Terpana (Welcome To The Jungle)

inside_cafe_bilderbuch
Café Bilderbuch terletak di tengah jantung Schöneberg. Tepatnya di jalan di Akazienstraße. Cafe ini sama seperti cafe-cafe lainnya di Berlin. Yang membedakannya, bisik-bisik di kafe ini sungguh berbeda dengan bisik-bisik di cafe-cafe lainnya yang ada di ibukota Jerman bahkan di seluruh dunia.

Cafe Bilderbuch terkenal sebagai tempat nongkrong pembuat film, wartawan, seniman dan jaringan kebudayaan internasional. Maka jika anda duduk di pojok dan lalu mendengar ada pewarta CNN sedang diskusi dengan fotografer perang New York Times dan penari balet dari Cina soal yang amat sensitif, maka itu adalah hal yang lumrah.

Di cafe ini, bukan saja berita dunia dari sisi lain yang dapat di dengar namun banyak pula info mengenai Indonesia yang bisa dikulik. Karena berita mengenai negara republik di asia tenggara ini memang banyak yang menarik. Beredar. Dari satu mulut ke mulut lainnya. Dan buktipun mengalir antara tangan dan mata ke tangan dan mata lainnya (tentu saja belum di sensor editor, redaksi hingga etika dan diplomasi).

Diantara rumor yang cukup menarik buat dunia perumpi adalah ketika beredar foto Pak Anu seorang mantan pejabat tinggi Indonesia masa orde baru (yang kebetulan dulunya sempat memegang amanah yang berkaitan dengan hukum dan keuangan keluarga orang nomor satu di RI) sebelum dan sesudah mengunjungi rumah bordil papan atas.

Rumah bordil itu (yang sengaja tidak disebutkan dan tidak perlu di tanya nama dan alamatnya di sini) disebut papan atas karena memang memasang tarif seribu dolar Amerika. Perjam. Belum termasuk biaya servis, tip dan pajak. Fiuuhh…

Maka jika sang pejabat publik (maaf, maksudnya ‘mantan’) masuk jam dua siang dan lalu keluar pukul sepuluh pagi di hari berikutnya, maka tentu saja bisa dihitung sendiri kira-kira berapa uang yang harus ia keluarkan. Walaupun tentu saja jadi pertanyaan menarik jika ada yang bertanya “Uang siapa?” atau… “Pak Anu kan juga merangkap ketua partai berbasis reliji. Kok yaa ngelonte di bulan suci?”

(*Pertanyaan kedua jawabannya bisa pakai metode debat sokratik; “Lah emang ada hubungannya antara politik, lonte dan bulan suci kalau bukan untuk konsumsi media?”. Sedangkan pertanyaan pertama pertama tentu saja bisa di jawab dengan “Indonesia itu diberkahi rahmat dengan alam yang kaya raya dan warga yang doyan lupa”. Haha*)

Tapi lupakanlah pertanyaan iseng di atas. Maka jika dan hanyalah jika sang Pak Anu yang begitu luar biasa idenya tidak membuat blog dan mempublikasikannya isi otaknya di muka publik, tentu saja ia tidak jadi pelengkap dalam tulisan kali ini.

Iya, benar. Ia blogger. Hebat bukan. Gelar apa lagi yang mau ia embat? Mahaguru? Sudah. Menteri? Sudah. Pelonte? Sudah. Apalagi coba?

Percayakah anda jika saya terbengong-bengong atas keberaniannya.

Dan saya memang semakin terbengong-bengong ketika Pak Anu lalu berdebat di muka publik (maksudnya di blog hangat-kalau-tidak-boleh-dibilang-panas soal Indonesia berbahasa Inggris) tentang skandal korupsi di masa ketika dan pasca kepemimpinannya. Sungguh amat terpana. Sebab ia main lempar fallacy hancurnya logika begitu saja ke seluruh penjuru diskusi.

Terpana sekaligus takut. Terpana sudah dijelaskan di atas. Dan takut… Karena pernah membiarkan orang macam begitu berkuasa.

Tapi lupakanlah sejenak Pak Anu dan foto-foto yang beredar di Café Bilderbuch. Tarik nafas dalam-dalam… Buang pelan-pelan melalui hembusan tiupan. Jangan biarkan diri di bakar gosip yang belum tentu jelas rimbanya (sebab foto-foto itu tentu saja tidak akan muncul di blog ini atau di mailbox anda. Setidaknya bukan dari alamat saya). Marilah merenung sejenak. Marilah kita sebentar bicara pengaruh kekuatan sebuah tulisan.

Dari kekuatan tulisan pula seorang Paman mengabarkan pada kita beberapa hari lalu tentang seorang yang bernama Bakrie bicara mengenai Lumpur Sidoarjo.

Iya benar. Begitu lama banyak orang berdoa. Akhirnya ada pula yang didoakan buka suara. Sungguhlah patut disyukuri bahwa Anindya Bakrie bicara soal lumpur Lapindo melalui tulisannya. Bukti yang bisa di ambil jejak digitalnya dan di bawa ke anak cucu generasi masa depan untuk diminta pertanggungjawabannya kelak.

Andai saya bisa berdoa dan memohon. Maka tentu saja saya berharap doa saya di dengar. Agar di bulan penuh rahmat ini, Bapak Anindya Bakrie berkenan membuka halaman khusus di blognya yang dikelola profesional untuk tanya jawab atas begitu banyak pertanyaan publik soal lumpur di Porong, Sidoarjo.

Sebab saya yakin, Bapak Anindya Bakrie tentu saja tidak ingin membiarkan saya (minimal) dan orang-orang se-Indonesia ‘Terpana’ karena diam saja ketika seluruh dunia meminta mereka buka suara.

Selamat datang di dunia tulis-menulis.

This entry was posted in Orang Indonesia, Republik Indonesia and tagged . Bookmark the permalink.

5 Responses to Terpana (Welcome To The Jungle)

  1. mbelGedez™ says:

    .
    Jadi terpikir mbikin bordil hi class, bang… 😛

    –0–

    Kalau Mas Mbel memang berniat jadi Papih. Mohon agar saya diterima jadi anak asuhnya.

    Huehehe…

  2. hedi says:

    negara boleh miskin, tapi orang indonesia kalo dah keluar negeri…wow konsumsi barangnya selalu mewah bahkan ngalahin orang asli sana sendiri 😉

    –0–

    Haha, tergantung orang Indonesia yang macam mana sih Mas Hedi. Kalau yang macam saya, gembelnya tidak dibatasi lokasi geografis. Hehehe.

    Tapi saya jad ingat komentarnya cucu seorang almarhum presiden RI di sebuah media massa. Beliau bilang begini waktu mengunjungi San Fransisco, “Si Joe (maksud beliau Joey McIntyre – personil NKOTB, boyband jadul 90-an. Komentar ini pun dibuat tahun 90-an waktu kakeknya masih jadi presiden) itu di Frisco mah nggak ada apa-apanya. Waktu dateng ke diskotik masak cuman pake Benz doang (maksudnya Mercedes Baby Benz. Jaman itu terkenal cool dan gress). Kita orang Indonesia lebih mantep. Pengawal gua (maksudnya Satuan Pengamanan Presiden yang bertugas menjaga cucu raja) aja pake ferrari”

  3. titiw says:

    HUAAAH!!! Bang aip gokiiil!! sensi benerrr tulisannya! hyehehe.. Males berburuk sangka kalo lagi puasa gini (alah kayak lo gak tiap hari aja berburuk sangka..) Btw aku ngelink blog bang aip yak.. yg tentang si EKO.. hihi.. soalnya aku baru digambarin potret diri sama dia. UHUY! 😀 thx bang.. selamat menunaikan ibadah apapun yg menurut Bang aip sesuai dengan hati bang aip.. 😀

    –0–

    Hehehe… Iya Tiw. Makasih yaa. Wah sudah di pajang potret dirinya di blog. Cihuyy deh 😀

    Soal tulisan sensi… Ahh, itu sih prasangka dek titiw saja (*Mode Mas Mbel ON*)… hihihi, maap mas mbel

  4. Pingback: Guh (guhpraset) 's status on Thursday, 17-Sep-09 00:46:27 UTC - Identi.ca

  5. manusiasuper says:

    Saya… hampir menyerah dengan indonesia…

    –0–

    Jangan menyerah Mas Fadil

Leave a Reply