Membela Saudara Se – Iman

Di akhir suratnya, kandidat PhD yang mendalami resistensi budaya Islam itu menulis “Jalan perdamaian, nampaknya masih panjang”.

Ia resah. Beberapa hari lalu, Mohammed Asha seorang dokter lulusan sekolah medis Jordania dan kemudian tinggal di London menjadi tertuduh dalang pemboman beruntun yang menwaskan banyak warga sipil. Waktu itu tahun 2007.

Ia resah karena kemudaan Asha. Bukan karena Asha masih berumur 27 tahun. Sebab toh usia tidak menjamin tingkat kedewasaan dan pemahaman hidup. Tapi karena pada usia 27 tahun ini, Asha sudah mengantongi ijin praktik (yang artinya ia cerdas dan cepat belajar sebab ijin buka praktik dokter di London itu cukup sukar). Lebih parah lagi, Asha ini lulusan cum laude di sekolahnya.

Asha memang jadi wajah baru dunia terorisme. Muda, ganteng, nilai sekolah selalu A+, kaya dan punya pengalaman internasional.

Aneh bukan? Bagaimana mungkin orang seperti itu bisa terjerambab dalam dunia kekerasan dan teror atas nama reliji. Apa pula yang ia cari?

Dua tahun setelahnya. Pada awal November 2009 seorang psikiater kelahiran Amerika memberondongkan peluru ke arah ratusan rekan militernya di Fort Hood, Texas. 42 orang luka berat. 13 lagi meninggal dunia.

Namanya Nidal Malik Hasan. Lulusan cemerlang sekolah teknologi Virginia jurusan biokimia lalu melanjutkan ke sekolah medis. Berkarir dengan baik di militer. Bukan hanya dokter. Ia pun psikiater sekaligus berpangkat mayor.

Kata orang-orang, ia pendiam. Bukan tipikal manusia berangas.

Sekali lagi, ada keanehan. Untuk apa orang seperti Hasan membunuh rekan-rekan sejawatnya di barak militer. Memberondongkan mitraliur sambil meneriakkan nama Tuhan?

Kata para ahli, itu masalah budaya.

(Katanya) Asha naik pitam; ketika suatu hari mendapati bahwa nabinya dijadikan lelucon dalam kartun. Dan ia, lalu meminta dunia barat mendapatkan ganjarannya.

Dunia internet, dunia yang akrab dengan hidup Asha, memang tidak ramah. Setiap hari ia jumpai makian kasar, kata-kata ejekan dan penghancur harga diri di sana. Budaya dan agama yang Asha anggap tinggi serta suci, hancur porak poranda di internet.

Video di You Tube, status di Facebook, koran berita yang bisa diakrabi lewat sindikasi pengumpan, semuanya sekarang punya fasiitas rating dan komentar. Semua media itu, (kalau tidak boleh dibilang sebagai pelengkap) sekarang jadi agama dan budaya baru. Semua orang boleh mencaci. Semua orang boleh memaki. Semua orang, boleh melampaui batas-batas budaya dan tradisi.

Asha tidak kuat menghadapi hal itu.

Asha benci anonim. Tokoh internet yang tidak menggunakan nama asli. Bagi dia, itu pengecut. Hanya pemberani yang pakai nama asli. (*Ironis. Dengan konsep yang sama pula, polisi dengan gampang menciduknya*)

Lalu bagaimana dengan Hasan?

Oh! Hasan beda.

(Katanya) Hasan sering dilecehkan. Ia dilecehkan karena rajin beribadah dan memiliki latar belakang Palestina. Sebagai seorang mayor, seringkali Hasan tidak menerima penghormatan dari rekan-rekannya.

Apakah Hasan gila hormat?

Jawabnya: “Apakah kamu pernah ikut berdinas di militer?”

Kalau belum (atau tidak pernah), apakah pernah melihat anggota militer saling memberi salam satu sama lain dengan melempangkan telapak tangan kanan lalu menempelkannya di kepala sekitar dahi dan alis?

Itu salut hormat. Sebab dunia militer adalah dunia (yang mereka anggap) penuh kehormatan. Dan Hasan, jarang menerimanya.

Hasan terperangkap dalam imajinasinya sendiri, bahwa “Perang terhadap terorisme” adalah sama dengan “Perang terhadap Islam”. Hasan yang kelahiran Amerika sering ditertawakan dan dipanggil ‘Arab’ oleh rekan-rekannya.

Hasan terasing di komunitasnya. Melarikan diri ke website-website reliji yang membahas siapa yang benar atau siapa yang paling salah. Membuat posting tentang siapa yang harus dihukum dan siapa yang akan masuk surga.

Menjadikan agama sebagai wacana masturbasi.

Lalu, apa bedanya antara Asha dengan Hasan? Sebab pasti dong dua orang itu berbeda.

Bedanya adalah; Asha marah terhadap manusia internet yang ia anggap tidak menghormati budayanya. Sementara, Hasan marah terhadap manusia komunitas harian yang tidak menghargai budayanya lalu mencari jawaban melalui internet.

Persamaannya; Dua-duanya haus darah. Menganggap semua masalah bisa diselesaikan dengan memberikan rasa takut dan menyetorkan jiwa pada malaikat maut. Dengan teori, “Yang bersalah, harus mati”

Apapun, baik Asha, Hasan atau siapalah-namanya mendasari kegiatannya dengan dalil ‘Membela saudara se-iman’. Persetan jika ternyata saudara seimannya justru orang yang pertama yang akan menderita. Dan persetan jika bahkan seluruh umat manusia menderita.

Astaga, mungkin entri baru perlu dibuat di ensiklopedia internet Wikipedia. Namanya, SAUDARA. Sebab mungkin dengan begitu, kita bisa mempercepat jalannya perdamaian.

(*Statement terakhir jelas karangan saya :) Jangan percaya begitu saja. hehe*)

This entry was posted in bangaip, sehari-hari and tagged . Bookmark the permalink.

9 Responses to Membela Saudara Se – Iman

  1. hedi says:

    mohon maaf bang, aku agak sulit mencerna bahwa seseorang dengan latar belakang begitu berubah jadi teroris. term teroris sangat sulit buatku, yg masuk akal mungkin bila disebut “gangguan jiwa” karena kerja otak yang ekstraordinary, misalnya. 😀

    –0–

    Saya setuju. Memang gejala ini sulit dicerna, Mas Hedi. Tapi dalam beberapa tahun belakangan ini, kasusnya bukan hanya satu dua. Saya sendiri punya keyakinan, bahwa “gangguan jiwa” yang diderita mereka, dipicu oleh hal yang luar biasa. Tidak mungkin kalau hanya satu dua tahun doktrinasi, bisa jadi seperti itu. Well, ini pun hanya prasangka buruk saya loh. Haha. Bukan eksak.

  2. omnoba says:

    waduh bang. topiknya berat amat…. jadi pingin nanya nich bang..

    meninjau wacana yang diatas, saya jadi teringat kalau ada yang menekankan pada pentingnya pergaulan en bersifat baik sedangkan ada pula yang menekankan pada pentingnya mendapatkan angka yang baik..

    menurut abang, mana yang lebih penting? bingung nich..

    –0–

    :) Pertanyaannya berat banget.

    Saya pilih yang pertama. Selalu bekerja keras untuk mendapatkannya. Walaupun pada kenyataannya, dalam hidup ini ternyata saya sering berlaku culas, munafik dan tidak adil untuk “mendapatkan nilai baik”.

    Maaf bukan jawaban yang baik :(

    Tapi setidaknya, itu jawaban yang jujur.

    (*Berat sekali untuk jawab pertanyaan ini. Tadinya saya mau jawab lewat email. Tapi, yaah, entah kenapa, saya jawab di sini*)

  3. DeZiGH says:

    Hati manusia itu sangat mudah berubah, tinggal mencari pemicunya saja :)

    Plus, teroris itu relatif, misalkan kita anggap dua orang yang dibicarakan itu teroris karena membunuh beberapa orang, bagaimana dengan seseorang yang memutuskan menjatuhkan dua buah bom atom yang menewaskan ratusan ribu rakyat sipil?

    –0–

    Saya setuju dengan hati manusia yang mudah berubah. Walaupun dalam kasus ini, banyak kejanggalan. Hati memang cepat berubah, tapi (setahu saya) prestasi tidak. Untuk orang yang punya banyak prestasi, tingkat disiplinnya biasanya diatas rata-rata. Dua orang diatas, prestasinya di atas rata-rata. Begitu pula dengan rekrutmen-rekrutmen baru. Umumnya yang di cari yang prestasinya lebih dari orang kebanyakan.

    Soal kalimat teroris, sepengetahuan saya, siapapun yang menyebarkan teror bisa disebut teroris. Mengacu pada klasifikasi, teroris dibagi dalam berbagai jenis. Ada yang dilakukan secara perorangan, perkelompok maupun negara.

    Soal pelabelan, haha, kalo itu setahu saya sih tergantung rejim yang berkuasa. Karena rejim yang berkuasa di blog ini adalah saya, maka saya yang melabelkan Hasan teroris (*Mohon maaf bagi yang tersinggung*). Karena dia, sekitar 3500 US Army Officer yang memiliki identitas agama muslim diperiksa intensif dan jadi bahan curiga teman-temannya. Beberapa orang officer itu teman saya dan mengeluh hampir setiap hari di dinding chat.

  4. Mungkin tidak adanya keseimbangan antara kecerdasan emosi, religi & intelektual?

    –0–

    Saya malah lebih percaya analisa Mas Hedi, Mas Dewo. Nampaknya, ada yang salah di otak mereka. Saya bingung apa. Tapi nampaknya ada yang salah deh

  5. sufehmi says:

    Apapun, baik Asha, Hasan atau siapalah-namanya mendasari kegiatannya dengan dalil ‘Membela saudara se-iman’. Persetan jika ternyata saudara seimannya justru orang yang pertama yang akan menderita

    Hahaha… memang kebencian itu membutakan ya. :(

    Saya sudah beberapa waktu ini berusaha mengumpulkan artikel-artikel agama yang bebas kebencian di http://islam-liberal.com/

    Mohon doa restunya ya bang. Dan mudah2an makin banyak yang bisa lebih baik lagi daripada itu.
    Kita sudah sangat membutuhkannya….

    –0–

    Sip deh Pak Harry. Selamat berjuang :)

  6. Wijaya says:

    Hmm, mungkin karena fanatisme, bang…
    Sepintar apapun orang, kalo ia fanatik pada sesuatu, maka akan cenderung menutup diri pada hal lain termasuk akal sehat.
    Karena fananitsme melibatkan emosi dan (cenderung) menutup jalan pikiran akal sehat.
    Fanatisme ini yang kemudian menimbulkan “gangguan jiwa”, karena realitas dia jadi terdistorsi….

    *jadi inget pilm2 yang ada mad scientist, haha”

    –0–

    Iya Mas, fanatisme memang mengerikan kalau ujung-ujungnya menyakiti

  7. “bahkan seluruh umat manusia menderita.”

    pengamatan yang jeli jadi penutup yang bagus.

    Kalo tengok kanan kiri sekarang ini memang banyak “gangguan jiwa”, dari sekedar autisme sampe kelas pelaku teror atas atas nama suatu ideal. Secara kemajuan teknologi membuat semua berjalan lebih cepat, yang tidak bisa ikut otomatis akan kebanting-banting. Apa ini harga yang mesti dibayar sebagai konsekuensi kemajuan?

    –0–

    Maaf Mbak, mungkin saya salah tangkap. Mengenai autisme, setahu saya itu bukan gangguan jiwa. Maaf, ini saya sok tahu. Ilmu saya sedikit soal autisme. :)

    Kalo ‘gangguan jiwa’, saya setuju. IMO, sebenarnya bukan bayaran untuk kemajuan sih yang harus jadi kambing hitam ‘yang tidak bisa ikut kebanting-banting’. Tapi lebih ke arah sikap hidup puritan. Di derasnya informasi saat ini, menjadi puritan sebuah pilihan yang cukup berat. Kalau tidak kuat, bisa gampang dicekoki manusia-manusia yang kena ‘gangguan jiwa’. (*Ah lagi-lagi ini saya sok tahu*) :)

  8. Riki Pribadi says:

    Trus nasib Asha gimana Bang??? apakah dia benar-benar terbukti bersalah??

    –0–
    Asha terbukti bersalah. Melakukan kegiatan kejahatan yang telah dan akan membunuh banyak orang.

  9. ki gelenk gelenk says:

    Gejala yg merambah pula ke negri pusaka..menilai rasanya air kelapa hanya dengan menggeragoti kulit dan serabutnya..akhirnya mirip dan tidak mau dianggap gila..

    –0–

    Terimakasih atas mampirnya

Leave a Reply