7KC – Empat; Cileduk

Suatu hari di beberapa musim dahulu, saya dan Musli duduk-duduk di tepi pantai Marunda, Cilincing, jam tiga sore. Musli itu tetangga saya, baru saja lulus SMA. Kami duduk di pantai (bersama teman-teman lainnya) untuk merayakan kelulusan Musli.

Odoy, Gugun, Uki, Jumari, Aris Kisut dan lain-lainnya sedang asik merubung baskom yang isinya kerang hijau bumbu kunyit yang naudzubillah pedasnya minta ampun. Karena saya dan Musli kurang begitu suka pedas, kami makan jagung bakar saja.

Hari itu cerah. Langit biru. Ombak tidak begitu besar silih berganti di sepanjang garis pantai yang berpasir hitam itu. Tiba-tiba Musli bertanya, “Bangaip, kenapa yaa langit biru?”

Saya mau menjawab dengan seksama, serius, ilmiah dan apa adanya seperti;

‘Warna dari langit adalah hasil dari penyebaran molekul gas sinar matahari dan partikel debu di udara. Sinar matahari itu terdiri dari sebaran gelombang cahaya, masing-masing gelombang dianggap sebagai warna yang berbeda. Yang paling lama adalah cahaya merah. Sedangkan yang paling singkat diantara gelombang itu adalah cahaya biru. Jadi, gelombang cahaya biru paling mudah tersebar melalui partikel atmosfir. Maka ketika langit bersih, gelombang cahaya biru lebih terlihat di mata manusia daripada warna lainnya. Akibatnya, muncul warna langit yang biru. Sedangkan ketika langit yang penuh dengan asap atau awan, terhalanglah gelombang cahaya dari semua warna yang tersebar, sehingga langit menjadi abu-abu’

Tapi tentu saja saya tidak menjawab begitu kepada Musli. Entah kenapa, sore itu enggan saya memberi kuliah di tepi pantai (walaupun mungkin kedengarannya cool. ‘Kuliah di Tepi Pantai’. Ilmiah sekaligus romantis). Musli baru saja lulus SMA. Dalam kondisi kebingungan tidak punya biaya mau melanjutkan sekolah setelahnya. Masak sih saya kuliahi?

Maka itu saya jawab saja dengan asal-asalan, “Karena ada mata, Mus”

Dia melongo, “Kalo nggak ada mata.., terus nggak biru yaa?”

Ditembak begitu saya gantian melongo “Kalo tidak punya mata, kan tidak bisa melihat, Mus” (*Karena kebingungan dan mau menang sendiri, lalu pakailah saya jurus lebih ngaco lagi dalam menjawabnya. Yaitu pakai logika red herring. Orang tanya lain, di jawabnya lain lagi. Hehehe. Silahkan baca tulisan Mas Gunawan Rudy disini untuk mengetahui lebih lanjut soal red herring dan logika-logika berfikir yang ajaib*).

Mus diam. Kelihatannya kecewa. Saya jadi merasa tidak enak sendiri. Dan merasa tidak enak hati itu sungguh tidak enak (minimal buat saya). Maka sebagai obatnya, saya meminta maaf. Lalu menawarkan apakah ia menghendaki jawaban yang sesungguhnya.

Mus tidak mengangguk mengiyakan. Juga tidak menggeleng. Saya jadi tambah serba salah.

Akhirnya, senja itu saya lewati dengan perasaan bersalah. Dan sebagaimana perasaan bersalah lainnya yang tidak segera diselesaikan, saya coba menghilangkannya dengan cara pura-pura lupa. Artinya dalam hati berkata; “Sudah lah, begitu aja kok repot. Ngapain dipikirin?”

Akhirnya ada saatnya ketika saya pergi meninggalkan kampung halaman. Dan mencoba meninggalkan seluruh peraasaan bersalah yang pernah saya jalani di kampung itu. Termasuk perasaan bersalah kepada Mus. Saya pun pergi sejauh-jauhnya. Pergi dari Cilincing seraya pergi pula dari perasaan bersalah.

Lokasi geografis biasanya sering kali dapat menyembunyikan perasaan bersalah. Tapi tidak selamanya. Ia hanya dapat bersembunyi, tapi tak dapat menghilang. Sebab ada saatnya ketika hati saya kembali. Pulang kampung. Rasa itu tiba lagi. Perasaan bersalah yang kembali menggunung bagaikan sampah di laut pesisir Jakarta.

Namanya suka duka pulang kampung setelah sekian lama tidak kembali, ya banyak juga yaa. Begitupun ketika saya pulang kampung, ke Cilincing tercinta. Memang ceritanya ada-ada saja. Tapi mau bagaimana lagi. Saya jalani saja apa adanya. Termasuk perasaan bersalah itu. Namun saya gerah juga, setelah sekian lama bertahun-tahun merasakan ini dan tak mau hilang juga.

Pulang kampung ini, adalah saat dimana saya harus dapat menuntaskan perasaan bersalah ini.

Maka pada sebuah siang yang panas saya mampir bersama Kojek teman sekaligus tetangga saya, duduk di beranda rumah Musli.

Letaknya sekitar lima rumah di belakang rumah Ibu saya. Cat pagarnya berwarna hijau. Mirip cat dinding tempat wudhu musolah. Musli sejak lulus SMA jadi tukang cat untuk menyambung hidup. Kata Ibunya, itu cat memang pemberian dari pengurus musolah. Mereka dapat sodakoh ketika hari kurban berupa cat dinding. Sebab kambing dan sapi kurban jatah ternyata tidak mencukupi warga Cilincing yang katanya berada di bawah rata-rata ambang kemiskinan. Karena tidak dapat beberapa kerat daging, sebagai gantinya, yaa cat dinding sisa itu.

Ibu Musli datang ke beranda membawa teh untuk saya dan Kojek. Di beranda itu ada Mbak Ut, tetangganya Musli dan putranya, Oyong, yang masih berusia 8 bulan dalam gendongan.

Tidak lama setelah saya mengagumi cat pagar, Musli datang. Pakaiannya penuh dengan cipratan-cipratan cat bekerja. Nampaknya ia pulang ke rumah untuk makan siang. Ia kaget, gembira dan lalu memeluk saya.

Musli: “Yaoloh Bang, apakabar?”
Saya: “Syukurlah sehat Mus”
Musli: “Loh anak istri nggak diajak, Bang?”

Kojek tiba-tiba menyahut sambil ketawa, “Dia sendirian tuh Mus. Mau cari perempuan. Mau kawin lagi dia tuh”

Saya cengar-cengir. Sambil pura-pura mengusap dagu saya berkata “Alhamdulillah”.

Mbak Ut matanya menyorot tajam. Mulutnya mencong-mencong. Marah dia. “Loh kok begitu Rip jawabnya! Istikpar dong! Istikpar!”

Saya masih cengar-cengir, “Hehe, sori Mbak Ut. Becanda nih kita. Anak saya harus diimunisasi sebelum saya berangkat. Kasian kalo sakit di perjalanan. Maklum masih bayi. Jadi dijagain mamanya sekarang. Kalo saya mah… Yaah… Saya emang nggak niat kawin lagi deh. Kaga ada perempuan yang mau. Hehe”

Tiba-tiba Mbak Ut nangis. Saya bingung seketika. Wah salah omong apa saya? Kojek dan Musli tidak bicara apa-apa menanggapi tangisan Mbak Ut. Saya tambah kebingungan.

Saya tanya baik-baik sambil berjongkok di depan Mbak Ut yang duduk bersimpuh di lantai cor semen beranda rumah Mamanya Musli. “Mbak Ut, ada apa?”

“Bang Ajis, Rip… Huhuhuhu… Bang Ajis kawin lagi. Huhuhu… Udah lima bulan, kaga pernah ngirim ke rumah lagi”

Bang Ajis itu suaminya Mbak Ut. TKI di Arab Saudi. Kelihatannya tidak kuat menghadapi kesunyian padang pasir. Pacaran dengan TKW asal Cirebon sebagai solusinya. Sayang kebablasan. Itu perempuan Cirebon suatu hari telat datang bulan. Cerita selanjutnya bisa ditebak. Tidak perlu jadi jenius untuk mengetahui apa perlakuan majikan kepada TKW Indonesia yang bekerja di Timur Tengah dalam keadaan hamil. Si perempuan Cirebon pulang kampung. Bang Ajis sendirian di Mekkah mati-matian cari nafkah buat jabang bayi dari istri barunya.

Mbak Ut dan si Oyong kecil pun terlupakan. Bang Ajis punya proritas baru.

Saya kebingungan, si Oyong kan belum lama lahir. Kok yaa bisa-bisanya Bang Ajis markup perempuan lain ketika istrinya tengah mengandung?

Ketika Mbak Ut dibawa Mamanya Musli ke dalam rumah, Kojek berbisik “Bang Ajis pulang ke Cilincing cuman buat tanam saham aja Rip ke istrinya. Abis itu yaa dia pergi lagi ke Mekkah. Tiap taon naek haji kok yaa doyan amat naekin perempuan. Jangan-jangan dia di urut ama orang Arab, jadi itunya gede kayak orang Arab”

Saya menatap Kojek dengan tatapan mata tak percaya, “Emangnya lo pernah ngeliat itunya orang Arab!”

Kojek sambil tertawa berkata, “Yaah itu kan legenda. Kalo di Cina ada legenda ular putih masak di Arab nggak ada sih?”

Saya cengar-cengir saja menanggapinya. Tidak lama kemudian hari sudah menjelang sore. Sudah lega hati saya sudah meminta maaf pada Musli untuk dulu mungkin pernah menyakiti perasaannya. Musli yang kaget sebab dia sama sekali tidak ingat. Hehe.

Malam setelah dari rumah Musli saya ke Pasar Cileduk, di ujung lainnya Jakarta. Ke rumah teman saya Bento. Sudah berapa kali ia menelpon dan mengirim surat. ia resah akhir-akhir ini. Ia ingin bertemu saya. Penting katanya.

Ya sudah, saya akhirnya ke sana malam itu. Naik bis dari Terminal Tanjung Priok ke Terminal Lebak Bulus. Lalu lanjut menuju Pasar Cileduk yang macet sekali itu. Sampai Pasar Cileduk sudah jam sembilan malam ketika Bento berkata, “Gua nggak tahan nih Rip”

Saya: “Nggak tahan? Apa maksudnya bro?”
Bento: “Sejak si Neni melahirkan. Pintunya ketutup men”

Saya makin bingung. Dia omong apa malam ini? Kalau Neni itu sih istrinya Bento. Dan memang mereka baru saja dikaruniai seorang putra yang sehat dan tampan.

Saya: “Maksud lo?”
Bento: “Ahh lo pura-pura nggak tau aja men. Jangan munafik deh. Perempuan abis melahirkan kan nggak bisa kita tubles sembarangan”
Saya: “Buset dah men! Maksud lo… Maksud lo… Berhubungan ama istri setelah ia melahirkan?”
Bento: “Ya iya lah! Bloon luh! Pake pura-pura pilon! Jangankan abis melahirkan. Pas lagi hamil tua aja susah ditublesnya. Pintunya ketutup rapet. Buset dah, nggak pernah minum jamu sari rapet kok begitu yaa!”

Saya tidak mau meneriakinya ‘gila!’ untuk keterusterangan yang secara blak-blakan ia lempar malam ini. Bisa saja ia frustasi karena sudah lama tidak berhubungan badan. Atau bisa saja ia stress karena gagal mengosongkan kantung scrotum yang penuh dengan standar moral yang ia percaya. Atau bisa saja banyak alasan lainnya yang mungkin gila kedengarannya. Namun saya tidak ingin meneriakinya gila. Tidak untuk malam ini.

Saya: “Yaelah Ben. Perempuan baru melahirkan itu kondisi fisiknya kan berbeda. Sebagai suami kan kita yang justru harus dukung istri di saat-saat kayak gini. Jangankan fisik, mental pun bisa berpengaruh. Lo udah tau belum bahwa di dunia ini ada penyakit namanya Depresi Setelah Melahirkan?”
Bento: “Ahh sok ilmiah luh!”

Saya diam. Bento juga ikut diam. Kami diam-diaman sejenak satu sama lain. Atmosfir permbicaraan menjadi lain.

Bento: “Men. Gua pikir tempat fitness itu tempat maksiat deh”

Saya kaget. Kok tiba-tiba topik pembicaraan berubah. “Loh kok bisa-bisanya maksiat, Ben? Tempat fitness kan tempat olahraga”

Bento: “Depan rumah gua ada tempat fitness baru men. Ada jendelanya. Dari jendela itu keliatan perempuan-perempuan yang lagi fitness. Gimana nggak maksiat coba? Bikin napsu begitu deh men kalo ngeliat mbak-mbak olahraga pake pakean ketat begitu. Coba aja lo bayangin. Celana trainingnya warna coklat men. Ketat banget. Belom lagi kaosnya. Adoh jendolannya itu loh. Apalagi kalo lagi senam aerobik. Kan ada bagian harus nungging-nunggingnya. Bener-bener bikin dosa aja tuh perempuan-perempuan itu. Maksiat kan tuh men! Tempat maksiat itu!”

Tiba-tiba saya jadi ingat Udin Petot yang mengeluh bahwa salah seorang tetangga perempuannya kalau pagi suka bersin dan bunyi bersinnya bagai lenguhan aktris porno yang sedang beraksi. Padahal, waktu saya ada di sana dan mendengar bersin itu, sungguh mati biasa saja bunyinya, “HUATCHIIH!… Sroot!”

Perpspektif manusia memang sungguh berbeda. Mengagumkan.

Saya: “Kalau begitu, yaa jangan lihat jendela fitness”
Bento: “Yaah tetep aja men. Biar mata nggak liat tempat fitness, tapi kalo pagi nih pas bangun tidur, aduh suka pusing gua. Si Rocky sudah tegap berdiri. Mau latihan tinju tapi nggak ada sparring partner”

(*Maaf, teman saya Bento ini memang agak ajaib. Ia suka menamai bagian-bagian tubuhnya dengan nama-nama karakter film atau bintang film macho. Untuk hidung, ia namai John Wayne. Lengannya, ia namai Barry Prima untuk yang kiri dan Advent Bangun untuk yang kanan. Sedangkan untuk bagian tengah tubuhnya yang sedang ia pusingkan itu, petinju kenamaan bernama Rocky Balboa*)

Saya bingung mau kasih saran apa lagi. Namanya orang bingung, maka kasih saja saran apa adanya yang kebetulan masih sisa menempel di otak. Maka itu saya bilang, “Puasa aja Bro. Siapa tau si Rocky jadi keok”

Bento menatap lelah, “Udah gua coba bro. Puasa senen kamis. Tetep aja dia bertahan. Salut juga gua nih ama si Rocky”

Ia berkata begitu seraya tersenyum penuh makna. Tangan kanannya mengusap-usap celana bagian resleting. Saya menatapnya semakin tercengang. Dan makin bingung mau bicara apa.

Saya: “Lo beli dildo aja bro”

Dildo itu representasi kemaluan pria dalam bentuk karet elastis. Umumnya dipakai wanita untuk memuaskan hasrat tertentu.

Kali ini ganti Bento yang tercengang, “Hah! Trus apa hubungannya ama masalah gua?”

“Kalo si Rocky berdiri. Lo tancepin deh dildo di belakangnya”

“Hah! Maksud lo!”

“Yaah, luh pura-pura bego. Yaa lewat belakang. Lo kan ngerti maksud gua!”

“Anjrit! Maksud lo lewat pantat!”

“Ho oh… Iye… Hehe”

“Tai lo men. Gua kan bukan hombreng”

“Kan nggak perlu jadi hombreng untuk make dildo”

“Ahh yang bener aja luh. Masak si Rocky Balboa gua khianatin sih! Justru pas dia bediri dan butuh bantuan untuk bertarung, masak gua tikam dari belakang? Lelaki macem apa gua!”

Saya tidak menjawabnya dengan kalimat bahwa ia lelaki yang frustasi kebingungan tidak mampu menangani sejumput daging kecil di tubuhnya. Sehingga membuat hari-harinya menjadi menderita. Saya kasihan kalau ia tambah frustasi mendengar jawaban tersebut.

Bento: “Men, apa gua kawin lagi yaa?”
Saya: “Kenapa? Lah si Neni kan baek-baek aja. Dia itu perempuan bener, Ben. Jangan lo maen-maenin tuh anak orang”
Bento: “Gua males maen perek men” (*Perek itu singkatan dari perempuan eksperimen. Berdasarkan definisi Bento, perek adalah pelacur yang gratis.*)
Saya: “Buset dah! Masa sih lo kawin lagi cuman gara-gara mao begituan aja?”

Bento menghela napas panjang. Panjaaang sekali. Lalu berkata, “Abis gua kasian ama Mang Rocky Balboa, Rip. Pagi-pagi bediri udah kayak tiang upacara bendera, siap dinas. E-eh malah gua diemin. Sebab si Neni lagi nete’in anak gua. Malem-malem pulang kerja abis mandi, dia harus tahu diri ama anak gue yang mau tidur. Tengah malem buta, dicuekin ama si Neni yang kecapean. Ooh Rocky, sungguh malang nasibmu coy”

Sekali lagi, ia menatap ke arah resleting celananya. Yang lalu dengan santainya ia usap-usap sayang sambil tersenyum sedih. Dan lagi-lagi saya tercengang menatap adegan tersebut.

Bento: “Minggu kemaren, gue ketemu mantan men di fesbuk. Sekarang janda dia. Anak satu”
Saya: “Terus?”
Bento: “Kayaknya jauh di dasar jiwa gua, dia masih tetep kekasih gua yang dulu men”
Saya: “Hah! Ngaco luh men”
Bento: “Meski raga ini bukan lagi milik dia tapi di dalam hati bener-bener deh gua mikirin dia terus, Rip. Entah sampai kapan gua tahan rasa cinta ini”
Saya: “Kampret. Kebanyakan denger lagu Padi luh. Udah kalo ngomong jangan muter-muter. Apa maksud lo men? ”
Bento: “Apa gua kawinin yaah tuh janda?”

Dia diam setelah itu. Lama.

Saya baru paham. Malam ini, ia meminta ijin saya untuk kawin lagi. Saya tidak mampu bicara apa-apa menjawabnya. Malam itu Cileduk sungguh panas.

Tidak jauh dari kami duduk, terdengar suara bayi menangis.

This entry was posted in bangaip, Orang Indonesia, sehari-hari and tagged , , , . Bookmark the permalink.

29 Responses to 7KC – Empat; Cileduk

  1. nita says:

    yaoloh…. bento…. bento…. emang dasar bento lu.
    lelaki yang gak bisa mengontrol napsunya mah sama aja kayak kambing. napa gak sekalian aja noh makan rumput.
    ih sewot beneran dah gua! tempat pitnes lah disalahin…
    makanya kalo istri baru ngelahirin, ikutan ngurus si bayi. ikutan begadang. biar ikutan ngerasain capenya. pan kesian tuh istri, baru aja menyambung nyawa ngelahirin. cuman gara2 si rocky gak tau diri, situ udah mikirin janda. ck..ck..ck..
    urusin tuh istri, masakin, pergi belanja ke pasar, gantiin popoknya si bayi, bebenah rumah, nyuci-jemur en nyetrika baju. pokoknya istri tinggal ngurus si bayi dengan tenang. keuntungannya si istri cepat pulih en rocky bisa cepet dapet sparing patner, rumah keurus, en situ kagak dosa mikirin janda beranak satu.
    dasar lelaki!!!

  2. nita says:

    maap bang aip, aye jadi marah2. abisnya… gemes deh!

  3. bsw says:

    Padahal dalam waktu 5 menit di kamar mandi persoalan itu bisa diselesaikan dengan baik ya?
    He..he…he.
    Dari perhitungan resiko, paling juga cuma nanggung dosa kecil…. (kalopun ada). Lagian Tuhan kan Maha Pengampun :-)

  4. deteksi says:

    wahahahahaha…..

  5. anonymous coward says:

    Dilema abis.
    Tapi jadi pelajaran juga yah. Sebaiknya hal begini didiskusiin ke istri. Ehm, maksud gw, napsu yang ga terbendung didiskusiin bareng istri.

    😀

  6. DeZiGH says:

    Loh? Punya anak itu jadi alesan tidak melayani suami?
    Lalu menyalahkan suami karna punya kebutuhan biologis?
    Gimana kalo biar si istri itu konsen ngurus anak itu si istri dicerein aje, terus setengah dari biaya ngurus anak ditanggung ama mantan suaminya. Terus biarin si istri nyoba nyari suami yang bersedia tidak dipenuhi kebutuhan biologisnya.

    Kalo suami ikutan begadang ngurus-ngurus bayinya, yang nyari nafkah siapa? Siapa yang repot kalo misalnya si suami dipecat terus kehilangan pekerjaan gara-gara ngantuk di tempat kerja?
    Harus ada kompromi, kalo misalnya sebelonnya seminggu 7x, ya turunin jadi 2x seminggu, tapi tidak dengan menghentikan sama sekali, gimana cowok bisa setia kalo kebutuhan dasarnya aja tidak dipenuhi?

    Kalo ada duit sih bisa sewa pembantu buat bantu-bantu, tapi kalo nggak punya duit?
    Lagipula, di luar sana, banyak wanita yang sudah melahirkan pun tetap mampu melayani suaminya di tengah kesibukannya mengurus anak,
    lalu kenapa si istri nggak mampu dan menutup diri?
    Masi untung si suami cuman berniat cari istri tambahan tanpa berusaha meninggalkan tanggung jawabnya terhadap istri pertama (misalnya dengan menceraikannya) dengan cara yang halal pula, bukan dengan jajan di luaran, malah dimaki-maki.
    Wajar tempat pitnes disalah-salahin juga donk, bayangin aje, orang lagi butuh penyaluran malah disuguhi bodi aduhai goyang-goyang, kalo emang yang gini boleh, apa ada yang namanya aturan nutup aurat? Ya paling nggak tutup lah itu jendela pitnes, emang sengaja mo pamer bodi?

    Ikutan marah-marah juga deh ah, hehehehe..

  7. Wijaya says:

    Hahaha….
    Kontrol diri laaahhh…, masa dikendalikan napsu….
    Komunikasi yang baik….
    Berumah tangga tdk hanya memuaskan hasrat seksual.
    Kalo si Rocky berdiri, suruh duduk aja. Kalo nggak mau, suruh push up atau disetrap di depan, hahaha….

  8. DeZiGH says:

    Betul sekali bung Wijaya,
    tidak hanya hasrat seksual,
    tapi tidak juga hanya mengurus anak hingga mengabaikan hak suami,
    padahal suami tidak mengabaikan kewajibannya,
    alangkah baiknya jika tetap ada aktifitas tusuk-tusukan di ranjang,
    walaupun kuantitasnya dikurangi,
    tapi jangan sampai benar-benar berhenti dan tertutup…

  9. nita says:

    setuju tuh sama mas wijaya. kan bukan bearti brenti en tutup selama2nya. anggep aja puasa. ibarat di bulan ramadan… punya anak itu bukan hanya tanggung jawab istri doang kan? emang suami kudu kerja, cari napkah. apa cuma sampe situ aja kewajiban suami? kan gak ada salahnya kerja sama ngurus si bayi. kalo pikiran en konsentrasi ke anak en istri, insaolo, si rocky juga tau diri. lagian kalo istri dibantuin, stamina istri cepet pulih. seperti kata saya… si rocky cepet dapet sparing patner lagi.
    napa sih kalo soal napsu itu yang jadi korban selalu perempuan? gak pikiran, gak perasaan…

  10. The Bitch says:

    jaaaaaaahhhhhh… gitu yax? kocak juga. bangaip keknya temen2nya lucu2 & ajaib2. si gun kribo juga tuh. amazing!

  11. DeZiGH says:

    Nah, sekarang harus ada batasan yang jelas sampai kapan tertutupnya? Apakah mungkin si abang tadi bakalan sampai blingsatan cari-cari yang lain jika ada kejelasan? Sebenernya sih harus lebih komprehensip lagi tuh melihat situasinya, siapa tau si abang juga udah bantu-bantu juga, beliin barang-barang kebutuhan si bayi misalnya di luar, dapet stress juga di kerjaan, tiap orang khan ada porsinya masing-masing.

    Kalo suami pun dikasi kewajiban tambahan mengenai anak, berarti si istri juga musti dikasi kewajiban tambahan mengenai mencari nafkah, donk? Tambahin sekalian dengan betulin genteng, listrik, dorong mobil, dll. Kalo dicampur-campur gitu malahan tambah gak jelas tanggung jawab dan hak masing-masing.

    Apakah seharian seorang wanita itu pasti habis ngurus bayi? Nggak mungkin! bayi itu tidur 16 jam sehari. Dengan asumsi saat bangun doank musti diurusi, berarti masih sisa 16 jam untuk tidur sebentar dan siap melayani suami. Nggak mungkin jika dalam 1 minggu 30 menit pun tidak tersedia buat suami. Itu sih kebangetan.

    Puasa bulan ramadhan juga hanya dari terbit fajar hingga waktu maghrib tiba. Pengen keluarga utuh namun hak salah seorang pilar utamanya diabaikan mah sama juga bohong. Gimana misalnya kalo suami stress diluaran dan pelimpahannya adalah dengan mukulin istri di rumah? Apa itu diperbolehkan hanya dengan alasan kondisi suami sedang stress? Ya nggak, lah! Emang hanya perasaan wanita saja yang harus dipikirkan, bagaimana dengan perasaan lelaki? Jika sudah lewat masa nifas dan istri masih belum bersedia melayani suami, saya kira sudah kebangetan.

    Jika diliat bahwa sudah berbulan-bulan mereka menikah, istrinya pasti sudah tahu betapa bagi sang suami masalah seks itu penting untuk dipenuhi. Sudah tahu itu tapi tetap mengabaikannya, mungkin emang istri nya udah nggak care dengan perasaan dan kebutuhan suami, sudah waktunya pisah kali. Pisah aja, toh halal koq untuk dilakukan. Dan hebatnya si abang itu, dia tidak minta pisah, dia masih mau tanggung jawab, dia hanya mencari solusi yang masih berada dalam aturan agama. Dia masih care dan mau bertanggung jawab dengan sang istri dan anaknya. Dibandingkan cara halal lainnya yaitu cerai.

  12. Nuruddin says:

    wah bang arip, maen api neh posting topik beginian.
    aye gak ikut2an komen masalah kawin laginya ah..

    maklum cuman penikmat tulisan orang…

    cuman aye jadi bingung bang, kalo temen abang pengen kawin lagi, kenapa minta ijin nya sama abang?
    bukannya mesti nya minta ijin ama bini nya?

    wekekekek

  13. bsw says:

    Entah kenapa kok sepi ya?
    Sepertinya komen DeZiGH bisa jadi bahan debat nih…
    Pengennya ikut komentar untuk komentarnya dia, tapi sementara ini saya cuma bisa menyarankan agar DeZiGH baca tulisan Arig (Bang Aip) yg lain :-)

  14. guh says:

    Jadi itulah salah satu keuntungan mengharamkan KB. Istri yang terlalu lelah karena sibuk mengurus anak, membuat rocky suami tak terlayani, akhirnya menciptakan alasan untuk mencari solusi pengosongan scrotum yang halal: Kawin lagi. Cihuy!!

    Bang, sekali2 berbagi tips mengamankan blog dari para pencuri sendal dan pelempar timun dong.

  15. sufehmi says:

    Jadi ingat waktu sepupu saya mau nikah, dia tanya, “Har, ada saran atau nasehat gak untuk kita?”. Saya jawab, “Cuma satu – jaga komunikasi”.

    “Jangan sampai putus. Usahakan bagaimanapun caranya, selalu bisa komunikasi kapan saja dengan pasangan”.

    Cerita bang Aip kali ini adalah contoh klasik miskomunikasi :)
    Yang jadinya adalah berbagai masalah fatal. Yang sebetulnya SANGAT bisa dihindari…

    Saat ini saya sedang menyaksikan drama satu pernikahan yang sedang mengalami masalah yang serupa. Istri sibuk bekerja dan sibuk dengan anak. Suami terlupakan. Memang sih bayi itu kan super imut. Suami mah lewat jauhhh…. sudah lama kadaluwarsa dalam soal ke-imut-an :) sudah gitu kadang brewok, brewoknya tajam pulak, suka gak paham keinginan istri, dst.

    Setelah bingung dan frustasi selama beberapa bulan, akhirnya si suami hengkang. Kita yang kemudian sibuk berusaha menenangkan istrinya yang syok ditinggal oleh suaminya, dengan seorang anak yang masih bayi – tapi sudah bisa menanyakan dimana ayahnya….

    Dengan sedikit otak culas & akting lagak pilon (ketularan bang Aip lah, ha ha), akhirnya (alhamdulillah) kita berhasil mengecoh sehingga si suami jadi terpaksa datang lagi ke rumah.
    Lalu mulai ada pembicaraan lagi antara suami dan istri. Awalnya basa-basi. Lama kelamaan mulai makin lancar mengalir. Dan luka-luka lama mulai perlahan-lahan tersembuhkan ….

    Flashback ke awal pernikahan; saya ngobrol dengan istri, blak-blakan soal berbagai detil pria & wanita. Disitu saya jadi tahu bahwa perempuan itu enggak perlu dunia kok. Dipeluk, disayang, dan dibutuhkan oleh suaminya saja sudah bahagia bukan main. Dia bisa bahagia ketika melihat pasangannya bahagia.
    Oke, syukur2 sih memang kadang bisa ada duit dikit untuk nonton bareng ke bioskop sama pacarnya. Tapi itu ternyata sebetulnya gak wajib kok :) dst

    Di lain sisi, istri saya juga jadi tahu berbagai seluk beluk laki-laki. Yaitu bodoh, kurang sensitif dengan perasaan orang lain; (apalagi saya, yang kalau sudah ngoprek komputer bisa dari maghrib sampai subuh, alamakkk), to-the-point (baca: tidak pandai basa-basi, alias basi selalu). Juga lemah – kalau dicemberuti oleh istrinya, wuihhh serasa dunia KIAMAT !!! 😀
    Dan tidak itu saja kelemahannya – sebagian laki-laki kalau sudah “kebelet”, sulit untuk menahannya. Istri saya bengong, karena sebagai perempuan tidak pernah mengalami masalah tersebut. 😀
    Dst, dst….

    Nah, semuanya sudah jelas di awal, walaupun memang korban muka saya (dan dia) merah padam seperti udang rebus 😀 , maka perjalanan selanjutnya jadi lebih mudah. Gesekan-gesekan sih tetap ada lah. Namanya juga dua makhluk yang berbeda total gitu lho. Yang satu langit, yang satu lagi (baca: saya) bumi. Tapi karena ada komunikasi, jadi masih bisa di manage / ditangani. Tidak sampai jadi fatal.

    Seperti ketika saban ada bayi kami yang muncul (lagi) di dunia, rumah tangga tetap berjalan (nyaris) sama seperti sebelumnya.
    Kalau istri sedang lelah, saya bahkan bisa memasak untuk semuanya. Saya sendiri tegas berusaha memisahkan anak — pada malam hari, tempat bayi adalah di box nya. Kalau dia rewel, saya yang bangun, cek apakah ada keperluan dia — mimik? pupup? pipis? dst.
    Kalau tidak ada, saya gendong, sampai tidur, lalu saya taruh lagi di box nya. Jadi si ibu bisa tidur di waktu tidurnya / malam hari (**), dan juga bisa ditiduri …. ooooppss kelepasan, anyway,

    Kita berdua juga jadi bisa fleksibel. Kalau kata oom Smith, “versatilist”. Saya bisa ganti popok penuh pup dalam waktu sekejap mata saja, membawa 4 orang anak & bayi berjalan-jalan tanpa ditemani istri, menyuapi / memandikan / bermain-main dengan mereka tanpa masalah, dst. Sedangkan istri saya juga bisa mengurus bisnis, paham soal manajemen karyawan, mengerjakan pembukuan, dst. No problem, karena dikomunikasikan, sehingga masing-masing jadi paham — maka kita menjadi enjoy sekali mengerjakannya.

    Misalnya; satu masalah klasik lagi; saya ceritakan kepada istri, bahwa pekerjaan sebagai tukang komputer itu berat.
    Muka istri saya kelihatan nyengir (“yeah, right”). Sambil nyengir juga, saya tanya – masih ingat gak dulu waktu ujian di sekolah dulu?
    Oh iya, jawabnya. Pusing euy. Sekian banyak soal. Waktu tersedia cuma seupil.
    Nah, saya lanjutkan, kerjaan tukang komputer itu seperti ujian sekolah setiap hari.

    Suasana agak hening.
    Istri saya pelan-pelan mulai memahami situasinya. Tercengang, membayangkan setiap hari seperti menjalani ujian sekolah. Lha, dulu itu ujian cuma caturwulan sekali saja, selama 3 jam sehari, rasanya sudah modar BANGET. Ternyata suami gue menjalani hal serupa TIAP HARI. Dari pukul 08:00 – 17:00, pada hari kerja normal. Kalau lembur, ya nambah lagi.

    Dan sampai di rumah, alih-alih langsung kolaps di tempat tidur, malah masih bisa mengurus rumah tangga dan keluarganya.

    Mukanya langsung mengiba. “Astaga, kamu kok kesian amat…..”, dan saya langsung dipeluk. Hehehe… kemampuan empati perempuan itu memang dahsyat. Beda sama kita yaa.

    Kini dia tidak lagi beranggapan bahwa suaminya itu “ENAK jalan-jalan keluar rumah setiap hari, tidak terkurung di rumah, kerjanya CUMA duduk seharian dengan malas, lalu jam 5 sore pulang, sampai di rumah langsung nyosor di sofa dan main sama anak-anak”.
    Dia sekarang jadi paham juga bagaimana beratnya dunia laki-laki — otak diperas setiap hari, deadline yang susah ditepati bahkan oleh Superman sekalipun, boss dengan alias “raja tega”, kolega yang doyan office politics & back-stabbing, pekerjaan yang tidak ada habis-habisnya.
    Padahal, sebetulnya dia lebih senang di rumah, berkumpul dengan keluarganya yang tercinta.

    Inilah kekuatan komunikasi :)

    Saya sendiri juga jadi paham kesusahan para istri & ibu — anak-anak yang rewel, susah disuapi, malam suka menangis dan ngompol, rumah yang selalu berantakan, cucian baju yang tidak pernah habis, dst. Dan tentu saja, suami yang manjanya tidak kalah dengan bayi yang baru lahir (saya suka kena ledek istri, “ini dia bayi gue yang paling gede”. Huanjrit :) )
    Nah, dasar kebetulan judul pekerjaan di kantor adalah “system anal-yst”, lalu saya coba bantu : saya analisa masalah-masalah yang ada, lalu kemudian saya coba cari solusi-solusinya yang feasible / paling memungkinkan untuk diterapkan.

    Alhamdulillah, anak kami ada 4, tapi sejauh ini tidak ada yang bermasalah. Nakal seperti anak-anak, pasti. Tapi mudah-mudahan tidak pernah sampai menzalimi orang lain. Syukur2 malah bisa bermanfaat untuk orang-orang di sekitarnya.
    Mudah-mudahan sih bisa terus kayak begitu, amin.

    Lah, jadi molor kemana-mana. Sori bang ! :)
    Aye pamit dulu yaa…

    (**) Sleep deprivation / kurangnya waktu tidur itu dimasukkan ke dalam kategori torture / penyiksaan oleh PBB. Tawanan perang saja tidak boleh disiksa dengan cara ini (sleep deprivation).

    Jadi, mari kita bantu agar istri kita tidak tersiksa juga karena ini.
    Di lain sisi, para istri juga rela yaa melepaskan anak tidur sendiri di box nya. Enggak apa kok, ada 2 malaikat yang jagain malaikat kecil kita ini. Dan, juga suami / bapaknya :) (kalau dia gak bangun pas anak nangis, tendang aja. Gak apa, doi mah kuat kok kalau cuma kena tendangan doang. Gak bakalan ada yang patah).

    Jadi, kita bisa istirahat dengan tenang di setiap malam. Sehingga di pagi hari sudah segar kembali, dan gembira menyambut pagi bersama keluarga :)

  16. sufehmi says:

    Gak apa, doi mah kuat kok kalau cuma kena tendangan doang. Gak bakalan ada yang patah

    Paling cuma egonya doang yang patah. Gyahahaha…. 😀

  17. sufehmi says:

    btw; saya kadang suka mikir…. kapan ya bisa ada penghulu / ulama kita yang sebijak Robin Williams di “License to Wed” :
    http://en.wikipedia.org/wiki/License_to_Wed

    Mau nikah? Eits, tunggu dulu…. ikutan kursus kilat “Belajar berumah tangga” dulu !
    3 bulan merasakan berbagai duka (bukan CUMA suka) dalam berkeluarga. Jadi tahu DAN paham, apa yang nanti akan dihadapi.

    Sehingga tidak kaget lagi di kemudian hari. Dan bisa menangani masalah-masalah yang muncul dengan baik.

    Sekarang mah, waduh kacau …. kita dicekoki film-film romantis doang. “They live happily ever after”. Buset deh.
    Pantesan begitu ketemu masalah langsung pada syok, dan cepat memilih opsi “bubar jalan, grak!”.
    Alias cerai.

    Pernikahan itu adalah dengan dasar komitmen. Bukan cuma cinta.
    Karena cinta itu bisa naik dan bisa turun. Komitmen itu yang menjaga keutuhan pasangan pada saat surutnya. Sehingga kemudian bisa kembali naik, dan akhirnya “live happily ever after”.

    Oke, oke, kali ini saya pamit betulan 😀 ciao dulu ya bang Aip.
    Thanks.

  18. DeZiGH says:

    ^_^ sayah emang gemar berkunjung ke blog nya bang aip

    Yah, semoga aja pilar-pilar keluarga itu bisa saling pengertian, jadi ndak usah sampai diperlukan jalan yang ekstrim seperti misalnya nambah bini ato cerai

  19. Wijaya says:

    Hwaduhhh…., komen saya diatas mengenai pentingnya Komunikasi, sudah dijelaskan oleh mas Sufehmi dengan sangat baik sekali….

    Satu lagi, biasanya laki2 sebagai kepala keluarga merasa dirinya selalu benar, pemimpin yg mutlak harus dipatuhi…, sehingga secara halus bisa menindas istrinya….
    Yaaa jangan gitulah…, menikah itu sama derajat, saling menghormati….

  20. sufehmi says:

    Satu lagi, biasanya laki2 sebagai kepala keluarga merasa dirinya selalu benar, pemimpin yg mutlak harus dipatuhi…, sehingga secara halus bisa menindas istrinya….
    Yaaa jangan gitulah…, menikah itu sama derajat, saling menghormati….
    ————–

    Di dalam pernikahan itu sama derajat, sama-sama manusia :) tapi, ada pembagian tugas.

    Analoginya begini, para istri / ibu / perempuan keberatan gak kalau disuruh2 oleh boss nya di kantor?
    Enggak kan?

    Lha, disuruh sama boss nya di rumah kok keberatan ? 😀

    Keluarga itu adalah institusi juga. Ada pembagian tugasnya juga. Ada Direktur (biasanya, suami), Manager (istri), staf (anak), customer (anak), client (anak), dst, dst 😀

    Nah… pembagian tugas ini HARUS ada. Kalau tidak, maka institusinya akan berjalan dengan kacau balau !

    Bagaimana kalau Direkturnya tidak berfungsi dengan baik? Berarti Managernya harus berusaha mengkompensasi.
    Bagaimana jika Managernya tidak berfungsi dengan baik? Berarti Direkturnya harus mengkompensasi. Dst.

    Yang penting, setiap role tersebut bisa berjalan dengan baik. SIAPA PUN yang melakukannya.

    Ya, saya pernah melihat rumah tangga dimana sang suami tidak melakukan fungsinya sebagai Direktur dengan baik.
    Solusinya? Si Istri kemudian banyak melakukan fungsi Direktur juga. Alhasil, maka Keluarga tersebut dapat tetap berjalan dengan baik.

    Saya juga pernah melihat keluarga dimana Managernya (istri) tidak berfungsi dengan baik. Solusinya? Direkturnya menyewa pembantu, lalu pembantunya dimanage langsung oleh ybs.
    Alhasil, maka Keluarga tersebut dapat tetap berjalan dengan baik.

    Nah, jadi kuncinya sebetulnya ini saja. PASTIKAN bahwa role ini (Direktur & Manager) ada yang meng handle, **dan** melakukannya dengan baik.
    Suami emoh / tidak tertarik menjadi Direktur? Ya istrinya saja yang jadi Direktur :) dan suami yang menjadi Manager. Why not ? Yang penting fungsi2 tersebut berjalan dengan baik.

    Jalankan institusi Keluarga kita dengan profesional juga. Maka kemudian jadi bisa berjalan dengan baik.

  21. DeZiGH says:

    Nah, jika masalah masak, cuci-cuci piring bisa dilimpahkan ke orang lain (misalnya pembantu), sayangnya seks tetap harus ke istri, jadi jika istri tidak mau melayani, itu masalah yang SANGAT besar. Setahu saya batasan terlama hanyalah 3 bulan. Itu pun jika wanita diluaran pada nutup aurat semua, kalo nggak kayaknya batasannya berkurang jauh, deh.

    Emang bang sufehmi memaparkannya dengan sip, semoga bisa jadi masukan bagi semua pihak.

  22. sofianblue says:

    Jadi pengen beli Dildo.

  23. sufehmi says:

    sayangnya seks tetap harus ke istri, jadi jika istri tidak mau melayani, itu masalah yang SANGAT besar
    ——————-

    Sekarang lagi hangat topik “marital rape” :)

    Saya agak bengong, kok itu kayaknya masuk kategori oxymoron deh, he he he

    Lha, tidak mau bercampur dengan suaminya, tapi kemudian marah jika suaminya jadi selingkuh dengan perempuan yang lain.

    Jadinya gimana dong? Apa suaminya dikebiri saja ya 😀

  24. bangaip says:

    @ All:


    Terimakasih atas komentarnya. Maaf saya tidak bisa membalas satu persatu komentar diatas. Karena perdebatan untuk mencari solusi issue ini (dengan amat panasnya) masih tengah berlangsung di dunia offline sahabat saya.

    Kasus di atas benar-benar diangkat dari apa yang kami alami. Antara saya dengan sahabat akrab yang saling berbagi suka maupun duka bersama-sama. Saya pribadi amat berterimakasih atas beberapa komentar pro maupun kontra serta komentar pembanding (seperti beberapa komentar Pak Harry Sufehmi misalnya).

    Saya senang sekali teman-teman disini memberikan beragam pendapat berdasarkan opini pribadi maupun acuan lainnya. Sehingga menambah perbendaharaan opsi sahabat saya untuk mengambil keputusan.

    Apapun keputusan yang akan diambil sahabat saya tersebut, saya doakan adalah keputusan yang ia rasa terbaik yang dapat membuatnya bahagia serta membuat orang-orang yang ia cintai juga bahagia.

    Perdebatan soal ini memang menjadi polemik yang bisa saja dihinggapi oleh siapa saja. Saya percaya komentar teman-teman disini dapat menjadi acuan yang berguna dalam mengumpulkan sebanyak-banyaknya bahan dalam mencari solusi dan mengambil keputusan yang tepat.

    Sekali lagi, terimakasih.

    bangaip

  25. edratna says:

    Bingung….mau komentar apa….

  26. waduh emang paling susah nih kalau urusan kaya gini. Pernah punya pengalaman sama partner…dia lagi datang bulan…wuih rasanya pusing 7 keliling….bingung mau ngapain…gara2 yg di atas gw bingung juga

  27. warm says:

    keren ceritanya, bang
    walo miris….

    -0-
    Terimakasih

  28. titiw says:

    Ancur.. kenape ye bang.. (loh jadi betawi..) yang namanya laki itu begituh..? Dia bisa gak cinta sama itu perempuan, tapi bisa make fisiknya, kebalikannya kita para perempuan… Ah tapi ya gak semua lelaki sih.. Btw kenapa juga ya, temen2nya bang aip itu selalu menyegarkan dengan cara2nya sendiri, mana kata2 maupun kalimata yang mereka pake juga kocak bener.. “Legenda ular putih”? Plis dehh.. (suamiku.. istriku..)

    –0–
    Ada temen saya yang bilang begini, “Pokonya kalo belobang, pasti gua kawinin”
    Saya jawab, “Kawinin aja tuh donat, udah manis, empuk pula”
    Dia jawab, “Ogah rip. Nanti abis gua kawinin. Itu gua dirubungin semut, bro”

    Banyak laki-laki yang mampu memuaskan hasrat seksual mereka tanpa didasari oleh cinta. Bukan artinya perempuan tidak ada dan itu adalah generalisasi dari semua lelaki. Namun saya pikir struktur tubuh dan hormon laki-laki memang secara tidak langsung dapat memungkinkan hal itu terjadi.

    Soal temen saya, iya… Saya juga bingung.Apalagi kalo ngomong sama Odoy, saya lebih bingung lagi. Hehe

  29. ameenr says:

    kayaknya… blog ini terlalu mengumbar deh… ga oke banget.. picisan…
    ya.. semoga yang nulis dapet pencerahan mumpung mau puasa.. amin…

    –0–

    Terimakasih atas kunjungan, pendapat dan doanya.

Leave a Reply