan saya tidak mampu membuat dirinya sakit jantung dengan informasi yang saya pegang saat ini.

Maka sialnya, entah kenapa saya harus berbohong menjawabnya, “Ada nyang bayarin, Bu”

Tidak lama kemudian kami saling menutup percakapan dan mengucap salam sampai jumpa kembali. Saya merasa berdosa, berbohong pada perempuan yang amat mengasihi sejak saya lahir dari kandungannya.

Tapi, saat ini, itu pilihan yang saya ambil. White lies, black lies, tetap saja bohong. Dan sore itu, atas nama keamanan, saya membohongi perempuan yang mencintai saya. Ahh…

Saya kembali ke kompartemen kereta. Di luar langit biru. Musim panas ini berlangsung dengan baik di atas bumi Jerman Timur. Sudah berjam-jam saya duduk di kereta ini. Hanya sekadar menunggu. Menunggu ada manusia yang bicara.

Perempuan pirang paruh baya dihadapan saya tidak banyak berkata apa-apa. Ia tidak mengerti bahasa Indonesia. Sibuk menggendong bayi down syndrome berusia 1,5 tahun. Sebentar lagi Poznan. Kota terbesar kedua di Polandia. Ia akan mendaftarkan si bayi di kota ini sebagai cucunya agar punya nama baru. Hanya dengan cara ini si bayi bisa dan lalu dibawa ke Eropa Barat untuk ‘diadposi’.

Jadi begini modusnya:

  • Anak perempuan, usia 16, cantik. Diculik dari kampungnya di Eropa Timur sana.
  • Si bocah malang akan terus disiksa, diperkosa dan terus diperlakukan begitu hingga menurut untuk harus menghasilkan uang. Ia dipaksa ikut dalam prostitusi
  • Suatu saat, entah kondom bocor, entah diancam akan dibunuh, entah apalah alasannya; sperma masuk dan merambah janinnya dan ia pun hamil
  • Dalam kondisi hamil, si bocah ini masih terus akan dipaksa melayani tamunya. Ia jadi pasar khusus untuk pria-pria yang gemar menyetubuhi perempuan hamil
  • Kira-kira sembilan bulan kemudian si bayi lahir
  • Untuk menghilangkan ikatan antara ibu dan anak juga demi pemasukan, Dipisahkanlah antara bayi merah ini dengan ibunya dengan cara dijual ke penadah bayi korban perkosaan
  • Si tukang tadah bayi adalah agen penyalur anak-anak yang akan diadopsi. Mirip panti asuhan. Bedanya, ia hanya khusus untuk bayi sesuai pesanan pengadopsi
  • Agar bisa diadopsi jelas si bayi harus punya identitas. Maka tentu saja sang bayi harus ‘dicuci’ (*Proses yang sama terjadi pada aksi kejahatan pemutihan uang*)
  • ‘Pencucian’ bayi dilakukan dengan cara mendaftarkan bayi tersebut dengan cara mengklaimnya sebagai cucu/ponakan/atau_whatever oleh pengungsi yang melintasi antar negara (*Jadi disini saya pikir Anda bisa mengerti mengapa kejahatan ini bersifat internasional dan mengapa saya membuntuti wanita pirang paruh baya melintas empat negara dengan kereta*)
  • Setelah ‘dicuci’, bayi punya identitas baru. Pengadopsi tidak tahu apa-apa proses ini. Yang mereka tahu, mereka harus menyetor sejumlah uang untuk proses adopsi

Mungkin akibat baru saja bicara dengan Ibu, jika akhirnya saya mampu menuliskan proses rumit yang keji dan bahaya dalam beberapa penggal kata diatas sebuah tempo yang memakan waktu berbulan-bulan.

Melihat bayi lucu yang tampan ini, di depan mata. Dan tidak mampu berbuat apa-apa pada saat itu juga (bahkan juga tidak dalam menelpon aparat berwenang, sebab jika mereka tiba-tiba muncul, semua orang bahkan hingga si bayi, dalam kondisi jiwa terancam) membuat saya merasa lemah.

Dalam hati saya hanya bisa membatin, “Bangsat! Bangsat! Bangsat!”

Ini lah yang disebut pemilihan umum iblis.

Mana yang harus saya pilih? Jika saya menelpon polisi diam-diam saat ini juga, kemungkinan besar bahwa mereka mampu menangkap perempuan perempuan ini dan menyelamatkan bayinya. Tapi bagaimana dengan Ibu sang bayi? Sebab sangat yakin bahwa penculik dan pemerkosanya akan menghapus nyawa si perempuan malang untuk menghilangkan jejak. Proses adopsi yang jadi alternatif agar si anak ada yang merawat, juga pasti akan gagal.

Jika saya pilih untuk mendokumentasikan perempuan ini, membuatnya bicara, bisa mencegah kejadian terulang di masa depan. Namun, akan ada seorang Ibu yang akan kehilangan anaknya. Gimana rasanya kalau saya kehilangan putri saya yang diculik paksa? Apa yang akan saya lakukan terhadapnya jika saya tahu bahwa ada orang di luar sana yang ternyata bisa mencegah peculikan ini dan membawa kembali putri tercinta ke pelukan saya, namun ternyata ia diam saja?

Ini pemilihan umum iblis. Iblis mana yang harus saya pilih? Tidak ada pilihan lain yang lebih sempurna. Hanya ada dua iblis di depan saya. Yang mana yang harus saya sikat? Yang mana yang harus saya dekap?

Ini bukan yang pertama. Ketika kualitas moral, etika dipertanyakan dan dikonfrontasi.

Hey, kamu laki-laki, apa jawaban yang akan kamu pilih. Awan menggumpal di balik jendela seakan mengejek.

Saya ingin seperti dia.

Sambil menatap langit berderak di atas jalur kereta, saya merasa tidak puas terlahir seperti ini. Seharusnya, saya jalan-jalan berdarmawisata saja. Mirip ia yang berenang dengan lumba-lumba. Mirip ia yang berwisata kuliner sebelum makan memfoto dan membaginya jepretannya pada sosial media dunia maya. Mereka yang kelihatan hidupnya begitu tenang dan bahagia.

Tanpa perlu harus bersekutu dengan iblis sebagai imbalannya.

Saya iri.

bayi di atas jan kiepura

Foto sang bayi di kereta. Ketika sang ‘nenek’ ke kamar kecil saya sempat tergoda untuk membawa bayi ini menuju kamar masinis dan polisi kereta untuk ‘aksi menyelamatkan’. Pikiran yang ugal-ugalan dan tergesa-gesa. Astaga, ia begitu lucu, damai dan menggemaskan. Tak ada yang menyangka bahwa bocah semanis ini adalah produk sebuah kekejian yang sungguh luar biasa