Operasi Payudara

Beberapa hari lalu saya mengobrol dengan putri saya Novi Kirana yang baru saja menginjak usia tiga tahun. Seperti biasa, kalau mengobrol posisi kami memang agak aneh. Sejak ia bayi, kami memang suka mengobrol serius ketika saya sit-up atau push-up. Kalau saya sit-up, ia duduk di atas kaki atau perut saya. Kalau saya push-up, ia duduk di atas punggung saya.

Kali itu, saya sedang melakukan beberapa sit-up. Ia keluar dari tepee, tenda Indian yang saya buat untuknya yang berdiri pas di ruang tengah rumah. Langsung duduk di atas perut saya. Tanpa tedeng aling-aling langsung bertanya, “Papa, kenapa dada kamu kecil?”

Dalam hati saya melengos, ‘Yaelah bocah, udah tau badan bapaknya segini-gini aja. Walopun udah olahraga segimanapun juga emang badan ini yah segini doangan. Pake ditanya-tanya segala’

Dan karena sudah ngos-ngosan saya jawab santai, “Karena papa anak laki-laki, sayang. Anak laki-laki kebanyakan nggak punya dada besar. Kalau anak perempuan punya dada lebih besar daripada anak laki-laki”

Dia buka kausnya. Dia lihat ke arah dadanya sendiri. “Kenapa dada saya sama seperti dada papa?”

Saya jawab, “Karena kamu anak papa, Cintaku”

“Tapi kan saya anak perempuan?”

“Iya, nanti juga kalau sudah besar dada kamu tambah besar”

“Kalau papa besar dada papa juga tambah besar?”

Saya bengong. Buset dah, anak kecil pertanyaannya memang ajaib kok yaa? Saya berhenti sit-up. Tapi matanya kecewa. Maka itu, saya sit-up lagi (*padahal sumpah saya sudah hampir kehabisan nafas. Tapi demi anak, ya sudah lah tambah satu set lagi*).

Sambil terengah-engah saya jawab, “Kalau berat papa tambah dada papa juga tambah besar nanti”

Mulutnya merocos dengan alis berkerut, itu tandanya dia sedang protes. “Tapi saya kan sudah besar! Saya sudah tiga tahun! Saya anak perempuan besar!”

Dengan lembut saya mengusap rambutnya yang makin panjang melewati dahi, “Iya kamu sudah besar. Tapi akan ada saat dimana semua anak perempuan akan lebih besar dadanya. Lebih panjang rambutnya. Lebih besar pinggulnya dan makin mengerti bahwa tubuh mereka berubah”

“Umur saya tiga tahun. Papa lebih besar daripada saya. Dada papa kecil. Umur papa empat tahun?”

Sambil cengar-cengir saya jawab, “Yaa nggak jauh beda lah kita. Papa juga masih muda kok”

Dia ke dapur. Saya bangun dari posisi sit-up sambil melakukan gerakan peregangan istirahat pada pinggul dan tangan. Saya lihat ia buka lemari pendingin mencari minuman es jeruk kesukaannya. Saya kira, obrolan siang itu selesai sudah. Namun dari balik pintu lemari pendingin ia bertanya lagi, “Kenapa dada papa kecil?”

Saya cuma diam, cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala. Itu tandanya, percakapan ini masih akan berlangsung lama. Dan saya harus lebih banyak berolahraga akibatnya.

Saya ikut ke dapur, menyeruput es teh manis. Setelah itu saya ambil nafas sebentar lalu mulai posisi push-up dan bertanya kepadanya agar duduk di atas punggung saya.

Sambil menghisap isi botol es jeruknya dengan sedotan, ia patuh duduk di atas punggung. Dan mulailah saya bercerita.

“Dulu papa minta sama Pak Ali bos papa, supaya papa sekolah lagi. Tapi Pak Ali bilang papa sudah terlalu banyak sekolah. Pak Ali bilang papa harusnya mengajar saja. Papa kecewa”

“Terus kamu marah, papa?”

“Marah sih nggak. Tapi papa sedih. Tapi papa nggak bisa sedih, karena bos papa bilang lebih baik ilmu papa dibagi sama orang jadi papa pikir ia benar. Kalau papa sekolah lagi ilmunya buat papa sendiri saja. Tapi kalau papa mengajar ilmunya kan bisa buatΒ  papa dan buat banyak orang. Jadi papa mengajar deh. Salah satu mahasiswi papa namanya Mel. Kamu kenal Mel? Dulu kan pernah papa kenalkan”

Lalu saya tertawa mendengar jawabannya, “Dulu kan saya masih kecil papa. Kamu jangan mengharapkan saya ingat dengan banyak teman kamu dong?”

Saya semakin terbahak-bahak ketika ia turun dari punggung, mencabut sedotan dari botol es jeruk dan memperlihatkan ke depan mata saya. “Waktu itu pasti saya lebih kecil dari ini!”

Setelah ia naik lagi ke punggung, saya melanjutkan cerita. “Mel itu mamanya Georgie dan Anne. Mereka berdua waktu masih bayi, menyusu pada Mel. Sama seperti kamu juga dulu menyusu pada mama. Cintaku Novi, kalau perempuan menyusui bayi biasanya dadanya tambah besar. Karena ada susu di sana. Sama seperti dada Mel. Tapi sayangnya ketika Georgie dan Anne sudah tidak menyusu lagi, dada Mel masih tetap besar sekali”

Ia diam. Saya juga tidak dengar suara botol es jeruknya. Tanda kalau ia sedang amat mendengar cerita dengan penuh konsentrasi.

“Punggung Mel jadi sakit. Kalau jalan susah. Sebab dadanya besar sekali”

“Kalau begitu, kenapa Georgie dan Anne tidak menyusu saja terus?”

“Sayang, kalau anak sudah besar biasanya mereka berhenti menyusu sama mamanya. Georgie sudah sepuluh tahun, Anne juga sudah delapan tahun. Jadi mereka sudah tidak menyusu lagi sama mamanya”

“Mel sakit?”

“Iya kasihan Mel. Kalau jalan susah. Kalau duduk susah. Karena dadanya terlalu besar. Jadi ia ke dokter. Ke rumah sakit. Dada Mel harus dikecilkan. Jadi waktu di rumah sakit dada Mel dikecilkan”

“Bagaimana dikecilkan dadanya? Diambil susunya untuk rumah sakit?”

Saya tertegun berhenti push-up sebentar. “Wah kalau itu papa juga nggak tahu sayang. Yang pasti beberapa bulan kemudian Mel kembali ke kelas papa. Dan dadanya sudah lebih kecil daripada dulu. Kamu tahu cintaku, ternyata ia sekarang jauh lebih bahagia punya dada kecil ketimbang punya dada besar”

Novi Kirana diam. Saya tahu, logika dalam cerita yang telah saya ceritakan masuk ke dalam benaknya. (*Itu artinya; saya sudah boleh berhenti push-up. Hehe*). Ia lalu turun dari punggung. Saya duduk dihadapannya. Sambil masih memegang botol es jeruk lalu duduk diatas pangkuan saya.

Sambil memangkunya saya bilang, “Anakku sayang, papa cinta kamu. Super cinta kamu. Papa tahu kamu cinta papa. Tapi yang lebih penting lagi, kamu harus mencintai diri kamu sendiri”

Dia berdiri, berbalik lalu memberikan kecupan di hidung saya. Sambil memeluk ia berbisik di kuping saya, “Saya cinta kamu papa. Walaupun dada kamu kecil walaupun dada saya kecil”

Tiba-tiba, saya merasa jadi lelaki berdada kecil yang paling bahagia di muka bumi ini.

This entry was posted in bangaip, cerita_kerja, sehari-hari and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

9 Responses to Operasi Payudara

  1. *ngakak*

    hmmm…nanti sayah mesti cerita seperti apa ke anak perempuan sayah yak? :-)
    *siapin primbon utk menjawab pertanyaan2 ajaib anak perempuan*

    –0–

    Cerita aja apa adanya Mas Fahmi :)

  2. aRuL says:

    *ngakak*
    haha, sebelum membaca posting ini, barusan saja, saya membaca posting lain seorang ibu yang bagaimana menjelaskan ke anak lelakinya kalau dia kerja utk anak lelakinya juga.
    Berat juga ya jadi ortu, pertanyaan2 yg sebenarnya simple, tetapi berbeda jawaban utk tingkat usia, apalagi ke anak sendiri perlu ilmu yg luar biasa biar anak paham dan tidak salah arah.
    *cari buku2 tentang bagaimana mendidik anak* πŸ˜€

    –0–

    Anak-anak memang pertanyaannya sederhana tapi menuntut jawaban yang sama sekali tidak sesedarhana yang dikira (*setidaknya menurut saya begitu sih, hehe*)

  3. nita says:

    welcome to the club, bang… :-)

    –0–

    Haha, terimakasih Mbak :)

  4. sufehmi says:

    Anak kecil memang TOP ! Bukan Bang Aip yang paling top…. πŸ˜€

    Gara-gara anak-anak kecil ini, Bukan sekali dua kali saya dipaksa berpikir dan/atau memikirkan ulang suatu hal yang tadinya saya kira sudah clear, he he.
    Sebenarnya, saya juga banyak belajar dari mereka.

    Mudah-mudahan Novi bisa terus jadi anak yang kritis dan tidak pernah takut untuk bertanya / mempertanyakan sesuatu, amin…

    –0–

    Wah saya mah memang sudah ketahuan kalah TOP dibanding anak-anak, Pak. Hahaha. Bener Pak, kita memang dituntut untuk memandang sebuah peristiwa/object dari sudut yang berbeda. Mirip aplikasi OOP, dioprek biar pas. Bedanya, anak kecil jauh lebih kompleks daripada aplikasi apapun juga. Hehe

    Anyway, terimakasih buat doanya, Pak

  5. sandalian says:

    Berarti saya harus belajar dari sekarang, belajar menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan diajukan anak-anak saya nantinya πŸ˜€

    –0–

    Haha, nanti juga datang sendiri waktunya, Mas. Anyway, Amazon dot Com top list parenting itu salah satu cheat code saya buat ngejawab pertanyaan anak-anak. (*Haha, jangan bilang anak saya yaah bapak’e make cheat*)

  6. Wijaya says:

    Hahaha….sebagai sesama bapak yg punya anak perempuan, saya cukup bisa memahami kebingungan itu πŸ˜€
    Yang penting kita jangan kasih jawaban yg bohong bang :)

    –0–

    Pasti! Eh iya, tapi kok saya bohong yaah waktu bilang umur saya dan anak saya nggak jauh beda. Hihihi… maap :)

  7. didi says:

    asli..terkadang lucu sendiri pas kecipratan pertanyaan2 ajaib dari orang2 sekeliling yang notabenenya masih ‘bocah cilik’ :). Dan biasanya sebagai org gede..suka ngeles, apalagi kalo udah kebingungan pas mau ngejawab hehe.. *Salam kenal buat Novi Kirana :) – ngetik sambil ngebayangin bocah bernama Novi Kirana mungkin rambutnya sebahu*

    –0–

    Iya, rambutnya hampir sebahu :)

  8. edratna says:

    Selamat untuk menjawab terus pertanyaan yang lucu, tapi harus dijawab serius sesuai umurnya…hehehe….saya udah lulus duluan.

    –0–

    Haha, iya Bu. Terimakasih.

  9. dary says:

    lucu sekali si novi kalau ada foto dia emailin dunk

    –0–

    Iya, Mbak. Nanti saya kirimin yaah :)

Leave a Reply