Arti Teman di Zaman 2.0.

“Kamu cari hobi dong?”

“Lah, kata siapa saya nggak punya hobi? Biar gini-gini saya punya hobi tau!”

“Hobi kamu emang apa?”

“Nginstal…”

Istri saya melirik sebentar. Lalu diam. Ceklak-ceklek ganti stasiun televisi dengan remote ditangannya. Saya membalas cepat, “Emangnya kenapa kalo punya hobi nginstal?”

“Hobi kok nginstal?”

“Daripada ngegame lagi. Kamu sudah sebel kalo saya ngegame”

“Ngegame nggak kira-kira. Delapan jam non stop ga berenti-berenti”

“Tapi itu kan kerjaan saya. Gimana saya bisa nganalisa perkembangan saingan kantor kalo nggak maenin game mereka. Lagian, masih banyak tau gamer mania yang hidupnya hanya main game saja”

Istri saya diam lagi sejenak. Ia memang pernah kebingungan dengan pekerjaan saya dahulu (yang saya anggap adalah pekerjaan paling menakjubkan di muka bumi). Yaitu main game sepuasnya, cari easter egg dan cheat nya. Lalu lapor ke atasan. Dan tiap akhir bulan, dapat uang. Ia sama sekali tidak mengerti bahwa ada manusia di muka bumi ini yang dibayar untuk bermain-main.

Sejak berhenti nge-game dan pindah kerja. Saya mulai menginstal. Tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Sekedar hobi saja. Mengetahui sebuah sistem bekerja adalah sebuah kepuasan. Dan lebih puas lagi ketika mengetahui ada celah keamanan yang bisa ditambal.

Istri saya bingung. Hobi kok instal sistem komputer. Lah masih untung saya hobi instal, coba kalau saya hobi main perempuan. Kan dia juga yang kebingungan. Tapi masih untung hobi main perempuan, coba kalau saya hobi main anak laki-laki. Pasti seluruh dunia kebingungan. (*Hati-hati terjebak dalam logika sesat ala bangaip. Hehehe*)

Nah gara-gara disuruh cari hobi itulah saya sampai ke website jaringan bernama facebook. Website itu sebenarnya biasa-biasa saja, yang tidak biasa adalah kemampuannya dalam melayani jaringan sosial pemilik akunnya. Sebab siapa saja dapat mengembangkan aplikasi di website tersebut. Jadi saya pun bisa membuat aplikasi seperti misalnya semacam kuis “Seberapa Jauh Anda Mencintai Bangaip?” Lalu menyebarkannya pada jaringan pertemanan yang saya miliki. Tentu saja kuis itu harus diisi untuk memuaskan gejolak narsisme saya yang menggebu-gebu. Hehehe, asik kan?

Maka, jadilah mainan baru bernama situs pertemanan facebook itu jadi hobi saya selain menginstal sistem operasi komputer dan mengopreknya.

Istri saya tambah bingung, “Loh hobi kamu masih di komputer juga?”

Saya lebih kebingungan, “Lah, habis mau apa lagi dong?”

“Saya kira kamu mau cari hobi luar rumah?”

Wah, rupanya beliau mau saya keluar menghidup udara segar sambil melancarkan peredaran darah. Maka, sekali lagi untuk memenuhi permintaannya, saya pun mancing di danau dekat rumah. Tentu saja, sambil membawa telepon genggam yang sudah di instal facebook. Hehehe.

Sambil mancing dan minum teh, saya coba melihat-lihat fungsi facebook di layar telepon genggam. Rupanya selain untuk memuaskan hasrat diri untuk dikenal publik luas, ternyata ia juga dapat membuat setiap orang mengetahui apa saja yang terlintas di benak teman-teman virtual mereka secara cepat.

Itu jelas menarik. Minimal buat saya.

Gagang pancing berulang kali bergoyang di tarik ikan. Saya terus melihat layar facebook. Satu-persatu menghampiri halaman facebook milik daftar teman yang saya miliki. Membaca kabar mereka. Membaca catatan mereka. Membaca hidup mereka.

Masih belasan. Beberapa orang yang saya kenal sepanjang hidup ada dalam daftar jaringan teman. Ketika mencapai puluhan, sisanya, bahkan orang yang sama sekali belum pernah lihat di dunia nyata. Fasilitas di facebook memang memungkinkan agar saya dapat meminta siapa saja untuk berteman (atau bahkan mengindahkan serta menghapusnya).

Teman-teman lama, sudah terprediksi kabar terbaru mereka. Yang sifatnya sensasional, pasti kabarnya memang penuh sensasi. Yang santai dan pendiam, biasanya jarang beri kabar. Aktifitas dunia maya mereka hampir serupa dengan dunia nyata.

Sementara teman-teman baru yang belum pernah bertemu, benar-benar membuat saya tergoda untuk menganalisa. Bayangkan, facebook punya tombol sekali klik yang bermaksud kalimat “Hey, saya arip. Berteman yuk”. Dan lalu, jika manusia di seberang sana entah di mana menyetujuinya maka ia akan menekan tombol jawaban “Yuuk mariii”. Dan secara otomatis, langsung berteman.

Tak perlu jabat tangan. Atau gairah mata berbinar-binar ingin tahu teman baru. Persetan definisi pertemanan, yang penting orang yang mau di ajak kenalan sudah ada di dalam daftar jaringan. Sebab facebook secara otomatis akan memberi kabar teman baru yang anda miliki. Tanpa kenal lelah. Tanpa kenal jeda. Aktifitas teman-teman baru (atau teman lama) akan mampir semua di halaman muka akun facebook anda.

Saya seperti manusia lain yang sok menganalisa dan pura-pura mampu menjalankannya, umumnya memang memiliki grafik. Diantaranya yang buat saya menarik adalah grafik hidup. Sejak dilatih khusus melihat manusia dari jejak yang ditinggalkannya, otomatis sejak itu pula saya melihat manusia dari fakta-fakta yang mereka tinggalkan di muka bumi. Salah satunya, jejak digital mereka.

Maka jangan heran jika hari-hari awal saya di situs sosial pertemanan tersebut memang menyita hobi menginstal. Hingga suatu hari istri curiga sebab setiap akhir minggu saya pergi memancing, “Di danau ada pemancing perempuan yaa? Kamu giat banget mancing akhir-akhir ini?”

Saya cengar-cengir saja menjawabnya.

Aktitas facebook-ria ini selain menyita waktu akibat kepemilikan beberapa akun mendulang pula beberapa manfaat positif. Beberapa komentar, catatan dan ide yang saya anggap tidak begitu penting, direspon positif ketika terlempar di facebook.

Sebagai manusia normal, tentu saja saya senang jika dapat respon positif.

Tapi namanya juga hidup yang punya nada imbang yin dan yang, maka ada pula respon negatif.

Saya kerap kali menganggap facebook bukan bagian dari hidup yang perlu diseriusi. Sebagaimana aplikasi perangkat lunak lainnya, saya anggap ia hanyalah perangkat untuk mempermudah hidup. Teknologi yang memudahkan, bukan membelenggu.

Suatu hari, seorang kawan lama… Datang ke rumah marah-marah. “Kau gimana sih, Rip! Kok aku tidak kau add! Kan kita sudah berteman lama! Apa sih yang mau kau rahasiakan?”

Wah, korban facebook (entah siapa yang jadi korban, saya atau dia).

Benar-benar marah. Dia gebrak itu meja. BRAKK!!!

Istri saya sampai kaget melihatnya. Waktu kejadian ini ada, putri saya yang masih bayi itu ada di ruang tamu. Sedang bermain. Ia menangis. Takut.

Saya mati-matian tahan emosi. Gila kali ia rupanya. Datang-datang bertamu di rumah kami. Gebrak meja tanpa sopannya. Teriak-teriak tidak tahu malu. Mempermalukan saya di depan keluarga dan tetangga. Semua itu cuma karena facebook? Bah!

Tapi percuma juga ikut-ikutan marah dan gebrak meja. Salah-salah, rusaklah meja rumah yang tidak punya salah. Maka saya pilih diam sambil berkata, “Bung, aku nggak bisa nge-add kamu. Sepengtahuanku sejak kita berteman dari dulu, kau itu suka buka-buka hal yang semestinya tidak perlu dibuka. Aib mulut bisa hilang sehari dua hari. Aib digital, selama internet bisa diakses, jangan harap akan mati”

“Hei Rip! Ini zaman kebebasan! Semua orang saat ini selebriti! Semua orang berhak dilihat dan melihat! Kalau kau tak suka, untuk apalah kau pakai itu fesbuk?!”

Saya bengong. Terpancing., “Eh cumi listrik. Gua mao nungging kek! Gua mao kencing salto kek! Gua mao apain itu fesbuk kek… Apa urusan lo? Suka-suka gua lah”

Istri saya yang melihat kondisi semakin memanas ini langsung menengahi. Karena saat itu kami memang sudah ada janji mau ke kebun binatang. Maka ia meminta pamit dengan sopan untuk sekeluarga.

Yang diminta pamit, malah semakin marah “Jangan kau berlindung diketek perempuan dan lari dari masalah, Rip! Ini belum usai!”

Pergilah ia sesudahnya. Tanpa pamit. Tanpa minum. Dan mungkin dengan hati penuh dendam.

Sedih juga saya melihatnya. Kok yaa jadi begini awal akhir minggu yang saya miliki? Istri saya masih terlihat shock. Duduk di dapur sambil minum teh. Sambil menggendong putri kami dan lalu mencoba menenangkannya

Di kebun binatang, sempat saya berfikir untuk menghapus akun fesbuk yang bermasalah itu. Tapi saya urungkan, masa sih karena hujan sehari hapus sudah kemarau setahun? Bagaimana dengan teman-teman yang lain, kan gara-gara satu orang tidak perlu semua orang jadi korban.

Penuh pikir panjang, saya timbang-timbang kegunaan facebook. Jelas sudah bahwa ia tidak akan jadi hobi baru yang akan menyita waktu. Namun jelas pula bahwa tidak semua orang punya ide yang sama dengan yang saya miliki, bahwa teknologi seharusnya ada untuk memudahkan. Bukan untuk jadi candu baru pengganti agama atau tuhan.

Tiba-tiba saya merasa asing. Di zaman yang menuntut serba cepat ini, termasuk informasi. Saya rindu berkenalan dengan jabatan tangan. Dengan tatapan gairah ingin tahu terhadap kenalan baru. Memperhatikan setiap ucapan maupun atribut yang dikenakan oleh teman baru. Saya ingin minum teh bersama teman baru.

Aneh bukan? Saya rindu kontak fisik.

Tentu saja saya menjadi aneh dan asing. Kontak fisik itu mahal dan menyita waktu. Sementara periode semi-modern yang tengah saya jalani saat ini ditandai oleh efisiensi dan efektifitas biaya dan pemangkasan waktu.

Saya tiba-tiba merasa jadi manusia dari zaman batu.

Seorang sahabat, menasihati. Ada masa dimana kita merasa lingkar pinggang semakin membesar. Ada masa dimana kita merasa merasa asing dengan kondisi sekeliling. Masa itu disebut gejala penuaan. Selanjutnya ia bilang pula, “Ini zaman dua kosong. Zamannya komunitas. Zaman dimana teman jadi komoditas. Semakin banyak teman, semakin cepat pula tercapai keinginan”

Ah masa sih?

Kalau memang pertemanan menjadi sebuah komoditas dan kuantitasnya adalah angka statistik… Apa sebenarnya arti seorang teman?

This entry was posted in bangaip, cerita_kerja, sehari-hari and tagged , , . Bookmark the permalink.

9 Responses to Arti Teman di Zaman 2.0.

  1. nita says:

    kopdaran yuuuuuk… minum teh sambil makan gorengan? kalo cuma gorengan aja mah aku bisa bikin kok. nanti kita bisa ngobrol bareng keluarga, sama istrimu, sama suamiku. anak2 bisa main bareng.
    well… gak semua orang bisa beradaptasi dengan teknologi, gak semua orang bisa menghadapi shock kultur dari teknologi. kalo saya mah seneng2 ajah, lha wong bisa “ketemu” temen2 lama yang udah gak ketauan beritanya sejak 20-25 tahun yang lalu. bisa saling tuker2an kabar, ngobrol di ym ato di skype. seru lah pokoknya mah…

    –0–

    Wah terimakasih atas ajakannya, Mbak. Saya tersanjung dan semoga dikasih rejeki untuk punya waktu dengan merealisasikannya.

  2. zam says:

    alamat fesbuknya bang aip apa?

    add, ah..

    hihihihihihi..

    bener-bener. fb menurutku tak perlu disembah-sembah jadi dewa.. :)

    –0–

    fesbuk? bangaip kyut… huehehe

  3. Wijaya says:

    Yang palin sering saya dengar: teman yang baik adalah teman yang ada di saat kita senang maupun susah…(klise banget yak? hihi)
    Tapi dgn adanya FB terus terang banyak menolong untuk terhubung dgn teman2 lama yg sdh terpisah jarak dan waktu…
    Cuman ya kadang karena Fb ini tidak memungkinkan utk kontak fisik, maka pernah terjadi komunikasi yg terjadi malah tdj nyambung. Tiba2 kaget, lho kok dia marah? Padahal maksud ane bukan itu…
    Beda banget rasanya mmg kalo kita berteman secara di dunia nyata. Ada plus minusnya lah.

    Pengen juga nostalgia dgn kawan lama sambil ngedarin botol keliling lingkaran (halah!!)

    –0–

    Pengen juga nostalgia dgn kawan lama sambil ngedarin botol keliling lingkaran

    Wah saya tau tuh rasanya. Dahsyaat. 😀

  4. hedi says:

    aku mau add istri bang aip aja ah 😛

    –0–

    Haha, sip lah terima jadi, Mas Hedi.

  5. mbelGedez™ says:

    .
    Wekekekeke….
    Beberapa hari lalu sayah bener-bener mengalaminya Bang….
    Tapi sumbernya justru dari “teman maya” di fesbuk.
    Entar kalo sempat sayah nulis soal begini deh…

    –0–

    Saya dukung sepenuhnya Mas Mbel 😀

  6. itikkecil says:

    tulisan ini membuat saya mengerti kenapa, seseorang menghapus account friendsternya
    *curcol*

    –0–
    Hehehe, iya Mbak :) Nampaknya kita sependapat.

  7. omnoba says:

    wah bang, kasus serupa terjadi ama sodaraku. dia mau nonjok temanku karena diputusin hubungan pertemanannya di fesbuk. fesbuk udah dianggap penganti Tuhan en agama ama dia.

    –0–

    Wah serem amat. Sampe tonjok-tonjokan segala?

  8. setanalas says:

    fb – an asik juga sih. tapi tetep, lebih enak kopdar gan.

    –0–

    Sip dah :)

  9. DeZiGH says:

    FB mah hanya salah satu media komunikasi sajah lah…

    –0–

    Setuju

Leave a Reply