Tentang Perburuan Wanita (Tiga – Gurita Raksasa)

Dari Lucija saya kenal beberapa perempuan lain. Ceritanya hampir sama. Wanita yang diperlakukan brutal bahkan kadang sampai terdengar tidak masuk akal (seorang dari mereka pernah diperkosa dengan gagang pacul sambil direkam video. Setelah diperkosa, perempuan ini dibunuh. Lehernya dipacul sampai hampir putus. Biasanya video label ‘Snuff’, artinya seksual dengan kekerasan luar biasa, ini palsu. Namun saya baru dengar ada yang asli. Sialnya bahwa memang ada pasar untuk kekejaman seksual ini).

Dari cerita-cerita mereka, sering saya dapat mimpi buruk. Setiap hari, mimpi-mimpi buruk itu saya catat dalam jurnal. Beberapa mimpi, sangat dekat sekali dengan cerita para wanita itu.

Saya pikir saya ikut trauma. Saya sukar tidur. Sering kelopak mata sekeliling membulat hitam dan jadi bahan gunjingan di pabrik ketika bekerja. Saya trauma akibat terlalu larut dalam penelitian.

Logika dasar penelitian sangat jelas. Jika dalam penelitian, seorang peneliti terarah menjadi subjektif, maka besar sekali kemungkinan terjadinya distorsi dalam output hasil riset. Ini bukan jurnalisme Gonzo, dimana batas antara seorang jurnalis dengan Antropologis menjadi rancu dan sama sekali tidak jelas. Bukan itu.

Saya sedang riset. Dan jika saya trauma dengan penelitian saya sendiri, ini saatnya saya menarik diri sementara.

Ini saat yang tepat untuk istirahat.

Awal 2010

Saya pergi bersama keluarga ke Perancis Selatan. Ke sebuah desa kecil dekat Grenoble. Saya ingin istirahat, dan sebagaimana lelaki sok macho lainnya, kami tidak pernah mencoba untuk memperlihatkan diri bahwa kami takut. Padahal sumpah mati, bahwa saya setakut-takutnya sebagai manusia jika nasib bagai gerhana yang terjadi pada perempuan-perempuan muda cantik yang sedang saya teliti, menimpa pada putri saya semata wayang.

Saya tidak pernah cerita ketakutan ini kepada siapa-siapa. Ini pertama kali saya buka suara. Pada Anda. Bahwa saya ketakutan setengah mati.

Di desa kecil pinggir Grenoble dekat kota Voiron, pekerjaan saya memang hanya istirahat saja dari mimpi-mimpi buruk. Setiap hari, saya jalan-jalan saya mendorong kereta bayi di jalan-jalan miring perbukitan sambil memandang di ujung sebelah sana, puncak bukit es abadi. Alpen. Lumayan menghibur.

Pasar Grenoble. Credit to Pasma

Ibu-ibu sedang memilih kain di Pasar Grenoble ketika pasar hampir usai. Saat ini, harga barang jadi lebih turun. (Credit to Pasma. Thanks a lot)

Suatu hari sebelum susu putri saya habis, kami berangkat ke pasar untuk belanja persediaan bayi. Pasar siang itu penuh sekali. Sebagaimana pasar-pasar Eropa lainnya di musim panas, pasti juga penuh pengunjung. Di pojok pasar, beberapa orang Indian Peru sedang memainkan alat musik tiup mereka. Pengamen.

Seperti biasa, saya tertarik mendengar musik dan menyaksikannya langsung. Maka dekat-dekatlah saya ke para pengamen ini. Cari posisi. Di samping saya, kelihatan empat lelaki dengan rambut cukuran ala tentara juga ikut menikmati musik. Bicara satu sama lain dalam bahasa bukan Perancis. Saya pikir mereka juga turis. Jadi ketika musik habis mereka mengajak berbincang-bincang, saya balas obrolannya.

Ketika mereka pergi, seorang dari pemusik Indian Peru datang menghampiri. Dia tiba-tiba mencerocos dalam bahasa Spanyol. Sambil cengar-cengir saya jawab “No entiendo”, artinya saya tidak mengerti. Masalahnya, dalam bahasa Spanyol, itu pula berarti bahwa saya mengerti bahasa spanyol, namun tidak mengerti apa yang ia bicarakan. Jadilah si Peru ini mencerocos terus dalam bahasa Spanyol. Daripada cengar-cengir terus menjawabnya, maka saya putuskan untuk bilang, “No puedo hablar espanol”, artinya yaa apalagi selain bilang tidak bisa berbahasa spanyol. Dalam bahasa Inggris terbata-bata si Indian Peru berkata, “Hati-hati, jangan beri informasi pada orang itu. Mereka geng albania”

Sambil garuk-garuk kepala saya jawab, “Trus kerjanya pada ngapain?”

Si Indian musisi ini lalu cerita bahwa daerah pasar dan sekitarnya ini dibagi-bagi. Kumpulan kriminal yang berasal dari Albania menguasai turisme. Kumpulan pemuda Rumania menguasai prostitusi dan penjualan wanita. Kumpulan gang motor internasional, menguasai obat ilegal dan narkoba. Mereka bisa berbuat begini karena di daerah-daerah kecil seperti pinggir desa, aparat hukumnya lunak.

Dalam hati saya membatin, di desa kecil di kaki gunung begini, pun saya tidak bisa lepas dari para pedagang budak.

Bagai gurita raksasa, belitan mereka kemana-mana.

Yang jadi pertanyaan tambahan, kemana? Iya, dimana dan akan kemana belitan mereka?

Kelihatannya, istirahat kali ini gagal. Semakin hari semakin banyak pertanyaan yang muncul. Ketika bahkan istirahat pun sudah mulai gagal, saya hanya bisa menghibur diri dengan kalimat Voltaire, “Seseorang lebih ditentukan oleh pertanyaannya, bukan jawabannya”.

This entry was posted in bangaip, sehari-hari and tagged , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Tentang Perburuan Wanita (Tiga – Gurita Raksasa)

  1. aini says:

    Wah Bangaip emang top banget, pengalamannya dan juga orangnya.. menarik sekali ceritanya bang. ditunggu cerita ke empat lima enam dan seterusnya. semoga bangaip selalu diberi kesehatan jiwa dan raga agar bisa terus bercerita :)

  2. warm says:

    petualangan sampeyan asik tp bikin merinding
    ditunggu kelanjutannya bang, atau sekalian dijadikan buku aja, menarik ini

  3. dony says:

    juara bener pengalaman si bapak. Bikin badan meriang kayak kekurangan endorfin

Leave a Reply