Perempuan Itu Berusia 24

Sudah beberapa hari ini saya kebingungan dengan upgrade sistem operasi komputer yang saya miliki. Sebab ternyata Pidgin, perangkat chat yang biasa saya pakai untuk berhubungan dengan teman-teman, rusak.

Di Pidgin itu tersimpan banyak koneksi teman-teman saya. Sebab kemampuannya menyimpan dan menggunakan akun AIM, GoogleTalk, YM, ICQ dan lain-lain, memudahkan saya berhubungan dengan banyak orang.

Dan ketika alat itu bermasalah, bermasalah pula komunikasi yang saya miliki.

Pidgin memang sekedar alat. Ia hanya perangkai fakta dari publik, sebelum saya melemparkan fakta lainnya kepada publik lainnya. Jadi ketika alat pengumpul fakta lenyap, saya pun tidak bisa berharap banyak.

Kenapa saya bicara komunikasi dan kenapa pula saya bicara fakta mungkin tidak lepas dari pengalaman terbaru beberapa hari ini.

Seorang rekan lama, yang sudah lama tidak bertemu, akhirnya kembali berjumpa. Sebuah siang di taman kota. Saya menelponnya. Ia berada di belahan dunia sana.

Ia: “Apakabar?”
Saya: “Baik. Tapi agak sakit kepala akhir-akhir ini”
Ia: “Makanya sedekah. Kamu itu kurang sedekah, jadinya sering sakit!”

Saya manggut-manggut. Sambil memikirkan dalam hati, mungkin ia benar adanya.

Mungkin saya sakit kepala karena kurang sedekah. Tapi bisa jadi juga karena seringnya bepergian dalam cuaca yang sungguh-sungguh berbeda. Seperti dua puluh derajat celcius berbeda dalam waktu singkat misalnya.

Tapi yang jadi pertanyaan adalah, darimana ia tahu saya tidak sedekah?

Maka itu, daripada kebingungan sendiri, saya tanya lah dengan baik-baik.

Saya: “Kamu tahu darimana saya kurang sedekah?”
Ia: “Karena kamu sering sakit?”
Saya: “Ooh.. Begitu yaa”
Ia: “Iya. Gampang kok lihatnya. Kalau rajin sakit, itu tandanya kurang sedekah. Kalau kena bencana, itu tandanya sering melakukan maksiat”

Saya bengong. Nampaknya, teman lama saya ini mencoba mencari penyederhanaan atas setiap masalah.

Saya: “Kan nggak bisa begitu ahh. Tsunami di Aceh, lumpur di Sidoarjo, banjir tahunan di Jakarta, kan bukan berarti banyak maksiat”
Ia: “Itu tandanya orang Indonesia banyak melakukan maksiat”
Saya: “Kok yang kena hanya daerah tertentu saja. Itu nggak adil dong. Hehe… Kamu ini ada-ada aja”
Ia: “Kamu ini susah dibilangin. Ngeyel. Kalau hidup susah, itu tandanya kurang sedekah. Matinya juga susah nantinya”

Setelah itu ia diam. Saya kembali kebingungan. Ya jelas saya kebingungan. Apa yang mau saya bicarakan lagi.

Komunikasi diantara kami terhambat. Nampaknya masalahnya sederhana. Teman saya tidak menyukai fakta dan mencoba menyederhanakan setiap masalah yang ada. Sementara, saya mungkin merasa terlalu angkuh dan pandai untuk menerima konsep yang ia punya.

Dan mungkin karena atas alasan ego itu pula, saya menerangkan kepadanya sebuah cerita.

Sebuah cerita tentang Porong. Atlantis baru di sudut sebuah pulau bernama Jawa.

Sebuah cerita di tahun 1993, di Porong Sidoarjo, kisah seorang perempuan muda berusia 24 tahun. Mungkin saat itu, perempuan-perempuan lainnya sedang giat-giatnya mencari laki-laki untuk dikawini. Atau mungkin sedang getol-getolnya mencari cara memburu karir.

Ia, sialnya berbeda. Setidaknya berbeda dengan perempuan berusia 24 tahun lainnya.

Tanggal 5 Mei, perempuan muda yang juga buruh pabrik PT Catur Putra Perkasa ini dengan gagah beraninya menghampiri kantor KODIM (Komando Distrik Militer) 0816 Sidoarjo. Dengan tujuan satu, bertanya mengapa rekan-rekan kerja sepabriknya yang menuntut kenaikan gaji Rp 550 perhari ditangkap tentara.

Ia, perempuan muda kecil. Rambutnya tergerai sebahu. Masih muda. Dengan keberanian membaja. Berdiri dengan gagah perkasa di hadapan tuan-tuan militer nan perkasa penguasa OrBa. Tujuannya hanya satu, bertanya.

Siang itu ia bertanya, mengapa teman-temannya yang menuntut hak mereka Rp 550 rupiah perhari ditangkap semena-mena.

Tidak ada yang menjawab.

Dan hingga kini, tidak ada yang tahu apa jawaban yang mereka berikan pada perempuan muda itu. Sebab tiga hari kemudian, tanggal 8 Mei 1993 perempuan muda ini ditemukan sudah tidak bernyawa. Di sebuah gubuk di pinggiran jalan Dusun Jegong, antara Nganjuk dengan Madiun.

Perempuan itu, masih muda. Waktu ditemukan, mayatnya penuh dengan bekas siksaan. Umurnya baru 24 tahun. Belum lama berulang tahun.

Visum dokter menyatakan bahwa ia mati karena perutnya ditusuk 20 cm. Isinya terburai kemana-mana. Tulang kelaminnya hancur. Selangkangannya luruh tak bersisa. Berliter-liter darah menghilang dari tubuhnya.

Perempuan itu bernama Marsinah. Buruh pabrik arloji. Yang hingga kini, kematiannya masih menjadi misteri. Siapa yang membunuhnya, kenapa ia dibunuh, tiada seorang pun yang mampu menjawabnya.

Kematiannya, menjadi sebuah simbolisasi sebuah masyarakat.

Maka itu, siang di taman kota, bertanyalah saya pada perempuan muda di seberang benua sana.

Saya: “Apa kamu pikir, Marsinah itu kebanyakan maksiat yaa. Jadi matinya seperti itu?”
Ia: “Nggak tahu saya”
Saya: “Kamu pikir, Porong itu jadi lumpur karena membiarkan Marsinah jadi mayat?”
Ia: “Nggak tahu ahh”
Saya: “Menurut kamu, kekejian terhadap Marsinah, itu simbolisasi masyarakat yang memuja uang, kekerasan dan laki-laki?”
Ia: “Tau ahh gelap. Saya capek denger cerita kamu. Sampai nanti”

Ia memutus sambungan telepon kami.

Ia memutuskan hubungan komunikasi satu-satunya yang kami punya. Ia, perempuan muda berusia 24 tahun, lahir dan besar di ibukota. Seorang profesional muda. Mungkin adalah salah satu harapan bangsa. Berkata “Tau ahh gelap” pada sebuah diskusi soal perempuan muda lainnya.

Mungkin ia bosan diskusi dengan saya. Mungkin ia hanya ingin berdiskusi soal perempuan muda lainnya yang menenteng perangkat telekomunikasi terbaru kemana-mana. Mungkin ia hanya ingin bicara soal ibukota dan kemewahannya.

Segala kemungkinan itu tetap ada.

Namun tetap saja tidak bisa menjawab mengapa Marsinah harus mati sia-sia di usia muda. Tetap saja tidak bisa menjawab mengapa ia memutuskan komunikasi dengan saya.

Setelah ia memutuskan percakapan, saya termenung di bawah pohon besar di tengah taman kota.

Mungkin, beda generasi antara saya dan perempuan muda itu berusia 24 tahun itu membuat komunikasi antara kami terputus? Atau… Mungkin juga, saya yang kurang sedekah?

Ahhh, segala kemungkinan itu tetap ada.

This entry was posted in Orang Indonesia, sehari-hari and tagged . Bookmark the permalink.

10 Responses to Perempuan Itu Berusia 24

  1. det says:

    ouw begitu tho cerita marsinah. mengharukan sekali. sebenarnya sudah bisa ditebak siapa pelakunya 😉

    -0-
    Sayang sekali, dunia peradilan kita bahkan tidak bisa menebak siapa pelakunya.

  2. Hedi says:

    saya paling ga ngerti urusan marsinah, tapi kematiannya bisa jadi pelajaran dan hikmah buat semua orang, minimal gitu kan Bang? 😀

    -0-
    Saya berharap, pelaku sebenarnya dihukum Mas Hedi. Apabila ia ditangkap dan dihukum, maka ada pelajaran yang bisa dipetik. Yaitu, tidak bisa sembarangan membunuh orang di negeri ini. Dan juga hikmah, bahwa hak itu harus diambil. Ia tidak datang gratis dari langit.

  3. kehidupan hedon yang memaksa orang-orang cenderung berpikiran mau yang gampangnya aja ya, bang?

    temen2 saya juga banyak yang kayak gitu, ndak mau berpusing2 mikirin ujung pangkal sebuah permasalahan. heran…padahal itu nggak bagus buat perawatan kinerja otak

    -0-
    Bisa jadi kehidupan hedon. Bisa jadi memang sudah terprogram oleh doktrin, Joe.

    Segala kemungkinan amat banyak sebagai jawabannya.

  4. Saya pikir “ia” itu terlalu cepat berspekulasi & mengambil keputusan walau pun tidak didukung analisis yg tepat. Atau mungkin “ia” ini terlalu religius sehingga semua selalu dikaitkan dgn masalah religinya?

    GBU.

    -0-
    Saya malah berfikir, ia dibesarkan dengan pola begitu. Apa yang tidak bisa diterangkan oleh logikanya, ia coba jawab dengan konsep dimana ia dibesarkan.

    Dan mungkin karena keterbatasan informasi, ia tidak bisa mengakses gerbang untuk mendapatkan jawabannya.

    Atau bahkan ketika ia bahkan sudah dapat mengakses informasi menerangkan fenomena di luar logikanya, ia menolak. Mungkin karena (balik lagi) ke pendidikan yang ia peroleh. Mengkultuskan satu titik informasi.

  5. Eh, sorry, ralat. Seharusnya bukan “mengambil keputusan” di komen saya sebelumnya, tapi seharusnya “mengambil kesimpulan.”

  6. lambrtz says:

    Untuk chat bagian bencana, saya sebenarnya sependapat dengan Bang Aip, dan bahkan pernah juga menulis tentang itu. Tapi kata komentator, itu (mengaitkan bencana dengan perbuatan maksiat dsb) urusan iman/agama (seperti yang ditulis Mas dewo di atas), dan memang sebaiknya tidak dipikir dengan logika. Kalo menurut Bang Aip gimana? Saya ya cuma bisa bertoleransi dengan yang pikiran semacam itu, walaupun saya ga sependapat.

    …tapi saya kok gemes ya ngliat Ia di chat-nya Bang Aip menarik kesimpulan “semena-mena” tapi ogah diajak diskusi 😕

    -0-
    Bukan cuma Mas yang gemes. Banyak kok yang ikutan gemes. Hehe.

    Soal pendapat saya. Masalah iman/agama itu lebih cenderung milik pribadi. Saya pikir, hak beragama/hak tidak beragama, mirip dengan hak hidup pada setiap manusia. Siapapun berhak memilikinya. Tidak ada seorangpun yang berhak memaksakan hak dasar itu pada manusia lainnya.

  7. Suatu fenomena bisa diuraikan logikanya sehingga kelihatan (sederhana) akar masalahnya, tapi bukan trus bablas jadi menyederhanakan masalah kayak kayak Ms Tau ah gelap.

    Tapi Bang Aip, saran buat sedekah itu ga ada salahnya loh, cuma alasan yg dia ajukan ga tepat, “sedekah supaya tidak sakit”… lagi modus dagang dia.

    -0-
    Beliau mungkin tidak salah-salah amat. Pendidikan yang diajarkan pada beliau memang menganut pola begitu. Reliji yang berdagang dengan tuhannya.
    Sedekah biar tambah kaya, beramal biar masuk surga. Hehe

  8. Dunia berjalan menurut persangkaan masing-masing.

    -0-
    Kalimat ini bagus sekali. Beberapa hari saya sampai meluangkan waktu memikirkan kalimat ini, Pak.

  9. fertob says:

    Jawabannya sederhana Bang : karena sampeyan bukan perempuan dan tidak [lagi] berumur 24 tahun. :) Seandainya dia laki-laki berusia 33 tahun dan sedang terdampar di Papua, mungkin ceritanya jadi lain.

    Terkadang kalau melihat ketidakpedulian seperti itu, saya sendiri suka merasa aneh : “apakah saya yang berbeda?”

    -0-

    Mungkin Om Fertob. Amat sangat mungkin bahwa sampeyan berbeda. Tapi, bukankah perbedaan itu indah?

    BTW, kalau saya terdampar di Papua… Saya akan rajin memotret. Ehemm… 😉

  10. sufehmi says:

    Gayanya mirip dengan khatib kita yang satu ini ya. Mungkin ybs punya direct line juga ke Tuhan :) jadi bisa tahu persis sebab-sebab dari berbagai hal, he he.

    Still too much to do to fix this country.

Leave a Reply