Panduan Bencana: Apabila Ibukota Hancur

Perintah dari kantor pusat jelas sekali. Barangsiapa yang memiliki tipe darah O Negatif dan B Negatif ‘amat sangat dianjurkan’ (*pesan disampaikan melalui surel prioritas tinggi dengan huruf di cetak tebal*) untuk melapor dan menyumbang darah mereka untuk korban gempa Haiti.

Beberapa orang rekan kerja saya yang memiliki golongan darah tersebut pun berbondong-bondong langsung menuju departemen Sumber Daya Manusia untuk mendonorkan darah mereka.

12 Januari 2010. Haiti diguncang gempa berkekuatan 7,3 skala richter yang meluluh-lantakkan hampir separuh negeri dan menghilangkan sekitar dua ratus ribu nyawa manusia.

Katanya, ini bencana paling dahsyat sepanjang sejarah berdirinya Persatuan Bangsa-bangsa. Tsunami 2004, memang memiliki data korban terbanyak yaitu sekitar 250.000 orang manusia. Namun korban-korban itu tersebar di beberapa negara.

Haiti istimewa. Jumlah penduduknya, katanya lebih sedikit daripada penduduk Jakarta di siang hari (sekitar 9 juta orang di tahun 2009). Maka ketika 200 ribu orang diantara mereka dan beberapa kota lenyap secara tiba-tiba, jelas adalah hal membingungkan.

Diantara kota yang rubuh tiba-tiba adalah Port au Prince, Ibukota Haiti.

Saya pribadi belum bisa membayangkan apabila ibukota Jakarta hancur luluh lantak secara tiba-tiba. Dan apabila semua sarana pendukung hidup rusak atau musnah karena gempa. Apa yang bisa saya lakukan?

Namun karena seakan sudah akrab dengan berita sejenis di Indonesia, yang-mengabarkan-kematian-datang-melalui-alam-yang-murka, maka kita (sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang pernah membaca atau mendengar info bencana di media) akan segera mengenali ada beberapa poin yang bisa dipelajari.

Berikut ini beberapa poin dalam bencana Haiti (yang secara serampangan saya tangkap) yang mungkin bisa berguna dalam menangani bencana di Indonesia:

1. Media

Pasca bencana, satu hal yang paling bisa ditangkap secara jelas adalah shock, trauma dan rasa putus asa dari para korbannya. Kondisi ini adalah situasi yang wajar yang dialami oleh para korban bencana. Satu-satunya cara menolong korban adalah mendatangkan bantuan profesional yang mengerti bagaimana cara membantu korban. Di antara bantuan adalah logistik, medis, distribusi, komunikasi dan lainnya.

Bencana biasanya, tanpa melalui proses yang berbelit-belit, sudah mampu mendatangkan publisitas dengan sendirinya. Publikasi melalui media ini yang mendorong masyarakat dari seluruh dunia yang bersimpati untuk membantu korban dan mengirimkan bantuan profesional yang kira-kira dibutuhkan oleh korban bencana.

Di Haiti, Paul Antoine Bien-Aime yang kebetulan menjadi Menteri Dalam Negeri di pilih untuk menyampaikan pada dunia apa yang terjadi pada Haiti. Dan media pun menyukai hal ini. Sebab selain Paul adalah bagian dari pemerintahan yang memiliki wewenang untuk mengetahui hal terbaru, ia juga terus standby berada di lokasi tempat kejadian. Artinya sederhana, kalimat yang keluar dari mulutnya adalah data akurat terkini. Data yang dicintai media. Sebab data tersebut mampu di olah pemirsanya sebagai langkah mengambil kebijakan untuk membantu Haiti.

Apa yang dilakukan Haiti melalui Paul adalah sentralisasi data media. Sesuatu yang cerdas dalam meminimalisir kesenjangan data akibat hancurnya sarana infrastruktur.

2. Keamanan

Empat hari setelah gempa Haiti, seorang pria ditembak pecah kepalanya oleh polisi akibat menjarah sebuah supermaket di ibukota Port au Prince. Ia hanya salah satu bagian dari puluhan penjarah yang mencoba untuk bertahan hidup diatara puing-puing gempa. Begitu ia tergeletak di tanah meregang nyawa, seorang lelaki lain segera mengambil tas yang berisi makanan dari tubuh si mayat.

Haiti bukanlah negara yang kaya. Bencana alam menjadikannya jauh lebih sengsara. Polisi lokal mendapat perintah yang sedemikian tegasnya dari atasan mereka, “Siapapun yang menjarah di tengah bencana, tembak mati di tempat”. Perintah ini jelas di buat untuk mencoba mengendalikan keamanan Haiti.

Situasi memang amat tidak terkendali. Pemerintahan lumpuh. Diantara yang invalid itu adalah kantor-kantor polisi dan institusi keamanan negara.

Namun apakah tembak mati di tempat solusi yang paling tepat?

Jelas tidak. Latar belakang penjarahan dalam kasus bencana Haiti adalah lapar dan keinginan untuk bertahan hidup. Melihat isi tas jarahannya yang hampir semuanya hanya air bersih botol dan biskuit, siapa yang bisa memberi alasan bahwa si penjarah yang pecah kepalanya bukanlah seorang ayah yang mungkin punya keluarga yang harus diberi makan?

Satu-satunya cara mengamankan ibukota di tengah bencana adalah mendistribusikan bantuan secepatnya. Jika distribusi lancar, penjarahan mampu ditekan seminimalisir mungkin

President Haiti, Rene Preval (yang tiba-tiba juga jadi tunawisma akibat rumah dan istananya rubuh kena gempa) mengambil langkah yang cukup ekstrim menangani bottle neck, susahnya distribusi bantuan akibat rusaknya bandara dan pelabuhan.

Beberapa orang bilang ini adalah langkah yang ekstrim, sebab mengijinkan seribu tentara Amerika Serikat mengontrol bandara dan pelabuhan. Sekitar sembilan ribu tentara Amerika lagi akan masuk Haiti dalam tempo secepatnya.

Beberapa orang bilang ini ekstrim. Buat saya; memang tidak bijaksana namun cerdas, taktis dan perlu. Mister Preval entah kenapa jadi cerdas sekali. Setelah kebijakannya yang cukup aneh dan tidak populer di tahun 2008, menaikkan harga 20 kilogram beras menjadi sekitar Rp 450.000 (kalau dirupiahkan) pada masyarakat yang memiliki rata-rata pendapatan Rp 15.000 perhari (kalau dirupiahkan) hanya karena ingin mencabut subsidi pangan. Kebijakannya menggandeng bantuan militer asing (dalam hal ini US Army) memang cukup menarik.

Mengapa cerdas dan perlu?

Sebab adalah rahasia umum bahwa militer adalah salah satu institusi yang memiliki unit reaksi cepat dalam proses pembangunan infrastruktur. Militer bukan hanya memiliki perlengkapan mobile, namun juga memiliki banyak sumber daya yang memungkinkan proses pembangunan infrastruktur berjalan dengan cepat sesuai perintah. Pada kondisi bencana, hierarki dapat meminimalisir miskomunikasi yang berarti meminimalisir friksi.

Militer US punya sumber daya yang mampu menghilangkan persoalan bottle neck dalam distribusi bantuan. Selain itu, mereka mampu membantu institusi keamanan Haiti (yang juga hancur habis-habisan) dalam menangani keamanan dalam pendistribusian bantuan.

Rene cerdas ketika Hillary Clinton, Sekretaris Negara US menawarkan bantuan. Sebab di saat yang sama, militer US memang namanya amat tidak populer setelah masih saja melanjutkan perang yang tidak manusiawi di Irak maupun Afganistan warisan George Bush. Aksi mereka terhadap tetangga yang terkena gempa ini membuat pemerintah US dan militernya kembali ‘angkat pamor’ dari masyarakat dalam negeri mereka dan dunia. Jadinya, win-win solution. Rene dapat bantuan. Militer US dapat nama.

Mengapa tidak bijaksana?

Sejarah membuktikan, mengusir tentara Amerika itu tidak mudah. Jadi pertanyaannya, kalau bencana usai, apakah peran tentara Amerika di Haiti juga akan usai? :)

Apapun hasil hitung-hitungan politisnya nanti, yang pasti saat ini, Presiden Preval telah mengambil langkah yang taktis dalam menyelamatkan warganya. Yaitu memberikan jaminan keamanan agar distribusi bantuan mengalir dengan lancar. Menghindari kerusuhan akibat lapar yang berkepanjangan.

Dan warganya, jauh lebih penting daripada hitung-hitungan apapun juga. Sebab nyawa manusia memang bukan hasil dari logaritma rumus politik.

3. Komunikasi antar dan menuju korban

Empat hari setelah gempa, warga daerah suburban Port au Prince memblokade jalan dengan mayat-mayat korban. Mereka marah. Dari mulut ke mulut, terdengar berita bahwa Presiden Amerika Serika Barack Obama telah menyumbang uang sekitar 100 Milyar Dollar Amerika. Mereka juga mendengar bahwa pemerintah Inggris telah mengumpulkan dana 24 juta poundsterling pada 24 jam setelah bencana datang. Begitu Namun kenapa bantuan tidak juga sampai kepada warga?

Hasilnya jadi mirip lingkaran setan. Warga tidak tahu bahwa distribusi mengalami masalah akibat bandara dan pelabuhan yang hancur. Namun terus dicekoki oleh informasi real-time melalui siaran TV 24 jam dan twitter (yup, ajaibnya layanan ini masih berfungsi melalui ponsel dan digunakan oleh pencari korban di #rescuemehaiti dan internasional di #haiti).

Menurut warga Haiti, bantuan datangnya lebih lambat daripada siaran CNN atau twitter. Warga marah lalu menjarah dan membuat disfungsi sosial keamanan lainnnya. Para penolong yang mau membantu pun menjadi takut. Sehingga dalam mendistribusikan bantuan harus ditemani aparat bersenjata. Yang berarti memakan waktu lagi. Dan warga pun semakin marah.

Kondisi ini diperburuk oleh hancurnya penjara Haiti yang mengakibatkan empat ribu tahanan berada di jalan. Warga menjadi cepat curiga. Tidak hanya kepada para sukarelawan yang menolong, namun juga kepada sesama mereka. Komunikasi antar warga musnah sudah.

Orang lebih percaya pada TV dan twitter. Sebab dua hal terakhir itu tidak bisa menembak mereka hingga mati hanya karena rebutan air bersih.

Pelajaran yang bisa dipetik dari kondisi bencana Haiti ini adalah; dalam masa di mana informasi dan komunikasi boleh dibilang jadi konsumsi sehari-hari bagaikan udara maka salah satu cara yang paling bijak dalam meminimalisir kemungkinan chaos adalah memberikan informasi dan komunikasi yang berimbang pada korban atau antar korban.

Caranya bagaimana?

Tentu saja kita bisa memulai pendidikan mengenai bencana jauh sebelum bencana datang. Atau bahkan menyiapkan dan mensosialisasikan lajur khusus komunikasi dan informasi antar warga apabila bencana datang.

Sekian dulu dongengan saya hari ini. Tadi saya baru dari bagian Sumber Daya Manusia untuk donor darah. Bos HR bertanya, “Darah kamu apa, Rip?”

Saya jawab, “Waktu kecil sih A. Tapi pas agak gedean dikit berubah jadi AB. Etapi coba aja di tes dulu, kali aja saya kali ini O atau B Negatif. Kan lumayan Pak, barang seliter dua liter. Bisa bantuin orang Haiti”

Dia tidak menjawab apa-apa. Namun langsung mempersilahkan saya keluar dari antrian. :)

This entry was posted in tips and tagged , . Bookmark the permalink.

7 Responses to Panduan Bencana: Apabila Ibukota Hancur

  1. [Gm] says:

    Rene cerdas ketika Hillary Clinton, wakil presiden US menawarkan bantuan.

    Maap, Bang. Sepengetahuan saya, Hillary Clinton itu bukan wakil presiden US. Beliau adalah Sekretaris Negara urusan luar negeri, bukan?

    –0–

    Sip [Gm]. Tulisan telah diralat. Terimakasih banyak atas bantuannya :)

  2. hedi says:

    Ada tulisan sejenis di Newsweek online, sempet saya re-tweet juga. Juga kemarin saya baca dari media luar (agak lupa) ada himbauan agar jurnalis tidak menyebut “penjarah” karena tak semuanya seperti itu lantaran situasinya tak normal dalam arti supermarket ada barang, tapi tak ada kasir dan uang juga terbatas.

  3. Manusiasuper says:

    Maaf bang, sejak berhenti jadi wartawan dan jadi guru/dosen, saya sempat berniat memasukkan kurikulum tanggap bencana untuk maha/siswa saya. Setahu saya, di Indonesia belum ada kurikulum resmi semacam ini dari pemerintah.

    Bang Aip punya sumber bahan semacam itu? Kalau tidak salah, sekolahan di eropa ada memasukkan pelajaran antisipasi bencana ke kurikulum mereka, betul bang?

    Sangat membahagiakan jika bahannya sudah berbahasa indonesia. Tapi bahasa enggeres pun masih saya terima.. ^_^

  4. edratna says:

    Bang..darahku O.Selama ini kalau mau nyumbang, cuma diketawain aja sama petugasnya….

    Indonesia termasuk negara rawan bencana….hmm perlu sosialisasi terus menerus….agar tahu apa yang harus dilakukan saat terjadi bencana. Nggak terbayang jika terjadi gempa di Jakarta…saat gempa di Tasikmalaya saja, getarannya sudah menyeramkan…

  5. bangaip says:

    @Mas Hedi: Sebelum posting saya dapat konfirmasi dari teman yang ada di lokasi sana, Mas Hedi. Ia bilang kendaraannya (mobil relawan membawa genset) dicegat dengan massa yang menggunakan senjata. Padahal ia dikawal polisi lokal. Saya coba tidak menggunakan kata ‘penjarah’. Tapi meminta paksa dengan senjata api? Uhmm, saya coba cari kata yang cocok, tapi susah euy.

    @Mansup: Request granted. Tunggu tanggal mainnya Mansup 😉 (*Saya harap tidak lama lagi*)

    @Bu Enny: Iya Bu, benar sekali. Sosialisasi terpusat nampaknya belum ada euy (atau saya yang agak telat, hehehe). Padahal Indonesia itu fakta geografisnya terletak di cincin api yang paling aktif. Yang amat besar kemungkinan terkena bencana alam.

  6. cK says:

    golongan darah saya B, tapi saya sendiri memiliki darah rendah. jadi gak bisa ikutan dalam tiap donor darah… 😕

    soal tanggapan bencana, sebenarnya saya sangat setuju akan hal ini. selama ini indonesia minim pengetahuan mengenai bencana dan sedikit orang yang berinisiatif untuk mempelajarinya. tapi di mana bisa diselipkan pelajaran mengenai tanggapan bencana ini? apa dibikinkan acara khusus selama 1 jam atau dibagikan buku secara gratis?

    –0–

    Request sedang dipertimbangkan Chika. Saya yakin bisa disosialisikan sebentar lagi :)

  7. titiw says:

    Saya baru tahu sebener2nya tahu ttg gempa Haiti dari postingan ini bang.. makasih banyak nih.. aku jadi malu gak bisa bantu apa2 ke sana.. :(
    Tapi kalo misalnya ada sosialisai penanganan bencana ke sekolah2 di Indonesia aku mau banget jadi relawan.. 😀

    –0–

    Saya belum mendengar kabar itu, Tiw. Yaitu penanggulangan bencana langsung ke sekolah-sekolah. Saya masih coba konfirmasi ke departemen-departemen apa yang bisa langsung tanggap dan punya rencana apabila bencana. Sayang sekali, sampai sekarang belum ada yang merespons.

Leave a Reply