Teman Lama

kau dan aku/hanya percaya dan setia/maka kita berdua bisa begitu
(Puisi Sobron Aidit di Paris 2001)

Salah satu pengalaman hidup yang sering saya syukuri adalah ketika bertemu teman. Baik itu teman baru, maupun bertemu dengan teman lama. Dua-duanya sama saja: Menyenangkan.

Tapi kali ini, saya mau cerita ketika bersua kembali dengan teman lama.

Banyak perjumpaan dengan teman lama, terjadi begitu saja. Disengaja maupun tidak, kadang mereka hadir tanpa alasan di depan mata. Kata orang, nasib. Kata saya, entahlah. Sebab tidak ada hal yang terjadi di muka bumi ini dengan sia-sia.

Pertemuan-pertemuan, kadang tiba dengan ajaibnya tanpa direncanakan. Seperti misalnya, ketika saya jengah dengan suasana sekolah di Depok, bersama Mupi memutuskan untuk naik ke Gunung Merbabu di tengah pulau Jawa sana.

Suasana gunung begitu memikat. Di puncaknya, kami sebagaimana para pendaki lainnya, merasa kecil ketika memandang lautan awan di atas ketinggian lebih dari tiga ribu meter di atas permukaan laut. Saya lupa Depok. Saya lupa tugas sekolah. Saya lupa dengan segala keresahan sehari-hari hidup di dekat Ibukota.

Dingin dan embun terasa begitu mistis bahkan tetap ada ketika akhirnya kami tiba turun di desa terpencil di kaki gunung tersebut. Saya dan Mupi menyandarkan tas carrier berat di tepi jalan yang berbatas lahan perkebunan penduduk sekitar. Pada masa itu jalan begitu sepi, mungkin hanya dilalui oleh kendaraan bermotor yang dapat dihitung oleh sebelah jari perhari. Kami duduk. Melepas lelah. Mupi mengambil teh dari termos. Saya menyulut sebatang rokok pelan-pelan.

Dari ujung jalan debu mengepul. Kelihatannya akan tiba kendaraan besar. Saya sudah siap-siap berdiri mau mencegat. Rencananya, ikut menumpang sampai Jogja. Menuju petualangan berikutnya. Mupi menahan, “Santai aja men. Ngeteh dulu” sambil memegang bahu saya.

Debu jalanan menguar dari roda-roda besar bis yang semakin mendekat. Saya menahan napas. Nampaknya malam ini tidak bisa makan gudeg di Malioboro. Bis semakin dekat. Wajah-wajah penumpangnya semakin jelas terlihat di balik jendela. Nampaknya letih sekaligus mengantuk. Di jendela tengah, salah seorang dari mereka menatap dengan bulatan mata besar sekali. Lalu ia teriak-teriak kepada temannya. Dari gerak mulutnya, saya bisa menangkap ia berkata “Hoyy, Bangaip… Bangaip.. Mupiii… Mupiii…”

Astaga, itu si Meta, adik kelas saya. Lah yang lebih parah lagi. Ternyata satu bis itu rupa-rupanya teman-teman sekolah saya di Depok. Buset, jauh-jauh di pedalaman. Naik gunung begitu tinggi, loh yaa kok ketemunya muka yang itu-itu juga.

Saya berdiri hendak memberhentikan bus. Mupi kembali menepuk pundak saya, “Udah biarin aja men. Kita ngeteh aja dulu”.

Saya menatap pasrah ke arah Mupi. Well, mungkin ia benar. Toh kami begitu jauh pergi memang niatnya hendak melupakan sejenak hingar bingar Depok. Mungkin ia benar. Sebaiknya saat ini, kami lebih baik sendiri.

Itu sekelumit cerita dari Merbabu. Walaupun sekilat, bertemu teman itu menyenangkan. Setidaknya, toh pendapat saya pribadi.

Kali ini, mari kita berpindah ke lokasi lain.

Pulang dari penelitian di Chiang Mai, saya seharusnya langsung kembali pulang ke Eropa. Entah kenapa, pesawat yang saya tumpangi mendadak bermasalah dan akhirnya kami harus mendarat di Taiwan. Buat saya tidak terlalu masalah sih. Saya belum pernah ke Taiwan. Dalam hati tidak bisa dibohongi, bahwa saya cukup gembira bisa diberi penginapan gratis oleh maskapai penerbangan di kota Taipei.

Hotel yang saya tumpangi malam itu, hanya untuk semalam saja. Sebab kami dipastikan bahwa besok sore sudah bisa terbang lagi menuju tujuan. Saya begitu gembira, ketika mengetahui bahwa penginapan yang bernama sedikit berbau Perancis ini terletak dekat rel kereta di distrik Songshan. Sebab artinya hotel ini dekat Taipei World Trade Center. Ahh bilanglah saya aneh, tidak apa-apa saya akan ikhlas saja. Sebab pada saat itu, sedang diadakan pameran motherboard komputer di seluruh dunia di Taipei WTC. Jadi sontak saya begitu gembira. Sebab saya akan memastikan diri ikut melihat-lihat pameran motherboard buatan Taiwan yang canggih-canggih itu.

Di tengah jalan esoknya menuju WTC, pagi di simpang ShiMin Boulevard sejenak membuat saya terkagum kagum. Wah keren juga, mirip daerah Mangga Dua Jakarta. Bedanya, di tengah kota ini melintang jalan bebas hambatan bertumpuk dengan rel kereta layang lintas distrik. Dan beda dengan Mangga Dua, di sini jelas lebih bersih berdasarkan pengamatan sekilas dan sepihak. Persamaannya, ada toko yang menjual alat kecantikan bernama ‘Buty Shop’. Rupa-rupanya salah tulis bahasa asing bukan monopoli orang Jakarta saja. Hehe.

Senyum yang merekah hanya karena melihat sejumput kalimat tak bertuan itu tiba-tiba menghilang ketika seorang laki-laki keluar dari balik pintunya. Saya garuk-garuk kepala. Kok yaa dari toko alat kecantikan wanita, keluar seorang pria yang mirip si Aco. Teman kecil pengajian saya ketika di Cilincing dulu.

Saya tahu, kontur wajah orang Taipei memang beda dengan warga Cilincing, kampung nelayan kumuh kecil di pesisir Jakarta itu. Tapi biar saja. Toh tidak ada salahnya belaga gila di kampung orang. Atas dasar itu pula saya teriak-teriak memanggil “Cooo… Acooo…”

Hebat. Lelaki itu menoleh dan menyebrang jalan. Kalimat pertamanya begitu tiba dua meter di depan saya adalah, “Eh gila! Lo ngapain di sini?”

Wow! Itu Aco. Sahabat saya sepengajian yang lebih sering menemani ketika kami dihukum untuk membersihkan WC masjid akibat memilih main bola ketimbang menyisakan waktu membaca huruf Arab gundul.

Naluri saya pulang hilang sudah. Bertemu sahabat kecil, di rimba bernama namun tak dimengerti membuat gairah saya untuk nongkrong ala Cilincing kembali menggebu-gebu. Pagi itu kami lewatkan dengan makan jajanan Taipei (*yang sumpah saya tidak tahu namanya tapi rasanya enak betul. Mirip somay goreng*) dan diskusi mengenai betapa kaum muda Taiwan sudah amat ingin melepaskan diri dari cengkraman RRC.

Kelihatannya Aco sudah jadi warga lokal. Setiap bicara mengenai hubungan RRC dengan Taipei ia selalu berkata, “Kami punya teknologi. Kami punya uang. Kami generasi baru. Kami hanya ingin mandiri. Itu saja”. Kalimat ‘kami’ setiap ia merujuk warga Taiwan tidak membuat saya gentar. Alih-alih, saya malah bangga. Dalam hati mengumandangkan sebuah doa, “Ya Tuhan, semoga kalau Taiwan merdeka, jadikan Aco bagian daripadanya”.

Siang itu, saya pamit. Check-in ke bandara. Sebelum pulang Aco memeluk saya kuat-kuat. Berjanji bahwa ketika kami suatu hari diberi anugrah rizki tak terkira bernama waktu, akan kembali mengayuh sampan kecil ke tengah laut Cilincing. Bersama memancing ikan sambil tertawa bersama sahabat lainnya yang saat ini entah ada di mana.

Oke. Itu cerita Aco. Jadi hingga saat ini, saya sudah cerita Meta di Merbabu dan Aco di Taipei. Bagaimana, anda suka? Tidak? Ahh tidak masalah. Saya masih punya satu stok cerita lagi yang tanpa malu-malu saya tetap akan bagi. Anda boleh protes, namun saya akan tetap cerita. Hahaha…

Kali ini di Jakarta.

Kenapa di Jakarta? Ehmhh agak aneh memang. Saya lahir di Jakarta. Hingga kini menghabiskan hampir setengah umur saya di kota yang saya benci sekaligus saya cintai ini. Mengapa Jakarta? Mengapa tidak cerita ketika bertemu teman-teman lama di tempat lain, yang notabene persinggahan saya pada setengah umur berikutnya? Bukankah Jakarta tidak seeksotis desa kecil di kaki Merbabu atau tengah rimba Taipei, kenapa harus Jakarta?

Karena saya jarang pulang ke Jakarta.

Saya hanya menyinggahi kota ini ketika lebaran. Biasanya pada Malam Takbiran pesawat saya sampai di Jakarta. Sholat Ied di pagi harinya. Becanda-becanda gila dengan teman-teman saya sejak kecil, makan ketupat dan sayur bambu buatan Ibu. Lalu sorenya, pergi lagi entah kemana. Begitu seterusnya. Lebaran menjadi momen penting untuk kami sekeluarga. Sebab hanya pada saat itu Ibu kumpul bersama anak-anaknya.

Suatu hari di Malam Takbiran, Ibu mengeluh kepada Uul adik saya, mengenai hidup saya yang ‘datang dan pergi sesuka hatinya’ (*mirip lagu Pance Pondaag*). Uul dengan santai menjawab, “Yaelah Ibu kayak nggak tau aja. Orang-orang sekampung kita juga udah pada tau. Dia mah orang sibuk. Sibuuk. Pusing dah. Sibuk apa, kita juga pada nggak tau”. Ibu mendebat. Sibuk yaa sibuk. Tapi kan ia rindu.

Saya diam mendengarnya. Merasa bersalah.

Sebagaimana hobi saya yang suka ngeles. Saya ikut menimbrung percakapan di ruang tengah. Mengambil sampel contoh Fahmi, adik saya satu lagi yang tinggal di Jogja. “Saya mah masih mending Bu. Noh si Ami, solat ied di lapangan aja dia mah telat mulu”.

“Tapi dia di sini lebih dari sehari. Kamu paling berapa jam doang”

Saya cengar-cengir garuk-garuk kepala. Susah membantah Ibu. Datanya lebih akurat. Hehehe.

Atas dasar itulah akhirnya saya mengunjungi Jakarta. Bukan untuk napak tilas. Bukan pula untuk bisnis. Alasannya malah sederhana. Hanya ingin ziarah. Ziarah ke hati Ibunda tercinta yang terlihat letih melihat anaknya yang selalu ‘datang dan pergi sesuka hatinya’.

Saya ke Jakarta. Pulang kampung. Berkunjung ke rumah Ibu.

Tiga hari pertama, saya kuat-kuatkan tidak menerima telpon selain dari keluarga dan kerabat dekat saja. Ibu kelihatan cukup gembira. Anaknya yang hilang kembali. Tanpa embel-embel kerja. Tanpa beban harus membagi waktu dengan orang lain. Tiga hari. Iya, tiga hari. Selama tiga hari itu pula Ibu memasak makanan yang enak-enak buat saya. Uul bilang, “Biasanya kita mah makan pake sayur asem doang ama tempe. Tumben nih ada eluh. Kita makan pake ikan”.

Tiga hari itu waktu yang cukup berat buat saya. Manusia yang sudah dibaptis menjadi bagian dari sekrup industri kapitalisme Eropa. Yang sebagian besar hidupnya mengabdi pada teknologi, media dan komunikasi. Dimana perbedaan berita perjam bagaikan udara yang dihirup sehari-hari. Dimana pencapaian hasil kerja perjam, adalah seperti proses makan harian. Tiga hari di sebuah desa nelayan kecil pesisir, berjalan begitu lama.

Namun entah kenapa. Masa-masa ini saya nikmati. Uul dan Ibu cerita mengenai gosip-gosip terbaru Cilincing. Saya rindu mendengar cerita-cerita ini. Selalu membuat saya terpingkal-pingkal tanpa mampu menahan airmata. Biasanya cerita tragis. Tanpa bumbu. Tanpa gramatika bahasa Indonesia yang baik dan benar. Lebih parah lagi, mungkin tanpa memakai bahasa Indonesia sesuai ejaan yang disempurnakan. Namun lucu. Aneh memang. Realita. Tragis. Tapi lucu.

Sahabat saya, Odoy, datang sekali-kali. Biasalah kalau jam makan, dia memang selalu ada. Sebagaimana saya juga selalu ada di rumahnya ketika jam makan keluarga mereka dimulai.

Hari ketiga, Ibu memandang saya dengan tatapan yang saya tidak bisa mengerti. Beliau baru dapat telepon. Sahabat saya datang dari Sulawesi. Bukan dari kota. Dari pedalaman. Ia naik jip turun gunung menuju pelabuhan terdekat kampungnya, lalu naik speed boat ke kota kabupaten, lalu naik bus menuju kota terdekat yang ada bandaranya. Tadi pagi, ia sampai di Jakarta dengan pesawat tercepat yang bisa ia ambil. Perjalanan itu memakan waktu tiga hari. Katanya, jalan sejauh itu untuk menemui saya.

“Sana ketemu Bang Omar. Dia orang baik. Dia teman kamu”, kata Ibu sambil menjahit celana jeans yang saya bolongi dengan sengaja. Ahh, Ibu memang tidak pernah mau anaknya terlihat tidak rapih.

Bang Omar itu sahabat saya. Sahabat lama. Kami pernah dapat beasiswa sama-sama. Saya disayang, karena saya yang paling muda di grup penerima beasiswa itu. Ia yang paling tua. Sudah jadi direktur NGO rupanya ia saat itu. Paling dihormati di grup kami. Saya sering membuat kopi untuknya di pagi hari. Biasalah, anak bawang. Waktu KKL, ia pernah jatuh cinta pada gadis anak Pak Lurah yang membuat saya harus berbohong setengah mati menutupi ia dimana ketika istrinya menelpon bertanya. Sejak saat itu, posisi kami setara. Bang Omar hanya menutup telinga ketika bisik-bisik anggota beasiswa semakin sering ketika ia terlihat beberapa kali membuat teh ketika saya bangun tidur. Ia tahu, semakin banyak gelas teh yang tersedia untuk saya, semakin aman rahasianya dari kuping istrinya. Hahaha…

Bang Omar itu lelaki dengan gaya. Beda dengan saya yang memakai pakaian dan bisa tidur seenak jidatnya. Ia beda. Kalau di Jakarta, ia hanya mau tinggal di rumah saya atau di penginapan terbaik. Alasan pertama, ia seakan memang sudah jadi bagian dari keluarga saya, jadi sering menginap di rumah Ibu. Alasan kedua, katanya “Bung ini Jakarta. Di kota terbaik kau harus dapat yang terbaik” ketika ia memilih selalu ada di hotel bintang lima.

Sebenarnya, saya pikir mungkin ia pura-pura. Sebagai penasihat sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat internasional untuk masyarakat pedalaman, ia lebih sering ada di tengah remote area. Bisa jadi, ia bosan dengan menu hariannya yang penuh berisi agenda-agenda yang namanya terdengar menggairahkan di telinga saya seperti ‘penguatan akar rumput’, ‘keberlangsungan lingkungan’, hingga ‘kebijakan politik daerah dari bawah ke atas’. Sebab nama-mana itu berarti pula kesehariannya harus berkutat dari satu pedalaman ke pedalaman lainnya di sana.

Namun ia tidak pernah berpura-pura kalau untuk berpakaian perlente di Jakarta.

Maka malam itu, saya saya di depannya. Ia menginap di sebuah hotel mewah dekat Tugu Pancoran. Di bilangan Jakarta Selatan. Berpakaian rapi jali. Sementara menu makan malam kami adalah lapisan tipis ikan-ikan segar bernama sushi.

“Sudah kau menginap di sini saja, Bung”

Saya terdiam mendengar pertanyaannya.

“Sudah aku telponkan Ibu. Kata Ibu, bolehlah kau menginap bersamaku. Ibu tahu, sudah tiga hari di Cilincing kau itu. Lama pula itu buat kau, kan?” Katanya sambil tertawa lebar.

Saya mengerenyitkan dahi. Ibu yang dia maksud pasti Ibu saya. Dia pula memanggil Ibu saya dengan sebutan Ibu. Saya tersenyum.

“Aku sudah pesankan kamar untukmu, Bung. Santailah. Sudah berapa tahun kita tak ketemu. Kau harus cerita kuda-kuda putihmu itu. Jangan kau kira aku tak tahu kelakuanmu. Dulu waktu KKL di Sumatra, kau coba jirat itu pramugari yang sedang bagi-bagi sembako. Bah, kau masih kecil itu, Bung. Waktu itu pun aku sudah tahu. Libido kau itu besaaar…”

Saya tertawa. Ia bukan penunggang kuda. Kuda putih adalah rujukannya terhadap perempuan Eropa. Sambil cengengesan saya jawab, “Biar kecil, waktu itu saya kan udah bisa bikin anak kecil, Bang”

Tidak lama kemudian, teman-teman Bang Omar datang. Sudah saya duga. Ia ke Jakarta tidak hanya untuk menemui saya. Untuk lelaki bergaya semacamnya, multitasking bukan sebuah keharusan, melainkan kebutuhan.

Satu-persatu, saya diperkenalkan. Ketika menjabat seorang lelaki kurus berkemeja biru dengan kacamata bulat, saya terperangah. Ia berkata, “Arip?”

Sambil menjabat tangannya, saya bilang “Arip”

Bang Omar bengong, “Loh kalian bedua namanya sama?”

Si Kemeja Biru menoleh, “Bang Omar, saya teh Yamin. Ini Arip, temen saya dulu di Bandung”

Kaget saya, bertemu teman lama yang tidak di duga-duga. Yamin ini berteman jauh lebih dahulu sebelum saya kenal dengan Bang Omar. Kami dulu sekolah yang sama di Jatinangor. Pinggiran Bandung. Maka, malam itu kami lewatkan dengan tertawa-tawa mengenang nostalgia Bandung. Jaman di mana makan pagi pakai sebungkus mie rebus dan makan malam pula ditutup dengan mie rebus. Bagitu setiap hari. Hingga akhirnya setelah dua bulan berat badan turun sebanyak tujuh kilogram, kami khawatir lalu memutuskan untuk makan sayur.

Lebih kaget lagi ketika saya tahu bahwa Yamin ini sudah jadi anggota dewan yang terhormat. Edan pisan, umur masih muda sudah bersinar langkahnya di partai relijius yang menjadi mayoritas di hampir seluruh daerah Nusantara. Dari dulu, saya juga tahu kalau ia relijius. Berkali-kali ia mengajak saya bergabung bersama teman-temannya untuk diskusi sambil beribadah. Hingga akhirnya suatu hari ia capek dan berkata “Kamu teh sudah susah terselamatkan” yang saya jawab dengan tertawa keras sekali.

Malam itu Bang Omar dan teman-temannya sudah tidur. Saya dan Yamin berenang di kolam hotel yang sebenarnya sudah tutup namun demi ‘kenyamanan’ anggota dewan, terpaksa dibuka.

Kami ngobrol ngalor ngidul sambil berenang tanpa arah. Hingga akhirnya Yamin bertanya, “Rip, kamu kan anak Jakarta. Kamu pasti tau lah cewek Jakarta. Panggil dong. Gampang lah, demi nostalgia, saya yang traktir”

Saya kira ia becanda. Namun di bawah sinar bulan, raut mukanya terlihat serius.

Saya diam. Mungkin bisa dengan gampang mengelak dengan menjawab bahwa saya bukan penghuni sah Jakarta lagi. Tapi entah kenapa. Saya hanya terdiam. Lalu menggeleng.

“Yaa sudahlah, untung saya punya stok nomor telepon. Sudah kamu tenang saja. Saya yang telepon. Mau berapa, dua apa empat?”

Saya diam tidak bisa bicara apa-apa. Sebab ia tahu, di jari manis kami masing masing masih terlingkar seuntai benda bernama cincin kawin.

This entry was posted in bangaip, Orang Indonesia, sehari-hari and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

9 Responses to Teman Lama

  1. Manusiasuper says:

    Ah… Partai itu… Memang top dalam pencitraan. Bahkan bagi anggota juniornya juga citra modern beragama itu sangat mempesona..

    Sudahlah, saya ingin berterima kasih bang. Sudah 3 malam ini saya tidak bisa tidur karena memikirkan hal yang diluar kuasa saya merubahnya. Tapi setelah membaca tulisan ini (di tengah kuliah psikolinguistik) entah kenapa saya berhasil menjadi mengantuk… Menenangkan karena ternyata, dunia di luar sana jauh lebih mengerikan dan menyedihkan dari dunia kecil saya sekarang..

    salam, semoga keadilan dan kesejahteraan dilimpahkan kepada kita…

    –0–

    Salam juga Mansup 😉
    Syukurlah kamu bisa tidur. Saya yang lagi susah tidur ini. Makanya nulis terus

  2. titiw says:

    Ah.. Lagi2 tulisan bang aip selalu membuat terpekur di bagian penutup, sambil ketawa2 kecil dr awal hingga hampir ending. Jd, intinya everybody’s changing atau kita yg brubah bang..?

    Ps: cilincing brothwrhood 2 dibaca abis sm tmn sy dlm wktu sehari. Dia ngepens ama bang aip, cowok, namanya fathul, anggota orkes dangdut :)

    –0–

    Fathul, aylopyupuul. Dangdut tetap berjaya. Dangdutveva Jayamahe.
    Soal perubahan, Tiw, kata Keane, everybody changing and I don´t feel the same.

  3. adipati kademangan says:

    Pertemuan dengan teman lama seakan melipat ruang dan waktu. Ternyata dia sudah berhasil, sedangkan yang itu sudah jadi anu, dan si anu sudah jadi orang. Jalan hidup masing-masing dengan pilihannya sendiri.
    Sebuah cerita dari bangaip yang selalu menjadikan saya berpikir keras di akhi cerita. Apakah nanti saya akan seperti itu juga jika nanti jadi orang …

    –0–

    Saya pribadi nggak yakin Mas kalau saya sendiri tidak akan melakukan hal yang sama seperti beliau, pada posisi tersebut. Paling maksimal hanya bisa berempati sambil berfikir ketika saya mengenakan sepatu beliau.

  4. Jardeeq says:

    Setiap orang berubah kecuali kita, karena kita tidak bisa merasakan perubahan pada diri masing2x..

    Btw, jadinya ngambil cewek berapa bang?

    –0–

    Ijinkanlah pertanyaan ini saya jawab pada cerita lainnya suatu saat nanti :)

  5. itikkecil says:

    partai itu? saya sudah kehilangan harapan…

    –0–

    Selamat datang di klub, Mbak :)

  6. hedi says:

    teman lama selalu datang dengan kejutan, begitulah

    –0–

    Bener Mas Hedi. Surprise di setiap tikungan.

  7. draguscn says:

    menarik .. dan memang selalu menarik .. memperkaya saya dengan yang namanya jenis-jenis teman lama .. :-)
    Salam kenal, bang. Selama ini cuma baca ..

    –0–

    Salam kenal juga Pak Dokter :)
    Salam dari sini untuk bapak dan keluarga

  8. Guh says:

    Membayangkan jadi seperti Bangaip, punya temen Aco di taiwan, saya jadi bertanya-tanya… Kalo beli mobo di taiwan itu harganya selisih jauh nggak ya? Kalo jauh lebih murah dari mangdu, kan bisa dari sini rame-rame beli sekaligus banyak. Komputer murah tapi ok buat orang seperumahan, misalnya. 300 atau 500 unit dg spek sama semua, maintenance pasti lebih enteng.

    Eh, jadinya si om dari partai religius pesen berapa bang? Ikutan ngicipi nggak? Enak mana dibanding kuda putih?

    –0–

    Soal mobo, kalau partai banyak jatuhnya lebih murah Mas Teguh. Dan benar, standarisasi perangkat keras akanmemudahkan perawatan. Kalau mau, sebelum memutuskan beli partai banyak gitu, kalau mau dipake (nggak dijual) lebih baik pakai MoU untuk perawatannya. Biasanya, bahkan bisa lebih murah. Sebab masa depan kan akan tergantung pada si vencor perangkat keras.

    Mengenai pertanyaan lainnya, akan saya ceritakan di cerita-cerita lain (kalau sempat, hihihi)

  9. Wijaya says:

    Hahahaha…..
    Kadang saya juga terpana jika ketemu teman lama. Saya yg bebal susah berubah…atau teman saya yang memang berbeda.
    Mungkin memang demikian….manusia harus berubah utk lebih baik (mungkin). Hehehe….

    –0–

    Iya mas, kelihatannya begitu kali yaah. Perubahan ada. Sedikit atau banyak. Mungkin aja kita yang nggak sadar.

Leave a Reply