Archive for the 'website' Category

Your request to URL “../../” has been blocked

The headline on my RSS feeder news is quite clear “NY gay marriage battle: Couples head to Albany” and makes me wonder how it going through since DADT (Dont Ask Dont Tell) policy on US ARMY that makes openly gay and lesbian can not active in military is no longer exist after President US Obama signs the repeal on last December (2010).

So I click the link. Found out that articles were blocked under company Gateway, McAfee:

 

 

 

 

 

 

Is it odd that there is consideration that US Politics news by MSN is classified as sexual, erotic or adult content?

Cerita Drama Dengan Lakon Website DPR RI


Peretesan adalah bahasa Indonesia yang berasal dari terjemahan bahasa Inggris ‘hacking’. Pada implementasinya, perubahan tampilan situs web secara tidak resmi dan dilakukan bukan oleh sumber daya resmi yang disetujui oleh pemilik situs web bahkan disebut juga sebagai peretasan.

Beberapa hari ini media massa di Indonesia hingga narablog ramai memberitakan peretasan terhadap situs web pemerintah antara lain milik POLRI (yang setahu saya memang sering diretas) dan situs Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas). Berita ini bahkan sudah sampai ke media mainstream. Akibatnya, datang tanggapan dari publik. Baik pro maupun kontra. Tapi kali ini saya tidak akan membahas pro dan kontra peretasan situs pemerintah. Saya hanya bapak-bapak buruh biasa yang berasal dari Cilincing, sama sekali bukan peretas. Saya pikir saya tidak cukup pintar untuk perlu mencampuri urusan peretasan tersebut.

Tapi, saya akan bicara soal situs web dewan rakyat Indonesia yang beralamat di http://dpr.go.id. Iya, saya akan bicara soal situs web Dewan Perwakilan Rakyat.

Karena ceritanya agak rumit, mungkin akan lebih baik jika saya urutkan berdasarkan kronologi waktu saja. Begini kronologinya:

Rabu 11 Mei 2011 – Anggota Komisi I DPR dari Fraksi Partai Demokrat (PD), Roy Suryo, berkata kepada wartawan di gedung DPR, Senayan, Jakarta, bahwa pengadaan sarana IT (Informasi Teknologi) di DPR adalah sebesar 9,4 Miliar rupiah (sumber: detiknews http://goo.gl/7GIpF)

Rabu 11 Mei 2011 – DI hari yang sama, wakil ketua DPR Pramono Anung berkata bahwa ia akan melakukan pengecekan dan ketika sudah selesai, ia bilang bahwa stafnya melaporkan baru ada pengeluaran sebesar 5,9 miliar rupiah (sumber: news okezone http://goo.gl/9Btk1)

Kamis 12 Mei 2011 – Anggaran pengelolaan IT DPR RI hampir mencapai Rp 20 Miliar per tahun dalam pos anggaran Sekretariat Jenderal DPR tahun 2010. Peneliti Indonesia Budget Centre (IBC) Roy Salam merinci, dana pemeliharaan dan pengembangan system informasi DPR ini terbagi untuk dua pos, yakni untuk biaya pemeliharaan website sebesar Rp 8,4 milar per tahun, dan biaya pemeliharaan situs www.dpr.go.id senilai Rp 1,3 miliar per tahun. Sedangkan untuk pos anggaran pengembangan system informasi, terbagi untuk pembangunan dan pengembangan IT dan untuk seminar dan lokakarya. (sumber: gresnews http://goo.gl/umBDu)

Kamis 12 Mei 2011 – Andi Mardiansyah dari Team IT DPR (andi@dpr.go.id) mengkonfirmasi bahwa anggaran IT DPR 2010 adalah 10 miliar rupiah. Tapi yang terpakai cuma 5,6 miliar. Katanya untuk membiayai seluruh kegiatan IT DPR selama setahun. Total ada 32 kegiatan. Pengeluaran yang paling besar 1.43 M untuk biaya internet provider, sisanya untuk pembelian dan maintenance hardware, server, jaringan, litbang dll. Menurutnya pengadaan IT DPR sudah sesuai Kepres dan PP dan sudah dilakukan audit oleh BPK sehingga bisa dipertanggungjawabkan dan ditanya kepada BPK. (sumber Team.IT.DPR di thread forum Indonesia Kaskus “IT DPR Mahal?, masak sih?” http://goo.gl/3ITdB)

(*Saya coba cek ulang pernyataan Andi ke situs BPK. Sayang sekali saya belum menemukan laporan dari BPK. Bisa jadi karena laporannya belum selesai, bisa jadi karena saya yang tidak begitu teliti mencarinya (hehe). Saya cari di bagian Laporan Hasil Pemeriksaan BPK-RI di laman web ini (http://goo.gl/N6rUY) sayang sekali belum ketemu. Bagi yang sudah berhasil menemukannya mohon dibagi infonya*)

Senin 16 Mei 2011 – Lagi-lagi anggota Komisi I DPR dari Fraksi Partai Demokrat (PD), Roy Suryo, berkata pada wartawan bahwa situs DPR RI diisengi hingga kebobolan dengan adanya tulisan dibawah website tertera “thanKs buAt Seluruh raKyat nUSantara -ttd, webmastER dpr.go.i’d”. Roy menyalahkan Admin/Tim IT situs DPR RI dan meminta mereka melakukan klarifikasi. Sebab sebenarnya ketersediaan fasilitas untuk admin/tim IT di DPR sangat besar, namun penggunaannya sangat tidak maksimal. (Sumber: techno okezone http://goo.gl/wvpDk)

Senin 16 Mei 2011 – team pengembang website DPR RI hadir lagi di forum Kaskus memberikan penjelasan mengapa ada uang sebesar 9 miliar rupiah ke publik. Dikutip dari sumber: “Kenapa bisa keluar harga 9 Miliar? Karena itu harga total ‘belanja’ seluruh penunjang IT di DPR. Mulai dari bandwidth, pengadaan aplikasi dan sistem informasi termasuk website, juga untuk pembelian alat-alat hardware (PC komputer, server2, UTP, kabel2), perawatan AC kering untuk ruang server, perawatan UPS segede lemari 4 pintu, dan lain-lain nya… banyak banget gan. Sedangkan untuk tahun ini anggarannya sudah dilakukan efisiensi sampe 50%. Karena harga bandwidth telah jauh turun, sistem pengadaan bandwidth pun dengan sistem lelang. Jadi tiap tahun kemungkinan provider bandwidth kita ganti2! karena kita ambil pemenangnya dari harga termurah yang ditawarkan, tujuannya untuk penghematan belanja. Kenapa kita ngga pake provider bandwidth yang tetap??, karena kita mengikuti peraturan pemerintah dan Kepres bahwa pengadaan diatas jumlah tertentu itu harus lelang terbuka (penunjukan langsung rawan korupsi gan).
(Sumber Kaskus http://goo.gl/OLRWe)

Kelihatannya teman-teman di kaskus sudah banyak yang panas memang dengan drama website 9 miliar rupiah ini :) Sabar yaa Agan-agan :)

Dari penjelasan rekan-rekan pengembang website DPR-RI ada beberapa kesimpulan yang bisa ditangkap:

  1. Para pengembang website ini tidak membantah bahwa memang ada budget yang cukup besar untuk belanja IT.
  2. Tidak ada bantahan dari pengembang bahwa mereka tidak mengusulkan platform finansial untuk IT DPR RI.
  3. Bahwa telah dilakukan audit dari KPK terhadap keuangan IT DPR RI.
  4. Bahwa rekan-rekan publik baik dari pengembang aplikasi website maupun bukan  sedemikian kaget dengan besarnya budget anggaran website. Akibat kinerja anggota DPR RI yang memilukan maka rekan-rekan tersebut pun ikut mengalamatkan kekecewaan mereka pada IT DPR RI.

Saya pribadi tidak bisa bilang apa-apa. Ini bukan drama saya, hehe. Tapi mengikuti drama ini memang seru. Saya hanya berharap bahwa kita dapat menemukan bukti audit dan teman-teman di IT DPR RI dapat melaksanakan pekerjaannya dengan baik dan memberikan bukti kepada kita semua.

Tidak adil memberikan generalisasi cap buruk pada semua seksi di DPR RI. Walau sudah jadi rahasia umum bahwa gedung DPR adalah markas perampok rakyat namun ada baiknya jika mata kita masih mau menonton dan mendengar penjelasan artis sinetron DPR RI  jika ada beberapa dari mereka yang mau memberikan penjelasan.

Menurut saya, sejelek-jeleknya para artis sinetron itu, minimal mereka masih mau memberikan penjelasan. Setidaknya penjelasan mereka sangat bisa dicek-ulang. Tidak susah loh mengecek ulang bukti digital.

Maka jika teman-teman IT DPR RI berbohong, yaa amat disayangkan. Sebab kepercayaan kita yang semakin menipis pada pemerintah akan semakin rendah saja.

Anyway, untuk teman-teman yang berjuang di lini plat merah, selamat terus berjuang. Kami mendukung. Kami abadi. Berjuanglah untuk kami yang mendukung kalian, bukan berjuang atas nama rezim yang akan selalu berganti.

Jangan berkhianat. Sebab toh kita sama-sama tahu apa hukuman buat pengkhianat.

(*Apa yaa hukumannya? Hahaha*)

Instal ScribFire Di Opera Lalu Blogging Setelahnya

Tadi pagi di GoogleBuzz saya ada info dari evangelist Opera indonesia, Mr Yeni Setiawan a.k.a Sandalian :) Beliau memberitahu info baru bahwa ScribeFire sudah bisa diinstall di Opera.

Langsung deh saya coba. Maka langkah yang saya lakukan adalah:

  1. Jelas buka browser Opera
  2. Download AddOns ScribeFire. Setelah klik Install Now di kanan atas halaman. Saya dapat pesan aneh. Kok tidak bisa diinstall. Melainkan harus disimpan terlebih dahulu. Maka itu dalam proses download, saya simpan ini file yang berekstensi oex (tanda bahwa file ini adalah addons opera, yang ternyata kita bisa buat dengan HTML, CSS dan JavaScript) di desktop
  3. Katanya, untuk install addons opera, gampang sekali. File oex yang sudah kita simpan itu, tinggal ditarik saja ke jendela URL browser pakai mouse.
  4. Saya tarik berkali-kali dari desktop ke URL opera, kok gagal terus… Ada apa gerangan?

Ternyata, saya yang ketinggalan jaman. Setelah saya baca-baca dikit, terlihat bahwa AddOns opera baru bisa digunakan apabila kita memakai browser dengan versi 11 ke atas. Oh-oh, Opera saya masih versi 10.6.3. Maka saya langsung download opera terbaru. Anehnya, link download langsung Opera di blok oleh kantor saya. Uugh, not nice. maka itu saya download pakai tunnel (*kalau cara unduh begini, saya tidak jelaskan sama publik, hehe. Nggak saya ajarin juga sudah banyak yang tahu. Lagian info saya kalau beginian mah basi deh. Jadi saya pikir saya nggak perlu bagi info download dengan cara ‘tak lazim’*)

Setelah sukses download dan install Opera terbaru, baru dah saya drag and drop itu scribefire-1.5-1.oex ke alamat URL browser. Setelah itu muncul pesan berupa dialog box apakah saya kan menginstall scribefire

Sukses install dan upgrade opera lalu install scribefire

 Setelah diinstall muncul tombol baru di kanan atas di samping kotak pencari di jendela browser

 scribefire opera button

Setelah tombol itu kita klik akan muncul jendela memasukkan alamat blog yang akan kita isi

Add new blog scribefire opera

Di dialog blog ini, yang membuat saya bingung adalah API URLnya. Apa pula itu?

Ternyata setelah lihat kiri kanan, karena engine blog saya adalah wordpress, maka langkah yang harus saya lakukan adalah:

  1. Mengaktifkan  XML-RPC di wordpress. Caranya: Login ke Dashboard blog > Setttings > Writing > Centang pilihan “Enable the WordPress, Movable Type, MetaWeblog and Blogger XML-RPC publishing protocols.” untuk mengaktifkan API URL blog.
  2. Isi API URL dengan alamat domain blog + xmlrpc.php (misalnya blog anda namanya buluketek.com, maka diisi dengan www.buluketek.com/xmlrpc.php

Setelah mengisi form user dan pass, saya langsung masuk ke halaman utama scribefire Opera. Ini tampilannya:

 scribefire opera UI

Lumayan. WYSWYG nya hampir serupa dengan ScribeFire di Chrome/Firefox/Safari. Yang baru yang saya lihat adalah layanan bernama Zemanta. Penjelasan Zemanta sendiri adalah ” Zemanta membantu Anda membuat posting blog yang lebih kaya dengan mengenali topik yang Anda buat lalu menyarankan tautan terkait yang berguna…”

Setelah saya cek, ternyata mungkin Zemanta membantu arsitektur dan tata hyperlink di blog kita agar lebih variatif dalam ‘menjajakan’ hyperlink. Fungsinya sendiri dibatasi hingga seribu perhari. Mungkin menghindari link farm.

Anyway, posting ini dibuat dengan menggunakan ScribeFire di Opera :)

Thanks to you guys in ScribeFire team

Mengapa Harus Ganti Theme Blog Dan Mengapa Tidak?

Saya tidak suka gonta-ganti theme tampilan blog.

Alasannya sederhana:

  1. Branding. Tampilan itu mencerminkan brand. Identitas. Saya tidak suka ganti identitas (*kecuali kalau browsing, maka itu saya adalah pemuja TOR, haha*). Identitas itu perlu. Bukan hanya perlu ada, melainkan juga perlu dibangun. Salah satu cara membangun identitas adalah memiliki branding yang kuat. Kalau tidak punya branding yang kuat secara visual, maka sebaiknya memiliki branding yang memiliki ketahanan kuantitas waktu
  2. Sok Unik Tapi Malas. Ini alasan yang paling jujur. Saya biasanya malas ngoprek script lagi. Saya bosan ngoding. Seharian ngoding, malamnya ngoding lagi. Begadang temannya teh, musik klasik, LAMPP/XAMPP dan gedit/notepad++ hanya buat ngoding. Tapi kalau tidak ngoprek scripts maka tampilan web standar banget. Apa uniknya kalau cuma copy paste theme orang? Apa kekuatan usability web kita kalau cuma sekedar pakai yang sudah jadi? Maka itu harus unik dong… Tapi itu yaa itu penyakitnya, males… Hehehe
  3. Usability. Saya ganti tampilan atau feature web kalau memang saya sendiri sudah gerah dengan usability web saya. Kalau saya gerah, sih masih bisa kipas-kipas. Tapi kalau pengunjung sudah gerah, wah gawat itu. Makin dikipas makin gede apinya. Pengunjung sudah biasa mampir ke web kita. Dari mereka kita belajar UI/UX. Kalau gonta-ganti theme tanpa rekomendasi mereka, sebaiknya saya memang nggak ganti tampilan lah. Lah saya kan dandan buat pengunjung saya :)
  4. Security. ganti theme itu artinya ganti segala macem. Paling enak sih bikin theme sendiri. Semuanya sudah kita jamin keamanannya. Lah saya kan males. Paling saya ambil theme orang terus saya kulik sedikit script-scriptnya. Padahal, seharusnya kan butuh testing. Mulai dari testing di development, QA dan juga di production. Itu baru testing design dan usability, belum testing security. Belum lagi audit dan review. Waaahhh… pecah kepala kalau tiap ada waktu luang hanya ada untuk test
  5. Nggak Cukup Waktu. Pernah dengar database? Kalau pernah pasti pernah dengar backup database dong? Nahh, ini pula jangan dikecilkan peranannya. Backup database, menyimpannya di tempat aman terus melakukan analisa ini memakan waktu yang tidak sedikit loh. padahal backup database dari blog bukan sesuatu yang sulit dan memakan waktu banyak. Tapi jika setiap hari waktu Anda sudah dimakan oleh kegiatan lainnnya di atas, maka backup database bisa jadi salah satu resource hog tambahan.
  6. Biaya. Ini salah satu pertimbangan penting juga sih. Sebenarnya gonta-ganti theme sama sekali tidak makan biaya. Tapi ketika sedang ngoprek theme terus kepincut dengan theme yang berat loadingnya, mau ga mau kan makan bandwith buat pengunjung dan server. Bandwith lebih itu artinya yaa biaya buat kita sebagai penyedia layanan web dan juga pengunjung yang datang mampir ke web kita. Saya malas membebani pengunjung saya dengan biaya tambahan akibat web saya susah ditampilkan di browser mereka gara-gara berat tampilannya. Tulisan saya sudah dibaca saja sukurnya bukan main :)

Tapi… Tapiii… Hari ini baru saja saya update/ganti theme baru di blog lab ini dan blog utama di bangaip.org.

Alasannya:

  1. Demi Pengunjung. Beberapa orang pengunjung yang juga teman-teman saya (diantaranya Pak Harry Sufehmi) memberi tahu mengenai usability theme saya yang melemah. Wah ini masukan yang berguna sekali. Saya usahakan selalu memenuhi kebutuhan pengunjung blog saya. Sebab dari tangan mereka lah user experience kita jadi bertambah.
  2. Interface. Saya tidak bosan dengan tampilan yang lama. Sama sekali tidak. Tapi saya menginginkan tampilan yang secara disain lebih minimalis. Ketika usia makin bertambah begini dan setiap hari berurusan dengan disain minimalis, saya menginginkan pula interface yang minimalis. Prinsip baru less is more sudah beberapa tahun belakangan ini mendasari kegiatan saya dalam mendisain. Makin sedikit distraksi pada tampilan web, makin konsentrasi pengunjung saya terhadap konten web.
  3. Ada Fasilitas. Hahaha. Saya kebetulan punya waktu beberapa jam hari ini untuk ngoprek theme web. Saya pergunakan lah sebaik-baiknya. Jarang sekali punya kesempatan waktu dari makan siang sampai sore begini untuk ngoprek web pribadi. Selain itu, saya kebetulan kerja dengan beberapa OS sekaligus hari ini. Jadi selain bisa cek tampilan UI saya juga bisa mengecek security dan desain di bawah beberapa browser dan platform system sekaligus.
  4. Future Proof. Kata teman saya Toni, kalau mau beli televisi jangan setiap tiga tahun sekali, rugi itu namanya. Simpelnya, kalau mau sesuatu yang bertahan di masa depan maka harus tahu bagaimana strateginya. Saya cari theme yang sederhana dan minimalis sebab memang sudah terbukti kalau minimalis itu selain mudah diingat, mudah dioprek, mudah ditambahi dan juga (kadang-kadang) mudah penggunaannya. Jadi kalau saya pakai theme sederhana dan minimalis saat ini, saya harap di kemudian hari nanti tidak terkesan out of date. Terlalu kuno untuk ditampilkan di muka publik.
  5. Terapi Ingatan. Kemampuan manusia mengingat itu tidak canggih. Kemampuan saya mengingat, lebih parah daripada manusia kebanyakan. Dengan melakukan gerakan-gerakan koding hari ini saya dipaksa kembali mengeluarkan jurus-jurus PHP dan CSS dalam mencapai tujuan. Ini bagus buat kordinasi otak saya, hehe. Moga-moga dengan mengoprek script kita bisa belajar melawan lupa. Amiin…

Yang lebih syukur dari semua ini adalah… Saya bisa update blog laboratorium ini lagi. Hehehe.

Membuka Blokade Sensor Konten Internet Pada Browser

logo liveandroid image

Saya sepenuhnya sadar, bahwa beberapa situs media sosial di blok karena alasan tertentu yang cukup penting. Diantaranya adalah blokade pada situs tertentu berdasarkan isinya.

Filterisasi konten sendiri adalah teknik dimana konten yang diblokir atau diizinkan berdasarkan analisis isinya, bukan dari sumber atau kriteria lainnya. Sebenarnya teknik ini paling banyak digunakan di internet untuk menyaring email dan akses web.

Umumnya, blokade pada situs-situs tertentu (atau dikenal sebagai content filtering) adalah antara lain karena:

  • Mempunyai kemungkinan isi yang menyakiti perasaan kalangan tertentu dan akan menghasilkan domino effect setelahnya (*Bagian ini selalu jadi permasalahan, sebab kalimat ‘menyakiti perasaan’ itu jelas amat subjektif*)
  • Konten ilegal atau tidak sesuai dengan norma hukum negara tertentu
  • Menghalangi produktifitas (apabila jam kerja)

Secara pribadi, sebenarnya saya tidak terlalu masalah mengenai blocking pada internet content. Sebab saya benci web spam dan scam. Dan selalu berdoa, semoga tuhannya internet mampu mempunyai malaikat canggih yang mampu memberantas makhluk-makhluk sial bernama spammer dan scammer itu.

Selama ini, saya tidak pernah berbenturan dengan kebebasan dalam mengakses konten internet. Sebab hanya mengakses bagian yang perlu dan berguna buat kehidupan saya, keluarga dan pekerjaan saja.

Namun beberapa hari terakhir ini, akibat client penting menggunakan facebook sebagai sarana beliau dalam mengakses email dan facebook adalah situs dengan kontent diblokade oleh kantor, maka saya pun uring-uringan dengan filterisasi konten. Pakai VPN, pun sama hasilnya, gagal euy. Sebab hanya beberapa IP address saja yang diijinkan untuk berkomunikasi keluar secara langsung dari gedung tempat saya memburuh saat ini.

Sebelumnya, saya pernah menulis cara membuka blokade konten (dalam hal ini facebook) dengan memakai proxy terbuka dengan menggunakan mesin pencari Google. Namun, kali saya kan coba trik lain.

Yaitu, membuka filterisasi konten dengan vmware dan mobile browser.

Mengapa VMware?

Hehe. Nggak perlu pakai VMware sih, yang penting virtualisasi mesin saja. Saya pakai VMware karena gratis dan akan berjalan baik di mesin berbasis Windows XP SP3 ini. Hehe. Maka itu, sebelumnya kita harus punya VMware dulu.

Download VMware Player (sayang harus register dulu. Tapi ga masalah sih. Perangkat lunak ini bagus euy)
Install VMware (dalam Bahasa Indonesia)

Mobile browser apa yang oke?

Saya pakai LiveAndroid. Sudah pernah sih coba pakai mobile Opera. Tapi karena penggunanya banyak, Opera mini bahkan sudah disusupi oleh blokade kantor. Kalau semua produk RIM, pasti ga akan bisa. Apapun browsernya, BlackBerry memiliki user khusus yang amat spesifik. Lalu lintas data di BleackBerry di kontrol sedemikian kuat. Meniru milik Obama, bahkan beberapa BlackBerry milik orang tertentu di tempat kami dimodifikasi demi tingkat keamanan yang lebih tinggi.

Sistem operasi robot kolor ijo (android) ini jadi jawaban. Sebab Android memiliki produk LiveAndroid yang bisa di pasang langsung di PC berbasis XP saya ini.

Download LiveAndroid
Install LiveAndroid dengan vmware (saya pernah coba install LiveAndroid pakai virtualbox, tapi gagal euy)

Hasilnya

Awal tampilan booting. Batre katanya tinggal 15 persen. Entah apa maksudnya, saya juga bingung. Saya cuekin aja deh.

live android first boot image

Lalu klik browser dan memasukkan input facebook login di alamat pencarian google.

facebook login image

Setelah login, saya pun mulai membalas surat-surat penting yang datang lewat facebook.

tampilan aplikasi dalam facebook image

Setelah selesai. Saya log-out. Sayangnya, browser melemparkan pesan error 400

facebook mobile liveandroid logout error 400 image

Pesan error ini ternyata cukup bermasalah. Sebab apabila menekan tombol escape yang ada di pojok kiri atas pada keyboard, maka facebook tidak sebenar-benarnya logout. Melainkan akan kembali ke halaman semula. Dan ini sama sekali tidak baik untuk keamanan.

Solusinya, lihat browser liveandroid bagian kiri bawah. Ganti tampilan menjadi ‘full site’ lalu logout. Habis itu beres dah.

Selamat mencoba, kalau mau.

Kalau nggak mau, yaa jangan :)

Memilih Framework Open Source Yang Tepat (Kursus HTML Online)

jquery logo bangaip imageMaaf sebelumnya. Saya cuma mau cerita sedikit soal pembangunan aplikasi web berbasis HTML (termasuk didalamnya CSS dan JavaScript dan ikut-ikutan pula konco-konco dari JSP serta JSF) di sini. Bukan mau memberi kursus online. Hehe.

Sepagian ini saya GR (Gede Rasa) banget. Saya baru saja dapat input yang bagus dari team kami di US dan di Jerman. Dan pada utamanya, ini memang cerita soal kegeeran saya. Hehehe.

Risk Management Factor

Pertama dari US. Pendapat saya menggunakan JQuery sebagai framework dalam membangun aplikasi web sejalan HTML ternyata mendapat tantangan luar biasa keras.

Beberapa junior developer bahkan tidak pernah memakai JQuery, apalagi mendengarnya (*Dalam hati saya bilang “Buset kemana aja ente, Say!”*). Beberapa senior developer menentangnya karena sifat JavaScript yang ‘buggy’ ketika dieksekusi peramban internet.

Salah seorang bosnya senior developer malah berkata bahwa aplikasi yang kami bangun (tidak perlu disebutkan namanya) jauh lebih baik ketimbang memakai JQuery (atau memakai framework berbasis JavaScript lainnya sebab kami sudah menggunakan aplikasi ini sejak musim panas tahun lalu).

Namun untung saja saya dibelain. Hehe, untunglah. Sebab kalo nggak, saya dimusuhin. Hihi.

Beberapa orang memilih JQuery karena sifatnya:

  • Open source (jadi kode sumbernya bisa kita dapatkan dan kita utak-atik sesuai dengan standarisasi yang akan kita bangun. Terutama dalam membangun plugin yang cocok untuk membantu perkembangan bisnis)
  • Big players also do JQuery. Saya tidak perlu menyebut nama para pemain lama di dunia branding dan developing web itu (sebab akan jadi perdebatan publik nantinya soal pemilihan kalimat ‘Big Players’) namun banyak situs yang bersifat corporate dan pemerintahan menggunakan JQuery sebagai salah satu framework pembangunan situs mereka. Ketika Big Players memilih JQuery, mereka pasti sudah lebih memikirkannya matang-matang daripada kami. Dan saya yakin mereka tidak gegabah menggunakan sembarang framework.
  • Aplikasi berbasis web awal yang kami bangun berjalan dengan baik di Internet Explorer 6 (yang sialnya masih saja digunakan oleh 16% manusia di muka bumi untuk mengakses aplikasi yang kami bangun, padahal itu browser abal-abal). Namun sampai kapan? Sebab ketika IE6 musnah, artinya akan ada lagi sumber daya yang akan digunakan untuk memodifikasi aplikasi ini. Dan pikirkan saja tenaga, biaya, waktu, SDM, mesin dan bla-bla-bla lainnya yang akan keluar hanya karena mempertahankan aplikasi yang bisa jadi akan out of date dalam jangka waktu sebentar saja. Maka itu standarisasi menjadi penting. Dan JQuery kelihatannya mampu mengadaptasi standarisasi.

Memilih JQuery sebagai bahan pendapat dan melemparkannya pada beberapa team lokal dan internasional, sebenarnya hanyalah kebetulan saja. Saya cukup kaget ketika melihat beberapa aplikasi yang kami bangun (dan masih akan dibangun) ternyata sudah diadaptasi oleh JQuery. Loh kalau sudah ada yang open source dan supportnya banyak, ngapain susah payah membangun aplikasi yang benar-benar dari awal? Bukankah itu tidak efisien? Maka itu saya melemparkan isu JQuery agar bisa diadopsi oleh kebijakan team.

Beberapa orang cukup kaget ketika saya melemparkan ide untuk menggunakan framework JQuery dalam membangun aplikasi berbasis web. Ini disebabkan oleh edukasi mereka yang sudah sedemikian baik sehingga selalu berfikir mengenai faktor menata resiko yang ditimbulkan oleh sebuah perangkat lunak/keras dan kemungkinannya di masa depan.

Saya belajar sesuatu dari reaksi penolakan keras itu. Saya belajar bahwa kadang-kadang kita harus imbang dalam hidup. Jangan mentang-mentang gratis maka sebuah hal adalah baik. Namun harus dipikirkan baik-baik kemaslahatannya untuk orang banyak di masa depan. Begitupula sama dengan aplikasi komputer yang akan melibatkan banyak perut manusia.

Namun dari penolakan ini, saya mampu melihat bahwa beberapa orang dimana saya bekerja dekat dengan baik sehari-hari, adalah ahli dibidangnya dan selalu melakukan riset dan cross check sebelum melontarkan pendapat mereka di depan publik (meskipun publik itu ternyata adalah teman-teman dekatnya sendiri).

Sampai saat ini, belum ada hasilnya antara pendukung JQuery dengan penentangnya. Siapa yang lebih unggul atau siapa yang akan tersingkir. Tapi saya bangga, mampu membawa topik diskusi yang sehat dan baik yang bukan saja hanya berguna untuk saya pribadi, namun juga untuk rekan se-tim kami. (*Hehe, ge-er banget saya nih.*)

Apapun hasilnya, saya jadi ingat lagu Bang Iwan Fals dalam lagu Seperti Matahari, “Tujuan bukan utama. Yang utama adalah prosesnya”. Sebab apapun hasil dari diskusi hangat antara penggunaan JQuery atau tidak, akan sangat berguna buat kelangsungan hidup banyak kami di kemudian hari nanti yang menggantungkan hidup dari HTML dan konco-konconya :) .

Semuanya Pasti Possible Kalau Ikhlas

Seorang perempuan muda, berusia akhir 20-an datang ke kantor kami jauh sebelum saya tiba. Edukasi formal yang dienyamnya, membuat ia memiliki kadar ijasah yang lebih tinggi daripada milik saya. Simpel kata, ia walaupun muda namun lebih tinggi garis hierarkisnya daripada saya.

Sejak dua tahun lalu, ia memutuskan untuk mengambil alih pekerjaan membangun aplikasi web sejak webmaster kami menikah dan hijrah ke negeri lain. Sambil benar-benar buta dan sambil mengerjakan pekerjaan utama yang tidak kalah meletihkan sebagai associate marketing director, ia membangun aplikasi web berbasis HTML,CSS dan JSP. Belajar sambil melakukannya. Bahasa bulenya, learning by doing.

Dulu suatu hari, ia datang kepada saya. Meminta mesin virtual, agar kami bisa bekerja sama-sama. Banyak anggota rekan kami yang menentangnya. Maklum, memutuskan untuk membangun mesin virtual baru itu artinya butuh waktu tambahan untuk memaintainnya. Dan waktu itu selalu amat berharga di antara kami yang super sibuk.

Entah kenapa… Saya membelanya. Saya tahu dia buta kode script pemrograman. Saya tahu dia tidak tahu apa-apa soal HTML. Bahkan saya tahu dia pasti akan sangat super sibuk dalam hidupnya. Namun entah kenapa, masih saja saya bela.

Dengan cueknya saya meminta team IT untuk melakukan setting terhadap mesin virtualnya. Dengan cueknya, saya meminta jatah tambahan pada atasan saya untuk memposkan bujet khusus untuk dia. Padahal kami berdua hanya kenal melalui email belaka dan belum pernah bertatap muka.

Entah kenapa?

Dua tahun kami lalui dengan capek. Dia mati-matian belajar HTML. Kadang-kadang saya pun pulang telat kerja sebab harus memberikan panduan semacam kursus kilat secara online kepadanya mengenai HTML. Saya garuk-garuk kepala sambil gigit jari-jari sambil membersihkan, menstandarisasi script-script yang ia buat dan kirimkan sebelum diterjunkan pada deployment worldwide.

Dan itu terjadi selama dua tahun.

Dua tahun berlalu sudah. Dan tadi pagi saya dikejutkan oleh kenyataan bahwa semua script XHTML dan JavaScript yang ia tulis benar-benar bersih, nyaman di baca dan memiliki standar tinggi.

Saking senangnya, saya tulis email kepada beliau sambil memuji tampilan dan script aplikasi yang ia buat.

Tidak lama kemudian email itu ia balas. Jawabannya membuat saya tertegun. Dia bilang, “my work would never be possible without your detailed feedback and instructions. You’re a good trainer ;-)

Kalimatnya simpel. Tapi membuat saya lumayan terharu. Sekaligus bangga. Seorang perempuan muda cantik menarik namun well educated, memuji saya setinggi langit.

Ahhh, jadi ge-er saya, nih… :D

(*Biarkanlah saya sejenak untuk menikmati kegeeran dan sensasi culun sesaat pada sore hari yang hangat ini. Sebab jarang sih dapet yang kayak ginian. Hehe*)

Mencari Proxy Gratis Ketika Sensor Menggila

Saya tahu ini cerita basi. Maaf yaah :( Tapi akibat bosan terus-terusan mendapat pertanyaan yang sama. Maka ada baiknya info ini saya bagi.

Saya kesulitan mencari proxy gratis yang bahkan di sarankan oleh mesin pencari. Sebab secara otomatis, URL laman-laman website yang disarankan mesin pencari akan otomatis di block oleh kantor (yeah, kami punya mesin pemblock yang luar biasa dan saya dengan amat terpaksa merahasiakan informasi mengenai hal ini dari publik).

Untuk meminta ijin bahwa komputer saya akan mengakses website tertentu yang mengandung content bertuliskan ‘proxy‘ atau ‘anonymous surfing‘ (*iya, banyak sekali phrase yang di block oleh mesin penyensor kami, diantaranya dua kalimat itu*), jelas amat bisa. Tapi sebelumnya harus mengisi banyak formulir dan menuliskan alamat website agar bisa di review (bahasa halus dari sensor) oleh teman-teman dari departemen IT. Dan itu hal yang amat membosankan. Sebab butuh sumber daya waktu. Padahal hanya mau membalas email penting dari client yang 24 jam hidupnya tergantung dari facebook (dan content FB adalah salah satu yang di banned kantor saya)

Maka, biasanya saya dengan amat nakalnya menyingkat hal tersebut. Dengan menggunakan mesin pencari (seperti google misalnya) saya menuliskan di browser

+”:8080″ +”:3128″ +”:80″ filetype:txt 2010

Apa artinya?

+”:8080″ adalah meminta agar mesin pencari mencari string 8080. Dan 8080 adalah gabungan dari port 80 (saluran standar membuka internet)

Port ini adalah alternatif yang populer untuk port 80 untuk menawarkan layanan web. “8080″ dipilih karena ada “dua 80″, dan juga karena berada di atas rentang pelayanan jasa porting juga dikenal sebagai port pembatas (port 1-1023). Biasanya digunakan dalam URL untuk menimpa eksplisit “port default”.

Latar Belakang dan Informasi Tambahan:

Internet sebagian besar lahir pada sistem berbasis UNIX dan server. UNIX memaksa gagasan dari 1023 pertama “port istimewa” yang hanya dapat dibuka dengan layanan yang berjalan dengan apa yang disebut “root”, atau administratif, atau hak istimewa. Secara historis, ini berarti bahwa hanya sistem administrator yang berwenang mampu mendirikan dan mengoperasikan sebuah web server pada port 80 karena ini adalah dalam wilayah-port istimewa pertama 1023. Oleh karena itu, ketika non-administrator ingin menjalankan web server sendiri di mesin yang mungkin sudah memiliki sebuah server yang berjalan pada port 80, atau ketika mereka tidak memiliki izin untuk menjalankan layanan di bawah ini port 1024, port 8080 sering dipilih sebagai tempat yang nyaman untuk host atau alternatif web server sekunder.

Trojan yang pernah terdeteksi di port ini: Brown Orifice, Generic backdoor, RemoConChubo, Reverse WWW Tunnel Backdoor, RingZero

+”:3128″ adalah port squid (terkenal juga sebagai squid cache atau HTTP Proxies untuk menjembatani manusia dengan mesin yang mampu membuat mereka jadi tak terlihat, atau internetan jadi lebih kenceng, hehe) yang seringkali digunakan/diizinkan di US (wilayah juridiksi kerja saya ada di bawah hukum pemerintah Amerika Serikat) untuk digunakan secara terbuka. Jadi saya menggunakan port ini untuk berkomunikasi melalui proxy. Sebab legal dan sering digunakan para administrator untuk menjalankan jaringannya menuju internet.

+”:80″ adalah port menurut no-ip.com port 80 adalah “standard port which web(http) servers run on. Many ISP’s have blocked port 80 to stop viruses such as Nimda from slowing down their networks and infecting there customers computers.” Saya pribadi tidak akan melakukan apa-apa dengan port ini, saya hanya ingin tahu, adakah proxy terbuka yang menggunakan port ini.

“filetype:txt” adalah jenis file yang saya cari. Basisnya adalah text dan dapat dirender dengan cepat pada browser. Mengapa saya mencari jenis file ini, sebab hasil pencarian dengan laman yang menampilkan ekstensi html, php, jsp, asp dan lain sebagainya pasti sudah diblock.

“2010″ adalah tahun pencarian. Biasanya saya memang mencari proxy yang baru. Mesin pencari akan mengindeks halaman yang sudah dilihat oleh banyak orang lalu SEO akan menampilkannya di halaman pertama. Apabila teori ini benar, maka hasil pencarian proxy dalam teks yang tampil di halaman pertama mesin pencari akan menampilkan halaman-halaman yang amat populer dan mungkin overloaded dan usang. Untuk menghindari hal itu, saya memakai hasil pencarian terkini. Dan 2010 adalah tahun terkini (ketika tulisan ini dibuat).

Semoga informasi yang walaupun jadul (jaman dulu) dan kampungan ini sedikit berguna :)

Memahami Dasar CSS versi Lie

foto Håkon Wium LieSaya telat, baru baca tesisnya Håkon Wium Lie. Ini tesis keren sekali. Judulnya Cascading Style Sheets. Iya benar, CSS. Asal mula dan bagaimana terbentuknya CSS ada di sini.

Kenapa telat?

Nggak, saya nggak begitu telat. Saya sudah baca bukunya Lie yang edisi pertama Cascading Style Sheets: Designing for the Web. Buku ini penting buat awal-awal perkembangan membuat sketsa design dan menentukan arsitektural website. Buku ini memang implementasi dari tesisnya Lie.

Loh jadi kenapa telat?

Iya, saya telat tahu kalau buku itu punya versi html dan pdf nya yang bisa dibaca gratis. Kalau tahu begini mah, ngapain juga dulu maksa-maksa kantor beliin buku itu. Hahaha. Mungkin gara-gara saya nggak mau rugi kali yaah. Hahaha.

Untuk teman-teman yang berminat membaca tesisnya Lie, silahkan ke link berikut ini:
HTML: http://people.opera.com/howcome/2006/phd/
PDF: http://people.opera.com/howcome/2006/phd/css.pdf

Lebih lanjut mengenai Lie yang juga bosnya Opera (yang internet browser, bukan yang nyanyi)… Berikut ini kutipan beliau mengenai dirinya sendirinya:

“So, somewhat by accident, I was the first person to type the now ubiquitous string “HTML 3.2” into a computer. A few small key strokes for a man, a giant leap for the web.”

Nomor Telepon Bill Gates

foto bill gates

Salah seorang klien (yang meminta tim kami membuat webnya) datang mengeluh:

Saya: “Ada yang bisa saya bantu, Bu?”
Ia: “Kok webnya saya nggak jalan?”

Waktu itu, saya curiga ada bug di halaman aplikasi web yang kami kembangkan buat beliau. Maka saya buka komputer dan langsung menuju URL yang ia maksud (*Kebetulan saya bookmark, jadi bisa lebih cepat ke sana*). Setelah saya cek di browser, test berulang-ulang, lalu memeriksa feedback dan SVN untuk melihat deployment terakhir. Saya bingung, semuanya nampak baik-baik saja.

Saya: “Loh kok ini jalan, Bu? Bagus malah”

Si Ibu kebingungan, “Tapi di rumah ga jalan”

Saya yang mulai curiga dengan browser yang beliau pakai lalu bertanya, “Di rumah pakai apa, Bu?”

“Biasa aja tuh, pake daster”

Hah!

“Bukan Bu, maksud saya di rumah ibu pake komputer apa?”

“Komputer saya lah. Masak komputer anak saya. Kamu gimana sih?”

“Umm, maaf, saya coba rephrase kalimat saya. Di rumah, Ibu pakai komputer sistem apa dan browser apa ketika mengecek web Ibu?”

“Mana saya tahu yang begitu. Coba kamu telpon ini anak saya”, katanya sambil menyodorkan telepon genggamnya.

Beberapa menit kemudian, dari anaknya, saya tahu kalau si Ibu memakai windows 98 dan (tentu saja) perambah internet dengan Internet Explorer 6.

“Bu, web Ibu nggak bisa dibuka dengan Internet Explorer 6 yang ada di komputer Ibu. Kan waktu awal kontrak kita semua sudah setuju kalau web Ibu nggak akan support Internet Explorer 6 karena Ibu minta usability yang nggak bisa di dukung software itu” kata saya sambil senyum

Beliau ngotot, “Saya nggak mau tau, pokoknya saya mau liat website saya di rumah!”

“Waduh Bu, itu bisa ngerubah kontrak”

“Pokoknya saya nggak mau tahu!”

Saya coba sabar. Akhirnya ketemu deh triknya. Beliau ini amat perhitungan soal bujet proyek. Semuanya harus dirasionalisasikan. Saya suka itu. Tapi untuk saat ini beliau nampaknya tidak rasional. Maka, saya coba mendekati beliau melalui bujet dan rasional aspek.

“Bu, kalau Ibu ngerubah kontrak akan membuat bujet proyek kita membengkak {sambil menyebut persentase}. Itu besar loh, Bu. Sementara kalo Ibu ganti browser, gratis. Saya bisa telpon anak Ibu untuk membantunya menginstal Opera atau Chrome di komputer, Ibu. Pilih mana?”

Beliau diam sejenak. Lumayan lama. Sambil menatap saya galak. “Siapa sih itu yang bikin komputer saya di rumah?”

“Kalau perangkat kerasnya saya nggak tahu, Bu. Tapi kalo sistem dan perambah internetnya, namanya Bill Gates dan teman-temannya”

Masih menatap galak ia bertanya, “Kamu tahu nomor teleponnya orang itu. Biar sini saya telpon. Kurang ajar itu orang!”

Saya tidak jawab apa-apa, hanya bisa menatap beliau sambil garuk-garuk kepala.

HTML Dasar > II – Sejarah HTML

Mengapa perlu belajar HTML?

Hehe. Sebenarnya tidak perlu sih. Tapi dengan belajar sejarahnya, minimal tahu kenapa bahasa ini muncul di muka bumi. Kata Bob Marley raja musik reggae, “If you know your history then you would know where you coming from“.

Mari kita mulai pelajaran sejarah HTML ini.

Siapa yang menemukan HTML?

Foto Tim Burner Lee penemu HTMLTim Burner Lee (nama lengkap dan jabatannya “Sir Timothy John “Tim” Berners-Lee, OM, KBE, FRS, FREng, FRSA”. Panjang amat yah). Insinyur ahli fisika dari Inggris. Yang pada tahun 1980 dikontrak kerja oleh CERN, badan riset nuklir Eropa. Tahun itu ia bekerja dengan seorang insinyur informatika Belgia bernama Robert Cailliau dan seorang mahasiswa. Suatu hari di tahun 1989 mereka kebingungan bagaimana cara saling membagi informasi antar mereka sendiri dengan cara yang cepat dan mudah. Maklum, tiga-tiganya semua orang sibuk. Karena masing-masing pintar, jadilah mereka membuat halaman yang bisa di akses oleh ketiga orang ini. Tidak lama kemudian, mereka sadar bahwa halaman dengan link/pranala ini ternyata bisa diakses oleh siapa saja asal tahu cara membuat dokumen web itu. Cara membuat dokumen web itu memakai bahasa bernama HTML. (*Saat itu pula tercetus sistem World Wide Web atau dikenal dengan www*)

Mengapa membuat HTML?

Sudah dibilang diatas, bahwa guna awalnya adalah membuat halaman yang memakai link atau pranala luar (yang kemudian dikenal juga sebagai hyperlink, sebab mampu membuka berbagai jenis dokumen. Tidak hanya dokumen berjenis teks saja, tapi juga dokumen gambar, multimedia dan sebagainya).

Namun pada intinya, HTML adalah bahasa markah. Bahasa markah adalah bahasa dimana kalimatnya harus mempunyai pendukung. Sebagai bahasa markah, HTML belum mampu mengerjakan semua kebutuhan manusia di muka bumi. Namun cukup mampu dalam menampilkan halaman-halaman website.

Jelaskan rentang pertumbuhan HTML?

Pertanyaan yang menarik. Tapi kalau tidak di jelaskan dengan illustrasi waktu mungkin agak susah. Mari, ini saya coba pakai contoh di bawah ini dalam memulainya.

  • 1980 - Tim masuk CERN
  • 1989 - membuat cikal bakal HTML, namanya HTML+
  • 1992 - Dua orang pemuda bernama Marc Andreessen dan Eric Bina membuat perambah internet pertama bernama Mosaic. Umur Eric saat itu 28 tahun. Sementara Marc berusia 21 tahun.
  • 1995 - HTML versi kedua bernama HTML2 di buat. Sudah ada pikiran bahwa bahasa ini pasti akan dipergunakan oleh orang seluruh dunia. Maka itu dibuatlah internasionalisasinya (i18n dan l10n)
  • 1997 – HTML3.2 muncul. Orang-orang membuat standarisasi agar lebih mudah dipahami di masa mendatang. Selain itu, bahasa HTML versi ini sudah mendukung penulisan rumus matematika. Beberapa bulan kemudian di tahun ini HTML4 muncul. Lebih bagus, lebih mudah transisinya di masa depan, dan lebih jelas strukturnya.
  • 1999 - HTML versi terbaru 4.01 muncul. Tapi tidak begitu banyak berbeda dengan pendahulunya.
  • 2000 - Penggabungan antara bahasa XML dengan HTML agar lebih menarik dan memudahkan website mulai diprediksi di masa depan. Namanya XHTML.
  • 2008 - HTML 4.01 dan ISO/IEC 15445:2000 (Organisasi Internasional untuk Standardisasi penyetaraan dokumen dalam memproses bahasa) adalah perkembangan terakhir yang stabil. Di sisi lain, tahun ini telah dimulai pengembangan HTML5, versi terbaru HTML.

Sampai di sini, mengerti?

Kalau tidak mengerti silahkan acungkan jari, tanya :)