Tersasar

Kuala Kencana Indonesia

Saya suka menulis disini. Tenang. Tanpa riuh rendah. Pengunjungnya biasanya dari IP address yang sudah kenal lama. Andaipun ada satu dua yang tersasar karena mesin pencari, syukurlah kata kuncinya bukan anonoh lagi. Hehe.

Positifnya, ibarat bertapa sekaligus nyantri. Ada ruang untuk duduk kontemplasi dan ada renggang diri untuk belajar lagi.

Negatifnya, ada tuduhan “Hoii! Kalo berani, sini turun gunung!”.

Hahaha. Jagad tulisan dunia maya Indonesia itu sungguh dinamis. Saya suka sekali berada didalamnya. Ketika para cerdik cendekiawan dari latar belakang pengalaman dan disiplin ilmu berbeda saling bertarung dalam wacana intelektual.

Sayang, beberapa orang ‘pemain lama’ sudah jarang muncul lagi. Kualitas tulisan mereka amat baik sekali berdasarkan kacamata saya pribadi, namun mungkin karena kesibukan yang menggila sudah jadi jarang update opini terkini.

Saya pun karena terlena dengan aktifitas bertapa sekaligus nyantri, terjebak dalam racun zona aman. Sebab sudah jarang punya opini yang kritis. Lebih cenderung untuk “Ahh maen aman aja ahh” atau “Ngapain nulis yang susah-susah, cari penyakit ama nambah musuh aja deh”.

Lalu makin hari makin larut dalam kegamangan.

Tiba-tiba jadi ingat sebuah harian di Jakarta yang beroplah internasional dengan metode jurnalisme ‘No Harm‘; Jangan menyakiti siapa pun kalau koran mau laku. Kalau koran laku, kamu masih bisa kerja. Kalau kamu kerja, anak istri kamu masih bisa makan. Jadi, kalau masih mau makan, tulis saja yang aman-aman.

Selanjutnya semakin merasa aneh. Kok yaa bisa-bisanya saya menasbihkan diri menjadi laksana koran Jakarta tersebut? Lah, siapa yang bayar saya untuk menulis di sini selain kegilaan tak berujung untuk memanfaatkan 15 menit perhari untuk menulis? Memangnya kalau saya berhenti menulis, anak istri saya ndak bisa makan? Kalau ada yang maki-maki karena tersinggung tulisan saya, apa pengaruhnya sama dagangan saya, wong saya tidak dagang apa-apa di sini?

Ahh… Dibalik itu, saya pun bertanya-tanya dalam hati apa saya yang semakin hari semakin angkuh? Sudah tidak peduli lagi perasaan orang lain?

—-

Awal 2000-an adalah tahun-tahun yang lumayan panas dalam hubungan luar negeri antara Indonesia dengan negara-negara yang selama ini membantunya hutang. Negeri ini belum lama bebas dari rezim Orde Baru. Hutangnya membludak dimana-mana. Dan para pemberi piutang itu; menagih janji.

Salah satu tagihannya amat menarik, beri keadilan pada manusia di Papua sana. Maka bebas rente akan datang di depan mata.

Sibuklah orang-orang di dunia ini tiba-tiba menggagas acara bagaimana agar para mayit tetua suku Amungme, orang Amerika yang naas hingga para polisi Jakarta yang dikebumikan karena konflik di bumi cendrawasih; mendapat keadilan.

Acaranya sendiri bukan di Indonesia. Mungkin karena si penggagasnya banyak WNI yang dikejar-kejar di negaranya sendiri.

Saya kebetulan hadir di tempat itu (*Benar-benar tidak sengaja. Niat awal mau batal puasa. Cari tempat untuk pacaran. Haha*). Kaget. Ada menteri-menteri urusan luar negeri beberapa negara Eropa. Wakil lembaga-lembaga yang peduli Indonesia. Wakil pemerintah Indonesia. Dan tentu saja, orang-orang Papua.

Dikusi berlangsung alot. Panas. Dan penuh kalimat-kalimat ajaib. Wah salah kamar nih, kata saya dalam hati.

Mata saya sibuk tengok kanan-kiri cari cemilan. Karena niatnya memang sudah mau batal puasa (bukan buka puasa), maka sekalian saja deh batal. Hehehe. Memang nampaknya saya nasib baik. Atau memang dimudahkan untuk tidak puasa hari itu, tertumbuklah mata saya pada kacang dan es jeruk di kanan ruangan.

Saya ini orangnya kelewatan, kalau sudah makan bahkan bisa lupa tengah pacaran. Maka dengan semangat 45 dan dalam tempo sesingkat-singkatnya, dirahmatilah perut saya dengan kacang, es jeruk, permen rasa melon dan keripik kentang.

Singkat cerita, saya kekenyangan nih di kursi. Duduk. Diam. Selonjoran. Dan bahagia. Pacar saya pergi entah kemana (saya memang lelaki yang payah, mudah terkena bujuk rayu selingkuh makanan. Hehe).

Lagi santai-santai begitu, di samping saya ada lelaki menegur dalam bahasa Inggris. Dia bilang, “Saya boleh minta permen melonnya?”

Saya kasih satu genggam penuh permen ke tangannya.

Tiba-tiba, dua lelaki dan satu perempuan berdiri di depan mimbar (nampaknya asli dari Papua). Teriak-teriak. Marah. Maki-maki pemerintah Indonesia atas terbunuhnya orang-orang Papua selama perusahaan tambang Freeport berdiri. Lalu memaki-maki wakil-wakil pemerintah asing yang diam saja melihat kejadian tersebut. “Bubarkan Freepot! Gresberg milik kami!”

Satu orang (nampaknya dari Amerika), berdiri menanggapi marah-marah tersebut. “Kalau kalian minta keadilan terhadap bapak kamu yang terbunuh, bagaimana dengan keadilan atas saudari perempuan saya yang meninggal kalian tembak?”

Situasi semakin pelik. Semua orang bungkam. Tambang yang berdiri sejak tahun 1967 di dekat Puncak Jaya tersebut memang menyimpan polemik yang luar biasa. Titel penghasil emas terbesar di dunia adalah sebuah kutukan (tentu saja bisa juga di sebut sebuah kejayaan – tergantung sudut pandang). Bukan hanya mayat yang bergelimpangan demi memotong gunung dan memperebutkan isinya, sungai-sungai pun dihinggapi tembaga hingga ikan-ikan punah.

Lelaki di samping, bertanya apakah saya mengerti bahasa Indonesia yang lalu saya jawab iya. Setelah kami saling mengenalkan diri, ia berkata dalam bahasa Indonesia, “Sungai Aykawa, itu kandungan tembaganya 60 mikrogram per liter, Rif. Itu gila. Tiga kali batas tertinggi kewajaran. Mana ada ikan mau hidup di sana? Setiap tahun, orang kampung kami dapat jatah setengah juta dollar. Katanya, satu persen dari keuntungan tambang. Tapi uang tidak boleh dipakai, nanti kalau tambang habis kontrak, uang baru boleh diambil”

Saya bengong, “Lah, Pak. Terus gimana dong kalau uangnya tidak boleh diambil?”

“Bunganya boleh diambil”

“Trus untuk apa, Pak?”

“Kita ada kirim anak-anak kita sekolah di Australia. Di Amerika. Di Eropa. Supaya jangan seperti bapak-bapaknya. Suka baku ribut, minta merdeka… Tapi lupa masalah dasar Papua”

“Lah masalahnya bukan jelas, Pak. Tambang itu kan bikin masalah”

“Haha, kita ada pikir kalo kita orang itu awam di sini. Tapi kamu ini lucu. Masalahnya sudah besar ini. Sudah bukan masalah tambang lagi. Itu gunung yang sudah dipotong, apa bisa diberdirikan lagi? Ada orang yang sudah dikubur, apa bisa dibangunkan lagi? Masalah yang benar itu… Sejak tambang berdiri hingga sekarang di Papua sudah banyak masalah sosial, hak manusia dan lingkungan yang hancur. Ada kota yang dibangun namanya Tembagapura, coba kamu pikir dari mana asal nama itu?”

Saya diam. Bapak itu, yang kelihatannya menguasai Papua, tambang dan issue-issue yang menyertainya. Saya tidak bisa jawab apa-apa. Lah, saya datang ke situ kan mau pacaran (yang ternyata gagal). Jelas saya tidak berani bilang ‘Mana saya tau! Emangnya situ pacaran ama saya!’

Bapak itu lanjut lirih bicara. Bilang bahwa tahun ini, tambang sumbang hampir tujuh juta dolar amerika serikat pada tentara. Entah untuk apa. Sementara orang-orang kampung makin suka minum minuman keras saja. Kalau ada pegawai tambang tabrak babi milik warga, diganti dengan uang sedemikian rupa. Agar orang kampung senang. Uang itu untuk pesta. Untuk mabuk. Untuk sejenak lupa.

Dia semakin lirih bicaranya.

Saya tiba-tiba merasa iba. Bapak ini pasti sedih terhadap kondisi kampungnya. Dan hadir di ruang ini untuk urun rembug mencari solusi. Jauh-jauh datang dari Papua tanah asalnya, demi masa depan anak-anak mereka.

“Kamu dari Indonesia juga?”, Ia bertanya.

Saya mengangguk.

“Kamu wakil pemerintah Indonesia?”

Saya diam menatapnya sedih, “Bukan. Saya kesasar, Pak”

Ia diam. Seakan tak percaya menatap saya.

Saya pun diam. Menundukkan kepala karena malu. Bertahun-tahun hidup di Republik Indonesia. Jalan di atas jalan yang dibangun oleh pajak rakyat. Menelpon keluarga pakai telepon umum yang disambungkan oleh pajak rakyat. Naik bis yang bensinnya disubsidi rakyat. Kok yaa tidak peduli sama rakyatnya sendiri yang tengah dirundung duka.

Jangan-jangan… Benarlah sudah semakin hari saya semakin angkuh? Sudah tidak peduli lagi perasaan orang lain?

—————–

Foto Awal: Kuala Kencana, Indonesia dari Google Maps 1:500 feet. Lokasi perumahan pekerja tambang Freeport.

Keterangan foto (*diambil dan diterjemahkan secara mentah-mentah dari webmaster kualakencana dot com yang juga salah satu penghuni pertama Kuala Kencana – maaf apabila terdapat kesalahan penerjemahan*):

Kuala Kencana adalah kota pertama di Papua (West Papua New Guinea) yang di bangun dengan fasilitas bawah tanah, sentralisasi air, dan pengaturan pembuangan limbah. Kuala Kencana adalah kota terbaik yang pernah dibangun di Papua. Kota ini diatur oleh manajerial PT. Freeport, perusahaan raksasa tembaga dan emas di Indonesia. Kota ini didedikasikan oleh Presiden RI pada tahun 1995.

Kota ini dibangun dalam beberapa bagian. Bagian pertama disebut ‘RW’, Rukun Warga. Bagian kedua disebut ‘RT’, Rukun Tetangga.

Bagian ketiga disebut ‘BQ’, apartemen untuk pasangan muda yang baru menikah. Dalam apartemen itu dibagi menjadi RW.A dan dan RW.B. RW.A dibagi menjadi 4 RT. Kota ini memiliki rumah sakit dan pemadam kebakaran yang lokasinya diatur searah jarum.

Kuala Kencana adalah kota tercantik yang dapat anda lihat (di Papua). Bukan hanya karena terdiri dari rumah-rumah kaya, melainkan juga karena amat hijau… Dan indah secara natural.

—-

Foto bawah: Honae, rumah keluarga suku Amungme.

(sumber foto: dari noemprivacy)

Ini Honae, rumah orang suku Amungme

honae pic, the house of amungme people

honae pic, the house of amungme people

Dan ini situasi di dalam Honae, ketika orang serumah berkumpul di dapur

inside honae, housemate on the kitchen

inside honae, housemate on the kitchen

This entry was posted in bangaip, Orang Indonesia, Republik Indonesia and tagged . Bookmark the permalink.

11 Responses to Tersasar

  1. hedi says:

    ruwet…ruwet ini….otak saya nggak nangkep, bang :(

    –0–
    Maap Mas Hedi kalau ini ruwet.

    Di facebook lebih seru diskusinya. Ada Mbak Yoga yang kebetulan sering tugas di Kuala Kencana, jadi bisa mengkonfirmasikan perilaku mabuk pagi hari dan pembodohan massal berupa bagi-bagi uang hasil bunga (buat suku-suku disana).

    Beberapa kisah sukses, diadaptasi diantaranya jadi film (e.g. Denias ‘senandung di atas awan’, kalau tidak salah). Namun itu memang satu atau dua saja. Kebetulan cerita diatas sudah lama berlangsungnya, namun dari beberapa berita update terbaru; situasi kesenjangan sosial, proses pembodohan massal, dan kerusakan alam, masih tetap berlangsung saja.

    Saya tadinya mau nulis yang lebih blak-blakan… Lah, kelihatannya malah brutal. Terpaksa sunat sana-sini demi alasan “cari aman”. Hahaha

  2. DeZiGH says:

    Emang ruwet ^_^

    –0–
    Lebih ruwet lagi, apabila pernah ada di lokasi kejadian di sekitar tambang Papua sana. Melihat tubuh-tubuh yang terbaring di tanah penuh lubang peluru.

  3. Yuk kita urai keruwetannya?!

    –0–
    Sip Mas Dewo. Saya setuju nih :)

  4. Amd says:

    Saya tertarik dengan tahun berdirinya Grasberg, Bang (1967)… Ada hubungannya dengan situasi politik Indonesia kala itu nggak ya? (G30S/PKI, Kudeta Militer, Supersemar, lengsernya Soekarno, naiknya Soeharto, dll)

    –0–
    Bukunya banyak. Tapi yang mungkin bisa diakses publik;

    1. Big Business Poor People /*ini yang covernya iklan motor yang ditujukan untuk pekerja tambang, menjulang tinggi mengangkasa terbuat dari Baliho yang ditopang tiang-tiang baja. Sementara, tiang itu berdiri diatas rumah-rumah rumbia orang Meno dan Noge*/

    2. The politics of power: Freeport in Suharto’s Indonesia /* Isinya, secara subyektif, menurut saya bagus sekali. Datanya spesifik. Beberapa poin penting seperti kontrak antara RI – McMoran bisa dilihat disini. */

    3. Ekspedisi tanah Papua: laporan jurnalistik Kompas : terasing di pulau sendiri. /*Ini lumayanlah. Walaupun tidak lengkap, tapi ada pendapat warga lokalnya terhadap kondisi setempat */

    Soal bisa diakses publik… Semuanya bisa dilihat di Google books. Walaupun tidak penuh. :) Kalau kamu mampir ke rumah saya, Med. Pasti saya kasih baca sambil disuguhi teh rasa peach :)

  5. mbelGedez™ says:

    .
    Bang, pernah denger ndak, kalo ditambang ituh juga menghasilkan uranium…???

    –0–
    Rumor yang nampaknya saya tidak berani konfirmasi (hehe, walopun sering banget dengernya)

    Mohon para tambang’ers yang ada di lokasi TKP kiranya dapat menjawab mengkonfirmasi pertanyaan Mas Mbel, imam kita ini :)

  6. nita says:

    berat bener nih postingannya kali ini… tapi teteub menikmati. apa kabar bang?

    –0–
    Haha, nggak berat ahh, Mbak. Kabar saya baik-baik saja walaupun agak flu. Sibuk nguli mah jalan terus. Maklum, beginilah nasib babu abadi :)

  7. adipati kademangan says:

    hal yang perlu diperbaiki disana adalah kesenjangan sosial. Bagaimana mungkin tanah yang kaya raya, gunung Grasberg dengan segala kandungan yang ada di dalamnya tidak mengubah kondisi ekonomi rakyat sekitar. Yang lebih aneh lagi yang menikmati hasil papua adalah Jakarta.

    –0–
    Orang Jakarta… Mohon dikonfirmasi pernyataan ini.
    Hehe

    (*Bebaskan Jakarta dari Papua*)

  8. didats says:

    yang lain bilang ruwet, saya mah bilang ini cerita belum selesai… :p

    ditunggu terusannya bang!

    –0–

    Terusannya nampaknya menyakiti beberapa orang teman, Dats (sebab sudah saya kirim pada mereka untuk konfirmasi, namun mereka menolaknya mentah-mentah dan mengancam akan memutuskan tali silaturahmi). Saya sendiri masih berfikir-fikir apakah mau dipublish tulisan itu. Memang kadang-kadang menerbitkan tulisan itu dilematis. Ada publik yang punya keinginan untuk tahu (dan berhak tahu), dan ada kenalan/teman/tetangga/keluarga yang kadang-kadang berada di pihak yang berlawanan.

    Jangan nunggu saya, Dats. Saya belum tahu jawabnya.

  9. -tikabanget- says:

    jadi apa yang bisa saya bantu?

    –0–

    Untuk saat ini, membantu proses memberhentikan bagi-bagi duit di kampung-kampung orang Meno dan menggantikannya menjadi proyek sustainable buat hidup warga nampaknya amat berguna sekali, Mbak.

  10. online says:

    membaca seluruh blog, cukup bagus

    –0–

    Terimakasih

  11. Elyse Trang says:

    Why buy high domain name, check my site to find the coupon.

Leave a Reply