Poker Cilincing

Maaf saya mau memuaskan rasa sakit akan narsisme sebentar sebentar. Hihihi. Kali ini saya mau cerita soal wajah saya. Kalau anda mau membaca tulisan yang berbobot dari blog bangaip dot o-er-ge sekarang, nampaknya bukan kali ini saatnya. Hehe.

Tapi tenang saja. Saya tidak akan cerita betapa gantengnya saya. Sebab toh saya sadar diri kalau saya sama sekali tidak tampan. Percuma saya mengklaim tampan kalau hanya saya satu-satunya manusia yang mengakuinya secara de facto maupun de jure. Hehe.

Oke, begini ceritanya;

Waktu bom meledakkan sebuah taksi dan beberapa orang terkena dampaknya di kota New York, saya dan beberapa orang rekan kerja sedang minum teh di bandara Ferihegy di sebuah titik di Eropa Timur sana. Jauh. Ribuan kilometer dari New York. Saat itu, kami sedang menunggu pesawat yang akan menjemput kami pulang ke rumah.

Saya merasa kasihan dengan korban di New York. Namun maaf saja, saat itu tidak begitu peduli. Di otak saya yang ada hanyalah bagaimana membeli boneka untuk putri saya serta permen untuk istri. Sebentar lagi kami harus masuk pemeriksaan pabean. Iya saya sadar saya agak sadis. Lebih memikirkan boneka atau permen ketimbang korban jiwa di NY sana. Ahh maafkan saya…

Tapi mau bilang apa? Barang-barang di tas saya sudah penuh. Saya lebih memikirkan bagaimana membawa benda-benda ini dengan selamat sampai tujuan.

Akhirnya setelah pontang-panting kiri-kanan masuk toko yang tersebar di dalam bandara, dapat pula akhirnya dua benda manis tersebut. Dan dengan santainya, saya dan rombongan masuk ke ruang khusus bandara dimana kami harus teratur masuk ke pesawat antar Uni Eropa tersebut.

Namun sebelumnya, kami harus lewat pabean. Petugas duane yang memeriksa dengan alat khusus sehingga mampu mendeteksi apakah kami membawa barang yang tidak mereka inginkan atau terlarang. Alatnya seperti gerbang mekanik yang mampu memperlihatkan benda metal dalam pakaian dan tas kami. Kalau alat itu berbunyi nyaring, artinya kami mencurigakan dan harus diperiksa lanjutan.

Dari sebelas orang anggota rombongan, semuanya digeledah tasnya atau harus masuk ruangan khusus untuk melakukan full scan body. Yaitu pemeriksaan lanjutan dengan alat yang lebih canggih atau kalau perlu pakai tangan. Nampaknya petugas imigrasi pabean curiga pada mereka.

Anehnya, hanya saya yang tidak diperiksa apa-apa. Saya dan tas dengan santainya melewati gerbang mekanik tersebut.

Singkat cerita, semua teman-teman kerja saya ternyata tidak membawa apa-apa yang mencurigakan. Dan nampaknya keamanan bandara diperketat setelah mendengar berita pemboman di New York (yang terjadi baru saja beberapa jam lalu).

Kejadian ini, rupanya tidak bisa dilupakan oleh teman-teman saya. Hingga akhirnya beberapa saat lalu, saya dapat julukan baru “Wajah Lugu Yang Terpercaya”. Itu julukan bercanda. Akibat betapa percayanya petugas bandara hanya dengan melihat foto raut muka di paspor saya. Hehe.

Kalau saya bilang bahwa saya punya genetika warisan bunglon, pasti saya dosa. Sebab Ibu saya pasti akan membantah bahwa kami dulunya adalah turunan reptil. Namun apa daya, muka saya memang sering berubah-ubah. Hihihi.

Tapi adakalanya saya gagal memanfaatkan muka sok lugu ini.

Dulu, di lantai lima gedung sekolah Depok, saya sampai membawa-bawa celengan yang isinya recehan logam semua. Sebab pemberi beasiswa sudah tidak yakin bahwa wajah saya adalah wajah pelajar miskin yang mampu menerima sumbangan uang dari pemerintah.

(*Well, trik celengan ini ternyata sukses berat. Saya akhirnya dapat beasiswa walaupun IPK pas-pasan. Hahaha*)

Omong-omong soal wajah lugu. Kadang-kadang, dulu kalau lagi suntuk di kost-kostan Kuningan, saya sengaja sore-sore naik motor putar-putar keliling kota. Lokasi favorit saya, dekat Plaza Senayan. Saking isengnya, saya kadang malah sengaja naik motor melawan arus. Alasannya jelas amat bodoh; saya kepingin ditilang.

Dan tentu saja doa saya dikabulkan. Sebab kalau lewat situ, saya pasti ditilang.

Polisi yang menilang biasanya sopan. Angkat tangan memberi hormat. Mempersilahkan saya minggir lalu bertanya surat-surat. Standar lah.

Dan saya pun biasanya memang tanpa banyak cing-cong mengaku bersalah. Dengan wajah lugu saya mengaku bahwa saya bukan warga Jakarta. Dan para polisi itu pun percaya, maklum SIM saya memang adalah Surat Ijin Mengemudi yang dikeluarkan Polda Denpasar, Bali. Jadi saya bilang, kalau saya belum paham jalan di Jakarta yang semrawut ini.

Dari sepanjang sekitar puluhan kali di tilang di Plaza Senayan JKT dan daerah di sekitarnya, ada beberapa poin penting yang menjadi bahan saya agar menjadi lebih baik ketika ditilang di masa depan. Diantara poin-poin itu adalah:

  1. Kenali Wajah Penilang
    Kenapa harus mengenali wajah polisi penilang? Jawabnya sebab ini penting. Saya pernah ditilang oleh Polisi yang sama sebanyak tiga kali dalam seminggu. Kalau Pak Polisi sudah mengenali wajah anda, tandanya trik-trik dibawah ini tidak akan mempan untuk dipakai lagi. Kalau anda hobi ditilang seperti saya, hindarilah polisi yang sama di lokasi penilangan yang sama
  2. Jangan Merayu Polwan
    Merayu Polwan jelas kebodohan. Sebab Polisi Wanita itu biasanya galak. Ini bukan generalisasi, tapi sepanjang karir saya sebagai manusia yang mencintai aksi penilangan; sudah dua kali saya disuruh push-up oleh Mbak Polwan yang manis itu karena menurut beliau saya melakukan ‘aksi yang tidak menyenangkan’ terhadapnya ketika menilang saya. Haha
  3. Teori Tujuh Ribu
    Saya selalu menyediakan uang sebanyak tujuh ribu di dompet ketika akan ditilang. Pada umumnya, saya memang tidak berniat cepat-cepat pergi dari sisi penilang. Menurut saya, semakin lama waktu saya ditilang semakin baik. Sebab saya bisa mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari si penilang. Pada masa mengumpulkan info ini, biasanya ada penilang yang suka iseng melihat-lihat isi dompet. Kadang yang masih muda, gemar melihat isi dompet saya untuk meyakinkan apakah saya benar-benar tidak membawa uang ‘perdamaian’. Maka itu kalau ditanya penilang, saya selalu jujur menjawab “Duit saya tinggal tujuh rebu, Pak. Cuman bisa buat beli bensin pulang seliter. Kalo ini diambil, saya pulang naek apa dong!” Trik ini sukses membuat saya tidak pernah mengeluarkan uang ketika ditilang.
  4. Lengkapi Surat Penting
    Bawa selalu STNK dan SIM. Dua surat ini perlu. Sebab artinya anda sah membawa kendaraan tersebut. Bukan maling. Selain surat-surat itu, kalau bisa seperti SIM saya, SIM luar kota. Jadi bisa sering alasan, “Nggak tau jalan, bos. Maap” kalau anda mengambil jalur yang tidak digunakan untuk kendaraan anda
  5. Menyiapkan Jawaban
    Ketika anda di tilang, maka polisi penilang akan bertanya-tanya mengenai identitas anda. Apabila anda memang seperti saya, berminat untuk di tilang dan berlama-lama dengan si penilang, maka polisi akan bertanya-tanya bukan hanya identitas anda melainkan apa tujuan anda dan kenapa anda ada dalam daerah wilayah operasionalnya. Santai saja. Itu wajar. Mereka polisi, memang dilatih untuk bertanya. Dan sebagaimana pertanyaan, maka siapkanlah jawaban. Jawaban favorit saya ketika ditanya mau kemana selama ini adalah “Saya mau survey mas kawin, Pak. Saya mau kawin lagi”. Tips dari saya; berilah jawaban yang walaupun terdengar aneh tapi tetap masuk akal. (*Soal kawin lagi itu, jangan diterapkan pada Polwan. Saya pernah diceramahi satu jam sama Bu Polwan gara-gara memberi jawaban soal kawin lagi. Buset dah! Apalagi nggak mungkin pula dong waktu dia marah saya bilang itu becanda*)
  6. Jadilah Pemirsa Yang Baik Entah apa yang diajarkan di Sekolah Lido sana
  7. yang pasti, kejadian good cop bad cop itu selalu ada selama saya ditilang di pos polisi. Ada yang marah semarah-marahnya, ada yang baik sebaik-baiknya. Maka itu siapkan mental. Namun ketika saat ini tiba, ketika para polisi tengah bergaya dalam aktingnya, sumpah mati saya amat menikmatinya. Jarang-jarang lihat tayangan opera sabun secara live dalam pos polisi kecil di tengah-tengah belantara ibukota. Sekali lihat, langsung ketagihan

  8. Hati-hati Dengan Premodialisme
    Akibat sering mondar-mandir dengan kartu identitas Bali, saya sering dengan santainya mengaku orang Bali. Sialnya dulu sempat ketemu penilang asal Gianyar. Kampret, saya nggak bisa jawab ketika ia bertanya dalam bahasa Bali. Lah mau jawab apa, wong saya nggak bisa bahasa Bali. Hahaha. Maka itu, saya sih mengaku saja pada penilang apa adanya kalau saya orang Betawi yang bekerja di Bali dan lebih banyak berada di Bandung dan Manado. Hahaha…

Oke, tulisan di atas pasti membuat banyak pertanyaan. Pertanyaan yang paling sering adalah: “Kenapa?” Jelas banyak yang bertanya, ketika orang-orang menghindari tilang, saya malah sebaliknya.

Saya tahu, jawaban “karena saya bisa” adalah jawaban yang terbaik. Tapi bukan itu yang mau saya bagi kali ini.

Saya mau jawab, bahwa sepanjang karir ditilang saya dapat:

  • Teman Iya, ini memang aneh. Saya sempat dapat teman polisi lalu lintas yang baik hati dari aksi bodoh saya di atas. Kami tetap berkawan hingga saat ini dan ketika saya mengaku bahwa saya sering melakukan aksi ’tilang’ ini dia hanya tertawa-tawa
  • Makanan Ketika bulan puasa, saya paling hobi di tilang di daerah Kota dan Mangga besar. Dulu, di lokasi-lokasi ini, menjelang buka puasa suka ada relawan yang mengantarkan kolak atau panganan buka puasa ke pos polisi. Dan sebelum buka puasa, saya selalu menyempatkan diri di tilang di pos polisi yang banyak makanannya. Para polisi itu biasanya baik-baik. Suka memberi saya makanan untuk berbuka puasa (walaupun sebenernya saya nggak puasa. Hihihi)
  • Real Time Info Kadang saya punya pertanyaan yang walaupun sebenarnya jawabannya ada di text book, tapi dalam pengejawantahannya jauh sekali dengan yang tertera di buku. Polisi itu ahli hukum (walaupun tidak semua, tapi minimal mereka sedikit tahu lebih banyak daripada saya) dan ujung depan garda hukum di masyarakat. Jadi, informasi mengenai hukum dari mereka biasanya memang sama sekali tidak text book, tapi yang lebih penting adalah akurat. Dan akurasi itu yang saya butuhkan
  • Poker Face. Jadi sodara-sodari… Dari cerita narsisme di atas, sekarang saya pikir anda sudah tahu dari mana “Wajah Lugu Yang Terpercaya” mirip pemain judi poker asal Cilincing yang saya miliki berasal. Huehehehe…
This entry was posted in bangaip, Orang Indonesia, Republik Indonesia, sehari-hari and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Poker Cilincing

  1. qzink says:

    Berarti waktu masih di Jakarta tiap kali ditanya hobi, Bang Aip jawabnya, “Hobi saya ditilang polisi.” :)

    Oh iya, soal polisi yang sama menilang sampai berkali-kali itu berarti si polisi yang sama itu tahu dong dengan trik ‘7 ribu buat beli bensin seliter’ atau khusus untuk polisi yang sama punya trik tersendiri, bang? :)

    –0–

    Hobi saya? Hahaha, iya.. Ditilang :)

    Untuk polisi yang sama, waktu kedua kali beliau gabungan sama Bu Polwan (nah itu yang saat saya diomelin gara-gara ngomong ‘kawin lagi’). Beliau cengar-cengir (sebab dia juga niat mau kawin lagi. Kalo dia mah, serius. Bukan gara-gara ditilang). Yang ketiga kalinya, saya di ajak bedua aja ngobrol di pos. Pas dikasih rujak, saya ngaku aja apa adanya, kalo saya sedang melaksanakan hobi saya secara membabi-buta.

    Beliau cengar-cengir mendengarnya dan sampai sekarang jadi sahabat saya.

  2. manusiasuper says:

    tulis soal tempo dan celengan babi itu dunk bang… gara-gara ngomongin polisi jadi ingat deh…

    –0–

    Wah, nggak bisa ditulis tuh mansup. Oknum-oknum polisi masih bete sama tempo. Hahaha

  3. edratna says:

    Saya telah tiga kali kena tilang di kelokan daerah Saradan (dekat Nganjuk)..dan beberapa minggu lalu di Mantingan. Bukan saya sih yang nyopir, dan sopir kalau dikasih tahu selalu tak percaya…

    Jalan di daerah hutan jati itu berkelok-kelok, menanjak dan ditengahnya ada garis lurus, yang artinya tak boleh menyalip. Sialnya, sering kita terpaksa membuntuti bis atau truk gandeng yang terseok-seok dengan asap knalpot yang bikin sesak hidung…dan disinilah sopir tak sabar langsung menyalip…herannya pak polisi selalu tahu.

    –0–

    Hahaha, iya Bu. Itu diajarkan disekolahnya. Yaitu agar memiliki naluri yang cukup tinggi untuk nongkrong di tempat yang strategis. Hehehe

  4. mbelGedez™ says:

    .
    Saya ndak punya waktu buat berlama-lama dengan polantas. Jadi makin cepat berurusan dengan mereka makin baek. Di Jakarta saya paling sering melanggar adalah 3 in 1. Kalo urusannya mesti ke kawasan ituh pada jam 3 in 1, saya tetep dengan santai dan PD melanggarnya. Kadang lolos, kadang ngasih uang rokok. Saya yang salah. Bukan pulisi ituh…

    –0–

    Terimakasih untuk berbagi ini Mas Mbel. Ngaku salah itu nggak gampang.

  5. mbelGedez™ says:

    Woiya…
    Pelanggaran terbaru di 3 in 1 adalah saat saya pulang nonton film di Plaza Senayan, sore hari sama cem-ceman tanggal 1 Juli kemaren. Dia pucat luwar biyasa. Maklum, jalan hidupnya selama inih lurus-lurus ajah.

    Bayangin aja, jam 5 sore mosok suruh muter ngindarin 3 in 1 ?!! Belom lagi macetnya yang bikin senewen…

    Ternyata sukses melanggar, cukup mbuka jendela, sedikit senyum sama polantas yang jaga sambil mencet klakson 2x… 😆

    –0–

    Hahaha.. another tricks

  6. yudhi says:

    wahahahahaha dan saya tertipu telak ketika pertama kali ngeliat bang aip dan refleks mikir “itu orang sunda yak” :))

    –0–

    Hahaha…. Nice compliments. Hatur nuhun Kang Yudhiii…:D

  7. Titiw says:

    Ah bang aip memang bisa aja. Tapi tipsnya itu menarik bang. Apa mungkin juga bang aip ada sedikit fetish dengan “ditangkap polisi”? Hem.. Manusia yang sedikit aneh.. :))

    –0–

    Fetish? Iih, istilah apa itu yaa Tiw 😉 (*Mendadak lugu*)

  8. joesatch says:

    primordialisme? ahahaha, tanpa bermaksud apapun kecuali komen, tapi memang iya itu khas banget orang bali, bang 😀

    –0–

    Menanggapi komen kamu Joe saya cuma bisa bilang “No comment” Hihihi

Leave a Reply