Perang Antar Raksasa (Antara Lidah Dengan Mata)

Saya mau cerita ini sebenarnya di Laboratorium Bangaip. Sebab bersifat teknis dan condong pada pekerjaan. Tapi karena terlalu banyak nama yang harus disamarkan, maka lebih baik diceritakan di blog bangaip saja deh :)

Ini cerita soal kopi. Saya sendiri sudah tidak lagi meminum kopi (kecuali kepepet), maka itu saya bisa cerita dari sudut pandang yang berbeda. Yaitu dari sudut pandang peminum teh. Hehehe.

Ceritanya begini;

Di pabrik tempat saya bekerja itu selalu ada vending machine di setiap lantainya. Yaitu mesin penyedia makanan ringan dan minuman jenis tertentu. Mesin penyedia makanan ringan, bentuknya kotak besar. Tingginya hampir dua meter. Dengan lapisan kaca tembus pandang sehingga kita bisa melihat jenis makanan apa yang di jual di dalam mesin tersebut. Makanan-makanan tersebut dapat kita pilih sesuai nomor dan dengan memasukkan uang koin sejumlah tertentu mesin tersebut akan menyediakan makanan yang kita pilih. Sama halnya dengan mesin penyedia minuman. Mesin itu pun bekerja dengan cara yang sama. Hanya produknya yang berbeda. Dan disinilah ceritanya dimulai.

Mesin penyedia minuman, menyediakan berbagai minuman. Umumnya minuman panas. Diantaranya ada air panas (untuk teh atau sup), kopi, susu, serta coklat. Mesin ini cukup aneh. Sebab banyak rekan kerja saya berbondong-bondong pergi ke lantai empat hanya untuk mengambil kopi. Kata mereka (para peminum kopi), mesin di lantai empat lebih enak menyediakan kopinya. Campurannya lebih mantap. Kopinya lebih nikmat.

Saya bukan peminum kopi. Saya tidak tahu nikmatnya rasa kopi. Jadi saya sama sekali tidak mengerti mengapa mereka rela naik tangga atau lift hanya untuk mengambil segelas kopi. Saya pikir, karena mesinnya sama dan dari pabrik penyedia kopi terkenal yang sama, maka harusnya mampu menyediakan hasil yang sama.

Namun sekali lagi; saya bukan peminum kopi. Jadi saya pikir, teori saya di atas amat sangat mudah terbantahkan.

Ketika makan siang bersama teman-teman, saya bawa topik iseng-iseng ini sebagai bahan diskusi ringan sambil mengunyah makanan. Diantara teman makan siang saya, ternyata ada seorang dari departemen Sumber Daya Manusia. Dan topik makan siang mengenai mesin kopi yang menyediakan hasil yang berbeda ternyata membawanya pada sebuah ide baru.

Oleh teman saya, si orang HR ini, obrolan iseng makan siang itu dijadikan ide sebuah acara dengan tema “The Battle of Giants”. Acaranya adalah mengundang pabrik-pabrik penyedia kopi raksasa untuk mempresentasikan kopi mereka di depan rekan-rekan pabrik kami.

Beberapa pabrik kopi dengan serta merta langsung ikut event iseng ini. Hanya dalam tempo beberapa hari saja, para pabrik itu langsung merespon dengan baik bahwa mereka akan serta merta ikut dalam kompetisi perang kopi.

Perang kopi?

Iya, perang kopi. Para penyedia kopi ternama itu, seperti Nescofi, New London, Green Hills, MoonBuck’s, Aristocrat (semuanya bukan nama sebenarnya) dan nama-nama besar lainnya datang ke pabrik kami. Mereka akan menyampur, menyeduh dan menyediakan minuman yang berasal dari biji kopi. Mempersembahkan yang terbaik kepada para buruh di pabrik kami.

Ini perang. Siapa yang dapat menyediakan kopi terbaik, dialah pemenangnya.

Mengapa disebut perang antar raksasa?

Beberapa pabrik penyedia kopi yang datang ke kantor kami memang berasal dari para pemain lama yang sudah memiliki bisnis kopi menggurita, bahkan mendunia. Contohnya MoonBuck’s, yang punya gerai kopi di mana-mana. Diantara pabrik kopi raksasa lainnya, bahkan mengusung konsep ‘kopi cinta bumi’. Jadi, mereka tidak hanya menyediakan kopi, namun juga memberikan gelas untuk meminum kopi yang dapat menyimpan panas dengan dingin dengan baik dan nyaman digenggam (akibat dibuat dengan desain yang baik serta didukung teknologi nano) dan gelas itu pula dijamin tahan lama dan mudah dibersihkan. Sehingga tidak butuh banyak air untuk mencucinya. Raksasa kopi lainnya, datang dengan mengusung konsep ‘kopi manusia’; yaitu mengatakan bahwa kopi mereka mendukung fair trade. Fair Trade sendiri adalah adalah sebuah gerakan sosial yang terorganisir dan pendekatan berbasis pasar yang bertujuan untuk membantu produsen di negara-negara berkembang memperoleh kondisi perdagangan yang lebih baik dan mempromosikan keberlanjutan (sustainability). Nama lain dari perdagangan lintas batas yang jujur.

Pada intinya, banyak ‘raksasa kopi’ yang dagang ke pabrik kami. Tapi bukan itu sebabnya disebut Perang Antar Raksasa. Sebab toh ada beberapa warung kopi kecil yang baru mulai (start-up) ikut dalam perang kopi ini.

Disebut perang antar raksasa, karena ini adalah perang pecinta kopi dengan inderanya. Perang antara indera perasa yang digunakan untuk meminum kopi (lidah dan hidung) dengan iklan marketing (iming-iming gelas bagus, humanisme, nama besar, branding kuat, dsb). Perang ini bukan hanya perang antara para pembuat kopi, melainkan juga perang untuk penikmat kopi. Peperangan dalam memilih prioritas dalam meminum kopi yang nikmat.

Namun, yang menarik di sini adalah melihat langsung peperangan yang adil antara David dengan Goliath industri kopi.

Kok bisa? Bagaimana caranya berperang dengan raksasa branding bisa adil?

Gampang. Jawabnya adalah “blind test”. Test yang tidak melibatkan apa-apa kecuali pecinta kopi dan kopi yang akan diminumnya.

Untuk kopi hitam, 700 relawan dari sepuluh negara bagian bersedia mencicipi kopi dari berbagai pabrik dalam cangkir putih biasa. Cangkir itu polos. Isinya hanya cairan kopi hitam. 700 manusia itu tidak tahu mereka minum dari kemasan apa. Mereka pun polos kembali ke khittahnya. Pecinta kopi dengan gelas kopinya.

Untuk kopi dengan campuran tesnya lebih unik. Relawan penguji ditutup matanya. Mereka diberikan gelas-gelas kecil dengan ukuran yang sama. Diminta menilai, mana yang paling enak.

Hasilnya bagaimana?

Setelah uji coba yang menyenangkan ini (*Semua orang bergembira. Pabrik kopi dapat feedback langsung mengenai produknya. Konsumen dapat kopi gratis yang enak*) kami mendapat hasil yang sungguh mengejutkan sekali.

Ternyata para raksasa kopi kalah telak. Yang menang, ternyata sebuah warung kopi kecil yang memulai usahanya sekitar 3 tahun lalu di sebuah simpang dekat pabrik kami. Yang lebih mengejutkan adalah produk Moonbuck’s, gerai kopi raksasa, hanya disukai oleh 3 orang (dan mereka langsung menutup gerainya di kantin pabrik kami).

Menarik. Dari 700 relawan, 300 orang lebih diantaranya memilih kopi yang dibuat oleh sebuah warung kopi kecil yang mangkal tidak jauh dari lokasi kami bekerja. Ini baik. Bukan karena alasan underdog selalu dapat simpati. Melainkan adalah akan tercipta iklim menumbuh-kembangkan bisnis baru. Setidaknya, bisnis kopi kecil yang baru berjalan itu.

Mengapa ini bisa terjadi?

Ada banyak teori (yang dibicarakan ketika makan siang antara saya dan rekan-rekan kerja beberapa hari sesudah acara ngopi jamaah ini) muncul dalam menjelaskan mengapa sebuah usaha kopi kecil tiba-tiba mendapat dukungan publik. Diantaranya adalah;

  • Pecinta kopi adalah manusia yang mencintai kopi. Mereka tahu kopi yang bagus dan yang tidak.
  • Kopi yang enak tanpa didukung kesempatan untuk dikenal publik, tidak bisa berkembang penjualannya
  • Harus ada manusia yang menceritakan kejadian perang kopi ini (*Bukan, ini bukan tugas saya. Sebab di web internal sudah diceritakan peristiwa ini :) *)

Moral cerita;

Apapun yang saya ceritakan di atas, tidak ada hubungannya dengan kebiasaan saya minum teh saat ini. Hehehe…

This entry was posted in cerita_kerja, sehari-hari and tagged , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Perang Antar Raksasa (Antara Lidah Dengan Mata)

  1. hedi says:

    saya peminum kopi, tapi ga rewel. Pokoknya asal ada rasa kopi, ga terlalu manis, ya cukup lah segelas per hari 😀

    –0–

    Kopinya apa mas? :)

  2. Amd says:

    Hi Tech versus Hi Touch ini ceritanya ya Bang? Yah, kadang orang mangkal di coffee shop besar tujuannya kan tidak sekadar menikmati kopi, melainkan lebih ke aktualisasi diri, ngeksis… Sedang perkara rasa, akhirnya kembali ke lidah masing-masing. Karena soal rasa, lidah nggak bisa boong *kayak iklan mi instan*

    Anyway, katanya kopi luwak diharamkan…

    –0–

    Hehe, lidah emang nggak bohong, Med :)

    Kopi luwak diharamkan karena luwaknya e’e’ setelah begadang di kafe. Mengandung alkohol 25%

  3. bangsari says:

    saya aslinya pecinta kopi karena didikan simbah dari kecil. tp jadi pecinta air putih karena efek insomnia kopi. btw, setiap akhir pekan tetep ngopi ding.

    –0–

    Akhir pekan butuh insomnia, Kang? 😀

  4. Fortynine says:

    3-5 gelas (sekali lagi: GELAS, bukan CANGKIR) sehari kopi, konon bisa turut serta membunuh saya dengan berbagai efeknya. Namun berhubung urusan mati ada yang ngatur, jadi saya nikmati saja.

    mau kopi merek ini kek, itu kek, tokek kek. Yang penting kopi. He he he

    Kalau saya ikut di ujicoba tersebut lantas memuji dan menyukai segala jenis kopi yang disorkan itu, kira kira bagaimana reaksi dari tim penilai??? :mrgreen:

    daripada mengharamkan kopi luwak, lebih baik meredominasi harganya yang auzubillah

    –0–

    Hahaha, kalau itu saya nggak tahu Rid. Mungkin kamu akan diangkat jadi tim juri juga? Hehehe

  5. dodo says:

    kalo gak kopi item bagi saya kurang manteb bang. Jadi kecenderungannya kopi kalo pake merk berarti tidak enak
    *hehe..ngawur banget*

    –0–

    Hehe, teori baru tuh. Menganulir tesis merk=jaminan. Hihihi

  6. mas stein says:

    jadi teringat artikel soal tester kopi, ndak nyangka saja kalo nyruput kopi yang cuma seperti itu bisa dijlentrehkan jadi sebuah ritual yang njlimet. buat saya minum kopi ya kapal api, dengan sedikit gula, bukan fanatik atau apa, lha mampunya beli itu :p

    yang jelas saya ndak hobi kopi instan, apalagi yang sudah campur susu, moka, dkk, terlalu manis dan terlalu banyak rasa macem-macem.

    kopi hitam yang cuma dicampur sedikit gula kalo buat saya sampe dingin pun tetep bisa dinikmati (dan ini masih saya nikmati sampe sekarang, bikin kopi sore habisnya pagi) tapi kalo yang manis begitu dingin sudah ndak enak lagi.

    ealah, saya kok malah nggedabrus kayak ngerti soal kopi saja :p

Leave a Reply