Archive for the 'usability' Category

Your request to URL “../../” has been blocked

The headline on my RSS feeder news is quite clear “NY gay marriage battle: Couples head to Albany” and makes me wonder how it going through since DADT (Dont Ask Dont Tell) policy on US ARMY that makes openly gay and lesbian can not active in military is no longer exist after President US Obama signs the repeal on last December (2010).

So I click the link. Found out that articles were blocked under company Gateway, McAfee:

 

 

 

 

 

 

Is it odd that there is consideration that US Politics news by MSN is classified as sexual, erotic or adult content?

Mengapa Harus Ganti Theme Blog Dan Mengapa Tidak?

Saya tidak suka gonta-ganti theme tampilan blog.

Alasannya sederhana:

  1. Branding. Tampilan itu mencerminkan brand. Identitas. Saya tidak suka ganti identitas (*kecuali kalau browsing, maka itu saya adalah pemuja TOR, haha*). Identitas itu perlu. Bukan hanya perlu ada, melainkan juga perlu dibangun. Salah satu cara membangun identitas adalah memiliki branding yang kuat. Kalau tidak punya branding yang kuat secara visual, maka sebaiknya memiliki branding yang memiliki ketahanan kuantitas waktu
  2. Sok Unik Tapi Malas. Ini alasan yang paling jujur. Saya biasanya malas ngoprek script lagi. Saya bosan ngoding. Seharian ngoding, malamnya ngoding lagi. Begadang temannya teh, musik klasik, LAMPP/XAMPP dan gedit/notepad++ hanya buat ngoding. Tapi kalau tidak ngoprek scripts maka tampilan web standar banget. Apa uniknya kalau cuma copy paste theme orang? Apa kekuatan usability web kita kalau cuma sekedar pakai yang sudah jadi? Maka itu harus unik dong… Tapi itu yaa itu penyakitnya, males… Hehehe
  3. Usability. Saya ganti tampilan atau feature web kalau memang saya sendiri sudah gerah dengan usability web saya. Kalau saya gerah, sih masih bisa kipas-kipas. Tapi kalau pengunjung sudah gerah, wah gawat itu. Makin dikipas makin gede apinya. Pengunjung sudah biasa mampir ke web kita. Dari mereka kita belajar UI/UX. Kalau gonta-ganti theme tanpa rekomendasi mereka, sebaiknya saya memang nggak ganti tampilan lah. Lah saya kan dandan buat pengunjung saya :)
  4. Security. ganti theme itu artinya ganti segala macem. Paling enak sih bikin theme sendiri. Semuanya sudah kita jamin keamanannya. Lah saya kan males. Paling saya ambil theme orang terus saya kulik sedikit script-scriptnya. Padahal, seharusnya kan butuh testing. Mulai dari testing di development, QA dan juga di production. Itu baru testing design dan usability, belum testing security. Belum lagi audit dan review. Waaahhh… pecah kepala kalau tiap ada waktu luang hanya ada untuk test
  5. Nggak Cukup Waktu. Pernah dengar database? Kalau pernah pasti pernah dengar backup database dong? Nahh, ini pula jangan dikecilkan peranannya. Backup database, menyimpannya di tempat aman terus melakukan analisa ini memakan waktu yang tidak sedikit loh. padahal backup database dari blog bukan sesuatu yang sulit dan memakan waktu banyak. Tapi jika setiap hari waktu Anda sudah dimakan oleh kegiatan lainnnya di atas, maka backup database bisa jadi salah satu resource hog tambahan.
  6. Biaya. Ini salah satu pertimbangan penting juga sih. Sebenarnya gonta-ganti theme sama sekali tidak makan biaya. Tapi ketika sedang ngoprek theme terus kepincut dengan theme yang berat loadingnya, mau ga mau kan makan bandwith buat pengunjung dan server. Bandwith lebih itu artinya yaa biaya buat kita sebagai penyedia layanan web dan juga pengunjung yang datang mampir ke web kita. Saya malas membebani pengunjung saya dengan biaya tambahan akibat web saya susah ditampilkan di browser mereka gara-gara berat tampilannya. Tulisan saya sudah dibaca saja sukurnya bukan main :)

Tapi… Tapiii… Hari ini baru saja saya update/ganti theme baru di blog lab ini dan blog utama di bangaip.org.

Alasannya:

  1. Demi Pengunjung. Beberapa orang pengunjung yang juga teman-teman saya (diantaranya Pak Harry Sufehmi) memberi tahu mengenai usability theme saya yang melemah. Wah ini masukan yang berguna sekali. Saya usahakan selalu memenuhi kebutuhan pengunjung blog saya. Sebab dari tangan mereka lah user experience kita jadi bertambah.
  2. Interface. Saya tidak bosan dengan tampilan yang lama. Sama sekali tidak. Tapi saya menginginkan tampilan yang secara disain lebih minimalis. Ketika usia makin bertambah begini dan setiap hari berurusan dengan disain minimalis, saya menginginkan pula interface yang minimalis. Prinsip baru less is more sudah beberapa tahun belakangan ini mendasari kegiatan saya dalam mendisain. Makin sedikit distraksi pada tampilan web, makin konsentrasi pengunjung saya terhadap konten web.
  3. Ada Fasilitas. Hahaha. Saya kebetulan punya waktu beberapa jam hari ini untuk ngoprek theme web. Saya pergunakan lah sebaik-baiknya. Jarang sekali punya kesempatan waktu dari makan siang sampai sore begini untuk ngoprek web pribadi. Selain itu, saya kebetulan kerja dengan beberapa OS sekaligus hari ini. Jadi selain bisa cek tampilan UI saya juga bisa mengecek security dan desain di bawah beberapa browser dan platform system sekaligus.
  4. Future Proof. Kata teman saya Toni, kalau mau beli televisi jangan setiap tiga tahun sekali, rugi itu namanya. Simpelnya, kalau mau sesuatu yang bertahan di masa depan maka harus tahu bagaimana strateginya. Saya cari theme yang sederhana dan minimalis sebab memang sudah terbukti kalau minimalis itu selain mudah diingat, mudah dioprek, mudah ditambahi dan juga (kadang-kadang) mudah penggunaannya. Jadi kalau saya pakai theme sederhana dan minimalis saat ini, saya harap di kemudian hari nanti tidak terkesan out of date. Terlalu kuno untuk ditampilkan di muka publik.
  5. Terapi Ingatan. Kemampuan manusia mengingat itu tidak canggih. Kemampuan saya mengingat, lebih parah daripada manusia kebanyakan. Dengan melakukan gerakan-gerakan koding hari ini saya dipaksa kembali mengeluarkan jurus-jurus PHP dan CSS dalam mencapai tujuan. Ini bagus buat kordinasi otak saya, hehe. Moga-moga dengan mengoprek script kita bisa belajar melawan lupa. Amiin…

Yang lebih syukur dari semua ini adalah… Saya bisa update blog laboratorium ini lagi. Hehehe.

Pendidikan Informatika Kurikulum Baru

Ini blog laboratorium entah kenapa tidak diurus. Saya sudah lama tidak menulis di sini. Biasalah, alasan capek gara-gara baru saja pindah rumah saya pakai demi tidak menulis. Hehe.

Tapi sebenarnya bukan gara-gara sibuk pindah rumah saya jarang menulis di blog lab ini. Intinya sih lebih ke arah karena ada pekerjaan lain, jadi jarang ‘ngoprek’.

Di kamar saya, masih bertebaran kabel-kabel RJ45, baterei, kertas skema corat-coret, beberapa komputer dengan perut terburai, game-game jadul dan perlengkapan lainnya. Setiap masuk kamar, saya selalu berjanji pada diri sendiri akan mengurus DVI untuk monitor yang entah kenapa janji itu selalu diingkari akibat pulang kemalaman. Hehe.

Karena saat ini rumah lebih jauh dari pabrik tempat bekerja, saya lebih sering berangkat pagi dan pulang lebih malam daripada biasanya. Pulang pergi dari rumah menuju pabrik memakan waktu sekitar tiga jam.

Tiga jam itu berharga sekali buat saya. Bayangkan, kalau saya bekerja 21 hari perbulan, maka saya akan kehilangan 63 jam perbulannya hanya untuk transportasi. Gila, itu banyak!

Agar tidak kehilangan waktu sia-sia selama 63 jam perbulan, saya memakainya dengan membaca. Baca apa saja, yang penting baca. Baca novel romantis ndeso yang sama sekali tidak masuk di akal. Baca komik-komik bawah tanah yang diterbitkan oleh teman-teman saya dan komunitas mereka. Hingga baca koran gratisan yang melulu kebanyakan isinya iklan.

Tapi tadi pagi saya kaget. Di koran gratisan itu ada lowongan sekolah setingkat SMU. Bedanya, ini sekolah menengah umum hanya dikhususkan untuk bidang Informasi. Sialnya, iklan ini tidak sempat saya potret maupun saya robek untuk di scan.

Iklannya menarik sekali. Seorang anak kita-kira usia 10 tahun sedang memegang bola dengan pakaian kaus dan celana panjang jeans. Di atasnya ada tulisan besar yang kalau diterjemahkan artinya: “Sebentar lagi aku bikin aku”

Agak aneh, Apa maksudnya aku bikin aku?

Ternyata di bawah foto si anak, tertulis: Tomas (10 tahun), pemain fusbal berbakat. Cita-cita; membuat karakter diri pada game fusbal. Dan itu tidak akan lama lagi.

Di bawahnya, tertulis bahwa sekolah yang sedang beriklan itu kini sudah menyediakan penjurusan dalam kurikulumnya. Antara lain adalah:

Game Development

Ini bikin saya kagum. Sebab sudah dimasukkan character design 3D, leveling (yang nampaknya butuh logika logaritma per levelnya), Manajemen Produksi hingga penguasaan tool-tool rendering (game engine) dalam kurikulum mereka. Mantap lah. Namun yang lebih mantap lagi, ternyata sekolah sudah punya channel ke game-game industri. Jadi kalau mau magang atau cari kerja lebih mudah. Saluuut lah.

Informasi, Komunikasi dan Media

Ini juga keren. Begini kata mereka dalam iklannya:

Dalam masyarakat kini informasi memainkan peran yang sangat penting. Peran seseorang kadang diwakili oleh informasi. Siapa yang memiliki dan siapa yang tidak? Informasi hadir kadang lebih bernilai daripada emas: mahal dan langka.Tidak hanya pada tingkat pribadi, tetapi juga pada perusahaan dan iklan. telah ada pasar dalam mengumpulkan informasi yang penting dalam mencapai tujuan. Mereka harus memiliki target untuk lebih cepat dan lebih baik. Jika tidak, diambil pesaing.”

Yang bikin saya kaget, sudah dimasukkan marketing ‘non-konvensional’ seperti penggunaan ROI dalam adwords, pemanfaatan 140 karakter twitter (*namanya; marketing 140. Haha*), penggalangan massa dalam jejaring sosial (seperti FB atau semacamnya) dan macam-macam lainnya.

Di sini, saya terkagum-kagum. Pertama; karena web2.0 telah membawa angin segar baru dalam dunia industri. Hingga terciptanya lapangan kerja inovatif. Kedua; karena sudah ada sistematika pendidikan yang menanggapi inovasi ini. Sehingga standarisasi atau benchmark makin bisa diperbaiki dari hari ke hari. Ketiga; Saya iri dengan generasi mendatang. Haha. Kok yaa sudah ada SMU yang begitu. Coba dulu kalau jaman saya sudah ada sekolah begitu. Pasti saya nggak jadi bandit. (*ngeles mode ON*) Hehehe.

Mungkin daripada iri, ada baiknya saya menyediakan tempat hidup yang layak buat generasi selanjutnya.

Mencari Proxy Gratis Ketika Sensor Menggila

Saya tahu ini cerita basi. Maaf yaah :( Tapi akibat bosan terus-terusan mendapat pertanyaan yang sama. Maka ada baiknya info ini saya bagi.

Saya kesulitan mencari proxy gratis yang bahkan di sarankan oleh mesin pencari. Sebab secara otomatis, URL laman-laman website yang disarankan mesin pencari akan otomatis di block oleh kantor (yeah, kami punya mesin pemblock yang luar biasa dan saya dengan amat terpaksa merahasiakan informasi mengenai hal ini dari publik).

Untuk meminta ijin bahwa komputer saya akan mengakses website tertentu yang mengandung content bertuliskan ‘proxy‘ atau ‘anonymous surfing‘ (*iya, banyak sekali phrase yang di block oleh mesin penyensor kami, diantaranya dua kalimat itu*), jelas amat bisa. Tapi sebelumnya harus mengisi banyak formulir dan menuliskan alamat website agar bisa di review (bahasa halus dari sensor) oleh teman-teman dari departemen IT. Dan itu hal yang amat membosankan. Sebab butuh sumber daya waktu. Padahal hanya mau membalas email penting dari client yang 24 jam hidupnya tergantung dari facebook (dan content FB adalah salah satu yang di banned kantor saya)

Maka, biasanya saya dengan amat nakalnya menyingkat hal tersebut. Dengan menggunakan mesin pencari (seperti google misalnya) saya menuliskan di browser

+”:8080″ +”:3128″ +”:80″ filetype:txt 2010

Apa artinya?

+”:8080″ adalah meminta agar mesin pencari mencari string 8080. Dan 8080 adalah gabungan dari port 80 (saluran standar membuka internet)

Port ini adalah alternatif yang populer untuk port 80 untuk menawarkan layanan web. “8080″ dipilih karena ada “dua 80″, dan juga karena berada di atas rentang pelayanan jasa porting juga dikenal sebagai port pembatas (port 1-1023). Biasanya digunakan dalam URL untuk menimpa eksplisit “port default”.

Latar Belakang dan Informasi Tambahan:

Internet sebagian besar lahir pada sistem berbasis UNIX dan server. UNIX memaksa gagasan dari 1023 pertama “port istimewa” yang hanya dapat dibuka dengan layanan yang berjalan dengan apa yang disebut “root”, atau administratif, atau hak istimewa. Secara historis, ini berarti bahwa hanya sistem administrator yang berwenang mampu mendirikan dan mengoperasikan sebuah web server pada port 80 karena ini adalah dalam wilayah-port istimewa pertama 1023. Oleh karena itu, ketika non-administrator ingin menjalankan web server sendiri di mesin yang mungkin sudah memiliki sebuah server yang berjalan pada port 80, atau ketika mereka tidak memiliki izin untuk menjalankan layanan di bawah ini port 1024, port 8080 sering dipilih sebagai tempat yang nyaman untuk host atau alternatif web server sekunder.

Trojan yang pernah terdeteksi di port ini: Brown Orifice, Generic backdoor, RemoConChubo, Reverse WWW Tunnel Backdoor, RingZero

+”:3128″ adalah port squid (terkenal juga sebagai squid cache atau HTTP Proxies untuk menjembatani manusia dengan mesin yang mampu membuat mereka jadi tak terlihat, atau internetan jadi lebih kenceng, hehe) yang seringkali digunakan/diizinkan di US (wilayah juridiksi kerja saya ada di bawah hukum pemerintah Amerika Serikat) untuk digunakan secara terbuka. Jadi saya menggunakan port ini untuk berkomunikasi melalui proxy. Sebab legal dan sering digunakan para administrator untuk menjalankan jaringannya menuju internet.

+”:80″ adalah port menurut no-ip.com port 80 adalah “standard port which web(http) servers run on. Many ISP’s have blocked port 80 to stop viruses such as Nimda from slowing down their networks and infecting there customers computers.” Saya pribadi tidak akan melakukan apa-apa dengan port ini, saya hanya ingin tahu, adakah proxy terbuka yang menggunakan port ini.

“filetype:txt” adalah jenis file yang saya cari. Basisnya adalah text dan dapat dirender dengan cepat pada browser. Mengapa saya mencari jenis file ini, sebab hasil pencarian dengan laman yang menampilkan ekstensi html, php, jsp, asp dan lain sebagainya pasti sudah diblock.

“2010″ adalah tahun pencarian. Biasanya saya memang mencari proxy yang baru. Mesin pencari akan mengindeks halaman yang sudah dilihat oleh banyak orang lalu SEO akan menampilkannya di halaman pertama. Apabila teori ini benar, maka hasil pencarian proxy dalam teks yang tampil di halaman pertama mesin pencari akan menampilkan halaman-halaman yang amat populer dan mungkin overloaded dan usang. Untuk menghindari hal itu, saya memakai hasil pencarian terkini. Dan 2010 adalah tahun terkini (ketika tulisan ini dibuat).

Semoga informasi yang walaupun jadul (jaman dulu) dan kampungan ini sedikit berguna :)

Nomor Telepon Bill Gates

foto bill gates

Salah seorang klien (yang meminta tim kami membuat webnya) datang mengeluh:

Saya: “Ada yang bisa saya bantu, Bu?”
Ia: “Kok webnya saya nggak jalan?”

Waktu itu, saya curiga ada bug di halaman aplikasi web yang kami kembangkan buat beliau. Maka saya buka komputer dan langsung menuju URL yang ia maksud (*Kebetulan saya bookmark, jadi bisa lebih cepat ke sana*). Setelah saya cek di browser, test berulang-ulang, lalu memeriksa feedback dan SVN untuk melihat deployment terakhir. Saya bingung, semuanya nampak baik-baik saja.

Saya: “Loh kok ini jalan, Bu? Bagus malah”

Si Ibu kebingungan, “Tapi di rumah ga jalan”

Saya yang mulai curiga dengan browser yang beliau pakai lalu bertanya, “Di rumah pakai apa, Bu?”

“Biasa aja tuh, pake daster”

Hah!

“Bukan Bu, maksud saya di rumah ibu pake komputer apa?”

“Komputer saya lah. Masak komputer anak saya. Kamu gimana sih?”

“Umm, maaf, saya coba rephrase kalimat saya. Di rumah, Ibu pakai komputer sistem apa dan browser apa ketika mengecek web Ibu?”

“Mana saya tahu yang begitu. Coba kamu telpon ini anak saya”, katanya sambil menyodorkan telepon genggamnya.

Beberapa menit kemudian, dari anaknya, saya tahu kalau si Ibu memakai windows 98 dan (tentu saja) perambah internet dengan Internet Explorer 6.

“Bu, web Ibu nggak bisa dibuka dengan Internet Explorer 6 yang ada di komputer Ibu. Kan waktu awal kontrak kita semua sudah setuju kalau web Ibu nggak akan support Internet Explorer 6 karena Ibu minta usability yang nggak bisa di dukung software itu” kata saya sambil senyum

Beliau ngotot, “Saya nggak mau tau, pokoknya saya mau liat website saya di rumah!”

“Waduh Bu, itu bisa ngerubah kontrak”

“Pokoknya saya nggak mau tahu!”

Saya coba sabar. Akhirnya ketemu deh triknya. Beliau ini amat perhitungan soal bujet proyek. Semuanya harus dirasionalisasikan. Saya suka itu. Tapi untuk saat ini beliau nampaknya tidak rasional. Maka, saya coba mendekati beliau melalui bujet dan rasional aspek.

“Bu, kalau Ibu ngerubah kontrak akan membuat bujet proyek kita membengkak {sambil menyebut persentase}. Itu besar loh, Bu. Sementara kalo Ibu ganti browser, gratis. Saya bisa telpon anak Ibu untuk membantunya menginstal Opera atau Chrome di komputer, Ibu. Pilih mana?”

Beliau diam sejenak. Lumayan lama. Sambil menatap saya galak. “Siapa sih itu yang bikin komputer saya di rumah?”

“Kalau perangkat kerasnya saya nggak tahu, Bu. Tapi kalo sistem dan perambah internetnya, namanya Bill Gates dan teman-temannya”

Masih menatap galak ia bertanya, “Kamu tahu nomor teleponnya orang itu. Biar sini saya telpon. Kurang ajar itu orang!”

Saya tidak jawab apa-apa, hanya bisa menatap beliau sambil garuk-garuk kepala.

Yang Baru Dari Photoshop CS5

photoshop cs5 loader image

Sehari-hari saya pakai Adobe Photoshop CS3.

Sebenarnya sih bukan hanya Photoshop, melainkan seluruh produk Adobe yang berbasis MacOS. Mulai dari mengolah animasi 2 dimensi atau menjajal script xml terbaru dengan Flash hingga mengolah data berbasis vector dengan illustrator atau indesign.

Semuanya dilakukan atas nama pendukung kerja.

Jika sedang iseng, saya melakukan manipulasi foto-foto yang sengaja atau tanpa sengaja terjepret kamera; pun dengan produk Adobe yang bernama Photoshop ini.

Ketika ada alternatif baru pemanipulasi foto sumber terbuka (open source) seperti The Gimp, saya pun sempat berpaling hati. Semua komputer di rumah lalu di install The Gimp. Kecuali komputer istri, masih memakai Photoshop 6, hehe

Saya memang menyukai Photoshop. Cerita kilas balik, tahun 1998 itu kami pakai Photoshop 5. Wah, jaman itu sudah hebat betul pakai Photoshop 5. Itu pengolah gambar paling top deh. Saya sempat terkagum-kagum dengan palet History-nya Photoshop. Gila! Kalau salah design, bisa diulang sampai dari awal apabila kita memakai palet itu.

Namun secara pribadi, pertama kali beli software pengolah image, yaa produk Adobe ini. Kalau tidak salah, harga akhir tahun 2000 itu sekitaran US$ 300-400. Saya beli Adobe Photoshop 6.0. Itu pun setelah memutuskan untuk berkarir di dunia arsitektur dan pembangunan website (sebab baru dan mengasyikkan. Plus booming dot com)

Mahal? Iya lah. Buat kantong saya saat itu memang mahal. Apalagi saat itu masih jadi mahasiswa Depok yang tinggal di Kukusan Beji yang bau sapi.

Uang tabungan setahun, habis semua. Sampai gagal liburan. Semuanya demi nafsu memiliki si Photoshop 6.0 ini. Hehe. Namun begitu melihat ada banyak sekali efek-efek ajaib seperti Liquify dan Rough Grain yang bisa dihasilkan Photoshop, saya pun akhirnya bisa tersenyum.

Keputusan beli Photoshop 6.0, saat itu memang didorong oleh bahwa versi 5.5 sudah bisa melakukan ‘save for web’. Kompresi gambar agar menjadi lebih ramah di laman-laman website. Satu image 300 kb bisa di ‘minimalisir’ menjadi 100 kb hanya dengan menekan tombol yang tepat.

Waktu itu, masalah jumlah kilobyte perhalaman website memang sungguh masalah yang luar biasa. Maklum, koneksi internet di Indonesia masih sekitar 10-20 Kbps (kadang bisa ngedrop sampai 2-5 kbps di pinggir JKT). Jadi orang-orang suka mematikan fasilitas menunjukkan image pada browser mereka.

Pada Photoshop 6.0 navigasi web juga mampu didukung oleh penggunaan transparansi ikon-ikon berbasis GIF. Jika di HTML kode warna ditandai oleh #****** (bagian * diisi oleh karakter angka dan huruf) maka di Photoshop 6.0 sudah bisa kita lihat bahwa #99333 itu adalah merah maroon. Sebab secara otomatis Photoshop telah menterjemahkan warna itu menjadi kode karakter HTML. Berguna sekali untuk kerja saya.

Pokoknya versi 6.0 itu lumayan top deh saat itu. Jadi saya memutuskan untuk membelinya.

Sayangnya, kemajuan teknologi berlangsung cepat. Jauh lebih cepat daripada yang saya kira. Versi Photoshop cepat berganti modern, membutuhkan RAM dan kartu grafis baru. Maka ketika teman-teman desainer/developer lainnya bicara versi terbaru Photoshop CS, saya masih tergagap-gagap menanggapinya. Maklum, masih pakai versi 6.0, Hahaha.

Namun sejak Adobe memulai kode CS2 nya, pelan-pelan saya mulai menggali kembali arti sejati Photoshop itu sendiri (haihi, bahasanya jijay banget).

Sejak Adobe CS 2, kebetulan saya sudah dapat rejeki. Bekerja di tempat-tempat yang memberikan saya fasilitas menggunakan Adobe secara cuma-cuma. Jadi, tidak harus beli sendiri lagi.

(*Walaupun pada CS3, ternyata saya harus menganggarkan budget khusus untuk itu, namun tetap saja tempat kerja yang membayar. Waktu itu, 2007, dijual masih harga-harga awal. Kami beli sekitar € 2300 untuk 3 lisensi Adobe, plus acrobat pro, berbasis Mac OS. Lumayan juga. Sebab teknologi cloud sudah memungkinkan untuk rekan kerja kami yang berjarak 12 jam kerja untuk bekerja di komputer yang sama. Eh ternyata pakai cloud ga boleh sama Adobe. Halah*)

Pas tulisan ini turun, Adobe sudah versi CS 5. Begitu pula dengan Photoshopnya. Kalau ditanya apa yang baru? Well, saya mah akan menjawab; kalau dibanding Photoshop 6.0 yaa jelas sudah banyak berbeda. Haha.

Sejak CS 4, setting palet photoshop jadi lebih asik. Artist toolbox keren. Sudah bisa pindah-pindah User Interface, jadi kalau mau kerja ngedesign, ngelukis atau maen 3D, jadi lebih mudah. Trus ada fasilitas vibrance, yang nge-boost warna. Jadi memudahkan main-main di saturasi dan kekontrasan warna. Lumayan lah untuk fotografer wannabe kayak saya ini. Hehe.

Waktu melihat bahwa kita bisa pindah UI, saya dalam hati membatin; wah keren nih, kayak MyEclipse Java Enterprise. Maklum sehari-hari, saya juga berurusan dengan perangkat lunak tersebut dan nyaman dengan kemudahannya mengganti UI. Di MyEclipse saya, mudah untuk ganti UI dari web dev AJAX, Team Synch hingga SVN Repository exploring. CS4 pun begitu. Nyaman mengganti UI.

Di CS 5, Photoshop sudah pakai fasilitas review (namanya ‘creative review’). Edan! Jadi hasil karya kita bisa langsung pitching ke client langsung. Jadi client bisa koreksi secara real time. Well, real time? Yaah tergantung koneksi internet sih. Hehe. Kalau client dan designer sama-sama pakai koneksi internet UPC 120/10 mbps DL/UL, yaa emang pitching dan review-nya udah kayak real time.

(*Yang doyan 3D dan main-main di image HD format, photoshop CS5 trick bisa di lihat di sini untuk Repousse atau di web official-nya langsung di sini sebab CS 5 ini katanya bisa bikin image kita jadi 3D. Silahkan baca di Sounas ini untuk keterangan lebih lanjut*)

Yang aneh, di software yang harga lisensi per-mesin nya sekitar € 630 ini masih juga belum bisa menemukan kompresi untuk menekan gambar-gambar yang akan kita masukkan ke laman-laman web menjadi lebih rendah. Artinya, teknologi kompresi image di Photoshop sama sekali belum berubah sejak Photoshop 6.0.

Saya hanya mencoba versi trial selama 1 bulan dengan software ini. Setelah itu, balik lagi ke CS3 untuk bekerja atau The Gimp untuk keperluan harian. Kalau kompresi image masih sama dan hanya itu yang saya butuhkan, buat apa beli?

(*Ahh tapi itu kan pendapat saya. Belum tentu anda yang trendi suka pendapat ini. Hehe*)

Kursus HTML untuk Ibu-Ibu Senior

Saya baru saja memberikan kursus sejenak (iya, dinamakan sejenak karena hanya sekitar 32 menit) kepada ibu-ibu.

Kursus ini cukup luar biasa buat saya, sebab:

  • Untuk mengadakan kursus ini, kami sudah harus membuat janji di sela-sela waktu yang ada. Dan mencari waktu yang kosong antara saya dan ibu-ibu ini memang susah sekali. Jadi setelah 1 tahun mengendap, kursus ini baru terealisasi.
  • Akibat semua peserta dan pemberi materi adalah manusia yang agak tipikal tingkat kesibukannya tinggi (sebab semuanya sudah berkeluarga, hehe) jadi waktu 1 tahun itu banyak habis untuk mencari kelengkapan birokrasi dan bla-bla-bla sebagainya.
  • Pesertanya kebanyakan ibu-ibu yang sudah berusia 45 tahun ke atas (senior dalam usia). Diantaranya malah ada yang sudah punya cucu :)
  • Kursus ini adalah kursus HTML. Targetnya, agar para ibu-ibu itu mampu membuat newsletter atau email berbasis HTML.
  • Mereka ikut kursus karena mereka mau memiliki ilmu lebih banyak dan lebih baik sehingga bisa improvisasi diri.
  • Kursus yang dijadwalkan setiap jumat pagi ini niatannya adalah sekitar 1 jam penuh. Namun karena antusias dan daya tangkap yang baik dari para peserta, mampu selesai dari setengahnya saja.

Begitu selesai, saya langsung posting ini untuk menyatakan rasa kekaguman.

Salut saya sama ibu-ibu ini. Walaupun sudah berumur dan punya banyak tanggung-jawab di rumah maupun di kantor, masih saja tetap mau belajar. Nampaknya saya harus mencontoh mereka.

Apa yang saya berikan hari ini sebagai materi kursus HTML adalah:

  1. Apa itu server, localhost dan webserver
  2. Apa itu File Transfer, FTP client, FTP server, scripts dan tags dan bagaimana mendapatkan FTP client yang baik, lintas platform sistem operasi dan gratis (saya rekomendasikan Cross FTP)
  3. Apa itu browser, browser yang baik untuk test dan browser apa yang kuat di pasaran wilayah pasar kami
  4. Apa itu HTML dan pernik-pernik yang menyertainya. Tidak lupa sedikit memberitahu mengenai kegunaan HTML 5 di masa depan
  5. Belajar menulis “Hello World” dan menjelaskan fungsi tag yang ada di dalamnya
  6. Mengenalkan basis style paragraf

Hasilnya lumayan. Mereka semua bisa membuat halaman ‘Hello World’, transfer data via FTP di localhost dan test crossing browser pakai IE6, IE7, Firefox dan Safari.

Not bad at all…

Pagi ini, walaupun sarapan cuma dengan pisang dan tomat kecil-kecil. Saya bangga sama mereka dan juga pada diri saya :D

Mari Ramai-Ramai Kita Tinggalkan Internet Explorer 6

Sudah beberapa tahun belakangan ini, beberapa rekan pengembang aplikasi perangkat lunak berbasis web selalu mengeluh dengan browser bernama Internet Explorer 6 (IE6). Bukan hanya pengembang aplikasi sebenarnya, para disainer yang berkarya berbasis laman-laman web pun ikut mengeluh.

Ada apa sebenarnya dengan IE6?

Jawabannya banyak. Tapi kalau mau dipisahkan berdasarkan kategori, adalah sebagai berikut:

  • Sisi disain; tidak mengijinkan tranparansi file PNG. Ini jelas aneh, sebab kalau transparansi hanya pakai GIF, kualitas menurun. Lalu apabila tidak mau kualitas turun, maka file membengkak gila-gilaan ukuran kilobyte-nya.
  • Sisi tampilan depan; Tidak ramah CSS. Padahal CSS itu digjaya. Dunia makin berubah. Begitupun usability aplikasi atau tampilan berbasis web. Dukungan IE6 terhadap CSS tidak sebegitu baik ketimbang browser lainnya. Hasilnya, banyak tampilan web yang tidak diinginkan mucul di IE6.
  • Sisi keamanan: Rentan akan serangan alias cukup berbahaya. Pada saat tulisan ini diturunkan (Maret 2010) terdapat 185 celah keamanan di IE6. Ini jelas mengerikan. Sebab beberapa aplikasi web perbankan di RI beberapa diantaranya malah mensyaratkan agar penggunanya menggunakan perambah internet IE6. Padahal IE6 bukanlah alat yang baik dalam transaksi yang melibatkan jaminan keamanan online. Pemerintah Perancis dan Jerman bahkan sudah melarang pegawainya untuk menggunakan IE6 akibat masalah keamanan ini.
  • Sisi dukungan: Bahkan pengembang IE6, yaitu Microsoft, sejak Januari 2010 sudah mensyaratkan bahwa mereka tidak akan mensupport IE6. Jadi dukungan kepada IE6 memang sudah tidak ada lagi. Ibarat anak ayam, ia sudah akan berjalan tanpa induknya lagi. Hehe.

Mengapa tulisan ini muncul?

Tahun 2009, sekitar 32% pengunjung website dan aplikasi web kami yang di Amerika Serikat sendiri mencapai 32%. pada penghujung tahun ketika windows 7 mulai ramai diperkenalkan, jumlahnya menurun. Sekitar 22% masih memakai IE6. Pada intinya, pengguna Internet Explorer 6 masih banyak. Terutama di kalangan pengguna internet senior (maksudnya dari sisi usia) masih susah diyakinkan bahwa ada banyak pilihan alat perambah dunia internet.

Masih banyak pengembang perangkat aplikasi web, yang entah kenapa, meminta penggunanya memakai IE6. Padahal ketika sudah berurusan dengan JavaScript, perambah internet ini sudah amat mengecewakan dan berbahaya.

Produktifitas pengembang perangkat lunak berbasis web biasanya terkurangi jika mereka harus memikirkan bagaimana aplikasi mereka jika berhadapan dengan IE6. Apabila kendala ini dapat diminimalisir, maka kita bisa meningkatkan produksi kerja para orang-orang pintar itu. Jika produksi mampu ditingkatkan, maka kualitas produk perangkat lunak berbasis web amat mungkin dapat diperbaiki.

Apakah ada solusi untuk mengatasi IE6?

Edukasi. Salah satu tujuan tulisan ini niatnya adalah berbagi pengalamn dan juga berbagi edukasi. Publik mau tidak mau harus diberitahu mengenai bahayanya memakai produk perambah internet buatan Microsoft yang bernama Internet Explorer 6.

Upgrade. Masih banyak pengguna sistem operasi buatan Microsoft yang bernama Windows XP tetap menggunakan IE6 sebagai andalan mereka dalam melakukan kegiatan berinternet. Padahal sebenarnya sudah bisa upgrade. Baik upgrade ke produk Internet Explorer yang lebih tinggi seperti IE7 atau IE8, atau ke upgrade sistem operasi.

Alternatif. Masih banyak perambah internet di muka bumi ini. Pengguna internet berbasis PC dapat menggunakan perambah handal, aman, canggih, pula sumber terbuka (open source) seperti Mozilla Firefox atau yang cepat seperti Google Chrome. Pada pengguna internet berbasis mobile maka Opera adalah nama yang dapat dikagumi.

Jadi tunggu apa lagi? Mari ramai-ramai kita tinggalkan IE6 :)

Website Yang Saya Benci!

Sebelumnya, anda tidak perlu tahu saya siapa dan bagaimana saya lahir ke dunia ini dan lantas jalur apa yang saya pilih. Sebab sama sekali tidak ada hubungannya dengan tulisan di bawah ini :D

Saya bukan siapa-siapa. Hanya orang yang suka melihat-lihat dan jalan-jalan dari satu halaman website ke halaman lainnya demi kepentingan laboratorium kecil ini. Hehe.

Pada umumnya, saya mencintai website. Terutama isi maupun tampilan yang ada didalamnya. Namun diantara website-website ini, ada website yang saya benci.

Saya tidak membenci website karena copy content-nya. Saya benci website karena:

  1. Tidak memberi alternatif tampilan
  2. Gambar atau foto yang rusak (tanpa keterangan)
  3. Loading lama
  4. Tampilan tata letak yang tidak ramah

Tentu saja saya akan sedikit terlihat aneh apabila tidak memberikan penjelasan mengenai sedikit kriteria di atas. Maka itu, ijinkanlah saya menjelaskan mengapa saya benci website-website itu.

Tidak memberi alternatif tampilan

Website yang tidak memberi alternatif tampilan

Suatu hari saya menemukan link. Kata si pemberi link, wah ini website keren. Katanya isinya baguuus banget. Katanya, mencerahkan. Dan sejuta katanya lainnya. Begitu sampai di sana, loh kok yang muncul pesan di atas;
You don’t have the latest version of Macromedia Flash Player. This web site makes use of Macromedia® FlashTM software. You have an old version of Macromedia Flash Player that cannot play the content we’ve created. Why not download and install the latest version now? It will only take a moment. Macromedia and Flash are trademarks of Macromedia, Inc.

Yang salah siapa? Saya atau yang memberi link?

Karena saya belum mau disalahkan dan yang beri link juga tidak, hehe. Maka kami sepakat menyalahkan pembuat websitenya. Hahaha.

Itu waktu bikin website gimana coba logikanya? Kok yaa tidak memberi alternatif lain kepada pengunjung yang tidak memiliki fasilitas flash atau software flash terbaru di browser mereka? Dikiranya semua orang tidak bisa hidup tanpa Flash? Hehe, ada-ada saja.

Memang sih ada pertanyaan, kok yaa nggak update saja? Kan cepat dan gampang pula?

Jawabannya banyak. Tapi kalau masalah tampilan saja hanya bisa di akses salah satu perangkat lunak saja, kan jawabannya bisa pertanyaan “Kamu bikin website apa lagi main monopoli?”

Gambar atau foto yang rusak (tanpa keterangan)
Gambar atau foto yang rusak

Ada beberapa website yang memperlihatkan gambar yang tidak tampil karena broken link atau hal lainnya dan tidak memberikan alternatif teks.

Ini jelas aneh. Sebab ada website yang sampai enam paragraph menceritakan gambar yang ada di content mereka, tapi kok yaa gambarnya tidak muncul. Hanya tanda icon bahwa gambar itu rusak.

Itu menyebalkan. Minimal menyebalkan saya. Dalam hati saya berfikir, ini webmasternya atau penanggung jawab konten apa sedang main-main tebak buah manggis. Sehingga saya dipaksa harus menebak gambar apa yang dia taruh, namun tidak kelihatan itu? Hehe.

Kalau memang rusak karena databasenya rusak, atau di deface, mungkin masih bisa dipahami. Tapi kalau rusak karena kelalaian (sebab ketauan memang db-nya bagus dan tidak diisengin orang) kan aneh melihatnya.

Lain kali, kalau mau main tebak-tebakan, kasih tahu dong. Jadi saya bisa menghindar (*Haha, sayang sekali belum ada waktu euy buat main tebak-tebakan. Apalagi tebak gambar yang rusak*)

Loading lama
image mengenai Loading yang lama

Ini yang paling menyebalkan. Lama! Di jaman di mana semuanya berlangsung cepat, loading halaman web yang lama itu tidak menyenangkan. Biarpun ada waktu, tetap saja membuka laman web yang lama itu bikin bete. Hehe.

Rumus yang pasti mengenai jumlah eksak berapa kilobyte perhalaman memang belum ada. Dulu, ketika dunia ini masih dijajah koneksi dial-up, ukuran ideal adalah 20-30 Kb per halaman. Sekarang, yaa tidak harus pasti segitu. Dimana koneksi internet makin cepat, biasanya jumlah ukuran halaman makin besar pula.

Sekarang biasanya seorang pembuat halaman website membuat riset dulu, dimana target pasar pengunjung website yang mereka buat. Dan secepat apa koneksi di sana. Riset ini penting. Karena tanpa riset, ibarat makan sayur tanpa garam (*Haha, apa hubungannya coba?*).

Kenapa waktu loading halaman yang lama masih jadi masalah?

  • Ini mah psikologi user. UI/UX yang bagus itu bukan hanya sekedar tampilan, tapi juga kecepatan.
  • Di dunia ini masih ada fakir benwit. Percaya atau tidak percaya, kaum itu masih ada eksistensinya.
  • Semakin lama waktu halaman terbuka, semakin banyak pula pengunjung website tersita waktunya. Artinya, waktu produksi di makan oleh waktu menunggu. Haduh, bahaya itu.
  • Dulu bisa saja berkelit, ini gara-gara jaringan IIX nya bermasalah (kalau di hosting di RI). Tapi jaman sekarang, di mana bikin mirror serba gampang, loading yang lama membuat tanda tanya pula kepada jasa penyedia hosting. Jadi kali suatu website loading lama dan ada embel-embel mereka di sponsori hosting anu, kan kasian tuh hosting. Pamornya menurun.  Gara-gara halaman loading lambat, banyak orang yang jadi rugi. Astaga!

Tampilan tata letak yang tidak ramah
image Tampilan tata letak yang tidak ramah

Entah kenapa, mungkin bisa gara-gara monitor atau kesalahan mata si pembuat, tampilan sebuah halaman kadang menjadi sedemikian membingungkan. Seperti misalnya, di sebuah website yang butuh login, kok yaa kotak loginnya susah di capai pengunjung. Atau di sebuah website yang luar biasa banyak produknya, fasilitas ’search’ tidak ada. Ngawur itu.

Beberapa orang membuat tampilan tata letak yang menyebalkan bisa jadi karena kesalahan prosedur (atau emang nggak bisa). Tapi ada pula yang membuat tata letak menyebalkan karena memang niatnya begitu. Contoh, konten tulisan menjelaskan produk barang sebanyak 1000 kata, semuanya align=center. Jadi tulisannya di tengah-tengah begitu. Lah apa maksudnya? Deskripsi apa bikin puisi?

Hehe… Sudah cukup dulu sekian cuhat colongan dari saya pada hari ini. masih banyak sih another rants. Tapi saya kebetulan lagi lumayan sibuk nih di pabrik. Hehe. Akhirul kalam, maap-maap kalo ada salah kita. Seperti kata pepatah, 4 x 4 = 16. Sempat tidak sempat, pasti akan di balas. Hihihi.

Cheriooo…