Aku Butuh Cinta. Aku Tidak Bisa Hidup Sendiri Walau Hanya Semalam Saja

Apa yang lebih penting dari cinta?

Saya tidak tahu jawabnya. Saya pikir dengan modal cinta, seperti mencintai kehidupan misalnya, sebuah spesies mampu bertahan hidup dengan sebaik-baiknya.

Sahabat saya Yon memilih hidup sebagai penyendiri. Ia memilih untuk tidak menikah dan tidak punya relasi. Baik relasi hati maupun badani. Itu pilihan hidupnya. Sebab ketika ditanya mengapa, ia hanya menjawab, “Saya tidak ingin hidup yang kompleks”.

Buat Yon, jatuh cinta dan menjalaninya adalah sebuah hal yang tidak masuk di akal rumitnya. Ia pikir, daripada rumit lebih baik dijauhi.

Itu pilihan hidupnya. Buat saya sah-sah saja. Bukankah setiap orang punya pilihan hidup masing-masing.

Lain halnya dengan Diah. Sahabat saya satunya lagi. Ia kebalikan dari Yon. Ia selalu ingin punya relasi. Entah apa bentuknya dan apa dasarnya, yang penting relasi. Bisa jadi relasi panjang, bisa pula relasi semalam saja. Yang penting relasi. Katanya sambil malu-malu, “Aku butuh cinta. Aku tidak bisa hidup sendiri walau hanya semalam saja”.

Jika Yon dan Diah bertemu, keduanya sering terlibat dalam diskusi sengit. Saking sengitnya, kadang malah berakhir tidak begitu mengenakkan. Apalagi setelah Yon memanggilnya jalang dan Diah meneriakinya impoten. Jika ini sampai terjadi, bisa berminggu-minggu mereka tidak bertemu. Dan lalu, sialnya saya lah yang harus menjadi merpati pengabar berita satu sama lain yang ber-partner bisnis ini. Sekaligus pendamai keduanya.

Apa yang lebih penting daripada cinta?

Saya tidak tahu jawabnya. Tapi kata beberapa orang ada hal yang lebih adiluhung daripada cinta. Nama kalimatnya, setia.

Kata beberapa orang, tidak ada kalimat cinta tanpa setia. Kalimat itu adalah kalimat sakti yang membedakan profesi seseorang menjadi pelacur atau bukan. Setia.

Logika di atas jelas bisa dipertanyakan. Apa iya setia yang membedakan pelacur dengan profesi lainnya? Bukankah pelacur juga melacur karena ia mencintai kehidupannya? Apa ia rela melacur apabila tidak mempertahankan cinta yang ia miliki saat itu? Bisa jadi ia cinta pada keluarganya, dan lalu melacur untuk mereka? Bisa jadi ia mencintai apa yang ia lakukan, dan lalu melacur untuk memenuhinya? Apa yang salah?

Biasanya diskusi kami berhenti hingga di titik ini. Lawan diskusi saya kecewa. Saya dianggap memihak hubungan badan di luar nikah. Aneh, saya pikir siapa yang bicara selangkangan. Apa definisi pelacur itu selalu adalah seseorang yang harus selalu mengangkang demi kepuasan nafsu orang lain yang membayarnya? Memangnya selain pelacur di dunia ini tidak ada profesi manusia yang yang mengorbankan badan dan jiwanya demi kepuasan nafsu manusia lain yang rela membayarnya?

Jika seorang istri yang sedang sakit dengan amat terpaksa harus melayani suaminya demi keutuhan rumah tangga mereka dan agar dapur terus mengebul dan uang sekolah anak tetap ada, apa itu bukan melacur?

Bukan, kata teman diskusi saya. Sebab mereka sudah ada dalam institusi pernikahan.

Lalu jika seorang perempuan sehat yang dengan amat terpaksa harus melayani lelaki demi membayar tagihan rumah sakit orang tuanya yang tidak pernah punya asuransi, atau agar dapur terus mengebul dan uang sekolah anak tetap ada, apa itu bukan melacur?

Iya itu melacur, sebab tidak ada dalam hubungan pernikahan.

Oh jadi pelacur dan bukan itu hanya dibatasi kalimat pernikahan saja?

Di sini teman diskusi saya terlihat agak sengit. “Lu tau ga yang ngebedain kita ama binatang? Kita nikah! Binatang nggak!”

Saya senyum-senyum mendengar argumennya. Saya bilang ia tidak perlu marah. Sebab tidak akan menghilangkan apa yang akan saya tanyakan kepada dia.

“Lu mao nanya apa lagi? Pelacur yaa udah jelas. Pake ditanya-tanya segala…”

“Oke. Begini. Gua mao nanya kasus yang latarnya beda. Si Fulan itu hobinya mancing. Cita-citanya mau jadi nelayan. Tapi karena ia sekolah tinggi, ia dipaksa lingkungannya jadi apa yang dia nggak inginkan. Dia terpaksa kerja di bursa saham biar dianggap hebat dan kaya. Dipaksa bangun pagi dan pulang malem biar bebas ngelewatin macet setiap hari kerja. Dipaksa pake pakaian yang nggak pernah ada di bayangannya. Terpaksa makan di tempat yang dia nggak jelas juntrungannnya. Dipaksa setiap tahun berproduksi lebih dan terus lebih. Dipaksa lembur jadi nggak ada waktu lagi buat maen ama keluarga dan temen-temennya. Buat lu, si Fulan melacur ga?”

“Yaa nggak lah! Dia kan nggak ngangkang!”

“Tapi kan si Fulan nggak mau melakukan itu semua. Di terpaksa atau dipaksa, sama saja yang pasti buat dia paksaan ngejalanin semua itu. Dia ngejual jiwa ama badannya buat kepuasan orang laen”

“Kalo dia nggak ngangkang yaa dia bukan pelacur. Dia itu pelaku ekonomi”

“Kalau gitu, sistem ekonomi kita berazaskan pelacuran dong?”

“Mana bisa begitu! Lu tuh payah. Logika lu ngaco! Pelacur itu nggak setia! Tuhan itu lebih marah ama orang yang nggak setia daripada orang yang nggak cinta!”

Ahh, lagi-lagi setia jadi alasannya. Setia lebih penting daripada cinta. Kali ini pakai bawa nama tuhan pula. Seakan punya jalur khusus sebagai perwakilan di muka bumi.

Saya senyum lagi. Tapi biarlah, teman diskusi saya sudah pamit sebelum saya menerangkan lebih lanjut. Buat dia pelacur itu jelas. Namun dunia pelacuran dan landasannya itu abu-abu. Yang buat saya cukup ajaib. Sebab bagaimana bisa mendefinisikan sesuatu jika landasan awalnya tidak bisa dimengerti?

Tapi bisa jadi ia benar, yaitu mungkin bahwa logika saya yang ngawur. Hahaha…

Tapi tadi pagi saya tidak bisa tertawa. Tidak mengenai soal cinta dan setia. Ketika membaca sebuah berita, saya tertegun. Ini beritanya;

Dibakar api cemburu, seorang pria berumur 74 tahun di Italia menembak mati tiga orang sebelum kemudian mengakhiri hidupnya dengan menembak dirinya sendiri.

Pria bernama Carlo Trabona tersebut menembak mati dua tetangganya dan kemudian istrinya di Kota Genoa, Italia utara. Terakhir, pria itu menembak mati dirinya sendiri.

Alfredo Federici dari Kepolisian Genoa mengatakan seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (10/1/2011), kecemburuan dan perselingkuhan melatarbelakangi peristiwa maut tersebut.

Dikatakan Federici, dugaan perselingkuhan yang dilakukan istri Trabona tampaknya telah memicu aksi penembakan tersebut. Trabona menduga istrinya yang berumur 72 tahun berselingkuh dengan salah seorang tetangganya yang juga merupakan temannya sejak lama.

Dalam insiden berdarah itu, Trabona awalnya mendatangi sebuah bar dan menembak salah seorang tetangganya. Seorang tetangganya yang lain kabur dan dikejar oleh Trabona. Pria itu pun tewas ditembak Trabona. Setelah menembak kedua tetangganya, Trabona pulang ke rumahnya dan langsung menembak istrinya.

Aparat polisi pun mengepung kediaman Trabona. Saat pengepungan itu, Trabona bunuh diri dengan menembak dirinya sendiri.

Kedua tetangga Trabona yang merupakan kakak-adik tersebut tewas tak lama kemudian di rumah sakit. Begitu pula dengan Trabona yang tewas setelah dilarikan ke rumah sakit.

(sumber detiknews)

Ironis, sebab kelihatannya setia memang lebih penting daripada cinta. Atas nama setia, rela bunuh istri dan tetangga bahkan mengakhiri hidup sendiri.

Kali ini, atas nama setia, ada lagi yang harus mati.

Besok, atas nama yang sama; apa atau siapa lagi yang harus mati?

This entry was posted in sehari-hari and tagged , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Aku Butuh Cinta. Aku Tidak Bisa Hidup Sendiri Walau Hanya Semalam Saja

  1. Pingback: Tweets that mention Aku Butuh Cinta. Aku Tidak Bisa Hidup Sendiri Walau Hanya Semalam Saja « bangaip.org -- Topsy.com

  2. jardeeq says:

    definisi dari http://kamusbahasaindonesia.org

    la.cur
    [a] (1) malang; celaka; sial; (2) buruk laku

    me.la.cur
    [v] berbuat lacur; menjual diri (sbg tunasusila atau pelacur)

    hmmmmm,,,,,mm,,,,,mm,,,,,

  3. mawi wijna says:

    yang jelas Cinta itu membuat gila

    apapun bentuk cinta itu :p

  4. edratna says:

    Cinta membuat hidup lebih hidup…
    Tapi cinta juga membuat hidup jadi kacau balau..

    Pesan saya kepada anak-anakku..
    “Pakailah logika, sebelum sempat jatuh cinta..
    Bagaimanapun cinta adalah sebuah perasaan, logika membuat hidupmu lebih terarah…”

    Konyolnya, suami bilang..”Kamu itu cewek yang penuh dengan logika, tanpa sesuai dengan logikamu, tak bisa jalan.” Saya bengong..begitukah pendapatnya? hehehe……
    Logika vs perasaan?
    Hayoo..teruskan bangaip…

  5. warm says:

    cinta memang absurd
    dan setia ?
    lebih2 lagi
    😀

  6. awym says:

    cinta, begitulah :)

  7. Mengapa cinta itu ada jika harus menyakiti…

  8. dary says:

    wehh bahaya juga ya yang namanya cinta

Leave a Reply