Berapakah Usia Yang Layak Untuk Masturbasi?

Makan malam di rumah adalah salah satu prosesi yang lumayan penting untuk saya sekeluarga. Saya bisa curhat kepada dua majikan saya, Ibu Nyonyah dan Novi Kirana mengenai pencapaian harian dan evaluasi (*loh rumah tangga kok kayak bisnis? Hehe*).

Sementara, Ibu Nyonyah bisa cerita mengenai apa yang ia alami di sekolah. Sementara Novi Kirana, bisa mendengar kami diskusi dalam bahasa yang semrawut sambil makin jagung pipil kesenangannya dan berteriak  “Paapaaa… maan is mooi mau totat” (*Artinya: Papa, bulan yang cantik itu mau coklat. Akhir-akhir ini ia terobsesi dengan bulan dan mengibaratkan dirinya sepotong bulan purnama*).

Suatu hari, di saat makan malam Ibu Nyonyah bercerita: “Tadi ada kasus lagi. Anak perempuan kelas dua umurnya enam tahun. Duduk di pojok ketika tengah waktu istirahat bermain. Ia menyendiri. Memegang anunya dan terengah-engah. Kelihatannya dia sedang masturbasi”

Saya yang sedianya akan memasukkan bakwan jagung ke mulut langsung terhenti dengan mulut menganga.

“Enam tahun? Di sekeliling banyak temen-temennya?”

“Iya, bener”

“Bukan kasus pertama?”

“Dua bulan lalu, juga begitu. Anak perempuan juga. Umurnya sembilan tahun?”

“Sampai orgasme?”

Ibu Nyonyah tersipu sebentar, “Kelihatannya begitu”

“Trus kamu apain?”

Saya tertarik mendengar jawaban ini. Sebab Ibu Nyonyah sekarang adalah pembimbing guru-guru di sekolahnya. Permasalahan siswa-siswi yang sudah tidak bisa ditanggulangi oleh guru lokal kelas, dibawa ke Ibu Nyonyah.

“Yang mana? Yang tadi pagi atau yang bulan lalu?”

“E buset. Yaa dua-duanya lah”

“Pertama orangtuanya diberitahu mengenai kelakuan anaknya. Lalu diskusi sama-sama antara orangtua dengan guru. Sebab dua orang itu kan yang paling dekat dengan si anak. Setelah langkah yang kira-kira tepat disetujui, dilakukan pendekatan terhadap si anak. Di beri pemahaman mengenai apa yang ia perbuat”

“Oke, menurut saya bijak. Tapi bukan itu yang saya mau tahu”

“Kamu mau tauuu aja sih orangnya”

“Hehe. Maksud saya… Apa hasil diskusi antara si orangtua dan guru dan penerapannya terhadap si anak”

“Hmhh, itu di luar kewenangan saya. Selama tidak berurusan dengan hukum yaaa tidak apa-apa”

“Yaelah, maksud saya bukan itu”

“Oke kalau kamu mau tahu. Kasus dua bulan lalu, si orangtua berpendapat bahwa orgasme yang anaknya lakukan bukan didorong oleh tindak kecabulan. Namun melakukannya di depan publik mempunyai kemungkinan akan meresahkan orangtua murid lainnya yang tidak ingin anak-anak mereka melakukan hal yang sama. Jadi orangtua dan guru, memberitahu bahwa untuk melakukan itu yaa dikamar mandi atau di ruang kelas saja kalau sedang kosong”

“Hah astaga!… Kamu serius?”

“Iya”

“Trus jadi sampe detik ini, ada salah satu ruang kelas kalian yang belepotan… Ehmm maksud saya…”

“Kamu otaknya aneh sekali. Belepotan apa? Konsep seks anak-anak itu beda dengan konsep kita mengenai seksual”

“Ini kasus anomali. Maaf. Di luar jangkuan otak saya”

“Guru dan orangtua kerjasama agar si anak nggak kecanduan. Di beri pemahaman kepada si anak mengenai organ tubuh dan reproduksi dengan cara yang dipahami anak-anak”

“Wow! Gimana caranya?”

“Gimana kalo anak kita yang begitu?”

Saya diam mendengar jawabannya yang berupa pertanyaan. Selintas saya lihat Novi Kirana yang berusia 17 bulan dan masih saja terus merayu-rayu agar dapat jatah coklat tambahan.

Saya cengar-cengir sambil menatap piring.

Hehe, ternyata jadi orang tua tidak gampang

This entry was posted in bangaip, cerita_kerja, sehari-hari and tagged , , . Bookmark the permalink.

10 Responses to Berapakah Usia Yang Layak Untuk Masturbasi?

  1. cK says:

    waduh…jadi kebayang gimana ya kalau punya anak. bagaimana menerangkan pada mereka mengenai hal ini. :roll:

  2. cK says:

    btw, jadi umur berapa yang layak untuk masturbasi? :mrgreen:

    *eh saya gak pernah lho sampe umur sekarang. suer deh*

  3. edratna says:

    Kita memang tak boleh menyalahkan anak…yang sebaiknya diadakan pertemuan pembimbing dan orangtua murid, dan jika perlu psikolog khusus anak.

    Mungkin mereka sekedar ingin tahu, tapi tak bermaksud jelek.
    Untuk itu perlu didampingi ahlinya, tak dipersalahkan, namun diarahkan agar melakukan kegiatan positif sehingga pikirannya tak mengarah ke situ terus.

  4. bangaip says:

    @Chika: Hehe, ini tantangan menarik euy untuk para orangtua. Sebab standarisasinya beda-beda :)

    @Ibu Enny: Iya bu. Setuju. Untuk kasus ini, beberapa orangtua didampingi psikolog anak yang disediakan oleh sekolah dan semacam PGRI-nya di sini.

  5. mbelGedez™ says:

    .
    Eh, Chika….

    Nganu Chik… [ndak jadi deh]

  6. manusiasuper says:

    @ Chika
    eh, Cin… hati-hati sama Mbel…

  7. bangaip says:

    @Dua manusia diatas saya: Hahaha.

    @Chika: ini saatnya kabur dari blog ini. Hehe

  8. morishige says:

    6 tahun masturbasi? 10 tahun mukanya udah kayak kakek nenek tuh… :mrgreen:

    kok bisa2nya bocah 6 tahun melakukan masturbasi? dapet ilmu dari siapa itu?

    –0–

    Morishige, ini saya kopi paste tanggapan dari sarang seorang sahabat saya mengenai tulisan ini di media lain. Semoga bisa membantu untuk memahami persoalan ini.

    ” Ah ini kasus yang biasa2 aja, bukan anomali atau bentuk pengkondisian media dsb. Ini fenomena yang sangat alami dan dapat dipahami sebagai bagaian dari perkembangan biologis setiap anak. Ketika umur 6 tahunan syaraf2 sekitar organ2 genital kita memang menjadi ‘matang’ dan ‘drive’ atau naluri seksual yang muncul kadang sedemikian kuatnya sehingga si anak harus menyalurkan enerji seksualnya ini dengan bermasturbasi. Ini bukan sekedar teori yang aku baca dibuku2 mengenai perkembangan biologis maupun psikologi anak, tapi sering sehari2 aku lihat di anak teman2ku dan juga di anakku sendiri. Anakku perempuan dari umur 6 sampai 8 tahunan hampir tiap hari melakukannya, hingga kami punya idiom khusus untuk ini ‘Olah Raga’, karena sesudahnya biasanya dia bermandi keringat. Dan anakku tidak dibesarkan dengan TV lho (dia hanya boleh nonton TV sekitar 2 jam seminggu itupun kalau Weekend dan hanya program anak2 yang bermutu), apalagi pornografi. Untungnya dia nggak pernah merasa butuh untuk melakukannya disekolah. Yang kami coba tanamkan adalah, ini natural tapi juga hal yang private, jadi kalau mau ‘olah raga’ ya dikamar aja ya…dan itulah yang terjadi. Sering dia bilang, Ba (dia panggil aku Baba) aku olah raga dulu ya… dan aku atau partnerku biasanya bilang… ok sayang jangan terlalu lama ya…dan diapun masuk ke kamarnya. Problimnya mungkin ada di kita yang dibesarkan dengan budaya yang anti atau buta seksualitas. (Masih banyak anak perempuan yang disunat di Indonesia ini). Dan kita pun kemudian kaget atau gagap ketika dihadapkan dengan fenomena2 seperti ini. Padahal ah biasa2 aja tuh…sangat Alami! Dan selain Insan Budaya, manusia pada dasarnya adalah bagian dari Alam.”

  9. Wijaya says:

    *susah buat komen, terbentur paradigma budaya & seksualitas di Indonesia*

  10. irama says:

    agak lega juga setelah tau banyak yg alami hal seperti itu. Awalnya sy takut anak sy ada kelainan seks atau apa..gitu. Anak saya 8 tahun juga mengaku sering melakukan masturbasi yg sering diistilahkan ” begitu lagi’ . Pada awalnya sy juga kaget dan tidak tahu mau bagaimana, tetapi sy pernah membaca kalau konsep mereka memang beda dgn kita tentang masalah seksual, jadi kalau anak sy “begitu lagi” sy arahkan sj untuk buang air kecil dan menyiram atau cebok dengan air, biar rasa ingin “begitu lagi” bisa berkurang, kemudian sy arahkan ke aktivitas lain misalnya bermain atau nonton film anak-anak. Tapi sampai sekarang hal itu belum bisa mencegah tetapi hanya bisa mengurangi kegiatannya tsb.

    –0–

    Drive sexual itu normal, Pak. Yang jadi masalah kalau sudah ketergantungan dan kemudian muncul di depan publik yang masih menganggap bahwa seksualitas adalah hal yang tabu. Seingat saya, anak teman yang pernah sampai ‘ketagihan’, ketika sudah beranjak ABG sudah mampu mengontrol drive tersebut. Yang jadi masalah memang kita sebagai orang-tua, sampai sejauh mana kita bisa memberikan anak pengarahan dan kasih sayang agar mereka bisa menjadi dirinya sendiri. Sebab konsep dan norma kita memang berbeda dengan anak-anak. Anyway, semoga sukses yaa, Pak

Leave a Reply