Tulisan Jembatan

Ini tulisan jembatan.

Tulisan Jembatan sendiri itu mah istilah ngasal saya. Meminjam dari istilah lagu, dimana ‘jembatan’ itu adalah salah satu bagian yang menghubungkan reffrein dengan teks utama, selain intro maupun outro tentunya.

Walaupun sebenarnya boleh dibilang, ini tulisan tidak penting-penting amat. Hehe.

Kebetulan sedang banyak tugas akhir-akhir ini. Mulai dari pekerjaan kantor menjelang annual report, mengurus audit Sekolah Ubuntu Indonesia, menyelesaikan proposal untuk pengembangan aplikasi bagi sebuah band cadas di RI, merampungkan buku ‘Cilincing Brotherhood’, hingga aksi koordinasi lapangan dengan SERRUM dan RumahBambu.

Syukurlah ternyata saya masih dipercaya oleh Yang Maha Jagowan. Sebab beliau pikir tugas diatas masih kurang banyak.

Sebab tidak lama kemudian ada flu yang melanda keluarga secara bergantian. Dan hebatnya, saya seorang yang bertahan dari serbuan itu. Jadi harus merawat seluruh anggota keluarga secara non-stop. Hehe.

Jadi yaa, ini tulisan jembatan. Tulisan untuk menghubungkan antara saya dengan dunia selain dunia saya diatas.

Jadi sekali lagi, yaa ini tidak penting-penting amat. Maklumlah, ini hanya sekedar menulis untuk menghilangkan letih. Hehe.

Omong-omong, kalau sedang letih, biasanya saya ‘nonton tivi’.

Iya, nonton tivinya pakai tanda kutip. Pada kenyataannya, saya hanya duduk di depan tivi tanpa menyalakannya. Sambil memetik gitar, tabung gelas hitam itu saya bayangkan ada sebuah aquarium yang berisi ikan-ikan air laut nan eksotis.

Ikan-ikan itu berwarna-warni. Ada yang berwarna merah hijau kuning dari Jamaika. Ada yang berwarna biru putih dari Manado. Ada yang berwarna-warni lainnya dari seluruh laut penjuru dunia.

Iya, saya mengkhayal. Gila yaa.

Mungkin karena dari dulu saya selalu kepingin punya akuarium. Tapi entah kenapa, selalu gagal. Hehe.

Lagi asik-asiknya mengkhayal, tiba-tiba ada sahabat menelpon. Orang Indonesia. Bekerja di sebuah instansi milik pemerintah Indonesia di sini.

Ia mau pinjam uang. Jutaan rupiah.

Saya kaget. Tidak disangka-sangka sahabat saya ini kok yaa mau pinjam uang. Sudah gitu, banyak pula. Mana ada saya uang segitu. Ada apa gerangan dengannya?

“Bro, banyak bener minjemnya. Nggak ada saya”

“Rip, aduh Rip. Edan ini. Masa saya nggak di gaji kantor!”

“Loh kok bisa? Emang Indonesia udah bangkrut sekarang, jadi nggak bisa menggaji kamu? Kamu pindah aja, kerja buat pemerintah Dubai”

“Ahh kamu, bercanda aja. Saya lagi bingung nih…”

Wah saya jadi menyesal bergurau dengan dia, “Bro, maapin euy. Sori yaa”

“Iya Rip, saya juga minta maap. Sensitif sekali. Pusing sekali ini. Seharusnya gajian tanggal 25 pagi. Tanggal 25 sore kan sudah harus bayar kontrakan rumah. Tanggal 26 harus belanja. Harus bayar sekolahnya anak. Harus kirim uang ke mamah… Aduuh Rip… Saya stress ini”

Saya jelas bingung setengah mati. Apa yang bisa saya perbuat saat ini. Meminjamkan uang? Lah saya saja tidak punya, gimana mau meminjamkan? Padahal satu-satunya solusi yaa memberinya pinjaman uang.

“Bro, kalau masalah rumah kontrakan. Ngobrol aja dengan pemilik rumah. Kasih tahu kondisi kamu. Minta surat dari kantor kamu, kepastian kapan kamu dibayar. Tunjukin surat itu ke pemilik rumah”

“Kamu yakin dia mau ngerti, Rip”

“Enggak sih. Tapi kebetulan saya pernah sama kondisi dengan kamu. Nunggak kontrakan. Waktu itu, solusi sementara yaa begitu”

Dia diam cukup lama. Saya kasihan. Saya bilang lagi, “Kalau masalah belanja, di rumah saya masih banyak sayur dan nasi. Nanti saya dan istri ke rumah kamu deh. Kita bawain. Cukuplah buat seminggu”

Tidak lama kemudian, ia menutup pembicaraan sambil mengucap terimakasih. Setelah itu pula, saya semakin dilanda kebingungan mendalam.

Mengapa kantornya, yang notabene ada di bawah pemerintahan RI itu tidak menggaji bawahannya? Saya sering dengar, guru inpres di pedalaman RI memang sering telat di bayar. Tapi sahabat saya ini, bukan guru. Dan kami, sama sekali tidak di pedalaman.

Jika diplomat macam dia saja tidak dibayar, apalagi guru SD di pedalaman Kalimantan atau Papua sana?

Tidak lama kemudian, saya membaca, bahwa bank tempat pemerintah RI menaruh uang untuk menggaji sahabat saya, bangkrut.

Rupanya, krisis ekonomi yang melanda Amerika Serikat pada menjelang akhir tahun 2008 ini berpengaruh juga pada Indonesia. Minimal, pada bank dibawah naungan BI (Bank Indonesia) yang mempunyai deposit gaji sahabat saya.

Kata koran, Bank Indonesia tidak berminat menalangi kerugian yang diderita anak cabangnya itu.

Saya kaget.

Dan semakin kaget lagi, ketika membaca bahwa toko-toko emas di beberapa kota di RI diserbu warga. Mereka membeli emas untuk jaga-jaga. Takut kejadian krisis moneter 1997, terulang kembali.

Emas di beberapa kota Indonesia, menghilang dari peredaran.

Saya bukan ahli ekonomi. Dan mungkin tidak pernah berbakat menjadi ahli ekonomi seperti Mas Mbelgedez yang sudah mengulas masalah krisis Amerika ini misalnya. Tapi, melihat teman saya tidak digaji dan memikirkan nasib anak mereka, hati saya sedih yaa.

Saya bukan ahli ekonomi, tapi melihat kenyataan bahwa emas diborong oleh warga-warga kota besar di Indonesia, otak saya berputar jauh lebih keras daripada biasanya.

Tapi yaa sudahlah para pembaca. Jangan jadikan tulisan ini bahan kekhawatiran baru. Ini hanya tulisan jembatan saja kok.

Sekedar berbagi, bahwa banyak kejadian aneh tengah berlangsung di RI.

Namun boleh dibilang, ini tulisan tidak penting-penting amat. Sebab saya yakin anda semua sudah tahu bahwa memang banyak kejadian aneh di negeri kita tercinta ini. :)

This entry was posted in bangaip, Orang Indonesia, Republik Indonesia, sehari-hari and tagged , . Bookmark the permalink.

13 Responses to Tulisan Jembatan

  1. Pingback: Jembatan « Arif Kurniawan as Bangaiptop

  2. mbelGedez™ says:

    Walah….
    Jadi malu bang….

    Tulisan sayah kan menyesatkeun, bang…. ๐Ÿ˜‰

    -0-
    Jangan malu Mas Mbel. Orang ganteng kok malu? :)

  3. kramero says:

    Saya juga khawatir nih Bang soal krisis ekonomi yang berpotensi untuk terjadi kembali.. Duh, mana cicilan rumah belum lunas, suku bunga udah naik 2 kali..

    Kira2, apa ya yang bisa kita lakukan sebagai pekerja?

    -0-
    Maaf Mas, keterbatasan ilmu saya membuat saya tidak mampu menjawab pertanyaan anda. Maaf. Saya harap ada rekan kita disini yang mampu menjawab pertanyaan ini.

  4. dnial says:

    Krisis dotcom 2001 nggak berimbas ke Indonesia kan?
    Kenapa sekarang harus panik?

    -0-
    Saya mah nggak panik, Mas. Saya sih cuma sedih temen saya nggak digaji.

  5. itikkecil says:

    sampai saat ini belum terlalu terasa bang… mungkin yang sudah terkena dampaknya para pemain saham… tapi gak tahu apa yang akan terjadi dua atau tiga bulan lagi kalau termasuk sektor riil juga sudah terkena dampak krisis ini.

    -0-
    Dampaknya yaa ke teman saya itu mungkin kali yaa mbak.

  6. bsw says:

    Indonesia rawan krisis ya?
    BTW, cuma mau komen soal aquarium air laut. Untung Arif nggak punya, soalnya setahu saya, akuarium air laut (dgn ikan hias & koral2 hiasnya) itu ditentang oleh aktivis pencinta alam.
    Informasinya ikan & koral hiasnya itu diambil langsung dari laut dengan cara yg merusak, sementara usaha budidayanya masih terbilang sulit karena akan makan waktu yg lama sehingga akan jadi sangat mahal.
    Sorry ya, ini komen OOT….
    Salam

    -0-
    Itulah alasan kenapa pula saya nggak punya akuarium ikan laut hingga saat ini. :)

    Soal rawan krisis, well, terakhir yang saya dengar, sejak 10 tahun belakangan ini transportasi pengiriman impor lebih banyak daripada ekspor. Artinya, kalau ada apa-apa di kampung orang, kampung kita bakal kebablasan.

    Dulu turisme bisa jadi andalan. Sekarang karena keamanan sukar diperoleh, bagian tambang dan perminyakan yang jadi sektor utama. Simpel kata, kalau mereka habis, habis pula negeri ini.

    Moga-moga warisan pendidikan buat anak cucu bisa menghidupi mereka nanti di masa depan. Sebab setahu saya, kerakusan menggerogoti alam RI sudah sampai taraf yang menyedihkan. Sukar rasanya memberi anak cucu warisan kekayaan negeri ini nanti, kalau pola konsumsi kekayaan alam sudah parah begini

  7. oscar says:

    ooo ini mesti indover itu ya? berarti bangaip sekarang ada di belanda. temen saya juga gak gajian tuh bang, malh dia mau minjem juga sama saya yg jadi kuli di indonesia tercinta ini. gile aja kali…

    -0-
    Setahu saya, bukan hanya indover deh. Atau mungkin, saya saja yang kurang banyak pengetahuannya. :)

    Soal lokasi, saya kadang ada di beberapa titik di Eropa, Mas Oscar. Kadang pula di beberapa benua lainnya.

  8. Jadi ikut prihatin atas kondisi negara kita.

    -0-
    Terimakasih sudah mengembangkan FOSS di republik tercinta, Mas Dewo.

  9. heloguno says:

    waduhh.. emas diborong yahh?? saya malah ga tau..(cemen skali)..
    ya slalu berharap yang terbaik dan indonesia mnjd baik deh..

    -0-
    Kata koran, begitu Gun.

  10. nadin says:

    mas, ikutan yah…

    aduuuh…sedih banget denger ceritanya! aku buka usaha sendiri dirumah, dan ngerasain banget banyak invoice yang belum cair…(mungkin ga ada hubungannya sih sama krisis ekonomi dunia…biar nyambung aja..he…..), intinya aku bisa berempati sama temen mas itu. Jadi kepikiran sama para patriot bangsa diujung antah berantah nusantara itu…

    Titip pesen deh mas…supaya kita semua berdoa sepenuh hati buat bangsa ini!

    -0-
    Terimakasih, Mbak. Pesannya akan saya sampaikan ke beliau.

  11. Fortynine says:

    Jika diplomat macam dia saja tidak dibayar, apalagi guru SD di pedalaman Kalimantan atau Papua sana?

    Tidak perlu ke pedalaman Bang, di kota saja teman saya ada yang gajiannya di kumpulkan 3 bulan dulu baru di bayar.

    Itupun sering di wanti wanti, “anggap saja gajian kamu adalah tabungan”. Artinya, gajiannya sendiri tidak usah terlalu diharapkan, kalau cair gaji ya cair, kalau tidak ya anggap saja bayar pajak tabungan.

    Soal krisis? Indonesia adalah negara yang kuat kok, selama ini kita sering mendengar berita “Perbuatan Orang ini telah merugikan negara sekian puluh trilyun rupiah”.

    Negara yang terus merugi saja masih bisa bertahan sebagai negara, tidak terpecah pecah (dipaksakan tidak pecah???)menjadi negara Kalimantan,Negara Sumatera dan lain sebagainya. Apalagi kalau negara ini tidak pernah merugi. Pasti Indonesia sudah menjadi negara adikuasa.

  12. titiw says:

    Itu yang bikin aku salut sama tenaga2 pengajar yang mau ke daerah2 mas.. hm.. eh iya sedikit OOT, itu anaknya Bang Aip kan? Lutuuuuu!!! Eh lupa, nama panggilannya siapa sih bang? Biar kita lebih akrabbh.. hehe..

    -0-
    Iya, majikan baru saya. Hehe. Namanya Novi Kirana. Artinya; cahaya baru yang menyinari sekitarnya.

  13. sufehmi says:

    Dulu turisme bisa jadi andalan.
    .
    Haha… jadi ingat tadi membaca majalah di pesawat. Isinya membandingkan 2 obyek turis. Yang satu adalah candi Borobudur, dengan fotonya yang megah sekali. Satu lagi adalah puing (yak, reruntuhan) istana di Skotlandia. Itupun tinggal tersisa sedikit, tidak banyak.
    .
    Tebak mana yang lebih menarik bagi para turis?
    .
    Hint:
    .
    di Borobudur : parkir susah. Pusing. Panas. Orang bule kena bayaran lebih mahal.
    Lalu keluar parkir langsung diserbu pedagang. Dipaksa membeli, ditarik-tarik, sampai ke gerbang Borobudur.
    Perlu ke WC ? Lebih baik buang hajat di bawah pohon, dst.
    .
    di Skotlandia (reruntuhan istana kecil itu) : kebalikan 100% dari situasi Borobudur.
    .
    Berapa dana yang dibelanjakan oleh penulis artikel tsb di Borobudur? — US$ 10, dengan hasil hati yang kesal dan gondok.
    .
    Berapa dana yang dibelanjakan oleh penulis artikel tsb di Skotlandia? — US$ 100, dan dia riang gembira menceritakan pengalamannya.
    .
    Masih mules kalau ingat artikel itu…. ๐Ÿ˜€

Leave a Reply