Taksi II (Menuju Rumah Ibu)

Sore itu perut saya lapar sekali. Dan entah kenapa, tiba-tiba bisa terjebak di tengah sebuah mal yang ada di bilangan Jakarta Barat. Sebuah mal yang spesifikasinya membetulkan peralatan perlengkapan perangkat telepon genggam.

Karena baru beberapa hari tiba, saya memang belum berani makan selain di rumah Ibu. Kalau di rumah Ibu, kebersihannya cukup terjamin. Sebab saya sendiri yang biasanya mencuci alat makan dan alat masak. Hahaha.

Nah di luar rumah begini, dimana saya harus makan?

Celingak-celinguk, mata saya tertumbu pada rumah makan cepat saji yang berasal dari Amerika Utara. Ahh sebenarnya malas sekali makan fast food. Tapi mau bagaimana lagi, tempat makan ini tidak terlalu banyak menyediakan perlengkapan makan selain wadah dari kertas. Cukup meyakinkan. Dan saya melihat pun kentangnya di goreng di depan mata.

(*Saya termasuk sok untuk urusan perut. Apabila terpaksa makan di luar rumah, sebisa mungkin mencari tempat yang makanannya bisa di lihat cara mencuci dan memasaknya. Alasan snob-nya, supaya bisa mengukur higienis dan kesegaran makanannya. Ahh, benar-benar sok saya ini. Hehe*)

Saya memilih makan kentang goreng itu dekat jendela.

Alasannya cukup aneh memang. Alasan bodoh yang sampai saat ini masih tetap saya pakai. Dulu waktu sekolah di Cilincing, pelajar sekolah saya termasuk sekolah yang suka berkelahi tawuran dengan pelajar sekolah lain. Di mana-mana harus waspada. Sebab bisa jadi di serang pelajar lain ketika lengah. Salah satunya, waspada ketika makan. Kalau makan di Warung Tegal dekat sekolah, kami pasti mencari tempat duduk yang menghadap jalan atau dekat jendela. Sebab kalau membelakangi pintu masuk, gampang dibacok musuh dari belakang.

Saat ini saya yakin sudah tidak punya musuh yang berniat membelah kepala saya dengan golok ketika sedang makan. Tapi tetap saja kebiasaan ini tidak pernah hilang.

Minusnya dari kebiasaan ini; kalau makan dengan istri dekat jendela, pasti saya lebih sering melihat jalanan ketimbang menyimak pembicaraan beliau (*dan ini adalah alasan mengapa istri saya lebih memilih agar pandangan saya tidak menghadap luar tempat makan. Jadi supaya saya bisa konsentrasi mendengarkan ide mengenai warna bajunya yang baru. Haha*)

Untungnya, duduk dekat jendela; saya bisa melihat situasi luar update terbaru.

Sambil mengunyah batang-batang kentang goreng, saya lihat satu persatu taksi melewati jalan di depan restoran. Ada yang kuning, ada yang biru, ada yang putih. Macam-macam warnanya. Hampir semuanya sedan keluaran tahun terbaru.

Dari sekian banyak taksi, ada beberapa yang berwarna kuning gading. Mangkal di depan mal ini. Mobilnya tidak begitu baru seperti mobil taksi lainnya yang lewat mondar-mandir di jalan sana. Tapi saya tidak begitu peduli. Saya harus tiba di rumah Ibu sebelum malam larut menjelang. Sebab harus bertemu beberapa orang teman bermain semasa kecil.

Selesai makan, saya langsung menuju taksi kuning tersebut. “Selamat sore, bisa antar ke Cilincing Pak?” tanya saya sambil senyum ke arah supir taksi yang sedang duduk menunggu penumpang. Ia berdiri dengan sigap sambil membetulkan lipatan bajunya, “Bisa pak… Bisa. Silahkan masuk, Pak”

Tidak lama kemudian, kami sudah berada di belantara jalanan Jakarta.

Dan sebagaimana hukum yang berlaku di rimba belantara Jakarta, pagi dan sore adalah waktunya binatang buas bernama macet untuk mencari mangsa. Tidak terkecuali kami, beribu-ribu pengguna jalan lainnya pada sore itu pun sukses menjadi korbannya.

+ “Pulang kerja, Pak?”

Wah, tumben saya di tanya lebih dulu oleh supir taksi ini. Biasanya, saya lah yang memulai pembicaraan. Padahal baru beberapa menit saya duduk di kursi belakang.

(*Saya selalu suka duduk di jok belakang bagian tengah. Karena pada pada posisi itu pendingin ruangan langsung bisa menerpa kulit saya. Ahh adem rasanya. Hehe*)

– “Err.. Gimana yaah. Kalo dibilang kerja, sebenernya sih nggak juga Pak. Tapi emang sih ketemu bekas client dahulu”
+ “Kerja di mana, Pak?”

Sekali lagi saya cukup kagum. Wow, bapak supir ini cukup berbeda dengan supir taksi lainnya. Langsung jemput bola. Tanya tamu tanpa tedeng aling-aling.

Kalau ditanya dengan pertanyaan tipikal begini, saya biasanya mencoba menjawabnya dengan metode khusus. Sebab pertanyaannya amat spesifik dan hanya menuntut fakta dalam jawabannya.

Sialnya, saya tidak ingin begitu spesifik sore itu. Pikiran saya terbelah dengan rencana yang akan saya lakukan dengan teman-teman saya malam ini.

– “Di pabrik biasa, Pak”
+ “Di industri apa, Pak?”

Tooop! Mulut saya sampai berulas senyum ketika mendengar pertanyaan ini. Hebat! Cepat sekali ini pengemudi merespons pertanyaan saya. Tidak sampai beberapa detik, dia sudah bertanya kembali. Pelan namun pasti, saya kesampingkan sementara pikiran mengenai rencana malam ini. Di depan saya, pas di depan muka, ada tantangan baru yang tak kalah menariknya.

Saya tahu, saya akan di interogasi. Apa motifnya dan mengapa dia mau menginterogasi, nampaknya perlu saya cari tahu.

Maka itu, mari kita mulai permainannya.

(*Beberapa tahun belakangan ini, istri saya bekerja dengan anak-anak bermasalah yang datang dari keluarga yang amat bermasalah. Karena perlu ilmu dan penanganan khusus, istri saya disekolahkan kembali oleh lembaga yang mempekerjakannya. Sekolah itu sedemikian beratnya. Setiap pulang sekolah, beliau curhat kepada saya tentang apa yang ia pelajari. Dalam 15 menit curhatannya, saya mendapat instisari dari pelajaran sekolah tersebut selama 3 jam. Haha, lumayan. Sekolah gratis. Metode menangani anak-anak itu sebenarnya simpel. Pada awalnya mereka hanya ditanya, apa yang sebenarnya mereka mau dan diminta menjelaskan alasannya. Dan metode itu yang akan saya pakai dalam permainan sore ini*)

– “Wah, bapak juga orang pabrik yaah? Biasanya jarang Pak yang nanyain saya kerja di industri apa”

Dia diam sejenak. Tidak menjawab pertanyaan saya. Iya, saya tahu, nampaknya ia tidak begitu suka pertanyaannya saya jawab dengan pertanyaan. Dan saya juga tahu, bahwa saya sedang melemparkan pertanyaan bodoh. Ia supir taksi. Itu jelas sekali. Mengapa pula saya tanya dengan pertanyaan bahwa apakah ia bekerja di pabrik?

Tapi tidak apa-apa. Saya perlu mendengar alasan pertanyaannya.

Dia masih diam. Susah sekali menerka jawaban supir taksi. Sebab mereka membelakangi kita. Tidak tahu apakah sedang berkata sebenarnya atau tidak. Gerak mata yang selalu menoleh ke kanan apabila berbohong, tidak berlaku pada supir yang sedang bekerja. Sebab mata mereka memang harus menoleh ke kanan untuk melihat kaca spion :)

Masih tidak juga menjawab. Well, mari kita lanjutkan permainan ini.

Sambil membuka tas mencari-cari permen, saya jawab “Pabrik tempat saya kerja mah kecil, Pak. Beda sama pabriknya Rojak temen saya. Di tempat dia mah, karyawannya bisa lima belas ribu orang. Trus dibagi tiga shift. Tempat saya paling cuman berapa ratus. Trus cuman satu shift, Pak”

Ia menoleh ke spion tengah, “Saya kerja di pabrik sendal, Pak. Baru tiga bulan berenti. Trus narik taksi”. Matanya bertumbuk dengan mata saya.

Ooh, rupanya dia hanya ingin tahu. Itu yang saya tangkap dari jawabannya. Saya menarik napas lega.

Tapi tidak lama, sebab ia sudah bertanya lagi “Tadi ketemu clientnya di mana, Pak?”

Well well well… Kagum juga saya. Nampaknya ia belum berhenti berusaha mencari tahu apa yang telah saya lakukan sore itu.

Mari kita cairkan permainan ini sebentar.

Sambil garuk-garuk kepala saya bilang “Di panti pijat, Pak. Saya ketemu client di panti pijat. Banyak cewek-ceweknya. Masih muda semua”

Dia ketawa, “Hahaha, bisa aja si bapak”

Saya juga ketawa. Melihat ada celah kosong dimana ia tidak bertanya, saya pun lalu bertanya kembali, “Sudah punya anak, Pak?”

(*Saya tahu, itu pertanyaan pribadi. Tapi ahh, bukankah kita tengah bermain. Mengapa tidak dicoba saja*)

+ “Sudah pak. Anak satu. Bapak udah punya anak?”

Sudah saya tebak ia akan bertanya balik. Sambil menawarkan permen saya jawab “Sudah, Pak. Perempuan. Sebentar lagi umurnya dua tahun”

Ia menolak permen saya dengan mengangkat tangan sambil tersenyum. Ah ini kesempatan. Saya tanya lagi, “Kalau bapak nyupir begini, anak sama istri di rumah dong?”

Saya tahu, ini pun pertanyaan bodoh di Jakarta. Di mana budaya sedemikian tinggi mengagungkan lelaki bekerja, sementara perempuan di rumah mengurus anak. Tapi kenapa tidak di coba saja. Semua adik-adik saya yang laki-laki dan perempuan bekerja. Begitu pula pasangan mereka. Bahkan ketika sudah punya anak, pasangan-pasangan itu masih tetap bekerja. Jakarta toh bukan selalu harus didominasi oleh kultur patriaki.

“Anak sama neneknya, Pak. Istri saya meninggal tiga bulan lalu”

Dug! Jantung saya berdetak lebih keras. Ooh, jadi ini gara-garanya kenapa ia berhenti bekerja di pabrik industri. Astaga, apa yang tengah saya lakukan sore ini. Bermain-main psikiatri dengan lelaki muda yang malang? Astaga!

– “Maaf Pak. Saya nggak bermaksud menyinggung perasaan bapak. Maaf yaa Pak”

Dia diam sejenak.

Saya jadi merasa tidak begitu nyaman. Sekali lagi saya meminta maaf.

Untunglah ia buka suara.

“Nggak apa-apa, Pak. Emang sih masih sedih saya sekarang. Kalo lagi bengong nunggu penumpang, kadang suka keingetan almarhumah”

Saya masih diam tidak bisa bicara apa-apa. Dia baru saja cerita kalau anaknya yang berumur empat tahun itu tinggal di Tangerang bersama kakek dan neneknya yang berdagang buah-buahan untuk mencari nafkah. Uang dari menarik taksi, buat bayar cicilan rumah.

Edan, entah kenapa saya penasaran. Dan mulai melemparkan pertanyaan tolol sekali lagi, “Meninggalnya gara-gara sakit, Pak?”

Untung ia menjawab dengan cepat. Tanpa curiga.

+ “Iya Pak. Dia di bagian molding. Dia itu orangnya suka jajan, Pak. Padahal gaji kita kan cuman buruh. Seberapa banyak sih. Jadi dia sering nyolongin makanan sajen”
– “Err, maaf Pak. Molding ini maksudnya apa yaah?”
+ “Bagian nyetak, Pak. Dari adonan dicetak ke bentuk sendal”
– “Loh kok ada makanan sajennya?”
+ “Yang punya itu suka naro sesajen, Pak di depan kantornya kalo pagi. Sajennya ada ketan item, ada kue kacang ada macem-macem lah. Kecil-kecil sih. Makanya di embat ama istri saya. Saya udah bilang berkali-kali, itu pabrik ada penunggunya. Walopun kita orang susah, jangan lah makan makanan sajen. Kan bukan buat kita bangsa manusia”

Saya semakin kebingungan dari informasi yang ia terangkan.

– “Itu proses.. Eh, molding yah? Kan cairannya kimia, Pak. Gimana cara nyetaknya”
+ “Jadi cairan kimia itu dituang dari tempat adonan ke cetakan Pak. Trus dipotong-potong kalo dah kering”
– “Cairan kimia? Kalo kerja, pake masker dong, Pak?”
+ “Nggak, Pak”
– “Waduh. Trus sakitnya udah lama, Pak?”
+ “Yah sejak dia rajin makan sesajen, Pak. Eh nggak juga deng. Sebelum itu juga keliatannya udah nggak enak badan. Tapi almarhumah suka minum susu soda sih. Biar ngebersihin paru-paru”
– “Bersihin paru-paru pake susu soda? Itu maksudnya minuman es susu soda, Pak?”
+ “Iya, Pak. Jadi biar ga gampang sakit”

Saya bengong. Masih sulit mencerna rasanya otak ini, mengenai hubungan antara paru-paru yang disesaki uap cairan kimia dengan minuman susu soda. Sebab tetap saja toh istri supir taksi di depan saya ini masih tetap sakit.

– “Tapi untungnya pas sakit ditanggung asuransi kantor kan?”
+ “Wah boro-boro ditanggung, Pak. Saya ampe gadein barang buat nebus obatnya”

Uurgh.., tiba-tiba saya merasa mual. Membayangkan tentang buruh yang bekerja tanpa perlengkapan keselamatan yang memadai, diperah tenaganya habis-habisan lalu digaji sedemikian rendahnya sehingga harus mencuri makanan. Dan akhirnya, meninggal mengenaskan.

Namun laki-laki di depan saya, masih saja tetap bersikukuh bahwa ia memiliki indra ke enam yang dapat melihat di alam lain. Ia bersikukuh ketika salah satu jari istrinya hilang terpotong mesin pemotong sendal, itu pun gara-gara makanan sesajen.

Saya sedih. Dan semakin sedih ketika ia bilang, “Yang punya pabrik ngasih duit tiga ratus ribu waktu istri saya meninggal. Dia bilang sama anak-anak pabrik yang laen, jangan suka maling makanan sajen. Nanti akibatnya kayak istri saya”

Saya sedih. Dan masih tetap sedih ketika akhirnya perjalanan taksi ini pun usai dan lalu sampai di rumah Ibu.

Baru saja meletakkan tas di dapur, Ibu bertanya, “Dari mana kamu?”

“Dari panti pijat. Client saya dulu punya spa. Saya bantu pengembangannya. Sekarang usahanya maju. Ternyata di samping spa nya, sekarang dia punya panti pijat. Itu kedok dari prostitusi. Maka itu spa nya maju pesat. Banyak perempuan muda kerja di sana jadi terapisnya. Tapi sejak dua minggu lalu dia sakit. Istrinya minta saya ke rumahnya, yang disamping panti. Katanya client saya, suaminya, udah sakaratul maut. Dia mao bayar utang kerja saya dulu. Mungkin biar cepet sembuh. Atau… biar gampang…”

Ibu tidak menunggu kalimat saya berakhir. Beliau hanya menatap termangu.

This entry was posted in bangaip, Orang Indonesia, sehari-hari and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Taksi II (Menuju Rumah Ibu)

  1. Mardianto says:

    Wuih!

    Sejak kapan es susu soda bikin sehat?

    Lagian pemilik pabriknya kapitalis banget ya?

    Jakarta… oh, Jakarta…

    –0–

    Soal es susu kental manis dicampur soda, itu memang sudah jadi mitos lama, Mas. Kebanyakan pekerja yang berprofesi buruh atau nelayan di sekitar rumah saya pun membenarkan mitos ini. Maksud saya, mereka pun percaya bahwa es susu soda mampu ‘membersihkan paru-paru’. Ditambah lagi masih beredar kepercayaan lama kalau berobat ke dokter itu mahal (padahal puskesmas sudah gratis sekarang). Jadi es susu soda itu pelarian dan kompensasi dari banyaknya merokok dan bekerja dengan debu/uap kimia.

  2. omnoba says:

    bang, ane sedikit mau rekomendasi mengenai john pilger. coba dilihat filmnya mengenai rulers of the new world.

    –0–

    Iya, terimakasih Omnoba. Keren itu film.

  3. manusiasuper says:

    Jadi, kerja di mana bang?

    Anu, soal pegawai a.k.a. buruh yang dirugikan perusahaannya seharusnya bisa dilindungi kan bang? perasaan ada UU Ketenagakerjaan kan? Aduh, saya kurang mengerti, padahal harusnya tau…

    –0–

    Di lapangan, biasanya kondisinya beda, mansup. Untuk wilayah lokal Jakarta, katanya pengawasannya lebih ketat. Namun di pinggir-pinggir JKT yang sudah masuk Jakarta coret, beberapa kebijakan pabrik memang tergantung antara pemilik pabrik dengan lurah setempat. Tapi itu pun tidak bisa digeneralisasi. Beberapa pabrik di Cikarang atau Bekasi (pas lingkar luar Jakarta) yang sempat saya kunjungi sungguh bagus kebijakan dalam memperhatikan karyawannya.

  4. hedi says:

    Enak ga bang kerja di pabrik biasa yang cuma satu shift itu, gajinya gede ya? 😛

    –0–

    Kalau ditanya enak atau nggak kerjanya, jawabannya yaah saya bahagia, Mas. Kalau soal gaji, hehe, saya ini mah termasuk orang yang kurang bersyukur. Dikasih gaji berapa saja, kok yaa ngerasa kurang terus. Maunya nambah-nambah saja setiap tahun. Hehe. Mungkin saya harus lebih banyak belajar bersyukur.

  5. Jadi sedih setelah membacanya. Ironisnya banyak orang yang meracuni diri sendiri secara sadar dengan rokok, minuman keras, dan obat2an. Padahal di sisi lain banyak buruh yang teracuni tanpa sadar.

    Hiks…

    –0–

    Iya Mas Dewo. Realitanya begitu

  6. edratna says:

    Kalau mendengarkan keluhan buruh kecil ini memang sedih Bangaip..
    Di satu sisi perusahaan kecil juga repot, karena persaingan ketat..kadang buruh demo minta naik..dan akhirnya perusahaan ikutan mati. Saya banyak melihat hal-hal ini dalam dunia nyata, karena banyak client yang bergerak di retail. Jika di usaha mikro, biasanya tak terlalu memikirkan urusan gaji, karena dikerjakan sendiri, dibantu anggota keluarga..ibaratnya hanya nunut makan.

    Itu memang seperti telor dan ayam..buruh perlu biaya/ gaji cukup..namun penerimaan perusahaan juga ngos2an.

    –0–

    Lalu solusi untuk jenis usaha begitu, biasanya apa yaa Bu? Apakah kredit mikro cukup?

  7. noni says:

    aku paling miris nih kalo mbacain postingan kayak begini… sprakeloos…

    –0–

    Saya waktu itu pas banget di belakang beliau, Mbak. Mau nangis juga bingung. Nanti bersandar ke siapa. Ke bahu jalan kan nggak mungkin.

  8. -tikabanget- says:

    jadi, istri si sopir taksi itu kepotong jarinya, dan makan makanan sesajen yang jangan-jangan masaknya juga seadanya (atau malah mentah?) plus kena paparan racun si bahan sandal..?

    –0–

    Nampaknya begitu adanya, Mbak

Leave a Reply