7KC – Dua; Rupiah

Saya tiba di Cilincing malam hari. Dari bandara Soekarno-Hatta dijemput Odoy dan Yono, langsung bablas menuju Cilincing, ke rumah Ibu saya. Yang menarik malam itu, Yono sekarang punya mobil dan lebih menarik lagi, punya supir.

Saya tidak tertarik membicarakan apa merek mobil Yono dan berapa rupiah yang harus ia keluarkan untuk itu. Namun ada satu hal yang menarik, bahwa Yono punya mobil dan supir. Artinya, ia punya bujet pengeluaran untuk hal tersebut.

Roda nasib berputar. Mau percaya atau tidak. Yono yang saya kenal itu buruh bangunan. Kerjanya motong-motong papan, membolonginya lalu menyekrup satu-satu untuk dibuat meja-meja yang dipakai para pekerja kantoran Jalan Sudirman, Jakarta. Rupa-rupanya dalan beberapa tahun belakangan ini, ia mengembangkan keahliannya menjadi spesialis disainer interior khusus kantor. Baru beberapa tahun tidak bertemu, ia kini punya lapangan pekerjaan yang bisa dibagi kepada mereka yang membutuhkan. Saya terkagum-kagum. Pada Yono… Dan juga pada orang yang berkata “Roda nasib berputar, men!”.

Dulu ia ke mana-mana jalan kaki (karena tidak punya ongkos buat transportasi). Sekarang, bisa buat lapangan pekerjaan untuk diri sendiri dan orang lain. Ahh, kagum saya. Malam itu, ada rasa bangga terhadap seorang sahabat.

Sebelum sampai rumah Ibu, kami ke warung bakso dahulu. Makan bakso saya sepuasnya. Sudah bertahun-tahun tidak makan bakso. Sudah bertahun-tahun tidak makan daging. Kali ini, sukurlah diberi kesempatan makan bakso ucus (*iya benar, itu bukan typo. Nama warung baksonya; BAKSO UCUS*). Tentu saja kesempatan ini saya manfaatakan dengan semaksimal mungkin. Aje gile, saya makan bakso sampai empat mangkuk. Pas giliran bayar, tentu saja saya harus tahu diri sebagai yang makan paling banyak. “Bang, berapa semuanya?”

“Tiga puluh tujuh ribu limaratus ribu, Mas? Itu sudah sama teh nya tiga gelas”

Saya menyodorkan selembar uang satu-satunya di dompet pada abang tukang bakso. Abangnya lama diam menatap saya. Saya bingung, bukankah seharusnya ia mengembalikan uang sebanyak enam puluh dua ribu lima ratus dari selembar uang saya ini.

“Mas, uangnya nggak laku, Mas”

Sambil malu-malu tersenyum, saya pergi meloyor ke arah Odoy. Berbisik “Doy, gua bukan sok belagu nih. Gua nggak punya duit lain selain ini men. Lo ada rupiah lima puluh ribuan ga? Ini 100 euro men”

Odoy menatap sebal ke arah saya. Membuka dompet dan menyodorkan selembar lima puluh ribu rupiah. Saya sambil cengar-cengir balik lagi ke abang baksonya. Hehe.

Setiba di Cilincing saya tidak bisa tidur. Kulit saya sok tahu, minta agar udara diturunkan derajatnya menjadi 18 Celcius. Sudah lupa akan centilnya nyamuk Cilincing yang luar biasa. Saya tidak bisa tidur, jetlag lagi-lagi jadi kambing hitam.

Pukul dua dini hari, Ibu bangun. Adik saya si Uul dan Gugun ikutan bangun. Mereka menggigil. Kata Ibu, “Baru sekali-kalinya ini Ibu nggak sakit tapi kedinginan di Cilincing. Masoloh dah, asenya di matiin dong”. Saya cengar-cengir menjawabnya. Menurut pada Ibu, saya matikan pendingin suhu ruangan. Membiarkan nyamuk-nyamuk Cilincing berpesta pora mengembat darah saya sepuasnya.

Saya bangun siang sekali. Pukul 11.30 siang. Itu pun dibangunkan paman, adik Ibu yang paling bungsu. Beliau bilang, “Duilee, udah kayak juragan sekarang. Bangon siang-siang. Oyyy… Rejeki dipatok ayam ooi!”

Saya sodorkan jam telepon ke arahnya, di sana masih tertera 4.30. Saya bilang, “Oom, masih subuh niih”.

Paman terbengong-bengong, “Oh iye. Gua lupa. Iyee yee, lu pan masih subuh yee disono. Ya udah kalo gitu bangun deh. Subuhan dulu”.

Saya bangun sambil cengar-cengir garuk-garuk rambut, “Aye pan musafir Om. Kaga ngapa-ngapa dah kalo kaga subuhan”.

“Trus lo di sono subuhan ga?”

“Yaa kaga dong. Aye pan orang Cilincing. Musafir”

“Aaah dasar luh. Alesan aje bisanya. Udah bangon. Mandi sono”

Dengan semangat 45 saya mandi. Udara siang Cilincing panas sekali. Ini daerah memang aneh, ketika seluruh Jakarta hujan disini tetap saja kering. Selalu saja panas dan kering. Basah kalau ada banjir saja. Kata Yono tadi malam, “Rip, lo tau ga. Cilincing itu dikutuk, men. Mangkanya jadi panas begini. Di kutuk dewa naga”. Katanya sambil ketawa terbahak-bahak. (*Astaga, saya sambil mandi kok terbayang Yono. Iih amit-amit deh. Mandi sambil membayangkan pria lain. Hehe*)

Selesai mandi, saya mau minum teh di beranda depan rumah Ibu. Saya kebingungan, orang-orang di rumah saya sudah menghilang. Entah kemana? Yang pasti saya yakin mereka tidak diculik Alien. Maka itu saya membuat teh hanya segelas saja. Saya masukkan es, jadilah Es Teh Bangaiptop. Voila! :)

Begitu tiba di ruang tamu, ruang sebelum beranda rumah, di jendela saya lihat ada seseorang duduk di beranda. Saya kebingungan juga, mau balik ke dapur bikin teh lagi, sudah tanggung. Tapi kalau bawa teh hanya segelas dan tidak menawarkan, kan tidak sopan namanya. Tapi akhirnya saya coba untuk duduk di beranda, meyakinkan siapa si empunya silhouette di jendela.

Begitu keluar pintu, saya terbelalak. Mendesis saya menyebut nama tuhan.

Di beranda rumah Ibu, siang itu, ada lelaki duduk di sana. Kelihatan lebih tua dari usianya. Usianya sendiri sekitar akhir 40-an. Pakai kemeja kotak-kotak bercelana jeans bercorak aneh dengan sendal lusuh di kakinya. Ia menunduk. Tangan kirinya mencangkung di lengan sandaran kursi plastik. Lengan kanannya memegang silet… Mengiris-iris lengan kiri. Astaga, rupanya corak aneh di celananya adalah darah.

Saya duduk langsung bersimpuh dihadapannya, “Bang Us, ya olooh Bang. Brenti napa bang. Brenti Bang”. Sambil meneteskan air mata, saya peluk ia. Saya ambil silet dari tangannya. Lalu berlari ke dalam rumah, mencari perban dan obat merah.

Ia, Bang Us. Dulu abang-abangan saya. Dipanggil abang-abangan karena ia yang mengajarkan saya trik dan tips bertahan hidup di Cilincing. Dan ia lebih tua dan tinggal tidak jauh dari rumah Ibu. Maka itu, semua yang kami panggil abang, adalah disebut juga abang-abangan. Sambil saya balut lukanya (yang untung tidak terlalu banyak dan dalam), saya tanya ada apa. Ia tidak menjawab. Diam saja. Seperti patung. Saya bersihkan lukanya. Saya pandu ke ruang tamu. Membiarkannya berbaring di kursi dan memberinya Es Teh Bangaiptop.

Setengah jam ia tidak bicara apa-apa. Saya bujuk setengah mati untuk bicara. Saya ceritakan anak istri saya. Saya ceritakan cara saya naik sepeda kumbang secara ugal-ugalan dan disoraki anak-anak kecil kampung kami. Saya ceritakan kapan saya datang. Saya ceritakan pertemuan saya dengan tiga perempuan di bandara. Dan saya ceritakan cara saya kabur dari subuhan. Setengah jam seperti orang gila saya bicara sendiri. Kadang sedih sendiri. Kadang senyum sendiri. Setengah jam pula ia tidak bereaksi apa-apa.

Sebelum azan zuhur tiba akhirnya ia membuka mulut, “Lo sehat Rip?”

Saya tersenyum gembira. Saya khawatir ia sudah gila beneran. Dan mau bunuh diri di beranda rumah Ibu. “Sukur Bang aye sehat. Abang sendiri gimana?” (saya tidak tanya kenapa ia mengiris-iris tangannya).

“Yah beginilah, Rip. Mati segan hidup pun enggan”

“Yaelah, kok bisa gitu Bang. Pake pantun segala pula, hehe”

Mendengar saya ketawa, ia ikut senyum. Saya senang. Saya senang sekali bisa melihat senyum dibibirnya. Sebab katanya, senyum itu berjuta makna. Diantara jutaan maknanya adalah semangat untuk tetap bertahan hidup. Itu juga katanya, loh.

“Bang Us. Maap maap nih yee. Kalo aye salah kata. Sori deh. Begini Bang, bukannya aye mau lancang mulut. Maksud aye, kok yaa bisa-bisanya Bang Us nyilet-nyilet nadi. Emangnya ada ape, Bang? Sekali lagi maap yee Bang kalo nyinggung perasaan abang”

Bang Us diam sejenak. Lalu mulai bercerita. Bercerita tentang mertuanya yang masuk rumah sakit karena kanker kandung kemih dan lalu meninggal dunia setelah beberapa bulan di rumah sakit. Bercerita hutangnya yang membengkak ke rentenir untuk membayar obat mertuanya. Bercerita tentang motor bebeknya yang akhirnya digadai untuk menebus bunga hutang rentenir. Bercerita tentang betapa rakus anak-anak mertuanya yang berebut rumah warisan. Bercerita tentang bagaimana ia diburu-buru debt collector. Ia bercerita bagaikan tanpa henti. Ia bercerita seperti rel kereta api Trans-Siberia, panjang dan hampir tak berujung. Penuh duka, bergelotak gemetar dan membekukan hati.

Saya melongo. Kaget. Dalam hati berfikir, ‘Kok yaa ada orang sesusah ini?’

Baru saja ia berhenti bercerita, gerendel pintu pagar halaman beranda di buka orang. Saya lihat ada beberapa laki-laki berkulit gelap dengan rambut ikal masuk ke beranda. Perawakan tubuh mereka tegap. Lengannya kekar sekali. Ahh siapa itu?

Saya berdiri di beranda, “Selamat siang, saya arif. Ada yang bisa saya bantu?”

Diantara lima laki-laki bertubuh besar itu, seorang yang pakai kaus putih maju. “Kita ada cari Usman. Kita ada dengar Usman disini. Ale ada lihat Usman?”

Saya menangkap ada sesuatu di percakapan siang ini. Suara laki-laki itu, terdengar tidak begitu gembira. Ia beserta teman-temannya, bermuka tidak begitu ramah. Saya pikir, ini ada hubungannya dengan cerita Bang Usman bahwa ia diburu-buru debt collector, para penagih kredit macet. Saya dengan syak wasangka berfikir bahwa mereka adalah debt collector yang akan mengeluarkan segala cara agar dapat memenuhi setoran target.

Dari cara mereka memanggil saya dengan ‘Ale’ (artinya kalau tidak salah adalah ‘kamu’, saya pikir mereka dari tanah Maluku.

Saya menghela nafas. Yakin bahwa sesuatu yang buruk bakal terjadi di rumah Ibu apabila situasi melenceng dan memanas. Maka itu, saya persilahkan mereka masuk. Sambil cari cara bagaimana bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik dan tanpa berlumuran darah. Masa sih hari pertama saya di Cilincing sudah berlumuran darah sejak bangun tidur?

Ketika mereka masuk, saya lihat Bang Us sudah tidak ada di ruang tamu. Kemana beliau? Saya persilahkan tamu-tamu itu duduk. Saya minta ijin ke belakang membuat Es Teh manis.

Ketika saya sampai dapur, saya lihat Bang Us sedang duduk di tangga samping kompor. Ketakutan. Ia bilang, “Rip, bantuin dong. Tolong bener yaa. Itu pan orang yang mau mukulin gua Rip. Tukang pukulnya rentenir. Gua belum bisa bayar, Rip”.

Sambil gemetar ia berkata.

Saya kasihan. Saya bilang, “Iya bang, aye bantu dah. Abang bikin Es Teh manis yaa. Bikin sembilan gelas. Inget Bang, sembilan”

Bang Us menatap saya heran. Lima orang di ruang tamu, dua orang di dapur. Kenapa harus membuat es teh sebanyak sembilan gelas? Saya tidak menjawab keheranannya. Saya keluar dari pintu belakang. Kebetulan di samping rumah Ibu saya selalu ada orang. Sahabat-sahabat saya dan adik-adiknya. Kebetulan siang itu yang ada si Umar, adik sahabat saya Kojek. Sudah besar ia sekarang, sudah kuliah di UNJ.

Arip: “Mar, tolong panggilin Amon dong”
Umar: “Amon mana, Bang?”
Arip: “Amon mana kek. Yang penting Amon. Jangan pake lama yaa?”
Umar: “Sip dah. Bentar yaa”
Arip: “Makasih, Mar”

Sebelum saya lebih lanjut bercerita. Nampaknya perlu saya beritahu apakah Amon itu.

Amon adalah bahasa saya dan teman-teman untuk memanggil laki-laki dari Maluku yang berusia muda dan produktif. Awalnya dari kalimat ‘Ambon’. Walaupun kedengarannya tidak adil. Sebab tidak mungkin toh semua orang Maluku kita panggil ‘Ambon’, maka itu dibuatlah panggilan kesayangan untuk mereka menjadi ‘Amon’. Hehe.

Amon, bukanlah laki-laki muda usia produktif saja. Untuk menjadi Amon, seorang lelaki muda keturunan Maluku di Cilincing harus sudah pernah masuk ‘sekolah’ atau ‘pesantren’, sebutan kami untuk Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS). Mereka disana menjadi narapidana (eufimismenya adalah WBL, Warga Binaan Lapas). Sebutan Amon pun dibagi-bagi menjadi LAPAS yang pernah mereka cicipi. Diantaranya adalah;

  • Amon Cipinang: Ini adalah Amon yang pernah masuk dalam penjara Cipinang, Jakarta. Diantara WBL asal Cilincing yang keturunan Maluku, mereka termasuk Amon kategori elit untuk sesama Amon lainnya. Kebetulan beberapa Amon Cilincing di LAPAS naik levelnya setelah menjadi bodyguard para koruptor kelas kakap (seperti misalnya jadi bodyguard mantan Gubernur yang mengkorupsi helikopter tempur namun dihukum jauh lebih berat daripada koruptor lainnya). Amon Cipinang biasanya dekat dengan pejabat-pejabat pesakitan yang sering kita ketahui dari media. Amon ini punya banyak informasi mengenai peta korupsi petinggi-petinggi RI dan socialite mereka (walaupun tidak semuanya layak dipercaya, maklum speak bui. Artinya omong-omong berbusa-busa di dalam bui untuk menghilangkan jenuh menghitung hari)
  • Amon Pondok Bambu: Ini biasanya dipanggil ABG Amon. Maklum, Amon yang masuk sini umumnya tahanan muda yang lebih dari 17 dan kurang dari 21 tahun. Di rutan Pondok Bambu rentan akan penyakit kulit. Amon yang keluar Pondok Bambu biasanya kulitnya gudik. Di Pondok Bambu umumnya juga tidak belajar apa-apa. Paling bertahan hidup a’la LAPAS Indonesia. Dimana untuk merasakan nikmatnya tidur di balai-balai, uang keamanan dan menyewa telepon genggam sipir (charge tambahan permenit) harus membayar uang sekitar 600 ribu hingga sejuta rupiah sebulan. Amon Pondok Bambu jarang ditemani kalau baru saja keluar. Anak-anak Cilincing, teman-teman saya agak diskriminatif, malas dekat-dekat mereka. Katanya bau dan korengan. (*Hehe, no offense bro*)
  • Amon Salemba: Nah kalau ini kebanyakan dari mereka adalah WBL yang cukup secara materi. Saya juga jarang dekat dengan mereka. Umumnya mereka juga jarang bergaul dengan saya. Maklum, dari sisi materi penghasilan mereka mengawal artis dan selebriti yang di bui sudah lumayan cukup. Apalagi kalau yang sudah berurusan dengan narkoba. Menjual narkoba dalam penjara sama dengan penghasilan dua puluh KK di Cilincing digabung jadi satu. Mereka malas bergaul dengan saya, kategori jelata yang duit pun susah masuknya, hehe. Amon-amon ini banyak diantaranya masuk dalam sindikat pengedaran obat terlarang dalam LAPAS. Kalau sudah masuk sindikat, uang tabungannya jauh-jauh-jauh-lebih-banyak ketimbang di luar penjara.
  • Amon Subang: Ini biasanya Amon frustasi. Maklum geografis Subang jauh dari ibukota. Suka stress karena jarang dibesuk keluarga (disebut juga ‘anak hilang’). Mereka biasanya tidak punya skill ataupun uang untuk bertahan di LAPAS Ibukota. Atau bahkan bisa jadi punya musuh dalam LAPAS yang lebih kuat pengaruhnya (*Sesama napi biasanya punya semacam pengaruh untuk menjadi penguasa. Yang kalah, ditendang jauh-jauh dari wilayah kekuasaan. Napi yang punya uang cukup banyak, dapat mempergunakan pengaruhnya untuk ‘memohon’ pada kepala LAPAS agar ‘membina’ dan ‘memutasi’ napi tertentu. Kalau lebih uangnya dan pengaruhnya konstan, bahkan dapat meminta Komandan Jaga untuk membawa perempuan dalam selnya*). Amon Subang ini biasanya jadi perpanjangan bogem mentah dari Amon lainnya apabila ada tahanan yang baru saja dimutasi ke Subang. Bayarannya umumnya adalah pulsa elektronik.

Ada beberapa kategori tipe Amon lagi sebenarnya. Tapi saya pikir, kategori diatas dapat mewakili beberapa Amon yang jadi tulisan kali ini. Dan sebelum saya akan melanjutkan lagi, tiba-tiba Umar datang. Ia bilang, “Bang, Amonnya abis. Tinggal satu”.

Saya kebingungan. Kok bisa Amon habis? Ooh iyaa, sebentar lagi Pemilihan Umum Wakil Rakyat. Pasti mereka banyak dipesan. Untuk apa? Hmhh yah, silahkan terka sendiri.

“Ya udah deh. Panggil. Aye di depan yaa, Mar. Kalo udah nyampe, jangan disuruh ke depan dulu. Panggil aje aye ke balakang”

Setelah itu, saya membawa tujuh gelas Es Teh diatas nampan ke ruang tamu.

Di ruang tamu, kelihatan tamu-tamu saya gelisah. Mereka sudah menunggu bermenit-menit. Mata mereka tajam dan menampakkan gerak tubuh yang tidak nyaman. Tanpa menunggu waktu, saya bagikan es teh manis (yang kali ini diberi pemanis madu dan secuil lemon). Saya bilang, “Bang Us ada di belakang. Sebentar yaa, saya panggilkan. Mohon agak bersabar. Mungkin beliau sakit perut”. (Ahh saya berbohong. Maaf)

Tamu-tamu saya itu mengangguk mengiyakan. Matanya tetap curiga.

Saya ke dapur lagi. Di pintu dapur yang menghubungkan rumah saya dengan halaman depan Umar sudah ada tiga orang. Bang Us, Umar dan Torik. Yang disebut belakangan, adalah juga Amon Cipinang.

Arip (bisik-bisik): “Tor, gua dapet tamu nih. Muntahannya Bang Us. Keliatannya Amon juga. Mao lo ambil ga?”
Torik (celingak-celinguk di jendela rumah Ibu saya): “Anjrit men. Muntahannya Bang Us bau banget. Itu yang pake kaos putih. Porman blok **** dia”

(*Sori, nama angka dan huruf blok sengaja saya sensor untuk menjaga perasaan Torik*)

Saya ikutan kaget. Maksud Torik sebut Porman sebenarnya yaitu Voorman, kepala kamar. Kepala kamar itu adalah narapidana yang menjadi ‘abang-abangan’ dalam Lapas. Ia punya fungsi banyak. Selain menyediakan keamanan, kenyamanan dan tamping (atau disebut juga ‘korpe’, napi yang menjadi pembantu narapidana lain yang lebih berduit), Voorman juga salah satu penghubung antara napi dengan sipir.

Menurut “Wetbuk van strafrecht voor Nederlandsch-Indie” (Kitab Undang-undang Pidana Untuk Hindia-Belanda) keluaran tahun 1918 yang nampaknya dibuat pada masa kolonisasi Belanda di Nusantara, “Voorman” (Pemuka Terpidana) diatur menurut surat edaran Kepala Urusan Kepenjaraan tanggal 25 Juli 1922 no. G 131/25/18. “Voorman” ini hanya ditugaskan untuk keperluan penjagaan di dalam lingkungan tembok kecuali di Nusakambangan, Sawahlunto pada tambang-tambang batu bara dan di Jember Barat Daya untuk proyek irigasi, dimana mereka juga dipekerjakan diluar tembok. Pengangkatan “Voorman” ini hanya diperkenankan di rumah-rumah penjara yang dikepalai oleh seorang Direktur. (*Oh ya, saya dapat info ini dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Republik Indonesia*)

Pada prakteknya kini, yang jadi Voorman tentu saja yang paling disegani. Dan tentu saja disegani dalam sebuah lingkungan masyarakat yang enggan segan (seperti penjara misalnya), bukan sesuatu yang mudah.

Arip (bingung): “Yaelah, trus gimana dong?”
Torik: “Lo ngapain sih ngurusin muntahannya Bang Us? Dia yang mabok. Dia sendiri yang urus?”
Arip: “Kaga enak gua men. Dia kan minta tolong. Kalo bisa dibantu, yaa gua tolongin”
Torik: “Serius nih men. Kalo bukan Porman mah udah beres dari tadi”
Arip: “Lo ada solusi ga?”
Torik (menatap tanpa perasaan bersalah): “Kabur yuk men bareng-bareng”
Arip: “Bloon luh. Rumah nyokap gua dibakar nanti, begoo”

Torik cengar-cengir. Daripada tambah lama, saya beri ia dan Umar es teh manis di dapur. Saya ajak Bang Us ke ruang tamu. Kelihatan sekali Bang Us takut. Jangankan dia, saya saja takut. Sebab saya tahu, Torik dan Umar pasti langsung kabur dari dapur setelah selesai minum es teh. Meninggalkan saya dan Bang Us berdua saja. Hehe. Sementara Bang Us, nampaknya tidak punya upaya untuk melawan kalau dipukulin lima orang kekar ini. Dia sih kelihatannya akan ‘pasang badan’ saja. Artinya simpel, mau diapakan juga… Yaa pasrah dan menyerah saja.

Saya? Lah tidak mungkin dong baru tiba di Cilincing dipukuli orang ramai-ramai tidak melawan. Gila saja kali yaa? Saya datang ke Cilincing bukan untuk jadi sansak.

Tapi, tidak mungkin juga melawan lima orang ini tanpa senjata.

Karena saya tidak begitu suka kekerasan, senjata satu-satunya saat ini paling komunikasi dan kompromi. Sebab Torik pun saya coba jadikan fasilitator terhadap tamu-tamu saya ini untuk mediasi komunikasi yang lebih jelas. Karena Torik pun kabur, maka itu saya bilang sama Bang Us agar membiarkan saya bicara dengan mereka.

Arip: “Pak, saya tidak mau cari masalah. Dan saya yakin bapak-bapak juga datang ke sini dengan niat baik untuk menyelesaikan masalah. Bukan untuk menambah masalah baru”
Kaus Putih (masih kelihatan curiga dengan senyum saya): “Iya benar. Katong ada datang bukan cari masalah” (Katong=kita)
Arip: “Begini Pak, sesuai janji. Ini Bang Usman. Teman saya. Saya sudah penuhi janji saya. Nah sekarang, kalau saya boleh tanya, apa sebab Bang Usman dicari bapak-bapak sekalian”
Kaus Putih (nampaknya sudah kelihatan lebih fleksibel): “Teman bapa ada hutang dengan teman kami. Sudah lama teman bapa kasih janji dengan teman kami. Tapi teman bapa tidak bisa penuhi janji”
Arip (kaget, sebab si kaus putih ikut-ikutan panggil bapak): “Berapa utang sisa Bang Usman, bapa”
Kaus Putih: “Dua juta enam ratus sisanya”

Saya yang terbengong-bengong. Astaga, masa sih hanya dengan uang segitu, seorang kepala kamar dari blok yang disegani di LAPAS terkenal harus turun tangan. Kasihan sekali orang-orang itu selepas dari penjara, paling dari uang yang didapat sebagai debt collector yang pasti paling tinggi hanya separuhnya. Dan itu pun nanti akan dibagi lima. Dengan uang hanya segitu, resikonya terlalu tinggi. Sebab pasti harus sering menakut-nakuti orang dan keluar otot. Resiko balas dendam terlalu tinggi. Resiko di tangkap yang berwajib juga tinggi.

Seketika itu pula muncul empati di hati. Saya bilang apa adanya pada mereka apa yang ada dalam perasaan saya. Lima orang itu nampak saling berpandangan. Saya ceritakan pula tragedi berdarah siang itu yang menimpa Bang Us. Dan mereka nampaknya sudah mengendurkan tensi tatapan curiganya pada saya. Suasana di ruang tamu Ibu kelihatan mendingin.

Kaus Putih: “Bapa, katong seng bisa pulang tanpa hasil” (seng=tidak)
Arip: “Iya Pak, saya mengerti. Saya juga yakin bapak mengerti masalah yang kami hadapi saat ini. Bang Us, diperes sampe keringet terakhir netes, juga ga bakal ada uangnya, Pak”
Kaus Putih (tatapannya mengeras lagi”: “Maksud bapa?”
Arip: “Pak jangan salah mengerti. Maksud saya, idealnya akan lebih baik jika hari ini bapak-bapak pulang sambil bawa hasil. Lalu Bang Us masalahnya selesai. Tapi…”
Kaus Putih: “Tapi apa bapak?”
Arip: “Itu kan idealnya. Sayang sekali kita tidak dalam kondisi ideal. Yang saya punya saat ini adalah saya dan bapak-bapak sebagai saksi dari omongan Bang Us. Kalau dia melanggar janji lagi, saya yang duluan turun sebelum bapak-bapak turun. Tapi saya pengen kalau bunga hutangnya sejak hari ini distop. Dan sekarang, memenuhi itikad baik, ini yang bisa saya kasih dan saya adanya hanya segini”

Saya cabut dompet dari kantung belakang. Memberikan satu-satunya lembaran uang kepada si Kaus Putih. Bolak-balik ia lihat uang itu. Ia genggam dengan tangan kanan, memicingkan mata sebelah, menghadapkan uang ke arah matahari. Meneliti. Puas ia teliti dan masih kebingungan nampaknya, ia lihat kiri kanan ke arah teman-temannya. Nampaknya tidak ada seorang pun yang buka suara.

Setelah cukup lama, ia akhirnya bertanya “Uang apa ini?”

Sambil senyum saya terangkan bahwa itu uang asli. Kalau tidak yakin, boleh ia bawa kembali ke saya dan saya akan merupiahkannya sesegera mungkin. Saya bilang, konversinya saat ini sudah hingga lima belas ribu kali lipat dalam rupiah. Cukup lebih dari setengah menutupi hutang Bang Us.

Tidak lama kemudian mereka pergi. Sebelum pergi menjabat tangan saya sambil berkata terimakasih.

Tidak lama pula setelahnya saya ajak Bang Us, Torik dan Umar makan bakso.

Odoy datang: “Wah enak banget luh pada pesta bakso”
Arip: “Pesen aja Doy. Udah santai aja, jangan malu-malu”

Setelah semuanya selesai kekenyangan, saya hampiri Odoy (yang kelihatannya tidak tahu apa-apa dan tidak mau tahu apa-apa), “Doy, uang rupiah gua nggak ada nih. Lo ada rupiah lima puluh ribuan ga?”

Odoy menatap kesal ke arah saya. Tadi malam uangnya belum saya kembalikan. “Mana sini deh duit lo. Gua ke money changer dah. Gua tukerin duit lo”

Sambil cengar-cengir saya bilang ke Odoy, “Rupiah atau bukan rupiah, gua udah nggak punya duit lagi doy. Tiga orang itu juga nggak punya duit. Dua orang yang punya duit di sini cuma elo ama tukang bakso. Dan ga mungkin dong gua minta duit ama tukang bakso. Tolong talangin bayar bakso dulu dong men. Hehe”

Odoy menarik dompet dari celana dan bertanya pada Tukang Bakso. “Bang berapa semuanya?”

Mukanya masih kelihatan sebal. Tapi saya yakin, ia akan dan selalu menolong saya.

Daerah ini memang panas dan jarang hujan, tapi untungnya hingga kini tidak ada kutukan dalam pertemanan.

This entry was posted in bangaip, Orang Indonesia, Republik Indonesia, sehari-hari and tagged , , , . Bookmark the permalink.

14 Responses to 7KC – Dua; Rupiah

  1. edo says:

    pertama!
    *jarang2 bisa melakukan di blog bangaip hehehe
    *langsung baca

  2. edo says:

    peace bangaip. peace..
    negosiasi memang cara yang lebih indah daripada baku hantam :)

  3. almascatie says:

    duh.. mbaca ceritanya Bang Ai, sayah jadi teringat sentilan temen tentang para Amon nih.. arghhhhh… bener2 sebuah kenyataan yang tidak susah dihilangkan.. tapi mo gimana lagi….

    bisa jadi referensi tulisan nih bang Ai 😀 hehehehe

  4. goop says:

    ah, abang memang unik, ke mana-mana cuma bawa selembar doang 😀
    dan si odoy, kok, kasihan betul selalu kena jatah 😀
    dan tentang pertemanan ini, ah, saya suka bagaimana kau menyampaikannya, bang 😀

  5. hedi says:

    harusnya bangaip jadi negosiator untuk daerah konflik, pasti paten, cuma ga tahu abis itu masih bisa makan bakso atau enggak 😉

    btw, sori dua undangan bangaip (buku dan nonton pelem), ga bisa saya respon. yg buku kopian, saya kelupaan dan soal pelem, waktunya bentrok urusan kantor. makasih udah diworo-woro, semoga lain kali bisa.

  6. dodo says:

    nah inilah ciri khasnya bang aip mungkin, semua bisa dibicarakan…

  7. Eru says:

    Nice story bang :)
    Yeap, seneng untuk punya temen yang kita yakin akan dan selalu menolong :)

  8. lanny says:

    hahahah,… enjoy banget baca blog nya bang aip.
    biarpun nemu blog ini untung2 an
    anggep aja dah kita berjodoh
    Pis bang!!

  9. Haiya, ketemu lagi. Masih di Indonesia nih? Istri sama anak ditinggal di sana?

  10. edratna says:

    Saya dua kali komen kok ga bisa terus ya…ini coba lagi

  11. edratna says:

    Duhh Bangaip, kayaknyua mesti diomelin dulu blognya baru bisa masuk komennya.

    Yang jelas Bangaip suka bakso (baru tahu)…dan juga negosiator ulung…tentu hal ini sesuai dengan posisi yang dipegang sekarang ya…

  12. Wijaya says:

    nice story bang…..
    Oya, bakso juaranya cilincing namanya apa ya? Sapa tau kapan2 bisa nyobain….

    Salam

  13. adipati kademangan says:

    Kalau negosiator memang sudah menjadi spesialisasi bangaip. pinter ngomong dan jago ngeles, namun kembali lagi typikal (orang) Indonesia kalau ndak ada rupiah urusan ndak bakalan beres. Ngomong-ngomong bangaip kan ndak punya rupiah tuh namun masalah tetep bisa beres, itulah kehebatannya …

  14. -tikabanget- says:

    haduh..
    kenapa ndak panggil saya..??!!!
    saya kan bisa bantu..

    ..makan bakso..

    betewe, itu komen edratna saya juga ngalamin beberapa kali.
    sempet mutung komen saya..

Leave a Reply