Jum and Jack: Empat

Ketika bapak saya meninggal dan kami menguburkannya di Kalibata, pulangnya saya ke Cilincing bersama Jumari, Dayat dan Piter. Dari Kalibata, kami naik angkutan kota bernama mikrolet M-16 dulu ke Terminal Kampung Melayu sebelum lanjut lagi ke Terminal Tanjung Priok. Jadi, di mikrolet saya duduk di pojok bersama tiga manusia ini. Hampir semua orang Cilincing yang saya kenal berdarah panas. Tapi Dayat dan Piter ini sudah terkenal sebagai manusia yang darahnya lebih panas ketimbang semua orang Cilincing yang saya kenal.

Pada intinya, di jalan kami ini semuanya benar-benar rusuh. Seakan lupa baru saja bersentuhan dengan mayat, tubuh dengan jiwa yang tidak ada lagi di dunia ini. Saya malas menceritakan apa yang terjadi di jalan pada saat itu, yang pasti semua penumpang kelihatannya merasa enggan duduk bersama kami dan lalu turun secepatnya. Tapi yang bisa saya ceritakan adalah ketika mikrolet kami berhenti menunggu lampu hijau, di sebelah ada bus yang isinya anak STM (Sekolah Menengah Teknik) Jakarta yang terkenal suka berkelahi. Piter dan Dayat melotot ke arah bus itu sambil mengacungkan jari tengah berteriak, “Woy anjing! Sini lu semua turun! Dasar banci!”. Ini artinya sederhana; tantangan.

Melihat satu bus kota besar PATAS yang kelihatannya berisi anak STM semua yang beberapa diantaranya memegang senjata tajam, darah saya berdesir. Saya baru saja mengubur Bapak. Masa sih setelahnya Ibu harus mengubur saya?

Sumpah mati, saya takut. Kami empat orang. Di mikrolet, mobil kecil yang semestinya hanya berkapasitas paling banyak 8 orang. Sementara, melihat puluhan anak-anak STM itu, saya pikir mereka akan dengan amat mudah menyegel mobil lalu membakar kami hidup-hidup. Jaman itu, perkelahian antar anak sekolah di Jakarta memang mengerikan. Dan apa yang saya bayangkan tentang maut kami, kemungkinan besar akan terlaksanakan.

Saya lihat Dayat dan Piter. Matanya ganas memang seperti sudah siap perang. Entah gara-gara kenapa, mungkin masih menyimpan dendam. Saya lihat Jumari, dia tenang-tenang saja. Sambil garuk-garuk kuping dia senyam-senyum seakan tidak ada apa-apa. Saya kaget, “Jum, lu kenapa ketawa?”

Dia tambah lebar senyumnya, “Lu tau ga Jack? Tuh anak-anak STM ga ada yang bakalan turun”

Saya tambah kaget. Tapi sebelum saya tanya lebih lanjut, Jum seakan sudah menebak karena menjawab, “karena kita pake peci”

Saya tidak tahu apa hubungannya antara peci, sebuah songkok yang ada di kepala dengan perkelahian massal yang gagal karena massa lawan melihat kami berkopiah. Yang pasti memang benar-benar tidak terjadi apa-apa siang itu. Para anak-anak STM terbengong-bengong melihat mikrolet kami para pemakai peci yang melaju tanpa berbuat apa-apa.

Begitu sampai di Cilincing setelah hari yang meletihkan dari Kalibata, saya mengalihkan topik. “Jum, kenapa bapak gua meninggal yah? Adek gua si Uul pan masih bayi. Jum, kenapa tuhan nggak adil. Bapak gua pan orang baek. Kok dicabut buru-buru?”

Jumari tersenyum sambil berkata, “Bapak lu udah dapet jalannya. Lu santai aja Jack. Sekarang yaah elu yang kudu jalan. Maka itu, sekarang cari jalan lu, Jack”.

Sejak saat, dari dulu ketika ada sahabat atau keluarga yang meninggal, saya selalu ingat perkataan Jumari yang selalu bilang, “Jack, lo udah jangan mikirin yang meninggal. Doi mah asik di sono. Santai aja. Pikirin tuh yang masih hidup. Yang ditinggalin. Cukupin idup mereka. Jangan sampe mereka blangsak idupnya”

Sampai saat ini, saya masih belum mengerti maksud Jumari. Apa dia maksud, kalau orang-orang yang berkopiah menantang publik maka publik akan diam saja? Apa yang dia maksud dengan ada jalan setelah kematian? Memangnya dia sudah pernah ke sana terus balik lagi ke sini? Entahlah?

Bahkan hingga akhirnya kami berpisah dan jarang bertemu, saya masih tidak mengerti dia bermaksud apa.

Yang saya bilang jarang bertemu memang secara literal benar-benar jarang bertemu. Saya tinggal di sebuah dunia yang sungguh jauh dari laut Cilincing tercinta. Jumari masih ada di sana. Dengan idealisme mencerdaskan anak bangsa. Dengan murid-muridnya yang banyak luar biasa. Dengan keluarga yang amat ia cintai. Dengan kail dan sampannya yang selalu setia dalam meluangkan waktu bersama.

Untung kemudahan teknologi semakin memurahkan internet. Hingga akhirnya Cilincing tersentuh keajaiban penemuan manusia bernama surat elektronik.

Ketika kami akhirnya benar-benar tidak bisa bertemu karena waktu, suatu hari dia kirim email. “Jack, gua ngerasa berdosa banget. Tapi pagi si Ravi nggak mau ngaji. Emosi gua. Tangan gua maen, Jack. Astagfirullah. Gua nggak konsentrasi nih ngajar. Mau nangis terus gua Jack. Nyesel banget gua nampar tuh anak. Bisa ketemu nanti malem Jack?”

Saya merasa sedih. Sungguh sedih sekali. Ia sahabat saya. Orang yang selalu melindungi ketika saya lapar atau marah. Orang yang sering berani mendukung atau malah menantang semua ide-ide gila yang selalu saya lontarkan. Saya sahabatnya, yang saat itu ada di belahan dunia lain. Tak mampu bilang apa-apa ketika orang yang saya cintai tengah sedih dan kecewa pada dirinya sendiri. Tanpa sengaja ia menyakiti putranya, orang yang amat ia cintai. Sebuah dosa yang dianggapnya tak berampun.

Dan saya hanya bisa menjawab melalui surat elektronik, “Jum, gua udah balik men. Malam ini gua nginep di KL. Besok berangkat lagi balik. Sori men kita nggak bisa ketemu”. Sambil menambahkan, “Minta maaf aja ama Ravi. Bilang sama dia lo cinta dia dan lo ga bakalan ngulangin lagi kayak gitu. Lo bapak yang hebat man. Tapi lo juga manusia. Kita semua toh pernah salah. Sebagai bapak yang hebat, lo pasti ngajarin anak lo bagaimana cara meminta maaf supaya suatu saat dia juga bisa jadi jentelmen sejati kayak lo, men”

Beberapa hari kemudian kami jarang bertemu sua lagi melalui dunia maya. Saya sibuk. Ia juga sibuk. Hingga akhirnya datang sebuah surat pendek yang isinya berbunyi, “Sekarang gua tau kenapa lo ada di luar Cilincing”

Saya yang penasaran bertanya balik kenapa. Tapi ia tidak pernah menjawab. Sama dengan lontarannya soal kopiah.

Hingga suatu malam beberapa minggu lalu saya baru keluar dari concertgebouw untuk melihat pertunjukan gitar klasik Izhar Elias yang diiringi dirigen dari London Philharmonic Orchestra (*dapat tiket hadiah ulang tahun dari teman-teman saya*). Begitu menyalakan kembali telepon genggam, masuk pesan dari Rojak, adiknya Jumari mengirim SMS. Bulan begitu bulat malam itu. Katanya, terbulat dan tercantik yang pernah ada setiap 18 tahun sekali. Begitu romantis diiringi flute dan biola orkes kamar. Namun keindahannya tak seberapa melihat SMS Rojak yang amat membuat dada sesak. “Minta doanya. Jumari koma. Udah sebulan. Hari ini paling kritis”.

Malam itu saya coba telpon ke Jakarta. Susah sekali. Saya pikir perbedaan waktu atau kalau tidak, masalah koneksi. Yang pasti, saya sungguh galau. Sahabat saya terbaring di rumah sakit. Ada apa?

Dalam galau saya jatuh tertidur, ketika bangun ada SMS lagi dari Rojak, “Innalillahi, Jumari pergi”

Saya jalan ke dapur dengan gontai. Cari tempat duduk. Susah sekali. Lemas. Tidak kuat menghadapi berita ini. Akhirnya saya duduk di lantai. Menatap layar telepon genggam seakan tidak percaya. Sahabat sekaligus musuh dalam diskusi-diskusi saya. Guru idola. Masih muda. Teman mancing setia. Nelayan tangguh tak terkira. Kini berlayar untuk selama-lamanya.

Saya gemetar ketika membuka dan membaca surat elektronik dari adik-adik saya. Yang juga mengabarkan berita duka. Seluruh anggota keluarga saya adalah sahabat Jumari. Mereka pula kehilangan.

Saya semakin gemetar ketika membuka laman-laman facebook Jumari. Ratusan murid-murid dan rekan kerja bergantian memberi salam perjalanan terakhirnya. Sahabat saya ini, ternyata pula dicintai banyak orang. Ia orang baik. Dan manusia, selalu menyukai orang baik.

Dulu dalam sebuah komentar di blog saya, ia meminta agar saya menuliskan kisah hidupnya. Tepatnya, hidup kami. Karena sibuk, itu selalu tertunda. Saya tidak tahu apa yang harus saya tuliskan. Saya tidak punya begitu banyak waktu memberikan testimoni betapa senangnya saya sebagai sahabatnya. Saya tidak bisa merangkaikan 140 karakter huruf untuk menyatakan betapa saya mencintainya. Saya tidak bisa bilang pada publik betapa luar biasanya Jumari.

Kini ironis. Setelah ia pergi, justru saya bisa membuat empat tulisan berseri hanya sebagai dedikasi saya untuknya. Entah doa saya sampai atau tidak, saya harap di surga sana ia diberi cara agar bisa mengetahui betapa saya bangga pernah jadi sahabatnya.

(*Foto milik Jum saat masih sehat dan jadi guru di SMK 36 Jakarta. Diambil dari laman facebooknya. Tertulis dua tahun lalu dan ia kelihatan masih amat segar bugar. Caption yang ia tulis, “superman pulang kampung, berganti orang kampung…… saya orangnya toleran, saya menghormati yang pake kaca mata dan yang tidak……… hehe36“. Ia selalu suka tertawa dan saya selalu amat tergila-gila dengan gurauannya*)

Selamat jalan, Jum. Selamat jalan sahabat. Salam dari ‘Jack’.

This entry was posted in bangaip, Orang Indonesia and tagged , , , . Bookmark the permalink.

10 Responses to Jum and Jack: Empat

  1. itikkecil says:

    turut berduka cita atas kepergian temannya bang…

    –0–

    Terimakasih Mbak

  2. mas stein says:

    luar biasa! maafkan saya yang sempat berfikir ini adalah tulisan fiksi. semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.

    –0–

    Nggak apa-apa Mas. Terimakasih atas ucapannya.

  3. Wijaya says:

    Saya ikuti ke 4 seri tulisan ini sejak diposting, benar2 perjalanan hidup yg penuh gejolak dan dinamika.

    (quote: Kenapa ya orang baek “dipanggil” duluan?)
    Duh, turut berduka cita bang….

    –0–

    Terimakasih Mas Nuky. Walaupun sedih banget sih memang, tapi hidup jalan terus. Semoga keluarganya yang ditinggalkan baik-baik saja.

  4. indie_ana jones says:

    Turut berduka cita bang,semoga Jum diberi kelancaran jalan dan keluarga-teman-sahabat diberikan kekuatan dan keikhlasan,aamiin. Insya Allah dia bisa membaca tulisan2 ini ya Bang

    –0–

    Terimakasih yaa Mbak

  5. aRuL says:

    ikut terharu, dan ikut merasakan apa yg bang aip rasakan..

    saya akhirnya menghabiskan membaca tulisan 4 seri ini, membayangkan bahwa saya punya teman akrab yang akhirnya ikut mendahului kita…

    semoga Bang Jumari mendapatkan tempat layak, dan tentunya sangat layak untuk akhirnya bisa memberikan petuah hidup bagi yang masih hidup.

    –0–

    Terimakasih yaa Rul

  6. didi says:

    saat melanjutkan part#4 membaca dalam kantuk.. namun lama – kelamaan tulisan ini mampu membuat saya menelurkan haru. Dan saya pun tak sadar, kantuknya jadi hilang. “Turut berduka cita atas kepergian sang sahabat.” Insya Allah doa2 tersampaikan untuknya yg t’lah pergi.

    –0–

    Terimakasih Mbak

  7. Citra Dewi says:

    Turut berduka cita sedalam dalamnya atas kepergian sobat terbaik, terkasih dan tercinta. Saya bisa merasakan kepedihan ini.
    Selalu saya gemetaran kalau mendengar ada family atau sahabat tercinta yg sakit apalagi parah. Takut mendapat sms atau telefon yg akan mengabarkan kabar duka itu. Jarak kadang bagai pisau tajam yg menikam rasa.
    Semoga keluarga dan handai taulan yg ditinggalkan diberi kekuatan.
    Kita yang hidup.. masih terus berlayar sampai batas waktu yg ditentukan.

    –0–

    Terimakasih yaa Mbak Citra

  8. sufehmi says:

    Tambah banyak orang baik yang dipanggil dari dunia ini, sisanya tinggal kita-kita saja nih.

    –0–

    (*melihat ke langit, sambil garuk-garuk kepala bertanya kapan waktu saya dan bagaimana prosesnya nanti*)

  9. edratna says:

    Saya terharu baca cerita terakhir ini…
    Kita sering bersahabat dengan berbagai karakter orang, kadang sifatnya berbeda dengan kita, namun kita tahu, dia selalu mendukung kita.
    Innalillahi wa inna lillahi..semoga arwahnya diterima oleh Allah swt.dan yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan. Amien.

    –0–

    Terimakasih Bu atas doanya

  10. Guru terbaik, terhebat, terlucu.
    inget waktu foto-foto ama Pa’ jum dikelas PKN pakai kacamata itu,
    kalau kata Pa’jum “LOP YU PULLLLLL”
    semoga Pa’ jum ditempatkan di tempat yg terbaik disisiNYA … Amiiiiiiiiiin …

Leave a Reply