Terjemahan ‘My Penis Is Big’ Dalam Bahasa Indonesia

(*Tokoh bernama Jali tidak menginginkan nama panggilan aslinya disebut sebab kelihatannya saya sudah menulis mengenai beliau di beberapa tulisan terdahulu. Banyak*)

Saya mau cerita sedikit ahh. Pengalaman akhir minggu. Kejadiannya sih masih baru. Sekitar dua minggu lalu. Pusing akibat beberapa situasi ajaib tengah melanda, saya putuskan jalan-jalan ke rumah sahabat.

Sahabat saya, sepasang suami istri seniman, punya anak perempuan yang baru beranjak dewasa. Kata orang-orang, ABG, Anak Baru Gede. Seorang remaja putri cantik dan cerdas dalam proses pubertas. Namanya, ahh panggil saja Nina.

Sepasang sahabat saya ini bilang bahwa akan menghadiri pesta lebaran di sebuah rumah yang jaraknya kira-kira lima belas kilometer dari rumah mereka. Saya di undang. Namun karena si suami istri itu boncengan naik motor pergi ke pesta, tinggallah saya, Nina dan Riri, sahabatnya yang juga ABG, naik kendaraan umum menuju pesta tersebut.

Alhasil, saya dan dua ABG ini dengan serta merta harus naik bis.

Saya sih ikhlas saja naik bis dengan dua ABG. Tapi dalam hati, yaa ampun, sumpah mati saya susah menahan tawa. Itu anak, dua orang, tidak henti-hentinya bicara telepon keluaran terkini yang mereka miliki.

Di sisi lain, saya kagum dengan kemampuan anak sekarang umur 11 tahun dalam merespons teknologi. Bayangkan, dua remaja putri ini sudah bicara mengenai jailbreak, cara membuka akses data administrasi utama (root) dalam telepon mereka. Bukan hanya itu, mereka juga sudah bicara teknologi kekuatan megapiksel dalam kamera telephone bahkan hingga perangkat lunak peer to peer dalam mengunduh lagu-lagu favorit mereka (lalu dijadikan ringtone).

Edan. Anak sekarang kok yaa pinter-pinter amat?

Di balik semua itu. Sih. Mereka tetap saja bocah. Di halte, ketika menunggu bis, si Riri menyetel musik dari telepon genggamnya keras-keras. Nina menggoyang-goyangkan kaki dan kepalanya mengikuti hentakan lagu disko. Saya? Hehe, saya pelan-pelan agak minggir sekitar tiga meter ke samping ketika banyak kepala menoleh kami. Saya malu euy, udah bangkotan masih nongkrong sama ABG. Hihihi.

Di Bis. Nina dan Riri duduk sebangku deretan kiri. Saya duduk di samping mereka. Deretan kanan. Kami hanya dipisahkan oleh gang empat puluh centimeter tempat hilir mudik lain penumpang. Mata saya lurus ke depan. Kadang lihat kanan. Pemandangan jalan. Tapi pas lihat kiri, buset dah! Ternyata dua anak ABG ini sedang sibuk berfoto ria. Kadang-kadang gantian. Kadang bersamaan. Mukanya, tubuhnya, dan kadang pura-pura merengut atau mengembungkan mulut pipi seakan penuh udara, semuanya penuh gaya. Atas nama eksistensi yang akan mereka pajang di dunia sosial media. Saya kembali lihat ke kanan. Garuk-garuk kepala sambil cekikikan.

Hahaha… Ada-ada aja ABG masa kini.

Tiba-tiba, ketika berfikir begitu, saya terhenyak. Buset dah, apa gua bukan ABG lagi yaah? Kalo iya, pasti gua udah ikutan tuh.

Yaelah, ternyata saya sudah merasa tua. Hahaha… Ampuun deh.

Akhirnya kami tiba di rumah pesta. Makan ketupat, kolak dan panganan lainnya dengan bahagia. Malamnya, dua ABG ini pulang ke rumah diantar oleh orang-tuanya masing-masing. Di jalan, saya bengong sendirian dalam bus kota. Memikirkan yang pernah saya lakukan ketika ABG dulu.

Hehe… Nostalgia.

(*Ok cerita pendeknya usai. Di bawah ini, saya akan cerita yang lebih panjang. Nostalgia. Biasa lah. Eksibisionis. Buka-bukaan membanggakan diri sendiri. Jagoannya saya. Yang hebat, saya. Yang bijak, saya. Pokoknya, semuanya tentang saya. Nggak tahu malu. Hehehe… Silahkan baca kalau masih berminat. Kalau tidak, well toh sudah diperingatkan. Hehehe*)

Apa yang saya lakukan waktu ABG?

Entah apa yang dilakukan ABG, anak baru gede lainnya pada masa itu. Yang pasti apa yang saya lakukan waktu masa remaja memang terbilang cukup tolol kalau dibandingkan anak-anak lainnya.

Hari-hari saya membosankan. Umumnya hanya berisi sekolah pagi di sekolah umum, lalu siangnya sekolah lagi di madrasah. Malamnya, kalau tidak mengaji yaa latihan silat. Begitu terus setiap hari. Bosan.

Waktu teman-teman bermain hujan-hujanan dalam deras membuat rakit dari batang pohon pisang dan lalu melayarinya di danau depan rumah, saya hanya bisa menatap termangu dari balik kaca jendela. Banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Hiburan saya saat itu biasanya hanya membaca buku Lima Sekawan karya Enid Blyton sambil minum coklat panas.

Sejak masuk Sekolah Menengah Pertama dan kenal Jali, hidup saya memang berubah. Saya punya alasan di hadapan ibu ketika beliau terkejut saya ketahuan bolos sekolah dan kedapatan seragam penuh bau rokok di mana-mana. Saya bilang “Bantuin Pak Rusdi, jaga aer”. Sebab Pak Rusdi itu selain teman Ibu sesama guru, seorang perokok berat, juga punya usaha sampingan jual air tawar bersih untuk bilas mandi dan minum (yang cukup langka bagi warga kampung pesisir pantai macam kampung kami Cilincing. Kami mandi pakai air asin, air laut. Sebab itulah air dari sumur kami. Agar rambut tidak kuning, setelah habis busa sabun terakhir dari tubuh, kami membilasnya dengan air tawar. Cukup satu gayung saja. Biar hemat). Yang paling penting, Pak Rusdi itu bapaknya Jali. Entah Ibu percaya apa tidak kebohongan saya untuk menutup-nutupi belajar merokok. Ibu tidak pernah curiga kalau saya bilang “belajar kelompok sama Jali”, padahal kami berlatih tinju dan lalu merokok setelahnya.

Dari Jali, saya kenal teman-teman lainnya. Sesama ABG. Anak-anak Baru Gede kampung kecil nelayan pinggiran bernama Cilincing.

Sebagaimana ABG berkategori miskin lainnya, kami jelas cemburu dengan ABG-ABG kaya yang datang ke sekolah naik vespa bapak mereka. Jangankan pada mereka yang memiliki kendaraan bermotor, pada remaja sebaya yang mampu beli mie goreng ketika jajan siang istirahat sekolah saja kami cemburu. Kalau ditanya apa sebabnya, jawabnya simpel; Lapar dan tidak mampu beli.

Orang miskin itu banyak. Tapi kalau sudah miskin cemburuan pula, itulah kami. Hahaha.

Entah sial atau untung, sebagai ketua OSIS (sebuah organisasi sekolah yang menurut saya tidak ada gunanya selain hanya memberikan akses kepada beberapa elitnya untuk mendapatkan fasilitas lebih baik ketimbang siswa lain yang harus menjual jiwa demi jadi perpanjangan tangan penguasa seperti kepala sekolah atau Guru Bimbingan Konseling, hehe), saya mendapatkan akses tak terbatas ke perpustakaan.

Saya di perpustakaan. Ketika Jali dan teman-teman saya yang lain sibuk nongkrong di ujung gang ketika bolos sekolah demi mencari nafkah

(*bisanya caranya agak tidak lazim, jadi ‘boy’. Disuruh preman dewasa beli anggur agar mereka bisa mabok sepuasnya. Contoh; ketika preman dewasa bilang “boy, beliin gua anggur”, biasanya si preman dewasa ini tidak memberikan uang untuk membeli Anggur Cap Orang Tua. Maka Jali dan teman-teman saya lainnya mengompas orang yang lalu-lalang di gang tersebut untuk meminta ‘uang lewat’ dengan paksa. Alasannya, “tambah-tambahin lah buat minum!”. Jali harus melakukan itu, sebab dialah si ‘boy’. Kalau yang diminta uangnya marah, Jali langsung bilang bahwa itu perintah dari preman dewasa dan apabila tidak diberi maka semua orang akan mendapat banyak masalah. Kalau uang hasil meminta paksanya sudah dibelikan anggur dan disetor ke preman dewasa namun masih ada lebih, maka saya, Jali dan teman-teman lain sesama ‘boy’ lainnya nikmati bersama-sama dengan membeli rokok dan makanan*).

Tapi bukan berarti saya tidak memiliki masalah di perpustakaan. Jali dan teman-teman ada tugasnya masing-masing. Mereka berharap bahwa dengan akses dan waktu di perpustakaan, saya mampu menemukan cara agar kami semua bisa bebas dari tirani kemiskinan sehari-hari. Itu masalah tersendiri.

Gila, gimana caranya biar nggak miskin? Emang gampang kali nemuinnya?

Saya baca buku-buku finansial. Dari teori-teori ekonomi yang sama sekali tidak dimengerti buat otak saya yang kecil ini, hingga ke masalah-masalah ekonomi yang kelihatan sepele macam harga cabe sehari-hari.

Setiap hari ada koran langganan sekolah datang. Saya baca iseng-iseng. Dari kartun hingga berita kematian. Di sana, di pojok tertentu. Menyempil. Ada tabulasi data aneh. Isinya grafik. Kadang naik, kadang turun. Ada angka. Ada simbol. Ada singkatan. Lama-lama, saya baru tahu kalau itu kurs valuta asing.

Hidup di dekat pelabuhan Tanjung Priok, membuat saya berfikir bahwa ada kolam tak terjamah dalam mencari nafkah. Namanya; ‘pelaut internasional’. Logika sederhana anak SMP saya berkata, dimana ada pelaut internasional pasti ada valuta asing.

Kami lalu berhenti jadi ‘boy’. Boy itu sarkas. Tahun 80-an, dimana film Catatan si Boy adalah representasi anak orang kaya yang tidak pernah pusing makan apa hari itu atau tidak pernah bertanya apakah malam ini bisa tidur bila atap rumah bocor kehujanan. Boy itu mimpi. Mimpi orang susah pinggiran macam kami. Kami bukan Boy, yang punya sidekick lelaki kemayu bernama Emon dan mungkin karena kaya, digila-gilai wanita. Kami, remaja tanggung, yang umumnya berakhir di pelabuhan. Sebagaimana bapak-bapak kami yang miskin melaut pergi.

Sore itu, di depan Pelabuhan Tanjung Priok Jali menatap saya, “Gimana caranya kita dapet dolar?”

“Kan banyak bule tuh, lo tawarin cewek aja”

“Bego luh, cewek dari mana? Kita aja nggak punya pacar. Lagian kalo punya pacar, amit-amit dah gua tawarin ama bule”

“Cewek kan banyak!”

Saya memberitahunya cara negoisasi dengan sopir angkutan kota. Beberapa orang sopir itu diantaranya tetangga kami. Saya pula memberinya bekal dalam kertas lecek beberapa patah kata dalam bahasa asing (yang saya lihat di perpustakaan sekolah) sebagai sedikit bekal panduannya dalam berkomunikasi ala Tarzan.

“Gini Jal, kan banyak tuh rombongan pelaut Amerika. Kalo turun kan gerombolan. Lu liat aja yang mukanya masih culun-culun. Jangan yang tua-tua. Reseh mereka”

“Trus gua apain? Gua palak! Lu bawa piso ga?”

“Yeee, jangan. Jangan kita rampok. Ditanya aja baek-baek, mao ga ama cewek. Pelaut kan berbulan-bulan di laut. Di kapal, isinya cowok semua. Pasti bijinya sakit, kepenuhan. Kalo kita bantuin ngosongin, kita bisa dapet dolar. Sekaligus dapet pahala, kan sakit tuh orang bisa pada ilang”

Tentu saja Jali sama sekali tidak percaya konsep saya akan surga neraka. Apalagi soal dosa dan pahala.

Namun akhirnya ia setuju juga. Sebagai permulaan, Jali saya ajak bersama. Ada empat pelaut dari kapal berbendera Kanada baru turun. Masih muda. Saya minta Mang Kosim, sopir mikrolet M-14 jurusan Cilincing- Tanjung Priok untuk berjaga-jaga dekat kami. Iming-imingnya, empat orang ini akan bayar penuh sebanyak penumpang yang biasanya muat berjubel di mobilnya. Pulang pergi.

Dan benar saja, empat pelaut muda ini langsung setuju dengan ide kami ketika saya bilang dengan sejumlah dollar saya bisa mengantarkannya kepada gadis-gadis asli Indonesia yang mampu membawa mereka mencapai nirwana. (*Kalimat gadis dan nirwana memang amat bisa diperdebatkan. Tapi persetanlah! Ini toh karir dagang pertama yang saya miliki*)

Akhirnya setelah sebentar negoisasi harga kami meluncur ke lokalisasi, yang untungnya tidak jauh dari situ (*Jadi kalau ada apa-apa, banyak teman saya yang akan back-up. Hehe. Seperti kata Amy Winehouse “you know I’m not good”, maka untuk jadi anak nakal harus punya pendukung demi bertahan hidup*). Dekat dinas pemadam kebakaran, mobil Mang Kosim berhenti.

Empat pelaut muda, Jali dan saya turun. Tugas Jali pertama adalah mengantarkan para pelaut-pelaut ini minum tangkur buaya. Minuman keras yang katanya dicampur dengan alat kelamin buaya jantan demi meningkatkan kekuatan gairah bercinta. Tugas saya, tentu saja melobi Mamih, penanggung-jawab pelacur-pelacur muda yang umumnya berasal dari pantai utara Jawa itu.

Mamih biasanya adalah wanita paruh baya. Bertanggung jawab terhadap kualitas service anak asuhnya. Sebagaimana germo lainnya, ia jelas-jelas serakah. Gimana nggak serakah, nggak ngangkang kok minta uang. Pura-pura pandir ketika anak asuhnya menerima lendir. Tapi hell yeah… Toh saya tidak lebih baik daripadanya. Saya pun berdusta kepadanya, bahwa semua yang saya lakukan sore itu hanya ‘balik modal’ belaka.

Mamih menatap jijik. Mungkin berlum pernah sepanjang hidupnya berbisinis selangkangan manusia dengan anak di bawah umur. Saya tidak peduli dengan sinar matanya. Malam itu saya dan Jali harus pulang dengan dollar.

Dan memang kami dapat apa yang kami inginkan. Walaupun sempat seorang pelaut mabuk bertanya pada Jali apa terjemahan My penis is big dalam bahasa Indonesia sebagai upaya merayu gadis yang akan dikencaninya. Jali hanya menatap saya, sebab kalimat itu tidak ada di kertas terjemahan kucel yang saya beri. Atas nama service, saya terjemahkan kalimat itu kepada gadis yang ia tengah peluk, “kamu cantik sekali”.

Dollar demi dollar kami dapatkan setelah malam itu. Saya jadi jarang mengaji apalagi latihan silat. Sedikit demi sedikit, kami kenal tipikal pelaut lelaki bule. Mulai dari bule Jerman, bule Filipina hingga bule Madagaskar. Semua bule pelaut umumnya pernah mampir ke pelabuhan Tanjung Priok. Wilayah area bisnis kami. Namanya lelaki ternyata semuanya sama. Kalau terlalu lama jauh di mana hingga sakit bijinya, pasti doyan wanita.

Uang yang kami dapatkan, didagangkan dengan valuta asing lainnya yang grafiknya naik selama 30 hari dengan stabil. Terus begitu. Alasannya, grafik itu setelah di analisa, pasti paling lama dua atau tiga bulan naik turunnya. Tapi pada intinya, sebenarnya sih demi menghilangkan status sosial bernama miskin yang berefek pada urusan perut sehari-hari.

Boy demi boy, melihat kenyataan ini. Niatnya, ikut-ikutan si Arip ama Jali yang kalau beli rokok bungkusan melulu sekarang. Tidak lagi batangan. Makan pun sudah bisa di warung padang. Bisa beli rendang. Naik derajat. Naik kasta. Di Cilincing cuma orang kaya yang bisa makan makanan Padang terus beli rendang.

Beberapa boy Cilincing pelan-pelan meninggalkan dunia preman dewasa. Ikut Jali. Tentu saja diam-diam. Takut dipukuli babak belur kalau ketahuan preman dewasa.

Jali cemas. “Kalo begini, kita bisa banyak saingan men. Tapi kalo kita rekrut semua kan nanti jatah kita dikit. Abang-abangan juga udah mulai curiga ama gua”. Referensinya terhadap kalimat ‘abang-abangan’ adalah para preman dewasa yang harus selalu kami panggil ‘Bang’ demi status penghormatan. Sialnya, kalimat itu pula yang seringkali jadi alasan mereka menindas boy-boy culun kecil kurus ingusan, macam kami.

(*BTW, saya dipanggil Bang gara-gara dulu dagang makanan keliling. Mirip tukang bakso. Jadi bukan gara-gara keren apalagi jago. Hihi*)

Tidak kuat saya menghadapi pertanyaan Jali yang banyak dan semuanya fakta. Bingung euy. Gimana jawabnya?

Maka dalam bimbang satu-satunya jalan yaa ke… Perpustakaan. Lagi-lagi berdasarkan logika saya yang cupet, di sana semuanya dimulai di sana pula semuanya harus berakhir.

Dalam masa gamang di perpustakaan dan ketika semua operasional di pegang Jali sehari-hari demi ‘mencari nafkah’, bacaan saya bukannya buku-buku finansial, e-eh malahan baca buku-buku Sarekat Islam dan Tan Malaka. Yang terakhir, saya dapatkan dari seorang guru yang diam-diam suka memberi buku-buku tipis yang kelihatannya dicetak entah dimana itu (*Yang pasti, bukan terbitan Balai Pustaka, pencetak umum perpustakaan sekolah kami*).

Seminggu di perpustakaan, saya kembali lagi ke Jali. Muka saya keruh. Capek. Di rumah juga kurang tidur. Baca. Baca. Dan hanya membaca kerjanya.

“Jal, kita nggak bisa begini terus. Cepat atau lambat, kita pasti bangkrut”

“Yaelah. Itu sih kan yang gua bilang dari kemaren-kemaren. Usul lo apaan dong?”

“Kita harus merdeka!”

Jali bengong. Lama sekali. Dan saya meyakinkankannya sekali lagi. Bahwa Cilincing harus dimerdekakan dari pemerintah Republik Indonesia. Merdeka adalah satu-satunya jawaban. Kalau kami tidak bayar pajak lagi ke Republik Indonesia, dari uang itu pasti kami bisa membuat kolam penampungan air hujan sendiri. Jadi semua warga dapat air bersih. Kalau merdeka, kami kan bisa bikin warung Padang sendiri?

“Gimana caranya?”

“Gampang! Gua udah baca Sarekat Islam”

“Sarekat islam, maksud lo pergi haji bila mampu?”

“Bukan, itu mah laen lagi. Sarekat itu sekolahnya orang-orang pinter. Sekolahnya Semaun, Kartosuwiryo dan Soekarno. Lu tau kan Soekarno? Yang lepboy itu? Tapi mereka bentrok. Sial tuh. Nah kita jangan bentrok kalo mao merdeka. Kalo kita merdeka, pasti kita bisa nggak miskin lagi. Kampung kita pasti berjaya”

“Merdeka? Lu gila! Gimana caranya?”

“Ada dua. Satu lewat pengakuan internasional, nah kita kan punya client-client internasional nih di Pelabuhan Tanjng Priok. Kita barter aja ama mereka. Tiap joget ama maen gadis-gadis kita, mereka dapet diskon. Tapi mereka harus tempel pamflet kemerdekaan kita di negaranya. Dulu Sukarno juga gitu. Cuman bedanya ama kita, dia mah ganteng, jadi nempelinnya di cewek-cewek. Nah satu lagi, lewat perjuangan bersenjata. Kita harus beli senjata, ngajarin boy-boy baru nembak. Kalo perlu abang-abangan di ajak juga. Kita kan butuh orang yang badannya gede”

Jali berfikir lama sekali, “Duit dari mane beli senjata, rip?”

“Itu mah gampang. Kita rampok aja Bank BRI yang ada di samping stasiun Tanjung Priok. Duitnya kita beliin senjata”

“Gimana caranya ngerampok Bank BRI”

“Itu mah gampang… Nanti kita pikirin sama-sama. Buat apa kita punya Jumari. Dia kan pinter. Kita tanya aja ama dia. Okeh?”

Jali menatap saya lama. Lama sekali. Hingga akhirnya ia mengangguk setuju.

Sejak hari itu, malam-malam kami penuhi dengan rapat dan hanya rapat. Satu-satu, ABG kampung kami datang ke rapat itu. Anehnya, kami tidak membicarakan kemerdekaan Cilincing. Kami hanya membuat siasat, bagaimana cara merampok Bank BRI dengan baik dan benar. Hanya beberapa orang yang tahu kalau hasil perampokan akan dibelikan senjata. Rapat-rapat rahasia terjalin dalam ruang kecil di samping tangki air bersih milik Pak Rusdi. Penuh asap rokok. Kadang-kadang kalau ada uang, pakai anggur murah oplosan. Menyiksa paru-paru. Namun sebenarnya, yang terjadi adalah paru-paru remaja kami lebih tersiksa dengan ide-ide revolusi. Kami harus merdeka!

Sebulan lebih kami merencanakan dengan matang, bagaimana menyewa senjata dan peluru yang akan digunakan dalam merampok Bank BRI. Berpikir rencana matang menggunakan ojek yang mampu melarikan kami bagai setan ketika diburu polisi. Sebulan lebih kami mencari kontak boy-boy yang kakak atau bapaknya polisi dan tentara. Niatnya, beli peluru dan sewa pistol sementara. Sebulan lebih kami tenggelam dalam rencana-rencana gila.

Suatu hari, beberapa hari menjelang hari-H. Saya dan Jali duduk di depan beranda rumah Ibu saya. Kami sedang menikmati es buah. Hari itu siang panas sekali. Biasa lah, ini Cilincing. Kalau nggak panas, bukan Cilincing namanya.

Ibu memanggil dari dalam. Saya diminta duduk di kursi meja makan. Di ruang tengah. Saya menolak. Saya bilang, ada Jali di luar. Kan tak mungkin meninggalkan sendiri. Tidak sopan. Ada tamu kok ditinggal.

Ibu jawab, “Panggil juga Jali ke dalam”

Tidak lama, kami berdua bergidik mendengar Ibu bicara.

Entah bagaimana, rupanya Ibu sudah tahu bahwa sebentar lagi saya dan Jali akan merampok bank. Saya curiga jangan-jangan adik saya si Gugun yang membocorkan rencana ini ke telinga Ibu.

Ibu tidak marah. Beliau memanggil Bapak dan Ibu Rusdi yang rupanya sudah ada di dapur menunggu. Jali terlihat kaget ketika orangtuanya masuk ke dalam ruang makan kami.

Astaga, rupanya mereka sudah tahu semuanya.

Tidak lama kemudian, ada bapak-bapak setengah baya masuk ke rumah kami. Ibu berkata lembut pada saya dan Jali, bahwa Ibu dan juga orangtua Jali, adalah nasabah bank yang akan kami rapok. Apakah kami tega mengambil hak mereka yang sudah bekerja keras. Bapak-bapak sial yang baru datang itu, ternyata adalah satpam bank BRI. Ia cerita bahwa ia punya empat anak di rumah yang harus diberi makan. Anaknya yang paling kecil berumur empat tahun. Yang besar, SMP, sama seperti kami.

Masih dengan lembut Ibu bertanya, apakah kami akan menembaknya ketika ia melawan untuk mempertahankan diri dan kehormatannya nanti?

Saya dan Jali jongkok gemetar. Kami tidak bisa bicara apa-apa.

This entry was posted in bangaip, Orang Indonesia, sehari-hari and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

10 Responses to Terjemahan ‘My Penis Is Big’ Dalam Bahasa Indonesia

  1. nita says:

    makasih ye bang, sharing ceritanya… selalu menarik dan orisineel

    –0–

    Makasih kembali Mbak

  2. Guk says:

    Keren. Manusia banget.

    Memang mudah berniat dan merencanakan hal-hal “jahat” pada sebuah institusi. Merampok bank, menghancurkan negara, membenci agama, partai atau apapun… tapi begitu mengenal institusi itu sampai ke individu2nya, mengenal jalinan2 indah yang bakal rusak kalau kita meneruskan rencana jahat, kita jadi lembut dan mikir lagi…

    Disini hebatnya para tukang doktrin, bisa meyakinkan bahwa jatuhnya korban dimaklumi tuhan. Andai dulu Bangaip belajar agama dengan lebih tekun, mungkin bisa fasih menjanjikan surga pada Ibu, juga pada Orangtua Rusdi. Semua mungkin akan berubah pikiran dan jadi merestui, bahkan Pak Satpam juga bisa diajak kerjasama dalam perampokan :p

    –0–

    Hehe, sayangnya saya sudah susah di doktrin, Mas Teguh. Dulu waktu SMA yang parah. Pelajaran agama dan PMP nilainya merah terus. Haduuh

  3. Jardeeq says:

    Cerita yang menarik. Apalagi terjemahannya 😀

    ngerampok bank? Good idea…

    Saya paling “hebat” pernah jadi bandar judi koprok…

    –0–

    Ngrampok kan cuman ikhtiarnya Mas :)

  4. adipati kademangan says:

    perbedaan latar belakang dan keseharian seorang ABG akan mempengaruhi apa yang dilakukannya. bahkan ketika saya masih ABG pun ternyata juga melakukan hal yang aneh juga seperti keranjingan mIRC sampai pagi

    –0–

    Untung ga kecanduan masturbasi, Adipati. Kalau iya, dan dilakukan di muka publik. Agak repot juga yaah 😀

  5. edratna says:

    Membaca cerita Bangaip, seperti membaca cerita dari dunia lain…dan menyadari, betapa lurus dan datar nya jalan hidupku selama ini.

    Saat ABG tak banyak yang saya lakukan (saya mah penurut bang…..dan belakangan saya tahu, adik-adik iri sama saya karena ayah ibu setiap kali membandingkan mereka dengan kakak sulungnya ini), saya taat aturan, datang kesekolah sering paling pagi, naik sepeda..pulang sekolah langsung pulang, kalau ada kegiatan ekstra kurikuler, mesti lapor dulu sama ayah ibu. Benar2 nggak ada lonjakan…

    Setelah adikku ngeblog, saya baru tahu kenakalan dia (sayang sekarang tak aktif lagi nulisnya), padahal adik bungsuku ini masih kalah nakal dibanding kakaknya (perempuan). Adik bungsuku merupakan anak laki-laki satu2nya dikeluargaku…..ternyata setelah baca blognya ..dia bandel juga, saya bersyukur ibu alm tak pernah tahu, ibu bisa langsung sakit jantung kalau tahu.

    Setelah punya anak laki-laki (si sulung), waduhh…hati ini setiap kali jantungan….saya bingung menghadapinya, kalau harus nurut, takut nanti dia kayak perempuan. Akhirnya daripada saya stress, saya langganan psikolog…dan meningkat menjadi psikiater, hanya sekedar bisa curhat. Dan kata psikiater..”Anak ibu tak ada masalah..tapi ibu yang malah perlu psikiater”…hahaha. Tapi setelah dewasa (anak sulungku sudah kerja dan menikah), dia berkata…”Ibu, terimakasih, ibu selalu ada untuk saya…sehingga saya tak terjerumus pada hal-hal yang berbahaya.”

    Duhh hati ini terharu….
    Saya tak terbayang kalau punya anak ABG zaman sekarang, pasti lebih jantungan lagi…..

    –0–

    Kalau saya, pasti bangga punya Ibu seperti Bu Enny. Punya Ibu yang Guru SD sekarang aja di Cilincing saya udah bangga :)

  6. Wijaya says:

    Fiiuuuhhh…..
    Hahahaha….mantap bang!!

    *saya malah nangkap “ada cerita” lain yg sebenarnya ingin disampaikan, hihi*

    –0–

    Ada sih. Tapi… Hehehe… Biarlah tetap jadi rahasia kita berdua. Hehehe

  7. Riki Pribadi says:

    Kereeeennnnn…..
    Tp ngerampoknya jadi kan Bang?

    –0–

    Kalo jadi, mungkin saat ini saya nggak ngeblog Mas Riki. Mungkin akan jadi sebagaimana teman-teman saya yang lain, umumnya berakhir di kuburan atau penjara.

  8. kunderemp says:

    Serem banget euy.. pengalamannya Bangaip.
    Kagak pernah kepikiran buat ngerampok pas gue remaja dulu.

    –0–

    Untung itu Mas. Jadi nggak diomelin sama mamanya. Saya mah langganan diomelin, Mas

  9. Asli… benar-benar perjuangan hidup yg keren. Asyik nih kalau dibikin novel atau bahkan film.

    Jika cerita ini beneran terjadi di hidup Bang Aip, maka ini adalah pelajaran yg benar-benar paling mendebarkan.

    Salam

    –0–

    Saya ini termasuk kategori manusia yang sering f*cked-up. Cerita yang saya tulis kadang masih belum seberapa kalau dibandingin hal-hal bodoh lainnya yang saya pernah kerjakan (dan dengan sengaja tidak saya tulis). Saya sering melihat cermin ketika di WC dan bertanya, “Tiap orang punya jalan masing-masing. Kok saya begini yah?”

    Loh maaf Mas Dewo, saya jadi curcol begini. hehehe

  10. nDaru says:

    jiahahaha….barusan saya nonton Post Grad, di satu scene, Si ayah yang diperankan Michael Keaton bilang ke anaknya, hidup yang lempeng2 aja itu gak asik..mengingatkan saya pada omongonnya Opa George Loewenstein, Sebagian arti hidup adalah untuk mengalami senang dan susah. Hidup yang terus menerus bahagia, bukanlah hidup yang baik..Mungkin menjadi “boy” bukan pengalaman yang asik buat orang laen..tapi toh kalok dimaknai sebagai sebuah proses kehidupan, saya kira kok jadi asik2 aja

    –0–

    Jadi ´boy´ itu nggak pernah asik, Mbak. Tapi ketika tidak punya pilihan atau tidak bisa menciptakan pilihan. Yaah terpaksa deh.

Leave a Reply