Culik

Pertengahan bulan Juni 2009, Pak Fulan (bukan nama sebenarnya) seorang calon presiden yang kemudian merubah statusnya menjadi calon wakil presiden RI berkata menjelasan mengapa ia menculik beberapa manusia. Beliau berkata begini “Apa yang oleh satu pemerintahan disebut upaya pertahanan, tapi oleh pemerintahan selanjutnya diartikan sebagai penculikan”.

Pada intinya hanya satu, ia tidak merasa bersalah atas kelakuannya menculik manusia. Selama itu ada atas nama “mempertahankan negara”, maka semua itu sah-sah saja.

Benarkah semua itu sah-sah saja?

Mari kita bahas kondisi diatas satu-persatu melalui metode tanya jawab.

1. Sahkah jika Pak fulan menculik manusia Indonesia?

Jawab: Simpel saja; Tidak sah karena bertentangan dengan hukum produk RI dan hukum Internasional.

Pada saat terjadinya penculikan tersebut Pak Fulan adalah salah satu pejabat tinggi instansi milik pemerintahan. Sebagai seorang pejabat negara, ia dengan seyakin-yakinnya telah bersumpah akan menaati hukum di mana ia melayani. Hukum pada saat ia menjabat adalah mengacu pada Undang-Undang Dasar Republik Indonesia dengan salah satu produknya yaitu Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

Dalam KUHAP UU No 8 Th 1981, segala tindak penyelidikan, penangkapan, penyidikan dan penahanan seseorang yang patut diduga terlibat dalam tindak pidana tidaklah boleh sembarangan. Ada aturan mainnya dan semua itu terkait dengan HAM.

Menculik manusia bukankah pekerjaan yang halal di mata hukum RI. KUHP (Kitab Undang Hukum Pidana) menjelaskan dalam beberapa pasal antara lain:

  • Pasal 328; Barang siapa membawa pergi seorang dari tempat kediamannya atau tempat tinggalnya sementara dengan maksud untuk menempatkan orang itu secara melawan hukum di bawah kekuasaannya atau kekuasaan orang lain, atau untuk menempatkan dia dalam keadaan sengsara, diancam karena penculikan dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.
  • Pasal 333;
    1. Barang siapa dengan sengaja dan melawan hukum merampas kemerdekaan seseorang, atau meneruskan perampasan kemerdekaan yang demikian, diancam dengan pidana penjara paling lama delapan tahun.
    2. Jika perbuatan itu mengakibatkan luka-luka berat maka yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.
    3. Jika mengakibatkan mati diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.
    4. Pidana yang ditentukan dalam pasal ini diterapkan juga bagi orang yang dengan sengaja dan melawan hukum memberi tempat untuk perampasan kemerdekaan.

(sumber: KUHP (Penal Code), BUKU KEDUA, KEJAHATAN, BAB XVIII, KEJAHATAN TERHADAP KEMERDEKAAN ORANG)

Indonesia adalah bagian dari dunia Internasional. Ia adalah sebuah negara yang memiliki kedaulatan sendiri, merdeka dan berhak dengan hormat sepenuhnya menentukan apa yang diinginkan. Sebagai bagian dari dunia internasional, Republik Indonesia pun menghormati ketentuan yang berlaku didalamnya. Diantara lain adalah hukum internasional. (*silahkan lihat pada hasil Konfrensi Princeton ini untuk pertanyaan mengapa kita butuh hukum internasional*)

Hukum Internasional mensyaratkan dalam isi jus inter gentes (sebuah konsep hukum Roma yang diadaptasi menjadi bagian besar hukum internasional masa kini, arti awalnya adalah ‘hukum antar manusia’) bahwa penculikan adalah pelanggaran besar bagi hukum internasional dan juga pelanggaran terhadap hak hidup manusia. (*silahkan klik di Google Books mengenai International human rights and humanitarian law ini untuk memperoleh isi lebih lanjut mengenai isi hukum Internasional*)

Perbuatan Pak Fulan melanggar hukum Indonesia dan juga hukum internasional. Menjadikan perbuatannya menculik manusia menjadi tidak sah.

2. Sahkah jika Pak fulan menculik manusia Indonesia yang notabene masyarakat negara yang tengah ia bela?

Jawab: Tidak sah

Sebagai pejabat publik pertahanan di RI dengan perangkat publiknya (misalnya: anak buah), Pak Fulan mendapat fasilitas dari publik. Sebagaimana prinsip demokrasi yang dianut oleh Republik Indonesia, maka Pak Fulan semestinya bekerja sebaik-baiknya melindungi masyarakat yang menjadi sebuah bagian negara yang sewajibnya ia bela.

Hubungan antar pejabat publik dengan masyarakat adalah bagaikan hubungan pelayan dengan majikan. Dalam konteks ini, sang pejabat adalah pelayan yang harus melayani majikannya, masyarakat. Ketika mengambil sumpah pra-jabatan, sang pejabat dengan serta merta berjanji akan melakukan kerjanya dan berhubungan dengan masyarakat sebaik-baiknya. Pelanggaran terhadap kode etik dan sumpah ini adalah berarti juga pelanggaran secara serius terhadap dirinya serta masyarakat yang memilihnya. (*untuk membandingkan pelanggaran terhadap jabatan dapat membaca buku Etika Profesi Hukum di Google Books ini*)

Pak Fulan, sebagai bagian dari pejabat publik untuk pertahanan Republik Indonesia tidak semestinya menculik (yang lalu kemudian menyiksa dan menghilangkan) beberapa Warga Negara Indonesia hanya karena WNI-WNI tersebut berbeda pandangan secara ideologis dan politis. Manajemen konflik antar pejabat negara dengan masyarakat memang belum mempunyai aturan yang khusus ketika beliau menjabat. Namun sebagai pelindung negara, beliau juga mempunyai keharusan untuk melindungi masyarakat. Sebab masyarakat adalah salah satu pilar utama pendukung negara. Aturan-aturan tersebut telah ada sebenarnya dalam sumpah jabatan, Pasal 28A (hingga 28J) UUD 1945 serta KUHAP.

Warga Negara Indonesia berhak mempunyai hak untuk hidup merdeka dan bebas dari rasa takut dan menjadi korban penculikan. Pak Fulan, mempunyai masalah besar dalam menghadapi hal ini karena;

  1. Ia tidak bisa memberikan hak tersebut kepada sesama WNI.
  2. Sebagai pejabat publik pengamanan negara, ia gagal memanfaatkan dirinya memberikan rasa aman kepada warga yang seharusnya ia bela.
  3. Menjerumuskan diri beserta institusi yang membesarkannya dalam sejarah buruk dengan menyebarkan ketakutan di masyarakat.

Dalam mencari solusi ideal pada konflik horisontal antara masyarakat dengan pemerintah, damai dan dialog terbuka adalah jalan mutlak yang harus ditempuh. Kekerasan yang berujung pada penculikan, penyiksaan dan penghilangan (eufimisme dari pembunuhan) hanya akan menghasilkan masalah-masalah baru yang berujung pada chaos.

Bela negara tidak bisa dilakukan dengan cara menculik warga yang di bela.

3. Sahkah jika Pak fulan menculik manusia Indonesia yang notabene masyarakat negara yang tengah ia bela dengan alasan mengamankan negara?

Jawab: Tidak sah karena menculik manusia sebagai tindak pengamanan negara telah terbukti gagal berkali-kali.

Mari kita belajar dari Johnson Aguiyi-Ironsi yang lahir di dusun Umaiha di Nigeria.

Nigeria merdeka pada tahun 1960. Lepas dari persemakmuran Inggris Raya dan lalu menjelma sebagai negera federal. Meniru konsep federalisme Amerika Serikat, Nigeria jelas hendak maju seperti negara percontohannya itu. 100% kontrol sumber daya lokal ada di tangan masing-masing negara bagian federal. Jelas ide yang mulia.

Sayangnya tahun 1966, kerusuhan yang dipicu oleh pemerintah yang korup dan balas dendam melukai Nigeria. Ide mulia berubah menjadi mimpi buruk akibat terpecahnya warga yang multi etnis menjadi premordialis. Negara berubah menjadi kubangan darah ketika dikuasai oleh Pak Johnson Aguiyi-Ironsi. Seorang mayor jenderal yang tiba-tiba mengangkat dirinya menjadi pemimpin Negara Federal Militer Nigeria.

Rakyat yang tidak puas dan bersuara, dibungkam melalui penculikan dan penyiksaan. Johnson menganggap dirinya sebagai wakil tuhan melalui tangan besi. Semua oposan diciduk diam-diam lalu dihantam dengan popor senjatanya.

Hanya 194 hari setelah ia berkuasa, Johnson Aguiyi-Ironsi terbunuh. Ironisnya, ia diculik sebelum ditemukan tewas di hutan terdekat dengan 20 lubang peluru di dada dan kepala.

Warisan Johnson bukanlah sebuah negara demokratis dan menganggap warga sebagai pilar utama dalam kehidupan. Ia meninggalkan sebuah rezim yang berkuasa dengan darah warga berceceran diantara bayonet-bayonet para serdadu antara 1966-1979.

Warisannya adalah sebuah delta di perairan Afrika bernama Nigeria yang sibuk mempertahankan politik oli (*artinya siapa terdekat dengan ladang minyak dialah penguasa*) dengan cara apa saja. Bahkan dengan penculikan sekalipun untuk mempertahankan kekuasaan.

Alasan pengamanan negara sebagai legalitas penculikan adalah teknik kotor dalam operasi munafik menutupi kelemahan sebuah rezim. Saking menjijikannya, amat mungkin ia hanya akan muncul dari mulut pengecut dalam bisik-bisik di toilet akademi militer misalnya.

Penculikan bukanlah sebuah upaya untuk memulihkan keamanan. Ia bahkan dapat menjadi pisau yang mampu menikam tuannya sendiri. Betapa miripnya Penjara Guantanamo Bay di bawah rezim Bush (bapak + anak) dengan Auschwitz. Tidak lain karena penculikan terhadap orang yang dicurigai teroris yang akan mengonarkan sebuah negara amat mirip perlakuan NAZI terhadap yahudi.

Amerika Serikat nampaknya harus belajar dari kasus penculikan yang dilakukan oleh Pak Fulan dari Indonesia ketika ia menjadi pejabat publik. Penculikan dan pelimpahan interogasi pada pihak ketiga (torture by proxy) yang berujung penyiksaan dan penghilangan manusia tidak mengajarkan apa-apa selain chaos.

Sementara itu untuk apa Pak Fulan di Indonesia pada bulan Juni 2009 berkata “Apa yang oleh satu pemerintahan disebut upaya pertahanan, tapi oleh pemerintahan selanjutnya diartikan sebagai penculikan“…?

Ahh Pak, mengapa terlalu takut mengakui kesalahan sehingga harus mencari kambing hitam pemerintah yang dulu menghidupinya? Mengapa harus mencari alibi pembenaran atas kezaliman yang pernah diperbuat?

Ia pikir, banyak orang lupa.

Padahal nampaknya justru ia lah yang pelupa, bahwa tidak semua orang di republik tercinta ini mudah lupa.

(*Silahkan menyebarkan tulisan ini semaunya dengan mengutip sumber agar bantahan yang disertai bukti pendukung dapat dialamatkan ke blog bangaip.org*)

This entry was posted in Orang Indonesia, Republik Indonesia and tagged . Bookmark the permalink.

8 Responses to Culik

  1. gunawanrudy says:

    Hari ini Pak Fulan yang membawa jargon pro-kerakyatan akan dicontreng, entah oleh mereka yang termakan janji-janji atau fans fanatik, hahaaa… 😐

    –0–
    Kalau beliau menang, itu adalah kemenangan televisi atas seluruh umat manusia di RI. Penemu televisi dan pencipta iklannya harus berbangga hatinya, karena barang temuannya mampu menyihir jiwa dan mencuci otak manusia Indonesia.

  2. titiw says:

    Eh.. berapa minggu yg lain saya ikut kuliah terbukanya mas Goenawan Mohamad ya bang.. terus ada yg iseng nanya dia pilih siapa, dan doi bilang gini “Saya sih pilih boediono, karena teman2 saya belum pernah ada yg diculik oleh boediono..” Waduh.. sebenarnya juga beliau menyebutkan oknum2 lain, tapi saya takut jadi menyusahkan bang aip, jadi nanti aja kita obrol2 sendiri ya bang.. hehehe.. (so tau politik lu tiw! *toyor*)

    –0–
    Ga papa Tiw. Saya nggak susah kok. Yang susah mah yang nyulik. Susah nanti kalo ditanya izroil. Hihi

  3. The Bitch says:

    makasih, bangaip. udah komeng di tempatku. gokil… ga banyak orang yg tau lho padahal, komeng di post ku gimana. dan bangaip telah terpilih. haha!
    eniwei, salah satu hal yg bikin kelingking kanan saya bersih hari ini, selaen malem sebelumnya saya mabuk berat, adalah saya nggak tau mau milih siapa. rasanya semua Goliath yg pasang tampang hari ini terlalu bau mayat. melalui titahnya atau tidak.

    tidak memilih pun adalah pilihan kan, bang?

    ps: saya tetep ngejagoin bangaip kalo2 besok2 bangaip khilaf dan ndaftar jadi capres ((=

    –0–
    Tidak memilih itu pilihan. Yup saya setuju.
    (*kalo saya khilaf, mohon dikelepak pala saya biar ga kelamaan khilafnya. Hihi*)

  4. adipati kademangan says:

    kalau didemo bakalan ada penculik berkeliaran ngak yah ?

    –0–
    Pertanyaan yang berat, Adipati

  5. edratna says:

    Jadi ingat tulisan teman di sini (http://www.penganyamkata.net/2009/06/17/anak-macan-bu-lastri-mahal-sekali).

    –0–
    Terimakasih Bu untuk linknya. Iya, tulisannya disana bagus yaa :)

  6. Manusiasuper says:

    Kapan Indonesia punya negarawan macam Voltaire, atau McCain, atau Muhammad ya bang?

    –0–
    Pertanyaan yang berat. Sebab katanya pahlawan itu dilahirkan jaman. Mungkin memang jamannya yang merasa belum butuh pahlawan? :)

  7. galeshka says:

    Those who cannot remember the past are condemned to repeat it.
    George Santayana

    Quotes yang selalu saya ulang-ulang dan baru kemarin saya ulang lagi ketika berdebat dengan seorang sahabat yang memutuskan untuk memilih Pak Fulan ini.

    Apakah memang kita ini bangsa yang sedemikian pelupa yah …

    –0–
    Mari kita sama-sama melawan pikun :) (*Belum setua Europe kok sudah pikun, hehe*)

  8. Karin Pok says:

    Thx for information.

Leave a Reply