Soweto, 10 February, 1985

Nelson Mandela,

Nelson Mandela, “In my country we go to prison first and then become president”

My father says,

What freedom am I being offered while the organization of the people remains banned?
What freedom am I being offered when I may be arrested on a pass offense?
What freedom am I being offered to live my life as a family with my dear wife, who remains in banishment in Brandfort?
What freedom am I being offered when I must ask for permission to live in an urban area?
What freedom am I being offered when I need a stamp on my pass to seek work?
What freedom am I being offered when my very South African citizenship is not respected?
Only free men can negotiate. Prisoners cannot enter into contracts.

My father says,

I cannot and will not give any undertaking at a time when you, the people, and I are not free
Your freedom and mine cannot be separated
I will return
Power to the people!

Zindziswa (Zindzi) Nobutho Mandela, daughter of Nelson Mandela. Jabulani Stadium, Soweto, on 10 February, 1985

Pengantar Pengetesan Keamanan Sederhana (cerita tentang Denbagus dan Celana Dalam Nenek Tetangganya)

Gambar seorang nenek tidur. Photo credit: Paula Bronstein/Getty Images

Saya sering dengar kalimat ini, “Lebih baik gua yang masukin daripada orang laen”, pada percobaan test keamanan mesin/jaringan tak diminta yang ketahuan.

Kalimat tersebut, secara personal (artinya buat saya pribadi), kedengarannya janggal. Kok yaa bisa-bisanya bilang begitu ketika ketahuan? Kalau tidak ketahuan gimana dong? Terus, orang lain itu siapa? Orang Botswana? Buset dah!

Contoh scenario kalimat diatas terdengar pada kasus:

  • A – Denbagus Manyun kebanyakan waktu luang. Ia belajar cari cara dapetin duit lebih banyak. Sebagai ABG yang baru kenal internet, membabi-butalah Denbagus Manyun mau tahu cara carding, jadi maling lewat mencuri kartu kredit orang. Ketika carding sepi, Denbagus Manyun coba peruntungan bikin ecommerce palsu dagang barang tidak baik. Ketika itu juga ketahuan, Denbagus Manyun ganti haluan. Email jadi sasaran. Kadang menyandera email orang lain (dengan tebusan duit tentunya). Kadang juga ngembat database orang lain yang isinya email-email untuk dijual. Pada sebuah aksinya, Denbagus ketahuan.
  • B – Denbagus Manyun iseng. Masuk ke mesin orang tanpa niat. Sekedar iseng. Walaupun scenario ini agak aneh. Percayalah, di muka bumi ini banyak orang aneh. Sama seperti scenario A, pada sebuah aksinya, Denbagus ketahuan.
  • C – Denbagus Manyun memiliki ideologi yang tidak sejalan dengan pemilik mesin yang ia masuki. Ketahuan atau tidak ketahuan, Denbagus akan bilang begini.

Jadi ketika suatu hari Denbagus Manyun ketahuan jadi kancil masuk ke rumah orang lain untuk mencuri ketimun. Terus pas ketahuan dia bilang “Lebih baik gua daripada orang laen” maka kalimat ini akan terdengar janggal.

Kenapa?

1. God Complex
Jika scenario A jadi patokan, maka Denbagus Manyun merasa dirinya tokoh protagonis dengan menggunakan kalimat “Lebih baik gua”. Lebih parah lagi, merasa berhak masuk ke WC manapun di dunia ini bahkan tanpa terlihat. Hanya karena ia adalah seorang Denbagus Manyun. God complex, menjustifikasi diri sebagai tuhan yang berhak menentukan nasib orang lain, telah menyerang Denbagus Manyun. Justifikasi kompleksitas ini bisa dengan banyak alasan latar belakang, “Gua kan miskin, jadi boleh” (miskin di sini bisa diganti jadi ganteng/pinter/kaya atau whatever lah) atau “Karena gua bisa”. Di sini, Denbagus Manyun nampaknya harus dibantu disadarkan kalau ia itu bukan Tuhan. Tapi pada scenario B, walaupun iseng, Denbagus Manyun juga tanpa sadar berkata bahwa, “karena gua bisa”. Jadi justifikasi menuhankan diri sendiri bisa dimasukkan dalam kategori scenario A dan B.
Saran solusi: Denbagus Manyun sebaiknya dibantuk untuk diobati. Penjara tidak akan mengurangi kompleksitas Denbagus. Hanya menghambat akses sementara. Kalau dipenjara, siapa yang bisa jamin dia keluar penjara jadi sehat dan akan berguna buat diri dan lingkungannya?

2. Arogansi
Ketika ketahuan jejaknya dan diciduk, baru Denbagus Manyun bilang “lebih baik gua”. Kalau tidak ketahuan, apa yang akan dia lakukan dengan akses gratis keluar masuk rumah orang? Apa yang dia lakukan kalau dia berhasil melihat koleksi beha rahasia milik nenek-nenek tetangganya, sementara si nenek-nenek tidak tahu koleksi bra nya itu mungkin sudah diendus-endus Denbagus Manyun tanpa sepengetahuan? Percaya diri beda dengan arogansi. Jika Denbagus Manyun amat PD bisa masuk kamar nenek-nenek dan nyolek-nyolek behanya, kenapa dia nggak bilang ama tuh nenek-nenek? Terus kenapa juga ia tidak membantu si nenek agar beliau dapat mengamankan behanya, jika suatu hari pemuda macam Denbagus Manyun mencoba memasuki peti harta karun berisi beha bekas itu? Lah kenapa Denbagus Manyun baru bilang “Lebih baik gua” ketika ia tertangkap tangan sedang memegang beha kondor nenek-nenek? Ini aneh, sebab secara bawah sadar Denbagus Manyun sedang mempraktekkan mekanisme pertahanan diri untuk menangkal kritik lebih lanjut. Bahasa kerennya, Denbagus Manyun “a-ro-gan”.
Saran solusi: Arogansi timbul akibat tidak bisa menerima kritik/realita. Untuk bisa menerima kritik/realita sebaiknya mempelajari diri sendiri dengan baik. Ini ada sekelumit operasi standar bagaimana cara mengetes keamanan diri sendiri dengan baik. Kalau bisa mengetes diri dengan baik, dan lalu jadi realistis, kira-kira dikemudian hari nanti, mampu mengetes keamanan rumah nenek-nenek tetangganya dengan baik. Rekomendasi dari National Institute of Standards and Technology mengenai panduan pengetesan keamanan. Kalau bisa, baca dokumen yang di link itu dari bawah sampai atas. Kalo nggak bisa, coba usahakan baca halaman 30. Ada tabel bagus di sana

3. Miskin Transparansi
Karena Denbagus Manyun tidak transparansi (artinya setelah ketahuan baru bicara), siapa yang tahu kalau Denbagus Manyun ketika mendongkel jendela rumah sang nenek tetangganya menggunakan obeng yang telah diguna-guna atau tidak? Bagaimana jika obeng itu ternyata sudah disembur oleh dukun dan ketika digunakan, ternyata tanpa disadari Denbagus Manyun, obeng itu mengumpulkan data celana dalam sang nenek-nenek. Ketidak-transparansi dalam pengujuan keamanan rumah si nenek tetangga, mampu berakibat lebih daripada hanya sekitar tuduhan ‘maling’ kepada Denbagus Manyun. Gimana kalau ternyata Denbagus Manyun selain dianggap maling (akibat mau mengendus beha nenek-nenek) ternyata juga dianggap pemerkosa (akibat obengnya blusukan ke celana dalam sang nenek yang sedang tidur)? Gawat itu. Denbagus Manyun bisa kena pasal berlapis.
Saran solusi: Biar tidak dianggap maling dan berselangkangan ganas, Denbagus Manyun ngobrol lah kalau mau mengetes keamanan rumah orang. Lebih baik ngobrol ke RT/RW biar malah dibantu pakai alat pengetes yang baik. Alat yang baik adalah alat yang diketahui pembuatannya secara aman dan bahkan mampu diaudit dari mana asalnya. Berikut ini di opensourcetesting ada alat-alat yang mampu diaudit dengan baik, silahkan dipilih mana yang cocok.

Nah, diatas hanya sedikit ulasan soal Denbagus Manyun. Bagi teman pembaca mungkin yang bernama Denbagus dan mulutnya manyun, saya mohon maaf. Ini bukanlah nama sebenarnya dan hanyalah tokoh fiktif rekaan saja. Jangan diambil hati.

Ada scenario yang ketiga, yaitu kalau Denbagus Manyun memiliki ideologi yang berbeda. Pada scenario ini, saya lebih memilih tidak berkomentar. Secara pribadi, bukan kewenangan saya bicara soal ideologi orang lain. Ditambah lagi, bicara ideologi pasti akan bicara soal hukum dan Undang-Undang Dasar si pemilik ideologi. Nah, hukum, UU dan ideologi, bukan keahlian saya. Apalagi ngasih kuliah 101. Saya mah bisanya masak doang. Jadi saya lebih baik masak aja buat makan siang anak saya. Huehehehe

Sampai jumpa kembali, kaka

Tentang Perburuan Wanita (Sebelas – No Woman Zone)

Impulsif merupakan konsep multi-faktorial yang melibatkan kecenderungan untuk bertindak atas kemauan sesaat, menampilkan perilaku yang ditandai dengan pemikiran sedikit (atau tidak ada), refleksi buruk, serta pertimbangan tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang. Tindakan impulsif biasanya dideskripsikan sebagai, “tergesa-gesa, prematur, terlalu berisiko, tidak layak, membahayakan tujuan dan strategi jangka panjang”. Namun anehnya, ketika impulsif dilakukan dan mendapat hasil positif maka dilihat sebagai indikasi sebagai “keberanian, kecepatan, spontanitas”. Konstruksi impulsif meliputi setidaknya dua komponen independen:

  1. Bertindak tanpa sejumlah musyawarah
  2. Memilih jangka pendek dibandingkan keuntungan jangka panjang

Peristiwa Rengasdengklok, “penculikan” yang dilakukan oleh sejumlah pemuda (antara lain Soekarni, Wikana dan Chaerul Saleh dari perkumpulan “Menteng 31”) terhadap Soekarno dan Hatta, pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 04.00. WIB dapat dikategorikan sebagai peristiwa impulsif positif. Jika Soekarno dan Hatta tidak dibawa ke Rengasdengklok, Karawang, untuk kemudian didesak agar mempercepat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, yang jadi pertanyaan adalah: “Kalau tidak diculik, adakah kesepakatan antara golongan tua yang diwakili Soekarno dan Hatta serta Achmad Subardjo dengan golongan muda tentang proklamasi? Akankah esoknya, 17 Agustus 1945, kemerdekaan RI diumumkan?”

Sementara secara sederhana, peristiwa impulsif yang berujung negatif dapat dilihat sehari-hari dari para pecandu. Bisa narkoba, seksual, judi atau apalah namanya.

Saya bukan impulsif. Entah ini benar atau tidak, kurang begitu tahu. Setidaknya berdasarkan keyakinan pribadi, bukan seorang impulsif. Padahal jika dilihat dari sejumlah adrenalin yang terlibat dalam cerita perburuan wanita ini, kelihatannya saya pun seorang pecandu. Dari kadar hormon yang terlibat, kelihatan benar memang saya pecandu adrenalin. Dan ini, harus di rem biar tidak kebablasan.

Beberapa minggu lalu, muka saya hancur babak belur. Dipukuli beberapa gelandangan di kota Poznan. Soalnya sepele, seorang nenek-nenek di sebuah kereta bilang pada mereka kalau saya melecehkan ia dan bayinya. Walaupun tidak benar, tidak masalah, sebeb setelah itu saya dipukuli hingga babak belur. Insting saya bilang untuk tidak melawan. Pepatah lama Cilincing berkata, “Ada yang jual kudu dibeli. Tapi kalo ada kamera, laen ceritanya”. Dan kota Poznan, banyak terdapat kamera. Termasuk di tempat dimana kepala saya diinjak-injak beberapa orang gelandangan.

Ketika polisi tiba dan para gelandangan itu kabur, kamera CCTV memperlihatkan bahwa para gelandangan itu bukan para gembel yang biasanya mangkal di stasiun kereta. Insting saya benar. Ketika mereka sibuk menjadikan saya sansak hidup, kamera jelas sekali merekam para manusia ini. Itu orang sewaan. Assassins. Jika saya tidak berhasil menyikat sindikat penculikan bayi diatas kereta, setidaknya saya bisa menyikat mereka dengan pasal penganiayaan dan pembunuhan berencana.

Saya umpannya. Iya. Dengan tolol, saya menjadikan diri saya umpan untuk mencegah si nenek dan bayinya lari.

(*Insting ini berawal dari jumlah kunjungan wisatawan Polandia ke RI pada 2011 hampir 1 juta orang. Kamar dagang RI dengan Poland sedang bersinar terang dengan membaiknya hubungan dagang antar negara. Apa hubungannya? Tentu saja mereka tidak bodoh membuat jeopardi dengan membiarkan seorang WNI dipukuli hingga hampir mati di pekarangan belakang rumahnya. Apalagi terhadap seorang undangan resmi sebuah acara internasional*)

Neneng merawat luka dan sebelah mata saya yang hampir buta di rumah sahabatnya. Cukup lama. Dan disaat sepi dan sakit begini, kadang bertanya-tanya, apa yang dilakukan ini memang benar?

Tapi biar begitu, tidak ada yang mampu mengerem tindak dan riset ini…, kecuali jelas saya sendiri.

Sehingga sore itu saya biarkan Mbak Icih, seorang gadis desa dari pedalaman Finlandia, untuk duduk disamping saya menatap danau kecil yang ada di sebuah dusun di Utara Polandia. Kami duduk di dermaga kecil yang terbuat dari kayu sebesar cukup jalan setepak. Membenamkan hingga semata kaki ke air danau. Menatap riak tenang air terpantul matahari musim panas.

“Neneng itu sahabat saya. Dia mau kamu ada disini biar bisa ketemuan sama kamu. Tapi saya tahu, kamu punya maksud lain. Jangan kasih Neneng harapan palsu. Saya nggak mau dia sedih apalagi menderita karena gombalan kamu”

menara air stasiun kereta elblag

Menara kota Elblag. Berfungsi multi. Melihat musuh (jaman dulu), pengontrol lalu lintas kereta dan jadi menara air. Disini pula saya bertemu anak-anak muda yang terkena down syndrome. Bermain bola bersama mereka dan sadar ketika semuanya tidak punya ayah, sebab hanya ibunya saja yang menunggu. Kabar bercerita, perkosaan atau hubungan incest di kota ini amat tinggi kuantitasnya.

Diam saya mendengarnya. Iya, saya diundang ke dusun ini karena sahabatnya, Si Neneng adalah panitia sebuah acara pertunjukan seni yang melibatkan seniman internasional. Acara ini diadakan di sebuah dusun seni ekologis yang terletak di Utara Polandia. Tidak jauh dari dusun itu, sekitar sejam setengah berkereta, ada kota bernama Elblag. Di kota itu, adalah target riset terbaru. Dipicu oleh adrenalin, suatu hari setelah dapat data mentah, saya putuskan sampai ke acara pertunjukan seni ini. Sukur-sukur, kenal Neneng dan Mbak Icih yang panitia. Tapi rupanya feeling Mbak Icih tahu kalau saya datang kesana bukan untuk pertunjukan happening art. Apalagi mau ketemu Neneng dan dirinya. Ia tahu, kalau saya datang dengan maksud lain. Setelah sembuh dari luka mulai pergi pagi pulang malam, dan ketika sampai penginapan langsung mengurung diri di kamar mengetik laporan. Mbak Icih curiga. Kini, adalah maksudnya untuk mengerem langkah saya. Bukan menghalangi untuk maju dalam riset, namun menghalangi agar saya tidak menyakiti hati sahabatnya.

Dalam hidup ini, saya sering kebablasan. Saya tahu itu. Sering gagal. Itu pun lebih tahu. Sering menyakiti perasaan orang. Bukan sekedar tahu, tapi lama-lama jadi ahli rupanya. Mbak Icih tahu hal ini.

Sudah lama saya kenal dengan Mbak Icih. Roda nasib membawa kami bertemu walau selintasan di beberapa titik di muka bumi. Ia memiliki relasi khusus dengan Saipul, salah seorang sahabat sekaligus rekan bisnis saya. Mungkin dari Saipul ia tahu siapa saya. Hingga suatu hari berkata, “Di dunia kamu yang ada hanyalah anak, riset dan realisasi project masa depan. Semua itu tanggung jawab. Buat kamu, tidak ada celah lagi buat romansa. Dengar omongan saya, suatu hari kamu akan merasa sepi sesungguhnya. Masak kamu nyari perempuan yang satu misi dan visi? Itu kan omongannya korporat! Kamu ini manusia atau mesin sih?! Kamu tahu ga sih jatuh cinta itu apa?!”

Iya memang benar. Di akhir pekan saya sibuk urus anak. Di hari kerja, sibuk urus bisnis atau sibuk mengajar dan belajar. Tidur sehari paling lama empat jam. Kadang sampai sakit gara-gara kecapekan, kebodohan yang terus berulang. Tidak pernah libur, tidak pernah cuti. Kalau pun libur atau cuti, pasti disambi riset atau disambi kerja sampingan lainnya. Giliran ada waktu luang, bloonnya, bukan istirahat, malah update blog. Heh, kelihatannya ia memang benar. Apa iya saya jatuh cinta? Bukan hanya sekedar kenal lalu memanfaatkannya? Kalau jatuh cinta, kok malah bertanya? Jatuh cinta itu soal keyakinan. Tidak perlu tanya-tanya. Jatuh cinta itu sederhana jawabnya. Sebab hanya punya pilihan dua, “tidak” atau “iya”.

Jangan-jangan saya robot? Tapi kalau robot (atau malah cyborg), sumpah mati saya jatuh cinta pada putri semata wayang.

Ahh, saya bukan robot. Masak saya robot? Kalaupun iya, saya menolak untuk dirobotisasi. Saya harus jadi manusia.

Salah satu cara jadi manusia adalah berbuat salah. Reckless. Tidak pikir panjang. Atau dengan kata lain, impulsif. Maka saya putuskan untuk impulsif siang ini.

Memalukan, berlagak impulsif hanya sekedar demi pencitraan agar terlihat manusiawi di depan Mbak Icih.

Bahkan untuk sekedar terlihat jadi manusia, dengan menyedihkan saya mengatur untuk “menampilkan perilaku yang ditandai dengan pemikiran sedikit (atau tidak ada), refleksi buruk, serta pertimbangan tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang”.

Jangan-jangan, saya ini memang robot? Tapi persetanlah.

peron 2 stasiun kereta elblag polandia

Stasiun Elblag. Sampai disana siang hari. Baru keluar dini hari. Sudah tidak ada lagi angkutan publik. Ini kota kecil. Pada musim panas, jam sembilan malam, angkutan publik dalam kota sudah habis. Untuk pulang ke Olsztyn dini hari, terpaksa harus merogoh kocek sekitar €135 untuk taksi

“Tadi malam saya ke lokalisasi pelacuran”

(*Sumpah mati saya berharap bahwa ia hanya sekedar akan menghakimi perilaku seksual dan menceramahi dengan sejuta khotbah moral. Dan saya hanya akan mengangguk-angguk, pura-pura mengiyakan bahwa saya sebenarnya adalah manusia cabul yang perlu dinasehati dan dibimbing sepanjang hidupnya. Sayangnya saya salah. Ia lebih pintar daripada sekedar tukang ceramah*)

Mata Mbak Icih menyipit. Curiga. “Neneng tahu?”

“Nggak. Saya dateng sendirian”

Ia diam. Lama sekali. Rambut pirangnya, bikini merahnya, likuk tubuh langsingnya, memantul di riak air danau depan saya. Ia mendesah bertanya kenapa.

Kali ini saya diam. Saya pikir sudah saatnya jujur. Bertindak impulsif. Bercerita kejadian terkini tanpa memikirkan konsekuensi keamanan selanjutnya.

“Saya harus bertemu Heidi, mantan germo. Suaminya pilot. Orang kaya mereka”

“Kamu ketemu mantan germo perempuan dan suaminya? Maksudnya? Kamu pesta orgy?”

“Nggak, saya wawancara sama Heidi. Suaminya duduk disamping menguatkan dia”.

Ketika mata Mbak Icih makin mengerenyit kebingungan, ceritalah saya semuanya.

Heidi adalah gadis muda. Umurnya baru 18 tahun pada tahun 1995. Bapaknya seorang haji sekaligus pedagang karpet kulit kambing di kota Baranavichy di Belarus. Aslinya mereka dari bagian barat Belarus. Dari suku Tatar. Suku yang terdiri dari campuran antara Eropa Selatan dan Asia Utara. Minoritas suku Tatar ditemukan di daerah Uzbekistan, Kazakhstan dan Ukraina. Abad ke-10, seorang misionaris sekaligus petualang bernama Ahmad ibnu Fadlan mengubah suku ini menjadi muslim. Salah seorang anggota suku ini terkenal menjadi petenis perempuan nomor wahid dunia bernama Dinara Safina. Namun perempuan-perempuan dari suku ini pula, incaran empuk para pedagang budak seksual mancanegara. Termasuk Heidi. Yang ketika baru menginjak 18 diculik dalam sebuah minivan. Diperkosa sepanjang jalur antara Lida, Alytus, hingga Olsztyn. Ketika baru berulang tahun, diperkosa diatas tiga negara.

Heidi bukan gadis bodoh. Ia tahu ayahnya, seorang pelaku bisnis yang memiliki banyak jaringan pasti akan mencarinya. Pelan-pelan ia cari cara melepaskan diri. Mencoba menggalang kekuatan bersama gadis-gadis lain yang juga diculik.

Sial, para penculik tahu usahanya. Heidi diperlakukan khusus. Mereka memperbaharui jadwal hariannya:

  • 0400 : Bangun tidur. Cuci baju para penculik.
  • 0430 : Sambil mencuci, harus melakukan orak seks kepada penculik
  • 0500 : Memasak untuk para penculik
  • 0530 : Diperkosa penculik
  • 0600 : Penculik mulai makan. Jika makanannya jelek, ia diikat dan dicambuki di pohon pada lapangan yang terletak di kamp penculikan hingga dua jam berikutnya. Jika makanannya memuaskan, ia diperkosa oleh tiga penculiknya secara bersamaan. Sambil mereka menceramahi betapa buruk jiwanya dan betapa ia tidak layak hidup dan kembali ke keluarga
  • 0800 : Sarapan dan mandi
  • 0830 : Dibawa berjalan-jalan dengan van. Para penculik menawarkan dirinya ke satu persatu rumah pelacuran. Ia harus laku. Kalau tidak laku, harus bergaya segenit mungkin agar laku. Sebab jika tidak laku juga, malamnya disiksa
  • 0900 : Mencuci piring dan gelas kotor yang ada di rumah pelacuran
  • 1000 : Menari telanjang (striptease) di rumah bordil untuk memikat tamu
  • 1100 : Jika tidak dapat memikat pelanggan, penculiknya datang lagi. Ia dibawa ke jalan. Dijajakan semurah mungkin. Sering ia terpaksa harus menungging untuk memenuhi hajat tiga puluh pekerja tambang yang istirahat makan siang. Jadi ia benar-benar secara literal harus menungging di tempat terbuka. Tiga puluh lebih laki-laki itu antri, bayar pada penculik, ketika giliran tiba buka celana, memasukkan penis mereka, ejakulasi, pasang resleting dan lalu memberikan lubang menganga Heidi ke laki-laki pembayar dalam antrian setelahnya.
  • 1400 : Dirantai di minivan. Diberikan makanan junk food. Hanya ada lima belas menit ‘istirahat’. Setelah itu kembali ia harus ‘bekerja’.
  • 1700 : Penculik pulang, mereka mau mandi. Ia dirantai dalam minivan kembali. Jika musim dingin, harus mati-matian menahan dingin sebab hanya memakai pakaian seadanya. Setelah penculik mandi, mereka ke rumah perjudian. Disana lehernya dirantai ikat di meja judi. Jika si penculik kalah, yang menang boleh mencambuki/memperkosa/meludahi Heidi di tempat keramaian pada saat itu juga
  • 2100 : Penculik membawa Heidi ke kamar atas rumah perjudian. Ia harus menerima diperkosa oleh sekitar dua puluh orang
  • 2400 : Heidi dibawa lagi ke kamp penculikan. Disuruh tidur agar segar esoknya untuk disiksa dan diperkosa

Ketika saya tanya apakah ada aparat hukum yang terlibat. Heidi bilang, hampir semua pemerkosanya di rumah judi adalah polisi lokal.

Ini bukan hal yang mencengangkan buat saya. Masih banyak cerita sedih lain yang melibatkan aparat hukum.

Dalam laporan Kapten AL AS yang tergabung dalam NATO, Keith J. Allred: Pasukan Penjaga Perdamaian PBB telah lama diterpa tuduhan pelecehan seksual serius selama bertahun-tahun. Insiden kekerasan seksual yang dilakukan oleh pasukan penjaga perdamaian PBB telah didokumentasikan di Angola, Kamboja, Timor Leste, Liberia, Mozambik, Kosovo, Sierra Leone, dan Somalia. Ketika pasukan penjaga perdamaian PBB dikerahkan ke Bosnia-Herzegovina, bordil yang berisi perempuan yang diperdagangkan berkembang cepat di daerah sekitar pemukiman penjaga perdamaian dari PBB. Peneliti dan Mantan aktivis pemerhati HAM, Martina Vandenberg menulis, “Rumah pelacuran tumbuh seperti jamur, berkembang di semua sisi markas (pasukan penjaga perdamaian PBB)”.

Tahun 2002 terdapat fakta memalukan ketika pejabat tingkat tinggi PBB diketahui pula mencoba menyembunyikan kesaksian tentang pelanggaran seksual oleh tentara dan misi kepolisian PBB di Bosnia.

Pada musim semi tahun 2004 terulang kembali kesalahan penjaga perdamaian di Kongo. Keluhan terdiri dari bahwa pasukan penjaga perdamaian PBB telah melakukan enam puluh delapan kasus pemerkosaan, pedofilia, dan prostitusi pada rakyat Kongo. Ini, diperburuk oleh laporan bahwa pasukan penjaga perdamaian telah mengganggu penyelidikan dengan membayar atau menawarkan untuk membayar saksi agar mengubah kesaksian mereka, mengancam penyidik, dan menolak untuk mengidentifikasi rekan yang dicurigai melakukan pelanggaran.

Pada akhir 2006 Penelitian intensif kemudian menyimpulkan bahwa sampai 90 persen dari perempuan terlibat dalam prostitusi normal di Balkan adalah korban perdagangan manusia. Akibatnya, bukan hanya itu, penjaga perdamaian PBB yang terlibat dalam pemerkosaan dan pedofilia, mereka, mungkin tanpa sadar (atau sadar), mendukung perdagangan perempuan dan makan pundi-pundi kejahatan terorganisir. Ahli anti perdagangan manusia dan juga mantan inspektur polisi Inggris, Paul Holmes, menunjukkan bahwa pasukan penjaga perdamaian yang mengeksploitasi perempuan yang diperdagangkan “tanpa disadari mendukung justru orang-orang yang tidak ingin lingkungan yang aman, stabil, dan aman”.

Tahun 2011 dalam sebuah tesis yang berjudul Iraq’s Next Battle: Combating Sexual Slavery in Post-Conflict Iraq, Kyle H. Goedert dari Universitas Michigan melaporkan bahwa untuk melarikan diri dari negaranya seorang penduduk Irak harus mampu mengeluarkan uang sebesar US$8,000 hingga $15,000 untuk visa palsu. Uang itu diberikan kepada agen untuk lari ke negara lain. Salah satu negara favorit pelarian selain Jordania adalah.., Indonesia.

Mei 2003 beberapa bulan setelah invasi AS di Irak, jumlah anak-anak sekolah di Baghdad berkurang drastis hingga 50%. Saat itu, Baghdad dijuluki “No-woman Zone”. Akibat mereka mengurung diri dirumah karena takut diculik dan didagangkan.

Tahun 2009, 14 wanita Uganda diiming-imingi bekerja di U.S Military base, namun ternyata dikunci, dicuri paspornya dan disiksa serta diperkosa. Tahun 2009 ini juga puncaknya ketika anak-anak lelaki di Baghdad adalah komoditi menarik untuk diperdagangkan organ tubuhnya.

Sejak tahun 2003, Syria mencatat bahwa pelacur bawah umur yang ada di negara mereka, sebanyak 50 ribu orang, berasal dari Irak akibat konflik milter. United States Uniform Code of Military Justice (UCMJ), pengadilan militer AS secara jelas dan eksplisit telah mengatakan bahwa personel militer yang di-deploy di negeri asing pun akan menerima sanksi jika mereka melakukan kejahatan dalam keikutsertaan perdagangan manusia. Namun sayangnya, catatan militer hanya untuk militer. Sementara publik telah banyak sekali mendengar bahwa banyak manusia ‘dari Asia’ yang dipaksa jadi pekerja untuk ‘membangun Irak’ dan sub-kontraktor militer adalah penyedia manusia-manusia ini. Maka itu, Juli 2011 American Civil Liberties Union, sebuah organisas warga non-profit yang terdiri dari mahasiswa hukum, pengacara dan publik luas di Amerika, menuntut pemerintah AS membuka dokumen pengadilan militer kejahatan tentara yang terlibat perdagangan manusia. Baik di Irak maupun Afganistan. Kasus ini masih dalam pertempuran di pengadilan.

Desas-desus tahun 2011, di beberapa forum militer dan kepolisian RI, terdapat kesatuan khusus yang menjaga perbatasan air wilayah RI memintah ‘jatah preman’. Uang ini berkisar antara US$ 2,500 per kepala. Modus: Para anggota kesatuan khusus ini dipersenjatai kapal laut anti bajak-laut dan senjata canggih, memburu perahu nelayan yang dicurigai membawa manusia yang lari dari Irak atau Afghan. Kapten kapal diberi ultimatum, penjara atau bayar di tempat. Dari kesaksian beberapa pengungsi Irak yang akhirnya selamat dan sampai pengungsian yang sekaligus jadi penjara di Australia (karena masuk secara ilegal), muncullah operasi gabungan antara penjaga laut RI-Aussie. Desas-desus ini semakin diperparah dengan kesaksian beberapa anak buah kapal (ABK) bawah umur yang kini dipenjara di lapas dewasa Australia akibat ikut dalam proses perdagangan manusia. (Lebih lanjut baca: Laporan Khusus Balada Bocah ABK Majalah Detik Digital 5-11 November 2012. Sumber 1 – FaceBook. Sumber 2 – PDF)

Cerita Heidi semakin melengkapi, bahwa kejahatan terhadap manusia, memang hanya bisa berlangsung jika ada pendukung aparat hukum yang terlibat.

restauran Elblag

Sebuah restoran di jantung kota Elblag. Sebelum interview, diliucuti dahulu disini oleh para penjaga keamanan rumah bordil. Mereka bahkan memaksa melihat foto-foto dalam SDCard camera dan ID. Saya tidak pakai identitas Agus. Sebab sudah terbongkar. Dan untungnya, foto-foto Poznan sudah dibackup di USB dan dikirim melalui jalur aman PGP. Pramuniaga restauran merasa kasihan dan aneh melihat satu-satunya pengunjung mereka, dari Asia pula, diperlakukan buruk di tempat ini. Mereka memberi makanan penutup dengan gratis

Heidi bicara terbata-bata. Kelihatannya ia tidak sanggup meneruskan kata-kata. Suaminya, si pilot menggengam erat jemari istrinya. Mencoba menguatkan.

Saya diam saja. Saya tahu cerita itu berat. Tapi saya lebih mau tahu, kenapa ia jadi seorang mucikari?

Suaminya menatap saya marah. “Kamu bukan manusia? Ia baru saja cerita hal yang sangat sensitif begini. Jangan lantas karena kamu kenal Lucija kamu bisa datang ke sini dan menghina istri saya!”

Heidi tidak bilang apa-apa.

Ia menjawab dengan menggulung lengan panjang bajunya.

Disana banyak terdapat bekas luka silet percobaan bunuh diri. Tidak lama kemudian, dengan diiringi tatapan melongo suaminya, ia membuka baju. Hanya pakai beha. Saya lihat ada bekas luka lama sabetan benda tajam dengan jahitan jelek sekali. Ia balik badan, banyak sekali bekas luka disana. Lebih jauh lagi, ia buka beha. Satu puting payudara, sebelah kanan, hilang. Ada bekas luka bakar di sana.

Saya pikir saya bukan robot. Sebab setelah itu menutup mulut mau muntah. Tidak kuat melihat bekas penyiksaan ini.

Dalam samar saya dengar Heidi berkata, “Lima tahun aku di neraka. Dan kamu mau mengharapkan aku jadi malaikat setelahnya? Aku harus bertahan hidup dari apa yang aku tahu”

Dengan terhuyung, saya keluar dari rumah pelacuran. Sebab hanya disana Heidi mau menyempatkan diri mau bertemu. Ia sudah tidak mau lagi bertemu keluarganya. Apalagi mencoba mengaitkan dirinya dengan masa lalu. Hanya demi sahabat akrabnya, ia mau menemui saya. Saya harus cari udara segar. Cerita Heidi semakin membuat mual.

Lepas dari para penculik, ia membantu para wanita yang diculik sopir truk antar negara.

Itu perempuan muda, libur musim panas dan mau jalan-jalan ke luar negeri. Tidak punya uang, menumpang pada sopir truk. Dan biasanya di perjalanan minuman mereka dibubuhi obat perangsang atau yang membuat tak sadarkan diri sebelum akhirnya digagahi. Ketika sadar, para perempuan muda ini menyadari bahwa mereka tergeletak di tepi jalan raya dengan pakaian seadanya. Sisanya dirampok supir. Mau pulang, tidak punya uang. Minta tolong pada pom bensin, malah diperkosa oleh si penjaga tangki. Akhirnya terlunta-lunta dan dipungut Heidi. Dan apa lagi keahlian Heidi dalam mencari nafkah untuk membantu mereka pulang ke negaranya? Yaa mereka harus bekerja, walaupun tentu saja tidak dicambuki dan disiksa.

Dan pekerjaan Heidi itu, namanya mucikari.

Sebab siapa saja, ternyata bisa ikut terjerat dalam perdagangan manusia.

mbak icih di tepi danau

Mbak Icih menatap lelaki berambut panjang dari Cilincing yang kepanasan dan lalu menceburkan dirinya lompat dalam air di tepi danau di Utara Polandia

“Jadi begitulah ceritanya Mbak Icih, tadi malam saya ada di lokalisasi pelacuran di Elblag”

Mbak Icih menatap saya lama, “Kamu sudah cerita pada Neneng?”

Saya melongo, “Kenapa saya harus cerita?”

“Kalau cinta, yaa cerita biar dia tahu, dan nggak ngarepin macem-macem dari orang macam kamu”

“Kalau cinta saya harus cerita? Kalau nggak cinta, nggak harus dong?”

“Cinta nggak cinta, pokoknya kamu harus cerita. Biar dia memutuskan untuk terus suka atau nggak”

“Lah terus saya gimana dong? Buset dah kalo dia boleh memutuskan, saya juga boleh dong?”

“Pokonya kamu harus cerita sama Neneng. Sebab yang dia tau, kamu itu kesini cuman buat dia!”

Saya semakin melongo. Cerita ini makin jadi aneh. Dan lebih aneh lagi ketika telepon genggam bergetar membawa SMS masuk. Dari Lucija. Menunggu di Kaliningrad, Rusia. Ada data baru. Ada perkembangan baru. Dan ada identitas baru. Semuanya menunggu.

Bingung. Mana yang harus dipilih? Bertemu dan bercerita pada Neneng si gadis desa, lugu nan manis, seksi dan baik hati yang telah merawat luka. Atau mengikuti Lucija yang membuat saya serasa jadi James Bond dari Cilincing. Dengan resiko, kembali akan luka-luka. Atau malah, hilangnya nyawa…

Yang mana?

Ketika bingung, yang harus dilakukan adalah melihat dimana semua ini berawal. Secara harafiah, semuanya ini berasal dari kereta.

Saya pamit pada Mbak Icih. Meninggalkannya bersama teman-teman lain yang masih bercengkrama di tepi danau di musim panas. Kembali ke penginapan, mengepak barang-barang dan.., kembalilah ke stasiun kereta.

Dan disana sebuah kereta, ternyata akan datang lima belas menit lagi. Kereta terakhir.

Kereta senja menuju Kaliningrad

Kereta senja menuju Kaliningrad. Terakhir. Ketika pilihan harus ditentukan.

Tentang Perburuan Wanita (Sepuluh – Kereta Menuju Poznan)

Saya ingin seperti dia yang duduk diseberang ruangan. Baru pulang liburan dari luar negeri, katanya disana berenang dengan lumba-lumba di hari ulang-tahunnya. Kado dari pacar. Enak kali yaa jalan-jalan dengan pacar. Romantis. Dapat hadiah ulang tahun begitu dahsyatnya.

Saya ingin seperti dia, yang lainnya. Tokoh dalam tulisan blog internet yang sering saya baca. Ia jalan-jalan kesana-kemari, ketawa-ketiwi, baik sendiri, dengan teman-teman atau keluarganya. Makan enak dan sebelum makan ini makan itu, makanan difoto lalu dipajang. Bikin saya ngiler dan iri. Perlihatkan di sosial media aksi wara-wirinya. Ahh hebatnya, bisa jalan berpetualang dengan gembira.

Saya ingin seperti dia, dia dan dia.

Kenapa?

Apa ada yang salah dengan saya? Kenapa mau jadi orang lain? Memangnya tidak cukup puas dengan terlahir seperti ini?

Akhir Juli 2012

Ibu kirim SMS. Katanya minta ditelpon. Beliau memang selalu begini, minta ditelpon. Bukan karena mau mengirit, sebab ternyata jauh lebih murah menelpon dari Cilincing sana ke posisi saya saat ini. Bukan. Sama sekali bukan.

Ini hanya karena Ibu, sejak 20 tahun lalu, tidak pernah tahu dimana lokasi geografis saya, anaknya, berada.

Sore itu obrolan kami berlangsung lirih. Banyak sekali jeda diam antara kami berdua.

kompartemen_jan_kiepura

Kompartemen kereta ekonomi Jan Kiepura (ini video jelasnya). Satu kamar bisa diisi enam penumpang. Pada siang hari, mereka duduk dibawah tiga berhadapan dengan tiga. Ketika matahari terbenam, masing-masing menuju tempat tidurnya. Pada kelas eksekutif, satu kompartemen hanya berisi ranjang dua orang dan kamar mandi pribadi. Saya duduk di kelas ekonomi. Sebab hanya disana bisa bertemu ‘mereka’

“Kamu ngapain di Polandia?”, ini adalah pertanyaan standar keluarga saya. Sedang apa, sampai kapan dan apa tujuannya. Ini pertanyaan yang menuntut jawaban.

Saya diam sejenak. Bagaimana menerangkan pada Ibu bahwa anaknya sedang mengejar sindikat perdagangan bayi yang terlahir dari perempuan-perempuan yang diculik dan jadi budak seksual. Saya diam. Susah untuk membentuk sepenggal kalimat sederhana bahwa saya sudah ada di kereta membelah Eropa menuju Poznan selama 14 jam hanya untuk bertemu seorang wanita yang mau memperdagangkan bayi 1,5 tahun yang terkena down syndrome.

Bagaimana menerangkan pada Ibu bahwa ada perempuan muda yang diperkosa lalu dibiarkan hamil dan melahirkan agar anak hasil kandungannya bisa dijual oleh penculiknya?

Bagaimana menerangkan pada Ibu bahwa ada manusia-manusia yang rela menjual bayi tersebut kira-kira hanya sekitar 3-5 juta rupiah saja?

Bagaimana menerangkan pada Ibu mengapa proses transaksi rumit ini harus berjalan di atas kereta yang membelah hukum negara-negara yang walaupun berdaulat ternyata memiliki celah masing-masing yang saat ini dimanfaatkan oleh para pedagang budak?

Bagaimana menerangkan pada Ibu, yang seumur hidupnya jauh dari kekerasan, bahwa di muka bumi ini ada manusia yang memiliki hati lebih gulita daripada malam yang kelam?

Setelah berdehem sejenak saya jawab, “Ada orang yang butuh bantuan, Bu. Katanya sih biar saya aja nyang nulungin anaknya”

Ibu diam sejenak disana. Beliau ini guru SD, sederhana. Tapi tidak bodoh. Saya kenal beliau sudah lama. Pertama kali belajar melihat sinar, yang saya pelajari adalah wajahnya. Saya tahu beliau diam lama disana, menyusun kalimat. Kelihatannya saat ini, kami sedang mencari strategi. Menyusun informasi. Saling menyelidiki dengan kata-kata yang disusun biar terlihat sederhana

“Lah kamu jalan-jalan gitu nyang bayar sapa?”

Ini pertanyaan yang berat. Serius. Kalau saya jawab apa adanya, bahwa uang tabunganlah membiayai hingga saat ini, Ibu pasti akan bertanya, “Uang kamu kan nggak banyak. Aneh, buat apa?”. Kalau itu sudah ditanyakan, tandanya skak mat. Saya harus cerita dari awal hingga akhir. Dan saya tidak mampu membuat dirinya sakit jantung dengan informasi yang saya pegang saat ini.

Maka sialnya, entah kenapa saya harus berbohong menjawabnya, “Ada nyang bayarin, Bu”

Tidak lama kemudian kami saling menutup percakapan dan mengucap salam sampai jumpa kembali. Saya merasa berdosa, berbohong pada perempuan yang amat mengasihi sejak saya lahir dari kandungannya.

Tapi, saat ini, itu pilihan yang saya ambil. White lies, black lies, tetap saja bohong. Dan sore itu, atas nama keamanan, saya membohongi perempuan yang mencintai saya. Ahh…

Saya kembali ke kompartemen kereta. Di luar langit biru. Musim panas ini berlangsung dengan baik di atas bumi Jerman Timur. Sudah berjam-jam saya duduk di kereta ini. Hanya sekadar menunggu. Menunggu ada manusia yang bicara.

Perempuan pirang paruh baya dihadapan saya tidak banyak berkata apa-apa. Ia tidak mengerti bahasa Indonesia. Sibuk menggendong bayi down syndrome berusia 1,5 tahun. Sebentar lagi Poznan. Kota terbesar kedua di Polandia. Ia akan mendaftarkan si bayi di kota ini sebagai cucunya agar punya nama baru. Hanya dengan cara ini si bayi bisa dan lalu dibawa ke Eropa Barat untuk ‘diadposi’.

Jadi begini modusnya:

  • Anak perempuan, usia 16, cantik. Diculik dari kampungnya di Eropa Timur sana.
  • Si bocah malang akan terus disiksa, diperkosa dan terus diperlakukan begitu hingga menurut untuk harus menghasilkan uang. Ia dipaksa ikut dalam prostitusi
  • Suatu saat, entah kondom bocor, entah diancam akan dibunuh, entah apalah alasannya; sperma masuk dan merambah janinnya dan ia pun hamil
  • Dalam kondisi hamil, si bocah ini masih terus akan dipaksa melayani tamunya. Ia jadi pasar khusus untuk pria-pria yang gemar menyetubuhi perempuan hamil
  • Kira-kira sembilan bulan kemudian si bayi lahir
  • Untuk menghilangkan ikatan antara ibu dan anak juga demi pemasukan, Dipisahkanlah antara bayi merah ini dengan ibunya dengan cara dijual ke penadah bayi korban perkosaan
  • Si tukang tadah bayi adalah agen penyalur anak-anak yang akan diadopsi. Mirip panti asuhan. Bedanya, ia hanya khusus untuk bayi sesuai pesanan pengadopsi
  • Agar bisa diadopsi jelas si bayi harus punya identitas. Maka tentu saja sang bayi harus ‘dicuci’ (*Proses yang sama terjadi pada aksi kejahatan pemutihan uang*)
  • ‘Pencucian’ bayi dilakukan dengan cara mendaftarkan bayi tersebut dengan cara mengklaimnya sebagai cucu/ponakan/atau_whatever oleh pengungsi yang melintasi antar negara (*Jadi disini saya pikir Anda bisa mengerti mengapa kejahatan ini bersifat internasional dan mengapa saya membuntuti wanita pirang paruh baya melintas empat negara dengan kereta*)
  • Setelah ‘dicuci’, bayi punya identitas baru. Pengadopsi tidak tahu apa-apa proses ini. Yang mereka tahu, mereka harus menyetor sejumlah uang untuk proses adopsi

Mungkin akibat baru saja bicara dengan Ibu, jika akhirnya saya mampu menuliskan proses rumit yang keji dan bahaya dalam beberapa penggal kata diatas sebuah tempo yang memakan waktu berbulan-bulan.

Melihat bayi lucu yang tampan ini, di depan mata. Dan tidak mampu berbuat apa-apa pada saat itu juga (bahkan juga tidak dalam menelpon aparat berwenang, sebab jika mereka tiba-tiba muncul, semua orang bahkan hingga si bayi, dalam kondisi jiwa terancam) membuat saya merasa lemah.

Dalam hati saya hanya bisa membatin, “Bangsat! Bangsat! Bangsat!”

Ini lah yang disebut pemilihan umum iblis.

Mana yang harus saya pilih? Jika saya menelpon polisi diam-diam saat ini juga, kemungkinan besar bahwa mereka mampu menangkap perempuan perempuan ini dan menyelamatkan bayinya. Tapi bagaimana dengan Ibu sang bayi? Sebab sangat yakin bahwa penculik dan pemerkosanya akan menghapus nyawa si perempuan malang untuk menghilangkan jejak. Proses adopsi yang jadi alternatif agar si anak ada yang merawat, juga pasti akan gagal.

Jika saya pilih untuk mendokumentasikan perempuan ini, membuatnya bicara, bisa mencegah kejadian terulang di masa depan. Namun, akan ada seorang Ibu yang akan kehilangan anaknya. Gimana rasanya kalau saya kehilangan putri saya yang diculik paksa? Apa yang akan saya lakukan terhadapnya jika saya tahu bahwa ada orang di luar sana yang ternyata bisa mencegah peculikan ini dan membawa kembali putri tercinta ke pelukan saya, namun ternyata ia diam saja?

Ini pemilihan umum iblis. Iblis mana yang harus saya pilih? Tidak ada pilihan lain yang lebih sempurna. Hanya ada dua iblis di depan saya. Yang mana yang harus saya sikat? Yang mana yang harus saya dekap?

Ini bukan yang pertama. Ketika kualitas moral, etika dipertanyakan dan dikonfrontasi.

Hey, kamu laki-laki, apa jawaban yang akan kamu pilih. Awan menggumpal di balik jendela seakan mengejek.

Saya ingin seperti dia.

Sambil menatap langit berderak di atas jalur kereta, saya merasa tidak puas terlahir seperti ini. Seharusnya, saya jalan-jalan berdarmawisata saja. Mirip ia yang berenang dengan lumba-lumba. Mirip ia yang berwisata kuliner sebelum makan memfoto dan membaginya jepretannya pada sosial media dunia maya. Mereka yang kelihatan hidupnya begitu tenang dan bahagia.

Tanpa perlu harus bersekutu dengan iblis sebagai imbalannya.

Saya iri.

bayi di atas jan kiepura

Foto sang bayi di kereta. Ketika sang ‘nenek’ ke kamar kecil saya sempat tergoda untuk membawa bayi ini menuju kamar masinis dan polisi kereta untuk ‘aksi menyelamatkan’. Pikiran yang ugal-ugalan dan tergesa-gesa. Astaga, ia begitu lucu, damai dan menggemaskan. Tak ada yang menyangka bahwa bocah semanis ini adalah produk sebuah kekejian yang sungguh luar biasa

 

Tentang Perburuan Wanita (Sembilan – Asia dan Perpisahannya)

Istanbul dibagi menjadi dua bagian. Bagian barat dikenal sebagai kawasan bernama ‘Eropa’ dan bagian timur yang disebut dengan ‘Asia’. Pembelahnya adalah sungai besar bernama Bosphorus.

ferry membelah senja di selat bosphorus

ferry membelah senja di selat bosphorus

Lucija akan datang hari ini. Setelah cerita kasus Harry, ia bilang bahwa ia sungguh khawatir akan perkembangan riset dan berminat membantu. Dalam hati saya mengeluh, menjaga diri saja saya kesulitan, apalagi kalau ada ia datang. Masak sih saya harus menjaganya? Tapi percuma mengeluh, ia datang hari ini. Di daerah Asia. Di sana ada bandara low cost carrier. Bandara untuk penerbangan murah.

Umumnya pesawat-pesawat di Eropa bisa menjual tiket murah karena mereka tidak mendarat di bandara utama yang terletak dengan pusat kota. Di Istanbul, pesawat-pesawat berharga tiket umum mendarat di bandara Attaturk. Sementara pesawat bertiket murah, mendarat di bandara Sabiha Gökçen International Airport. Disana Lucija akan mendarat dan disana pula kami akan bertemu.

Jadi pagi itu, dari Topkapi saya menuju Asia, dengan jasa ferry penyebrangan selat Bosphorus. Makan seadanya di pinggir jalan menuju lokasi penyebrangan. Banyak penjual makanan murah. Saya tidak tahu apa namanya, yang pasti vegetarian dan murah. Itu penting.

pedagang sate produk vegan

Anak muda pedagang makanan vegan/vegetarian bakar di tepi penyebrangan ferry menuju daerah Asia di Istanbul

Dan ketika sampai bandara, saya lihat Lucija sudah menunggu disana. Pemandangan wajar, ia menunggu. Dengan muka jemu. Dikelilingi laki-laki. Mulai dari sopir taksi hingga don juan dadakan. Saya senyum-senyum sambil berjalan ke arahnya. Ia tidak membalas senyuman saya.

“Selamat datang di Istanbul. Bagaimana perjalanan kamu?”

Ia tidak menjawab. Mukanya merengut. “Saya tidak suka senyum kamu…”

“Lah, apa salah saya?”

“Dasar lelaki! Pura-pura terus”

“Lah saya kan cuma senyum”

“Kamu tahu, gara-gara senyum Marie Antoinette dipenggal kepalanya”

“Yaelah saya cuma senyum doang… Itu kan bagus. Nyebar kebaikan”

“Di bandara banyak orang. Banyak perempuan”

“Saya senyum doang, buset dah. Itu juga sama kamu”

“Tapi perempuan laen kan liat juga. Kamu ati-ati kalo senyum”

Saya ketawa terbahak-bahak. Tapi kemudian diam, saya ingat sesuatu. “Kamu kan… Eh… Kamu sendiri, dikelilingi laki-laki. Saya santai aja tuh”

“Kalau perempuan dikelilingi laki-laki, itu biasa. Kalau kalian laki-laki dikelililngi perempuan, pasti ada yang aneh sama lelakinya”

Saya bingung. Ini logikanya aneh sekali. “Tapi saya kan nggak dikelilingi wanita”

Ia mendelik, “Halooooo…. Look who’s talking?”

Saya diam sambil garuk-garuk kepala. Ini obrolan tambah absurd. Lebih baik mundur sejenak daripada makin absurd.

Bingung mau bicara apa akhirnya ia mau diajak makan. Kami menuju Kadikoy.

Kadıköy adalah salah satu tempat tertua di daerah bagian Asia dan merupakan distrik provinsi Istanbul, Turki. Sebuah distrik yang terpisah sejak tahun 1928 melalui perang saudara. Saat itu memisahkannya dari Üsküdar, Kartal, Maltepe Umraniye dan kabupaten tetangga. Kadıköy terletak di Laut Marmara, bagian Asia dari Istanbul. Dengan berbagai bar, bioskop dan toko buku, Kadıköy bisa disebut sebagai pusat budaya Asia Istanbul. Tinggi distrik ini rata-rata 120 meter di atas permukaan laut. Penggalian arkeologis antara tahun 1942 dan 1952 menemukan banyak tulang, kerangka, vas, patung, dan lainnya. Benda-benda tersebut berasal dari sekitar tahun 3000 SM. Hal ini menunjukkan bahwa Kadıköy daerah berpenghuni itu jauh sebelum Istanbul (atau Byzantium) didirikan. Pada zaman kuno tempat itu dikenal sebagai Chalcedon.

Masa ini Kadıköy adalah perumahan dan ekonomi penting di distrik Istanbul. Disana terdapat stasiun kereta api Haydarpasa , stasiun bus Harem, Universitas Marmara, Universitas Yeditepe, Stadion sepakbola Sukru Saracoglu, masjid kuna, pelabuhan, pusat perbelanjaan untuk lokal, rumah-rumah bersejarah, dan lainnya. Karena lokasinya (Asia) Kadıköy tidak diketahui banyak turis.

Saya bisa ada disini karena Kadıköy adalah kampungnya Alban.

restaurant kadikoy tempat awal drama

Sebuah rumah makan di Kadikoy tempat drama itu dimulai

Dan saat ini, sebuah meja bar di sebuah senja di ujung Kadıköy adalah saksi ketika seorang perempuan membawa dua paspor dengan uang berbundel-bundel dari salah satu negara di bekas eropa timur. Di salah satu paspor tersebut, terdapat foto saya. Nama beda, tempat tanggal lahir beda dan yang pasti, kewarganegaraan bukan lagi sebagai WNI.

Mata saya membelalak, “Lucija, ini keterlaluan. Gila kamu. Ini paspor palsu. Kenapa kamu harus melakukan ini? Kenapa saya harus pakai identitas palsu?”

Dia tersenyum, santai, “Look who’s talking”

(*Saya geleng-geleng kepala. Iya saya mengaku salah. Sebelum Maret 2012, saya punya empat KTP. Dengan empat nama berbeda. Dan tentu saja dengan empat agama yang berbeda. Cuma satu yang sama, dalam semua status tertulis ‘Belum Kawin’. Hehe. Dari semua KTP, yang lebih sering saya pakai adalah nama Agus. Asal Sragen, Jawa Tengah. Tepatnya, Desa Masaran Jati. Desa ini masuk ke dalam radar riset saya sebab ternyata diam-diam memiliki prosentase sebagai desa pengekspor manusia Indonesia ke luar negeri terbanyak ketimbang desa-desa lainnya di nusantara. Dari desa ini pula terkenal snakehead Indonesia /-Snakehead adalah sebutan umum kepala mafia sindikat perdagangan manusia. Diambil dari nama gang human trafficking asal China dengan kasus terbesar yang bernama Golden Venture di Amerika Serikat-/. Dan kenapa harus Agus? Sederhana jawabnya; sebab di semua pulau di nusantara, dari Sabang sampai Merauke, pasti ada manusia yang bernama Agus. Bulan Maret lalu ibu saya marah-marah, karena DKI akan dilakukan pendataan untuk KTP elektronik. Jadi pada bulan itu, salah satu kepulangan saya adalah karena Ibu meminta saya untuk menjadi warga negara yang patuh mengikuti petunjuk Pak RT dan Pak Lurah*)

“Tapi sekarang saya sudah punya ID tetap. Satu nama tetap. Dan satu kewarganegaraan tetap”, saya bersikukuh belagak sok hidup jujur.

“Kalau saya bilang kamu dalam bahaya, pasti kamu cuek saja. Kamu itu sok tahu. Sok bisa ini lah, sok bisa itu lah. Sok gaya bisa hidup selama-lamanya. Sok mau jadi bapak yang baik dan benar padahal punya hobi memburu manusia, yang luar biasa tidak masuk akal. Kalau kamu masih mau ingin ketemu anak, segera pergi dari sini!”

Ia membanting paspor dan uang di atas meja. Buang muka. Menatap laut.

Ada air mata bergulir di pipinya.

Ahh perempuan, sungguh luar biasalah kemampuan kalian berdrama yang membuat kami para pria akhirnya tak tahan dan lalu lumer dalam kata-kata. Itu airmata hanya setitik, tapi mampu akhirnya membuat saya buka suara, “Terimakasih. Tapi ini barang mahal. Berapa saya harus ganti?”

Ia mengambil saputangan dari tas jinjing. Mengelap sedikit ujung mata. Saya menatap dengan ragu. Tahun 2003, senjata genggam murah meriah macam Hi Point kaliber 9mm bonus magazin 9 peluru dan paspor palsu abal-abal kewarganegaraan Belgia itu sekitar tiga ribu lima ratus euro. Sementara paspor aspal rapi karya disainer terlatih kelas mata-mata, lebih dari tiga kali lipatnya. Jelas bukan barang KW. Sebab dengan paspor aspal itu, seseorang mampu melintasi benua dengan santainya. Saya lihat dari tadi paspor yang dibawa Lucija, ini bukan bikinan abal-abal. Sebab sempat tanpa sepengetahuannya, saya foto dengan kamera ponsel lalu mengirim ke teman untuk dianalisa. Hasilnya, kami kaget bahwa pemilik paspor asli itu ternyata berwajah tidak jauh beda dengan muka saya.

Disainer pemalsu terlatih (artinya bukan hanya mampu membuat cetakan kertas dan segel paspor/dokumen dengan baik, melainkan juga mampu melakukan riset mencuri dan menanamkan data) dapat bayaran mahal. Biasanya karena mereka melakukan riset sebelum membuat karya. Tidak sembarang orang dicuri identitasnya. Hanya mereka yang berwajah hampir mirip dan punya beberapa latar belakang yang hampir mirip. Disainer ini bekerja dalam tim. Jujur saja saya sendiri tidak perlu mau tahu siapa mereka dan apa yang telah dikerjakannya. Yang pasti, jika terlatih begini, pasti ada trainingnya. Dan siapapun otak yang membuat training itu, pasti bukan seseorang yang gemar menampilkan dirinya ke hadapan publik dengan senyum ceria. Mereka ini orang yang hidup dalam bayang-bayang. Dan entah kenapa, saya tidak pernah percaya pada mereka.

“Itu bukan pertanyaan yang perlu dijawab. Kamu seharusnya sudah bisa menebak kenapa saya datang pakai pesawat murah. Sebagaimana pertanyaan kamu mau pakai atau tidak? Seharusnya kamu bertanya, dari sini ke rumah Alban untuk berkemas, berapa lama? Kamu tahu ga, nanti malam rumah Alban di sweeping?”

Saya terperangah. Ia kenal Alban darimana? Sweeping apa? Apa maksudnya?

Gantian. Kini dia yang menatap lesu, “Identitas Agus kamu bocor. Ingat kasus Grenoble? Sekarang mereka balas dendam”

Saya menunduk. Menghela nafas dalam dan menghembuskannya panjang dan lama. Kalau identitas saya bocor, berarti ada ‘orang dalam’ yang terlibat. Kalau ada ‘orang dalam’ yang terlibat, berarti sebentar lagi identitas-identitas lainnnya bakal terbuka. Termasuk identitas orang-orang yang saya cintai.

Saya gemetar.

Para bajingan itu sekarang yang gantian memburu saya.

Dan tentu saja saya bukan Bang Pitung yang sendirian dengan goloknya mengobrak-abrik satu kampung dengan gagahnya. Saya cuma bangaip, jangankan gagah, golok saja nggak punya.

Ini tiba saatnya. Ketika letih dan bahaya mengintai dari ujung sudut. Ini saatnya. Pulang. Menuju hati yang dicintai. Saya harus kembali.

Beberapa jam kemudian setelah pamit pada Alban, saya sudah duduk samping jendela bangku pesawat menuju Roissy (penduduk kota Paris memanggil airport mereka yang sebenarnya bernama Charles de Gaulle dengan Roissy).

Disamping duduk perempuan cantik yang kelihatannya telah membuka besar-besar lubang celengannya hanya untuk menyelamatkan seorang lelaki dari Cilincing yang memiliki hobi yang aneh.

Saya genggam tangannya. “Kamu perempuan baik. Kenapa kamu melakukan ini?”

Dia menatap lama. Lalu bertanya, “Kamu cinta saya?”

Ahh saya tolol sekali. Betapa naifnya hati. Kenapa dari tadi tidak pernah menyangka bahwa akan ada pertanyaan ini. Orang apa yang mau melakukan perbuatan bodoh demi lainnya kalau bukan atas dasar cinta?

roissy airport

Dan saya meninggalkannya di sini. Saya bilang, “Kita pamit”, bukan “saya pamit” atau “kamu pamit”. Jalur hidup kami berbeda. Ia dibawah lampu sorot dan bergelimang cahaya dan perhatian mata laki-laki di seluruh dunia. Saya, dalam hidup sepi dan sunyi seperti petapa. Kami tak akan bisa bersama. — Aéroport Paris-Charles-de-Gaulle 2012.

Suka Duka Bekerja Dalam Tim Internasional

Namanya juga buruh sekaligus ngojek, yaa saya harus siap pasang badan dimana saja.  Dapat pelanggan mulai dari cukong hingga bencong, yaa semuanya harus diterima dengan ikhlas. Tidak ada beda perlakuan menghadapinya.  Orang dari mana-mana di seluruh dunia yaa kita terima. Jangan dibedakan. Semua pelanggan diperlakukan dengan baik, ramah dan dibantu hingga tercapai sampai tujuannya.

Karena pelanggan berasal dari penjuru mata angin di muka bumi ini, yaa saya pun kerja bersama para buruh dan pengojek lainnya yang juga berasal dari beberapa tempat di penjuru mata angin. Kami sudah kerja bersama-sama hingga bertahun-tahun. Namun hingga kini, belum pernah bertatap muka (tanpa dibantu internet) bahkan sedetik saja.

Sesama buruh, sesama pengojek, yaa jelas ada cerita dan suka dukanya ketika kerja bersama. Ini beberapa cuplikan suka duka kendala dan bagaimana kami mengatasinya dalam beberapa tahun belakangan ini.

Jam kerja yang berbeda akibat wilayah geografis.
Di tanggal dan detik yang sama. Managernya baru mulai berangkat kerja di Munich, sebab disana pagi hari. Developernya di Bandung sedang gembira ria makan siang, sebab memang sudah waktunya ia melepas lapar di warung tegal. Padahal tester QA-nya malah sedang pulas-pulasnya tidur tengah malam di New York. Di detik yang sama, manusia di beberapa belahan dunia mengerjakan kegiatan mereka masing-masing. Yang jadi pertanyaan, kalau mau meeting online, siapa yang harus berkorban harus bergadang? (*Kalau di tempat saya, managernya, hahaha*)

Miskomunikasi.
Yang bicara berhadap-hadapan tatap muka dan pakai satu bahasa saja sering mendapat masalah dengan komunikasi, apalagi yang jauh-jauhan dan modelnya hanya bertemu melalui perangkat keras dan perangkat lunak serta memakai beda bahasa?
Miskomunikasi sering terjadi bila ada masalah dalam jaringan internet dan kemampuan bahasa yang berbeda antar anggota tim. Salah satu cara mengatasi kendala ini adalah selain menggunakan live chat, juga dengan memakai fasilitas pendukung visual seperti remote desktop, team viewer atau live meeting.

Administrasi Perbankan.
Nah ini menyebalkan. Sebab jam clearing tiap bank di seluruh dunia itu beda-beda. Ketika harus mentransfer sejumlah dan auntuk membeli logistik atau pembayaran upah kerja, akibat clearing bank lokal yang dipakai dalam bertransaksi dalam jumlah platform tertentu, maka sering tertunda. Belum lagi kalau negara yang bersangkutan sedang libur. Haduh, pusing!
Mengatasi masalah ini adalah dengan memakai Paypal atau sistem pembayaran langsung. Jeleknya, paypal ke/dari rekening bank itu butuh waktu. Sistem lain adalah memakai alternatif seperti moneybookers, INGdirect, Amazon Payment atau Squeare dan lainnya. Sayangnya hanya bisa dimanfaatkan oleh para pengguna yang berdomisili di negara terntentu saja. Untuk mengatasi masalah ini, biasanya menyewa vendor internasional yang mengatasi finansial semacam upah kerja. Jadi pada waktu tertentu, semua upah pegawai lunas terbayar. Barang-barang terlunasi dan tidak ada masalah dengan kredit macet pembayaran dari client. Jasa vendor macam ini, biasanya memang butuh biaya. Biaya dibebankan mereka, bisa perbulan atau pertransaksi.

Hukum Internasional.
Di Eropa, transaksi online diatas 11K (dalam satuan euro) sudah masuk dalam pengawasan pihak berwajib. Di Amerika Serikat, sekitar 19K (dalam USD) sudah masuk dalam kategori wajib lapor. Di Timur Tengah ada aturan tapi kurang jelas, banyak bolongnya. Sementara kalau di Indonesia, jika transaksi online dalam rupiahnya melebihi 100 juta, malahan belum ada aturannya. Padahal jelas-jelas di bandara internasional kalau kita bawa uang Rp 100 juta, itu wajib lapor. Itu baru transaksi antar anggota tim yang melibatkan uang loh. Belum kalau sudah harus saling mengirim logistik (misalnya kartu grafis jenis khusus yang dikembangkan hanya untuk prototipe), maka makin repot urusannya. Pada tim besar, jelas ada orang-orang dari departemen legal yang mengurusi hal ini. Pada tim kecil atau perusahaan start-up, mau tidak mau para stakeholder, mulai dari jongos sampai bos, harus benar-benar paham hukum yang berlaku di negara rekan setimnya.

Beda Budaya.
Teman-teman pengembang piranti dari Amerika Utara itu hobi sekali bawa makanan dan minuman kalau rapat. Kadang-kadang tidak tanggung-tanggung, kue ulang tahun ikut dibawa. Bikin iri. Sementara teman-teman dari Eropa itu kalau bicara umumnya detail da kadang sering dianggap oleh para rekan benua lain sebagai buang-buang waktu. Rekan dari Asia tenggara itu kadang sering diam dalam rapat, membingungkan rekan kerja dari benua lainnya. Sementara dari Afrika Utara ada banyak rekan kerja yang kalau bicara seakan memarahi satu ruangan. Ini bukan masalah komunikasi, melainkan beda budaya. Dalam menghandle issue yang muncul dalam perbedaan budaya dalam lingkup kerja, biasanya manajer atau moderator rapat (jika dalam rapat) selalu memberi informasi pada rekan-rekan kerjanya agar tetap fokus pada pekerjaan dan target. Ini memang akan terlihat dingin (kalau dilihat pake perasaan dan mata hati… tsaaah), tapi jauh lebih baik daripada di ruang kerja saling maki-maki hanya gara-gara si Anu tidak suka bau kari ayam makan siang rekan kerjanya :)

Yaah segitu dulu deh. Nanti kalau ada waktu nanti dilanjut lagi diskusinya. Silahkan menambahkan jika berminat. Lumayan loh, dengan berbagi ga bakal deh situ kekurangan. Malahan biasanya malah nambah kaya. Kaya ilmu :) Ayo bagi pengalamannya, Mas, Mbak :)

Tentang Perburuan Wanita (Delapan – Gate of Felicity)

 

Gerbang Kebahagiaan (Bâbüssaâde atau Gate of Felicity. Dapat diartikan pula sebagai gerbang perdamaian) adalah pintu masuk menuju peristirahatan sultan yang dikenal sebagai Enderun.

Gate of Felicity. Full credit to Daum as the original photographer

Gate of Felicity. Full credit to Daum as the original photographer

Gerbang ini adalah terusan menuju daerah pribadi dan perumahan istana. Pintunya memiliki kubah yang didukung oleh pilar-pilar marmer. Tidak ada yang bisa melewati gerbang ini tanpa kewenangan Sultan. Bahkan pelaksana harian negara hanya diberikan otorisasi pada hari tertentu dan dalam kondisi tertentu. Bâbüssaâde adalah tempat dimana Sultan menikmati harinya tanpa merasa perlu diganggu oleh siapapun jua. Jika diluar ia harus menjelma menjadi sesuatu yang lain, maka disini.., ia berhak menjadi manusia.

Pintu gerbang itu mungkin dibangun di bawah Mehmed II pada abad ke-15. Didekorasi ulang dalam gaya Rococo pada tahun 1774 di bawah Sultan Mustafa III dan selama masa pemerintahan Mahmud II. Pintu gerbang dihiasi dengan ayat-ayat Al Qur’an di atas pintu masuk. Langit-langit sebagian dicat dan dihiasi daun-daun emas, dengan bola emas tergantung dari tengah. Selain Rococo, style arsitektur yang bisa ditemukan disini adalah Barok. Cukup unik, ini berarti ada pengaruh dari banyak belahan budaya dan geografis di rumah pribadi Sultan. Menandakan sultan-sultan Turki mengerti multi kultural dan memiliki kecerdasan budaya yang tinggi.

Istana ini berada di daerah Topkapi, Istanbul. Turki. Di dekat istana ini tinggal teman saya, Alban.

Beberapa hari lalu, dari kontak Lucija dan Alban (dua orang ini tidak saling mengenal, tapi anehnya kenal orang yang sama), saya dijadwalkan bertemu dengan seorang pelaku perdagangan manusia. Nama samarannya, Harry. Kami dijadwalkan bertemu di depan hotel tertentu.

Ini pertama kali saya berinteraksi dengan seorang pelaku pedagang manusia. Notes di saku sudah penuh berisi pertanyaan-pertanyaan yang akan dilemparkan. Tas sudah terisi dengan perlengkapan tempur semacam perekam, kamera dan komputer jinjing untuk segera mengedit. Saya yakin akan sukses.

Jadi malam itu, pukul sepuluh, saya berjalan pelan dari Topkapi menuju Fatih.

Fatih adalah salah satu pusat keramaian di Istanbul. Keramaian yang ada mirip dengan daerah Mangga Besar, Jakarta. Penuh dengan hotel bertarif dalam jam dan lokasi hiburan malam. Di jalan besar, saya lihat malam itu dipenuhi polisi yang merazia penumpang. Benar-benar mirip area slum Jakarta.

Setelah menunggu sekitar 10 menit Harry datang. Ia seorang pria dengan perawakan kecil. Setidaknya tidak lebih tinggi dari saya. Rambutnya lurus pendek agak coklat klimis disisir ke samping kiri. Sebagaimana tipe sisiran rambutnya, saya pikir ia kidal (menurut penelitian sebuah institut di Maryland, 95% orang yang putaran rambutnya searah putaran jarum jam adalah right-handed, dominan menggunakan tangan kanan ketika melakukan kegiatan. Informasi semacam ini umumnya sama sekali tidak berguna. Tapi sebentar lagi bisa diketahui bahwa useless information seperti ini, lagi-lagi, menyelamatkan nyawa saya)

Begitu bertemu Harry menjabat erat tangan saya lemah dengan senyum yang dipaksakan. Saya benci menilai manusia, tapi tatap matanya licik. Wajahnya sama sekali tidak memiliki kesan natural. Dan semakin menambah buruk suasana ketika ia bertanya, “Kamu mau perempuan apa? Kalau Georgia 300. Kalau turki 500. Dolar amerika yaa”

Saya termangu. Harry ini sungguh menyebalkan.

Namun dengan segera ia bercerita tentang ‘barang dagangannya’. Cerita yang membuat saya terpesona dan langsung mengeluarkan telepon genggam untuk merekamnya.

Kami bicara belum lama, hampir 15 menit. Namun kelihatannya saya makin jauh masuk ke lorong-lorong gelap yang panjang (*Oh ya, Istanbul ini terkenal dengan lorong-lorong perumahannya yang berliku*)

Terilhat tiga orang laki-laki berjalan dari ujung lorong. Harry berteriak dan melambaikan tangannya. Seakan seperti memanggil. Saya tanya siapa mereka Harry hanya menjawab pendek, “teman”

Disini, saya kembali betul-betul curiga. Bulu kuduk meremang. Saya tidak percaya tahayul, tapi saya percaya manusia punya intuisi. Saat ini intuisi menyuruh saya untuk menyelamatkan diri.

Tiga sosok laki-laki itu semakin mendekat.

Saya tanya Harry apakah ia punya kartu nama. Saya bilang saya harus pergi dan akan menelponnya esok saja. Ia menatap saya. Wajahnya curiga dan matanya jahat. Ia bilang, “Ada nih di dompet, sebentar saya ambil”

Ia, saya pikir kidal, dan sebagaimana orang kidal, mereka biasa menaruh dompet di saku yang gampang terjangkau; yaitu saku kiri. Namun Harry, tangan kirinya menggerayangi saku belakang kanan.

Sh*t!

Ada yang menerjang dari dalam tubuh saya. Meminta untuk lekas-lekas loncat dan berlari pergi sejauh mungkin.

Malam itu malam yang tolol. Semuanya saya bawa. Mulai dari laptop, mobile devices, kamera bahkan hingga paspor. Semuanya dalam satu tas. Buat saya, itu tindakan tolol. Dan saya melakukan ketololan malam itu.

Maka dengan segara dan walaupun penuh beban berat di ransel, saya seakan seperti terbang menuju jalan raya. Secepatnya berteriak-teriak seperti orang gila meminta tolong pada polisi yang sedang memerika para pengendara mobil yang melintas Oğuzhan Caddesi. Jalan raya yang membelah Fatih area.

X = lokasi kejadian

X = lokasi kejadian

Dua orang polisi mendekat, saya bilang kalau saya bertemu orang yang mencurigakan di lorong. Mereka ikut. Kami bertemu empat orang di lorong itu yang lari lintang pukang begitu bertemu polisi. Satu orang ditangkap polisi. Yang paling kecil. Dari saku kirinya ditemukan senjata genggam sejenis pistol.

Orang itu, Harry.

Saya pulang jalan kaki ke rumah Alban. Ia dokter bedah dan baru pulang dinas malam. Ketika bertemu dan selesai bercerita ia bilang, “Men, masa sih lo benar-benar harus lari untuk nyelametin your ass? Get a life, dude. Cari hobi lain!”

Saya diam. Sebab kemungkinan besar, ia benar.

Hidup semakin panas. Harus menyingkir sementara.

Tiba-tiba saya berfikir untuk sebentar pulang ke Indonesia. Tapi ahh… Masih ada beberapa tugas yang harus diselesaikan. Berfikir keras sekali, mungkin Alban benar. Saya harus mencari hidup baru.

Tapi apa dong?

Masak saya harus kawin lagi agar bisa dibilang “selamat menempuh hidup baru”

Bulan Diantara Tiang Jemuran

“Kamu solat dong!”

“Saya pan musafir, bu” (jawab sambil cengar cengir)

“Baru nyampe berapa jam aja udah Cerewet kamu. Ini di Cilincing, kamu dah bukan musafir lagi. Solat sono!” Sambil merengut.

Saya ketawa-tawa. Tiba-tiba ada azan berkumandang. Jadi diam dan kaget. “Set dah, bu. Emang udah subuh yak? Kok jam tiga pagi dah subuh?”

“Bukan, itu buat yang tahajudan”

“Buset, tahajud aja pake ajan segala”

“Iya disini mah udah canggih sekarang”. Saya bengong mendengarnya. Apa hubungannya canggih dengan azan jam 3 pagi?

Keatas sebentar. Takjub melihat bulan purnama berselaput awan tipis di atas langit jakarta utara. Indah. Bersinar redup diantara tali-tali plastik tiang jemuran. Adalah purnama yang sama yang dilihat putri saya di belahan dunia lain sebelum berangkat tidurnya.

“Bu, bulannya keren banget. Kayak malekat”

“Cerewet kamu! Solat sono. Mati belum, udah ngaku-ngaku liat malekat. Dah sono mandi, minum teh ama sarapan. Tapi omong-omong disini mah emang udah canggih sekarang”.

Yaelah, apa hubungannya malaikat dengan kemajuan di Cilincing?

Saya pun ketawa cengengesan.

#ilovecilincing

Bergegas menyiapkan ransel. Kembali mengukur jalan. Hidup dari satu cerita ke cerita lainnya.

20121129-072809.jpg

tuh, bulan purnama diatas langit cilincing

Tentang Selintasan Misteri Di Depan Mata

(*Tulisan mengenai perdagangan manusia selanjutnya masih dalam proses pengeditan dan laporan. Capek juga menulis hasil riset. Hehe. Nanti kalau sudah selesai laporannya baru saya akan edit ulang untuk memudahkan dibaca dan dipublikasikan di blog ini. Sekarang ini mah sekedar tulisan iseng dibuat ketika makan siang di pabrik. Topiknya yaa tidak jauh-jauh dari sekitar makan siang. BTW, saya sehat-sehat saja. Terimakasih buat teman-teman yang bertanya. Hanya saja sibuk sekali sebab beberapa minggu ke depan untuk beberapa hari saya akan tiba di bumi Cilincing tercinta untuk keperluan khusus. Semoga kita bisa bertemu*)

Berenice Marlohe

ini Bernice, salah seorang Bond Girl. Ia bukan bangaip girl. Kalo bangaip girl hobinya loncat-loncat dan umurnya masih 4 tahun. Kalau soal kecantikan, jelas cakepan bangaip girl lah. Jelas itu mah. Tak diragukan keasliannya.

Hari senin lalu, di ruang makan, teman-teman sekerja sedang bergosip. Kebetulan topik gosipnya kali ini adalah gadis Tuan Bond yang terbaru, Bérénice Marlohe.

Namanya gosip, digosok makin sip. Dan sebenarnya gosip ini bermula dari Kang Geri, rekan sekerja saya yang pada hari selasa esoknya diundang pemutaran film perdana James Bond terbaru di Berlin.

Jadi ceritanya, Kang Geri ini ternyata fans James Bond sejati dan sejak lama. Maklumlah, sebagai orang Inggris si Akang ini punya kedekatan emosional dong dengan James Bond. Nah, suatu hari Kang Geri menang sebuah undian. Dalam undian itu disebutkan bahwa Kang Geri bersama pasangannya berhak ikutan pemutaran film perdana yang dibintangi oleh aktor dan artis Hollywood itu.

Nah sialnya, istri Kang Geri ini ogah diajak ikut serta. Kata istrinya, lebih baik tidur bareng anak-anak mereka yang masih balita daripada harus begadang sampai larut malam hanya buat berpose sama Daniel Craig, pemeran James Bond saat ini.

Waktu Kang Geri merengut dan bertanya kenapa sang isteri tercinta tidak mau ikut-ikutan berdandan ala gala dinner dan berpose bagaikan Bond Girl istrinya hanya menjawab, “Geri, kamu teh edan. Itu mah si Daniel sama si cewe kan cuma bintang pelem. Bukan asli. Kalau poto sama james bond asli, baru saya teh mau”

Kang Geri tambah merengut, ini bagaimana coba? Masak minta ketemu James Bond asli dan diminta foto bareng istrinya? Memangnya agen rahasia kerjanya mirip selebriti? Doyan foto kanan kiri lalu sebar di sosial media? Memangnya intel melayu?

Jadilah Kang Geri siang itu berkeluh kesah pada kami, rekan kerjanya. Nah karena rekan kerjanya hampir semuanya perempuan (kecuali saya yang ternyata hingga kini masih berwujud laki-laki), maka hampir bisa dipastikan bahwa tidak ada seorangpun yang tertarik dengan keluh kesahnya. Dari sekian banyak manusia yang diajak menonton film perdana, akhirnya hanya Mbak Dian yang mau ikut. Itupun dengan iming-iming yang banyak sekali, yang kata Kang Geri, “Murahan ngajak istri, anak-anak, bahkan hingga keluarga mertuanya sekampung ketimbang ngajak Dian” (*Tapi ini harus. Sebab tidak bisa masuk premiere*)

James Bond itu buat lelaki. Kalau buat wanita mah, lebih baik kamu gosipin George Clooney. Kata Mbak Nina, rekan kerja yang lain. George Clooney sendiri adalah bintang film produksi Hollywood yang berusia paruh baya. Walaupun berumur, digemari oleh para wanita dari seluruh dunia.

Saya cengar-cengir sambil garuk-garukk kepala. Kang Geri membantah cepat, ia bilang, “Pemeran James Bond, Mister Daniel, itu kurang apa coba? Ganteng, tegap, gagah berbahu bidang, agak misterius, matanya tajam, kurang apa coba?”

“Nah itu kelirunya kamu, Ger. Iya memang, dia seperti apa yang kamu sebutkan, tapi apa iya perempuan mau sama yang seperti itu setiap hari? Perempuan itu maunya cowok yang hangat, tidak sok macho misterius ala James Bond kamu itu. Perempuan mau lelaki yang mendengarkan, bukan yang langsung beraksi dengan sepenuh otot. Percuma kalau ototnya segede kabel telpon kalau kupingnya budek. Lelaki kami nggak perlu gagah perkasa, sebab dengan hanya menjadi lelaki saja ia sudah cukup perkasa. Ga perlu lah ia jago beladiri, selama bisa menafkahi dirinya dan dan berguna buat saya dan keluarga, itu jauh lebih penting daripada ia jadi jagoan kungfu”

Saya menganga dengan rahang yang hampir jatuh ke tanah.

Jikalau ketampanan itu adalah relatifitas, jadi ini toh kenapa George Clooney yang tua bangkotan dan bodinya biasa-biasa saja bisa jadi idola wanita. Lelaki walaupun terlihat biasa namun bila hangat, peduli dan murah senyum, ternyata bisa jadi idola perempuan.

Besoknya ketika Kang Geri dan Mbak Dian pergi ke Berlin untuk melihat pemutaran perdana Skyfall, saya kembali duduk makan siang bersama rekan kerja yang lain. Mbak Nina menatap wajah saya dengan seksama. Mirip anak SD yang sedang baca pembukaan Undang-Undang Dasar 45.

“Kamu nggak klimis hari ini. Tumben ada kumis dan jenggot”

Sambil senyum malu-malu saya menjawab, “Biar mirip Jos Kluni, Mbak”

Dia melengos, “Halah, ga usah dimirip-miripi, kamu yaa kamu, bukan George Clooney”

“Tapi saya juga kepengen jadi idola wanita. Klimis kayak james Bond nggak mungkin bikin saya jadi idola”

“Idola itu banyak macamnya. Ada lelaki yang jadi idola sehari-hari. Tapi ada juga jenis laki-laki yang lain”

Saya bengong, “Maksudnya?”

“Yaa kami juga punya idola yang jadi fantasi sekali-kali”

“Maksudnya…?” Sambil garuk-garuk kepala saya tanya berbisik, “Maksudnya? Di…? Err, begituan…? Eh, maksud saya… Yaa… Err, begituan? Yaa begitu deh”

Mbak Nina sambil senyum mengupas jeruknya. Menjawab santai berkata, “Memangnya hanya kalian laki-laki saja yang punya fantasi liar. Kami juga punya dong!”

Kembali saya menganga dengan rahang yang hampir jatuh ke tanah.

Kelihatannya tidak perlu jauh-jauh meneliti angkasa atau menelaah gulita malam. Sebab manusia, yang setiap hari ada dihadapan kita, ternyata jauh lebih penuh dengan misteri-misteri didalamnya.

Tentang Perburuan Wanita (Tujuh – Eˈdiɾne)

Pak Juki, pengganti Pak Ali, memanggil. Siang itu panas di bulan Juni. Matahari di luar pabrik memancar berwibawa. Ia berdehem memulai, “Bos saya pergi. Ia benar-benar pergi. Tidak akan kembali. Pekerjaan saya menumpuk. Saya meminta kamu untuk mewakili kita. Kamu ada waktu?”

Saya garuk-garuk kepala. Namanya buruh kecil, yaa kalau diminta mandor untuk bekerja, mau apa lagi selain menurut? “Ada beberapa prioritas yang butuh saya tangani…”

Ia memotong, “Bisa dikerjakan remote?”

Saya mengangguk. Ia menukas cepat, “Ya sudah, kamu minggu depan abroad. Ada pekerjaan kita disana yang butuh panduan. Saya tidak bisa mengirim Anna. Ia dibutuhkan sekali disini. Kamu bisa ke Istanbul dan Amman?”

Bengong, sebab ini artinya sudah serius. Saya sudah sering meminta agar tidak banyak pergi ke luar negeri. Sebab punya anak. Selama ini dituruti. Tapi ini kelihatannya serius. Maka itu saya mengangguk pelan, “Berapa lama, Pak?”

“Sampai beres. Setelah itu kamu dapat lima hari cuti tambahan. Kerjakan semua prioritas secara remote. Kamu dapat semua akses. Kalau ada apa-apa bereskan sendiri. Tapi laporan harus masuk ke saya direct. Bisa?”

Saya tahu itu pertanyaan retoris. Bukan opsi untuk menjawabnya selain iya. Tapi jantung saya berdegup kencang. Istanbul itu di Turki. Ada kontak dari Lucija di sana. Saya bisa terus riset sambil bekerja. Jadilah saya mengangguk sebagai jawabannya.

Dan pesawat ini seminggu kemudian sampai di bandara Attaturk. Sebagai WNI saya tidak perlu minta visa sebelumnya. Sebab sudah ada Visa on Arrival (VOA) untuk pemegang paspor hijau. Hanya perlu membayar 15 euro bayar uang pas untuk kunjungan satu bulan. Kelihatan sekali jika petugas duane jarang melihat WNI masuk sini ketika malam hari. Ahh memang saya berpaspor RI tapi kan bukan berarti saya harus tiba dari Indonesia.

Mereka memeriksa paspor saya lama. Itu paspor bulan Januari 2013 sudah akan habis masa berlakunya. Ia menyarankan agar saya langsung memperpanjang masa berlaku jika kembali. Saya setuju. Enam bulan itu biasanya batas minimal paspor untuk masuk perbatasan negara lain.

Beberapa hari kemudian pekerjaan saya selesai. Ada waktu libur. Ini saatnya riset.

Kontak Lucija memungkinkan saya mengetahui titik-titik lokasi perdagangan manusia. Yang pertama adalah Edirne, sebuah kota perbatasan antara Turki dengan Bulgaria. Kota kecil yang terkenal dengan Masjid Sulemaniye. Arsitektur yang didirikan megah pada masa Ottoman.

Edirne, Juni 2012

Kami sudah duduk sekitar 15 menit di taman samping mesjid bernama Selemiye Camii yang diarsiteki Koca Mi’mâr Sinân Âğâ, salah satu arsitek hebat yang pernah dimiliki oleh umat manusia.

Masjid Selimiye di Edirne. Depan masjid ini ada ibu-ibu tua penjual remah roti. Kami bingung, kenapa ia tidak menjual roti biasa, kenapa remah-remahnya? Ternyata remah-remah itu dijual untuk diberikan pada burung-burung dara yang banyak berkeliaran santai di taman masjid. Pakaian ibu itu terlihat lusuh. Saya menyesal tidak membeli remah roti darinya dan lalu memberikan pada burung. Ia perempuan tua yang walau tak terlihat kaya namun bangga dan bekerja keras untuk hidup. Semestinya dibantu. Dan memberi makan burung, bukankah itu baik? Ahh penyesalan selalu telat…

Ia duduk di samping saya, menatap anak-anak balita berambut coklat panjang atau pirang yang bermain ayunan di taman ini. Bertanya, “apa yang bisa saya bantu?”

Saya hanya menatapnya muram. Ia tahu sekarang dan tidak marah, syukurlah. Tadi malam kami memang berniat pergi ke Edirne untuk darmawisata. Ia sebelumnya sama sekali tidak tahu bahwa saya menggunakan perjalanan ini sebagai bagian dari riset perdagangan manusia.

“Kamu bisa memulai dari daerah kamu”, jawab saya setelah tahu ia tertarik.

“Maksud kamu?”

“Baca banyak sumber, terutama soal kejahatan terorganisir internasional yang melibatkan perempuan muda. Mulai dari UNODC bagian PBB yang mengkhususkan diri ke kejahatan dan Narkoba hingga website ungift.org. Baca laporan mereka. Terus buka internet, pasti di daerah kamu banyak organisasi yang sudah membantu korban perdagangan manusia. Kamu bisa mulai dari sana”

Saya sengaja bilang perempuan muda. Walaupun saya tahu, bukan hanya perempuan muda yang diperdagangkan. Sebab berdasarkan data UNODC, banyak juga bocah lelaki yang ikut diperdagangkan dalam dunia kelam ini. Namun perempuan muda adalah komoditas yang paling banyak.

Soal perempuan muda adalah komoditas. Di daerah Puncak, Jakarta, terkenal dengan istilah kawin kontrak. Lelaki dari negara-negara asing, kebanyakan dari beberapa negara tertentu di Timur Tengah, menikah dengan perempuan muda di daerah Puncak ini. Disebut kontrak sebab mereka menikah berdasarkan kesepakatan dalam tempo waktu tertentu saja. Misalnya menikah untuk 3 bulan selama si lelaki berdinas atau berlibur di Indonesia. Setelah masa kerja atau libur usai, mereka pun bercerai.

Walaupun agak aneh, saya sebenarnya tidak peduli mengenai kawin kontrak. Itu bukan urusan saya. Namun menjadi polemik dan mulai menoleh ke sana, ketika gadis-gadis yang terlibat ternyata dipaksa oleh orang tua mereka. Umumnya karena alasan ‘desakan ekonomi’. Alasan yang katanya menghalalkan siapa saja berbuat apa saja.

Kawin kontrak di daerah Puncak bersamaan munculnya dengan menjamurnya lokasi prostitusi tak resmi di daerah tersebut sejak awal tahun 90-an. Masa itu, bahkan parahnya warga lokal hingga mampu memiliki perbendaharaan bahasa baru penamaan subjek dengan sebutan ‘Bondon Abege’.

Bondon adalah sebutan untuk para gadis penjaja tubuh dan Abege akronim dari ABG, Anak Baru Gede. Usia antara 11-16 tahun, gadis-gadis ini sudah dipaksa orangtuanya untuk melayani lelaki dewasa yang mampu membayar mereka untuk beberapa bulan. Setelah kawin kontrak usai, si bocah ingusan ini dijajakan pada siapa saja yang mampu membayar mereka semalam. Atau si Bondon Abege yang sudah merasa dirinya ‘tak suci lagi’, kabur. Dan sebagaimana cerita klise lainnya, sialnya lagi-lagi terjebak prostitusi paksaan.

Modusnya selalu begitu, si bocah yang mungkin belum pernah merasakan menstruasi ini dijual kepada lelaki pelaku kawin kontrak. Keperawanan bocah pada masa itu mampu ditukar dengan uang dua juta rupiah. Si bapak (atau ibu) sang bocah, menerima uang dua juta sebagai uang muka ketika si anak ‘diboyong’ menuju rumah barunya (biasanya villa sewa). Dengan catatan, bahwa si bocah masih perawan. Setelah si turis selangkangan ini menikmati tubuh anak kecil dan yakin dengan keperawanannya, ia menjadikan bocah ini sebagai budak seksual dan juga budak sebenarnya. Bukan hanya sebagai pemuas nafsu, melainkan juga sebagai tukang cuci piring, tukang masak, tukang kebun, tukang setrika dan tukang-tukang lainnya. Dalam proses ini, si bocah tidak menerima uang sepeser apapun. Semua uang yang masuk langsung diterima oleh ayah (atau ibunya). Di akhir kontrak, si bocah baru menerima balas jasa berupa beberapa potong baju baru sebagai ‘hadiah’.

Saat ini, kawin kontrak sudah berbeda modus dan jumlah rupiah yang terlibat. Namun masih belum jauh-jauh dari konteks perdagangan manusia yang dilegalkan. Bogor, Indonesia, terkenal (infamously) sebagai salah satu rute perdagangan manusia bertipikal kawin kontrak ini.

Setelah cerita begitu ia bertanya, “Mana mungkin ada di daerah saya?”

Beliau di depan saya adalah dokter sekaligus wanita muda. Profesional di bidangnya. Hobinya jalan-jalan. Pendapatannya yang lebih dari cukup, membuatnya bisa memfasilitasi hobi ini. Ia pikir hidupnya sungguh berisi petualangan. Romantika yang menggelinding dari satu jalan ke jalan yang lainnya. Dan romantisme itu berakhir ketika kembali ke Taipei, kampung halamannya sana. Untuk bertugas menjadi dokter pelayan masyarakat.

Kami bertemu tadi malam di rumah seorang sahabat di Istanbul. Teman saya namanya Aban. Teman dia namanya Lombard. Aban dan Lombard itu sahabat akrab dan tinggal di apartemen yang sama. Jadi ketika Aban dan Lombard sama-sama sibuk, mereka dengan santainya meninggalkan si dokter ini kepada saya.

Si dokter muda ini, suka jalan-jalan. Tadi malam mengajak saya ke lokasi wisata di beberapa pelosok Turki. Hampir semuanya saya tolak. Kecuali Edirne di bagian barat. Saya tidak bilang saya disana karena riset. Apalagi bilang bahwa saya akan menyeberang sebentar ke Bulgaria. Tidak. Sama sekali tidak. Maka itu, sekarang saya cerita. Lebih baik sekarang. Sebab beberapa jam lagi saya sudah harus ada di bis menuju Haskovo. Salah satu kota perbatasan yang disinyalir jadi pusat lalu lintas perdagangan manusia di Bulgaria.

Ia lebih suka di jalan. Katanya, bisa jadi diri sendiri. Saya bertanya dalam hati; Memangnya kalau di rumah tidak bisa jadi diri sendiri?

Saya pikir, ia hanya seorang perempuan muda yang bosan. Dan mencoba untuk membunuh rasa bosannya.

Tapi mengapa tidak? Mari kita bunuh bosannya. Membuat wanita menangis itu dosa. Namun membuatnya bosan, itu neraka.

Salah satu sudut kota edirne. Diambil dari warung yang menjual Ayran, yogurt cair sedikit asin. Biasanya diminum sebagai pengantar makan. Sebab makanan kota ini cukup pedas. Agak mirip makanan di Indonesia. Walaupun jelas beda rasa.

Jadi di sudut kota, kami mulai mencari wanita bernama Fatma. Dari beberapa kontak, Fatma wanita separuh baya ini mengetahui seluk beluk titik perdagangan perempuan dari Bulgaria. Dibawa ke Turki melalui jalan darat dan paspor palsu.

Lalu di bawa kemana?

Fatma menggeleng menjawabnya. Bahkan ketika uang 100 lira dilambaikan depan matanya, ia tetap menggeleng. (*Pada kejadian ini berlangsung, 100 Turkish Lira kira-kira sama dengan Rp 530K*)

Setelah beberapa lembar ratusan lira berpindah tangan ia cerita bahwa ia bertugas sebagai ‘pembantu bayi’. Istilah yang timbul karena tugas Fatma adalah membantu para pelaku pedagang manusia mengantarkan perempuan-perempuan muda yang hamil diperkosa menuju tempat aborsi. Sebuah tempat yang kelihatan sebagai klinik kesehatan biasa, namun sebenarnya beroperasi sebagai tempat aborsi. Ia membawa gadis-gadis itu ke sana dan lalu pulangnya merawat mereka di lokasi khusus untuk beberapa hari. Sebelum akhirnya para perempuan malang itu ditransfer ke Irak atau Israel. Tergantung daerah tujuan.

Klinik aborsi, menurut ceritanya beroprasi sebagai klinik kesehatan biasa pada umumnya. Namun sebenarnya, klinik ini didirikan oleh geng sindikat para pedagang manusia. Para biadab itu, aslinya juga manusia. Bisa luka kalau tertembak peluru geng sindikat lawan. Mereka tidak bisa pergi serta merta ke rumah sakit. Sebab tentu saja dokter curiga kamu datang penuh luka tembak. Maka daripada dicurigai rumah sakit, kenapa tidak membuat rumah sakit sendiri?

Klinik-klinik kesehatan ini kecil. Bukan tipikal rumah sakit besar. Namun berisi dokter yang bisa bekerja sama. Nah karena tidak semua orang bisa bekerja sama, maka tidak banyaklah klinik ini berdiri.

Klinik kesehatan ini memiliki banyak fungsi. Namun tetap dibagi dalam klasifikasi khusus. Jika ada anggota gang sindikat yang butuh transfusi darah atau operasi khusus, mereka akan datang ke klinik khusus. Namun umumnya, klinik ini berfungsi sebagai tempat aborsi. Bagi para perempuan yang diperkosa dan dijadikan budak seksual. Ketika mereka harus menghilangkan janin benih pemerkosanya, maka klinik-klinik inilah yang jadi jawabannya.

Kata Fatma dengan bangga, paling lama tiga hari. Maksudnya, tiga hari setelah aborsi, para perempuan muda malang itu sudah kembali harus mengangkang melayani tamu-tamu majikannya.

Tangan saya gemetar menahan emosi.

Uang saya habis. Fatma bungkan ketika ditanya lokasi klinik itu berada.

Saat itu terdengar roda kendaraan roda empat mencicit berhenti depan rumah. Saya melirik ke jendela, berbisik kepada dokter muda yang kelihatannya mual mendengar cerita betapa Fatma terlibat dalam kejahatan ini, “Ada dua orang turun dari mobil, saya lihat wajahnya tidak terlalu ramah”

Si dokter menatap saya senyum, “Kamu takut?”

Ahh, rupanya ia kecanduan adrenalin sore itu. Bosannya hilang dan ia tidak ingin pergi dari lingkungan ini. Saya tidak senyum menjawabnya, “Iya saya takut. Saya punya anak. Iya saya takut, saya yang ajak kamu ke sini. Iya saya takut, peluru pada pistol di sela jaket sopir itu, membolongi jidat kita”

Si dokter membelalak. (*Saya bosan melihat orang membelalak. Entah kenapa saya selalu bertemu orang yang begini. Sok berani menghadapi semua marabahaya tapi begitu di depan realita, takutnya setengah mati*)

Kami tidak tahu siapa mereka yang datang tergesa-gesa ke rumah Fatma. Kami tidak tahu dan tidak mau tahu. Yang pasti, tidak ada salah satupun dari kami yang kebal peluru. Gagang pistol yang menyembul di sela jaket mereka sudah cukup membuat kami secepat-cepatnya pergi melalui pintu belakang. Masuk ke dalam keramaian pasar, menyelinap di belantara turis. Lalu pergi meninggalkan kota ini.

Sore itu, nyawa selembar ini rupanya masih bisa diselamatkan dalam genggaman.

Entah besok. Entah lusa.