Tentang Perburuan Wanita (Empat – Cap Besi Panas Pada Sapi Ternak)

Pertengahan 2011
Sudah setahun lebih saya tidak masuk dalam penelitian perdagangan manusia ini ini. Beberapa lalu ini hidup saya bagai sampan kecil ketika laut Cilincing terhempas badai. Sakit fisik dan non-fisik melanda habis-habisan.

Ketika sudah mulai bisa berdiri dengan kaki sendiri, saya coba lagi buka arsip-arsip lama. Kembali membaca, menulis dan melakukan kontak dengan Lucija.

Lucija sendiri masih sama, bedanya, kali ini ia sudah bisa bercanda. Dari obyek penelitian, menjadi teman. Ia sering tertawa kalau ingat pertama kali kami bertemu. Suatu kali sambil bercanda ia bilang, “Kalau setiap ketemu kamu bayar. Saya udah kaya nih”

Saya tertawa menjawab, “Kalau kamu sudah kaya, jangan lupa traktir saya”

Itu becanda. Jelas becanda sebab saya tidak punya niatan apapun untuk minta ditraktir. Tapi rupanya ia serius. Suatu hari ia datang dengan dua orang perempuan muda. Yang ketika kami duduk di cafe untuk bicara, bahkan pelayan restoran yang ganteng dan macho itu bertanya berapa penghasilan saya per bulan. Sehingga bisa dikerumuni para gadis-gadis secantik ini.

Saya menatapnya iba sambil berkata, “Dude, you don’t wanna know”.

Banyak orang yang kelihatannya bahagia menjadi jelita. Berlomba-lomba ingin menjadi tampak luar biasa. Lupa, kalau kecantikan itu berbanding seimbang dengan biaya. Makin gemilau penampilan seseorang, makin besar ongkos yang harus dikeluarkan.

Dalam kasus gadis-gadis di depan saya ini, mereka bahkan harus membayar dengan jiwanya.

Lucija membuyarkan lamunan saya. “Ini, saya sudah booking mereka untuk kamu dalam dua jam. Saya sudah bayar ke boss mereka. Saya sudah janji mau bantu kamu. Sekarang kamu tulis kisah mereka. Biarkan dunia tahu”

Dua jam berikutnya, ditemani alat perekam seadanya (telepon genggam dengan kapasitas penyimpan yang untunglah cukup besar), saya mendengar cerita luar biasa. Tentang dua gadis Bulgaria jadi mangsa germo Rusia. Diculik lalu dilarikan ke Israel. Lalu dijual paksa dari satu rumah bordil ke rumah bordil lainnya. Mulai dari Ashkelon hingga Nahariya. Para lelaki suci yang setiap sabtu begitu khusyuk sujud pada tuhannya, begitu di depan selangkangan wanita, gemar menyiksa.

foto pola penyebaran human trafficking bulgaria, georgia melalui turki

Peta penyelundupan wanita muda dari Eropa Timur menuju Israel dan Irak. Merah = menuju Haifa. Biru = menuju Irak dan negara-negara Timur Tengah. Peta ini adalah peta yang sama yang akan digunakan pada tulisan selanjutnya pada tulisan ketujuh, “Gate of Felicity”. Namun pada peta ketujuh, akan lebih luas dan lengkap penyebarannya. Saya tidak berjanji apa-apa, namun kelihatannya hasil riset saya ini semakin lama semakin menakutkan

Seorang yahudi pedagang permata Antwerpen yang berbasis di Haifa suatu hari melihat dua perempuan yang terkenal di Israel sebagai kembang pantai (akibat digilir dari satu rumah bordil ke rumah bordil lainnya sepanjang laut Mediterania). Membeli dua perempuan ini lalu dibawa ke kotanya di Belgia sana. Si Yahudi permata ini lalu menggunakan mereka sebagai budak seksual dan ‘sarana kelancaran bisnis’ .

Dari sarang buaya, ke mulut macan.

Pada suatu waktu dua perempuan ini berhasil lari dari si Yahudi Antwerp. Sialnya, jatuh ke tangan bandit Bulgaria yang beroprasi di jaringan Eropa barat. Dan kini jadi properti mereka. Benar-benar properti. Mereka menunjukkan tatto di bagian atas bokong. Tatto yang aneh, nama gang bandit tersebut dengan kalimat “собственост” diatasnya. Artinya dalam bahasa Bulgaria Slavic “Milik Dari”.

Bagai cap besi panas pada sapi ternak.

antwerp train station image

Foto stasiun kereta api Antwerpen, Belgia. Saya mengajak Paijo, teman, kesini. Sebab di pusat kota, samping stasiun ini banyak sekali pedagang permata keturunan Yahudi. Memakai kippah, peci hitam dan pakaian hitam-hitam dengan janggut dan cambang yang lebat. Perempuan istri-istri mereka memakai terusan long dress dan jilbab warna hitam. Antwerpen bahkan adalah salah satu pusat batu mulia dunia. Sempat jadi gosip tak sedap, sebab film Blood Diamond yang dibintangi oleh Leonardo Di Caprio salah satunya berbasis pada kisah nyata betapa bejatnya beberapa pedagang batu mulia di kota ini.

antwerpen passanger terminal pic

Kembali ke Paijo, ia tidak tahu apa-apa. Sempat marah sebab saya tidak mau memotretnya bergaya ala turis. Kasihan, ia tidak tahu kalau kami bukan turis. Melainkan sedang cari data memotret para pedagang permata dan pelabuhan tempat gadis-gadis muda ini dikirim ke negara lain. Jalur darat dan jalur udara terlalu riskan, banyak kontrol. Ini adalah foto terminal pelabuhan penumpang di kota Antwerpen pada siang hari.

Cerita-cerita kesaksian mereka saya rekam. Dirangkum. Lalu dikirim ke beberapa organisasi internasional yang menangani perdagangan manusia. Banyak tidak dibalas. Mungkin mereka pikir saya bukan siapa-siapa di dunia itu. Tapi ada beberapa yang melakukan kontak balik. Bertukar data.

Salah satu hal yang cukup membanggakan, setidaknya buat saya. Data-data yang terkirim itu, akhirnya bisa mencokok sembilan orang pria anggota pedagang budak belian dari Eropa Timur yang beroperasi di Perancis.
Entah kenapa ada euforia, ketika suatu malam di tengah tahun ini saya mendengar kabar tersebut. Saya senang. Walaupun saya tahu bahwa manusia manusia kejam ini bagai Hydra, dipotong satu kepala, akan muncul kepala keji lainnya.

Saya makin rajin melakukan riset dan mengumpulkan data.

Hingga suatu hari, dapat kiriman data. Bahwa ada beberapa perempuan-perempuan muda Georgia yang ditransfer paksa ke RRC dan lalu dikirim ke… Indonesia.

Tangan saya gemetar ketika membacanya.

This entry was posted in bangaip, sehari-hari and tagged , . Bookmark the permalink.

One Response to Tentang Perburuan Wanita (Empat – Cap Besi Panas Pada Sapi Ternak)

  1. aini says:

    wah… seru pengalaman dan usahanya Bang Aip, sudah bisa berjasa pada dunia. mampu menjembatani pencokokan sembilan orang pria anggota pedagang budak belian dari Eropa Timur yang beroperasi di Perancis. Semoga Bang Aip tambah sehat jiwa, raga dan kantongnya, agar bisa terus meneliti dan berbagi kisah. paragraf terakhir itu ada lanjutannya kan Bang? sangat ditungu….

Leave a Reply