Trik Menjual Barang Bekas

Maklum saya bukan orang kaya. Kalau beli apa-apa, biasanya bekas. Waktu putri saya mau lahir, hampir seluruh isi kamar beliau di isi barang bekas. Dari mulai lemari, kasur bahkan hingga ke pakaian.

Untunglah saya punya modal keahlian bisa mengecat sedikit. Itu barang-barang bekas, di amplas lalu di cat. Jrengg, tak nampak pula uzurnya setelah diberi kosmetik cat baru. Kalau baju-baju bayi, itu hadiah dari mertua saya. Baju bekas putri beliau yang kini jadi istri saya. Di cuci pakai air panas hingga bersih, nampak pula menjadi baru (walaupun ketinggalan model). Hehe.

Bukan cuma kamar bayi yang dipenuhi barang tangan kedua, begitupun hampir sebagian besar isi rumah saya. Mulai dari televisi (yang jarang sekali menyala), buku-buku bahkan hingga semua isi perlengkapan dapur hingga ruang tamu.

Dalam hati, sempat pula saya berfikir; apakah saya dan istri sejodoh karena kami sama-sama irit berhemat dalam membeli perlengkapan rumah tangga? Lalu, kalau iya, apakah kami nanti akan menghasilkan generasi mencintai barang bekas? Hehe, entahlah.

Namun pada intinya, banyak orang yang malu punya barang bekas.

Kenapa malu? Mungkin karena tudingan mata misalnya. Atau bisa jadi, barang bekas adalah barang yang tidak baru. Dan baru itu (katanya) adalah bagus dan baik. Jadi kalau barang tidak baru, yaa tidak bagus. Contoh mudahnya; Tahun Baru. Setiap orang selalu berharap banyak di tahun baru, sebutan bagi tahun yang akan datang. Ada yang berharap punya pendapatan baru ada pula yang berharap nasib baru.

Hampir semua orang punya keinginan yang baik di Tahun Baru. Maka itu muncul lah sebutan tahun baru. Sebab, tidak ada hingga kini sebutan ‘Tahun Bekas’. Walaupun agak aneh memangnya, kalau ada tahun baru, mengapa tidak ada tahun bekas? (Sebab jika ada mobil baru pasti ada mobil bekas, sebagaimana ada ungkapan pacar baru dan bekas pacar)

Tapi yaa sudahlah, itu mah diskusi asal-asalan saya. Sebab saya yakin anda pasti cukup intelek tidak terjebak dengan logika ngawur saya ini. Hehe.

Maka itu, sebelum tambah asal, saya kembali ke topik awal. Masalah barang bekas itu tadi loh.

Begini ceritanya; akibat terlalu lama malang melintang dalam dunia perbekasan, paham lah saya dalam berburu hingga menjual barang bekas.

Dulu waktu tinggal di Jakarta akhir 90-an hingga awal tahun 2000-an, kalau mau membeli barang bekas saya tidak ke Jalan Surabaya. Sebab itu barang bekas khusus kolektor. Yang mampir biasanya turis atau orang-orang yang mengerti sekali apa yang mereka cari. Tidak, saya tidak ke seruas jalan yang letaknya dekat Stasiun Kereta Gondangdia itu.

Kalau mau mencari barang bekas, saya pergi ke Stasiun Jakarta Kota ketika matahari mulai rebah di balik permukaan bumi. Dari sana, jalan kaki putar-putar. Tengok kanan kiri lihat-lihat pedagang emperan kaki lima. Mulai dari Hayam Wuruk hingga Jembatan Tiga. Jakarta terasa lebih romantis di malam hari.

Kalau untung, malam itu saya bisa dapat kaos seharga lima ratus rupiah yang tidak melar-melar karet lehernya (sebagai perbandingan, kaos T Shirt yang di jual di toko umumnya saat itu seharga Rp 20.000) . Bahkan kalau lebih beruntung lagi, bisa dapat kaset dangdut asli Haji Rhoma seharga dua ribu lima ratus rupiah.

Kalau tidak untung, dapat kaos seharga lima ratus, namun ketika besok paginya di cek, ternyata banyak bolong-bolong bekas jentik api rokok. Atau kaset dangdut yang dalamnya ada rekaman lagu anak-anak sepotong-sepotong. Hehe.

Tapi yaah, namanya juga nasib manusia barang bekas. Yaa terima saja apa adanya.

Ketika membeli barang-barang bekas, yang seru adalah proses tawar menawarnya. Aduh gembira sekali hati ini jika berhasil pura-pura jalan kaki sekitar barang lima atau sepuluh meter lalu dipanggil penjual yang setuju soal harga. Ada rasa yang sukar digambarkan dengan kata-kata. Sebab memang tidak mudah menjabarkan kemenangan yang dicampur isi kantong dengan drama.

Semakin hari berhubungan dengan dunia perbekasan, semakin pandai lah saya berpura-pura akting dalam menawar barang. Semakin dikenal pula saya dalam dunia malam sekitar stasiun kereta Jakarta Kota dan sekitarnya. Yang kata orang-orang angker dan banyak premannya.

Untung saja, dalam sekian lama menjalin cinta dengan barang bekas warga Jakarta saya tidak di ganggu orang jahat. Mungkin bisa jadi karena wajah saya yang memelas dan ndeso, tidak-bonafide-seperti-orang-jakarta-lainnya. Atau bisa jadi karena Pak Polisi memang benar-benar baik dalam menjalankan tugasnya di daerah Jakarta Kota sana.

Hingga akhirnya suatu hari, kamar kos saya yang penuh dengan barang bekas didatangi seorang paman.

Wajahnya pucat pasi. Antara sedih, bingung hingga kecewa.

Kasihan saya melihat wajah paman ini. Saya tawarkan teh hangat yang ia teguk dengan cepat-cepat. Ia haus, katanya jalan kaki dari Tanjung Priok ke kamar kos saya di Depok.

Pelan-pelan, saya tanya ada apa. Ia menjawab, “Egi sakit, Rip. Kena Demam Berdarah. Mamang nggak punya duit buat bawa ke rumah sakit. Egi di rumah sekarang. Demam tinggi. Bantuin Mamang, Rip”

Ia sedih sekali. Duduk termangu bersender di pintu kamar kos saya. Saya diam. Kebingungan. Bagaimana saya bisa membantu Mamang, sebutan buat paman saya itu. Saya sendiri tidak punya banyak uang.

Dalam kebingungan, saya masak mie instan, satu-satunya hidangan yang saya punya. Kebingungan adalah ibarat malam tanpa bulan atau bintang. Sebegitu gelapnya hingga tidak ada satupun mampu menunjukkan jalan. Salah satu jalan keluarnya adalah perut yang terganjal makanan. Sebab katanya, kalau dalam kebingungan jangan sampai kelaparan. Bahaya.

Ia makan mie instan dengan lahapnya. Pasti lapar setelah jalan kaki hampir tujuh jam dari Tanjung Priok ke Depok.

Setelah makan dan kelihatannya cukup terganjal perut beliau, saya beri ia sebatag rokok. Saya tanya pelan-pelan.

Saya; “Mang, nggak minta bantuan sama Ibu”
Mamang; “Mamang malu, Rip. Mamang banyak nyusahin Ibu kamu”
Saya; “Santai aja, Mang. Ibu kan orangnya asik tau”
Mamang; “Mamang bukan cuma malu, Rip. Mamang nggak berani ngeliat Ibu kamu. Mamang kan nilep uang Ibu kamu. Satu-satunya sodara Mamang yang nggak ngelaporin Mamang ke polisi yaa cuman Ibu kamu. Mamang nggak berani ama Ibu kamu, Rip”

Wah saya kaget. Ini cerita yang saya belum pernah dengar sebelumnya. Iya saya tahu Mamang saya berkali-kali keluar masuk penjara memang. Ia tidak punya track record yang baik di keluarga besar kami. Tapi kalau ia mencuri uang Ibu, ahh, saya baru tahu siang ini.

Saya tercenung dalam hati. Perasaan saya bergejolak. Saya marah. Kenapa ia mencuri uang Ibu? Kenapa Ibu saya, yang gaji gurunya pas-pasan itu masih dicuri pula olehnya?

Saya marah dengan pengakuannya. Saya kecewa mendengarnya.

Jelas saya bukan orang suci yang pula disucikan, yang tidak punya rasa marah dan kecewa. Saya bukan orang yang punya segudang sabar dan kata-kata mutiara. Saya cuma orang biasa yang tinggal di sebuah kamar kost sempit di Depok, yang berjuang mati-matian saban hari menyambung hidup.

“Tai luh, Mang!”

Mamang kaget, menatap saya, lalu menunduk.

Saya? Jauh lebih kaget. Tidak menyangka kalimat buruk meluncur dari mulut saya yang tidak kalah buruknya ini. Astaga, apa yang telah saya ucapkan? Bagaimana mungkin saya memaki orang yang baru saja keluar penjara dan jalan kaki tujuh jam lamanya hanya untuk meminta bantuan?

Ia, jelas amat bisa mengambil senjata tajam yang saya akui amat mahir menggunakannya lalu kembali merampok orang. Atau, menghubungi kontak-kontaknya di penjara untuk menjadi pembunuh bayaran, misalnya. Demi nama cinta atas putri yang ia sayangi dan harga rumah sakit yang makin lama makin mahal saja di Jakarta.

Namun ia, memilih berjalan kaki melawan polusi panas antara Tanjung Priok ke Depok, berjam-jam lamanya… Dan kini, saya memakinya?

Astaga… Apa yang saya lakukan!

Dalam hati, nama Tuhan yang jarang saya sebut, kali ini dipanggil-panggil untuk meminta pertolongan.

Saya berdiri menghampiri, saya raih tangannya. Saya cium balik telapaknya, “Maapin saya, Mang. Arip ngomong yang nggak pantes. Maap, mang”

Ia memeluk saya, “Maapin Mamang juga, Rip. Mamang salah ama kamu sekeluarga”

Saya lihat air matanya jatuh membasahi pipi. Wajahnya yang tua semakin kelam dibakar matahari Jakarta dan kerasnya hidup yang ia jalani.

Anaknya, Egi. Satu-satunya bagian hidup yang membuatnya bangga. Walaupun punya bapak bromocorah namun bisa lulus SMU dan sekolah di perguruan tinggi di Depok. Saya tahu, Egi  bukan hanya harga dirinya namun sang anak juga adalah satu-satunya alasan mengapa ia tetap memilih hidup.

Dan kini, Egi terbaring di rumah kena Demam Berdarah. Rumah sakit umum penuh dengan korban DBD. Mereka terhampar begitu saja di gang-gang zal rumah sakit. Terlentang di lantai akibat rumah sakit umum kekurangan tempat.

Iya, hanya kepada Rumah Sakit Umum lah kebanyakan warga seperti Egi dan bapaknya mengadu. Mereka bukan orang berpunya. Mereka butuh darah. Dan dalam masa Demam Berdarah ini, darah itu susah. Sebab jangankan masa demam berdarah, dalam kondisi biasa pun banyak sekali orang butuh darah bahkan hingga harus kirim email berantai untuk mendapatkannya. Darah itu susah. Untuk mendapatkan rumah sakit yang layak dan darah, jelas butuh uang.

Memikirkan Egi, saya lihat lemari dan sekeliling kamar. Ahh perut yang kenyang menimbulkan ide. Saya bilang pada Mamang, “Nanti malam, kita ke Jakarta Kota, Mang. Bantuin saya yaa”

Ketika matahari sekali lagi rebah ke tanah, saya pergi dengan gerobak pinjaman bapak kost. Bersama Mamang, naik kereta ke Jakarta Kota. Isi gerobaknya macam-macam, dari kamera hingga pemutar CD radio, dari cermin Bali hingga tas gunung carrier yang berisi lengkap peralatan climbing.

Tujuannya satu, berdagang barang bekas.

Di Jembatan Tiga, setelah permisi dan menjelaskan situasi Mamang dan saya pada para ‘penjual senior’ dan membayar retribusi pada preman lokal, mulailah saya menggelar dagangan.

Malam itu, target kami adalah uang dua juta. Sebab dengan dua juta itu, Egi bisa di bawa ke rumah sakit. Dan uang dua juta adalah besar artinya buat kami, warga negara kelas ekonomi yang sama sekali tidak punya jaminan sosial dan asuransi.

Untuk mendapatkan dua juta, semua barang harus laku. Untung atau buntung, malam itu harus dapat dua juta.

Malam semakin larut, satu persatu orang yang lalu lalang mulai menghilang di balik sudut-sudut bar dangdut Hayam Wuruk. Mungkin menghilangkan dahaga dengan segelas bir. Mungkin menghilangkan penat dihibur goyang maut pedangdut yang berharap-harap dikunjungi cukong. Mungkin juga, menghilangkan segumpal sperma di balik panti-panti pijat yang bertebaran laksana kamar coblos di masa pemilu.

Malam semakin malam, uang baru ada tiga ratus ribu di kantong.

Ada seorang pembeli datang. Masih muda. Setengah mati menawar barang hingga harganya seperti jatuh ke dasar bumi. Ia ngotot mati-matian, alasan ini-itu, mulai dari barang yang warnanya sudah pudar, agak tergores sedikit, hingga membanding-bandingkan dengan harga baru toko.

Ia menawar kamera FM2 dengan dua lensa yang pernah menemani saya mengunjungi pulau-pulau di Indonesia dengan harga empat ratus ribu? Ia gila kali?

Waktu saya habiskan dengan memberitahu bahwa ini kamera luar biasa. Mamang menatap saya dan pembeli dengan wajah keheranan. Baginya, apa yang hebat dari sebuah benda kotak yang mampu merekam cahaya secara manual itu. Mengapa kami berdua ngotot soal harga, ia tidak mengerti.

Anak muda itu akhirnya menyerah. Ia tidak mau membayar lebih dari empat ratus lima puluh ribu. Untuk satu kamera  berbadan hitam dengan dua lensa makro dan mata ikan.

Ia pergi.

Saya mendenguskan nafas. Gerak jalan kakinya makin menjauh gerobak yang saya duduki. Saya tatap Mamang yang wajahnya masih tetap pucat walaupun ditimpa remang-remang cahaya lampu jalan merkuri. Anak muda itu semakin menjauh. Saya tatap lagi wajah Mamang dengan raut muka yang semakin bingung.

“Mas!… Mas… Oke deh!”, saya teriak memanggil anak muda itu.

Saya menyerah. Saya sadar saya kalah. Apapun histori yang tersisa dari balik-balik cahaya di ruang intip dalam kamera, tidak mampu menahan wajah Egi yang terbaring demam di rumah.

Dalam remang merkuri pula, saya lihat anak muda itu tersenyum simpul. Sedikit. Wajahnya tidak mampu diungkapkan dengan kata-kata. Seperti… Seperti… Ahh saya tahu, kenapa susah dijabarkan dengan kata-kata. Sebab memang tidak mudah menjabarkan kemenangan yang dicampur isi kantong dengan drama.

Anak muda itu, pembeli terakhir. Malam semakin larut. Penjual lain sudah merapihkan barang dagangan mereka.

Saya semakin panik. Saya tawarkan barang-barang yang tersisa pada rekan pedagang. Entah apakah ada airmata yang turun ketika menawarkan barang dagangan ini, entahlah, saya tidak tahu. Saya panik memikirkan Egi yang terbaring dan butuh dua juta rupiah.

Dan mereka yang melihat ini, entah baik hati entah memanfaatkan situasi. Membeli memborong semua barang, dengan harga jatuh semurah-murahnya.

Saya tidak peduli. Masih ada banyak barang bekas lagi di dunia ini. Sedangkan nyawa Egi cuma satu.

Malam itu, saya beri Mamang uang sebanyak sejuta lima ratus. Iya, masih kurang lima ratus ribu lagi. Namun, itu yang terbaik yang bisa saya lakukan buatnya. Saya mohon maaf, tidak sanggup lagi menyanggupi dua juta rupiah sebagai target semula.

Mamang mengucap terimakasih banyak. Lalu minta ijin pamit pulang menemani Egi yang terbaring di rumah.

Malam itu, saya berdiri kebingungan di antara gelombang cahaya lampu mobil Jakarta Kota. Ada rasa sedih pelan-pelan menyelinap kehilangan barang-barang yang saya cintai. Barang-barang kenangan yang saya kumpulkan dari penjuru bumi Indonesia.

Tiba-tiba saya sadar, bahwa kereta terakhir ke Depok sudah lama habis. Ya ampun, bagaimana nasib gerobak bapak kost yang saya pegang ini? Masa sih malam-malam saya jalan kaki dorong-dorong gerobak dari Jakarta Kota menuju Depok? Itu enam jam jalan kaki. Dan saya, tidak setabah Mamang yang jalan dari Tanjung Priok ke Depok.

Malam itu, saya putuskan tidur di gerobak. Di seberang Kantor Pos Pusat yang ada di depan Museum Fatahillah, dekat Stasiun Jakarta Kota. Minimal aman memejamkan mata, tidak dibangunkan oleh pentungan petugas berwajib. Sambil menunggu kereta terpagi menuju Depok.

Malam itu, saya tidur beralaskan gerobak beratap bintang. Ahh, sekali lagi, Jakarta terasa lebih romantis.

Dan malam itu saya lalui dengan aman. Siapa pula yang mau mencuri gerobak yang isinya seorang lelaki gondrong yang tidur bersarung. Hehe.

Paginya (saya bangun kesiangan, sudah banyak mobil di Bandengan) saya naik kereta menuju Depok. Bawa-bawa gerobak di antara kerumunan manusia wangi-wangi yang akan entah bekerja entah sekolah di Depok.

Di antara kerumunan manusia itu, entah kenapa ada seorang perempuan manis menyapa, “Eh Bang Arip, ngapain pagi-pagi bawa gerobak?”

Saya lemas ketika menatap balik hendak menjawab.

Ia, saudara sepupu saya.., Egi.

This entry was posted in bangaip and tagged . Bookmark the permalink.

23 Responses to Trik Menjual Barang Bekas

  1. DeZiGH says:

    Egi nya selamet, khan?

    -0-
    Egi selamat. Bahkan rupanya, tidak pernah kena demam berdarah sama sekali sepanjang hidupnya.

  2. Pingback: Antara Tanjung Priok dengan Depok « Arif Kurniawan as Bangaiptop

  3. lambrtz says:

    Dueng…sampai akhir…kok mengejutkan Bang 😯

    La terus bagaimana nasib Mamang?

    -0-
    Beliau masih ada. Dan masih saya hormati karena darah

  4. Yogie says:

    Oalaahhh..

    Mungkin bang Arip lagi masuk tipi..
    trus nanti ada yang bilang..

    “Keennaaa Deehhh”

    -0-
    Haha, iya tuh, kayak Home Videos. Hehe

  5. V-x says:

    Nyesek, tapi, Allah menilai keikhlasan abang. Sadar atau nggak, semuanya sudah diganti sm Allah,dg karunia yg mengucur dariNya setiap hari. Thx for the inspiring story…

    -0-
    sama-sama

  6. kramero says:

    Astaga, Bang Aip yang malang…

    -0-
    Nggak apa-apa, setidaknya saya dapat rejeki setelah itu. Bayar kost ditunda dua bulan, karena bapak kost yang prihatin. Tapi dia senang, walaupun susah, gerobaknya tidak saya jual. Haha

  7. aRuL says:

    cerita2 bang aip selalu buat saya tersentuh…
    kadang batas antara kejahatan dan kemiskinan itu tidak ada..
    namun bang aip membuatnya berbeda, dengan barang bekas…
    bang aip patut jadi panutan

    -0-
    Saya mah bukan panutan Arul. Hehe. Saya sepertinya cuma orang yang kebanyakan sok tahu sehingga bagi-bagi cerita idup saja kali yaa. Hehe.

  8. hedi says:

    barang bekas yg di tangan bang aip bisa jadi bermakna

    -0-
    Amiin Mas Hedi. Di tangan Mas Hedi, buku-buku malah jadi jauh lebih bermakna.

  9. det says:

    bang aip, ini cerita beneran kah? hm… begitu dahsyatnya mamang itu sampe pake tudung anaknya sendiri dibilang kena DBD?

    palingan dia juga ndak jalan kaki tuw ke tempat bang aip!

    -0-
    Saya nggak tahu beliau benar-benar jalan kaki atau tidak. Tapi saya ikhlasin aja lah. Mungkin saya kurang sedekah kali yaa (*menyambung cerita terdahulu, hehe*)

  10. Nayantaka says:

    Ikhlasin aja bang, ntar juga akan dapat ganti yang lebih baek. Eh,, Egi cakep nggak bang?

    -0-
    Egi cakep.

  11. Catshade says:

    Respon spontan saya begitu selesai membaca ini. What. The. FUCK. 😯

    -0-
    Sabar yaa Mas

  12. Wah, ketipu deh.
    Bener2 bromocorah ya? Tega2nya menipu.
    Aih, relakan saja.

    Salam

    -0-
    Iya Mas Dewo, terimakasih atas sarannya. Kalau soal beliau, mungkin tega menipu karena ada sesuatu yang membuatnya terpaksa melakukan itu. Entah apa? Sampai saat ini saya tidak tahu.

  13. bsw says:

    Sedih baca ceritanya Rif, tapi seneng juga dapet cerita sebagus ini pagi2 begini.
    Mungkin itu alasan Iblis ketika dia bilang kalo manusia yg tidak bisa dia kalahkan cuma manusia yg “ikhlas”.
    Kalo saya pasti dendam sekali sama Paman model begitu Rif, tapi saya yakin Arif ikhlas. Eh iya nggak? Paling tidak nggak jadi trus mukulin pamanmu itu kan?
    Salam

    -0-
    Nggak Mas, ndak saya pukuli. Saya sudah janji sama ibu nggak mau mukulin orang lagi. Ibu saya nggak suka saya mukuli orang. Dosa katanya beliau.

  14. Manusiasuper says:

    Padahal kameranya lumayan buat saya itu Bang…

    terkadang jadi orang baik malah nyusahin ya..?

    -0-
    Mungkin, iya. Tapi kalau dalam kasus ini, mungkin saja ini hal yang harus saya hadapi buat jadi pengalaman kali yaa… Ahh saya kok jadi sok bijak begini, hehe

  15. Eru says:

    Endingnya >_<

  16. Guh says:

    Mungkin itu harga yang harus dibayar untuk melenyapkan mahluk sebrengsek dia dari kehidupan Bangaip.
    Hanya saja, kali itu ga bisa ditawar, hehe.

    -0-
    hehe, beliau masih ada rupanya dalam kehidupan saya :)

  17. sufehmi says:

    Seumur hidup saya ini dia anti-klimaks paling top yang pernah saya temukan 😀 benar-benar menohok, hehehehe

    InsyaAllah banyak hikmahnya bang.
    Pelajaran hidup yang berharga sekali.

    (tapi saya ngomong begini juga enggak tahu sih, apakah saya bisa sabar juga kalau kena cobaan yang selevel ini, hahahaha…. berat euy :-# :-)

    -0-
    Wah Pak, waktu setelah kejadian… Saya malunya minta ampun. Lewat kampus, pake sarung sambil ndorong gerobag. Tapi bukan disitu malunya. Yang malu, saya diusir satpam, disangka tukang maling barang anak-anak kampus. Gara-gara bawa gerobag.

    Dosen sampai turun tangan mengurus masalah ini. Haha

  18. Fortynine says:

    Si Egi, seandainya sekarat beneran masih beruntung, punya seorang Arif Kurniawan yang bersedia berkorban beneran untuknya.

    Tapi bagimana dengan ‘Egi – Egi lainnya’ diluar sana? Yang benar benar sekarat dan tidak punya biaya untuk berobat? Yang tidak mampu hidup karena kemiskinan yang memang dipelihara oleh negara????

    Semoga saja ‘Egi – Egi lainnya’ juga punya Arif Kurniawan-nya sendiri, yang bersedia berkorban untuk mereka….

    -0-
    Sudah baca buku “Orang miskin dilarang sakit?”, Rid. :) Bagus tuh buku.

    BTW, Ahh, saya nggak berkorban kok. Itu kepepet aja. Orang kepepet kan biasanya melakukan hal-hal yang nggak-enggak. Hehehe

  19. titiw says:

    Anjrittt!!!!!!!! serius bang?!! Ajegile surgile tuh Om sendiri!! Ck ck ck.. padahal saya udah sedikit rispek sama doi.. eh jatoh lagi.. Ya ampun Bang Aip kejadian hidupnya kalerful bener yak, hoho.. moga2 pintu hati beliau dibukain sama Allah ya bang.. Takut ada beneran yg namanya karma itu.. AMIN..

    -0-
    Amiin, Tiw

  20. fety says:

    hmm, speechless bacanya..

  21. lanny says:

    bang, aku kok ya jadi ketawa pas baca ending cerita nya,… miris tapi ya lucu, aya aya wae…heheheh

  22. non_ii says:

    Deuh….
    Bangaip.. Sedih amat siy critanya…
    Tp tu mamang bener2 ada???diapain stlahnya tuh bang??

    –0–

    Yaah dimaapin aja pas lebaran, Mbak. Mau diapain lagi? Kata Bu Sirol tetangga saya, “Gustialoh matane ora buta” (*Artinya: Tuhan tidak tidur. Maklum beliau relijius. Walopun sebenernya saya nggak ngerti apa maksudnya. :) *)

Leave a Reply