Strawberry

Saya baru sadar bahwa strawberry itu bukan buah.

Setelah mengobrol dengan seorang teman di meja makan, ia meyakinkan saya bahwa strawberry itu bukan buah. Kata beliau, kalau tidak percaya lihat saja di Wikipedia.

Waktu itu, saya dan beberapa orang yang lainnya segera menyangkal.

Bukannya kami tidak rela bahwa strawberry itu ternyata bukan buah (*Jadi apa dong?*). Kami hanya tidak rela; bahwa kepercayaan yang kami anut selama ini, ternyata diragukan kebenarannya.

Tidak lama kemudian saya kembali ke meja kerja saya. Penasaran euy. Dan mulai mencari di internet mengenai strawberry.

Ternyata teman saya benar. Strawberry itu bukan buah. Andaipun ia buah, nyatanya ia ternyata buah aksesori. Mirip dengan jambu mede.

Sampai di sini, saya bertanya-tanya. Bukan karena masalah teknis apakah strawberry dan jambu mede itu buah atau bukan. Melainkan bertanya-tanya, masalah keyakinan.

Yaitu, apa yang terjadi pada seseorang apabila ternyata penemuan atau teknologi baru ternyata merombak keyakinan terhadap apa yang ia percayai sejak dahulu kala?

Kaget, tidak rela dan menyangkal (lalu penasaran mencari pembuktian).., Seperti saya misalnya? Hehe

Atau marah dan menyembunyikan kepala dalam pasir?

Bicara masalah keyakinan memang rumit. Seperti misalnya, mau melemparkan fakta seperti apapun, kalau sudah yakin bahwa pinokio itu akan jujur selamanya, yaa susah.

Tapi, balik lagi ahh ke masalah strawberry.

Di kantor saya sekarang ada dua golongan yang terpecah. Satu yang percaya terhadap wikipedia. Satu lagi, yang beranggapan bahwa wikipedia adalah kesepakatan bersama. Dan sebagaimana umumnya kesepakatan, maka ia akan berubah tergantung teknologi serta siapa yang berkuasa.

Saya dimana?

Hehe, saya mah namanya juga orang kampung. Udik. Tentu saja doyannya ikut-ikutan. Kali ini, golongan yang saya ikuti adalah golongan yang mau membagi jatah makan siang strawberry bersama saya.

Jadi, mau yang percaya ataupun tidak. Sepanas apapun diskusinya. Makan siang saya selalu kebagian jatah strawberry.

Asooyy…

Nah sialnya, kebahagiaan saya ini tidak berlangsung lama. Beberapa orang sudah mencium gelagat ketidak-beresan ini. Beberapa diantaranya bahkan menuduh saya sebagai oknum.

Yaitu.., oknum tukang makan.

Dituduh begitu, saya mah ho-oh saja, mengamini. sambil cengar-cengir tentunya.

Rupa-rupanya, pendapat ini tidak diterima oleh sebagian besar yang menuduh begitu. Mereka bilang, saya harus memilih. Ada diantaranya bicara, “Kalo jantan, milih dong!”

Saya jawab, “Yang jantan-jantan biasanya hobi diadu”

Dia marah tuh, “Lu kan laki-laki Rip. Harus jantan tau sebagai laki-laki!”

Saya, sekali lagi sambil cengengesan menjawab, “Kalo idup sebagai laki-laki dipaksa harus memilih. Maka saya mah mendingan milih betina. Karena saya sudah punya keluarga, maka saya pass aja dah”

Dia makin mangkel. Marah campur kecewa. Kesal, tidak mendapat jawaban yang ia inginkan.

Nampaknya sih ia ingin diskusi yang panas.

Aneh. Bukankah lebih baik makan pisang goreng panas daripada diskusi panas?

Ngomong-ngomong soal diskusi panas. Beberapa tahun lalu saya pernah diwawancarai sebuah radio. Nama stasiunnya tentu tidak perlu saya sebutkan disini.

Waktu itu, saya di tanya soal pemilu.

Dengan panas berapi-api, saya jawab “GOLPUT!”

Golput itu akronim dari golongan putih. Dan tentu saja jawaban ini bukan jawaban yang didasari oleh pengetahuan mendalam. Melainkan dari rasa amarah yang membuncah. Maklum, baru saja diusir RI. Hehe.

Waktu itu, saya memang apatis terhadap perkembangan RI.

Kalau sudah apatis… Buat apa memilih? Sebab kepercayaan saya adalah, percuma punya wakil rakyat, isinya cuma tukang bohong semua. Percuma punya presiden, jika kroconya semua warisan orde nan busuk. Memilih atau tidak, kampung saya Cilincing, tetap saja miskin dan tertinggal.

Jadi, berbusa-busa lah saya menerangkan pada sang reporter cantik itu soal pilihan yang Golput.

Si reporter, yang sialnya tidak membawa payung. Ketumpahan lah muncrat jigong saya soal politik di RI di siang suatu musim semi itu.

Untung saja beliau ini nampaknya digaji lumayan cukup besar sehingga tabah bersabar menghadapi bacotan saya yang tidak jelas juntrungannya ini. Sambil terus bertanya pada saya, merunut pertanyaan yang ada di notebooknya.

Satu jam saya bla-bla-bla umbar busa. Hingga akhirnya satu pertanyaan yang membuat saya terdiam.

Ia bertanya, “Pak, tahu kah rencana garis besar para partai yang akan bertarung maju?”

Saya jawab dengan tegas, “Tidak tahu dan tidak perlu tahu!”

“Kalau bapak tidak merasa perlu tahu pesan mereka. Apa kira-kira pesan bapak untuk mereka?”

Saya kaget dan terhenyak mendengar pertanyaan itu.

Ia benar. Kalau saya tidak perlu tahu pesan mereka, maka mengapa mereka perlu tahu pesan saya? Kalau mereka tidak tahu pesan saya, bagaimana saya akan menuntut mereka mengadakan perubahan yang saya maui ketika mereka berkuasa.

Saya diam. Lalu menjawab pelan… “Saat ini saya tidak punya, Mbak”

Jawaban yang keluar dari mulut yang putus asa karena tidak punya kemampuan apa-apa. Jangankan punya kemampuan, harapan pun tidak ada.

Tidak lama kemudian wawancara usai.

Dan tidak lama kemudian, saya mendengarkan ketololan saya diperdengarkan ke seluruh penjuru dunia.

Iya, saya pikir saya tolol. Membuat diri saya Golput dan menyuruh banyak orang Golput, tanpa alasan yang jelas.

Andai saya tidak terlalu apatis… Andai saya sedikit saja mau membaca… Andai saya tidak terlalu menuruti emosi… Andai saya tahu alasan saya memilih… Maka tentu saja saya tidak merasa sebodoh itu ketika suara saya berkumandang di udara.

Tapi yaa sudahlah, itu sudah terjadi. Biar jadi pengalaman yang bisa dipelajari untuk di kemudian hari.

Tentu saja bebas dalam memilih. Apapun pilihannya. Selama bisa bertanggung jawab. Selama konsisten dalam amanah kata-kata. Kenapa takut memilih?

Atau, kenapa takut tidak memilih?

Maka itu, belajar dari pengalaman diatas, sekarang saya hati-hati dalam memilih. Termasuk diantaranya memilih strawberry itu buah atau bukan.

Sebab pada kondisi ini, memilih atau tidak memlih, saya tetap saja kebagian manis dan segarnya strawberry.

Hehe.

This entry was posted in bangaip, cerita_kerja and tagged . Bookmark the permalink.

11 Responses to Strawberry

  1. Pingback: Yang Jantan Itu Biasanya Doyan Diadu « Arif Kurniawan as Bangaiptop

  2. aRuL says:

    wah bang,… filosofinya mantap banget…
    menentukan golput atau tidak itu setelah kita mempelajari platform partai2 atau kalo perlu yg sudah diberikan partai yg akan kita dukung.
    Ironi memang ketika kita menggencarkan golput tapi kita tidak tahu menahu tentang isi pemilu asal jeplak aja “golput”.

    -0-
    Hehe, saya mah untungnya tidak filosofis, Rul. Jadi pada intinya, saya ini masih belum mantap lah… Hehe.
    Tapi iya sih, kamu benar, ironi ada dimana-mana. Kadang pun saya sendiri tanpa sadar terjebak dalam pusaran itu. Kalau sudah selesai dilakukan dan lalu tersadarkan, paling bisa hanya “Yaah, kilap lagi dah”.

    Hehe

  3. Ceritanya jujur banget.

    -0-
    cita-cita saya ingin menjadi gadis jujur, Mas Dewo. … Sayang kandas.

    Hihihi

  4. Manusiasuper says:

    Sudah berkunjung ke tulisannya Bos Sora, Bang? Saya menemukan similaritas dengan tulisan abang ini, tapi bukan soal kejantanan…

    Link Sora

    -0-
    Sudah. Similaritasnya bingung saya. Tulisannya Sora mah canggih euy. Bahasannya hebat begitu. Secara beliau itu ilmuwan. Hehe.

    Kalo saya mah, susah dibandingin sama beliau. Blog ini mah blog ala kadarnya, Mansup.

  5. edratna says:

    Jus strawberry yang jelas enak, segar, asam dan ada manisnya…
    Jadi sekarang udah tahu program kerja partai yang akan bersaing di pemilu tahun depan?
    Sesuai anjuran Bangaip, karena saya belum tahu, saya juga tak mengatakan atau mengajak apa-apa….sebelum memastikan tahu lebih dulu.
    Tulisan menarik bang…

    -0-
    Terimakasih Bu.

    Minggu lalu, ada beberapa anak muda RI yang meminta saya menulis soal Golput. Jadi saya tulis saja disini.

    Mungkin tulisan ini, bukanlah tulisan yang mereka inginkan. Tapi biarlah…

  6. Hedi says:

    kalo ada partai pake lambang strawberry asik kali ya, bang. tapi saya sih tetep aja golput 😀

    -0-
    Saya lupa namanya, tapi setahu saya ada band yang logonya strawberry dengan arit. Hehe. Kenapa bukan palu dengan strawberry yaa? Hehe

  7. edo says:

    sek sek..
    tak mbaca yang bener dulu ya bang..

    -0-
    Silahkan Mas Edo.

    Apakabar euy?

  8. lambrtz says:

    Kalau mempelajari saja tidak, bagaimana bisa bilang suka atau tidak suka? Bagaimana bisa bilang setuju atau tidak setuju?
    Apakah itu maksudnya Bang?

    BTW sepertinya ada kesalahan cetak

    “Pak, tahu kah rencana garis beras para partai yang akan bertarung maju?”

    Apakah maksudnya besar?

    -0-
    Wah iya, slaah kteik. Hehe

    Kalau soal maksud, hehe. Silahkan diinterpretasikan sendiri. Bebas. Saya mah menulis ini sama sekali tidak bermaksud apa-apa kok. Hanya sekedar berbagi pengalaman.

    Anyway, terimakasih atas koreksinya, Mas.

  9. manusiasuper says:

    Kami hanya tidak rela; bahwa kepercayaan yang kami anut selama ini, ternyata diragukan kebenarannya.

    Similaritas dengan Sora menurut saya pada point di atas Bang. Tidak sama memang, tapi ada ‘feel’ senada yang saya dapat dari kedua postingan ini dan itu *maksa*

    Tulisan dan pengalaman Bang Aip akan terus jadi pelajaran, pemahaman, pertanyaan, dan teman bagi saya…

    -0-
    Hehe, kamu nggak maksa kok Mansup. Saya aja yang telmi. Hihihi.

  10. itikkecil says:

    bukankah memilih untuk tidak memilih itu juga pilihan bang?
    kalau seandainya tidak ada satupun partai yang dirasa cocok 😀

    -0-
    Setuju.

  11. erander says:

    Jadi penasaran nih bang .. tadi coba² nyari di wikipedia tapi dibilangnya bahwa stroberi itu buah .. kalo bang aip, liat wikipedia yang mana? harusnya dikasih link dong bang, biar pembaca ga kesasar 👿

    Sebenarnya, saya tadi sempat bingung .. ini ngebahas soal buah apa politik ya? tapi setelah saya bolak balik eh naik turun dong scrollnya .. saya baru ngeh, kalo bang Aip itu ternyata aktivis toh, entu sampe diusir RI ??

    *bloon mode : OFF*

    Bang .. saya juga jadi tahu, mengapa teman kantor abang berantem gara² wikipedia .. ntu, coba aja lihat wikipedia internasional dengan Indonesia, bisa berbeda pembahasannya soal stroberi. Jadi .. gitu deeeh .. :)

    Eh, boleh juga tuh kata²nya bang Aip : “Yang jantan-jantan biasanya hobi diadu” .. apalagi kalo dikompori. Jadi deh, berantem mulu. Dan biasanya bangga tuh bang kalo bisa menang otot. Merasa jadi jagoan.

    Ngomong² .. mana postingan lebaran di Cilincing. Pasti seru tuh.

    -0-
    Bang Eby, saya bukan aktivis… Saya ini mah pasifis. Sumpah deh. Hehe.

    Soal strawberry, rujukannya ke accesory fruit sih. Tapi itu pun masih diperdebatkan. Karena ada delapan bahasa kebangsaan yang terlibat ‘strawberry case’ ini, maka rujukan para pun masing-masing tidak mau kalah ke wikipedia negara personal. Maka itu saya tidak memberi link.

    Namun, terimakasih Bang Eby. Ini saya cantumkan keyword nya;

    “strawberry”

    beserta seluruh linknya dalam bahasa Inggris, Portugis, Spanyol, Jerman, Perancis, Catalan, Finlandia dan tentu saja, Bahasa Indonesia 😉

Leave a Reply