Markoni: Menulis Untuk Apa

Saya menulis untuk apa?

Entahlah. Saya sendiri tidak tahu. Sebab tidak ada keinginan sama sekali untuk mencari nafkah, cari nama (sebab saya begitu lahir mbrojol sudah diberi nama) apalagi cari jodoh.

Dalam kondisi galau beberapa bulan terakhir ini, Kang Adi seorang sahabat pernah berkata “Eh sukur luh masih bisa nulis. Waktu gua di posisi lo dulu, gua sama sekali nggak bisa mikir.”

“Saya sedih Kang. Dan saya rasa nggak bisa ngungkapin ini ama publik. Biasanya sih tulisan saya tentang apa yang sudah terjadi, bukan yang sedang terjadi”

Sambil mengepulkan asap rokoknya Kang Adi berkata, “Nulis ama publikasi kan beda, Rip. Kalo lo pikir nyaman buat nulis, yaa tulis aja pengalaman keseharian lu. Nggak usah dipublikasiin. Catet aja. Semacam dokumentasi. Gituh”

Ya sudah. Sejak saat itu, saya tulis pengalaman keseharian saya. Tidak begitu penting. Hanya semacam catatan-catatan kecil mengenai pola hidup keseharian. Seperti jam makan, jam tidur, makan apa dan apa yang saya rasakan.

Bulan demi bulan berlalu. Catatan-catatan itu makin lama makin menggunung. Dan pada suatu hari setelah tahun baru, saya baca kembali. Dan membaca semua itu, cukup membingungkan rupanya. Seakan saya terlempar kembali ke masa-masa di mana ketika tubuh sudah tidak mampu lagi berkordinasi dengan baik dengan otak. Saya seakan tenggelam pada masa-masa di mana tiada malam saya lewati tanpa airmata yang turun begitu saja tanpa sengaja. Lembar demi lembar berlalu. Dan saya menemukan masa-masa di mana semua itu terlewati dengan begitu saja. Masa dimana saya akhirnya mampu tidur lagi. Masa di mana saya tidak kaget sebab tiba-tiba baju saya basah akibat airmata yang tumpah, padahal sedang berjalan di stasiun kereta untuk menunggu. Membingungkan.

Namun cukup berarti sekali.

Ada masa di mana saya rasa, masalah saya adalah masalah paling berat di muka bumi ini dibandingkan dengan masalah-masalah orang lain. Hmhh, egoisme pribadi tingkat tinggi. Selalu merasa lebih dan selalu lebih. Padahal mah, siapa sih saya?

Tadi pagi, saya baru dapat kabar terbaru. Sahabat saya Markoni dijauhi oleh keluarganya. Ibunya menangis setiap hari. Ayahnya tidak mau lagi bicara kepadanya. Bahkan namanya sudah dicoret dari daftar warisan mahligai bisnis keluarga mereka yang membahana. Katanya itu gara-gara Markoni pindah agama.

Saya kaget. Buset dah. Kok bisa-bisanya Markoni diperlakukan begitu oleh keluarganya.

Sepengetahuan saya, mereka ini keluarga yang sangat baik, harmonis dan amat menjunjung demokrasi. Kok bisa-bisanya berlaku seperti ini. Markoni ditendang keluar rumah hanya dengan pakaian yang menempel di tubuhnya.

Itu baru pindah agama. Coba bayangkan kalau Markoni pindah kelamin? Atau pindah planet? Gimana kalau tiba-tiba Markoni memutuskan untuk berubah menjadi Alien dan hidup di piring terbang? Apa yang keluarganya perbuat pada dia nanti?

Markoni ooh Markoni… Kalau dibandingkan kamu, masalah saya kok terlihat sama sekali tidak berarti.

Beberapa waktu lalu ketika saya sedang dirundung beratnya badai, sahabat saya Mbak Lia tiba-tiba tanpa hujan tanpa angin berkata begini, “Kamu semestinya bersukur. Nggak semua orang dapet pelajaran kayak gini”

Saya kaget. Wah ini benar juga rupanya. Di balik semua masalah-masalah ini, saya memang belajar banyak hal. Belajar untuk tetap kuat berdiri di atas kaki sendiri. Belajar negoisasi dengan nasib. Belajar hal-hal yang seumur hidup belum pernah saya bayangkan sebelumnya. Saya belajar sesuatu yang penting. Bahwa tidak ada masalah timbul tanpa pemicu. Dan tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh waktu.

Saya belajar manajemen masalah. Wow!

Untuk orang yang seumur hidupnya hanya cengar-cengir dan malas berurusan dengan masalah seperti saya, ini sebuah pelajaran penting. Mungkin tidak buat Anda apalagi buat semua orang. Tapi buat saya, ini sebuah ‘Wow!’

Mbak Lia benar; ada banyak hal yang bisa dipetik dari badai hidup.

Di saat masa-masa genting menghadapi masalah yang kadang datang tanpa belas kasihan, sahabat itu berguna sekali untuk tetap menyadarkan bahwa apapun yang terjadi, tetaplah tegar kata mereka.

Di saat-saat rawan, saya bersyukur ada jalan yang memperlihatkan saya sahabat-sahabat baik yang terus membantu, mendukung dan percaya bahwa pada akhirnya nanti, semuanya akan baik-baik saja.

Maka itu malam ini, saya pikir sudah seharusnya saya berkata pada Markoni, “Apapun yang terjadi, kamu tetap sahabat saya. Biar dunia boleh bilang apa, kamu tetap sahabat saya”

*Saya pikir, ternyata saya menulis untuk diri saya sendiri*

This entry was posted in bangaip, sehari-hari and tagged , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Markoni: Menulis Untuk Apa

  1. edratna says:

    Awalnya menulis memang untuk diri sendiri…tapi lama-lama belajar, ingin share pada orang lain, walau hanya sekedar sharing pengalaman. Tak disangka tulisan itu menarik minat pembaca lain. Bukan begitu bang?

    Banyak orang seperti Markoni..syukurlah di keluarga saya (yang memang dari sono nya merupaka keluarga besar, dengan berbagai kepercayaan, tergantung keinginan masing-masing), memandang orang bukan dari agama, kekayaan maupun kegantengan atau kecantikannya…tapi dari budi pekerti. Membaca tulisan Bangaip, membuat saya bersyukur dibesarkan dalam kehidupan keluarga yang penuh toleransi agama, yang membuat saya seperti sekarang.

  2. sufehmi says:

    Sering ada orang yang memuji saya, “wah pak harry hebat, saya salut tulisan anda bermanfaat untuk banyak orang lho”, saya cuma bisa tersenyum malu tanpa komentar. Karena yang sebenarnya adalah, saya menulis untuk diri saya sendiri.

    Soalnya, saya ini pelupa berat :) kalau tidak ditulis, ya lupa, huehehe. Payah banget deh 😀
    Akhirnya saya tulis di website pribadi saya. Soalnya lebih aman, kalaupun ada apa-apa, masih tetap bisa diakses dari http://archive.org 😀

    Eh, ternyata kemudian ada orang2 yang menemukan tulisan2 tsb, dan mendapatkan manfaat dari situ. Syukur alhamdulillah. Saya turut gembira.
    Tapi, kalau dibilang bahwa saya adalah orang yang baik? Meringis saya jadinya.

    Re: Manajemen Masalah, boro-boro ini, kebanyakan kenalan saya bahkan tidak mau sekedar untuk menghadapi masalah. Apalagi me manage nya.

    Dikiranya, kalau dibiarkan, maka masalah itu akan hilang dengan sendirinya.
    Ya ndak lah 😀 yang ada malah masalahnya jadi membusuk & makin kacau — ditambah dengan masalah-masalah lainnya yang baru muncul.

    Saat ini ada seorang kawan saya yang keluarga besarnya sedang dalam proses menuju kehancuran, karena sudah terlalu banyak masalah-masalah (kecil !) yang didiamkan sampai puluhan tahun (!!!). sehingga menumpuk jadi tidak keruan, dan sudah tidak jelas lagi bagaimana cara untuk mulai mengurainya.
    Sedih sekali melihatnya.

    Setiap bertemu, saya selalu sarankan beberapa hal berikut ini :

    (1) Jalin kembali komunikasi, adakan pertemuan keluarga mingguan.

    (2) Harus disepakati bahwa pertemuan ini punya peraturan, yaitu :

    (#) Fokus ke solusi
    (#) Dilarang salah-menyalahkan : karena jadi mengalihkan fokus (harusnya ke solusi), dan cuma membuat sakit hati
    (#) Ada moderator yang akan enforce kedua poin diatas.

    Alhamdulillah kini sudah dimulai, mudah2an dia cukup sabar untuk terus mengawal jalannya pertemuan2 tsb, aminnnn

    btw; turut berduka untuk Markoni. Pindah agama bukan berarti jadi boleh diputuskan silaturahminya. Sebagai penganut agama Islam, saya turut malu dengan kelakuan mereka yang mengaku-aku sebagai penganut agama ini. Sama sekali tidak menunjukkan keindahan ajaran agamanya.
    Karena, sebetulnya yang mereka lakukan adalah mengunjukkan Ego mereka — dengan dalih / atas nama agama….

  3. Jax says:

    If my plroebm was a Death Star, this article is a photon torpedo.

Leave a Reply