Hukuman

Minggu lalu saya bertemu Mbak Iis, ketika sedang di suruh oleh mandor mengunjungi pabrik kembar tempat bekerja yang lokasinya sungguh jauh entah di mana itu.

Mbak Iis masuk ke ruangan ketika saya sedang presentasi. Dia bilang, “Guys, mumpung kalian ada di sini. Mumpung saya juga ada di sini. Saya mohon pamit lah yaah” sambil melempar coklat. “Ini coklat dari negeri saya. Silahkan disambi”

Satu persatu, kami lalu di peluknya. Pamit.

Waktu sampai giliran saya dipeluk ibu-ibu paruh baya seberat hampir 120 kilogram ini, ia berbisik “Sebenarnya bisa lebih cepat. Tapi kalian untunglah menyelamatkan saya selama dua kuartal”

Saya mengerenyitkan kening. Menyelamatkannya? Apa maksudnya?

Malamnya ketika Mbak Iis telah pulang dan kami semua duduk di sebuah meja makan yang menyediakan Chnöpfli, sebuah makanan berjenis pasta, saya bertanya pada Pak Ali kenapa Mbak Iis pergi meninggalkan team kami.

Pak Ali menjawab dingin, “Dia mundur sendiri”

Ketika makan malam usai dan kami berjalan kaki ramai-ramai pulang ke hotel tempat menginap, Dijah salah seorang rekan kerja saya di pabrik bilang begini, “Itu hukuman, Rip”

Saya bengong mendengar Dijah bilang bahwa Mbak Iis di hukum.

“Hukuman? Apanya yang di hukum? Mbak Iis tahun lalu dapat promosi. Luas areal kerjanya mencakup daerah-daerah baru yang amat menjanjikan perkembangan dia dan divisinya. Apanya yang dihukum?”

“Dia dinaikin jabatan. Tapi di bagian kering. Nggak bisa jalan-jalan lagi. Nggak bisa nyombong proyek Em-Em-an lagi. Jabatan tinggi kalo cuma jadi boneka, itu sih hukuman buat orang yang biasa ngurus proyek gede”

(*Em-Em-an mungkin maksudnya jumlah yang luar biasa banyaknya hingga mencapai milyaran rupiah. Mungkin loh. Saya saja kurang paham apa yang dimaksud Dijah*)

“Pak Ali ga bantuin dia?”

“Kan kamu udah kerja selama 6 bulan full buat areal kerja baru? Daerah itu wilayah kerjanya Mbak Iis, Rip. Itu bantuan juga dari Pak Ali”

Malam di kamar hotel. Stasiun tivi SF1 memutar acara perkembangan antara kaum kaus merah pendukung rezim Perdana Menteri terguling Thaksin yang bentrok dengan pemerintah Thailand. Saya tidak terlalu pusing. Saya ada di Bangkok waktu mantan perdana menteri Thaksin mundur. Kalau tidak salah, sekitar September-Oktober 2006. Dan masa-masa itu bukanlah saat yang menyenangkan. Saya digeledah terus selama di Bangkok. Beberapa kali kartu penyimpan gambar kamera dilhat paksa oleh pihak berwajib. Mungkin mereka takut saya mencuri lihat hal yang tidak ingin mereka sampaikan ke publik. Kenangan terakhir mengenai Thai itu aneh. Beberapa bahan penelitian saya diambil mereka tanpa izin. Entah kenapa, situasi Thai tidak begitu menarik hati. Padahal apa yang terjadi di Bangkok, biasanya cepat menjalar ke Jakarta. Namun televisi tetap saya matikan. Dan ‘hukuman’ Mbak Iis tiba-tiba menyelinap lagi dalam otak ini.

Karena bosan menonton televisi, saya coba buka kamus dan ensiklopedia soal hukum di internet. Saya baru sadar, kalau kalimat hukuman itu ternyata lebih luas daripada yang saya sangka sebelumnya.

Dari baca-baca sedikit di internet, hukuman dapat berarti:

  1. Rehabilitasi. Ganjaran bagi apa yang dilakukan pelaku.
  2. Pengasingan sosial, agar si pelaku tidak membahayakan lingkungan sosialnya.
  3. Pencegahan, upaya agar si pelaku tidak melakukannya lagi.
  4. Restorasi, memberikan pemahaman agar si pelaku tahu apa yang ia perbuat ‘adalah salah’ dan lalu memperbaiki kesalahan itu ‘setelah sadar’.
  5. Ganjaran keadilan bagi korban.
  6. Pendidikan, agar bukan hanya pelaku yang tidak mengulangi perbuatan ‘salah’ tersebut di masa mendatang. Melainkan juga masyarakat luas.
  7. Penanda bahwa sebuah sistem (keadilan/hukum/kebudayaan) masih berjalan.

Lepas baca-baca bahan mengenai hukuman, saya jadi lebih sadar kalau ternyata hukuman itu sungguh luas dari apa yang saya kira. Maklum saya orang awam. Kalau bicara hukuman, asosianya pasti tidak jauh dari penjara. Hehe.

Padahal, tidak juga.

Socrates dihukum dengan harus meminum racun yang pelan-pelan mematikan fungsi tubuhnya dari ujung kaki hingga jantung. Teman saya SMP dulu si Rudi, harus berdiri di depan kelas selama dua jam mata pelajaran gara-gara tidak mengerjakan pekerjaan rumah matematika.

Semuanya atas nama hukuman.

Yang menarik adalah, proses hukuman ini selalu dilakukan oleh mayoritas pada minoritas. Atau yang kuat kepada yang lebih lemah. Atau penguasa kepada warganya. Apabila dilakukan oleh sebaliknya, maka sebutannya bisa pemberontakan atau gerakan subversif. Tergantung sudut pandang saja.

Tapi basis logikanya sebenarnya sederhana; jika anda tidak kuat bagaimana anda bisa memberikan hukuman?

Mbak Iis dihukum oleh atasannya karena tidak bisa memenuhi target penjualan. Hukumannya menarik, dinaikkan jabatan namun bukan pada posisi yang diinginkan. Mirip dengan masa jaman orde baru. Siapa saja yang terlihat menyebalkan RI satu bisanya diangkat jadi duta besar lalu dikirim ke negeri antah berantah.

(*Tapi itu kan jaman orde baru. Kalau sekarang kan… Well… Hehe… Entahlah… Hehehe…*)

‘Hukuman’ pada Mbak Iis masih terus membekas di otak saya. Membuat saya tidak bisa tidur. Bahkan saking parahnya, ingat mengenai Bu Diah.

Bu Diah itu guru saya dahulu.

Sumpah mati beliau hebat. Pernah jadi pimpinan pada sebuah departemen yang bergengsi. Pada usia muda sudah meraih gelar doktor dan tidak lama kemudian dikukuhkan menjadi profesor guru besar sebuah universitas ternama. Sejak ia bekerja sebagai akademisi, ribuan mahasiswa sudah ditolongnya lulus dengan baik. Yang menarik adalah, beliau ini bukan tipikal orang pintar yang berpenampilan ajaib (nerds). Sebaliknya, Bu Diah ini amat pandai menjaga kebugaran tubuhnya dan selalu berpakaian modis namun elegan. Dalam usianya yang sudah berumur, kami masih amat jelas menangkap sisa-sisa kecantikan pada dirinya.

Dulu waktu masih sekolah di Depok. Suatu hari saya, Ujang dan Bani ke rumah Bu Diah. Bani sedang sibuk dengan tesisnya. Sebab Bu Diah adalah pembimbing tulisan akhir karya ilmiah si Bani.

Rumahnya Bu Diah terletak di jantung Jakarta. Lingkungan yang sungguh luar biasa. Di tengah kota, ada areal luas yang banyak pepohonan dan danau. Serta di jaga dengan pengamanan yang baik. Maklum, beberapa presiden Indonesia pernah tinggal di sana. Intinya, rumah Bu Diah sungguh asri dan menyenangkan.

Waktu si Bani sibuk. Saya dan Ujang duduk-duduk di halaman depan rumah Bu Diah. Kami mengobrol, cengar-cengir sambil menggoda mbak-mbak (yang dikira Ujang adalah pembantu) hilir mudik di depan rumah Bu Diah.

Bani keluar. Mukanya kusut, “Lu denger bunyi telepon ga sih?”

Ujang menggeleng. Konsentrasinya ke bokong seksi pembantu tetangga sebelah yang sibuk mengejar tukang sayur. Saya mengerenyitkan kening menjawabnya “Telepon? Iya sih sempet gua denger. Banayk juga. Sibuk yaah Bu Diah?”

Bani menggeleng, “Nggak tahu gua apa maunya tuh orang. Krang-kring nggak jelas. Bu Diah ama anaknya yang nerima. Mereka juga pusing keliatannya”

Bani masuk lagi ke dalam. Mau kembali bimbingan dengan Bu Diah. Tapi tidak lama. Lalu keluar lagi duduk bersama kami. Mukanya makin keruh.

Dari jendela, kami dengar Bu Diah sedang bertengkar dengan anaknya.

“Makanya mama jangan pakai pakaian begitu! Kan bikin ribut!”

“Kamu itu kalau bicara pikir dulu baik-baik. Pakaian mama ini sopan. Mama tahu batas sopan atau tidak. Apa yang salah? Andai memang suaminya suka sama mama, apa itu salah mama? Apa gara-gara mama berhias dan menarik hati suaminya jadi bikin dia cemburu apa itu salah mama? Mama pakai pakaian dan berhias karena menurut mama, ini perlu”

Di luar, saya, Bani dan Ujang tercenung. Bu Diah itu perempuan yang amat menarik. Sudah jadi janda sejak beberapa tahun terakhir. Suaminya meninggal. Tapi Bu Diah pakai pakaian rapi dan elegan bukan hanya sejak suaminya meninggal. Dari dulu, dari awal kami masuk sekolah pun beliau sudah berpenampilan anggun.

Siang itu, Bu Diah mungkin dihukum karena anaknya bosan menerima deringan telpon ancaman dari seorang istri yang cemburu. Cemburu karena suaminya mungkin jatuh cinta pada perempuan yang berpenampilan menarik.

Besoknya, Bani berkata pada saya dan Ujang. Bahwa jika ia bimbingan ke rumah Bu Diah lebih baik sendiri saja. Bu Diah pikir itu lebih baik.

Saya dan Ujang berpandangan. Apakah ini artinya kami dihukum karena telah mencuri dengar? (*Atau bisa jadi akibat menggoda gadis-gadis tetangga*)

Ahh, ternyata ‘hukuman’ itu sedemikian rumit. Atau mungkin otak saya saja yang terlalu banyak berprasangka.

Saya letih memikirkan semuanya. Saya harus tidur. Besok presentasi lagi.

This entry was posted in cerita_kerja, sehari-hari and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Hukuman

  1. Fortynine says:

    Katanya; Pak calon presiden yang sekarang gagal jadi presiden pernah “dihukum” naik kelas. Apa benar rumor itu? Dan apa benar itu juga hukuman….??

  2. mbelGedez™ says:

    .
    Kalo jaman sekarang udah mulai banyak pejabat, mantan pejabat, jendral, mantan jendral dihukum masuk penjara.

    Setau saya ya di jaman SBY inibisa terjadi.

    Eh, komen ndak nyambung yah..?? 😀

  3. -tikabanget- says:

    ada juga yang namanya menghukum diri sendiri..

  4. mathematicse says:

    Teman saya SMP dulu si Rudi, harus berdiri di depan kelas selama dua jam mata pelajaran gara-gara tidak mengerjakan pekerjaan rumah matematika.

    Waduh, kok matematika bang? :) 😀

    Eh, apa kbr bang Aip dan keluarga? Dah besar blm bayinya? UDah bisa apa bang? :)

  5. bangaip says:

    @Farid: Whehe, saya nggak tahu tuh Rid yang itu malahan :)

    @Mas Mbel: Saya setuju sepenuhnya. Rezim saat ini memang tidak sempurna, tapi untuk penegakan hukum, beliau memang sudah lebih progresif ketimbang pendahulu-pendahulunya. Jauh lebih progresif.

    @Mbak Tika: Iya Mbak. Itu juga ada :)

    @Kang Jupri: Syukurlah semuanya sehat Kang. Novi kirana sudah 2 tahun sekarang. Sudah bisa mengobrol dengan saya dan mamanya :)

  6. edratna says:

    Saya lebih percaya bahwa hukuman itu kita anggap sebagai cobaan dalam hdup sehingga kita lebih tawakal. Temanku saat itu sempat sedih, karena saat ada reorganisasi, nama dia tak tercantum di jabatan…pas reformasi dia diikutkan jadi tim likuidasi di suatu Bank. Karena pada dasarnya dia rajin dan pandai, dia setiap kali disuruh2 oleh ketua tim ke sana kemari..akibatnya dia malah memahami semua persoalan.. akhirnya saat RUPS dipilih jadi Direktur di perusahaan tsb.

    Banyak cerita lain…yang penting kita sabar saat menerima apa yang dianggap orang lain sebagai hukuman.
    Btw…ibu tadi namanya ** bukan? Cantik, pinter menari Jawa..dan sempat jadi ******? Saya ingat dia dosen di universitas terkenal…rumahnya sungguh indah, dekat danau, dan sampai sekarangpun masih cantik lho….terakhir ketemu saat ada acara di RRI setahun lalu.

  7. warm says:

    masalah hukuman jadi rumit gini
    saya menjadi merasa dihukum berat membaca tulisan bagus ini
    😀

  8. dobelden says:

    dari cerita diatas, ternyata saya di hukum :((

Leave a Reply