Tiga Malam Tiga Teror

Saya dapat tiga teror dalam minggu terakhir ini. Saya pikir, saya coba telan semuanya dengan pahit melalui lidah dan lalu masuk tenggorokan hingga di proses di hati dan di perut. Berharap, seiring bersamanya waktu, semua kenangan buruk itu bisa saya buang bersama kotoran di lubang WC.

Sayangnya tidak. Sial beribu sial, saya bukan orang yang mudah lupa. Kadang kenangan pahit memang mudah dilupakan di siang hari. Menyebalkannya, ketika malam tiba; memori buruk itu menjelma jadi mimpi-mimpi menyeramkan.

Daripada jadi mimpi yang membuat teriakan dan keringat dingin, lebih baik saya tuliskan saja di sini. Dan ini berarti adalah semacam peringatan, bahwa tulisan saya kali ini mungkin dapat pula mengganggu anda. Jangan memaksa untuk membaca jika anda adalah tipikal yang sedang mencari kesenangan sesaat dalam membaca. Hehe.

Teror pertama: Tetangga Oh Tetangga

Rumah saya sekeluarga adalah rumah kontrak. Dindingnya menempel dengan tetangga kiri dan kanan. Tidak terlalu tebal. Kami hidup sederhana.

Tetangga kanan saya, sepasang suami istri yang bermasalah. Punya dua anak. Yang kecil, si Santi berumur 8 tahun. Yang besar, si Sonia, berumur 17 tahun.

Masalah diantara suami istri ini semakin hari semakin memuncak. Tiada hari yang kami lalui selain mendengar dari sebelah tembok ketika mereka berteriak saling mencaci maki dengan kalimat-kalimat kasar dan menyedihkan.

Tiap hari, saya, istri dan bayi kami harus ikhlas mendengar mereka saling membanting pintu, menangis, mengutuk hingga menggedor dinding sampai membanting piring. Well, bisa saya bilang, itu bukanlah masa-masa yang indah buat mereka dan juga bukan masa yang cukup menyenangkan buat kami.

Telinga tersiksa.

Singkat cerita, pasutri ini mencoba memperbaiki kehidupan rumah tangga yang telah terbina. Konsultan pernikahan menasihati agar mereka pergi berlibur. Berdua saja sebaiknya. Anak-anak, ada baiknya dititipkan pada keluarga atau sanak saudara terdekat.

Sialnya, keluarga ini memang sudah tidak populer diantara keluarga besar mereka. Tidak ada satupun anggota sanak keluarga yang bersedia dititipi si Santi dan si Sonia. Maka sebagai alternatif, pasutri ini akhirnya membawa Santi untuk pergi berlibur di akhir pekan.

Si Sonia tinggal di rumah.

Sebagaimana remaja yang beranjak dewasa. Si Sonia mulai dong kenal cinta. Normal buat anak sebayanya. Maka ketika sang papa mama dan saudara tidak ada, cowok idamannya pelan-pelan masuk rumah niat indehoy untuk bercinta.

Uuh maaf, maksud saya cowok-cowok. Sebab memang lebih dari satu orang.

Maka teriakan malam hari caci maki di hari kerja, di akhir pekan bisa berubah jadi lenguhan cinta dan hentakan keras ranjang beradu dinding. Well, bisa saya bilang, itu masa-masa yang indah buat mereka namun belum tentu cukup menyenangkan buat kami. Terutama putri saya yang cukup terganggu tidurnya akibat dinding kamarnya pas tepat bersebelahan dengan kamar Sonia.

Istri saya mulai merengut ketika bayi kami susah lelap di malam hari. Apalagi ketika nampaknya mereka menyadari bahwa erangan gelinjang semakin susah dikontrol dan mencoba memutar CD Michael Jackson dalam volume amat keras sebagai samarannya.

Maka untuk mencoba menjadi suami dan ayah yang baik, saya fasilitasi keluhan anak dan istri. Memencet tombol bel pintu tetangga dan mengadukan keluhan pukul sebelas malam. Pada tiga pria muda kira-kira berusia 18 tahun yang hanya mengenakan handuk bertanya apa yang mereka bisa bantu melalui longokan jendela.

Sejak malam itu, tidak lagi ada musik. Michael Jackson nampaknya akan tenang di alam sana. Suara emasnya tidak lagi digunakan untuk membangunkan bayi yang sedang tidur lelap.

Namun anehnya, lelaki muda yang datang semakin banyak saja di akhir minggu.

Puncaknya akhir minggu lalu. Sekitar sebelas pria muda duduk di belakang rumah tetangga. Berteriak-teriak sambil mabuk. Tiga-tiga dari mereka secara teratur masuk dalam rumah bergantian. Sisanya, kembali berteriak-teriak dan membakar api unggun. Diantara yang sudah sedemikian bodohnya (atau amat gembira menantikan gilirannya tiba) melemparkan tabung-tabung bekas hairspray dan cat semprot ke dalam api unggun.

Akibatnya bisa ditebak. Api membumbung tinggi sekali kemana-mana. Bahkan hingga menjilat pagar dan tanaman di belakang rumah kami. Untung saja tidak terjadi kebakaran.

Dan saya yang sudah sedemikian emosinya, hanya dengan mengenakan piyama bergegas akan pergi menggedor pintu mereka.

Istri saya mencegah. Lebih baik panggil polisi kata beliau. Dari jendela, ia sempat melihat beberapa orang anak muda ini mengggunakan obat bius. Dan obat bius itu lekat sekali dengan senjata. Ia tidak ingin kehilangan suaminya yang sok pahlawan menasihati rombongan anak muda bertubuh besar pemabukan bersenjata.

Ia telepon polisi.

Namun sayang sekali polisi tidak datang. Bahkan hingga saat ini. Mereka tidak pernah datang.

Teror Kedua: Unthinkable

Kawan lama datang ke rumah. Setelah mengobrol ngalor-ngidul melepas rindu, tanpa sadar malam telah tiba. Ia harus pergi. Saya pun esoknya harus kerja. Mungkin malam itu lupa, ia meninggalkan sekeping DVD film berjudul Unthinkable dan melalui telpon bilang bahwa saya boleh menontonnya.

Esok sepulang kerja, makan malam, lalu mengantar putri tidur di peraduannya; saya putar film tersebut melalui komputer.

Jalur ceritanya sederhana. Sebagaimana layaknya genre film hollywood masa kini yang sedang populer. Yaitu agen rahasia Amerika Serikat hampir paruh baya jadi jagoannya. Sementara sang musuh adalah teroris muda, Islam dan tentu saja pakai jenggot.

Jalan ceritanya, mudah ditebak. Jagoan menang, musuhnya kalah. Mirip konsep Holywood. Tidak jauh dari sinetron Indonesia. Menjual mimpi. Di mana orang baik selalu berakhir menang dan hidup bahagia hingga akhir hayatnya. Sebagaimana cerita bumbu terorisme lainnya. Jagoan akan mati-matian mencari teroris dan berhasil mengungkap kasus. Masyarakat hidup bahagia setelahnya. Persetan kenyataan berada sebaliknya. Toh dalam film Holywood memang mimpi yang harus dijual.

Well, ternyata saya salah.

Sang teroris ternyata sudah tertangkap. Dan malah setelah tertangkap, film berjudul Unthinkable ini justru baru dimulai.

Si teroris tertangkap. Ia memiliki tiga bom nuklir dan tidak mau memberitahu dimana bom tersebut berada. Maka apapun yang terjadi, tiga bom yang ditempatkan sang teroris itu harus ditemukan.

Cara yang paling mudah, meminta agar sang penebar bom nuklir itu mengaku dimana ia menempatkannya. Dan meminta ia mengaku, bukan hal yang mudah. Saking sulitnya mengorek keterangan dari si pelaku, seluruh agen rahasia Amerika berkolaborasi lalu meminta jasa interogator sewaan agar bisa mendapatkan informasi.

Si interogator sewaan, yang lebih suka dipanggil ‘H’, menjalankan aksinya dengan keji. Dalam sebuah kamar khusus yang dibangun untuk interogasi, ia mengikat si tawanan dalam kursi yang diberi penyengat listrik. Di depan para petinggi keamanan dan di atas tanah Amerika yang mereka pikir menjunjung tinggi demokrasi, ia memotong jari tawanan dan menyiksanya hingga batas yang sukar dipahami.

Sialnya, si tawanan tidak mau mengaku. Hingga akhirnya para agen rahasia itu mendatangkan istri sang teroris pun ia tetap tidak mau mengaku. ‘H’ menyilet leher perempuan malang yang tidak tahu apa-apa itu hingga hampir putus di depan suaminya.

Sial, tawanan tetap tidak mau mengaku.

Hingga akhirnya H berhenti menyiksa si pelaku pemboman. Ia lalu mengambil dua orang anak si pelaku, lalu menyeret dua bocah molang berusia delapan dan sembilan tahun itu ke dalam kamar penyiksaan. Ia tahu, ia tidak dapat mendapatkan informasi dengan cara menyiksa si teroris. Tapi ia yakin bisa, dengan menyiksa dua anak tersebut, ia dapat mendapatkan informasi mengenai tiga bom yang masing-masing mampu membunuh sepuluh ribu orang. Di depan mata para koleganya yang hampr tidak mampu berbuat apa-apa mencegah H beraksi, H hampir menyuntik cairan kimia penyiksa kedalam tubuh dua bocah malang tersebut.

Di bagian ini jiwa saya mulai terteror. Saya bertanya dalam hati, apa yang akan saya lakukan untuk mendapatkan informasi penting yang mampu menyelamatkan puluhan ribu manusia.

Sumpah saya sungguh terteror. Pertama karena film ini penuh darah. Kedua karena dialog-dialognya memang memaksa otak saya bekerja lebih keras daripada biasanya.

Saya tahu, jawaban hitam putih itu mudah. Sejak kecil kita sudah dibebani informasi mengenai ideologi kebaikan seperti “Jangan menghalalkan segala cara” atau ideologi nisbi macam “Tergantung…” atas segala pertanyaan abu-abu.

Maka jika pertanyaannya adalah, “Apakah layak menyiksa lalu membunuh dua orang anak kecil untuk menyelamatkan dua puluh ribu manusia?” Apa jawaban seharusnya?

Malam itu, saya hampir susah tidur. Tetangga sunyi senyap. Anak istri sudah terlelap. Namun sukar sekali mata dipicingkan. Sebab saya bertanya pada diri sendiri, “Sejauh apa yang akan saya lakukan apabila putri cilik saya diancam mati?”

Teror tiga: #Obsat @Aburizalbakrie

Kemarin, kebetulan saya libur dan seharian menjaga dan bermain bersama putri yang masih berusia balita.

Seorang sahabat mengirim pesan melalui telepon, “Obrolan Langsat bakal seru. Ada Bakrie”. Wow, saya langsung menyalakan sambungan WiFi pada telepon dan memantau akun layanan media sosial twitter bernama #obsat (singkatan dari obrolan langsat), akun yang menyediakan laporan langsung diskusi di lokasi.

Sebelum memulai lebih lanjut, Obrolan Langsat adalah sarana diskusi yang dilakukan di Jalan Langsat. Menurut informasi resmi akun tersebut “Obrolan Langsat: Berdiskusi melatih kita untuk terbiasa dengan perbedaan dan keberagaman β€” dan bukan tidak mungkin dari sana kita memetik sebagian dari kebenaran”. Selain diskusi biasa, obrolan ini berlangsung dengan bantuan teknologi, sehingga bisa dinikmati oleh saya yang jaraknya ribuah kilometer dari Jalan Langsat, Jakarta Selatan

Saya sudah siap memberi pertanyaan-pertanyaan pada Pak Ical (panggilan Aburizal Bakrie, tamu Obrolan Langsat malam itu). Diantara pertanyaan saya topiknya adalah, apa perasaan beliau sebagai Commander-in-Chief Lapindo, orang yang dianggap paling bertanggung jawab dalam bencana lumpur di Sidoarjo, Jawa Timur menyikapi lumpur Lapindo.

Pak Ical tidak langsung menjawab pertanyaan saya. Beliau, sesuai dengan ketentuan yang berlaku, memiliki hak dalam memilih pertanyaan yang diajukan penanya. Tapi tentu saja tidak bisa berkelit ketika hampir semua suara penanya menyinggung soal Lumpur Lapindo.

Namun dalam beberapa pernyataannya, jawaban Pak Ical sungguh membuat saya sedih.

Kenapa saya sedih? Jawabnya simpel; sebab saya kecewa. Yang jadi pertanyaan sebenarnya adalah, kenapa saya kecewa?

Jawabnya sebenarnya lebih simpel lagi. Katanya, kekecewaan itu berangkat dari terpisahnya antara harapan dengan kenyataan. Maka itu, muncul kekecewaan.

Jadi sekali lagi, kenapa saya kecewa?

  • Saya kecewa, Pak Ical mengatakan bahwa lumpur Sidoarjo 80% adalah bencana alam. Harapan saya jelas berbeda. Harapan saya adalah, beliau yang begitu cerdas mau meluangkan sedikit waktunya membaca laporan American Association of Petroleum Geologists (AAPG) dan Centre for Research into Earth Energy Systems (CeREES) yang menyatakan bahwa besar sekali pengaruh kesalahan manusia dalam pengeboran Lapindo dan mengakibatkan bencana di Sidoarjo.
  • Saya kecewa Pak Ical bersikukuh menyatakan bahwa beliau tidak bertanggung-jawab atas korban warga Sidoarjo yang rumah, sawah, masjid, dan seluruh harta benda mereka terkubur lumpur dan sia-sia selama empat tahun lebih. Bahkan mencoba berlindung di balik pernyataan β€œTapi karena perintah Ibunda, maka saya harus melakukan ganti rugi”. Harapan saya; Pak Ical yang datang malam itu ke Jalan Langsat ditemani anaknya. Dengan suara mantap di depan publik ia berkata pada anaknya “Nak, manusia melakukan kesalahan dan bapakmu ini manusia. Saya dan teman-teman pemilik Lapindo bertanggung jawab atas tragedi tersebut. Teman-teman, pengunjung, saya bertanggung jawab atas tragedi tersebut dan saya meminta maaf”.

Setiap laki-laki itu tidak harus jantan, tapi sebagaimana para lelaki yang telah menempuh begitu banyak kesukaran dalam hidupnya, semestinya berani bertanggung jawab dan meminta maaf.

  • Saya kecewa Pak Ical bilang bahwa Sidoarjo akan kembali seperti semula sekitar 30 tahun lagi yang kemungkinan bahwa ia pun sudah tidak lagi hidup. Harapan saya; Pak Ical tidak berkata begitu. Apa itu arti ‘kembali seperti semula’, maksudnya kembali ke masa lampau ketika semua warga Sidoarjo hidup bahagia tanpa lumpur panas menyemburkan gas melahap ganas rumah mereka? Setelah 30 tahun, lalu bagaimana? Apakah danau lumpur itu akan jadi sebuah warisan berbentuk dosa kepada anak cucunya?

Lihat… Anda sadar sekarang betapa saya sedang menteror diri saya dengan harapan-harapan palsu. Harapan-harapan tidak wajar yang diantaranya adalah bahwa Aburizal Bakrie, salah seorang terkaya di bumi Indonesia meluangkan waktunya untuk membaca. Atau berperan sebagai ayah yang gagah perkasa di depan putranya. Atau seorang yang dengan amat terdidik yang mampu mengendalikan ucapannya.

Hah! Lihat! Betapa tololnya saya memberikan harapan-harapan itu pada diri saya sendiri.

Tapi saya kagumi mental Pak Ical dan putra beliau Anin untuk datang malam itu ke Langsat. Beberapa orang teman malah menyarankan agar beliau dikucilkan publik?

Dikucilkan? Astaga! Menutup komunikasi dengan pembuat masalah itu sama sekali tidak akan menyelesaikan masalah. Malah semakin menjauhkan kita dari solusi.

Beberapa orang lagi, malah mengatakan bahwa Obrolan Langsat, sarana komunikasi santai namun asik itu, menjadi bahan pencitraan imaji Pak Ical untuk membersihkan namanya dan lalu melaju sebagai calon Ketua Umum Partai Golongan Anu. Well, itu memang analisa konspirasi yang menarik.

Tapi belum tentu benar.

Tidak lama setelah akun-akun melaporkan secara live dari lokasi obrolan dengan Pak Ical. Saya sedih. Saya kecewa. Harapan-harapan saya musnah. Tidak saya temui laporan yang mengabarkan kegagahan, kebijakan dan kasih sayang Pak Ical terhadap manusia.

Publik mentertawainya sebagaimana mentertawakan badut pinggir jalan yang sedang menghibur pengguna jalan yang letih atau mungkin kantuk.

Telepon saya matikan, saya tatap sedih putri saya yang kini sudah berusia dua tahun sedang bermain di bak pasirnya. Saya berkata “Nak, doakan bapakmu. Aku sama sekali tidak ingin jadi sepertinya” sambil menatap akun twitter @aburizalbakrie perlahan hilang di layar telepon.

Sebagaimana hilang pula citra beliau di mata saya. Maka, jika banyak orang yang melihat citra baik Pak Ical malam itu semakin menguat dan berbinar-binar auranya. Percayalah, saya adalah orang yang percaya sebaliknya.

Tiga hari ini saya diteror. Tidak tahu mana yang paling parah; lenguhan perempuan muda yang bercinta dengan sebelas pria mabuk, atau kemungkinan sadisme dan balas dendam dalam jiwa saya, atau seorang pria kaya perlente yang telah menyengsarakan hidup manusia satu kampung secara langsung.

Tiga hari penuh teror. Tiga malam susah tidur.

This entry was posted in bangaip, Orang Indonesia, Republik Indonesia, sehari-hari and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

11 Responses to Tiga Malam Tiga Teror

  1. Fortynine says:

    Bang…. Kalau Pak Ical sudah melakukan hal itu, bagaimana dengan teror beliau dan konco konco godfathernya yang telah merampok kami di sini?

    Teror yang telah berlangsung berbanding lurus dengan masa yang dihabiskan sebanyak tarikan nafas saya bahkan mungkin lebih….

    Teror para godfather berlabel pengusaha yang merampok dan menjarah habis habisan kekayaan alam di sini, bahkan menambah dengan aliran darah dan airmata di atas tanah yang mereka “bebaskan,”.

    Tak lupa pula membajiri tanah kami dengan airmata pribumi dengan cara melemparkan pesakitan pesakitan asing yang tiba tiba jadi raja kecil di tanah Kalimantan…..

    teror yang mungkin tak terasa, atau tak teraba oleh media, namun terus terasa di sini, di bumi Kalimantan….

    ::::::

    Saya hanya bisa ucapkan; saya percaya bagaimana bangaip, saya percaya abang punya jalan terbaik menghadapi teror 1 dan teror 2 di atas

    –0–

    Wah doa kamu sukses, Rid. No 1 dan 2 sudah bisa diatasi. Nomor 3 yang susah memang. Jangankan jawab pertanyaan kamu, saya sendiri mau jawab pertanyaan saya pribadi terhadap tingkah laku ARB saja sungguh susah carinya. Hehehe.

  2. noni says:

    sprakeloos euy… semoga saya bisa tidur malam ini setelah mbaca postingannya bang aip yang ini.

    –0–

    Semoga Mbak… Semoga…

  3. Pingback: Cilincing Brotherhood II | blog auk

  4. warm says:

    saya berusaha bisa menerima dengan akan sehat, akan kenyatan bahwa semua teror-teror itu ada..

    berusaha,
    tapi tidak bisa
    😐

    –0–

    Kalau bisa menerima, maka bisa ambil langkah antisipasi secepatnya :)

  5. Danik says:

    kok saya jadi ikut-ikutan merasa terteror yak?

    –0–

    Maaf yaah

  6. manusiasuper says:

    finally, the answer of a question that I never dare to ask for bang Aip has been posted…

    thank you…

    –0–

    Ehh.. Rrr… You welcome :)

  7. tsetiady says:

    Wew. Aneh, karena saya juga sempat mengalami teror #2 dan #3, untunglah tidak untuk #1. -and i thank lord for that- :))

    Film Unthinkable sendiri sempat membuat saya shock untuk beberapa hari, saya mencoba merasionalisasi pikiran yg berkecamuk dalam diri dengan setelah menonton film itu dgn berkata, “well, itu cuma propaganda amerika.. bla-bla-bla…”

    Tapi hati saya masih juga ragu, bagaimana kalau sayalah yg jadi salah satu dari mereka? Entah itu jadi H, atau Younger, atau bahkan Agen Brody. Mungkinkah saya melakukan hal yg berbeda dari yg telah mereka lakukan? atau malah saya sendiri akan melakukan hal yg lebih buruk? Somethings is better left unsaid.

    Dan untuk #obsat dan @Aburizalbakrie.. Well, kemaren malam ada ribut-ribut di twitter tentang hal itu antara @gm_gm dan @wimar, yang mana si wimar bilang kalau tempo dan detik tdk netral perihal masalah ARB dan terkesan telalu membantu kerja PR si Abu..

    Sementara sebaliknya si gm menyatakan kalau media tidak berniat membantu si ARB, hanya saja media akan menyampaikan sesuatu itu ‘apa-adanya’, semua yg terjadi di #obsat tanpa mengedit ini-itu, sesuai dengan prinsip kejujuran media, meski yg disampaikan oleh Arb adalah sebuah kebohongan tetap akan disampaikan.

    Well, kalau boleh jujur ini mengingatkan saya akan olokan a la advertisement, “kau bisa saja menipu orang dengan fakta hanya saja kau mesti tau bagaimana caranya”, dan tiba-tiba saja salah satu verse dari film V for Vendetta terputar kembali dikepala saya.

    “Artists use lies to tell the truth, while politicians use them to cover the truth up.” -Evey Hammond; V for Vendetta.

    –0–

    Well said, Mas. You made your point very well.

  8. Wijaya says:

    Well, saya rada shock juga baca postingan ini. Soal teror no.1 saya pernah ngalamin juga waktu nge-kost dulu, masih bujangan, masih muda. Percayalah, rasanya sangat tidak nyaman. Saya lihat masih lebih parah kasusnya bangaip klo sampai 11 orang…!! Lha saya aja sebagai saksi, tetangga kamar juga sempet stress ngedengerin begituan min seminggu 2 kali…. Untung saat itu saya belum punya anak. Klo dah ada anak, bisa saya tendang tuh pintu kamar…. Soal ARB saya dah muak dan gak bisa ngomong lagi. Biarlah beliau menuai badai dari angin yg ditebarkannya….nanti. Kalaupun tidak ada, ya mungkin di akhirat atau kehidupan selanjutnya, beliau akan terima akibatnya….

    –0–

    Cepat atau lambat, saya mah percaya ARB akan menuai apa yang beliau telah tanam.

  9. Teror ke-3 sungguh menyedihkan. Lumpur Lapindo telah menerror masyarakat Sidoarjo.

    –0–

    Iya Mas Dewo. Sekampung Sidoarjo di teror lumpur. Se-Indonesia, diteror tidak adanya akuntabilitas dari Lapindo.

  10. hedi says:

    Saya menepikan teror #2 & #3, tapi soal #1 sangat berkesan buat saya, entah kenapa πŸ˜€

    –0–

    Mungkin karena belum mengalaminya langsung :)
    (*atau malah karena sudah mengalaminya langsung πŸ˜€ *)

  11. edratna says:

    Baca postinganmu kok ikut pusing..ikut merasa terteror…
    Ahh..ahh…makanya aya jadi males mendengarkan diskusi segala macam….karena jadi “agak emosi”

    –0–

    Maaf yaa Bu kalau jadi pusing :)

Leave a Reply