Ksatria Cilincing

Beberapa hari belakangan ini banyak teman-teman yang bergiat di media membicarakan strategi pemasaran #petimati. Yaitu sebuah trik pemasaran yang kata pembuatnya ‘mampu mengenalkan sebuah produk dari mulut ke mulut’, dengan cara mengirim peti mati ke jaringan media di Indonesia. Tetangga saya, Mas Paman dan Pakde membahasnya dengan amat baik, dari sudut pandang etika hingga profesionalitas. Silahkan baca di halaman mereka pada link yang tercantum sana.

Saya tidak akan membahasnya di sini. Membahas peti mati bukan keahlian saya. Tapi mungkin akan membawanya ke topik makan siang nanti bersama para kolega. Saya pikir, sesama rekan buruh pabrik yang menyantap hidangan makan siang nanti akan sedikit mengerenyitkan kening. Mendengar ada manusia yang punya ide mengirim peti mati agar terkenal ke seluruh dunia. Ahhh saya yakin si pengirim peti mati ‘mampu mengenalkan produknya dari mulut ke mulut’. Walaupun sekarang jelas promosi macam apa yang dibicarakan dari mulut ke mulut mengenai peti mati kirimannya.

Promosi itu masalah penting dari dagangan. Katanya, tanpa promosi akan habislah sirkulasi. Teori ini sempat dibantah oleh beredarnya film ‘Super 8‘ karya Steven Spielberg dan JJ Abrams. Itu film, dari pembuatan bahkan sampai munculnya di bioskop, penuh bisik-bisik rahasia. Akibat rahasianya, bahkan blog pengendus terbaik macam BoingBoing dan GeekDad langganan saya pun baru tahu di menit-menit terakhir sebelum akhirnya dipublikasi di bioskop. Tapi bukankah bisik-bisik rahasia pun sebenarnya adalah promosi?

Promosi? Ahh iya. Ini yang mau saya bahas.

Dulu teman saya si Anung kesengsem habis-habisan pada kembang satu SMA yang bernama Lina. Setelah memberanikan diri bahkan hingga puasa senin kamis agar diberi kekuatan langit dalam menyampaikan cinta, mulailah ia promosi. Tidak tanggung-tanggung, akibat kebanyakan membaca novel romantika abad pertengahan, si Anung mendekati Lina di kantin ketika sedang jajan bakso. Dia bilang, “Lin, aku laki-laki terbaik yang akan kamu miliki di muka bumi ini. Kamu mau jadi perempuanku?”

Cerita-cerita CanterburyBukan gara-gara Lina yang tidak baca The Canterbury Tales yang bercerita kisah cinta antara para ksatria Inggris dan para putri raja. Bukan pula gara-gara si Anung yang menyatakan cinta setelah selesai upacara bendera hingga memakai dasi kupu-kupu dipadu celana abu-abu. Bukan… Bukan karena itu Lina menolak cintanya. Sebab Lina tidak pernah menolak cinta Anung (*bahkan hingga detik ini*). Lina hanya balas bertanya, “Eh, siapa yaa?” yang membuat hati Anung berantakan dirundung malu.

Maka jika suatu hari Anung bertanya pada saya apa kekurangannya, saya sama sekali tidak bisa menjawabnya. Astaga! Saya bukan Don Juan. Tapi saya jelas bisa bertanya, “Nung, kok si Lina bisa nggak kenal ama lu sih? Kapan terakhir kali lu ngobrol sama dia?”

Sambil menunduk seakan langit mau runtuh Anung menjawab, “Waktu kita inisiasi lah men. Kan belum lama tuh. Demi Tuhan, pertama kali lihat langsung jatuh cinta”

“Inisiasi? Maksud lu waktu kita orientasi sekolah? Hah, itu kan udah dua tahun lalu, men. Buset dah…”

Jadi pada intinya, si Anung ini diam-diam jadi penggemar rahasia Lina. Kalau pulang sekolah bahkan sempat menguntit Lina dengan sepeda hanya untuk sekedar tahu apakah rumah tinggalnya punya kotak surat untuk disampaikan kertas cinta. Dan selama dua tahun pula, Anung mengungkapkan cinta lewat sebuah surat yang tertandatangan dibawahnya oleh ‘Ksatria Cilincing’.
(*Kadang-kadang saya suka pikir, anak sekolah jaman dulu kok yaa ada-ada saja yaa tingkahnya? Tapi… Lha memang anak sekolah sekarang bagaimana kelakuannya?*)

Jelas Anung pikir bukan ide jenius ketika saya bilang bahwa ia harus membayar beberapa gadis di sekolah kami agar menulis ‘punyanya Anung segede terong’ di WC siswi sebagai langkah promosi dirinya. Saya bilang, “Oke kalo nggak terong, ketimun aja. Kan mantep men kalo barang lo terkenal sesekolahan kita!”. Namun tetap saja ia menggeleng.

Ketika saya tawarkan, “Gimana kalo lo bayar cewek-cewek yang agak gitu deh di sekolahan kita biar mereka bisik-bisik pernah bercinta ama lo dan bisikannya yaitu elo kayak kuda binal yang dahsyat kalo lagi bercinta? Kan hebat lu jadi pecinta sejati men. Bayangin di saat anak-anak laen lagi kesusahan ngilangin keperjakaan, lu malah udah jadi dewa ranjang. Pasti cewek klepek-klepek dah kalo ngeliat lu lewat. Pasti si Lina doyan ama lu men”

Anung menatap saya makin lesu, “Yaelah Rip, bapak emak gua kan haji. Masa gua terkenal sampe kedengeran nanti ama orangtua gua kalo gua cowok begituan. Lu mah enak udah nggak punya malu. Kalo gua kan cowok biasa aja men”

Aduh, ‘ksatria Cilincing’ di hadapan saya menjelma jadi ‘cowok biasa’. Di atas kertas, dia luar biasa. Di dunia nyata, ah-ah-ah… Hanya seorang pria yang putus asa berharap cinta.

“Bujug buneng, masa gitu aja lu nyerah, Nung. Promosi dong. Promosiii…”

Singkat kata singkat cerita, akhirnya Anung setuju membayari makan siang saya selama sebulan kalau Lina akhirnya mengetahui kalau ksatria dari Cilincing itu ternyata Anung. Namun baru setengah bulan, aksi ini dihentikan dengan paksa olehnya setelah mengetahui bahwa di meja kelas tempat gadis idolanya biasa duduk ada tulisan spidol ‘Lina Love Bangaip‘.

Anung hatinya semakin berdarah, sahabat dekatnya ternyata jatuh ke pelukan gadis pujaan. Orang yang dianggapnya menjadi benteng terakhir meminta bantuan ternyata menikamnya dari belakang.

Suatu siang yang panas Anung menantang berduel di kebun jamblang belakang sekolah. ia buka baju, itu artinya kami tidak akan pakai senjata. Ceritanya, mungkin ini hanya satu-satunya solusi antara dua laki-laki. Yang menang dapat Lina? Wallahualam jawabnya. Yang pasti, ada yang marah dan ada yang kecewa.

Anung buka baju, saya juga. Ketika berhadap-hadapan dengan jarak antara lima meter masing-masing, tulang iga kurus remaja pesisir pantai kami menonjol jadi tontonan warga sekitar yang memang haus hiburan dan hanya duduk di warung kopi sambil tertawa-tawa.

Anung: “Bajingan! Dasar lu pager makan jaro!”
Saya: “Ada juga pager makan taneman, kali. Tapi emang salah apa gua!”
Anung: “Duit gua lu makan, si Lina lu embat! Temen macem apa lu!”
Saya: “Emang salah gua kalo pas gua bacain puisi-puisi lu trus gua nyanyiin lagu-lagu lu yang buat si Lina, bikin dia demen ama gua? Emang salah gua kalo lu sampe segitu aja nggak berani?! Emang salah gua lu nggak promosi…!!!”
Anung: “Udah lu jangan banyak omong! Kemaren gua liat lu nyium pipinya Lina di pager rumahnya pas abis pulang sekolah! Temen macem apa lu!”
Saya: “Gua sumpahin mata lu bintitan gara-gara ngintipin orang!!!”

Tak lama kemudian kami terlibat baku hantam. Sang ksatria Cilincing ini memang mungkin akibat banyak membaca adegan pertarungan peperangan antar jawara, jadilah saya kewalahan juga. Tapi lima belas menit setelah saling mengeluarkan emosi jiwa berbagi tinju akhirnya kami berdua ngos-ngosan juga kehabisan nafas.

“Nung… Hhooohhh.. Hooohhh… Ambillah tuh… Hoohh… Hooohh… si Linaahh… Hooohh… Hoorrhh…”

“Hrrhhh… Hrrrhhh… Nggak rip… Hrrhhhh… Gua rela dahhh… Hrrhhh…”

Sambil tersengal-sengal, kami saling ‘memberi’ Lina.

Tanpa sadar, bahwa di bawah pohon jamblang seorang gadis manis berambut panjang berkepang dua memeperhatikan. Itu dia, perempuan pujaan yang kami perebutkan. Ketika akhirnya saya dan Anung berdiri dan saling memegang pundak mata kami menatapnya. Ia tidak banyak bicara apa-apa. Tidak ada tanda sedih, marah atau kecewa dimatanya. Ia hanya berbalik badan. Pergi. Dan sejak saat itu, tidak pernah lagi bicara pada kami.

Ini bukan kisah cinta. Ini hanya cerita tentang promosi. Entah promosi yang gagal, kebablasan atau malah tak tahu diri. Entahlah…

Walaupun hingga kini, saya selalu bertanya-tanya. Bagaimana rasanya memiliki pasangan cinta yang harus bertarung demi mendapatkannya?

Atau justru jangan-jangan Anda yang diperebutkan mereka? Eh, ajarin dong gimana sih promosinya? ;)


Waktu Papa Belajar Ballet

ini gambar tutu asli, bukan yang jadi-jadian yang dibikin oleh bangaiptopBegini loh, rumah saya tidak besar. Tapi punya jendela kaca yang walaupun tingginya hanya 30 cm tapi panjangnya sekitar dua meter. Dari kaca jendela tanpa tirai dan hanya dibatasi oleh beberapa pot bunga kecil dan kuas untuk melukis, semua sisi rumah saya bisa terlihat dengan baik oleh tetangga-tetangga yang melintasi gang depan. Pada intinya, saya memang tidak punya banyak privasi melalui jendela tersebut.

Beberapa hari lalu, putri saya main-main di depan monitor komputer. Kelihatannya dia terlalu asyik melihat tayangan tari ballet melalui youtube. Tiba-tiba dia turun dari kursi dan lalu ikut-ikutan bergerak-gerak melonjak kesana-kemari loncat-loncat seperti penari ballet. Saya ketawa-ketiwi melihatnya.

Begitu melihat saya tertawa, ia berhenti. Dengan mulut cemberut ia berkata, “Papa. Kenapa kamu tertawa! Kamu tidak lihat saya sedang sibuk? Ayo, kamu juga ikut menari seperti saya”

Hah! Saya bengong mendengar permintaannya. Tapi hanya sejenak. Lalu saya mulai bergerak-gerak disampingnya sambil menari mengikuti tari ballet anak-anak yang kami lihat melalui youtube.

Ia berhenti sejenak. Mulutnya masih tetap cemberut. “Papa! Bukan begitu caranya. Kamu harus benar-benar ikuti gerakan anak-anak itu”

Saya protes, “Tapi papa kan sudah bener bergeraknya, Novi. Papa harus bagaimana lagi?”

Dengan tanpa dosa dia bilang, “Kamu harus pakai pakaian seperti mereka papa”

“Tapi papa nggak punya rok sayang. Mereka itu pakai pakaian khusus untuk ballet. Namanya tutu. Papa nggak punya itu”

“Umur papa kan sudah empat tahun. Umur saya tiga tahun. Papa lebih tua daripada saya, papa harus cari cara dong!” katanya sambil melihat muka saya seakan seperti menuntut.

Eh buset bocah. Emang bapaknya siapa kok yaa minta-minta saya punya seragam penari ballet.

Tapi yaah demi anak perempuan semata wayang. Saya rela-relakan akhirnya ke gudang. Cari koran bekas. Dirangkai. Digunting. Lalu saya jadikan rok mini rumbai-rumbai demi menyenangkan si buah hati. Setelah itu saya balik lagi ke ruang tengah. Ke depan monitor, “Nah Novi, papa sudah punya tutu nih sekarang. Jadi, kita bisa menari sama-sama sekarang?”

“Yaa nggak dong papa. Kamu nggak boleh pakai baju dan celana itu”

“Lah terus papa pakai apa dong?!”

Dengan cueknya ia buka baju dan celana dan hanya menyisakan popok dan celana dalam saja. “Begini papa. Kalau mau menari ballet, nggak boleh pakai baju dan celana sembarangan”

Hah! Sekali lagi saya terbengong-bengong. Edan, masa iya saya harus hanya pakai celana dalam diliputi rok mini rumbai-rumbai dari koran bekas. Tapi sekali lagi, akibat tatapan mata Novi Kirana yang sedemikian mengiba, ya sudah saya turuti permintaannya.

“Papa, kamu kok nggak pakai popok sih? Pakai popok dong biar sama dengan saya. Nanti kalau lagi ballet kamu mau kencing bagaimana?”

“Yaelah Novi, papa kan sudah lebih besar daripada kamu. Papa nggak usah pakai popok lagi dong. Papa ke WC saja”

Jadi, saat itu di ruang tengah rumah saya, terlihatlah sepasang bapak dan anaknya sedang menari ballet hanya pakai celana dalam saja. Dan seketika itu pula, kami langsung beraksi meniru para penari ballet cilik yang ada di youtube.

Tanpa saya sadari, akibat musik ballet yang mungkin terlalu keras ternyata banyak kepala bermunculan dari balik jendela rumah saya. Buset, ternyata tetangga sedang melihat saya dan putri menari-nari mengikuti musik. Jadi, saya yakin dihadapan mereka terlihat anak kecil berusia tiga tahun dengan seorang laki-laki berambut awut-awutan berperut buncit yang hanya mengenakan celana dalam diliputi rok mini kertas koran rumbai-rumbai sedang pura-pura jadi penari ballet cilik.

Karena pemandangannya cukup ajaib, saya sambil cengar-cengir hanya melambaikan tangan ke arah mereka sambil berkata, “Halo. Hehehe….”

Mereka melambai balik. Dengan senyum yang terlihat dipaksakan. Dengan tatapan mata yang sukar dijelaskan dengan kata-kata.

Tidak lama setelah tetangga bubar akibat tayangan musik ballet habis dan putri saya sudah mengalihkan perhatian bermain balok-balok kayu menyusun rumah-rumahan, saya pun kembali ke ‘seragam normal’. Celana jeans dan t-shirt.

Begitu selesai berpakaian ada telpon masuk. Rupanya dari seorang sahabat. Dari suara telpon terdengar kalau ia panik.

“Bangaip… Gua stress nih”

“Lah kenapa? Santai aja. Gua kan satu-satunya temen lo yang punya nama belakang Top dengan tambahan Deh. Hehehe… Masa sih ada masalah yang ga bisa diselesaikan?”

“Adek gua bang.. Aduh masalah banget deh tuh anak”

“Kenapa ama adek lo?”

“Adek gua, aduuh stress banget gua nih. Masa foto-fotonya kesebar di internet. Udah gitu diperes pula. Aduuh gua stress nih, emak gua aja ampe stress… Aduuh pusiing!”

Dari telpon, saya minta ia duduk dan lalu minum air segelas. Ambil nafas, lalu baru mulai bicara. Kalau tidak, susah mendengar ia bilang apa. Untung saja ia menurut. Maka beberapa menit kemudian akhirnya ia bicara dengan lebih runut dan tidak lagi terengah-engah.

Saya dengar ceritanya dengan seksama. Rupa-rupanya si adik kangen dengan suaminya yang ada di luar negeri. Mereka bercinta melalui internet. Si adik, mengirimkan beberapa foto kategori panas dan video-video syur ke alamat email suaminya. Rencananya, materi tersebut tentu saja berguna sebagai pengobat rindu sang suami. Bagaimana menggunakannya, tentu saja tidak perlu saya ceritakan di sini. Yang perlu saya ceritakan adalah bahwa alamat email si suami rupanya dimasuki orang nakal. Entah alasannya apa, akhirnya foto-foto si istri tersebar luas di internet. Yang paling parah, sekarang malah ada oknum yang mengancam untuk meminta uang segala. Tidak tanggung-tanggung, kalau tidak diberi 20 juta rupiah maka foto-foto dan video si istri yang sekaligus dosen ini akan disebarkan ke sekolah dan mahasiswanya.

20 juta rupiah walaupun bisa dibayar oleh sang suami, tentu saja bukan sejumlah uang yang sedikit. Maka sore itu, kakak iparnya yang sekaligus sahabat saya menelpon dengan suara bergetar akibat sedih, marah dan kecewa yang bercampur jadi satu.

“Bang, gimana kalo foto-foto ama video adek gua kesebar dikampusnya?”

“Adek lo kan korban, Wi. Dia kan cuman kangen ama suaminya dan suaminya kangen ama dia. Jadi kalo ada orang yang memanfaatkan itu buat kepentingan pribadi, yaa jelas bukan salah adek lo”

“Kalo sesial-sialnya mahasiswa dia dapet tuh foto gimana ceritanya? Adek gua nanti jadi bahan coli dong? Apalagi amit-amit deh kalo adek gua ditangkep polisi”

“Saran gua sih jujur aja ama sekolah dan civitas akademikanya kalo ada orang yang mau berbuat jahat sama dia. Dan mengakses dan nyebarin materi personal dia, sama aja setuju dengan kejahatan yang terjadi. Adek lo itu korban kejahatan. Bukan pelaku”

“Tapi Bang lo tau ga Ariel Peterpan itu kena kasus UU pornografi? Dia kan sama kayak gini kasusnya. Emangnya dia niat nyebarin videonya. Kok bukan yang nyebarin yang dihukum malah si Arielnya yang dihukum?”

“Buat gua, itu nggak adil. Tapi gua pribadi sih nggak begitu ngikutin kasus Ariel jadi nggak bisa komentar banyak. Buat gua saat ini yang penting adek lo. Yang jahat dalam kasus ini kan orang yang nge-hack account email adek ipar lo. Yang jahat kan yang meras duit dan ngancem mau nyebarin foto-foto telanjang adek lo. Nah kalo mahasiswa adek lo apalagi rekan sesama dosen ikutan download tuh foto, apalagi ikutan nyebarin. Mereka bukan lagi ngaco secara etika. Tapi juga ikut nyebarin kejahatan dan sama-sama melakukan tindak kejahatan. Lebih parah lagi, kalo bahkan ikutan menghakimi adek lo secara moral”

“Tapi Bang, orang Indonesia kan biasanya begitu. Nggak tau apa-apa tapi ujung-ujungnya maen hakim sendiri”

“Hell yeah, gini-gini gua orang Indonesia… Jangan generalisasi dong. Hehe”

Wiwik diam. Saya jadi tidak enak. Bisa jadi ia bicara begitu karena memang itulah satu-satunya kenyataan yang ia tahu. Saya pikir saya lebih baik membantunya secara kongkrit daripada bicara dalam tataran filosofis yang sama sekali malah membuat ia jadi tambah pusing.

Saya telpon mamanya Wiwik serta adik iparnya. Menjelaskan langkah yang tidak perlu saya ceritakan disini secara teknis (karena terlalu detil dan amat teknis) untuk memulihkan keadaan yang bikin panik keluarga mereka ini.

Langkah yang saya ambil secara garis besar adalah:

  • Mengambil ulang akun email dan facebook adiknya Wiwik dan mengganti passwordnya secepat mungkin (*Jangan tanya saya gimana caranya, yang jelas sih saya bukan hacker dan semuanya saya lakukan secara legal*)
  • Melakukan investigasi kepada siapa saja email berisi foto-foto dan video telah dikirimkan. Merekam jejak dan mendokumentasikannya sebagai bukti bahwa adik Wiwik dan suaminya sama sekali tidak ikut dalam penyebaran foto dan video mereka kepada publik.
  • Mengirim surat elektronik berisi cerita jujur apa adanya kepada pihak yang telah disebarkan materi dewasa tersebut agar tidak mendistribusikan foto dan video ke khalayak luas.
  • Meminta adik Wiwik untuk tetap sabar dan membuat blog pribadi. Isinya adalah kronologis mengapa foto dan videonya sampai tersebar di publik. Jelaskan kepada publik apa yang ia rasakan dan ia alami sejak akun surat elektronik suaminya dibobol dan mereka diperas.

Tujuan semua langkah-langkahnya sederhana, yaitu melawan balik. Mereka sudah diintimidasi dan mungkin akan disiksa oleh opini publik, satu-satunya jalan yaa jangan diam.

Yang saya kaget sebenarnya bukan dari cerita adiknya Wiwik. Yang membuat saya sedemikian terkejut adalah, belum sampai seminggu sudah empat ‘kasus’ serupa yang saya tangani. Saya sebut kasus pakai tanda kutip sebab saya sama sekali bukan profesional ahli informatika. Apalagi detektif swasta. Yang datang menelpon atau mengirim email minta bantuan juga biasanya teman atau temannya teman. Kalau bisa saya bantu yaa saya bantu. Kalau tidak yaa saya meminta maaf sebab tidak bisa berbuat banyak.

(*Ada yang meminta untuk membongkar akun facebook suaminya sebab ia pikir suaminya kawin lagi. Gara-gara cemburu, facebook jadi korban. Eh buset, saya belum sejago itu untuk bongkar-bongkar rahasia FB orang lain. Hehe. Oh ya, Wiwik itu bukan nama sebenarnya dan kasus di atas adalah contoh kasus yang atas perijinan teman saya boleh dipublikasi di blog ini. Segala peristiwa yang mungkin mirip dan telah terjadi, adalah kebetulan belaka. Sebab semuanya memang hampir mirip seperti ini. Modus paling mendominasi utamanya gara-gara ‘cinta’*)

Sejak makin maraknya sosial media melalui perangkat genggam, saya cermati secara subjektif bahwa makin banyak orang yang mengeluh atau merasa tersiksa akibat foto atau video personal mereka tersebar di publik. Ada yang mengeluh karena tanpa sadar foto personal tanpa seijinnya tersebar kepada publik melalui sosial media (jadi yang bawa hape pun bisa lihat). Ada yang mengeluh karena dulu waktu belum sadar dahsyatnya keganasan internet, buka-bukaan didepan publik (dan sekarang menyesal). Yang pasti, banyak sekali yang mengeluh.

Mudahnya akses internet dan mudahnya menampilkan gambar semau kita dihadapan publik adalah awal. Beberapa yang cerdas, tentu saja hati-hati dalam membuat status dalam sosial media dan menampilkan tayangan apa yang perlu diberitahu ke publik. Bisa jadi mereka lebih paham rimba lalu lintas data internet. Bisa jadi juga karena hanya ingin sekedar bergaya politik pencitraan diri dalam kata lain sok jaga image.

Beberapa yang kurang begitu hati-hati, yaa dengan bahagianya memberikan amunisi pada publik secara detail kehidupan mereka sehari-hari. Bisa jadi karena mereka ingin berbagi. Bisa jadi karena keinginan bawah sadar ingin menampilkan aurat di depan publik.

Yang pasti ujung-ujungnya memang banyak yang mengeluh.

Diantaranya mengeluh ke saya (*Loh, kok saya malah curhat begini. Hehe*). Saya sendiri sih tidak masalah. Sebab saya kan hobi menerima keluhan (*Jangan-jangan saya masochist? Haha*). Tapi kadang-kadang, keluhannya telat. Kasihan, ada bapak yang jual sawah dan kerbau hingga seluruh harta kekayaan untuk mengirim putrinya ganti sekolah dan domisili ke Singapura karena foto digital bercumbu sang anak yang masih kelas tiga SMP itu disebarkan oleh mantan pacarnya yang sakit hati.

Saya bukan moralis. Saya mendukung gerakan jangan telanjang di depan kamera bukan gara-gara ada hubungannya dengan reliji, moral, etik dan bla-bla-bla lainnya. Saya mendukung gerakan itu dengan alasan yang sederhana. Sebab undang-undang digital di RI (mau namanya yang berkaitan dengan pornografi atau intelejen, whatever lah. Sama saja semuanya. Isinya ajaib)  belum sepenuhnya berdiri untuk mendukung korban. Kasus Ariel Peterpan contoh yang sederhana bahwa wilayah pribadi digital informatika WNI masih bisa diusik oleh pemerintah atau WNI lain yang merasa bahwa mereka yang paling benar.

Itu contoh yang sederhana. Mau contoh yang lebih rumit? Sila google DNS Filtering di republik tercinta. Mau lagi yang lebih rumit? Pelajari data digital audit institusi negara. Lagi yang lebih rumit? Masih banyak. Makin teknis, makin menakutkan isinya. Semuanya sama. Ada hak-hak manusia dalam bertukar informasi melalui internet yang dilanggar oleh pemerintahnya. Ada wilayah pribadi yang selalu dilanggar demi rasa ingin tahu orang-orang yang sok tahu atau bahkan untuk institusi yang merasa perlu menyembunyikan pada publik sesuatu.

Saya ingat waktu cerita hal ini, Wiwik menukas cepat. “Bang, bukannya bagus kalo disensor pemerintah. Kan gampang, foto adek gua nggak bakal ditonton mahasiswanya?”

“Wik, kalo orang kebelet mah, apa aja dilakuin. Jangankan mutusin sensor, email orang laen aja bisa dia jebol. Menurut lu lebih bagus mana cara mendidik anak makan sayur. Dipaksa trus dipukul biar makan? Apa dibujuk dengan diberitahu jujur bahwa sayur itu bagus buat dirinya?”

Ia diam. Ia tahu maksud analogi yang saya lontarkan.

Untungnya hari itu selesai dengan penutupan yang baik. Kebetulan si pelaku pembobolan dan pemerasan akhirnya bisa didentifikasi. Bukti berhasil dikumpulkan untuk cukup menyeretnya ke meja pengadilan. Beberapa orang yang telah menerima foto-foto dan video seronok itu dengan sukarela memberikan pernyataan bahwa mereka tidak akan mendistribusikan tindak kejahatan.

Selesai mengobrol dengan Wiwik melalu telepon putri saya duduk di samping sambil melihat dengan tatapan mata serius ke ayahnya. “Papa, kamu tadi ngomong apa sama teman kamu?”

Yaelah, bocah kok yaa mau tahu aja bapaknya ngapain. Tapi dengan santai saya jawab, “Bantu teman Papa, Cintaku. Kasihan dia. Fotonya dicuri orang”

“Papa bantu ambil kembali fotonya teman papa?”

“Iya sayang. Kalau bukan milik kita kan bukan hak kita untuk mengambilnya”

“Papa, ayo kita ambil foto”

“Foto Novi berdua papa? Ayoo…”

“Bukan papa. Foto kamu sendiri saja. Papa jangan pakai baju itu. Itu baju kurang bagus. Papa pakai tutu saja yaa”

Saya melongo. Astaga, masa sih lagi-lagi saya harus pakai celana dalam saja dibalut rok mini kertas koran rumbai-rumbai. Apa kata dunia kalau foto ini jadi digital? Foto bapak-bapak buncit dari pinggiran kota memakai tutu palsu sambil meniru pebalet cilik.

Saya protes, “Novi, kalau foto papa dicuri orang bagaimana? Kasihan dong papa nanti?”

“Kenapa dicuri papa? Kalau ada yang minta, kasih saja”

Saya makin melongo ketika sambil tertawa ia mengangkat kamera dan blitz melahap saya dengan seketika itu juga.


Mungkin Saya Terlalu Banyak Menonton Film Star Wars

Sebelum meninggal, pelukis Indonesia Salim pernah berkata pada Kang Adi sahabat saya. “Di, kalau berkarya jangan mengharapkan kaya. Jangan mengharapkan terkenal. Jangan mengharapkan dipuja. Berkarya saja sebab karena ia bagian dari hidup kamu. Kalau memang pada suatu hari karya kamu disukai publik, itu lain lagi ceritanya. Tapi, jadikan hidup kamu dengan berkarya”.

Lalu beberapa malam lalu, Kang Adi kembali mengulang nasihat itu ke saya. Bedanya, kalimat ‘Di’ diganti jadi ‘Rip’. Hehehe.

Kami sebelumnya memang membicarakan Salim. Pelukis asal Nusantara yang bersahabat akrab dengan para bapak bangsa seperti Sjahrir dan Hatta. Yang dikaruniai umur panjang bahkan sempat menginjak usia 100 sebelum akhirnya maut menjemput. Salim yang selalu bangga dengan peci Cap Indonesia yang ia sebut dengan, “Setiap bertemu orang Indonesia aku pakai selalu peci ini”. Salim yang sama yang tetap memakai pecinya bahkan ketika menjadi relawan berangkat perang ke Catalonia sebagai seniman dalam revolusi Spanyol tahun 1936, yang mungkin disana bertemu dengan Hemingway, pujangga Amerika.

“Jadi begitu lah, Rip. Kata Salim berkaryalah karena lu merasa bahwa berkarya itu bagian dari hidup lu. Masak motret cuma kalo mao ikut lomba aja? Nyari apa, nyari nama? Nyari duit? Nyari piala? Sekedar ngebuktiin kalo lu bisa menang? Yaah jangan lah. Ahh tapi aneh juga sih, gua sendiri bilang ama Salim, kan nggak semua seniman kebutuhannya sama. Seniman kan manusia. Kebutuhannya beda-beda”

Obrolan ini memang bermula dari beberapa riset foto yang akan saya lakukan. Sederhananya, saya keceplosan bahwa akan melakukan semacam riset dengan alasan yang kadang susah diterima dengan kebanyakan orang. Setidaknya, jika orang yang dimaksud adalah para ‘temennya bangaiptop’. Alasan saya riset, ternyata uang. Saya mau ikut kompetisi dan berharap menang lalu dapat duit dari sana. Kang Adi tidak melarang, menyayangkan atau melihatnya sebagai dilema moral berkesenian. Tidak. Sama sekali tidak. Ia hanya memberitahu bahwa ada lomba atau tidak, ikut kompetisi atau bukan, saya sebaiknya berkarya. Apapun karyanya.

Saya diam. Tidak bisa bilang apa-apa. Saya pikir Kang Adi benar. Hanya mungkin, prioritas saat ini yang saya miliki memang berbeda.

Tapi omong-omong sial prioritas, saya jadi ingat suatu hari obrolan bersama si Hadi anak juragan tembakau. Malam itu kami bergosip tentang beberapa orang teman. Namanya gosip, yaa makin digosok makin sip. Kebetulan, kami menggosipi si Diki yang dua tahun telah kembali pulang ke pangkuan bumi pertiwi.

Saya: “Di, si Diki gimana kabarnya yaah?”
Hadi: “Wah dia jadi kaya, bang”
Saya: “Bagus dong! Jadi kita bisa ditraktir, hihihi…”
Hadi: “Wah ati-ati bang, dia bergabung sama Dark Force sekarang”

Saya mau senyum. Tapi saya dan Hadi, kami sama-sama orang aneh yang menyukai film fiksi Star Wars. Dark Force adalah kekuatan besar yang dikomandani oleh Anakin Skywalker yang lalu berubah menjadi Darth Vader sebagai kekuatan antagonis dalam film Star Wars. Kekuatan ini, pada intinya hanya punya satu tujuan. Yaitu menguasai alam semesta dan membunuh para ksatria Jedi yang membela umat manusia. Setelah itu, menjadikan manusia dan semua makhluk serta kekayaan alamnya sebagai budak mereka.

Nah, kalau Diki pulang ke republik tercinta lalu bergabung dengan kekuatan hebat seperti Dark Force yang ada dalam budaya mainstream merusak bumi Indonesia, bisa gawat ceritanya.

Sebab Dark Force itu sebutan kami untuk konglomerasi yang mendapatkan banyak kemudahan dan fasilitas dari pemerintah untuk mendayagunakan seluruh sumber daya alam dan manusia yang melingkupi Indonesia hanya demi kesejahteraan konglomerasi dan eksekutif pemegang dividen.

“Di, kita kan cuman ngegosip doang. Kamu jangan serius-serius dong…”

“Yah abang… Kalo si Diki kerja disitu baru setengah tahun sih itu baru gosip, Bang. Dia kan sudah hampir dua tahun kerja di sana. Begitu selesai jadi doktor langsung pindah haluan. Dia kan ngambil kerjaan yang ditawarin ke abang”

Saya tergagap-gagap, “Loh kamu tau darimana ini posisi itu dulu ditawarin ke saya juga?”

“Halah, gosip yaa digosok makin sip. Kabar burung toh bang. Cek aja di twitter. Hihi…”

“Tapi si Diki? Wah masa sih. Si Diki kan idealis banget. Mana mau dia ngerusak hutan? Apalagi Kalimantan. Dia kan bapaknya orang Samarinda. Asli Kalimantan dia itu. Kok gabung sama perusahaan yang kerjanya ngebabat hutan Kalimantan?”

“Terakhir ketemu Diki…”

“Kapan kamu ketemu?” saya sela dengan cepat omongan Hadi. Biasanya kalau ia berbohong, akan gelagapan jawabnya. Saya kenal Hadi.

Tapi sial lancar sekali ia menjawab, “Saya kan baru dari Jakarta, bang. Baru dua minggu lalu. Disana ketemu Diki. Hebat dia bang. Apartemen dikasih kantor, itu juga plus pembantu. Mobil juga dikasih sama supir-supirnya. Wah bang, pembantunya cakep loh. Hebat tuh perusahaan. Bisa ngasih pembantu model gitu ama si Diki. Si Diki kan bujangan bang. Dikasih pembantu muda, seksi dan aduhay begitu ya betah lah dia di rumah. Dia sering kerja dari rumah aja sih. Ke kantor kalo meeting doang. Wah hebat lah tuh anak. Nggak kena stress macet Jakarta. Belum lagi gajinya bang. Kayaknya sih annualnya bisa satu milyar lebih. Posisinya tinggi bang. Nih kartu namanya, baca aja. Tapi bang, males banget ngomongin Diki. Dia sekarang kebuka deh kedoknya sebagai PhD project. Jadi doktor cuman kalo gara-gara ada duitnya. Cuman gara-gara project. Mana mau dia ngebangun negeri? Jangankan peduli masyarakat se indonesia, kampungnya sendiri aja dikhianatin. Lah capek deh ngomongin Diki. Ngomongin pembantunya aja yuuk?”

Saya cengar-cengir menjawabnya.

Saya sama sekali tidak tertarik isu yang akan dibawa Hadi, yaitu semulus apa paha pembantu Diki. Apalagi bagaimana si Diki menghabiskan gajinya. Itu bukan urusan saya. Tapi yang saya ingin tahu adalah, sejauh mana si Diki sudah bergerak dengan keahliannya.

Akibat penasaran. Saya buka-buka arsip lama media yang ada di Indonesia. Mulai dari arsip digital hingga arsip cetak konvensional. Baru sadar sesadar-sadarnya, bahwa sebuah perusahaan yang dulu terkenal dianggap perampok kekayaan rakyat sejak dua tahun ini namanya sama sekali tidak banyak tersebut di media. Sejak Diki masuk sebagai bagian dari mereka. O-ow… Kelihatannya kesaktian Diki dipakai dengan semaksimal mungkin oleh perusahaan tersebut. Sebab hanya ada dua pilihan untuk memaksa orang berhenti membicarakan keburukan kita. Pertama, berhenti berbuat buruk. Kedua, menutupinya dengan semua tipu daya bahkan dengan yang belum pernah tercatat dalam sejarah manusia.

Kata Hadi, kenapa Diki dibayar semahal itu karena ia harus melakukan langkah yang kedua. Tapi toh hidup itu pilihan. Diki sudah memilih jalannya. Maka, konsekuensi adalah hal yang wajar ia terima. Saat ini, konsekuensinya adalah punya mobil mewah dengan supir, pembantu seksi, uang tabungan banyak dan hidup di Jakarta tanpa stress kena macet. Lanjut Hadi, “Asik juga yaah hidup begitu?”

“Apa asiknya sih digosipin ama dua orang manusia yang sudah jelas hidupnya nggak bagus-bagus amat? Hehe…”, kata saya sambil garuk kepala.

“Nah itu maksud saya, Bang. Kita kan secara akademis nggak sehebat Diki. Jangankan begitu, duit kita aja nggak sebanyak duit Diki. Tapi kita kan jauh lebih baik dari dia, kan? Maksud saya, kita aja yang udah sehina ini masih bisa menghina dia, berarti sampai mana taraf kehinaan dia yaah?”

“Wah itu sih kamu… Saya sih nggak ngerasa lebih baik dari siapa-siapa. Hehehe. Saya sih cuma bingung, Di. Kalo Diki direkrut sama mereka. Makin berat dah nasibnya bumi kita. Waduh, orang sepinter dan seberbakat Diki kok yaa harus jadi begitu?”

“Lah terus kalo udah pinter dan berbakat harusnya jadi gimana, Bang?”

Saya melongo. “Yaelah, mana saya tau Di?”

Obrolan berhenti sampai di situ. Hadi pulang lagi ke Indonesia. Ia mampir sebentar ke rumah saya karena memang sedang berbicara di hadapan sebuah forum internasional yang membutuhkan keahliannya. Sejak saat itu, saya tidak pernah lagi mendengar kabar Diki. Satu-satunya teman saya yang cukup akrab dengan Diki yaa Hadi.

Tapi sebagaimanapun jauhnya ia dan kapan kejadiannya, obrolan dengan Hadi malam itu memang sangat jelas masuk ke otak saya.

Intinya, jika seseorang mampu dan berbakat. Apa yang harus ia lakukan?

Balik ke omongan Salim, jawabannya jelas; Harus berkarya. Sebab berkarya itu adalah bagian dari hidup.

Saya pikir, saya jarang berkarya sebagai bagian dari hidup. Biasanya, saya berkarya karena saya gelisah. Gelisah karena deadline kerjaan. Gelisah karena harus mengumpulkan tugas dulu ketika sekolah. Atau gelisah karena butuh sesuatu. Saat ini saya gelisah mau membelikan putri saya mainan baru. Sayang saya belum ada uang. Jadi, saya berkarya, saya memotret, pada intinya memang hanya karena mau memberikan anak saya boneka anjing besar berbulu lembut yang bisa menyalak.

Edan memang, riset macam apa yang saya lakukan jika ujung-ujungnya hanya mau membelikan anak mainan.

Saya tidak idealis? Entahlah. Jawabnya iya atau tidak sama sekali tidak begitu banyak pengaruhnya. Saya sendiri tidak bisa menempelkan cap atau stigma pada diri saya. Sama sebagaimana saya tidak bisa menempelkan cap itu pada jidat Diki.

Mungkin saja Diki punya motif yang sama dengan Anakin Skywalker. Bergabung ke Dark Force lalu menjadi Darth Vader demi menyelamatkan jiwa istri yang amat dicintainya.

Sebab di ujung hari, riset atau tidak, toh saya biar bagaimanapun juga akan mendapatkan boneka anjing besar yang bisa menyalak.

Sebagaimana di ujung hari, perusahaan tempat Diki bekerja semakin berhasil mengaburkan jejak-jejak kejahatan mereka.

*Kelihatannya saya (lagi-lagi) patah hati dengan superioritas mafia hukum RI*


Cerita Drama Dengan Lakon Website DPR RI


Peretesan adalah bahasa Indonesia yang berasal dari terjemahan bahasa Inggris ‘hacking’. Pada implementasinya, perubahan tampilan situs web secara tidak resmi dan dilakukan bukan oleh sumber daya resmi yang disetujui oleh pemilik situs web bahkan disebut juga sebagai peretasan.

Beberapa hari ini media massa di Indonesia hingga narablog ramai memberitakan peretasan terhadap situs web pemerintah antara lain milik POLRI (yang setahu saya memang sering diretas) dan situs Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas). Berita ini bahkan sudah sampai ke media mainstream. Akibatnya, datang tanggapan dari publik. Baik pro maupun kontra. Tapi kali ini saya tidak akan membahas pro dan kontra peretasan situs pemerintah. Saya hanya bapak-bapak buruh biasa yang berasal dari Cilincing, sama sekali bukan peretas. Saya pikir saya tidak cukup pintar untuk perlu mencampuri urusan peretasan tersebut.

Tapi, saya akan bicara soal situs web dewan rakyat Indonesia yang beralamat di http://dpr.go.id. Iya, saya akan bicara soal situs web Dewan Perwakilan Rakyat.

Karena ceritanya agak rumit, mungkin akan lebih baik jika saya urutkan berdasarkan kronologi waktu saja. Begini kronologinya:

Rabu 11 Mei 2011 – Anggota Komisi I DPR dari Fraksi Partai Demokrat (PD), Roy Suryo, berkata kepada wartawan di gedung DPR, Senayan, Jakarta, bahwa pengadaan sarana IT (Informasi Teknologi) di DPR adalah sebesar 9,4 Miliar rupiah (sumber: detiknews http://goo.gl/7GIpF)

Rabu 11 Mei 2011 – DI hari yang sama, wakil ketua DPR Pramono Anung berkata bahwa ia akan melakukan pengecekan dan ketika sudah selesai, ia bilang bahwa stafnya melaporkan baru ada pengeluaran sebesar 5,9 miliar rupiah (sumber: news okezone http://goo.gl/9Btk1)

Kamis 12 Mei 2011 – Anggaran pengelolaan IT DPR RI hampir mencapai Rp 20 Miliar per tahun dalam pos anggaran Sekretariat Jenderal DPR tahun 2010. Peneliti Indonesia Budget Centre (IBC) Roy Salam merinci, dana pemeliharaan dan pengembangan system informasi DPR ini terbagi untuk dua pos, yakni untuk biaya pemeliharaan website sebesar Rp 8,4 milar per tahun, dan biaya pemeliharaan situs www.dpr.go.id senilai Rp 1,3 miliar per tahun. Sedangkan untuk pos anggaran pengembangan system informasi, terbagi untuk pembangunan dan pengembangan IT dan untuk seminar dan lokakarya. (sumber: gresnews http://goo.gl/umBDu)

Kamis 12 Mei 2011 – Andi Mardiansyah dari Team IT DPR (andi@dpr.go.id) mengkonfirmasi bahwa anggaran IT DPR 2010 adalah 10 miliar rupiah. Tapi yang terpakai cuma 5,6 miliar. Katanya untuk membiayai seluruh kegiatan IT DPR selama setahun. Total ada 32 kegiatan. Pengeluaran yang paling besar 1.43 M untuk biaya internet provider, sisanya untuk pembelian dan maintenance hardware, server, jaringan, litbang dll. Menurutnya pengadaan IT DPR sudah sesuai Kepres dan PP dan sudah dilakukan audit oleh BPK sehingga bisa dipertanggungjawabkan dan ditanya kepada BPK. (sumber Team.IT.DPR di thread forum Indonesia Kaskus “IT DPR Mahal?, masak sih?” http://goo.gl/3ITdB)

(*Saya coba cek ulang pernyataan Andi ke situs BPK. Sayang sekali saya belum menemukan laporan dari BPK. Bisa jadi karena laporannya belum selesai, bisa jadi karena saya yang tidak begitu teliti mencarinya (hehe). Saya cari di bagian Laporan Hasil Pemeriksaan BPK-RI di laman web ini (http://goo.gl/N6rUY) sayang sekali belum ketemu. Bagi yang sudah berhasil menemukannya mohon dibagi infonya*)

Senin 16 Mei 2011 – Lagi-lagi anggota Komisi I DPR dari Fraksi Partai Demokrat (PD), Roy Suryo, berkata pada wartawan bahwa situs DPR RI diisengi hingga kebobolan dengan adanya tulisan dibawah website tertera “thanKs buAt Seluruh raKyat nUSantara -ttd, webmastER dpr.go.i’d”. Roy menyalahkan Admin/Tim IT situs DPR RI dan meminta mereka melakukan klarifikasi. Sebab sebenarnya ketersediaan fasilitas untuk admin/tim IT di DPR sangat besar, namun penggunaannya sangat tidak maksimal. (Sumber: techno okezone http://goo.gl/wvpDk)

Senin 16 Mei 2011 – team pengembang website DPR RI hadir lagi di forum Kaskus memberikan penjelasan mengapa ada uang sebesar 9 miliar rupiah ke publik. Dikutip dari sumber: “Kenapa bisa keluar harga 9 Miliar? Karena itu harga total ‘belanja’ seluruh penunjang IT di DPR. Mulai dari bandwidth, pengadaan aplikasi dan sistem informasi termasuk website, juga untuk pembelian alat-alat hardware (PC komputer, server2, UTP, kabel2), perawatan AC kering untuk ruang server, perawatan UPS segede lemari 4 pintu, dan lain-lain nya… banyak banget gan. Sedangkan untuk tahun ini anggarannya sudah dilakukan efisiensi sampe 50%. Karena harga bandwidth telah jauh turun, sistem pengadaan bandwidth pun dengan sistem lelang. Jadi tiap tahun kemungkinan provider bandwidth kita ganti2! karena kita ambil pemenangnya dari harga termurah yang ditawarkan, tujuannya untuk penghematan belanja. Kenapa kita ngga pake provider bandwidth yang tetap??, karena kita mengikuti peraturan pemerintah dan Kepres bahwa pengadaan diatas jumlah tertentu itu harus lelang terbuka (penunjukan langsung rawan korupsi gan).
(Sumber Kaskus http://goo.gl/OLRWe)

Kelihatannya teman-teman di kaskus sudah banyak yang panas memang dengan drama website 9 miliar rupiah ini :) Sabar yaa Agan-agan :)

Dari penjelasan rekan-rekan pengembang website DPR-RI ada beberapa kesimpulan yang bisa ditangkap:

  1. Para pengembang website ini tidak membantah bahwa memang ada budget yang cukup besar untuk belanja IT.
  2. Tidak ada bantahan dari pengembang bahwa mereka tidak mengusulkan platform finansial untuk IT DPR RI.
  3. Bahwa telah dilakukan audit dari KPK terhadap keuangan IT DPR RI.
  4. Bahwa rekan-rekan publik baik dari pengembang aplikasi website maupun bukan  sedemikian kaget dengan besarnya budget anggaran website. Akibat kinerja anggota DPR RI yang memilukan maka rekan-rekan tersebut pun ikut mengalamatkan kekecewaan mereka pada IT DPR RI.

Saya pribadi tidak bisa bilang apa-apa. Ini bukan drama saya, hehe. Tapi mengikuti drama ini memang seru. Saya hanya berharap bahwa kita dapat menemukan bukti audit dan teman-teman di IT DPR RI dapat melaksanakan pekerjaannya dengan baik dan memberikan bukti kepada kita semua.

Tidak adil memberikan generalisasi cap buruk pada semua seksi di DPR RI. Walau sudah jadi rahasia umum bahwa gedung DPR adalah markas perampok rakyat namun ada baiknya jika mata kita masih mau menonton dan mendengar penjelasan artis sinetron DPR RI  jika ada beberapa dari mereka yang mau memberikan penjelasan.

Menurut saya, sejelek-jeleknya para artis sinetron itu, minimal mereka masih mau memberikan penjelasan. Setidaknya penjelasan mereka sangat bisa dicek-ulang. Tidak susah loh mengecek ulang bukti digital.

Maka jika teman-teman IT DPR RI berbohong, yaa amat disayangkan. Sebab kepercayaan kita yang semakin menipis pada pemerintah akan semakin rendah saja.

Anyway, untuk teman-teman yang berjuang di lini plat merah, selamat terus berjuang. Kami mendukung. Kami abadi. Berjuanglah untuk kami yang mendukung kalian, bukan berjuang atas nama rezim yang akan selalu berganti.

Jangan berkhianat. Sebab toh kita sama-sama tahu apa hukuman buat pengkhianat.

(*Apa yaa hukumannya? Hahaha*)

Pilih Mana? Percaya Atau Tidak?

Saya memang agak-agak kurang beruntung hati beberapa hari belakangan ini. Masalahnya dimulai dari hal-hal yang mungkin beberapa orang terlihat sederhana sampai yang membingungkan.

Saya kehilangan tulisan. Tulisan berseri mengenai sosial media dan perubahan yang melingkupinya. Isi totalnya ada empat tulisan. Eh… Hilang! Dicari kemana-mana tidak ketemu. Aduh, hati ini kok yaa gimana rasanya begitu mengetahui bahwa tulisan itu memang benar-benar hilang.

Kedua, saya kehilangan mood untuk menjumpai praktisi medis yang biasanya membantu kelangsungan hidup sehari-hari. Alasannya sepele, bosan. Bosannya juga ternyata sepele sekali, yaitu akibat rasa kepercayaan yang semakin merosot karena mereka menasihati saya untuk meminum paracetamol ketika saya sakit kepala. Edan, setiap hari saya kadang bisa 4-5 kali sakit kepala sebelah. Masak sih saya harus minum itu obat terus-terusan? Lah bagaimana kalau saya nanti jadi painkiller junkie?

Ketiga, saya kerap bertemu orang yang mati-matian mempertahankan argumen bahwa karena agamanya ia jadi tidak perlu belajar.

Masalah pertama walaupun makan waktu riset, saya bisa usahakan solusinya dengan cara menulis ulang. Begitu juga dengan problem kedua, saya tinggal cari spesialis dan penasihat medis yang lebih mumpuni. Jadi pada intinya, bisa ditanggulangi dengan optimis.

Yang bikin saya kebingungan, yaa bagaimana ini dengan masalah saya yang ketiga.

Akhir-akhir ini saya memang kerap bertemu kenalan yang menganggap bahwa apa yang ada dalam agamanya adalah sebuah kebulatan superior yang tidak bisa diubah-ubah.

Sumpah mati, saya tidak benci agama. Sebagaimana saya pribadi tidak pernah membenci pemeluk agama dan keyakinan tertentu (apapun agama atau keyakinannya). Saya akui saya memang punya jarak dengan agama, tapi bukan berarti saya bebas mencelanya. Dalam hidup ini, ada beberapa manusia tertentu yang dalam kondisi hidupnya, tidak punya apa-apa selain agama, dan hanya agama yang membuat mereka akhirnya bertahan untuk tetap hidup dan menyemangati orang lain agar tetap hidup. Saya menghormati mereka dan menghormati jalan hidup yang sengaja atau tidak sengaja telah mereka pilih tersebut. Termasuk, jalan hidup beragama.

Tapi, akhir-akhir ini saya mungkin memang sedang kurang beruntung. Saya bertemu dengan orang yang mati-matian menolak teori evolusi dengan alasan bahwa itu hanya teori tanpa bukti. Ada yang menolak bahwa umur bumi lebih tua dari 6 juta tahun sebab menurut beliau bumi dalam kitab sucinya diciptakan dalam enam hari (jadi kalau bahasa kitab suci adalah perumpamaan dalam penciptaan bumi, maka harus ada angka enamnya. Tidak peduli bahwa ilmu geologi bisa membuktikan bahwa umur bumi sekitar 54 milyar tahun). Hingga menolak untuk percaya bahwa manusia pernah mencapai bulan dengan alasan kalau guru fisikanya dulu semasa SMU pernah bilang bahwa manusia tidak mungkin mendarat di bulan sebab manusia tidak bisa melampaui kekuatan magis yang meliputi bumi yang membuat bumi kita terlindungi dari serangan meteor (*Guru Fisika macam apa itu coba?*)

Dari sekian banyak orang yang saya temui dan menolak fakta ilmu pengetahuan hampir semuanya bilang bahwa agama yang ia peluk yang membuatnya tidak percaya (*Satu orang alasannya cukup ajaib, dia bilang “Males ahh tau yang begituan. Ga penting!” yang saya langsung balas dengan tersenyum manis*).

Hampir semuanya bilang bahwa fakta ilmu pengetahuan sama sekali tidak sesuai dengan ajaran keyakinan yang ia percayai sejak kecil. Jadi, tidak perlu dipercaya. Sebuah argumen yang benar-benar ajaib. Bukankah fakta ilmu pengetahuan itu tidak pernah memaksa untuk dipercayai? Bukankah mereka hanya sekedar fakta? Yang bicara apa adanya sesuai bukti.

Dari beberapa kali mengobrol dengan para manusia yang menolak fakta ilmu pengetahuan dengan basis landasan utama akibat agama melarangnya, saya akhirnya mengambil beberapa sampel pola pendidikan sederhana;

  1. Bahwa tingkat pendidikan tidak berbanding sejajar dengan pemahaman terhadap ilmu pengetahuan. Belum tentu makin tinggi sekolah jadi makin memahami kompleksitas hidup
  2. Bahwa pendidikan agama di RI cukup ekstrim setidaknya hingga tahun 90-an. Beberapa pendidik bahkan kerap memberikan opini pribadi mereka mengenai agama justru ketika mereka pada saat bukanlah sebagai pengajar agama
  3. Bahwa adalah wajar mengetahui bahwa siswa WNI di RI harus memiliki agama sementara tidak wajar untuk mengetahui dan mengkritisi mengapa siswa-siswi maupun pendidiknya di RI harus beragama. Efek sampingnya, terjadi penumpulan pada daya kritis siswa
  4. Bahwa semenjak sekolah dasar pun siswa telah diberi pemahaman untuk berkumpul dan berserikat berdasarkan agama yang dianutnya
  5. Bahwa ada siswa yang sedemikian apatisnya terhadap kehidupan beragama, ia mengambil jarak dari komunitas beragama. Di sisi lain, ada siswa yang malah mengambil kesimpulan bahwa ia tidak perlu belajar lagi dengan alasan ilmu agamanya sudah cukup jadi apapun fakta terbaru ilmu pengetahuan, tidak perlu ia terima.
  6. Bahwa ada siswa yang merasa tidak penting tahu bahwa bumi itu bulat atau kotak. Yang penting sekolah nilai tinggi agar lulus kerja bisa jadi PNS atau karyawan BUMN atau menempati posisi yang membuat hidupnya nyaman (*walaupun definisi nyamannya ternyata sangat bisa diperdebatkan*)

Menarik bukan?

Yang saya kagumi adalah bahwa yang melontarkan pernyataan di atas adalah para WNI yang dulu sempat sekolah dasar hingga atas di Indonesia dan lalu melanjutkan sekolah lagi di luar Indonesia.

Balik lagi ke topik awal. Saya sempat menyesal bertemu orang-orang seperti itu. Dalam hati saya sempat merutuk, “Ini mah buang-buang waktu aja”.

Tapi… Eh tapi kok yaa saya sempat kepikiran. Jika saya bilang di awal bahwa mungkin saya kurang beruntung saya pikir saya salah. Sebab ternyata bisa jadi kalau justru ini adalah momen-momen keberuntungan saya. Bertemu dengan manusia yang berbeda.

Tidak banyak orang yang setuju dengan pola pikir saya. Dengan keputusan saya untuk tidak bisa dengan mudah mempercayai Nyi Roro Kidul. Padahal apa sih yang kurang dari si Nyai? Sudah single, cantik, seksi bahkan punya banyak kamar hotel sendiri. Apa coba yang kurang sehingga saya masih tidak percaya?

Jangankan orang-orang, Ibu dan adik-adik saya saja sempat khawatir dengan apa yang saya percayai dan dengan apa yang tidak. Tapi toh itu tidak menghilangkan kenyataan bahwa kami amat mencintai satu sama lainnya.

Mungkin, dengan datangnya manusia-manusia baru yang punya kepercayaan yang berbeda itu, saya malahan jadi bisa melihat bahwa perbedaan antara kami itu sebenarnya amat indah :)

(*Percaya atau tidak? Saya sering diundang makan-makan oleh mereka yang ajaib dan berbeda keyakinannya ini. Lah saya turuti dong undangannya, buat saya kan makan-makan dan ketawa-ketiwi itu indah. Hehehe*)


Operasi Payudara

Beberapa hari lalu saya mengobrol dengan putri saya Novi Kirana yang baru saja menginjak usia tiga tahun. Seperti biasa, kalau mengobrol posisi kami memang agak aneh. Sejak ia bayi, kami memang suka mengobrol serius ketika saya sit-up atau push-up. Kalau saya sit-up, ia duduk di atas kaki atau perut saya. Kalau saya push-up, ia duduk di atas punggung saya.

Kali itu, saya sedang melakukan beberapa sit-up. Ia keluar dari tepee, tenda Indian yang saya buat untuknya yang berdiri pas di ruang tengah rumah. Langsung duduk di atas perut saya. Tanpa tedeng aling-aling langsung bertanya, “Papa, kenapa dada kamu kecil?”

Dalam hati saya melengos, ‘Yaelah bocah, udah tau badan bapaknya segini-gini aja. Walopun udah olahraga segimanapun juga emang badan ini yah segini doangan. Pake ditanya-tanya segala’

Dan karena sudah ngos-ngosan saya jawab santai, “Karena papa anak laki-laki, sayang. Anak laki-laki kebanyakan nggak punya dada besar. Kalau anak perempuan punya dada lebih besar daripada anak laki-laki”

Dia buka kausnya. Dia lihat ke arah dadanya sendiri. “Kenapa dada saya sama seperti dada papa?”

Saya jawab, “Karena kamu anak papa, Cintaku”

“Tapi kan saya anak perempuan?”

“Iya, nanti juga kalau sudah besar dada kamu tambah besar”

“Kalau papa besar dada papa juga tambah besar?”

Saya bengong. Buset dah, anak kecil pertanyaannya memang ajaib kok yaa? Saya berhenti sit-up. Tapi matanya kecewa. Maka itu, saya sit-up lagi (*padahal sumpah saya sudah hampir kehabisan nafas. Tapi demi anak, ya sudah lah tambah satu set lagi*).

Sambil terengah-engah saya jawab, “Kalau berat papa tambah dada papa juga tambah besar nanti”

Mulutnya merocos dengan alis berkerut, itu tandanya dia sedang protes. “Tapi saya kan sudah besar! Saya sudah tiga tahun! Saya anak perempuan besar!”

Dengan lembut saya mengusap rambutnya yang makin panjang melewati dahi, “Iya kamu sudah besar. Tapi akan ada saat dimana semua anak perempuan akan lebih besar dadanya. Lebih panjang rambutnya. Lebih besar pinggulnya dan makin mengerti bahwa tubuh mereka berubah”

“Umur saya tiga tahun. Papa lebih besar daripada saya. Dada papa kecil. Umur papa empat tahun?”

Sambil cengar-cengir saya jawab, “Yaa nggak jauh beda lah kita. Papa juga masih muda kok”

Dia ke dapur. Saya bangun dari posisi sit-up sambil melakukan gerakan peregangan istirahat pada pinggul dan tangan. Saya lihat ia buka lemari pendingin mencari minuman es jeruk kesukaannya. Saya kira, obrolan siang itu selesai sudah. Namun dari balik pintu lemari pendingin ia bertanya lagi, “Kenapa dada papa kecil?”

Saya cuma diam, cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala. Itu tandanya, percakapan ini masih akan berlangsung lama. Dan saya harus lebih banyak berolahraga akibatnya.

Saya ikut ke dapur, menyeruput es teh manis. Setelah itu saya ambil nafas sebentar lalu mulai posisi push-up dan bertanya kepadanya agar duduk di atas punggung saya.

Sambil menghisap isi botol es jeruknya dengan sedotan, ia patuh duduk di atas punggung. Dan mulailah saya bercerita.

“Dulu papa minta sama Pak Ali bos papa, supaya papa sekolah lagi. Tapi Pak Ali bilang papa sudah terlalu banyak sekolah. Pak Ali bilang papa harusnya mengajar saja. Papa kecewa”

“Terus kamu marah, papa?”

“Marah sih nggak. Tapi papa sedih. Tapi papa nggak bisa sedih, karena bos papa bilang lebih baik ilmu papa dibagi sama orang jadi papa pikir ia benar. Kalau papa sekolah lagi ilmunya buat papa sendiri saja. Tapi kalau papa mengajar ilmunya kan bisa buat  papa dan buat banyak orang. Jadi papa mengajar deh. Salah satu mahasiswi papa namanya Mel. Kamu kenal Mel? Dulu kan pernah papa kenalkan”

Lalu saya tertawa mendengar jawabannya, “Dulu kan saya masih kecil papa. Kamu jangan mengharapkan saya ingat dengan banyak teman kamu dong?”

Saya semakin terbahak-bahak ketika ia turun dari punggung, mencabut sedotan dari botol es jeruk dan memperlihatkan ke depan mata saya. “Waktu itu pasti saya lebih kecil dari ini!”

Setelah ia naik lagi ke punggung, saya melanjutkan cerita. “Mel itu mamanya Georgie dan Anne. Mereka berdua waktu masih bayi, menyusu pada Mel. Sama seperti kamu juga dulu menyusu pada mama. Cintaku Novi, kalau perempuan menyusui bayi biasanya dadanya tambah besar. Karena ada susu di sana. Sama seperti dada Mel. Tapi sayangnya ketika Georgie dan Anne sudah tidak menyusu lagi, dada Mel masih tetap besar sekali”

Ia diam. Saya juga tidak dengar suara botol es jeruknya. Tanda kalau ia sedang amat mendengar cerita dengan penuh konsentrasi.

“Punggung Mel jadi sakit. Kalau jalan susah. Sebab dadanya besar sekali”

“Kalau begitu, kenapa Georgie dan Anne tidak menyusu saja terus?”

“Sayang, kalau anak sudah besar biasanya mereka berhenti menyusu sama mamanya. Georgie sudah sepuluh tahun, Anne juga sudah delapan tahun. Jadi mereka sudah tidak menyusu lagi sama mamanya”

“Mel sakit?”

“Iya kasihan Mel. Kalau jalan susah. Kalau duduk susah. Karena dadanya terlalu besar. Jadi ia ke dokter. Ke rumah sakit. Dada Mel harus dikecilkan. Jadi waktu di rumah sakit dada Mel dikecilkan”

“Bagaimana dikecilkan dadanya? Diambil susunya untuk rumah sakit?”

Saya tertegun berhenti push-up sebentar. “Wah kalau itu papa juga nggak tahu sayang. Yang pasti beberapa bulan kemudian Mel kembali ke kelas papa. Dan dadanya sudah lebih kecil daripada dulu. Kamu tahu cintaku, ternyata ia sekarang jauh lebih bahagia punya dada kecil ketimbang punya dada besar”

Novi Kirana diam. Saya tahu, logika dalam cerita yang telah saya ceritakan masuk ke dalam benaknya. (*Itu artinya; saya sudah boleh berhenti push-up. Hehe*). Ia lalu turun dari punggung. Saya duduk dihadapannya. Sambil masih memegang botol es jeruk lalu duduk diatas pangkuan saya.

Sambil memangkunya saya bilang, “Anakku sayang, papa cinta kamu. Super cinta kamu. Papa tahu kamu cinta papa. Tapi yang lebih penting lagi, kamu harus mencintai diri kamu sendiri”

Dia berdiri, berbalik lalu memberikan kecupan di hidung saya. Sambil memeluk ia berbisik di kuping saya, “Saya cinta kamu papa. Walaupun dada kamu kecil walaupun dada saya kecil”

Tiba-tiba, saya merasa jadi lelaki berdada kecil yang paling bahagia di muka bumi ini.


Menjadi Tua Itu Pasti

Sooner or later they all will be gone
Why don’t they stay young
It’s so hard to get old without a cause
I don’t want to perish like a fading horse

(Alphaville – Forever Young – 1984)

Dekade berasal dari bahasa Yunani Kuna ‘Dekas’, artinya sepuluh. Dekade sendiri adalah ungkapan yang berarti masa dalam sepuluh tahun. Jadi kalau anda kenal orang yang bernama Deka, bisa jadi ada kemungkinan punya hubungan dengan angka sepuluh :)
(*Walaupun bisa jadi Deka itu singkatan dari Adek Kakak, hehe*)

Indonesia dua dekade lagi, seperti apa?

Itu yang ditanya oleh teman-teman saya pada suatu siang di bawah matahari yang bersinar dengan amat bagusnya.

Saya tidak tahu. Hanya itu jawaban yang terlontar dari mulut saya. Bagaimana yaa Indonesia dua puluh tahun lagi. Apa perkembangan budayanya sama dengan Indonesia era tahun 70-an pindah ke 90-an? Atau loncatan teknologinya mirip antara Indonesia era 80-an ke tahun 2000?

Apa politisinya makin gila? Apa sudah berhasil menerbangkan astronot ke bulan atau ke antariksa? Apa sudah paham bagaimana bersikap ketika menghadapi bencana? Apa masih banyak kekerasan terhadap kemanusiaan? Atau malah kita semakin toleran? Apa isi laut dan hutannya masih ada? Bagaimana sistem pendidikannya, apa layak buat anak cucu kita? Bagaimana perilaku kesehatan warga?

Entah kenapa saya jadi tambah banyak pertanyaan. Saya pikir ada baiknya saya tidak jawab apa-apa.

Tapi karena semua mata melihat ke muka saya, jadi saya jawab juga pertanyaan berat itu. “Saya tidak tahu, tapi saya pikir, orang Indonesia sih makin banyak saja”, sambil garuk-garuk kepala.

Mereka tidak kaget ketika saya bilang Indonesia sudah memiliki lebih dari 200 juta jiwa penduduk di dalam negeri saja. Kata mereka itu wajar, sebab Indonesia memiliki letak geografis lumayan besar.

“Kamu ada rencana pulang ke Indonesia?” tanya Mbak Ita sambil membetulkan letak gagang kacamata hitamnya.

“Iya. Tapi nggak tahu kapan. Anak saya masih kecil, Mbak”

“Kalau kamu pulang orang Indonesia yang di Indonesia jadi tambah banyak dong?”

Saya tertawa. Ya memang benar. Kalau saya pulang ke Indonesia, pasti orang Indonesia tambah lagi satu. Syukur kalau kehadiran saya bisa membantu banyak orang. Kalau tidak, kan cilaka. Bisa-bisa malah jadi benalu.

Malamnya, setelah pulang ke rumah saya berfikir lama. Wah bagaimana yaa Indonesia dua puluh tahun lagi?

Kalau belum jadi meninggalnya, saya pasti tambah tua. Eh, bagaimana rasanya tua di Indonesia?

Karena saya selama ini hanyalah buruh pabrik kecil di belahan dunia lain, pertanyaan lanjutannya adalah; bagaimana rasanya jadi tua di Indonesia, tanpa tunjangan apa-apa dari pemerintah, tanpa asuransi, tanpa pensiun? Apalagi tanpa keluarga?

Cerita Dari Swedia

Di Eropa, Swedia terkenal sebagai negara yang paling menghargai penduduk senior (65+). Mulai dari akses mobilitas hingga pelayanan kesehatan, semuanya hampir dipastikan terjamin dengan baik. Para warga senior ini, kelihatannya memang mampu meminta pemerintah untuk menjamin hidup mereka.

Kenapa?

Jawabannya agak ajaib. Sebab para orang tua ini berkumpul dan membentuk partai. Namanya Sveriges pensionärers intresseparti yang kalau saya terjemahkan secara ugal-ugalan kira-kira adalah Partai Urusan Manula. Percaya atau tidak, pada tahun 2010 partai ini sama sekali tidak mendapat tempat di parlemen. Namun partai ini memiliki banyak sekali pemilih. Kalau diibaratkan di Indonesia, walaupun tidak punya wakil di DPR/MPR, wakil Partai Manula ini menempati posisi penting di tingkat kabupaten dan propinsi. Artinya; kebijakan grassroots ada di tangan mereka.

Untuk negara semacam Swedia dimana kebijakan akar rumput adalah basis dasar negara, maka para warga senior ini benar-benar amat punya suara. Jadi wajar saja kalau mereka mampu menyetir kebijakan lokal pemerintahan agar lebih menghormati para warga usia senior.

Vijay Goel

Vijay Goel

Cerita Dari India

Di India, lain lagi ceritanya. Vijay Goel, seorang mantan anggota parlemen dari New Delhi akhirnya membuat semacam federasi. Namanya Federasi Warga Negara Senior. Isinya yaa para manula.

Agak aneh memang dengan kultur seperti India yang amat menghargai orangtua dan keluarga (setidaknya seperti yang ada di kitab Bharatayudha atau film-film Bolywood) dimana orangtua membesarkan anak dengan penuh cinta kasih dan ketika si anak dewasa akan menjaga orangtua mereka hingga akhir hayatnya.

Mengapa harus membuat sebuah perserikatan para manula?

Kata mereka; Saat ini penduduk India sudah membengkak jadi 1,2 miliar. Populasi penduduk yang menggelembung gila-gilaan ini berakibat pada problematika sosial. 30% orangtua usia lanjut, saat ini ditelantarkan oleh keluarga mereka. Hampir setengah dari mereka yang ditelantarkan bahkan pernah diperlakukan semena-mena oleh keluarga mereka. Yang paling parah adalah, lebih dari 70% dari para warga India yang berusia lanjut memperoleh masalah dengan masalah hidup yang basis seperti makanan, pakaian dan tempat tinggal.

Jadi, karena itulah mereka membuat sebuah perserikatan.

Cerita Dari Jepang

Lalu bagaimana dengan Jepang?

Begini, semenjak tahun 1980’an ada istilah yang berkembang di masyarakat Jepang. Istilah ini adalah kodokushi. Sebuah istilah yang sekali lagi kalau saya terjemahkan secara ugal-ugalan adalah ‘mati sendiri’.

Kenapa ada istilah ‘mati sendiri’?

Begini, pemerintah Jepang sejak pasca perang dunia ke II. Tepatnya pada tahun 1947. Mencanangkan sebuah program diet nasional. Namanya Kokkai (terjemahan ugal-ugalannya kira-kira artinya hari beras). Fungsi program ini adalah untuk menyehatkan pemerintah. Terutama untuk merestorasi keuangan mereka yang hancur total akibat mendanai perang.

Apa hubungannya dengan warga negara senior?

OK. Ternyata program pula diikuti oleh program-program nasional lain. Diantaranya adalah menyehatkan badan manusia Jepang. Logika akal sehatnya, di dalam tubuh yang sehat mampu menjaga negara agar tetap sehat. Nah sejak saat itu pula digalakkan program kesehatan manusia Jepang.

Logika lanjutannya; jika manusia hidup sehat maka tingkat harapan hidup makin tinggi.

Lalu apa yang terjadi jika manusia semuanya sehat dan makin panjang umur?

Jawabnya sederhana; makin banyak populasi manula. Saat ini, di Jepang satu dari lima orang berumur lebih dari 65 tahun. Menurut prakiraan pemerintah Jepang, jika kondisi seperti ini berlanjut maka tahun 2030 satu dari tiga orang di Jepang adalah manula.

Jika manula semakin banyak, maka kebutuhan akan perawatan medis, psikologis, sosial dan obat-obatan makin tinggi. Di kota padat seperti Tokya dimana suami istri benar-benar harus bekerja amat keras agar bisa hidup yang untuk bikin anak saja tidak ada waktu, mengurus orangtua mereka adalah sebuah hal yang berat. Kini semakin sering para orangtua tinggal jauh dari anak-anak mereka. Hidup sendiri.

Dan ketika meninggal mereka menjadi kodokushi. Mati sendiri. Ada yang meninggal terbaring di samping tumpukan baju yang baru diambil dari mesin cuci, ada yang meninggal karena terantuk dinding ketika mengganti seprei kasur ada pula yang meninggal sambil menonton televisi. Ironis. Akibat pola hidup yang serba otomatis dan individual, mayat mereka biasanya baru ‘ditemukan’ setelah berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun setelahnya. Bahkan ada yang ketika ‘ditemukan’ sudah jadi tulang belulang.
Pada tahun 2008, di Tokyo, di satu kota saja, lebih dari 2200 manula menjadi kodokushi. Sejak saat itu bisnis healthcare manula pun menjadi booming. Sebuah bisnis yang cukup rikuh dalam budaya Jepang; mempercayakan orangtua mereka di tangan orang yang tak dikenal. Namun mau bilang apa lagi, toh lebih baik daripada orangtua mereka tidak ‘mati sendiri’. Jadi alam bawah sadar yang terpola oleh kulturnya masih bisa bilang bahwa ia bukan anak durhaka.

Cerita Dari Amerika

Tapi, ternyata masih lebih baik ketimbang manula Amerika.

Menurut riset ahli bunuh diri Dr. Yeates Conwell dari University of Rochester di Minessota sana, katanya bunuh diri di kalangan warga manula saat ini terjadi hingga batas angka yang mencengangkan. Setiap sekitar 90 menit terjadi upaya bunuh diri dikalangan warga manula di Amerika Serikat. Entah sukses atau tidak, yang pasti 13% warga negara AS adalah manula dan seperlima dari mereka meninggal gara-gara bunuh diri.

Penyebab bunuh diri para manula Amerika itu antara lain adalah kekurangan hubungan sosial dengan keluarga atau kerabat, kekurangan tidur, masalah yang berelasi dengan memori dan hal-hal acak lainnya.

Cerita Dari Indonesia

Tapi itu kan di luar Indonesia. Di Indonesia dong sih mah beda :)

Jadi kalau ditanya apakah saya mau pulang ke Indonesia, maka akan saya jawab bahwa keinginan itu ada dan besar sekali adanya.

Tapi kalau ditanya apakah saya mau menghabiskan masa tua saya di Indonesia, maka saya pikir jawaban saya adalah, “emangnya masih mau jadi tua?”

Ahh, tapi itu kan saya. Tidak usah diperhitungkan deh. Anggap saja angin lalu. Toh saya bukan siapa-siapa.

Anda bagaimana? Punya keluarga yang senior? Bagaimana Anda memperlakukan mereka? Anda pikir, Anda akan diperlakukan sama pada 20 tahun mendatang?

Eh omong-omong… Masih mau jadi tua?


Gado-Gado Pak Heru

“Lapar nih, makan siang yuk? An, kita makan dimana?” Tanya Girda sambil mengusap kepalanya yang botak licin.

Aan menjawab, “Di kebon aja. Si Arip pasti belum pernah nyobain gado-gado Pak Heru”

Saya terbengong-bengong menatap dua manusia itu yang entah bagaimana sibuk diskusi mengenai bumbu gado-gado diantara rerimbunan tumpukan naskah karya Chomsky. Perut saya keroncongan. Lapar. Maka itu memberanikan diri bertanya, “Hey bung, gua nggak punya duit nih. Gimana gua bisa makan siang dong?”

Girda menatap Aan, “Kau yang bayarin yaa An siang ini, besok gua lah. Gua juga lagi kantong tipis nih hari ini”

Aan menatap saya dan Girda bergantian, “Gila kalian bedua. Sampe makan siang aja kasbon sama gua”. Yang dijawab Girda dengan tawanya yang mirip kekehan tokoh Bert dalam serial anak-anak Sesame Street. Saya sih, seperti biasa hanya cengar-cengir saja sambil garuk-garuk kepala.

Akhirnya kami bertiga keluar dari kantor itu menuju tempat makan siang. Yang mengagetkan saya, ternyata yang mereka maksud dengan ‘gado-gado kebon Pak Heru’ adalah benar-benar di kebun depan kantor mereka. Sepuluh meter dari pintu keluar, ada warung cukup menampung orang sekitar 20. Ternyata, itu warung makannya. Terletak di dalam halaman depan rumah Pak Heru yang cukup luas.

Dan kantor mereka, menempel dengan rumah Pak Heru.

Kami bertiga lalu duduk takzim di bangku kayu panjang. Menatap meja kayu panjang dan beberapa kaleng kerupuk di atasnya. Sambil malu-malu kucing, cengiran saya dilihat Aan. “Nih Rip, kerupuk udangnya. Da, kau mau kerupuk kulit?” kata Aan sambil melemparkan sebungkus plastik kerupuk berwarna putih berbentuk bundar lebar ke hadapan saya.

Setelah diberi kerupuk, jiwa saya tenang kembali (*Iya, saya kalau lapar memang kebingungan. Maunya melamun saja. Entah kenapa? Misterius sekali ini penyakit.*). Lalu mulailah saya mengoceh kiri kanan. Girda dan Aan menoleh. Mungkin tertarik mendengar beberapa dongeng saya. Tidak lama kemudian, gado-gado dan es teh manis datang. Saya berhenti mengoceh dan makan dengan lahap. Jiwa saya makin tenang. Hahaha.

Habis makan, dengan santainya saya berteriak pada bapak-bapak yang kelihatannya tadi mengulek sambil kacang, “Pak Heru! Enak banget bumbu gado-gadonya. Apa rahasianya Pak?”

Si tukang gado-gado diam saja. Menoleh pun tidak. Girda dan Aan melongo memandang saya. Aan menimpali, “Lu ngomong ama siapa, Rip?”

Dengan tanpa dosa saya menjawab, “Ama Pak Heru, tukang gado-gadonya. Kok dia nggak nyahut yaah?”

Girda tertawa tebahak-bahak (yang sumpah mati mengingatkan saya pada Bert). “Gila lu Bung. Pak Heru itu yang punya rumah dan kebon ini. Yang dagang gado-gado sih bukan Pak Heru!”

Saya kaget. Tersipu. Lantas cengar-cengir malu akibat sok tahu.

Itu pertama kali saya dengar nama Pak Heru. Kalau ingat nama Pak Heru, saya pasti ingat ‘tragedi gado-gado sok tahu’. Hehehe.

Kejadian ini sudah berlangsung tahunan lalu. Entah pastinya kapan saya lupa. Saya pikir sekitar lima atau enam tahun lalu. Waktu itu saya ada di Jakarta. Tinggal untuk sementara. Singgah dalam beberapa bulan saja.

Sekarang. Girda entah kemana dan Aan juga entah ada dimana, saya tidak tahu. Yang pasti, saya sudah hampir lupa kejadian itu.

Dua minggu belakangan ini, tiba-tiba gado-gado Pak Heru muncul lagi di benak saya. Beberapa surat kabar Indonesia memberitakan bahwa Pak Heru makamnya dibongkar. Sekelompok orang berjubah reliji meminta agar jenazah Pak Heru dibongkar dari peristirahatan terakhirnya di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Kata si penuntut, Pak Heru terlibat gerakan PKI. Tak layak jadi pahlawan.

Oh ya, yang saya bilang dari tadi soal gado-gado dan Pak Heru, memang tidak lain dan tidak bukan adalah bapak Letnan Kolonel Udara Heru Atmojo almarhum yang meninggal akhir Januari 2011 lalu. Yang hingga hembusan nafas terakhirnya, tidak pernah terbukti bahwa beliau terlibat G30SPKI. Beliau hingga akhir hayatnya dituduh, distigma, dikotori namanya tanpa pernah sedikitpun dibela oleh negara yang pernah dibelanya dengan seluruh butir-butir keringat dan darah dalam masa revolusi kemerdekaan.

Iya benar, Pak Heru yang itu.

Mendengar berita itu, saya kaget. Dan lebih kaget lagi ketika membaca bahwa Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono berkata bahwa pemindahan jenazah Pak Heru sesuai dengan aturan.

Aturan dari mana? Adakah aturan di Republik Indonesia bahwa:

  1. Panglima Tentara Nasional Indonesia berhak memindahkan makam?
  2. Panglima Tentara Nasional Indonesia berhak menentukan dimana pahlawan dimakamkan?
  3. Panglima Tentara Nasional Indonesia mendengar dan menuruti ide sekelompok kecil manusia ekstrim berjubah reliji, seperti kerbau dicocok hidungnya?

Kalau iya, layak berdukalah kalian para tentara. Wahai teman-temanku, saudaraku, tetanggaku, dan para brotherhood yang sudah ada maupun akan tiba dalam jajaran satria TNI; aku sedih atas nasib kalian. Sebab jika suatu hari negeri ini akan dilumat oleh kekuasaan gelap dan kalian mati-matian membelanya, dan lalu kalian pun akhirnya meninggal dan kami mengangapmu pahlawan. Maka untuk mengubur jasad kalian pun kami harus pikir-pikir dulu sebelum mengali lubang. Yang lebih sedih lagi, jika sekelompok fasis bahkan meminta jenazah kalian dikubur di tempat sampah maka bos kalian, si Panglima TNI itu mungkin akan diam dan menurut saja.

Memanggil seseorang dengan kata pengecut adalah sebuah kalimat keras yang perlu alasan amat kuat untuk menggunakannya. Namun sebagai seorang tentara, mungkin sang Panglima perlu belajar lagi apa artinya mati.

Atau mungkin, perlu belajar lagi apa definisi seorang pahlawan.

Jika kita bahkan gagal membela mereka yang mati untuk kita, bagaimana kita bisa membela mereka yang berupaya sekuat tenaga untuk tetap hidup… untuk kita?


Tukang Cak

Masa sekolah dulu, boleh dibilang saya sama sekali tidak memiliki prestasi yang memadai. Nilai saya untuk semua mata pelajaran adalah rata-rata. Sementara yang ada dalam kategori di bawah rata-rata, jelas semua mata pelajaran yang berbau norma moral dan agama. Entah kenapa segala sesuatu yang berhubungan dengan norma moral dan agama, nilai saya selalu merah.

Satu mata pelajaran yang nilainya di atas rata-rata, mungkin hanya matematika. Dan itu pun tidak semua matematika, sebab saya hanya menyukai cabang keilmuan matematika yang bernama teori kemungkinan (probability theory).

Mengapa saya menyukai teori kemungkinan dalam matematika? Sebelum saya jawab ini, ada baiknya jika saya menerangkan apa itu teori kemungkinan dalam matematika.

Menurut kamus, teori kemungkinan dalam matematika adalah;

Cabang matematika yang bersangkutan dengan analisis fenomena acak. Objek utama dari teori kemungkinan adalah variabel-variabel yang terlihat acak atau kejadian-kejadian tertentu. Peristiwa matematis dapat dengan jelas terlihat dalam kejadian yang berkembang dari waktu ke waktu dalam mode yang tampaknya acak. Misalnya jika seseorang melemparkan koin atau dadu dianggap peristiwa acak, maka jika ia berulangkali mengulangi urutan kejadian acak tersebut maka akan menunjukkan pola-pola tertentu, yang dapat dipelajari dan diprediksi. Teori kemungkinan adalah dasar statistik. Ia berlaku untuk deskripsi sistem yang kompleks seperti misalnya digunakannya pada mekanika statistik untuk menjelaskan banyak hal

Waktu pertama kali Bu Atu (pengajar matematika teori kemungkinan) menjelaskan hal ini, saya langsung konsentrasi. Di otak saya hanya dua kata kunci yang tertangkap. Satu ‘dadu’. Satu lagi bagian ‘menjelaskan banyak hal’.

Gila! Gua bisa kaya kalo begini. Itu satu-satunya hal yang ada di otak saya. Bagaimana tidak, judi yang selama ini saya anggap misteri, ternyata bisa dipecahkan dengan matematika!

Waktu zaman saya belajar teori ini, Indonesia sedang keranjingan judi namanya Togel. Singkatan dari Toto Gelap. Judi Toto sendiri katanya datang dari Malaysia/Singapura. Entah saya tidak tahu pastinya, yang pasti di di kampung saya Cilincing manusia berlomba-lomba pergi ke bandar setiap malam untuk bertaruh pada sepasang angka (atau lebih) pada beberapa carik kertas yang disediakan bandar judi lokal. Ada embel-embel gelap, yaa karena memang bukan resmi binaan pemerintah.

Warga keranjingan Togel. Murah sih, seribu lima ratus rupiah sudah dapat bertaruh untuk dua angka. Kalau menang, bisa dapat puluhan kali lipatnya. Mulai dari tukang becak hingga bos kapal nelayan, semuanya hobi pasang judi togel.

Togel lalu jadi epidemi. Di poskamling tempat warga berkumpul, pasti selalu ada sebuah kertas berukuran A4 fotokopi yang isinya adalah gambar-gambar binatang atau benda yang tertera dalam kotak-kotak kecil. Di bawah icon-icon tersebut ada angka, biasanya dua huruf. Ketika akhirnya sudah jadi wabah, bahkan tiang listrik pun ditempeli oleh kertas-kertas tersebut. Yang pasti, kampung saya berubah bagaikan masa pemilihan lurah. Dimana-mana ada kertas promosi. Isinya icon dan angka.

Apa sebenarnya isi kertas fotokopi tersebut? Sederhana. Katanya itu penafsir mimpi. Kalau suatu malam Anda bermimpi diterkam macan, lihat saja kertas itu. Pada icon macan dibawahnya tertera angka 15. Maka pergilah ke bandar, pasang angka 15 sambil berharap mimpi Anda jadi kenyataan. Lalu lantas jika suatu hari bermimpi bertemu ular di sungai, maka pasanglah angka 23. Jangan 32, sebab itu artinya ular laut, bukan ular yang hidup di air tawar.

Mengapa warga kampung saya sudah sedemikian percayanya pada mimpi?

Ketika kemiskinan sudah menjerat, keadilan sosial hanyalah angan-angan, siapa lagi yang bisa dipercayai selain mimpi. Maka itu, jauh lebih banyak para penggila judi Togel adalah para nelayan kecil hingga tukang becak ketimbang para bos kapal. Buat mereka, hanya mimpi yang dimiliki dan satu-satunya yang murah yang bisa terbeli.

Lalu, apakah saya jadi tergila-gila dengan judi togel pula sebagaimana warga kampung lainnya?

Tunggu dulu ahh. Cerita saya belum sampai ke sana. Mari kita balik lagi ke soal mimpi. Masih ingat cerita di atas bahwa warga mengandalkan taruhan mereka pada mimpi. Secara literal, benar-benar mimpi. Artinya mereka tidur dulu untuk mendapatkan mimpi yang lalu ditukar secarik kertas demi mendapatkan mimpi baru.

Jadi begini, jika seorang warga (mari kita sebut saja si Fulan) bermimpi bertemu lantas diterkam macan, maka ia dengan tidak segan-segan memasang angka 15 pada taruhannya. Tapi bagaimana kalau pada sebuah siang di Cilincing yang panas ia bermimpi bertemu macan di tikungan, lantas dikejar singa hingga pematang lalu ditelanjangi ular di sawah hingga setelahnya diperkosa ramai-ramai oleh gajah? Angka apa yang harus ia pasang?

Nah ini lah gunanya saya (dan gunanya teori kemungkinan). Yang pasti saya tidak akan menjelaskan disini betapa dengan ugal-ugalannya saya menggabungkan teori kemungkinan dan analisa Freud dalam mengubah mimpi para manusia malang itu menjadi angka kongkrit yang mereka pasang sebelum masa pengundian tiap malam tiba.

Saat ini, mungkin jabatan yang saya pegang bisa disebut setara dengan kalimat ‘penasihat spiritual’. Zaman itu, nama saya disebut dengan panggilan ‘tukang cak’, orang yang melihat angka-angka acak. Padahal sebenarnya, dalam zaman apapun saya pikir sebutan untuk saya saya adalah manusia yang keterlaluan menyedihkan yang mencoba mengambil keuntungan dari para manusia malang.

Setiap konsultasi, saya dibayar seribu rupiah. Lumayan. Jika sehari ada sepuluh pelanggan, then you do the math. Zaman itu, dengan uang hasil konsultasi saya bisa beli rokok sebungkus, mie instan pakai telor bahkan berbotol-botol coca-cola. Lambang pergaulan anak muda. Jadi, saat itu kebahagiaan saya berdiri di atas jemari para nelayan dan tukang becak miskin yang terus bermimpi. Sungguh mengenaskan.

Eh apakah sudah saya bilang kalau nilai moral dan reliji saya rendah? Kalau sudah, Anda mungkin bisa mahfum manusia macam apa saya itu. Sebab selama saya bisa mengkalkulasi semua angka dan kemungkinan, saat itu saya akan tetap jalan terus. Menyenangkan.

Iya, saya jalan terus. Selama karir saya sebagai tukang cak, padahal hanya tiga kali saja bisa menebak benar. Artinya sederhana, teori kemungkinan yang saya agung-agungkan ternyata tidak bisa mengalahkan judi togel. Pola angka yang saya bangun, tidak terbukti sukses. Kalau setiap malam ada dua puluh pelanggan dan dalam sebulan hanya mampu menebak tiga taruhan dalam empat digit yang benar, maka perbandingan analisa acak saya boleh dibilang sama sekali tidak berhasil.

Tapi apa lantas para nelayan dan buruh pabrik tekstil kecil itu percaya walaupun perhitungan matematis saya gagal namun saya bukan tukang cak? Hohoho… Tidak. Sama sekali tidak. Mereka tetap percaya kalau saya mampu mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Kepada siapa lagi mereka bisa berharap. Mimpi mereka untuk hidup layak sebagai manusia normal sudah binasa. Maka jika mereka masih punya mimpi diatas mimpi, yaa harus dijaga. Maka itu saya tetap eksis.

Mereka percaya kalau saya ‘sakti’. Dan sebagai orang sakti tentu saya punya previlige khusus. Mirip ambtenaar atau keturunan darah biru pada masa kolonisasi dahulu. Jadi ketika perhitungan saya salah, tentu saja mereka menyalahkan diri sendiri dengan kalimat, “Ahh emang udah gini kali nasib gua malem ini”. Sama sekali tidak pernah menyalahkan saya. Sebab besok malam kami akan berkumpul kembali di poskamling untuk sibuk menganalisa mimpi dan menebak angka. Tentu saja dengan sukarela uang seribu rupiah berpindah tangan setelahnya.

Suatu hari di poskamling, sudah bisa ditebak. Ada yang bertanya, “Kenapa lu ga masang?” pada saya.

Saya jawab, “Ilmu gua luntur nanti”

Seorang bapak-bapak yang mengepulkan asap rokok kreteknya duduk berselonjor ke dinding pos. Baru pulang dari laut. Masih bau amis, bertanya lanjut “Emang belajar di mana dulu gituan”

Saya jawab sekenanya, “Pak Ramli pan tau ndiri, engkong aye orang Banten. Kalo liburan sekolah aye mah ke sono, Pak. Ngelmu. Di sono di Kasemen. Deket mesjid agung. Ini ilmu putih, Pak. Dapetnya aja dari kiyai”

Mendengar itu, biasanya warga kampung saya jauh lebih percaya daripada alasan-alasan lainnya. Ketika hidup sudah tidak lagi logis, rasionalitas bukan sebuah jawaban yang layak terdengar. Apalagi kalau sudah bawa-bawa simbol agama. Seakan jawaban apapun yang tersampaikan sudah direstui oleh langit. Dukungan pembenaran atas mimpi mereka.

Saya malas menjawab kalau saya lebih percaya upaya dagang dengan transaksi jual beli jauh lebih signifikan menguntungkan daripada judi. Pertama, akibat desakan ekonomi sehari-hari mereka biasanya sudah mulai mual duluan apabila mendengar kata ‘modal’. Kedua, saya sering adu argumen yang berakhir absurd ketika mereka menjawab, “dagang kan urat. Cuman yang punya urat dagang doangan bisa dagang”. Ketiga, sebab beberapa orang menganggap bisnis itu tidak lebih dari judi dalam bentuk lain. Keempat dan sekaligus yang terakhir, saya pernah memicu perkelahian karena bilang, “Judi itu ibarat kata naek haji. Buat nyang mampu aja lah. Orang susah ngapain pake judi segala!”

Jadi, maka itu saya lebih memilih menjawab sekenanya.

Namun jawaban sekenanya itu tentu saja tidak berlaku di depan muka Ibu saya yang curiga anaknya sudah berbulan-bulan tidak minta uang jajan. Dan cerita ini pun akhirnya berakhir dengan anti klimaks. Seorang anak yang masih tinggal di rumah orangtua, tidak sanggup melawan meneruskan bisnis di area perjudian demi menjaga nama baik keluarga.

Saya berhenti jadi tukang cak. Profesi yang rendah dimata para agamawan karena membantu suburnya industri judi. Sekaligus profesi yang hina di mata moralis, karena sama sekali tidak etis ikut menghisap darah para manusia yang berada dalam jaringan rantai makanan paling rendah.

Tidak lama setelah saya berhenti, pemerintah dan para cendikiawan agamis memaklumkan perang terhadap judi togel. Tiap malam di kampung kami ada razia polisi. Bandar yang kebetulan buka lapak, disergap dan ‘dibina’. Para nelayan dan buruh kecil tidak lagi duduk bersandar di poskamling menanti semilir angin laut yang membawa kantuk mereka mendulang mimpi. Semua orang takut berhubungan dengan judi togel. Di koran-koran muncul fatwa bahwa togel lebih menakutkan daripada HIV.

Semua orang bekerja. Perjudian dimusnahkan.

Setelah judi musnah, pajak televisi kok yaa jadi murah. Dimana-mana warga ramai-ramai memborong televisi. Ada yang ditaruh di ruang tamu jadi pelengkap perabotan pajangan. Ada yang ditempatkan di ruang makan, seakan bagian dari lauk pauk. Ada yang ditaruh di kamar tidur, mungkin untuk jadi saksi ketika mereka melakukan adegan reproduksi.

Dimana-mana orang punya televisi.

Ketika televisi jadi budaya baru, muncul serial-serial yang tiba-tiba membuat ibu-ibu jadi pecandu. Lalu menular ke anak-anak mereka. Lalu tentu saja para suami mulai ikut-ikutan.

Bedanya dengan judi togel, kini dapur jauh lebih ngebul. Uang yang biasanya dihamburkan para bapak di secarik kertas berisi angka, kini bisa untuk beli makanan dan seragam sekolah anak. Ibu-ibu mulai bisa bersolek. Sales keliling menjajakan kosmetik. Tentu saja biar cantik. Biar mirip bintang yang mereka lihat di televisi. Gaya bicara pun mulai berubah, anak-anak SD bahkan pernah teriak kalimat “Oooh tidaak!!” ketika melihat temannya jatuh dari sepeda. Meniru gaya bicara para artis sinetron. Bapak-bapak mulai bermimpi bisa naik mobil dan bahkan memiliki kendaraan roda empat. Sebab itulah tipikal bapak ideal yang mereka lihat di televisi.

Iya, televisi membuat perbedaan.

Sungguh beda dengan ketika judi togel masih ada.

Sebagaimana teori kemungkinan, jika ada perbedaan maka pasti ada persamaan. Loh apa persamaannya antara televisi dan judi togel?

(*Empat paragraf sisa dipotong. Selain kepanjangan isinya kelihatan seakan saya mau menceramahi para pembaca budiman yang cerdas dan sudah tahu jawabannya apa. Ahh memang saya siapa sok-sokan mau menceramahi warga kampung. Saya kan cuma tukang cak yang kehabisan ladang garapan*)


Suatu Hari Di Pasar

Saya cerita begini kepadanya:

“Beberapa minggu lagi anak gua ulang tahun, gua mao dong beliin hadiah buat anak gua. Umurnya bakal tiga tahun. Gua mao beliin maenan anak-anak. Nah gua carilah maenan di pasar. Disana gua ngeliat karpet. Bagus. Karpet itu karpet maenan anak-anak, ada angka dan huruf. Jadi anak gua selain main, juga bisa sambil belajar. Pas gua tanya sama yang jual, dia bilang harganya sekian. Waduh, gua nggak punya uang. Jadi sambil permisi gua jawab, bang sori yaah saya cuman nanya doang. Saya nggak bawa uang. Tiga hari lagi saya gajian, nanti deh saya balik buat beli. Dua hari lagi abang masih jualan kan? Anehnya si abang tukang karpet itu diem aja nggak jawab pertanyaan gua. Tapi trus akhirnya buka mulut. Lo tau ga dia jawab apa?”

Ia menggeleng. Tidak tahu. Maka lantas saya teruskan cerita.

“Si abang tukang karpet mukanya jadi asem. Dia sambil ngotot berkali-kali ngomong, nih karpet tinggal satu-satunya. Saya nggak jamin masih ada sore ini. Kalo nggak buru-buru ambil, saya ga jamin situ masih bisa dapetin nih karpet. Lah gua kaget dong si abang jawabnya begitu. Maka itu gua tanya lagi, bang… abang dagangnya hari apa aja? Si abang sambil mukanya tetep asem jawab, yaa nggak tapi kalo sabtu pas kamu gajian sih keliatannya saya dagang. Pas gua denger jawaban ini, mukanya tetep asem. Ya udahlah, gua cabut aja pulang ke rumah. Daripada lama-lama di situ mungkin bakalan dia jadi tambah kesel”

Saya berhenti sebentar. Menenggak es teh. Ia menatap saya dengan rasa ingin tahu. Iya, saya yakin ia tidak percaya bahwa dongeng saya hanya berhenti di titik tersebut. Lantas ia bertanya lebih lanjut apa yang saya lakukan.

Saya rasa hari itu mungkin saya punya keinginan untuk bercerita. Matahari bersinar hangat di teras rumah. Menerpa meja kami yang menghadap jalan raya. Saya lanjutkan.

“Besoknya, gua ke pasar lagi. Lu tau ga… Si abang masih ada. Masih dagang dia. Nah gua sengaja melakukan penampakan di depan muka dia. Biar dia tau kalo gua lagi ngeliatin dia. Itu karpet yang gua incer, belum kejual. Masih sisa satu-satunya. Tapi dia diem aja tuh. Trus lusanya, gua dateng lagi ke pasar. Juga sama. Dia tau gua ngeliatin dia dan karpetnya juga belum kejual. Pas hari ketiga gua dateng lagi ke pasar, dia tetep ada dan karpetnya juga masih ada. Kesimpulan gua, dia dagang di situ tiap hari dan karpetnya emang ga laku-laku trus ngebohong sama gua biar gua beli karpet cepet-cepet. Tapi pas hari ketiga itu, mukanya tambah asem pas ngeliat gua. Dia sambil teriak bilang, hari ini kamu kan gajian ayo beli karpet saya!”

Ia berhenti mendekatkan bibir gelas ke mulutnya. Bertanya, “Trus lu beli ga karpetnya”

“Nggak. Gua bilang aja kalo gajian gua diundur”

“Astaga, lu bohong kan? Sejak kapan gajian lu diundur? Ngapain juga sih lu bohongin pedagang kecil?

“Iya gua bohong. Tapi entah kenapa gua bohong, gua juga nggak tahu. Mungkin gua marah karena dia ngebohong duluan. Mungkin gua kecewa karena dia juga dari awal ga tulus ketika mao transaksi bisnis ama gua. Iya gua bohong. Iya, gua salah”

Saya diam menunduk. Tiba-tiba ingat putri saya. Lalu merasa tambah bersalah. Hati saya tidak nyaman. Saya tidak akan mencoba melakukan pembelaan diri bahwa untuk membalas kebohongan harus pula dengan kebohongan. Atau bahwa si pedagang karpet melakukan itu atas dasar kemungkinan bahwa ia miskin dan butuh marjin untung harian. Atau bilang bahwa saya juga buruh kecil yang harus berpikir berulang-ulang untuk beli karpet hadiah buat anak sebab artinya akan memotong belanja kebutuhan hidup bulanan. Atau bohong adalah salah satu etika bisnis modern. Tidak, saya tidak butuh semua pembelaan itu.

Bisnis itu bagaikan relasi dalam cinta, tidak akan jalan tanpa saling percaya. Si tukang karpet salah? Iya. Saya salah? Iya. Lalu diantara kami timbul rasa saling tidak percaya? Iya. Lah kalau semuanya iya, solusinya apa?

Ia bertanya lagi sambil terpejam dengan wajah menghadap matahari. Hangat. Saya bilang padanya bahwa saya tidak punya jawabannya saat ini. Sebagaimana saya tidak punya jawaban atas semua masalah dalam hidup.

Karena ia tidak bilang apa-apa dan siang ini semakin menjemukan, saya bertanya kepadanya, “Lu gantian sekarang. Pernah bohong sama pedagang?”

“White lies atau bohong biasa?”

Saya cengar-cengir menjawabnya, “Apa bedanya, bohong yaa bohong. Serigala mau berbulu domba atau berbulu ketek, tetap aja serigala”

“Di Bali, gua baru turun dari bus pariwisata. Diserbu pedagang cinderamata. Males banget deh. Dipaksa-paksa beli, kaos ditarik-tarik. Sebel gua”

Saya terpaksa senyum. Saya tahu apa yang ia alami, “Trus lu bilang apa?”

“Gua sambil pake kacamata item bilang I don’t speak Indonesia sorry. Bilangnya kepatah patah, biar dia tau gua juga ga ngerti banget bahasa inggris. Sialnya si tukang gelang nanya gua darimana. Gua jawab aja dari jepang. Eh gila tau, dia nanya gua pake bahasa jepang. Lancar banget. Dasar tukang dagang kali yah”

Saya ketawa. Dia lanjut berkata, “Trus gua nggak bisa jawab apa-apa lah. Boro-boro bahasa jepang yang gua tau kan cuma haik doang. Gua kabur aja terus ke kamar mandi. Anjrit, tukang dagangnya nungguin di depan WC. Untung aja ada tour guide yang manggil gua sebab turnya mao jalan. Nah si guide manggil gua pake bahasa Indonesia lah. Dia kan kenal gua. Pas gua keluar dari kamar mandi, tukang-tukang gelang itu sebel banget ngeliat gua sambil bilang kalau nggak punya uang bilang aja dari tadi, nggak usah ngaku orang jepang segala”

Senyum saya makin lebar mendengar ceritanya. Tapi setelah itu ia diam. Saya juga diam. Bersama kami tenggelam dalam hangatnya sinar matahari dan gemulai es teh yang semakin menari di kerongkongan.

Ia perempuan muda dari Jakarta, sukses dalam karir dan kini tengah berpikir untuk melanjutkan studi doktoralnya ke dapur untuk mengambil batu es. Di pintu ia berdiri bertanya, “Gua lupa kapan pertama kali belajar bohong. Lu masih inget ga pertama kali ngebohong? Gimana rasanya yaah?”

Saya tidak bisa menjawab. Buat saya itu retorika sebuah siang. Kenapa saya berbohong pertama kali dan bagaimana rasanya, saya tidak bisa menjawab. Saya lupa. Atau mungkin karena itu adalah ingatan buruk, saya coba lupakan. Sebab katanya sebagaimana mekanisme pertahanan diri, manusia suka mensortir memori tidak enak dan memasukkanya dalam klasifikasi khusus yang jauh tersimpan.

Anehnya, malam itu setelah para tamu pulang saya tidak berhenti berfikir mengenai bohong. Edan, apa jadinya muka bumi ini jika manusia tidak tahu cara berbohong? Edan, kenapa pula saya lupa pertama kali belajar berbohong. Apa iya karena terlalu seringnya dalam hidup saya berbohong saya sampai lupa kapan pertama kali berdusta? Ahh betapa menyedihkannya hidup saya…

Ah tapi itu kan saya. Tidak usah dipikirkan. Saya yakin Anda tidak seperti saya. Saya yakin Anda jujur-sejujurnya dalam hidup. Jauh lebih baik daripada saya. Hingga yakin bahwa Anda masih ingat pertama kali berbohong dan lalu bertobat setelahnya tak akan mengulangi lagi.

Eh, omong-omong Anda ingat pertama kali belajar berdusta? Gimana rasanya?

Susah jawabnya? Ahh tidak usah dijawab. Anggap saja itu retorika biasa :)