Istirahat Dan Kecantikan

Memberi Suara Pada Yang Bisu - Dr Dede OetomoHari ini saya tidak punya banyak kegiatan. Sebab prioritas utama saya memang hanya sekedar istirahat. Idealnya, duduk, menikmati matahari dan lalu baca buku karya pak Dede Oetomo yang berjudul Memberi Suara Pada Yang Bisu, sebuah catatan cukup penting bagi pergerakan homoseksual Indonesia di luar negeri maupun dalam negeri. Tapi itu idealnya. Maksud saya, yang ideal memang begitu. Sebab kenyataan toh bilang lain.

Hari ini, saya ambil cuti. Mau istirahat. Sudah dua minggu penuh beraktifitas hingga nyaris setiap siang atau malam dihabiskan dengan hal-hal yang menyenangkan, namun juga menguras tenaga. Siapa yang bisa bilang jika pergi ke kebun binatang bersama putri tercinta adalah hal yang tidak menyenangkan? Siapa yang bisa bilang jika menghadiri pesta ulang tahun makan dan minum enak sambil menyanyi bersama teman-teman bukanlah hal yang menyenangkan? Siapa bilang pergi ke tempat jauh hingga harus bawa paspor segala hanya untuk memotret tidak menyenangkan? Semuanya menyenangkan. Tapi tetap saja toh menguras tenaga.

Saya mau istirahat. Maka jadilah saya mencoba istirahat hari ini. Tapi, ahh lagi-lagi ada tapinya. Itu jemuran sudah berhari-hari kering minta diangkat dan dilipat lalu dimasukkan dalam lemari. Ada pakaian bekas ompol anak saya membuat pesing sekamar mandi minta dicuci dan dijemur secepatnya. Ada makanan yang meminta dimasak agar memenuhi isi perut saya dan tamu-tamu. Ada lantai yang berdebu kusam minta disapu dan dibersihkan segera. Ada foto-foto hasil perjalanan yang minta diedit dan dikirimkan pada mereka yang semestinya mendapatkannya. Ada… Ada… Ada-ada saja lainnya yang membuat akhirnya saya baru bisa beristirahat mulai pukul tiga sore. Dan saya yakin tidak bisa bertahan lama. Sebentar lagi, tiga jam lagi, tamu-tamu saya juga sudah akan datang.

Akhirnya pukul tiga sore ini saya bisa beristirahat. Saya duduk di depan monitor. Lalu mulai menulis. Aneh? Bukankah menulis juga butuh tenaga? Ya jelas iya. Bukan hanya tenaga, tapi juga pikiran. Tapi kenapa masih menulis? Jawabnya sederhana; itu istirahat. Setidaknya buat saya. Dalam tiga jam ini saya akan istirahat. Saya akan menulis.

Sore ini, ketika akhirnya saya bisa sendiri, saya pun menulis. Seperti biasa, catatan-catatan saya hanya sekedar remah kehidupan sehari-hari. Tidak begitu penting buat siapa-siapa. Tapi ijinkanlah saya menulis dan berbagi cerita, sebab hanya dengan begini saya bisa istirahat. Hehe. Egois banget saya. Tapi cuek aja lah. Hehehe…

Jadi begini ceritanya;

Teman saya, panggil saja Mas Don, seorang putra Jawa aseli, baru saja putus cinta. Kejadiannya belum lama, kira-kira baru dua bulan lalu. Itu cinta, sebegitu putusnya, membuat beliau uring-uringan (“Pernah jatuh cinta yang sedemikian jatuhnya sehingga enggan untuk bangkit lagi?“). Bagaimana tidak uring-uringan, sebab dia bilang semua orang baik dari keluarga pasangan hingga ke keluarganya sendiri, menyalahkan Mas Don. Seakan putusnya pertunangan mereka, salahnya Mas Don.

“Coba Bang, masak sih aku yang disalahin? Padahal kan dia yang menerima ajakan kencan dari cowok lain. Masak dia kalo dapet SMS dari cowok lain terus diajak makan abis itu ngasih tau aku? Siapa yang nggak panas coba?”

Saya diam saja. Cengar-cengir seperti biasa. Sambil bertanya, “Trus?”

“Yaa iyalah, masak aku dituduh psikopat. Gara-gara putus pertunangan kita, aku dituduh psikopat. Aku dituduh main gila. Main gila apa aku, Bang? Aku kerja banting tulang mati-matian di sini mengumpulkan uang supaya tahun depan bisa pulang ke Indonesia biar bisa kawin sama dia. Kok dia begitu? Kencan sana kencan sini. Dia yang minta putus eeh malah status fesbuknya bilang kalo aku yang mutusin… Siapa yang nggak panas coba?”

“Yaa udah lah. Kamu tenang aja, Mas Don. Masih banyak gadis-gadis di muka bumi ini yang mau sama kamu”

“Tapi aku kan jelek, Bang… Gigiku maju begini. Banyak orang yang bilang aku mirip Dono”

Saya terperanjat, “Siapa yang bilang kamu jelek. Mas Don, semua manusia itu sama. Soal cantik atau tidak, itu masalah selera. Omong-omong soal Dono, almarhum itu senior saya loh. Dan dibalik karirnya sebagai komedian, pejuang dia itu. Ganteng. Punya kepercayaan diri”

Dia sambil cengar-cengir bilang, “Yang bilang aku jelek sudah banyak, Bang. Kalau aku kondangan terus bawa mantan cewekku, orang-orang pada tanya, apa rahasianya cowok macam aku bisa dapat secantik begitu”

Saya melamun. Sedih. Saya bilang, “Mas Don, kalo ada yang bilang kamu jelek kamu inget-inget aja lagu Christina Aguilera liriknya yang bilang ’kamu cantik, walau apapun yang mereka bilang. Tidak ada kalimat yang mampu menjatuhkanmu’. Biar sukses, nih saya kasih amalan”

“Amalan apa Bang, sejak kapan situ jadi dukun?”

“Udah jangan berisik. Nih amalannya. Tiap bangun pagi kamu usahakan liat kaca. Kamu senyum. Senyum sama diri kamu sendiri. Trus kamu bilang, ‘Eh kamu manis banget sih’ pada diri kamu sendiri. Ini amalan mujarab. Kalo dipraktekkan tiap hari kamu bisa jadi ganteng”

“Buktinya mana?”

“Saya dong! Loh kamu nggak ngeliat betapa saya manis banget nih!”

Kami berdua tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban saya. Mas Don menganggap jawaban canda saya dengan hati senang.

Saya tidak tahu apakah Mas Don mengikuti nasihat ajaib saya itu. Tapi saya pribadi mah (eh jangan bilang-bilang, ini rahasia kita bedua saja yaah) setiap bangun tidur lihat kaca lalu senyum dan berkata pada diri sendiri, “Bangaip, kamu cute banget sih” atau “Bangaip, kamu topdeh” atau “Bangaip ketika kamu jalan-jalan, dunia jadi ceria”.

Agak gila memang, tapi saya tidak peduli. Meskipun di luar hujan deras dan saya harus genjot sepeda termehek-mehek melawan angin pergi ke stasiun berangkat kerja ke pabrik, saya sudah sarapan dengan senyum. Kalau tidak bisa senyum, saya pakai dua jari tarik ujung bibir ke atas. Supaya kelihatan senyum. Yang ada malah kelihatan aneh. Dan saya lalu ketawa-ketiwi sendirian di kamar mandi pagi-pagi.

Gokil? Hahaha, biarlah. Yang penting senang! Haha…

Beberapa hari lalu saya ketemu Mas Don lagi. Ia bilang, “Bang tadi aku ketemu cewek Brazil di bis. Aku dikasih nomor telpon ama fesbuknya. Waduh senang aku, Bang. Kita sudah kontak-kontakan, mau ketemuan”

Saya lihat fesbuk perempuan yang ia bilang. Ya benar, Mas Don tidak salah. Cantik itu wajah sang wanita. Dengan penampakan lain pirang, tinggi dan seksi. Saya bilang, “Mas Don, mungkin ini jalan kamu. Tiap orang kan ada jalannya masing-masing. Moga-moga aja ini perempuan baik hatinya. Kamu ini orang baik, sepantasnya dapat perempuan baik. Kalau dia hatinya baik dia juga sangat pantas dapat kamu”

Mas Don cengar-cengir malu, “Ahh bisa aja kamu, Bang”

“Hehe, ngomong-ngomong kamu praktekin ga amalan dari saya”

Ia senyum membalas pertanyaan saya. Saya tidak peduli sebenarnya apakah ia benar-benar mengikuti anjuran saya. Tapi saya sudah bahagia melihat ia akhirnya senang dan punya secercah harapan dalam melalui hari-harinya yang penuh kerja keras dan patah hati selama ini.

Oke, itu cerita Mas Don. Cerita tentang seorang laki-laki yang jatuh cinta.

Sekarang saya coba ceritakan sebuah cerita lainnya. Ini cerita tentang wanita berusia 57 tahun. Namanya Jeanette. Perempuan aseli Brussel, Belgia.

Hari jumat lalu saya diundang makan malam di rumah Jeanette. Disana juga ada Gaby, wanita Jerman paruh baya eksekutif sebuah perusahan pengembang perangkat lunak yang super sibuk dan Rayes, perempuan Kanada yang menghabiskan separuh hidupnya untuk berkelana di muka bumi dan kali ini sedang bangkrut, patah hati, mencoba hidup menetap dan mencari kerja.

Kami makan malam bersama. Empat orang asing yang belum banyak kenal satu sama lain duduk dalam satu meja. Oh ya, jelas saya lelaki satu-satunya di ruangan itu. Jangan tanya saya bagaimana bisa kenal mereka, yang pasti ketika makan malam usai obrolan pun lalu menjadi lebih intim. Kami bicara tentang hidup kami.

Gaby bicara tentang kesibukan yang semakin hari semakin menyiksanya. Karir semakin tinggi, ia sibuk di tempat kerja. Untuk mengimbangi, ia ikut fitnes dua kali seminggu. Agar badan tetap sehat, bugar dan kencang. Di sisi lain, pacarnya yang lumpuh di Munchen sana juga ikut menyita waktu dan tenaga. Ia bicara tentang kesibukannya.

Rayes cerita tentang lelaki-lelaki yang selalu datang dan pergi dalam hidupnya. Ia cerita kalau ia separuh menyesal bertemu dengan para pria yang ia pikir akan jadi pelabuhan terakhir dan akhirnya mengecewakan. Dan kini, ia harus memulai kembali dari awal atas segalanya. Ia cerita tentang masa lalu dan penyesalannya.

Lalu jelas giliran saya. Saya cerita apa? Ahh saya jelas cerita tentang anak saya. Seorang perempuan berusia tiga tahun yang selalu membuat saya jatuh cinta. Tentang bagaimana saya mengajarinya naik sepeda dan obrolan-obrolan kami dalam multi bahasa yang selalu membuat saya tertawa. Saya cerita tentang cinta.

Jeanette, yang dari tadi hanya diam dan senyum menanggapi akhirnya mulai bercerita.

“Suatu hari ketika saya ada di India untuk berkelana, bangun tidur di pagi hari mendapatkan bahwa setengah tubuh saya tidak bisa bergerak. Dokter yang datang satu jam kemudian hampir pasti berkata bahwa saya kena stroke. Kejadian ini dua tahun lalu. Sejak saat itu saya lumpuh”

Saya dan mata-mata lainnya dalam ruangan memandang dengan tercekat ke arah Jeanette. Iya kami tahu Jeanette agak pincang ketika berjalan. Tapi kami tidak tahu kalau ia pernah lumpuh total.

“Bukan hanya stroke, saya juga kena Afasia yang membuat saya kesulitan dalam berkomunikasi. Apa yang mau saya bilang di otak keluarnya lain di mulut”

Saya benar-benar terperanjat. Saya tanya, “Kamu… Apakah kamu merasa frustasi dengan kondisi tersebut?”

Jeanette memandang saya, ada airmata di sana. “Iya, saya frustasi. Apalagi saat itu saya di India, saya tidak bisa menghubungi keluarga di Brussel. Akhirnya untung ada kedutaan yang membantu memulangkan saya. Setahun saya merasa gagal. Saya benci diri sendiri. Berjuta pertanyaan muncul. Kenapa ketika saya di India? Atau malah, kenapa harus saya? Saya merasa hidup saya sudah tidak ada gunanya lagi sebagai manusia”

Saya sadar betul. Sebagai orang yang selalu jalan-jalan dalam bekerja, lumpuh memang amat menyulitkan. Apalagi ditambah kelainan fungsi di otak.

Gaby dan Rayes bertanya hampir bersamaan, “Lalu kok kamu sekarang bisa jalan lagi?”

Jeanette tersenyum. Dia bilang, “Kalau saya menyesali hidup, pasti tidak ada gunanya. Saya pasti suatu saat akan mati. Tidak perlu lah saya percepat. Maka itu saya lawan saja. Saya pergi ke pusat rehabilitasi untuk orang cacat. Saya berjuang setiap hari berkata pada diri sendiri bahwa saya pasti akan bisa menggerakkan telunjuk saya”

Diai berhenti sejenak, ambil teh dan lalu menyeruputnya. “Dan kamu tahu… Suatu hari telunjuk saya bergerak. Setelah enam bulan saya melatih diri di depan kaca berkata pada diri sendiri bahwa saya bisa menggerakkan jari jemari, tiba-tiba ia bergerak”

Saya kaget, “Eh masa sih segampang itu?”

Dia ketawa, “Yaa tidak. Tidak semudah itu. Besoknya setelah jari saya kedut-kedut tiba-tiba, tidak ada perubahan lain. Saya sempat frustasi lagi. Tapi saya lawan. Saya bilang pada diri saya sendiri kalau saya bisa. Hari demi hari ada kemajuan. Tidak serta merta saya bisa bergerak seperti ini, tapi saya mulai bisa menggerakkan jari jemari tangan saya. Dan itu sebuah anugrah. Buat saya. Buat orang-orang bisa jalan atau bisa tepuk tangan itu biasa. Buat saya waktu itu, luar biasa. Dan kini betapa saya sangat menghargai hidup dan tubuh walaupun hanya jalan ke WC atau membuka lembaran buku”

Saya benar-benar terharu mendengarnya. Hampir menangis. Semua bulu kuduk saya merinding ketika Jeanette cerita mengenai perjuangannya untuk sembuh dari stroke dan afasia. Lebih terharu ketika ia bilang bahwa ia merasa tetap cantik walau semua urat wajahnya menjadi amat kendur hingga amat susah dibedakan dengan Jeanette yang dulu sebelum terserang penyakit-penyakit itu.

“Waktu diputuskan oleh pacar ia bilang, saya sudah tua. Saya singel, cacat dan muka saya rusak. Tapi saya tidak peduli. Saya lawan saja semua prasangak buruk dengan senyum. Ia boleh bilang apa saja, tapi saya tetap merasa wanita dan saya cantik dan bahagia”

Saya lagi-lagi terharu dan senyum mendengarnya. Saya bilang, “Jeanette, kamu perempuan cantik dan tetap akan selalu cantik. Saya bangga bisa kenal dengan kamu. Saya bangga pada perjuangan kamu dan saya bangga pada kamu”

Satu persatu, saya, Gaby dan Rayes memeluk Jeanette. Ia menitikkan air mata. Ahh iya, saya juga. Saya menitikkan airmata. Jadi lelaki yang cukup cengeng malam itu. Tapi biar saja. Ini airmata respek pada perjuangan hidup anak manusia.

Kita semua dilahirkan cantik dan akan selalu cantik hingga akhir hayat nanti. Maka jika suatu hari hidup sudah sedemikian berat himpitannya. Lihat saja ke cermin di pagi hari. Senyum dan berkatalah pada orang di seberang sana bahwa Anda mencintainya.

Selamat sore, selamat senyum dan selamat menjadi cantik (atau ganteng, atau apalah sebutannya, hehe) buat teman-teman pembaca semua.

*Terimakasih sudah membantu saya istirahat :) *


Tentang Makna Ruang, Waktu Dan Jatuh Cinta

Biasanya ketika bertemu orang yang baru saling mengenal, kita bertanya macam-macam. Pertanyaan standar, “Siapa namanya?” atau “Tinggal dimana?”. Kalau ditanya orang-orang yang baru kenal, saya sering juga ditanya, “Kerjanya apa?”

Kalau ditanya orang baru mengenai apa pekerjaan yang saya geluti sehari-hari, maka dengan mantap saya jawab “Pekerjaan saya adalah menjadi ayah hebat dari seorang putri tercinta berusia tiga tahun dan sekaligus bekerja sebagai lelaki yang ceria dan menyenangkan”.

Kalau si penanya bengong dengan jawaban tersebut, maka saya tambahkan dengan, “Ini adalah pekerjaan yang paling hebat di dunia ini. Saya bangga bisa bekerja sebagai lelaki sekaligus jadi ayah”

Biasanya yang mendengar senyam-senyum. Saya agak bingung, padahal saya kan tidak lucu. Tapi saya mah positif saja, saya anggap ia senyum mungkin karena saya memang cool. Hehe…

Orang-orang tertentu biasanya cukup puas dengan jawaban tersebut. Namun orang-orang lainnya bertanya dengan awal kalimat, “Serius, kamu ngapain sih dengan hidup kamu?” atau “Bagaimana kamu bisa hidup?”

Aneh, padahal kan sudah saya jawab pertanyaan dia. Kok malah tanya yang lebih aneh lagi.

Bagaimana saya bisa hidup? Itu kan pertanyaan ajaib. Saya bisa hidup karena saya dilahirkan, bernafas, makan, buang air, berinteraksi dan bahagia (*Iya jelas saya senang dan bahagia dengan hidup. Kalo nggak, pasti saya sudah tidak hidup lagi*). Saya bisa hidup kan jawabannya sama dengan manusia lainnya. Saya bisa hidup, setidaknya-hingga-saat-ini-sebagai-manusia, karena melakukan hal yang sama sebagaimana manusia lainnya. Itu kan manusiawi? Toh?

Ujung-ujungnya sih penanya bertanya bagaimana saya dapat uang untuk bertahan hidup. Yaelah, tanya kok ujung-ujungnya ke fulus. Emangnya saya cowok mata duitan kali? Haha.

Kalo sudah ditanya soal darimana uang saya berasal saya jawab, “Saya punya hobi, trus saya kerjain aja deh hobi saya. Ajaibnya, tiap akhir bulan saya masa sih dikasih duit gara-gara ngerjain hobi itu? Yaa udah, dari situ uang saya datang”

Habis itu si penanya tidak habis-habis bertanya. Misalnya seperti apa hobi saya, bagaimana saya mengerjakan hobi saya dan berapa saya dibayar atas hobi-hobi yang saya lakukan hingga pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Biasanya, saya mah ketawa saja sih mendengarnya. Ujung-ujungnya karena ia yang lebih banyak bertanya, saya malah lupa bertanya balik. Hihi…

Tapi beberapa minggu lalu saya dapat pertanyaan yang sama tapi dalam versi yang lebih berat.

Tentang Makna Ruang

Di bis, putri saya Novi Kirana bertanya, “Papa, kamu kalau sudah besar mau jadi apa? Tapi kalau sudah menjawab kamu harus tanya juga yaa ke aku kalau sudah besar aku mau jadi apa?”

Saya tertawa, “Oke Novi. Oke. Kalau gitu papa duluan deh yang nanya. Kamu kalau sudah besar mau jadi apa?”

“Aku mau jadi dokter papa. Dokter untuk manusia”

“Bukan dokter untuk binatang atau tumbuhan?”

“Nggak papa. Aku mau jadi dokter atau perawat saja. Papa mau jadi apa?”

Saya memeluknya dan menjawab, “Papa hanya ingin jadi papa yang baik untuk kamu, sayang. Jadi lelaki yang selalu kamu cintai dan mencintai kamu”

Ia menatap saya dengan tatapan yang sukar diungkapkan lewat kata-kata, “Papa, kenapa kamu nggak tinggal sama aku dan mama lagi?”

Ini pertanyaan yang sukar. Sudah hampir setahun saya tidak tinggal bersamanya lagi. Kami hanya bisa bertemu beberapa jam saja dalam seminggu. Saya hampir menangis dalam bis. Saya belai rambutnya yang coklat penuh kasih sayang, “Nak, papa kan tidak tinggal jauh dari kamu dan mama. Hanya setengah jam saja. Jadi kalau ada apa-apa papa pasti bisa datang. Lagipula kamu kan punya dua kamar sekarang. Punya dua rumah. Punya mainan dua kali lipat lebih banyak. Kamu nggak senang?”

“Aku lebih senang kalu papa tinggal sama aku dan mama”

Dug! Jantung saya berdegup jauh lebih cepat daripada biasanya. Saya harus menjawab pertanyaan ini dengan baik sesuai umurnya. Sebab ia kelihatan lebih memahami hidup lebih banyak daripada usianya. Airmata saya hampir meleleh dalam bis. “Cintaku, papa sudah tinggal sama mama. Tapi papa jadi sedih. Mama juga jadi sedih. Jadi lebih baik supaya kami tidak sedih, papa tinggal di tempat lain. Tapi kami tetap sangat cinta kamu. Kamu yang membuat kami bahagia. Kamu pasti selalu bisa main sama papa dan mama bersama”

“Kalau begitu kita besok ke kebun binatang sama mama yaah, Papa?”

Saya senyum, “Pasti sayang. Kita selalu bisa ke kebun binatang. Nanti papa tanya mama dulu yaa kalau mama ada waktu untuk kita”

Ia mengangguk. Saya kembali tersenyum. Saya begitu bahagia bisa bersamanya walaupun kesempatan datang hanya beberapa jam saja.

Tentang Waktu

“Papa, kamu benar besok selasa kita bisa ke kebun binatang”

“Papa pikir sih bisa, sayang. Papa bisa ambil hari libur khusus untuk kamu. Kenapa?”

“Kata mama papa harus sering pergi untuk cari uang?”

Lagi-lagi jantung saya berdebar cepat. Saya harus memberi jawaban yang jujur dan tidak membuatnya sedih, “Iya nak. Mama benar. Papa sering bepergian dan biasanya dapat uang setelahnya. Tapi papa cari uang jadi bisa bantu mama membesarkan kamu. Jadi yaa papa cari uang sebenarnya untuk kamu”

“Kalau kamu punya uang kita beli sepeda yaa papa?”

Saya ketawa. Halah ujung-ujungnya ternyata sepeda. “Iya cinta. Kita beli sepeda nanti kalau papa sudah punya uang. Kamu mau sepeda apa sayang?”

“Aku mau sepeda warna biru dengan helm warna merah!”

Wah saya bengong mendengarnya. Buset dah, memangnya dia sudah bisa naik sepeda apa. Kok tahu pasti apa yang dimaui. Ia menukas dengan cepat seperti membaca pikiran saya, “Papa, nanti kamu ajari aku naik sepeda yaa?”

Senyum saya semakin melebar, “Iya Nak, pasti sayang. Pasti!”

“Kamu ada waktu papa? Kata orang-orang kamu nggak punya waktu”

Alis saya mengerenyit, “Orang-orang itu siapa sayang?”

Dengan cuek ia menjawab, “Orang-orang yaa orang-orang lah”

Saya menatapnya kagum. Sepertinya ia mendengar banyak informasi di telinganya dan kini coba mengkonfirmasikan semua berita yang telah ia dengar. Saya jawab pelan, “Ada cintaku. Pekerjaan papa kan jadi papa kamu. Maka papa pasti ada untuk kamu” sambil mengecup keningnya.

Ia menatap ke depan. Tangan kanannya menggenggam erat jari-jari saya seakan enggan dilepaskan.

Saya menatapnya lekat dan semakin jatuh cinta kepadanya.

Tentang Jatuh Cinta

Sebentar lagi bis akan sampai di rumah mamanya. Sesuai kesepakatan, pada pagi tertentu mamanya mengantar sampai ke rumah saya dan saya yang akan membawa bocah manis berusia tiga tahun ini kembali ke rumah mamanya di sore hari. Saya sudah berjuang habis-habisan agar mendapatkan kesempatan bisa memasak dan makan malam bersama putri saya walaupun akhirnya hanya dapat dua kali perminggu. Sore itu, saya akan memasak untuk putri saya sebelum mamanya pulang.

Makanan favoritnya bersama saya biasanya masih nasi hangat campur mentega dan irisan ketimun. Namun untuk menyeimbangkan dengan gizi dan vitamin, biasanya saya beri juga ikan atau sosis kesukaannya. Ditambah kiwi dan strawberry. Ia suka sekali makan nasi campur strawberry.

Di meja makan, sore itu saya bilang kepadanya, “Novi, papa jatuh cinta pada kamu”

Sambil mengunyah irisan ketimun yang dipotong panjang ia bertanya, “Jatuh cinta itu apa, Papa?”

Saya berhenti menyendok nasi ke mulut. Hampir tersedak. Ini pertanyaan sederhana. Sangat sederhana. Tapi bagaimana menjelaskan ‘hal sederhana ini’ pada anak sekecilnya?

Saya coba menjelaskannya dalam bahasa Belanda. walaupun ia mengerti Bahasa Indonesia ia lebih fasih bicara dalam bahasa Belanda, sebab itu bahasa interaksinya sehari-hari dan bahasa ibunya. Dalam bahasa Belanda, ada rancu dalam penjelasan teman. Vriend artinya teman, mengacu pada fisiologis pria ia berarti teman yang berjenis laki-laki. Tapi vriend juga bisa berarti pacar laki-laki. Sementara vriendin artinya teman, bisa teman perempuan bisa juga pacar perempuan. Saya coba menjelaskannya dalam bahasa Belanda sederhana kepadanya.

“Novi sayang, jatuh cinta itu kalau kamu punya perasaan sayang kepada orang yang kamu suka. Misalnya kepada vriend atau kepada vriendin kamu”

Dia menatap saya lagi, “Jatuh cinta itu apa, Papa”. Saya ketawa. Itu tandanya ia belum mengerti dan masih butuh penjelasan lanjutan.

“Begini sayang, kalau kamu punya vriend atau vriendin yang baik lalu kamu mau bersama dia terus, kamu selalu mau main-main sama dia dan kamu sedih kalau dia pergi itu tandanya kamu cinta kepadanya”

Dia mengangguk-angguk, “Mama punya vrienden. Segini…” katanya sambil membentangkan seluruh jari tangan kanannya. Saya ketawa terbahak-bahak mendengarnya. Vrienden itu artinya teman laki-laki secara hitungan jamak.

“Papa senang, Nak kalau mama punya teman banyak. Jadi mama tidak sedih lagi. Ada yang menghibur. Teman mama kan banyak laki-laki dan banyak perempuan juga”

“Bukan papa. Aku nggak suka teman laki-laki mama yang rumahnya dekat kebun binatang. Mama sering kesana ajak aku, tapi aku nggak suka dia. Aku mau ke kebun binatang sama papa saja tidak sama dia. Aku juga nggak mau pindah ke Spanyol karena disana juga ada teman laki-laki mama”

Saya diam melihatnya sedih. Wajahnya agak tertekan. Ia lalu bilang lagi, “Papa jangan bilang mama yaah kalau aku bilang begini ke papa”

Saya ikut sedih. Saya bilang, “Nak, kamu jangan khawatir. Papa akan selalu menjaga kamu. Papa minta maaf sebab papa tidak ikut campur urusan mama lagi, tapi papa pasti akan menjaga kamu. Kamu jangan takut cinta. Kamu tidak perlu ketemu orang yang tidak kamu suka dan kamu juga tidak akan pindah ke Spanyol kalau kamu tidak mau”

“Papa janji?”

“Iya Nak, papa janji”

Mukanya kembali cerah. Saya senang bisa membuatnya kembali bahagia walaupun saya tahu akan terlibat omongan yang cukup serius dengan mamanya soal itu. Sesuatu yang biasanya saya hindari sejak saya tidak lagi tinggal bersama Novi untuk meminimalisir efek bencana setelahnya. Namun demi kepentingan putri semata wayang, jelas apapun akan saya lakukan. Ahh saya hanya manusia biasa dan sama sekali tidak ingin melihat putri saya menderita.

Sambil mengunyah strawberry terakhir ia bertanya, “Papa punya teman perempuan?”

“Yaa banyak Nak. Teman papa laki-laki dan perempuan. Banyak. Setiap hari papa mengerjakan hobi bersama mereka”

“Rumahnya dekat kebun binatang juga?”

O-oh, saya baru mahfum arah pertanyaannya. “Kalau yang kamu maksud pacar. Papa tidak punya sayang. Papa kan sudah punya kamu, teman perempuan terbaik yang papa punya. Papa urus Novi saja”

Ia melihat saya lalu tersenyum.

Sore itu ketika saya harus pergi saya memeluknya erat. Saya bilang bahwa bangga sekali saya menjadi ayahnya. Sambil berjongkok dihadapannya saya katakan, “Papa cinta Novi”

Ia mengecup kening dan mengusap rambut saya sambil berkata, “Novi jatuh cinta ke Papa”

(*Mohon maaf, pada postingan kali ini pertanyaan yang saya pikir personal sebaiknya saya tidak jawab. Sekali lagi mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Terimakasih atas semua dukungan dan doa pembaca, teman-teman dan keluarga yang akhirnya membuat saya berani menulis kembali. Saya cinta kalian. Terimakasih banyak yaa…*)


Hidup Eksak

Berkarya itu tidak mudah. Baru tahu? Tidak juga sih. Sudah lama saya tahu kalau berkarya itu tidak mudah.

Kemarin saya memotret, hasilnya buruk. Banyak kotoran terlihat di foto. Entah bisa jadi itu kotoran adalah kotor akibat lensanya kotor, bisa jadi karena memang saya yang tidak ahli. Kelihatannya sih kombinasi dua-duanya. Saya memotret wajah Reno yang duduk di sebelah Untung, kok yaa bisa-bisanya foto muka si reno coreng-moreng? Padahal sumpah mati dia sedang tidak pakai kosmetik dan saya juga tidak memodifikasi foto. Memotret itu tidak mudah. Setidaknya buat saya.

Karena memotret sudah tidak begitu pandai jadi saya coba saja lah untuk menulis. Kebetulan saya sedang dapat tugas menulis laporan. Dua tiga paragraf masih oke, sisanya berantakan. Mulai dari yang saya sudah tidak konsentrasi (maunya tidur saja) hingga music gypsy punk Gogol Bordello yang menghentak-hentak membuat ingin berdansa. Pada intinya, tugas menulis laporan itu akhirnya berantakan. Setelah empat paragraf, saya putuskan untuk berhenti menulis dan mengalihkan perhatian ke dapur untuk memasak.

Lalu saya putuskan untuk memasak sesuatu yang istimewa malam itu. Sesuatu yang dahsyat. Bukankah urusan lidah dan perut berupa makanan adalah juga karya seni? Iya, saya putuskan untuk tidak menyerah jadi seniman malam itu. Oke memang kalau saya tidak bisa memotret, tidak bisa menulis, tapi minimal kan saya harus bisa memasak. Ini karya seni saya. Makanan!

Saya mulai dengan sesuatu yang sederhana. Bukankah semua maestro memulai masterpiecenya dari sesuatu yang sederhana? Sesuatu yang sederhana yang terlintas di otak saya tentu saja tidak jauh dari sambal. Apa sih yang susah dari sambal? Ambil cabe, bawang putih, bawang merah, tomat dan garam lalu gerus bersama-sama. Mau yang lebih rumit? Tentu saja bisa dicampur terasi, atau digoreng, atau dicampur apalah hingga menghasilkan sesuatu rasa baru.

Terambillah cabe, bawang, tomat, dan kacang. Saya ulek semuanya dengan kadar gerak tangan yang mirip kesadisan pada film horror. Tentu saja sama sekali tidak menakutkan, malah cenderung romantis. Airmata saya berlinang ketika mengulek sambal. Kelihatannya uap bawang Bombay menari di pelupuk mata membuat saya menangis. Romantis kan? Hehe…

Tidak lama kemudian sambal kacang hangat jadi pula tersaji di atas meja. Saya ambil ketimun, diiris sedang hingga sepiring penuh. Pelan-pelan saya santap sajian malam ketimun sambal kacang dengan nikmat.

Yang saya pelajari malam itu ada dua. Pertama adalah; satu peristiwa adalah pemicu dari peristiwa yang lain.
Sementara yang kedua yaitu; satu kejadian adalah hasil dari kejadian yang lain.

Terlalu filosofis? Entahlah… Sebab saya tiba-tiba berfikir, “Coba kalo si Reno mukanya nggak belepotan di layar monitor, apa iya gua makan sambel kacang malem ini?”

Bisa jadi tidak.

Mari kita lanjut ke cerita lainnya

Beberapa minggu lalu saya bertemu dengan seseorang dengan pekerjaan dan jabatan yang buat saya aneh sekali. Namanya, ahh panggil saja dia Anton. Nah si Anton ini ketika berjabat tangan dengan saya mengenalkan diri sebagai, “Anton, personal trainer”.

Saya bengong. Jelas iya saya bengong. Berdasarkan kamus otak saya yang cupet ini, personal trainer terjemahan dalam bahasa Indonesianya adalah ‘pelatih kebugaran’. Menilik dari rupa si Anton yang tingginya hamper dua meter dan kurus ini, kelihatannya ia sama sekali bukan ahli kebugaran. Mana saya percaya ia adalah pelatih kebugaran badan?

Setelah ngobrol panjang lebar hampar dua jam dengan si Anton dan pacarnya yang orang Texas itu, saya baru sadar bahwa yang ia maksud adalah bahwa ia seorang pelatih kehidupan.

Wooow… Saya tambah melongo. Pelatih kehidupan. Saya pikir selama ini, jika Anda adalah seekor anjing yang memiliki tuan seorang manusia yang hidup dalam tatanan masyarakat dimana anjing harus sekolah, maka hidup Anda harus dilatih. Ternyata saya salah. Ternyata manusia juga harus dilatih untuk hidup.

Dari Anton, saya dapat informasi. Bahwa di dunia ini ada manusia yang hanya bisa hidup jika punya masalah. Jadi, kalau tidak ada masalah, hidupnya hampa. Buset dah. Di sisi lain, ada manusia yang sama sekali tidak bisa hidup dengan masalah. Inginnya selalu lari dari masalah. Entah sembunyi, entah menghindari. Yang penting lari. Tugas Anton, menyeimbangkan hidup orang-orang seperti itu. Kata dia, nama kerennya ‘coaching’.

“Begini Ip, kamu tahu ga konsep kebahagiaan?”

Saya menggeleng. Mana saya tahu konsep kebahagiaan.

“Kamu bahagia ga?”

Yaelah pertanyaanya aneh sekali. Tapi daripada saya tambah bingung, saya jawab saja “Ton, kalo saya makan enak, terus kenyang terus abis itu bisa duduk selonjoran, saya bahagia. Atau maen sama anak saya atau temen-temen saya sambil ketawa-tawa. Saya mah udah senang. Idup saya segitu mah udah cukup”

Dia bengong. “Kamu nggak butuh mobil eksotis, rumah?”

Saya mengerenyitkan alis, “Yaelah Anton, saya kaga bisa nyetir. Mao dikasih mobil satu pabrik juga percuma. Saya lagian udah tinggal di rumah kontrakan. Apa yang kurang?”

Dia bengong lama. Abis itu dia bilang begini, “Oke sori… Kita balik lagi ke topik kebahagiaan. Kamu tahu ga kalau definisi kebahagiaan itu adalah sederhana. Jika kamu dikelilingi oleh orang yang bahagia, maka kamu akan bahagia. Begitu pula dengan kerjaan saya. Saya coba membuat orang-orang yang mulai mempertanyakan hidup mereka untuk menggali kebahagiaan mereka sendiri”

Saya bengong. Njelimet sekali ini penjelasan si Anton. Maksudnya gimana sih?

“Maksudnya, kamu akan bahagia jika dikelilingi oleh orang yang juga satu pemahaman dengan kamu”

“Jadi kalo nggak sepaham nggak bahagia, Ton…?”

“Bisa, tapi susah. Harus saling memahami agar mudah”

“Trus gimana caranya agar bisa saling memahami?”

“Nah itu lah gunanya pekerjaan saya. Ini bisnis booming looh. Orang-orang sekarang sedang hobi mencari pemahaman atas dirinya sendiri”

“Ooh kamu psikiater dong?”

“Buuuukaaaan… Kamu gimana sih? Dari tadi nggak ngerti-ngerti juga”

Sumpah saya tidak mengerti. bahkan ketika Anton bilang bahwa manusia berjenis kelamin pria itu mengambil keputusan satu kali per setiap tujuh detik dalam waktu sadarnya dan wanita tiga kali kelipatannya agar mereka bahagia, saya masih tetap tidak mengerti.

Saya bloon?

Bisa jadi.

Tapi dari dua cerita di atas, saya malah belajar satu hal yang baru. Dua-duanya berbuntut pertanyaan dengan jawaban yang memiliki kemungkinan. Jawabannya bisa benar, bisa juga salah. Tapi itu sama sekali bukan baru toh. Yang baru adalah, bahwa peristiwa runtutan hidup dan kebahagiaan (atau apapun definisinya) itu sama sekali tidak eksak. Bahwa kadang-kadang ada saja dalam kejadian sehari-hari yang terjadi di luar nalar dan logika.

Baru? Mungkin buat Anda tidak. Tapi buat orang-orang yang terbiasa (karena terpaksa) punya rencana B, C dan seterusnya jika rencana A gagal ini macam saya, tentu saja ini hal yang baru.


Bahasa Yang Tidak Sederhana

Begini. Jelasnya ia bilang begini, “bahasa hukum itu tidak bisa sederhana. Ia harus jelas, detil dan pasti” ketika saya bertanya mengapa putusan sebuah kasus di pengadilan dapat mencapai berlembar-lembar kertas A4.

Saya percaya. Lah habis mau bilang apa lagi. Bukan hanya latar belakang teman satu ini yang ahli hukum, melainkan ia juga menerangkan dengan sangat gamblang melalui contoh:
“Jika A berhutang pada B, lalu A mangkir bayar. B membawanya ke pengadilan. Pengadilan memutuskan bahwa A harus bayar hutang pada B. Apa iya putusannya begitu saja? Kan harus dijelaskan kapan A bayar, dimana membayarnya atau berapa jumlah bayarannya atau hal-hal lain yang berurusan dengan piutang tersebut. Dan semua itu tidak simpel kan?”

Saya manggut-manggut. Logikanya jelas. Bahasa administrasi hukum memang harus jelas. Sampai poin ini, saya mengerti.

Dan poin itu pula lah yang selalu saya bawa kemana-mana ketika bicara soal hukum. Memang sih saya bukan ahli hukum, tapi biasanya tertib membaca aturan main yang berhubungan dengan hukum.

Saya dianggap orang aneh oleh beberapa teman, karena menurut mereka (jelas subjektif toh?) saya satu-satunya orang yang mereka kenal selalu membaca dengan amat teliti perjanjian lisensi (end-user licence agreement) sebelum melakukan instalasi perangkat lunak pada komputer. Walaupun dianggap aneh, saya tidak peduli. Sebab perjanjian-perjanjian itu sempat beberapa kali menyelamatkan isi kantong saya secara signifikan. Jadi, administrasi hukum yang jelas, dan kadang bertele-tele dan rumit itu, kadang ada gunanya.

Saya sadar. Sepenuhnya sadar kok. Bahwa hukum itu berbeda dengan keadilan.

Hukum adalah produk. Jika negara kita analogikan sebagai pabrik dan masyarakat adalah konsumen, maka hukum itu produknya. Dan jika memakai analogi yang sama, maka akan ada dua hasil dari produk yang dihasilkan oleh sang pabrik.

Pertama, produk yang diinginkan oleh konsumen. Namanya, hukum berorientasi publik. Kedua, produk yang akan menguntungkan buat pabrik. Namanya? Ahh yang ini pada jaman modern kini tidak ada namanya. Karena ketika monarki-monarki di dunia ini hancur, hancur pula produk yang hanya menguntungkan negara.

Pada produk pertama, yaitu produk yang diinginkan konsumen, maka pabrik akan mengikuti selera pasar. Apapun yang diminta oleh warga sebagai konsumennya, maka pabrik harus setuju. Pada negara-negara yang ada saat ini (2011), aturan main model begini acapkali dipakai. Hukum dibuat demi kepentingan masyarakat.

Sisi baiknya, produk hukum sebuah negara yang berupa Undang-Undang, Instruksi Presiden, Peraturan Daerah atau bla-bla-bla lainnya akan sebaik-baiknya dibuat demi kemaslahatan umat. Sisi kurang baiknya, well kita semua tahu bahwa warga negara itu bukan kumpulan orang satu RT saja. Warga negara itu banyak. Mengakomodasi semua tuntutan, adalah hal yang mustahil. Maka dipilihlah suara terbanyak dalam mengakomodasi tuntutan warga. Dalam implementasinya, yang tidak setuju biasanya tidak terlalu dirugikan. Tapi sialnya kadang-kadang pada ujung-ujungnya, ada minoritas yang terkoyak.

Henry VIII picturePada produk kedua, dimana hukum dihasilkan negara demi kepentingan negara. Ehmmh, ini kejadiannya sudah lama. Contohnya di Inggris, ketika raja Henry VIII meminta gereja untuk menikahkan ia dengan selirnya. Tentu saja Paus menolak. Sebab poligami tidak ada dalam kitab suci yang dipercayainya. Henry VIII tidak peduli. Ia tetap menikahi selirnya bahkan hingga enam perempuan dikabarkan sah jadi permaisurinya. Undang-undang pernikahan saat itu di Inggris jadi berbeda (walaupun akhirnya UU poligami Inggris berakhir ketika Henry VIII meninggal tahun 1547 akibat kegemukan, pirai dan sipilis). Namun disini terlihat jelas, bahwa penguasa (Raja) mengeluarkan instruksi yang mampu membuatnya setingkat atau lebih dari hukum gereja reformasi yang menjadi standar baku saat itu.

Walaupun kelihatan tidak ada bagus-bagusnya hukum ini, sebab hanya akan mengukuhkan negara sebagai penindas saja, tetap ada sisi positifnya pada sisi tertentu. Kebijakan Dagang Beras Jepang sejak tahun 1961 hingga saat ini (2011) misalnya. Hukum ini ternyata melindungi Jepang sehingga bisa swasembada beras dan memakmurkan petani beras. Contah lainnya lagi, ketika dunia dilanda krisis global sejak 2008, banyak sekali pemerintah negara-negara di dunia yang mengambil alih tata cara perdagangan aset milik rakyat (Contoh: Swedia dan Denmark di tahun 2009 yang memperketat peraturan agar warganya tidak menjual properti pada masa krisis).

Di Republik Indonesia, kita memilih yang pertama. Kita? Entahlah… Mungkin tidak sepenuhnya tepat kalau disebut kita. Sebab toh para pendiri bangsa memilihkan hukum itu untuk kita. Para manusia Indonesia yang masih hidup saat ini.

Yang pasti, saat ini kita percaya bahwa hukum di Indonesia dibuat demi kepentingan Warga Negara Indonesia. Mulai dari presiden hingga jelata, tua muda, pria wanita, kalau masih bisa disebut WNI, maka hukum ini memang spesial untuk mereka.

Namun ajaibnya, meski digadang-gadang kalau Undang-Undang Dasar negara yang sebenarnya diterjemahkan dalam kitab hukum pidana maupun perdata, kelihatannya bahwa isi hukum di Indonesia terdiri dari gado-gado hukum kontingental Eropa (warisan penjajah Belanda), hukum agama (akibat mayoritas reliji warga negara), dan hukum adat (karena banyaknya suku-suku di nusantara).

Jadi pada intinya, yang bikin hukum jaman dulu itu (entah jaman kini juga) kelihatannya asik sekali main comot sana-sini. Ambil yang baik, buang buruknya, tentu saja ini yang jadi motivasi.

Tapi apa benar kita telah mengambil yang baik dan membuang buruknya?

Apa benar, mengambil yang baik dan membuang yang buruk menjadi salah satu motivasi para pengambil keputusan para manusia setengah dewa itu yang produk bernama hukumnya akan menentukan nasib makhluk hidup bumi pertiwi? Apa benar hukum masih berpihak pada warga, bukan pada oligarki para pemilik modal besar saja?

Jika benar, bukankah hukum seharusnya dibuat atau diambil untuk melindungi makhluk hidup dan bumi ini, bukan malah mengancam atau merusaknya?

Beberapa waktu lalu, saya membaca kembali kasus Rumah Sakit Omni vs Ibu Prita.

Saya kira kasus ini telah selesai. Prita menang! Koin terkumpul di Langsat sampai karungan. Bahkan para rocker ikut teriak menyanyi demi kebebasan dalam konser bernama Free Prita. Oh yeah!

Iya Prita menang. Suara konsumen menang. Suara wong cilik menang!

Saya kira ia menang. Anda kira ia menang?

Kelihatannya saya salah. Kelihatannya Anda salah.

Pagi ini membaca bahwa Mahkamah Agung mengeluarkan kasasi keputusannya dalam kasus Prita vs RS OMNI. Dalam putusan kasasi tersebut, Prita nantinya akan dihukum penjara kembali seperti yang dialaminya dahulu saat menghuni penjara wanita Tangerang. (sumber AntaraNews)

Iya, kita kaget membacanya. Bukankah negara telah dengan paksa merenggut ibu-ibu korban malpraktik RS OMNI ini dari anaknya dengan memasukkannya ke penjara dulu? Loh kok sekarang akan dimasukkan penjara lagi? Jika memang haknya sebagai konsumen dan ibu telah diinjak-injak dan keadilan tidak berpihak kepadanya, kemana itu produk hukum gado-gado warisan nenek moyang yang seharusnya dan katanya melindungi warga?

Saya pikir para manusia yang ada Mahkamah Agung jelas bukan orang tolol. Juga jelas bukan para anak sundal yang berhobi fetish menjilat pantat. Seharusnya saya pikir mereka jauh… Jauuuuh lebih pintar daripada saya dan orang sekampung Cilincing yang awam ini melihat korelasi antara hukum dan keadilan.

Jika Prita sudah diperlakukan tidak adil oleh negara dan hukum juga tidak berpihak kepadanya. Kepada siapa lagi kita akan berharap?

Hukum dan keadilan itu memang beda. Hukum itu produk. Jika produk itu sudah busuk, bukankah kewajiban kita menggantinya dengan yang lebih baik?

Apa yang terjadi dengan Prita itu sudah sedemikian busuk.

Jika hukum itu produk…. Jika produk itu dibuat dan disetujui kita sebagai warga negara… Apa artinya kita juga ikut busuk? Jangan-jangan hukum yang busuk adalah cerminan kita yang sudah benar-benar membusuk?

Padahal dalam bahasa yang sederhana atau bukan… Jika hanya dengan diam, kita pula akan membusuk pelan-pelan.


AJarPul (Anak Jarang Pulang)

Saya mengobrol dengan Kang Adi, berbagi cerita. Cerita kami topiknya soal manusia dan nasibnya.

Kami berdua sama-sama tidak percaya bahwa ada faktor luar biasa yang mengubah nasib manusia selain manusia itu sendiri. Maksudnya mungkin, bahwa manusia menentukan apa yang ia jalani dalam hidup.

Lalu obrolan kami mulai menjurus spesifik, yaitu contoh nyata.

Kang Adi temannya wartawan kecil. Hidupnya pas-pasan. Tapi selalu bermimpi jadi pembalap mobil rally. Aneh sekali. Bagaimana mungkin gaji wartawan yang hanya bisa menyambung hidup pas-pasan keluarga mereka mampu membiayai si kepala keluarga jadi pembalap mobil?

Nasib berkata lain. Tepatnya, si wartawan kecil ini memilih nasibnya sendiri. Ia meliput berita-berita olahraga dan akhirnya diterjunkan ke desk balap mobil. Disana bertemu dengan orang-orang sejiwa, belajar, dan saling berbagi. Disana ia bertemu sahabat-sahabat baru yang mengerti panggilan jiwanya. Sesama pembalap.

Dan kini, ia benar-benar jadi pembalap mobil rally.

Saya ganti cerita. Contohnya jelas cerita soal tetangga saya, si Man. Kata orang-orang dia itu edan. Bapaknya tukang kebun sekolah, sementara mamanya ibu rumah tangga. Orangtuanya sih biasa saja. Maksudnya tidak ada seorangpun dari keluarga mereka menampakkan kegilaan-kegilaan tertentu. Hidup mereka sederhana. Kakaknya si Man satu. Adiknya tiga. Semuanya sekolah dekat rumah. Wajar-wajar saja. Lah waladalah kenapa pula si Man itu ternyata gila olahraga dirgantara terbang layang (hang gliding).

Bapaknya Man bisa jadi model tipikal bapak-bapak yang entah karena tuntutan hidup sedemikian keras, harus cari sampingan kiri-kanan membiayai anak-anaknya. Selain tukang kebun, ikut potong-potong ranting pohon tetangga kiri-kanan sebagai tambahan harian. Jadi, bapaknya Man ini sama sekali bukan pilot, superman apalagi gatotkaca yang bisa melayang. Kok yaa punya anak yang kepingin terbang?

Mamanya si Man, benar-benar ibu rumah tangga biasa yang baik. Sedari kecil semua anak-anaknya tidak pernah absen di Posyandu. Imunisasi lah. Lomba bayi sehat lah. Pokoknya, kesehatan anak harus tetap jadi prioritas, walaupun mereka bukan dari keluarga kaya. Mamanya si Man ini ibu rumah tangga yang baik. Namun sebaik-baiknya beliau yang lulusan SD Kemayoran ini sangat punya kemungkinan besar tidak pernah membaca tragedi Yunani yang melibatkan anak Daedalus yang bernama Ikarus yang melarikan diri dari Pulau Kreta dengan merekatkan lem dan bulu dijadikan sayap agar bisa terbang.

Maksudnya, mamanya si Man kelihatannya bukan pencinta dunia aeronautika. Kok yaa salah satu anaknya bisa sangat mencintai berada di atas langit sana?

Sejak kecil, si Man sudah menunjukkan gejala-gejala yang menurut warga kampung kelas rendahan macam kami, sama sekali tidak masuk di akal. Sejak kecil, Man gemar mengumpulkan gambar pesawat, mulai dari pesawat kecil hingga yang besar.

Lulus SD, Man terpaksa dibawa ke rumah sakit. Ia memanjat loteng dan lalu loncat dari atas sana dengan payung besar yang biasanya dipakai Umi kakaknya kalau mengojek ketika hujan.

Kali ini bapak yang biasa diam melihat kelakuannya pun berkomentar, “Lain kali, kalau mau matahin, jangan payung Umi. Jangan pula kaki kamu…”

Man menganggap komentar itu sebagai sebuah persetujuan. Tentu saja persetujuan untuk aksi-aksi selanjutnya.

Lulus SMP dan mulai mengerti bahwa daerah Puncak yang dekat Jakarta itu ternyata tinggi dan lebih banyak anginnya ketimbang Cilincing. Ia sering bolos dari sekolah untuk pergi ke sana.

Suatu hari ia ajak Umi untuk bolos bersama. Ketika Umi menolak, Man bersikeras memberitahu bahwa ia bukan hanya sudah berhasil mendisain layang-layang raksasa. Melainkan juga sudah membuatnya dengan bantuan tukang jahit di sebelah pabrik kerupuk. Rangkanya dari jari-jari roda sepeda. Kain pembalutnya dari jaket parasit yang ia sering temukan di sampah lokalisasi pelacuran dekat kampung kami. Kata Man, “Mi, gua ngiket badan gua ke layangan biar bisa terbang. Lu nanti yang manggil orang-orang buat narik kalo gua mao turun”

Umi jelas menolak dengan ide gila adiknya. Padahal kata Man, ia sudah mati-matian mengantar koran tiap bulan dan tidak jajan demi mewujudkan mimpinya terbang bersama layangan raksasa di Puncak sana.

Man tidak patah hati. Ia bolos lagi. Membawa buntalan besar ketika berangkat sekolah dan tidak pulang setelahnya.

Bapak mama si Man bukan tipikal orang tua yang anaknya baru tidak pulang semalam sudah seperti kebakaran jenggot. Lagipula track record si Man ini memang sudah terkenal sebagai AJarPul (singkatan dari Anak Jarang Pulang). Namun tiga hari tidak ada di sekolah dan tidak pulang ke rumah, membuat kedua hati orang-tuanya kebat-kebit juga.

Hari selanjutnya ketika Umi akhirnya mau buka suara, ada roda mobil berhenti di depan rumah. Yang turun kelihatannya bukan orang kampung kami. Anak muda, gondrong-gondrong. Kulitnya bersih. Mobilnya juga bukan mobil pick-up bau ikan asin sebagaimana mobil-mobil yang banyak beredar di kampung kami.

Salah satu yang badannya paling besar, membawa Man dalam papahan. Katanya, mereka menemukan Man dalam ‘posisi yang aneh sekali’. Jelas aneh, mana ada anak kecil normal dengan layang-layang raksasa yang tidak mau terbang dan akhirnya terpuruk di perkebunan teh membuat api unggun sendirian di malam hari?

Man jadi terkenal di kampung kami. Bukan karena terkenal karena keanehannya. Itu sih lagu lama. Melainkan Man terkenal di kalangan gadis-gadis kampung. Cowok-cowok gondrong berkulit bersih itu kata mereka anak orang kaya yang cool. Entah darimana tahunya, biar sajalah. Yang pasti Man sering dititipi salam dari gadis-gadis itu untuk para cowok gondrong. Bukan apa-apa, Man jadi sering nongkrong sama para cowok gondrong itu.

Aneh, Man jadi rajin sekolah. Tiap jumat sore dijemput teman-temannya naik mobil. Entah kemana. Saya tidak peduli. Ahhh… Salah. Sebenarnya saya sangat peduli. Lebih tepatnya, sangat cemburu.

Ahh tapi saya sudah punya laut dan pantai. Kenapa harus cemburu pada Man?

Kata mamanya, Man ikut klub para-para. Waktu saya tanya apa maksudnya paragliding, beliau mengangguk mengiyakan. Katanya, “Pokoknya yaang bisa terbang-terbang gitu deh. Duh Mamah maah cuman bisa ngedoain aja. Abis bisa apa lagi Mamah? Kata temen-temennya dia kudu rajin sekolah. Kalo rajin, nanti diajakin maen. Ikut klub. Dipinjemin peralatan. Itu loh, biar bisa terbang naek layangan raksasa”

Hari berlalu. Dan berlalu. Dan berlalu. Berlalu…

Man kini dewasa. Kalau bertemu kami berdua selalu memlilih warung makan pinggir laut yang dekat bandara. Kata Man, disitu ia bisa melihat benda-benda terbang kesayangannya di udara sambil bercanda dengan sahabat didepannya yang selalu takjub menatap riak-riak ombak.

Saya tertawa. Saya pikir, mungkin karena ia pilot sekarang. Jadi lebih suka rendezvouz dekat tempat kerjanya.

Ahh iya. Man jadi pilot sekarang. Siapa sangka anak tukang potong ranting kebun yang hidupnya sangat sederhana itu bisa jadi pilot?

Tidak ada.

Kecuali Man. Sebab sore itu ia berkata, “Lu tau ga? Waktu kita mancing dulu sama-sama setiap gua ngeliat ke langit gua pasti yakin kalo gua selalu bisa terbang di sana”

Setiap saya dapat kesusahan menatap jalan hidup ke depan yang kelihatannya selalu membingungkan dan rumit, saya selalu ingat Man. Bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Cita-cita dan kerja keras selalu bisa mengubah segalanya.

Ahh apa iya yaah?

Saya pikir bukan hanya cita-cita dan kerja keras… melainkan juga bertemu orang yang tepat.

Tapi siapa sih sebenarnya orang yang tepat? Entah buat Anda, yang pasti menurut saya, mungkin memang tidak selamanya hidup dikelilingi orang yang tepat atau semestinya. Yang pasti jika teman-teman saat ini selalu mampu membuat tertawa bahagia, maka beruntunglah saya. Sebab mungkin mereka tidak mampu menjadikan saya menjadikan saya petani atau penari yang selalu saya cita-citakan. Tapi mereka selalu mampu membuat tersenyum.

Toh dengan senyum kita mampu mengubah dunia. Setidaknya dunia kita :)

(*Eh boleh minta tolong? Kalau habis baca ini, mohon senyum ke makhluk pertama yang Anda lihat. Bisa cowok, cewek, kakek, bocah, orang di seberang cermin, bahkan pada semut jika ada… Boleh? Senyum sejenak nggak dosa dan nggak bikin anda susah loh… Jujur aja, saya sendiri abis nulis ini nggak berani senyum ke orang pertama yang saya lihat. Maka itu, saya memberanikan Anda menjadi contoh pertama korban… hihihi*)


Jika Kemewahan Itu Bernama Sakit

Bagian Satu: Satu Dollar Kriminal

Umurnya tidak muda lagi, sudah 59 tahun. Terakhir bekerja, di Coca Cola, mengabdi di sana selama 17 tahun sebagai pengantar botol ke warung-warung. Tidak pernah membuat musuh, bekerja dengan keras dan rajin dan selalu patuh memenuhi jadwal pengiriman. Itu etos kerja James Richard Verone.

Tahun 2008 badai krisis ekonomi melanda Amerika Serikat. Badai yang sama, melanda pula Coca Cola. James pun diberhentikan paksa. Ia pikir akan cepat dapat kerja, duduk dibelakang kemudi sebagai supir truk pengantar barang. Namun apa daya, tak ada lowongan pekerjaan yang sama untuk manula.

James lalu jadi kasir di warung kecil dekat kotanya. Tidak lama. Nyeri tulang punggung yang dideritanya, radang di kaki, (tentu saja, usianya sudah tidak muda lagi) membuat ia berakhir duduk di rumah beristirahat tanpa bisa meneruskan kerja. Mengandalkan hidup dari uang tabungan dan kerja sporadis serabutan.

Hingga suatu hari dadanya terasa nyeri. Hendak ke rumah sakit, meminta pengobatan. Tapi hukum Amerika Serikat yang hingga saat ini masih bersitegang akibat jaminan sosial kesehatan warganya, membuat James tidak mendapatkan kesempatan untuk berobat. Intinya, apapun warna kulitnya, warga miskin memang tidak dapat hak yang sama di mata dewa medis di Amerika sana.

Suatu hari ia menyadari bahwa uang tabungannya habis, hasil dari kerja serabutan tak lagi mencukupi. Ia jual seluruh perabotan rumah dan membayar uang sewa kontrak bulanan terakhir. Dan lalu menjadi gelandangan mengandalkan hidup dari satu yayasan kemanusiaan ke yayasan lainnya hanya untuk sekedar makan minum dan bertahan dibawah dinginnya malam.

Tuan Verone tahu benar akan hal itu.

Dadanya semakin nyeri.

Hingga akhirnya pada tanggal 9 Juni, di siang yang cerah ia mandi, menyetrika pakaian, lalu memanggil taksi. Merampok bank pertama yang ia lihat.

Di depan kasir bank, ia menyodorkan secarik kertas yang isinya meminta uang satu dollar Amerika dan layanan pengobatan.

Kasir panik, Bank mereka belum pernah dirampok. Meskipun tanpa membawa senjata, kasir masih panik ketika dirampok dengan tuntutan satu dolar (kira-kira saat tulisan ini diturunkan adalah setara dengan Rp 8.620,-) dan permintaan medis.

Kasir memijit bel alarm dan polisi pun datang.

James tanpa rasa takut, bilang kepada si kasir wanita, “Saya akan duduk di lobi ruang tunggu sampai polisi datang”. Tak lama kemudian, polisi dengan kesatuan yang bagaikan anti-teroris datang menyergap dan menggelandang James ke penjara.

Ketika ditanya alasannya mengapa merampok dan hanya menuntut satu dollar saja, “Kalau saya masuk penjara, saya harap saya bisa dapat pengobatan gratis dari negara” jawab James dengan pelan.

Tuan Verone pun dipenjara. Entah sampai berapa lama. Di dalam bui, ia hanya makan pagi dan siang saja. Tidak makan malam. Katanya, pada saat makan malam ia akan bergabung dengan hampir semua narapidana. Ia takut. Ia tahu, penjara Amerika itu buas. Jadi lebih memilih saat makan pagi dan makan siang saja yang biasanya hanya diikuti oleh pesakitan yang telah lanjut usia.

Hingga saat ini, belum ada kabar apakah ia akan dapat pengobatan untuk nyeri dadanya.

Ketika berita ini akhirnya dimuat surat kabar gastongazette dan lalu melesat ke boingboing, hampir semua orang Amerika berteriak kecewa dan sedih. Menuntut keadilan atas kebutuhan pelayanan medis untuk warganya.

Bagian Dua: Satu Bangsa Satu Penjara

Beberapa minggu lalu saya kedatangan tamu, namanya Bas. Kawan-kawan Mexico yang ia bawa memangilnya ‘El Gringo’, terjemahan ugal-ugalan dalam bahasa Indonesia kira-kira ‘bule’.

Bas lahir di California, lebih mewarisi gen mamanya yang berambut pirang dan bermata biru ketimbang papanya yang asli dari Mexico City. Walaupun punya kewarganegaraan ganda, Amerika dan Mexico, ketika saya tanya apa isi dadanya ia jawab dengan senyum, “Saya Mexican”.

Bas tinggal bersama papa mama dan adiknya di Nogales, sebuah desa di Arizona yang benar-benar terletak di perbatasan antara US dan Mexico.

“Saya bingung tinggal di Amerika. Hampir semuanya serba ilegal. Kamu tahu, saya pernah dipenjara gara-gara nyetir mobil tanpa alas kaki! Sebab di Nogales, itu ilegal. Bajingan, masa sih saya dua hari di kantor polisi sampai papa mama saya jemput ketika mereka pulang dari liburan!”, keluh Bas.

“Jadi kamu suka di Mexico saja?” tanya saya sambil senyum-senyum. Vik, sahabat Bas yang berasal dari Hermosillo tertarik mendengar jawaban dari Bas. Ia mendengarkan dengan seksama.

Bas mengangguk. “You know, dua malam sebelum saya ke rumah kamu ini saya bangun jam dua pagi. Gila ada helikopter di atas rumah saya”

Saya bengong. Kaget. Hah! Masa sih ada helikopter di atas rumah. Memang rumahnya pakai helipad?

“Kamu tahu ga? Itu polisi Arizona yang sedang mencari pengungsi ilegal dari Mexico. Mereka pakai alat pencari infra merah untuk mengidentifikasi para pengungsi itu”

Vik menimpali, “Orang kampung Sebastian gila-gila. Di sana bahkan ada milisi yang bersenjata. Kerja mereka memburu orang-orang Mexico yang miskin dan lalu menyebrang ke Amerika untuk mencari pekerjaan. Itu manusia, dikejar-kejar, trus kalau sudah dalam jangkauan tembak, yaa ditembak”

Saya makin bengong. “Jangkauan tembak. Maksud kamu seperti berburu? Loh bukannya di Amerika apa-apa itu ilegal. Masa berburu manusia tidak ilegal?”

Bas ketawa-tawa, “Yaa ilegal, tapi yaah namanya juga manusia gila.”

Saya ternganga, “Trus orang-orang gila itu ditangkep ga?”

“Yaa ditangkep”

“Trus gimana orang mexiconya?”

“Yaa ditangkep juga. Dipenjara sama-sama”

“Lah terus kalo dipenjara bareng-bareng, apa nggak bunuh-bunuhan?”

“Yaa bunuh-bunuhan lah. Itu mah biasa. Kamu lihat film hollywood mengenai perang antar gang di dalam penjara? Yaa seperti itulah kejadiannya”

Melihat saya diam seakan seperti tidak percaya, Bas bilang. “Rakyat kami dalam ketakutan. You know, bukan hanya pada teroris tapi juga pada pencari kerja tanpa dokumen, pada cuaca yang makin panas dan banyak lainnya”

“Kalian hidup dalam ketakutan dong?”

“Yaa nggak semua orang sih. Tapi menurut saya, hampir semua orang hidup dalam ketakutan di sini. Kalau tidak takut, yaa ditakut-takuti biar takut. Hehe. Saya pikir kok mirip hidup dalam penjara. Satu bangsa, satu penjara.”

Saya manggut-manggut. Tapi jelas tidak berani cengar-cengir. Sebab kelihatannya ia serius.

Bas menambahkan, “Omong-omong kamu tahu ga kalau Amerika Serikat itu negara dengan jumlah penjara ternbanyak di muka bumi? Bahkan populasi penghuninya sudah sedemikian parah, sampai-sampai lapangan basket yang harusnya jadi tempat narapidana buat olahraga dialihfungsikan jadi barak tidur loh. Saking banyaknya penghuni penjara. Tapi omong-omong penjara Indonesia bagaimana?”

Saya tidak banyak bicara. Saya bilang, “Bas, saya ngantuk. Besok ngeburuh. Saya tidur duluan yaah” sambil cengar-cengir. Yaah mau pakai trik apalagi? Saya tidak punya jawaban pertanyaannya. Lebih baik saya kabur. Hehe.

Bagian Tiga: Ketika Mamanya Nopal Sakit

Waktu itu saya masih di Jakarta. Ada sms masuk dari Nopal. Bilang minta bantuan. Katanya mamanya sakit. Sudah lama merasa nyeri. Bahkan sampai pendarahan segala. Setelah dicek, ternyata mamanya Nopal kena serviks, nama lain dari kanker leher rahim.

Kanker ini termasuk penyakit yang cukup berbahaya. Menurut WHO di tahun 2007, kira-kira setiap tahunnya sebanyak 15.000 perempuan Indonesia dihinggapi oleh kanker leher rahim dan sebanyak 7500 orang terbunuh karenanya.

Saya pikir ini masalah serius. Tapi ada lagi yang lebih serius. Pertama, kenapa Nopal mengadu ke saya? Kedua, Nopal kan dalam penjara gara-gara kasus narkoba kok dia bisa sms saya?

Penjelasannya ada di sms antara saya dan Nopal.

LO DAH DILUAR?

G.MSH DI DLM.2THN LG.TLG MEN.MAMA GW NIH.DUIT GW G CKP BWT KEMO MAMA

KEMOTERAPI?ASTAGA.PARAH AMAT MEN!

YOI MEN.TMN LO KAN BNYK.ADA DOKTER GA?

MAMA LO KAN PEGAWAI NEGRI.ADA ASURANSI

ASKES G CKP.G JAMIN FULL COVER.

LO GA KERJA DI DLM?

KERJA.GW NYETOK BRG TRUS NYEBARIN DI DLM SKRG.DPT HP PULSA MA DUIT600RB/BLN

LMYN KAN.MKN MA TIDUR KAN GRATIS?DUIT BISA LO TABUNG.

KT SIAPA?GW BYR KMR 400RB/BLN.CADONGAN ISINYA BATU.EMANG ENAK MAKAN BATU.LO KIRA PENJARA GRATIS?

SERIUS LO?

MASA GUA BOONG MEN.LO SATU2NYA YG GA RESE MA GW.ABIS LO JG BEJAT SIH :) PENJARA INDONESIA ANCUR MEN.

PARAH!YA UDAH NANTI MLM GW KE RMH LO NGOMONG AMA MAMA LO.BTW LO BRENTI DONG NYEBAR RACUN KE ORANG2!

KL GW BRENTI BKN CUMA GW YG MATI MEN.TLG MAMA GW MEN PLIS

Saya diam sejenak. Termangu. Kalau Nopal sudah bilang bahwa nyawanya terancam, itu artinya benar-benar terancam. Dia itu salah satu prajurit jalanan Cilincing yang saya kenal. Hidupnya dari dulu memang dibayang-bayangi bau kematian. Dan dia tidak pernah mengeluh apalagi takut karenanya. Namun kali ini masalahnya pasti serius.

Terjebak dalam sindikat narkoba yang melibatkan banyak orang, baik dari dunia hitam maupun berseragam dan satu-satunya orangtua yang tersisa terbaring di rumah terkena kanker, pasti masalah serius.

Penjara, kata Nopal, sudah berubah jadi rumah indekos. Narapidana kaya, yang mampu membayar tentu saja dapat fasilitas lebih. Bahkan seorang bos sepakbola di Indonesia mampu memboyong AC hingga fax ke dalamnya lalu menjadikan dua kamar jadi satu demi kelangsungan pekerjaannya ketika ia harus menjalani hidup dalam bui. Semuanya atas nama tahu sama tahu.

Singkat kata singkat cerita, mamanya Nopal akhirnya beristirahat dengan tenang di pemakaman umum Cilincing setelah enam bulan bergulat dengan kanker leher rahim yang mengerikan. Semua tenaga medis yang saya hubungi menyerah sambil mengatakan bahwa harapan hidup beliau sudah semakin menipis.

Tidak berselang lama, Nopal menghidup udara bebas. Dia jadi big shot. Ternama karena kinerja kerja. Prestasinya sebagai bandar narkoba di dalam lembaga pemasyarakatan memberinya semacam previlige yang mampu mengantarkan surat sakti agar dapat keluar lebih cepat.

Tapi tidak lama. Hanya beberapa bulan setelah bebas, ia meninggal karena tabrak lari. Bisik-bisik rumor jalanan berkata bahwa sebelumnya ia tidak mampu closing deal sebuah perjanjian bisnis dengan pesakitan kelas kakap. Kata kabar burung, Nopal harus membayar dengan nyawanya.

Dibandingkan dengan Nopal, Tuan Verone tidak akan lama bertahan hidup jika ia dalam penjara Indonesia.

Tuan, ini negeri dimana orang miskin diharamkan sakit!


Your request to URL “../../” has been blocked

The headline on my RSS feeder news is quite clear “NY gay marriage battle: Couples head to Albany” and makes me wonder how it going through since DADT (Dont Ask Dont Tell) policy on US ARMY that makes openly gay and lesbian can not active in military is no longer exist after President US Obama signs the repeal on last December (2010).

So I click the link. Found out that articles were blocked under company Gateway, McAfee:

 

 

 

 

 

 

Is it odd that there is consideration that US Politics news by MSN is classified as sexual, erotic or adult content?

Rest In Peace Ruyati Binti Sapubi

Saya menulis dalam diam. Secara literal memang dalam diam. Tidak bicara, tidak menyanyi, tidak bergerak kesana-kemari kecuali jari jemari, tidak melakukan apa-apa selain memelototi pena dan kertas dihadapan dan lalu memindahkannya dalam aplikasi google docs dan lalu ke blog setelah proses edit sana sini.

Jika terdengar suara, paling suara-suara lagu teman-teman saya yang menyanyi dalam irama rap atau koleksi lagu-lagu instrumentalia OST (Original Sound Track) film-film kegemaran seperti misalnya OST August Rush, Casablanca atau Blood Diamond. Biasanya, malah instrumen musik-musik klasik macam Beethoven atau Mozart yang mengiringi tulisan-tulisan naik cetak. Saya tidak bisa menulis dengan ditimpali banyak suara manusia.

Di beberapa stasiun kereta, akhir-akhir ini ada iklan besar terpambang di billboard, iklan pena merek BIC. judulnya, wie schrijft die blijft. Arti sederhananya kira-kira, siapa yang menulis akan abadi. Saya melihatnya setiap pagi.

Saya tidak percaya keabadian. Agak aneh memang. Untuk seseorang yang pada akhirnya secara susah payah diberi gelar akademisi hanya karena meneliti tulisan-tulisan dan simbol yang saking tuanya dilupakan orang, saya tidak percaya keabadian dari dunia tulis menulis.

Sederhana; alasannya simpel. Saya tidak percaya keabadian.

Anda boleh setuju. Boleh juga tidak setuju. Toh itu hak siapa saja. Hanya, hingga saat ini yang saya sempat pelajari adalah bahwa hidup memang tidak pernah mengajarkan keabadian. Selalu saja ada yang mati. Entah nyawa manusia, entah kebudayaan, entah pemikiran, entah isme-isme yang selalu begitu banyak menyilaukan mata dan jiwa manusia. Yang pasti, selalu saja ada yang mati.

Suatu saat saya akan mati. Suatu saat toh juga Anda akan mati. Suatu saat, apa yang kita percayai kekekalannya di muka bumi ini, saya-pikir, juga akan mati. Sejarah mengatakannya begitu. Mau bilang apa, itu kan fakta?

Eddard Stark, salah satu karakter dalam serial TV Game of Throne berkata, “… I grew up with soldiers. I learned how to die a long time ago”. Kira kira terjemahannya adalah bahwa ia tumbuh sebagai seorang tentara dan ia mengetahui bagaimana harus menghadapi malaikat maut ketika ditanya apakah ia takut mati atau tidak.

Saya pikir, tidak perlu jadi tentara untuk tahu bagaimana menghadapi maut. Tidak perlu. Oh-oh, sama sekali tidak perlu. Saya pikir, yang lebih penting adalah sebagai apa kita akan menghadapi maut. Buat saya ini penting, ketika wajah berkiblat menghadap maut sebagai seorang pecundang atau tidak.

Sebagaimana pentingnya saya, malam ini, menulis mengenai seorang Ibu bernama Ruyati. Seorang perempuan tua berusia 54 tahun dari Bekasi, sebuah bagian dari kedaulatan negara bernama NKRI yang pada tanggal 18 Juni ditebas lehernya oleh pemerintah Saudi. Dipancung dengan pedang atas nama Qisas, hukum dimana nyawa ditebus nyawa. Dipenggal kepalanya. Dengan alasan, bahwa perempuan tua yang sering disiksa oleh majikannya ini, akhirnya marah dan menuntut balas atas perlakuan kejam yang diterimanya.

Tidak usahlah bicara soal diplomasi. Tidak usah bicara tentang kebijakan politik luar negeri. Tidak usah bicara mengenai hukum agama yang diselewengkan dengan paksa. Tidak usah bicara tentang betapa hebatnya tentara negeri ini. Tidak usah bicara tentang betapa kita menyia-nyiakan para pahlawan, mulai dari pahlawan tanpa jasa, pahlawan gerilya yang makamnya dibongkar di Kalibata, atau pahlawan devisa. Tidak usah!

Taik kucing dengan semua itu!

Mari bicara tentang keadilan yang terkoyak-koyak. Tentang bagaimana orang memperlakukan orang lain lebih buruk daripada mereka memperlakukan sampah.

Mari kita bertanya tentang itu. Dan mari kita bertanya, apa kita masih punya tenaga dan hati?

Malam ini, saya menulis dalam sendiri. Tidak ditemani para legiun yang peduli atau tidak peduli.

Malam ini saya menulis dalam sendiri. Dengan bulu kuduk meremang karena marah. Menggeletar dalam sepi; penuh gejolak yang akan membuncah.

(*Rest in peace Ruyati binti Sapubi. Ash to ash. Dust to dust. Innalillahi. You’re gone but not forgotten*)


Shit Happens, Life Goes On (Horror Hari Jumat)

Hari jumat lalu, pagi-pagi saya rencananya mau berangkat kerja. Sudah sarapan, sudah mandi, sudah bersih-bersih rumah segala dan lalu berpakaian. Rencananya akan naik bis, tidak mengayuh sepeda menuju pabrik. Maklum, hari itu agak gerimis. Kalau nanti sore cuacanya membaik, saya akan ajak sahabat saya Kang Adi untuk main tennis di dekat rumah. Maka itu dalam tas ada sepasang raket tennis.

Omong-omong, rumah kontrakan saya, terletak di lantai enam. Kalau turun atau naik, yaa pakai lift. Maka seperti biasa, saya memakai lift dong untuk turun ke lantai dasar. Jadi hari itu, saya hanya mengulang kebiasaan, pergi kerja turun ke bawah dengan lift. Seperti biasa.

Tanpa perasaan curiga, saya tekan tombol lift menuju bawah. Begitu pintu lift tertutup dan perlahan bergerak turun saya tidak merasakan sesuatu keganjilan apapun. Namun ajaibnya, begitu di lift mulai memperlihatkan angka lima di petunjuk lantainya, tiba-tiba bagaikan gila ia meluncur seperti seluruh kabel-kabelnya putus semua. Wussszzz…

Di dalam lift saya seperti dalam ruang anti gravitasi, kaki rasanya tidak menginjak dasar lantai lift. Kok saya seakan seperti terbang rasanya? Saya jatuh.

Di lantai tiga lift berhenti dengan suara keras sekali. Blamm!!!

Seakan ada tangan raksasa yang menahannya untuk terus meluncur ke bawah. Badan saya terhentak oleh kejutan ini. Lift berderak keras. Sebelum sempat menyeimbangkan kaki, muka saya menghantam dinding lift yang persis ada di samping tombol-tombol. Walhasil bibir saya memble jontor temporar. Sementara pundak serasa copot engselnya.

Tak dinyana, lampu mati. Ruangan gelap total. Lift ini berukuran panjang dua meter, lebar satu meter dan tinggi dua meter. Kecil? Iya, buat saya sih tidak terlalu besar. Dalam sendiri di kotak kubikal ini dan diliputi kegelapan sepi, saya tiba-tiba merasa ada di peti mati.

5 Menit +

Masih dalam gelap, saya cek muka saya dan pundak. Apakah basah atau tidak. Sebab kalau basah, bisa jadi ada bagian tubuh saya yang terbuka dan mengeluarkan darah. Syukurlah tidak ada apa-apa. Saya masukkan tangan ke kantong, mencari telpon. Saya ketik pesan, “Kang Adi, punya bola tenis ga? Kita maen yuk nanti sore?”. Dan setelah itu dengan santainya saya tekan tombol ‘send’.

Setelah itu saya bengang-bengong saja dalam gelap. Lima menit kemudian, saya baru sadar bahwa saya telah dan masih sedang mengalami ‘insiden’. Dalam hati saya mengutuk, “buset dah, bego amat gua tadi. Bukannya minta tolong Kang Adi waktu sinyal masih ada, kok malahan ngajak maen tennis. Gimana nanti kalo gua baru ditemukan orang berhari-hari kemudian?”

Dalam gelap saya sadar bahwa saya senyum cengar-cengir sendirian.

10 Menit +

Saya lihat jam. Sepuluh menit telah berlalu. Lampu masih mati. Tombol emergensi minta tolong pun mati. Telpon tanpa sinyal. Daripada bengong memikirkan yang tidak-tidak, saya putar lagu melalui telepon genggam. Tidak lama kemudian, suara Iwan Fals terdengar lembut. Iya, masih gelap. Tapi setidaknya, minimal agak romantis gitu deh. Hehe.

Rumah kontrakan saya baru jadi bulan Desember lalu. Belum ada tujuh bulan usianya. Penghuninya kebanyakan yaa mirip saya, pergi pagi kerja dan pulang malam. Beda dengan tetangga, saya biasanya pergi paling lambat dan pulang paling cepat. Maklum saya kan buruh gila. Kadang suka datang ke pabrik seenak jidatnya. Pada intinya, saat ini tetangga-tetangga saya pasti sudah pergi semua. Percuma kalau saya teriak minta tolong pun, dinding-dinding rumah kami tebal bahkan hingga memakai kaca ganda demi menahan dingin dan suara. Belum lagi kenyataan bahwa saya ada di lift yang dilapisi pula tembok super tebal. Buka suara, yaa percuma. Akan menghabiskan energi saja.

Tapi… Eh tapi, saya dengar ada suara orang bercakap-cakap dan langkah kaki. Maka dalam gelap, saya pukul-pukul dinding lift sambil teriak-teriak minta tolong. Bodo deh kalo dibilang ngabisin enerji, yang penting gua selamet! Begitu saya pikir saat itu.

Anehnya, mereka tidak mendengar dan langkah kaki terus berlalu. Saya sempat kecewa dan sedikit marah. Kenapa mereka tidak mendengar, apa susahnya sih berhenti sebentar memberi pertolongan?

Saya baru sadar ketika suaru itu pasti tiba dari lobang udara. Ahh mungkin saja mereka tidak ada didekat sini. Bisa jadi ada di gebung sebelah utara.

Omong-omong soal lubang udara. Astaga, saya baru sadar lift ini menjadi panas. Tadi keluar pintu rumah, udara menunjukkan 16 derajat Clecius. Saya pakai jas musim semi. Dan sekarang dalam lift panas sekali. Saya buka jas tipis ini.

15 menit +

Suara berdengung agak keras. Telinga saya sampai tidak enak mendengarnya. Ada kedip-kedip cahaya. Saya tatap ke atas dalam gelap, tiba-tiba cahaya terang datang. Horeee! Lampunya menyala!

Saking senangnya, saya lompat joget-joget seperti simpanse yang diberi pisang. “Hore, nyalaaa! Horeee!!! Nyalaaa!!!”. Namun tindakan ini segera saya hentikan. Dari atas, dibalik lampu saya dengar suara ‘kreot… kreeoottt…’. Astaga! Itu suara kabel. Dan saya pikir, gila sekali kalau saya teruskan loncat-loncat. bagaimana kalau kabel lift ini putus? Lantai terbawah itu terletak sekitar lima lantai lagi (iya ada lantai berangka minusnya). Saya pikir, kalau kabelnya lepas, ada kira-kira dua puluh meter saya dan lift sempit ini akan terjun bebas menghunjam bumi. Maka itu saya hentikan loncat-loncat dalam lift dengan tujuan agar anak saya tidak jadi yatim sesegera mungkin.

Saya pencet tombol komunikasi darurat untuk menghubungi operator lift. Ahh, sayang sekali sudah coba memencet tombol itu selama 10 menit tidak juga ada jawaban.

Saya duduk diam. Mencoba berfikir positif. Apa yaa yang positif? Saya coba mengambil raket tenis dari dalam tas. Menatapnya dengan pelan. Membayangkan kalau saya jadi Rafael Nadal, lalu main di Wimbledon bersama putri saya. Seru kali yaah?

30 Menit +

Akhirnya setelah setegah jam, berhasil pula saya mengontak petugas yang mengontrol lift.

Dengan mencoba untuk tenang dalam udara yang makin panas saya bilang, “Nama saya (sensor) Saya tinggal di jalan (sensor) di gedung (sensor) Saat ini saya terjebak di lift kalian sejak setengah jam. Lift tanpa lampu dan baru menyala kira-kira belum lama sih”

“Setengah jam, Pak! Lama amat!”

Dalam hati saya merutuk. Ini mbak-mbak bukannya menenangkan saya, malahan bikin kesal. “Iya mbak, sudah setengah jam saya disini dan saya akan terlambat kerja. Sangat terlambat!”

“Bapak baik-baik saja?”

Yaelah, baru nanya sekarang. “Iya Mbak saya baik-baik saja”

“Bapak sendiri dan apa ada masalah?” Idiiih tanyanya kok seperti mau ajak kencan.

“Nggak Mbak, saya baik-baik saja. Tolong telpon nomor (sensor) untuk memberitahu rekan saya (sensor) kalau saya terlambat dan rapat silahkan bisa dimulai. Bisa? Telpon saya nggak ada sinyalnya. Maklum lah, saya terjebak di lift”

“Bisa Pak… Bisa!”

Diam sejenak. Saya bengong. Ini apa saya tengah disambungkan dengan rekan kerja saya, atau memang tidak ada bahan pembicaraan lagi.

“Mbak… Mbak… Halooo… Masih disana?”

“Iya Pak masih disini saya”

“Mbak, kapan petugas reparasi lift datang?”

“Ini sedang saya coba dari tadi Pak. Petugas kami sedang sibuk, Pak. Kira-kira baru sampai satu setengah jam lagi”

“Satu setengah jam? Heh.. Apa! Waduh Mbak, saya mau kencing nih. Gimana dong?”

Tidak ada jawaban.

“Mbak, saya boleh kencing di pojok pintu lift”

Masih tidak ada jawaban.

“Mbak… Err, saya udah kebelet nih”

Saya dengan suara bisik-bisik. “Pak, saya belum terbiasa menangani yang terjebak di lift lebih dari lima menit. Saya belum tahu, Pak. Bapak bisa menelpon lima menit lagi?”

Saya cengar-cengir mendengar jawabannya. Saya jawab OK dan lalu terdengar dari sana sambungan tertutup.

Sebenarnya saya tidak ingin buang air kecil. Saya hanya ingin bercanda saja dengan mbak-mbak itu. Ahh tidak dosa kan? ;)

45 menit +

Saya sudah bosan. Dengar musik, sudah. Baca buku, sudah. Menggoyang-goyangkan badan sambil memegang raket tenis, juga sudah. Jadi mau apa lagi?

Eh ada kaca! Besar. Setengah dinding lift bagian kanan tertutup kaca. Kenapa nggak ngaca aja bangaip? Bukankah mengaca sebagian dari iman? (*kata siapa? hahaha*)

Akhirnya saya berkaca. Duh, saya baru sadar. Bahwa rumah saya tidak ada kaca. Ada kaca, tapi dipakai hanya untuk aksesori saja. Secara serius, ternyata saya selama ini tidak pernah berkaca. Apakah ini artinya saya kurang introspeksi? Orang yang suka introspeksi kan katanya suka berkaca pada diri sendiri? Kenapa saya tidak? Apa jangan-jangan saya terlalu takut menatap wajah sendiri dan mencoba melupakannya? Halah!

(*Loh kok jadi melantur*)

Saya konsentrasi melihat kaca. Oh, baru sadar. Banyak jerawat di sekitar hidung rupanya. Akhirnya, saya pencet-penceti itu jerawat. Wah, dibawah mata juga terlihat kantung mata makin membesar saja. Tiba-tiba saya kepikiran untuk membeli krim. Entah krim apa saja, yang penting bisa mencegah keriput-keriput dan flek wajah ini. Saya buka mulut, aduh… Gigi saya kok kuning semua. Padahal saya sudah sikat gigi. Ahh, apa saya perlu ke dokter gigi untuk diputihkan lagi? Eh lalu apa itu, kok kuping saya ternyata besar sebelah? Idiih, rambut saya kok nggak rata begini yaah?

Tiba-tiba saya merasa bahwa inilah sebenarnya horror yang tengah saya hadapi. Yaitu, melalui kaca di lift yang rusak ternyata terlihat bahwa saya bukan tipikal orang yang bersyukur.

Mungkin… Ah mungkin saya harus berubah…

1 jam +

Saya zikir membaca dalam hati “Jauhkanlah aku dari godaan kaca yang terkutuk” banyak-banyak. Duduk di lantai. Membuka telpon kembali. Melihat foto dan video putri saya Novi Kirana. Dalam hati tiba-tiba berfikir kalau ternyata saya dipanggil yang maha kuasa dalam lift yang rusak, maka sebenarnya saya cukup bangga. Sebab saya sudah berhasil memproduksi seorang putri baik pintar cantik lucu dan menjadi kebanggaan bahkan ketika nafas saya telah berhenti berhembus nanti.

Saya senyum-senyum sendiri.

Dalam film-film produksi Hollywood, kalau manusia dalam saat-saat menjelang proses kematiannya, maka ia akan memikirkan hal-hal yang telah ia jalani dalam hidup.

Di atas, suara kabel semakin keras berderak-derak. Saya duduk dalam diam bagai patung. Namun lift terus bergoyang-goyang berantuk dengan dinding luar pelapisnya.

Apapun yang akan terjadi, saya sudah pasrahkan saja.

Saya ingat Ibu di Cilincing sana. Ingat masa kecil saya yang lumayan bahagia. Ingat pernah main bola di sawah bersama Gugun, Jumari, Odoy, Rojak, Utu, Aris, Uki dan lain-lainnya. Ingat bahwa ciuman pertama saya ketika menjelang kelas tiga SMP adalah dengan gadis buruh pabrik tekstil dari Indramayu. Ingat kalau main sepeda hujan-hujan di Jakarta itu ternyata indah sekali. Ingat kalau ternyata saya hobi bepergian dan banyak menapakkan kaki di muka bumi dan sama sekali tidak punya banyak ikatan emosional dengan rumah tinggal. Ingat pertama kali menggendong bayi Novi Kirana dalam dekapan.

Saya ingat sekarang, dulu rumah saya adalah rumah Ibu. Dan kini sejak jadi ayah, rumah saya adalah putri saya tercinta. Rumah itu ternyata adalah sebungkah hati yang dicintai.

Maka jika sebentar lagi kabel lift ini putus dan saya meninggal. Saya pikir saya tidak perlu takut. Toh saya akan bertemu bapak sebentar lagi :) Bukahkan besok hari ayah? Dan tentu saja saya siap bertemu beliau kembali.

1,5 jam +

Sudah sekian lama, kok yaa kabel lift belum putus juga? Wah saya jadi bingung sendiri. Gua jadi mati hari ini apa nggak yaah? Tapi kalo gua mati, trus kenapa? Shit happens, life goes on.

Daripada bertanya-tanya hal yang menyeramkan, saya akhirnya membuat daftar. Apa saja yang belum saya lakukan dalam hidup ini. Daftar itu, yaa jelas apa yang ingin saya lakukan tapi belum kesampaian.

Yang pertama saya pikirkan adalah, ‘telanjang di depan publik’.

Tiba-tiba saya berfikir bahwa telanjang di depan publik adalah salah satu hal yang belum pernah saya lakukan dalam hidup. Apa saya harus telanjang sekarang dalam lift ini? Tapi kalau saya telanjang sekarang, trus kabel liftnya copot dan saya terjun bebas ke lantai dasar, kan agak aneh berita esok hari. “Seorang pria bugil ditemukan tewas dalam lift ditemani lagu dangdut”.

Wah gimana kalo temen-temen saya tahu kalau mayat itu ternyata bangaip? Hahaha…

Okelah, saya putuskan bahwa telanjang di depan publik tidak jadi saya lakukan dalam lift ini secara saya pikir bahwa kalau memang mau telanjang akan lebih baik jika saya masih bernapas. Ditambah lagi kenyataan bahwa dulu saya pernah difoto telanjang dan dipublikasikan pada publik berarti itu bukan hal yang belum saya lakukan. (*Poto telanjang di publik? Publik ape Bang! Hahaaaayyy… Mana tahaaannn…*)

2 jam +

Interkom lift menyala. Suara mbak-mbak itu lagi membuyarkan angan-angan saya yang kepikiran untuk membuat tatto wajah putri di pundak kalau saya selamat hari ini. “Pak, mohon jangan berdiri dekat pintu. Bapak akan mengalami sedikit guncangan. Lift bapak kami sambung dengan instrumen baru kami”

Sedikit guncangan? Mbak, masoloh, andai dikau tau tadi bibir gua mao jontor trus selama dua jam liftnya goyang-goyang kerawang lebih ngebor daripada joged Inul, pasti nggak ngomong begitu deh. Tapi saya jawab, “Okay”

Gila aja kali saya mau mendebat orang yang mau menolong?

2 jam + 15 menit

Setelah lift naik turun dari lantai paling bawah ke paling atas berkali-kali dan ada asap masuk dari saluran udara (yang membuat saya terbatuk-batuk, mata panas dan meminta agar segera dibuka pintunya) akhirnya pintu terbuka di lantai tiga.

Ada suara dari interkom “Pak, silahkan keluar sekarang jika mau”

Jika mau? Yaelah, masih ngocol aja nih si mbak.

Saya keluar dari lift. Dengan selamat. Masih mengenakan baju dan celana sambil memegang raket tenis. Akhirnya saya putuskan turun naik tangga setelahnya.

2,5 jam +

Saya menerima banyak telpon dan SMS dari rekan kerja yang bertanya mengenai keselamatan saya dan apakah saya berhasil mengatasi krisis lift dengan tenang.

Saya jawab santai, “Kelihatannya saya belajar sesuatu yang baru hari ini”

(*Jelas saya tidak akan memberitahu mereka bahwa saya tidak akan telanjang di depan publik hari ini… Hehe*)


Geek Dan Cinta

Selama ini, setiap ada masalah dengan server, saya dengan amat mudahnya mengirim email dan bertanya apakah ia bisa membantu. Dan selalu, iya selalu, bahkan ketika hujan badaipun (literal, waktu itu ada badai menghantam kota hingga rumah dan jalan-jalan kota kami tertimbun salju setinggi dua meter) ia tetap membantu saya.

Sudah sejak tiga tahun lalu, dengan sabarnya ia membantu saya yang selalu saja setelah selesai selalu menasihati, “Apache itu penting, kamu harus belajar”. Dan saya sungguh bosan mendengar nasihatnya. Hingga biasanya hanya dengan beberapa kali klik, yang membuat JBoss, Derby atau Tomcat jalan dengan baik, tidak merasa perlu buka-buka dokumentasi HELP.

Saya kena penyakit sindrom sok tua. Itu katanya. Orang kalau sudah merasa sok tua (‘sok’ loh, bukan ‘tua’ nya yang jadi penekanan defisini) katanya malas belajar. Iya, saya sok tua. Malas belajar.

Dan lalu, sabtu lalu. Ia pergi. Ia anak pintar yang begitu lulus, fresh grad, darah muda, direkrut pabrik sejak enam tahun lalu, dapat tawaran yang lebih jauh menggiurkan. Menikahi gadis idaman dan hidup di Alaska sana. Ditemani istri baru muda cantik beserta anjing-anjing Husky mereka.

Sabtu lalu, saya bilang, “Kamu geek, bahkan belum pernah membunuh binatang untuk dijadikan santapan makan malam. Bagaimana bisa hidup di alam keras dan jadi pemburu? Bagaimana hidup kamu tanpa komputer?”

Sambil tersenyum ia berkata, “Lihat saja, cinta akan mengubah segalanya”

Saya ketawa. Cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala. Oala, ada satu lagi geek yang sedang jatuh cinta.

Good luck, amigos. Have a great journey.

(*Saya bisa membayangkan hidup tanpa wanita. Tapi hidup tanpa komputer? Astaga…*)