Apa Sebenarnya Diplomat dan Diplomasi

Secara singkat, diplomat adalah seseorang/institusi yang melakukan praktek dan seni diplomasi. Tapi apa sih sebenarnya diplomat dan praktek dan seni diplomasi?

Mari kita jelaskan secara sederhana dan runut.

1. Latar belakang diplomasi.

Praktek awal diplomasi yang paling terkenal mungkin adalah Surat Amarna yang terbuat dari lempengan batu. Surat ini dikirim oleh Firaun Akhenaten dinasti ke-18 di Mesir kepada kerajaan Kana’an (Saat ini mungkin adalah sekitar Israel, Palestina, Lebanon dan Syriah) pada abad ke XIV SM.

Surat yang ditulis dalam bahasa Akhadian (bahasa yang saat itu lazim digunakan dalam praktek perdagangan internasional pada masanya) menjelaskan kesepakatan perjanjian damai antara Dinasti Mesir dengan Dinasti Hittite yang menguasai Kana’an. Saling tidak menyerang dan menjaga praktek ekonomi warga antar dua negara tersebut berlangsung dengan baik dan semestinya.

Surat itu sukses. Setidaknya sejarah tidak pernah mencatat perang brutal caplok-mencaplok wilayah antara dua negara adidaya tersebut. Sejak saat itu, praktek diplomasi menyebar luas dari satu bangsa ke bangsa lain. Sebuah negara bisa tumbuh atau mati diantaranya adalah berdasar pada hubungan diplomasinya. Kadang kelangsungan sebuah rezim bisa terus berjalan jika praktek diplomasi tetap baik.

Contoh yang paling terkenal di Nusantara mengenai praktek diplomasi adalah penggabungan dua kerajaan besar antara Majapahit dan Champa atau Kamboja saat ini. Dimana Raja Brawijaya IV menikahkan anaknya dengan putri kerajaan Champa dan lalu memperluas wilayah kekuasaan mereka yang berpusat di Trowulan, Jawa Timur. Praktek diplomasi untuk memperluas kekuasaan dan kekuatan, diperoleh sang Raja dengan pola pernikahan antar dua penerus singgasana.

Masih banyak praktek dan seni diplomasi yang lain. Namun akan dijelaskan nanti dan mari kita lanjutkan ke poin berikutnya.

2. Diplomat Profesional

Sudah dijelaskan di atas bahwa diplomat adalah orang yang menjalankan praktek dan seni diplomasi. Jadi pertanyaannya, apakah setiap orang yang menjalankan praktek dan seni ini adalah seorang diplomat.

Jawabannya bisa iya dan tidak.

Iya, sebab siapapun atau apapun yang bisa berdiplomasi sudah bisa dikategorikan sebagai diplomat. Namun bisa tidak, sebab pada saat ini diplomasi lebih cenderung kepada praktek praktis hubungan bilateral antar dua negara atau institusi. Orang/badan yang menjalankan praktek diplomasi dalam profesi kesehariannya sudah layak dikategorikan sebagai diplomat profesional.

Tipe-tipe diplomat secara profesi:

  • Diplomat Kenegaraan: Adalah sebuah pekerjaan yang menuntut seseorang menjalankan tugas diplomasi sebuah negara dan menjalankan misinya di negara tempat ia ditugaskan. Biasanya pekerjaan ini ada di bawah lindungan departemen luar negeri atau sekertaris negara atau duta besar. Pekerjaannya biasanya penuh waktu.
  • Diplomat Usaha: Adalah sebuah pekerjaan yang menuntut seseorang memperlancar usaha atau bisnis yang dia emban. Dalam korporasi besar, diplomat jenis ini biasanya ada dalam divisi ekspansi bisnis (bisa marketing bisa pula business intelegent). Sama seperti diplomat kenegaraan, pekerjaan mereka biasanya penuh waktu.
  • Diplomat Dengan Alasan: Adalah sebuah kejadian yang menuntut seseorang atau sebuah badan menjadi diplomat. Contoh yang paling simpel mungkin adalah Pak/Bu RT jika di Indonesia. Meskipun bukan pekerjaan utamanya, namun beliau kadang mendapat tanggung-jawab menengahi perseteruan antar dua tetangga di kampungnya. Ketika beliau melerai dan mengatasi meluasnya efek perpecahan di lokasinya, maka ia segera mendamaikan kedua belah pihak. Praktek ini bisa pula disebut sebagai diplomasi.

Setiap orang bisa menjadi diplomat. Sebab setiap orang punya bakat menjalankan tugas diplomasi. Bahkan ketika kita sedang tawar-menawar di pasar saja, sebenarnya kita sedang menjalankan seni diplomasi. Namun agar lebih mudahnya, saat ini, mari kita bicara mengenai diplomat kenegaraan saja.

3. Apa itu diplomat kenegaraan dan apa tugasnya?

Secara mendasar, diplomat kenegaraan adalah seseorang yang bekerja dan menjalankan praktek diplomasi untuk negaranya.

Secara garis besar diplomat yang berpraktek diplomasi antar dua negara dibagi dalam beberapa kategori. Antara lain:

  • Bisnis: Dalam prakteknya, diplomat yang bertugas dalam atase bisnis menjamin keberlangsungan bisnis antar negaranya dengan negara tempat ia ditugaskan berjalan dengan baik. Ia ditugaskan melindungi dan melayani segenap asset-asset dagang negaranya di tempat ia ditugaskan. Memberi masukan kepada penentu kebijakan ekspor import. Dan yang lebih baik, adalah memahami bisnis lokal di tempat ia ditugaskan lalu memberi perspektif itu kepada bagian Kamar Dinas Perdagangan.
  • Keamanan dan Perdamaian: Di bagian ini, seorang diplomat memberi input pada negaranya agar tercipta keamanan dan perdamaian hubungan dua negara. Pada masa kekaisaran Ottoman, seorang diplomat adalah penjamin perdamaian. Jika kesepakatan damai antar dua negara pecah, biasanya si diplomat yang diwakili oleh duta besarnya lah yang akan dihukum terlebih dahulu. Saat ini diplomasi keamanan biasanya mewakili negoisasi mengenai penjualan/penyelundupan senjata, binatang, obat terlarang, manusia dan sebagainya.
  • Hubungan Publik (Public Relation): Ini adalah diplomat yang mewakili negara yang mengutusnya di negara lain. Ia menjadi ‘muka’ negara bersangkutan di negara tempat ia ditugaskan. Hubungannya luas antara lain adalah terhadap media, publik lokal dan juga publik negaranya yang kebetulan sedang ada di negara tempat ia ditugaskan. Ia juga yang biasanya menjadi mediasi antara dua belah negara yang sedang dalam keperluan.
  • Budaya: Diplomat atase budaya biasanya mewakili dan menjembatani pertukaran pengetahuan antara dua budaya. Yaitu budaya negaranya dan negara tempat ia ditugaskan. Dalam praktek diplomasi ini, kadang erat sekali hubungannya dengan bisnis pariwisata antar dua negara.
  • Kemanusiaan: Dalam kasus tertentu yang melibatkan hak asasi manusia, diplomat harus cepat tanggap mengatasi krisis. Misalnya adalah tentang pelarian politik, evakuasi korban atau pembelaan terhadap warga negaranya yang diadili di negara tempat ia ditugaskan. Biasanya diplomat bagian ini mengerti sekali hukum negara dimana ia ditugaskan dan juga program mitigasi bencana.

Apa syarat jadi diplomat kenegaraan? Yaa banyak. Diantaranya adalah:

  • Bersedia ditempatkan dimana saja.
  • Mengenal budaya lokal tempat ia ditugaskan dan memahami bahasa dengan baik.
  • Bersedia aktif dalam komunitas lokal maupun internasional tempat ia ditugaskan.
  • Memiliki kemampuan komunikasi yang baik.
  • Taktis dan diplomatis.
  • Memiliki keahlian pengorganisasian.
  • Mudah membangun jaring kenalan.
  • Ini yang paling penting: Selalu mencatat dan melaporkan hasil praktek dan seni diplomasinya kepada negara yang memberinya tugas dalam saluran khusus.

4. Bagaimana jika praktek diplomasi gagal?

Jawabnya gampang; yaitu jelas-jelas hubungan dua negara menjadi buruk. Paling parah, adalah perang. Menyengsarakan banyak manusia, binatang dan alam.

Namun jika praktek diplomasi baik, maka hubungan dua negara pun akan menjadi baik. Paling mudah melihat sukses tidaknya para diplomat adalah jika praktik diplomasi antar dua negara saling menguntungkan dan berjalan dengan grafik yang menaik setiap lima tahun.
(*Kenapa lima tahun? Sebab biasanya pergantian penguasa dan kebijakan di negara-negara berasas demokratis yang paling banyak dianut saat ini selalu berbeda setiap lima tahun*)

Statistik itu jelas bukan satu-satunya pengukur keberhasilan antar dua negara. Banyak faktor lain yang menjadi pengaruh keberhasilan hubungan antar dua negara, diantara misalnya adalah jika negara tempat diplomat bertugas adalah negara konflik (seperti Irak atau Afganistan misalnya).

Di daerah bencana seperti Libia atau Jepang, keberhasilan diplomasi bisa saja diukur dari cepat tidaknya para diplomat merespon keselamatan warganya untuk dievakuasi.

Sekarang kita ke bagian ke yang paling penting dalam tugas diplomasi, yaitu diplomat mengobservasi, riset dan lalu mencatat hasil sebelum dikirim ke penentu kebijakan di negara pengutusnya

Dalam semua persayaratan sebagai diplomat, terlihat bahwa keahlian komunikasi itu hampir mendominasi semua tuntutan keahlian diplomat.

Di lapangan, praktek ini memang benar adanya. Diplomat secara horisontal sebisa mungkin menjalin komunikasi dengan otoritas lokal di negara ia ditugaskan. Riset dan menggali informasi sebanyak-banyaknya latar belakang para penguasa lokal sebelum bertemu mereka, dan lalu mencoba membuktikan informasi itu dengan cara cross check atau mengkonfirmasikan langsung kepada yang bersangkutan dengan bahasa diplomasi.

Maka kemampuan memahami bahasa, baik bahasa diplomasi dan juga bahasa lokal amat penting, sebab dengan cara begitu seorang diplomat mampu menjalin komunikasi dengan komunitas lokal. Sehingga laporannya menjadi lebih akurat, terkini dan terpercaya. Ketidakmampuan memahami budaya atau bahasa lokal sudah mampu menjadikan seseorang diplomat tidak memiliki poin plus dalam pekerjaannya. Begitupun juga dengan ketidakmampuan mengetahui jaringan lokal di negara tempat ia ditugaskan bukanlah sebuah poin tambahan buat diplomat.

Secara kontinyu, diplomat melaporkan hasil laporannya kepada pemberi tugas melalui saluran khusus. Saluran komunikasi ini diusahakan aman, bersih dan rahasia. Hasil dari komunikasi ini dapat dikategorikan sebagai raw intel. Yaitu laporan intelejen yang belum diolah. Setelah diolah dan dilengkapi dari berbagai sumber diplomat lainnya, laporan ini diserahkan kepada penentu kebijakan, para legislatif atau eksekutif. Hasil dari laporan ini menjadi amat penting sebab adalah penentu terhadap hubungan antar dua negara.

Kasus paling besar dalam sejarah terhadap kebocoran informasi diplomasi adalah wikileaks cablegate. Dimana laporan ratusan ribu dokumen diplomat Amerika Serikat bocor dan dapat diakses publik di website wikileaks sejak tahun 2010. Menjadikan hubungan Amerika Serikat dengan negara-negara tempat diplomatnya diposkan sebagai polemik yang masih berkepanjangan pada tulisan ini diturunkan (2011).

Dalam dokumen-dokumen itu terlihat jelas penilaian dan perspektif para diplomat terhadap penguasa lokal dan juga aspek-aspek lain hubungan diplomasi antar negara. Kebanyakan adalah raw intel. Informasi yang belum dipoles. Para diplomat secara jujur melaporkan apa hasil investagasi berdasarkan perspektif mereka. Ketika informasi ini bocor di publik, jelas saja pemerintah USA menyangkal kesahihannya :)

5. Penutup

Saya tidak mencoba membela atau melemahkan data pada informasi di wikileaks. Buat saya jelas-jelas itu raw intel. Ditulis oleh para diplomat US dan ditujukan pada atasan mereka di Washington DC. Dan ketika rezim yang berkuasa di Republik Indonesia namanya tercantum dalam laporan tersebut dalam sebuah skandal, buat saya yaa wajar saja. Tapi kalau misalnya dokumen itu tiba-tiba tertera nama Pak RT saya Pak Hambali, pasti saya bingung. Hehehe…

Artinya begini; para diplomat itu bukan orang tolol. Mereka punya standar dalam melakukan riset dan laporan. Mereka dilatih dan sudah terlatih dengan baik melakukan pekerjaannya. Mereka juga terlatih melaporkan semua hasil riset secara apa adanya. Maka jika info yang mereka terima tidak baik, maka bisa saja outputnya menyusahkan hubungan bilateral negara. Namun jika informasinya baik, maka semakin baik hubungan dua negara.

Sekarang, pertanyaannya adalah apa itu informasi yang baik? Saya pikir jawabannya simpel. Informasi yang baik adalah informasi yang didapatkan secara akurat dan disampaikan apa adanya. Sebab itu adalah sebaik-baiknya informasi dan mudah melakukan penyelidikan silang untuk membuktikan kebenarannya.

Jadi, apakah rezim yang tengah berkuasa saat ini RI memang benar terlibat skandal? Jawabnya bukanlah asumsi. Bukan bantahan. Bukan pula sekedar jawaban iya atau tidak lewat media. Melainkan adalah transparansi melalui penyelidikan untuk membuktikan benar atau salahnya.

Lantas, bagaimana mengadakan penyelidikan terhadap omongan para diplomat?

Nah ini susahnya…

Sebagai akhir cerita ocehan saya yang sama sekali bukan diplomat ini, ijinkanlah saya mengutip pengalaman di sebuah makan malam intim yang dihadiri oleh beberapa orang saja di ruang kedutaan sebuah negara Eropa Barat yang ada di Jakarta. Tidak lama setelah invasi US ke Afganishtan.

Pak Dubes: Sambil terkekeh-kekeh mengisap cerutu bilang, “Kami sebenarnya sudah tahu dimana posisi Osama berada”

Si Orang Indonesia bengong: “Loh kenapa nggak ditangkep aja?”

Pak Dubes mendelik, melepaskan cerutu dari mulutnya dengan kedua jari sambil melengos: “Apa untungnya buat kami?”

This entry was posted in cerita_kerja, Orang Indonesia, Republik Indonesia, sehari-hari and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Apa Sebenarnya Diplomat dan Diplomasi

  1. aRuL says:

    JK ada mengakui tapi kalo yang lain menolak 😀

  2. dodo says:

    tumben tulisannya bang aip gak konsisten. Di paragraf atas pake “praktek” eh ke bawah jadi “praktik”. he..he..

    -sori kalo krasa gak penting-

  3. farah kirana says:

    saya tertarik dengan diplomasi, jurusan saya hubungan internasional thats interest lecuturer. a diplomat is my reality want.. thts why i choose, just share diplomat which progam in good side learn about something new, so learn diplomatic is my principle, just to learn and shown diplomacy personality

  4. Rini says:

    Thanks for the information, thank you so much, God Bless You

    –0–

    No problems. Glad can help

  5. susmika yuliana says:

    thanks for the information :)

Leave a Reply