Tek Tok

Ini tulisan saya yang hilang karena websitenya di deface dulu. Saya baru sadar setelah malam ini sedang baca-baca tulisannya Farid yang lama. Judulnya Kado Dari Bangaip.

Saya kok bacanya jadi sedih. Ia ulang tahun, tidak saya kasih kado. Jangankan hadiah, selamat pun tidak. Padahal tulisannya Farid itu selalu saya baca dengan setia. Salah satu tulisannya Farid adalah menyoal eksistensi blognya. Yang secara membuat hidung saya kembang kempis, menyebut-nyebut nama saya begitu. Hehe.

Ketika tulisan saya hilang di deface. Rupanya masih ada backupnya. Jadi, ini adalah tulisan yang Farid maksud. Ini, benar0benar kado untuk Farid. Aneh juga, kado yang tercipta dari sesuatu yang tadinya ada dan menghilang.

Kalau sedang butuh ide, atau sedang iseng, atau sedang butuh informasi hiburan, biasanya saya membaca blog dalam bahasa Indonesia.

Habis membaca blog, biasanya saya kembali riang gembira. Entah kenapa… Aneh yaa? Hehe

Nah, yang jadi masalah; Hati yang riang gembira, biasanya-hanya-terjadi, setelah berkunjung dari blog-blog yang isinya baik menurut saya saja.

Setahu saya, saat ini banyak sekali jumlah blog berbahasa Indonesia.

Namun yang membuat hati saya riang gembira, kok yaa makin lama makin sedikit?

Kumpulan blog berbahasa Indonesia (mayoritas) dalam agregator yang menurut saya baik antara lain di merdeka.or.id. Merdeka ini isinya oke juga. Gado-gado, tapi lezat. Penulis blog yang tergabung disana kebanyakan kreatif.

Untuk agregator blog yang niche secara teknikal, saya memilih id-ubuntu (ubuntulinux.or.id) sebagai salah satu agregator yang konsisten dalam mutu. Maklum, para supporternya kebanyakan die-harder semua. Hehe.

Nah, bagaimana dengan blog-blog bahasa Indonesia lainnya yang jumlahnya tersebar di seluruh pelosok dunia? Apakah semuanya mampu membuat saya riang gembira?

Jawabnya, yaa belum tentu. Hehehe.

Jangankan membaca blog orang lain, membaca blog sendiri juga kadang belum tentu saya riang gembira. Hihihi.

Tapi pada intinya, kok yaa makin lama makin hari makin susah menemukan tulisan gratis yang bermutu (berdasarkan standar ndeso saya) di belantara blog berbahasa Indonesia.

Apakah harus membayar untuk membaca blog bermutu?
Atau apa ini hanya perasaan saya saja yang semakin lama semakin tidak tahu diri?
Atau kalau memang susah menemukan blog bagus berbahasa Indonesia, kenapa tidak mencari yang berbahasa lain?

Entahlah.

Dulu, ada beberapa blog yang bagus. Isinya juga menarik. Dan tentu saja berbahasa Indonesia :) . Sayang saat ini mereka menghilang bersama angin.

Kemana yaa mereka.

Beberapa pemain lama, yang tulisannya bermutu, untung saja masih ada dan konsisten menulis. Cakmoki, Bu Edratna, Pak Harry Sufehmi, Mamanya Ima, Mas Iman Brotoseno, Sora9n dan beberapa nama lainnya alhamdulillah masih menyampiri kita, para fansnya.

Tiba-tiba, saya jadi ingat Gerakan Sejuta Blog.

Waktu gerakan tersebut dicanangkan. Pertama kali yang ada di otak saya adalah, “Kalau sudah sejuta, mau apa?”.

O-oh, saya sama sekali tidak antipati terhadap gerakan tersebut. Tapi saya terus terang jadi ingat dengan gerakan “Memasyarakatkan Olahraga, Mengolahragakan Masyarakat”.

Gerakan tersebut, waktu pertama kali dicanangkan (kalau tidak salah di pertengahan tahun 80-an), luar biasa sekali gemanya. Dimana-mana, masyarakat di ajak olahraga. Begitupun sebaliknya, masyarakat jadi gemar olahraga.

Pada saat itu, berbondong-bondong warga diminta untuk partisipasi Gerak Jalan.

Apa itu gerak jalan?

Gerak jalan adalah acara di mana segerombolan masyarakat membentuk dan bergerak secara baris-berbaris dari satu lokasi menuju lokasi lainnya. Tujuannya? Menang! Sebab biasanya ada kalimat di awal kalimat gerak jalan. Yaitu ‘LOMBA’.

Kenapa harus gerak jalan?

Nah, gerak jalan ini, rupanya menjadi ujung tombak utama dalam gerakan “Memasyarakatkan Olahraga, Mengolahragakan Masyarakat”. Tidak peduli siang terik menyengat tidak sehat. Kalau lomba ini berjalan, semua warga harus ikut. Katanya, biar kompak. Maka itu yang ikut gerak jalan harus pakai seragam yang sama.

Ahh itu sih bukan kompak. Itu sih namanya penyeragaman.

Tapi untungnya, semua warga menurut mengikutinya. Mungkin gara-gara semua karyawan departemen pemerintah republik tercinta, wajib hukumnya untuk ikut.

Lama kelamaan, lomba ini mulai punah. Warga mungkin mulai bosan ikut gerak jalan. Sebab toh, ternyata pada olimpiade tidak ada pertandingan Gerak Jalan.

Mereka balik lagi ke hobi lama. Hobi sebelum gerak jalan ada. Menonton bulutangkis. Sambil bermimpi anak mereka mendapat emas dalam pertandingan dan lalu menjadi bintang iklan. Sukur-sukur kalau tampan, bukan hanya jadi atlet bintang iklan, melainkan juga naik pamor menikahi anak pejabat.

Kata warga, “Bulutangkis jauh lebih bermutu dan punya masa depan daripada gerak jalan”

Maka itu, si tepi jalan. Di gang-gang kecil. Pada bulan puasa tiba, anak-anak bermain tektok. Triplek dipotong segi empat dengan pegangan sedikit. Triplek itu dijadikan pengganti raket badminton. Rupanya, mimpi mendadak bulutangkis ini dimanisfestasikan menuju tektok.

Dinamakan tektok, karena apabila memukul bola badminton berbulu angsa, bunyinya “TEK”. Kalau dibalas, bunyinya “TOK”.

Pada intinya, tektok ini lebih populer daripada gerak jalan.

Kenapa?

Sebab tektok ini adalah murni pengejawantahan bulutangkis. Olahraga yang meegenda di negeri kita.

Bukankah Indonesia berkali-kali memenangi olimpiade tepok bulu ini? Dan bukankah pula Liem Swie King tidak pernah dipaksa ganti nama Indonesia (walaupun pada tahun-tahun itu, semua nama ‘Cina’ harus dinasionalisasi) karena ia juara dunia bulutangkis berkali-kali?

Itulah sihir bulutangkis yang mampu menjelma menjadi tektok.

Dan tektok ini, ternyata jauh lebih membumi daripada semua slogan ajaib (seperti diantaranya “Memasyarakatkan Olahraga, Mengolahragakan Masyarakat”).

Tapi ahh, maaf yaa. Kok yaa jadi melantur begini. Apa hubungannya antara Gerakan Sejuta Blog dengan semboyan “Memasyarakatkan Olahraga, Mengolahragakan Masyarakat”?

Bukankah seharusnya saya bangga apabila sudah ada sejuta blog di Indonesia. Sebab itu artinya adalah sejuta lebih orang Indonesia yang menggunakan internet. Maksudnya, kalau sejuta blogger, maka seharusnya ada sejuta lebih pekerja servis internet yang melayani mereka. Arti lebih lanjutnya, sudah berjuta-juta manusia di RI yang melek internet.

Seharusnya saya bangga, saudara-saudara sebangsa dan setanah air saya melek internet. Bukankah itu artinya penduduk RI pinter-pinter. Seharusnya saya bahagia melihat sudah ada sejuta blogger, sebab bukankah itu artinya menambah laju pemasukan negara melalui sektor IT. Seharusnya saya sumringah, bahwa sudah ada sejuta penulis di RI.

Maka itu, saya pikir saya sama sekali kurang merasa bersyukur.

Sebab bertanya-tanya terus, kok yaa makin lama makin hari makin susah menemukan tulisan gratis yang bermutu (berdasarkan standar ndeso saya) di belantara blog berbahasa Indonesia?

Maka itu, mohon pencerahannya agar anda bersedia memberikan saya sedikit cahaya informasi. Blog Indonesia mana yaa yang kira-kira dapat membuat hati kita riang gembira?

This entry was posted in bangaip, Orang Indonesia, Republik Indonesia. Bookmark the permalink.

14 Responses to Tek Tok

  1. goop says:

    ah blog yang bikin riang ya blognya bangaip, dari blog bisa menjadi tektok yang dimainkan dengan riang hehehe….
    seperti yang abang tulis di atas, yang membikin riang abang belum tentu membuat saya gembira, jadi… saya tidak ada informasi itu, ah apalagi cahaya 😀
    maafkeun, bang

  2. rere says:

    Betul bung aip, banyak sekali blogger yang sudah tidak produktif sekarang, padahal saya tahu sekali tulisan mereka sangat bagus… tambah parah sejak boomingnya Facebook…. masakan para blogger tersebut bukan update tulisannya di blognya, malah menuliskannya via note di FB… jadi kesimpulan saya FB itu “pembunuh” blogger.. :)

  3. Fortynine says:

    Kebetulan saya sendiri sedang tidak roduktif ngeblog karena ada beberapa masalah Bang.

    Iya, saya juga merasakan bahwasanya sekarang blog tidak seperti ketika pertama kali booming, dimana banyak penulis penulis berbakat muncul. Sekarang blog kadang kadang cuma jadi ajang kopi paste

  4. loly says:

    Gw suka blognya bu tia, meet my classroom, yang ngajar anak2 SD.
    satu dari sedikit blog berbahasa Indonesia yang baik dan benar.
    Di atas blognya ada tulisan i do not teach, i learn.. hohohoho… bener banget deh taglinenya.. she sure know how to value her daily routine

    😀 pa kabar bang aip…

  5. -tikabanget- says:

    sayah ktawa ktawa baca blog sayah sendiri.. :(
    sayah yang kurang waras atau blog sayah yang kurang sehat?
    tolong, dok..

    (nama dan alamat dirahasiakan redaksi)

    *sok konsultasi*

  6. titiw says:

    Ada blog yang memang menyadur atau malah memindahkan isi tulisan Goenawan Mohamad yang setiap senin dipublikasikan di majalah Tempo mas. Buka http://caping.wordpress.com/ aja, lumayan kalo gak sempet beli majalahnya.

    Atau baca tulisan yang “dari hati banget”-nya Dewi Lestari (iya, mantan penyanyi RSD itu bang) di http://dee-idea.blogspot.com/ (tapi terkadang dia juga nulis bahasa inggris sih). Atau kalau mau sekalian buka tulisan2nya putu wijaya di http://putuwijaya.wordpress.com/

    Eh maap ya bang kalo aku ngasi2 link yg nyastra.. apa boleh bulat.. aku kan pencinta sastra Indonesa, hehehe.. :)

  7. Blog Bang Aip = blog bahasa Indonesia favorit hiburan saya! *Masih cinta blog*

  8. sufehmi says:

    Halo bang, cuba sila mampir ke beberapa blog terlampir :

    http://amellie.net/

    http://www.salsabeela.com/

    http://jakartadailyphoto.com/

    Enjoy :)

  9. edratna says:

    Blognya bangaip ini suka bikin kangen, apalagi kalau lama nggak nulis tulisan baru….tulisannya suka nyentil, lucu, dan bikin geli.
    Saya kaget juga, kalau blogku termasuk yang sering dibaca Bangaip…karena saya merasa, akhir-akhir ini agak susah punya ide menulis bagus (alasan aja kalau lagi malas).

    Jadi…sering2 menulis ya Bangaip…

  10. Kalau di perusahaan kami, tek tok itu bincang-bincang teknis. Sebenarnya sih plesetan dari tech talk. Tapi teman2 di sini jago bulu tangkis juga sih. Cuma pas bulu tangkis ga sampai bunyi tek-tok gitu. Hehehe…

  11. leksa says:

    Masih banyak kok bang,..
    permasalahannya, roda berputar,..
    ada generasi baru hadir dengan ide nya yang sama atau bahkan jauh cemerlang dengan pendahulu,..
    dan
    ada juga yang bermetamorfosa menjadi bentuk lain,…

    saya ga pernah kehabisan tempat membaca tulisan2 segar begitu 😉

  12. Ria says:

    Susah memang mencari blog yang seperti itu bang, karena blogku pun bukan yg bermutu begitu…kebanyakan orang sekarang lebih sering menulis keseharian dan memang ada suatu pengalaman dan semangat yang di bagikan oleh mereka.

  13. Yoga says:

    Sejuta blogger? Kalo ada sepersepuluhnya di daerah terisolir, saya akan lebih bersyukur. :)

  14. Jardeeq says:

    Tek tok bukannya plesetan buat ilmu kebal bacok ya?

    –0–

    Di Cilincing, sebutannya ‘Tek Bal’ untuk ilmu kebal. Di beberapa tempat lain sekitarnya seperti Plumpang dan sekitarnya, setahu saya iya.

Leave a Reply