Tentang Perburuan Wanita (Dua – Jelena)

Informasi itu adalah pisau bermata dua. Satu sisi bisa digunakan mengiris kue ulang tahun dan bergembira ria bersama keluarga. Satu sisi lain, bisa dipakai untuk mengiris pergelangan urat nadi demi bunuh diri. Tergantung cara pandangnya. Tergantung pula cara pakainya.

Informasi yang kali ini saya bagi (sebab saya sudah janji pada sahabat untuk membaginya), sifatnya sensitif dan terklasifikasi. Artinya, informasi ini bisa membantu Anda untuk mencegah hal buruk, namun juga bisa membantu Anda melakukan hal buruk. Tapi percayalah, saya sama sekali tidak ingin membantu atau mencegah Anda melakukan keburukan (atau kebaikan, emangnya saya siapa?).  Saya hanya ingin berbagi. Saya hutang janji dan tulisan ini adalah bayarannya.

Jika informasi yang saya bagi pada tulisan ini terlalu memusingkan, jangan dipikir banyak-banyak. Anggap saja fiksi. Sebab dengan begitu hidup Anda bisa jauh lebih tenang.

Selamat menikmati.

Akhir 2009
Saya menabung tidak jajan dalam beberapa bulan. Lebih parah lagi, tidak beli komik dan software kegemaran.

Uang itu untuk biaya riset. Topiknya, perdagangan manusia. Saya tahu, perburuan ini tidak akan mendapatkan apa-apa. Bukan gelar PhD, bukan pula dana operasional dari LSM internasional, bukan pula pura-pura jadi malaikat. Saya tidak butuh semua itu, saya hanya ingin tahu, kenapa ada manusia yang sebegitu kejamnya menculik perempuan-perempuan muda, memperkosa dengan alat penyiksa, menjual belikan, melacurkan dan bahkan hingga mengancam membunuh anggota keluarga jika para perempuan muda malang ini kabur.

Uang menabung itu, sekedar untuk biaya riset. Riset yang mungkin saja tidak banyak berguna bagi siapa-siapa.

Tapi saya tidak peduli. Rasa ingin tahu itu mahal. Apalagi mendendam kemarahan. Saya pikir, saya harus membayarnya dengan riset ini.

Saya marah. Saya tahu. Sangat tahu. Makin lama amarah ini dipendam, saya bisa sakit jiwa. Saya harus melampiaskannya. Saya pikir ini bukan riset untuk membantu orang lain. Ini jelas cari solusi supaya jiwa saya tidak cepat-cepat mati.

Ketika uang itu akhirnya cukup. Lewat beberapa kontak, saya bertemu Lucija (bukan nama sebenarnya) dan membooking beliau dalam beberapa waktu pertemuan. Profesinya jelas pelacur dan sebagaimana perempuan penjaja jasa badaniah, ada kompensasi uang yang harus ia terima. Dan kesanalah uang tabungan jajan saya pergi. Saya menggunakannya untuk bertemu seorang pelacur.

Pertemuan pertama, saya datang ke rumahnya. Saya beri ia uang tarif sejam. Ia langsung membelai-belai tubuh saya. Buka baju dan mencoba membuka pakaian saya.

Itu perempuan, cantik sekali. Dengan badan luar biasa proporsional setinggi 174 cm. Rambutnya coklat ikal berombak. Panjang dan mengkilat. Kulitnya lembut bagai lapis buah zaitun. Dengan tulang pipi setinggi itu, kelihatannya ia lebih cocok menjadi seorang model.

Saya pikir saya cukup gila hari itu. Lelaki normal mana yang bisa tahan menatapnya telanjang dan tidak berbuat apa-apa selain bertanya untuk wawancara.

Saya pegang tangannya sambil berkata, “Look ma’am. Nama saya bangaip. Saya datang kesini untuk bicara”.

Ia kaget. Saya pikir ia takut. Matanya membelalak. Merapikan baju. Ia hanya diam ketika saya tanya. Saya tahu, percuma lebih lanjut berkata. Uang sejumput masih di atas meja. Ia tidak mengambilnya. Saya tanya lagi sambil senyum, “Kalau tidak boleh tanya-tanya, okay. Tapi apa saya boleh meminta segelas teh?”.

Ia berdiri membuat minuman. Tanpa senyum ia mempersilahkan saya minum. Saya tahu ia curiga.

Ketika segelas teh itu habis, saya berdiri di pintu untuk pamit dan berkata, “Saya bukan polisi. Bukan juga orang jahat. Sepupu saya pernah diculik untuk didagangkan. Saya pikir saya tolol kalau membiarkan hal tersebut terjadi dan saya diam saja. Maka itu saya perlu bicara dengan kamu. Saya pikir, kamu bisa membantu saya mendapatkan jawaban”.

Pertemuan kedua dan ketiga masih sama. Ahh, uang tabungan untuk riset semakin menipis. Tarif perjam Lucija ini mahal. Katanya, dulu waktu masih usia belasan ia paling laris. Blasteran Italia dan Hungaria. Sekarang usianya sudah hampir beranjak kepala tiga. Tetapi masih mahal walaupun tidak seperti dahulu. Tapi saya harus sabar. Ini perburuan.

Semua pemburu punya taktik masing-masing. Dan hanya strategi lah yang membedakan antara satu perburuan dengan lainnya.

Pertemuan-pertemuan selanjutnya. Saya minum teh saja sambil cerita-cerita hidup  sehari-hari. Terutama putri saya yang baru belajar berjalan dan mulai berlari-lari. Saya cerita padanya betapa bangga dan cinta pada keluarga kecil yang dimiliki. Pelan-pelan, Lucija tersenyum.

Hingga suatu hari ia bertanya siapa nama putri saya, maka saya rasa itu adalah saat yang tepat membuka tabir rahasianya.

Dan Lucija pun bercerita.

Dari mulut Lucija, saya tahu bahwa ia tidak diculik dan disiksa. Tapi tetap saja dipaksa.

Ratko Mladic pics

Ratko Mladić, jagal bosnia

Ia cerita, ‘seniornya’ adalah Jelena, perempuan muda Bosnia yang mencoba lari dari tanah kecintaannya yang dilanda perang pada tahun 1993. Jelena diperkosa habis-habisan oleh tentara Serbia yang dikomandoi Ratko Mladić. Si perempuan Bosnia ini dijual dari satu pasar daging ke pasar daging lainnya. Mulai dari Praha sebelum akhirnya mendarat di Antwerpen, Belgia sana. Ketika diperkosa dan lalu dijual oleh para tentara Serbia, Jelena berusia 14 tahun.

Lucija sendiri dari sebuah desa di barat Hungaria. Ia bilang, suatu hari perempuan asing berbahasa Inggris datang ke kampungnya. Bilang mau merekrut gadis-gadis muda untuk diperkerjakan sebagai pengasuh anak, penjaga toko, dan bahkan hingga super model. Gadis-gadis muda cantik namun datang dari kantung-kantung miskin Hungaria ini terpukau mendengar cerita si perempuan asing. Ia datang dengan mobil mewah, pakaian bagus dan bergelimang perhiasan. Mata belia para remaja ini terpukau. Dari sekian ratus perempuan muda yang melamar, hanya sepuluh orang yang diterima. Semuanya dengan tinggi dan kecantikan di atas rata-rata. Diantara mereka ‘yang beruntung’ adalah Lucija.

Keberuntungan itu berubah menjadi malapetaka ketika mereka lepas dari perbatasan Hungaria. Ia diperkosa berkali-kali dan bahkan pernah mencoba bunuh diri. Mereka bilang, kalau ia mencoba bunuh diri atau kabur, maka salah seorang keluarganya akan dibunuh. Lucija hidup seperti di neraka. Sejak saat itu setiap hari harus mengangkang meladeni puluhan pria.

Hanya satu orang yang membuatnya tetap bertahan hidup. Perempuan asing dengan dandanan mewah yang ternyata bekerja dalam ancaman ketika merekrutnya. Hanya perempuan itu yang menghiburnya sambil berkata bahwa suatu hari pasti ada jalan keluarnya. Perempuan Bosnia, namanya Jelena.

Pekerjaan mereka sama, jadi budak seksual puluhan lelaki setiap harinya.

(*in memoriam of Almira Bektovic – Bosnian Child of War Rape*)

This entry was posted in bangaip, sehari-hari and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply