Tentang Perburuan Wanita (Sebelas – No Woman Zone)

Impulsif merupakan konsep multi-faktorial yang melibatkan kecenderungan untuk bertindak atas kemauan sesaat, menampilkan perilaku yang ditandai dengan pemikiran sedikit (atau tidak ada), refleksi buruk, serta pertimbangan tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang. Tindakan impulsif biasanya dideskripsikan sebagai, “tergesa-gesa, prematur, terlalu berisiko, tidak layak, membahayakan tujuan dan strategi jangka panjang”. Namun anehnya, ketika impulsif dilakukan dan mendapat hasil positif maka dilihat sebagai indikasi sebagai “keberanian, kecepatan, spontanitas”. Konstruksi impulsif meliputi setidaknya dua komponen independen:

  1. Bertindak tanpa sejumlah musyawarah
  2. Memilih jangka pendek dibandingkan keuntungan jangka panjang

Peristiwa Rengasdengklok, “penculikan” yang dilakukan oleh sejumlah pemuda (antara lain Soekarni, Wikana dan Chaerul Saleh dari perkumpulan “Menteng 31”) terhadap Soekarno dan Hatta, pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 04.00. WIB dapat dikategorikan sebagai peristiwa impulsif positif. Jika Soekarno dan Hatta tidak dibawa ke Rengasdengklok, Karawang, untuk kemudian didesak agar mempercepat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, yang jadi pertanyaan adalah: “Kalau tidak diculik, adakah kesepakatan antara golongan tua yang diwakili Soekarno dan Hatta serta Achmad Subardjo dengan golongan muda tentang proklamasi? Akankah esoknya, 17 Agustus 1945, kemerdekaan RI diumumkan?”

Sementara secara sederhana, peristiwa impulsif yang berujung negatif dapat dilihat sehari-hari dari para pecandu. Bisa narkoba, seksual, judi atau apalah namanya.

Saya bukan impulsif. Entah ini benar atau tidak, kurang begitu tahu. Setidaknya berdasarkan keyakinan pribadi, bukan seorang impulsif. Padahal jika dilihat dari sejumlah adrenalin yang terlibat dalam cerita perburuan wanita ini, kelihatannya saya pun seorang pecandu. Dari kadar hormon yang terlibat, kelihatan benar memang saya pecandu adrenalin. Dan ini, harus di rem biar tidak kebablasan.

Beberapa minggu lalu, muka saya hancur babak belur. Dipukuli beberapa gelandangan di kota Poznan. Soalnya sepele, seorang nenek-nenek di sebuah kereta bilang pada mereka kalau saya melecehkan ia dan bayinya. Walaupun tidak benar, tidak masalah, sebeb setelah itu saya dipukuli hingga babak belur. Insting saya bilang untuk tidak melawan. Pepatah lama Cilincing berkata, “Ada yang jual kudu dibeli. Tapi kalo ada kamera, laen ceritanya”. Dan kota Poznan, banyak terdapat kamera. Termasuk di tempat dimana kepala saya diinjak-injak beberapa orang gelandangan.

Ketika polisi tiba dan para gelandangan itu kabur, kamera CCTV memperlihatkan bahwa para gelandangan itu bukan para gembel yang biasanya mangkal di stasiun kereta. Insting saya benar. Ketika mereka sibuk menjadikan saya sansak hidup, kamera jelas sekali merekam para manusia ini. Itu orang sewaan. Assassins. Jika saya tidak berhasil menyikat sindikat penculikan bayi diatas kereta, setidaknya saya bisa menyikat mereka dengan pasal penganiayaan dan pembunuhan berencana.

Saya umpannya. Iya. Dengan tolol, saya menjadikan diri saya umpan untuk mencegah si nenek dan bayinya lari.

(*Insting ini berawal dari jumlah kunjungan wisatawan Polandia ke RI pada 2011 hampir 1 juta orang. Kamar dagang RI dengan Poland sedang bersinar terang dengan membaiknya hubungan dagang antar negara. Apa hubungannya? Tentu saja mereka tidak bodoh membuat jeopardi dengan membiarkan seorang WNI dipukuli hingga hampir mati di pekarangan belakang rumahnya. Apalagi terhadap seorang undangan resmi sebuah acara internasional*)

Neneng merawat luka dan sebelah mata saya yang hampir buta di rumah sahabatnya. Cukup lama. Dan disaat sepi dan sakit begini, kadang bertanya-tanya, apa yang dilakukan ini memang benar?

Tapi biar begitu, tidak ada yang mampu mengerem tindak dan riset ini…, kecuali jelas saya sendiri.

Sehingga sore itu saya biarkan Mbak Icih, seorang gadis desa dari pedalaman Finlandia, untuk duduk disamping saya menatap danau kecil yang ada di sebuah dusun di Utara Polandia. Kami duduk di dermaga kecil yang terbuat dari kayu sebesar cukup jalan setepak. Membenamkan hingga semata kaki ke air danau. Menatap riak tenang air terpantul matahari musim panas.

“Neneng itu sahabat saya. Dia mau kamu ada disini biar bisa ketemuan sama kamu. Tapi saya tahu, kamu punya maksud lain. Jangan kasih Neneng harapan palsu. Saya nggak mau dia sedih apalagi menderita karena gombalan kamu”

menara air stasiun kereta elblag

Menara kota Elblag. Berfungsi multi. Melihat musuh (jaman dulu), pengontrol lalu lintas kereta dan jadi menara air. Disini pula saya bertemu anak-anak muda yang terkena down syndrome. Bermain bola bersama mereka dan sadar ketika semuanya tidak punya ayah, sebab hanya ibunya saja yang menunggu. Kabar bercerita, perkosaan atau hubungan incest di kota ini amat tinggi kuantitasnya.

Diam saya mendengarnya. Iya, saya diundang ke dusun ini karena sahabatnya, Si Neneng adalah panitia sebuah acara pertunjukan seni yang melibatkan seniman internasional. Acara ini diadakan di sebuah dusun seni ekologis yang terletak di Utara Polandia. Tidak jauh dari dusun itu, sekitar sejam setengah berkereta, ada kota bernama Elblag. Di kota itu, adalah target riset terbaru. Dipicu oleh adrenalin, suatu hari setelah dapat data mentah, saya putuskan sampai ke acara pertunjukan seni ini. Sukur-sukur, kenal Neneng dan Mbak Icih yang panitia. Tapi rupanya feeling Mbak Icih tahu kalau saya datang kesana bukan untuk pertunjukan happening art. Apalagi mau ketemu Neneng dan dirinya. Ia tahu, kalau saya datang dengan maksud lain. Setelah sembuh dari luka mulai pergi pagi pulang malam, dan ketika sampai penginapan langsung mengurung diri di kamar mengetik laporan. Mbak Icih curiga. Kini, adalah maksudnya untuk mengerem langkah saya. Bukan menghalangi untuk maju dalam riset, namun menghalangi agar saya tidak menyakiti hati sahabatnya.

Dalam hidup ini, saya sering kebablasan. Saya tahu itu. Sering gagal. Itu pun lebih tahu. Sering menyakiti perasaan orang. Bukan sekedar tahu, tapi lama-lama jadi ahli rupanya. Mbak Icih tahu hal ini.

Sudah lama saya kenal dengan Mbak Icih. Roda nasib membawa kami bertemu walau selintasan di beberapa titik di muka bumi. Ia memiliki relasi khusus dengan Saipul, salah seorang sahabat sekaligus rekan bisnis saya. Mungkin dari Saipul ia tahu siapa saya. Hingga suatu hari berkata, “Di dunia kamu yang ada hanyalah anak, riset dan realisasi project masa depan. Semua itu tanggung jawab. Buat kamu, tidak ada celah lagi buat romansa. Dengar omongan saya, suatu hari kamu akan merasa sepi sesungguhnya. Masak kamu nyari perempuan yang satu misi dan visi? Itu kan omongannya korporat! Kamu ini manusia atau mesin sih?! Kamu tahu ga sih jatuh cinta itu apa?!”

Iya memang benar. Di akhir pekan saya sibuk urus anak. Di hari kerja, sibuk urus bisnis atau sibuk mengajar dan belajar. Tidur sehari paling lama empat jam. Kadang sampai sakit gara-gara kecapekan, kebodohan yang terus berulang. Tidak pernah libur, tidak pernah cuti. Kalau pun libur atau cuti, pasti disambi riset atau disambi kerja sampingan lainnya. Giliran ada waktu luang, bloonnya, bukan istirahat, malah update blog. Heh, kelihatannya ia memang benar. Apa iya saya jatuh cinta? Bukan hanya sekedar kenal lalu memanfaatkannya? Kalau jatuh cinta, kok malah bertanya? Jatuh cinta itu soal keyakinan. Tidak perlu tanya-tanya. Jatuh cinta itu sederhana jawabnya. Sebab hanya punya pilihan dua, “tidak” atau “iya”.

Jangan-jangan saya robot? Tapi kalau robot (atau malah cyborg), sumpah mati saya jatuh cinta pada putri semata wayang.

Ahh, saya bukan robot. Masak saya robot? Kalaupun iya, saya menolak untuk dirobotisasi. Saya harus jadi manusia.

Salah satu cara jadi manusia adalah berbuat salah. Reckless. Tidak pikir panjang. Atau dengan kata lain, impulsif. Maka saya putuskan untuk impulsif siang ini.

Memalukan, berlagak impulsif hanya sekedar demi pencitraan agar terlihat manusiawi di depan Mbak Icih.

Bahkan untuk sekedar terlihat jadi manusia, dengan menyedihkan saya mengatur untuk “menampilkan perilaku yang ditandai dengan pemikiran sedikit (atau tidak ada), refleksi buruk, serta pertimbangan tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang”.

Jangan-jangan, saya ini memang robot? Tapi persetanlah.

peron 2 stasiun kereta elblag polandia

Stasiun Elblag. Sampai disana siang hari. Baru keluar dini hari. Sudah tidak ada lagi angkutan publik. Ini kota kecil. Pada musim panas, jam sembilan malam, angkutan publik dalam kota sudah habis. Untuk pulang ke Olsztyn dini hari, terpaksa harus merogoh kocek sekitar €135 untuk taksi

“Tadi malam saya ke lokalisasi pelacuran”

(*Sumpah mati saya berharap bahwa ia hanya sekedar akan menghakimi perilaku seksual dan menceramahi dengan sejuta khotbah moral. Dan saya hanya akan mengangguk-angguk, pura-pura mengiyakan bahwa saya sebenarnya adalah manusia cabul yang perlu dinasehati dan dibimbing sepanjang hidupnya. Sayangnya saya salah. Ia lebih pintar daripada sekedar tukang ceramah*)

Mata Mbak Icih menyipit. Curiga. “Neneng tahu?”

“Nggak. Saya dateng sendirian”

Ia diam. Lama sekali. Rambut pirangnya, bikini merahnya, likuk tubuh langsingnya, memantul di riak air danau depan saya. Ia mendesah bertanya kenapa.

Kali ini saya diam. Saya pikir sudah saatnya jujur. Bertindak impulsif. Bercerita kejadian terkini tanpa memikirkan konsekuensi keamanan selanjutnya.

“Saya harus bertemu Heidi, mantan germo. Suaminya pilot. Orang kaya mereka”

“Kamu ketemu mantan germo perempuan dan suaminya? Maksudnya? Kamu pesta orgy?”

“Nggak, saya wawancara sama Heidi. Suaminya duduk disamping menguatkan dia”.

Ketika mata Mbak Icih makin mengerenyit kebingungan, ceritalah saya semuanya.

Heidi adalah gadis muda. Umurnya baru 18 tahun pada tahun 1995. Bapaknya seorang haji sekaligus pedagang karpet kulit kambing di kota Baranavichy di Belarus. Aslinya mereka dari bagian barat Belarus. Dari suku Tatar. Suku yang terdiri dari campuran antara Eropa Selatan dan Asia Utara. Minoritas suku Tatar ditemukan di daerah Uzbekistan, Kazakhstan dan Ukraina. Abad ke-10, seorang misionaris sekaligus petualang bernama Ahmad ibnu Fadlan mengubah suku ini menjadi muslim. Salah seorang anggota suku ini terkenal menjadi petenis perempuan nomor wahid dunia bernama Dinara Safina. Namun perempuan-perempuan dari suku ini pula, incaran empuk para pedagang budak seksual mancanegara. Termasuk Heidi. Yang ketika baru menginjak 18 diculik dalam sebuah minivan. Diperkosa sepanjang jalur antara Lida, Alytus, hingga Olsztyn. Ketika baru berulang tahun, diperkosa diatas tiga negara.

Heidi bukan gadis bodoh. Ia tahu ayahnya, seorang pelaku bisnis yang memiliki banyak jaringan pasti akan mencarinya. Pelan-pelan ia cari cara melepaskan diri. Mencoba menggalang kekuatan bersama gadis-gadis lain yang juga diculik.

Sial, para penculik tahu usahanya. Heidi diperlakukan khusus. Mereka memperbaharui jadwal hariannya:

  • 0400 : Bangun tidur. Cuci baju para penculik.
  • 0430 : Sambil mencuci, harus melakukan orak seks kepada penculik
  • 0500 : Memasak untuk para penculik
  • 0530 : Diperkosa penculik
  • 0600 : Penculik mulai makan. Jika makanannya jelek, ia diikat dan dicambuki di pohon pada lapangan yang terletak di kamp penculikan hingga dua jam berikutnya. Jika makanannya memuaskan, ia diperkosa oleh tiga penculiknya secara bersamaan. Sambil mereka menceramahi betapa buruk jiwanya dan betapa ia tidak layak hidup dan kembali ke keluarga
  • 0800 : Sarapan dan mandi
  • 0830 : Dibawa berjalan-jalan dengan van. Para penculik menawarkan dirinya ke satu persatu rumah pelacuran. Ia harus laku. Kalau tidak laku, harus bergaya segenit mungkin agar laku. Sebab jika tidak laku juga, malamnya disiksa
  • 0900 : Mencuci piring dan gelas kotor yang ada di rumah pelacuran
  • 1000 : Menari telanjang (striptease) di rumah bordil untuk memikat tamu
  • 1100 : Jika tidak dapat memikat pelanggan, penculiknya datang lagi. Ia dibawa ke jalan. Dijajakan semurah mungkin. Sering ia terpaksa harus menungging untuk memenuhi hajat tiga puluh pekerja tambang yang istirahat makan siang. Jadi ia benar-benar secara literal harus menungging di tempat terbuka. Tiga puluh lebih laki-laki itu antri, bayar pada penculik, ketika giliran tiba buka celana, memasukkan penis mereka, ejakulasi, pasang resleting dan lalu memberikan lubang menganga Heidi ke laki-laki pembayar dalam antrian setelahnya.
  • 1400 : Dirantai di minivan. Diberikan makanan junk food. Hanya ada lima belas menit ‘istirahat’. Setelah itu kembali ia harus ‘bekerja’.
  • 1700 : Penculik pulang, mereka mau mandi. Ia dirantai dalam minivan kembali. Jika musim dingin, harus mati-matian menahan dingin sebab hanya memakai pakaian seadanya. Setelah penculik mandi, mereka ke rumah perjudian. Disana lehernya dirantai ikat di meja judi. Jika si penculik kalah, yang menang boleh mencambuki/memperkosa/meludahi Heidi di tempat keramaian pada saat itu juga
  • 2100 : Penculik membawa Heidi ke kamar atas rumah perjudian. Ia harus menerima diperkosa oleh sekitar dua puluh orang
  • 2400 : Heidi dibawa lagi ke kamp penculikan. Disuruh tidur agar segar esoknya untuk disiksa dan diperkosa

Ketika saya tanya apakah ada aparat hukum yang terlibat. Heidi bilang, hampir semua pemerkosanya di rumah judi adalah polisi lokal.

Ini bukan hal yang mencengangkan buat saya. Masih banyak cerita sedih lain yang melibatkan aparat hukum.

Dalam laporan Kapten AL AS yang tergabung dalam NATO, Keith J. Allred: Pasukan Penjaga Perdamaian PBB telah lama diterpa tuduhan pelecehan seksual serius selama bertahun-tahun. Insiden kekerasan seksual yang dilakukan oleh pasukan penjaga perdamaian PBB telah didokumentasikan di Angola, Kamboja, Timor Leste, Liberia, Mozambik, Kosovo, Sierra Leone, dan Somalia. Ketika pasukan penjaga perdamaian PBB dikerahkan ke Bosnia-Herzegovina, bordil yang berisi perempuan yang diperdagangkan berkembang cepat di daerah sekitar pemukiman penjaga perdamaian dari PBB. Peneliti dan Mantan aktivis pemerhati HAM, Martina Vandenberg menulis, “Rumah pelacuran tumbuh seperti jamur, berkembang di semua sisi markas (pasukan penjaga perdamaian PBB)”.

Tahun 2002 terdapat fakta memalukan ketika pejabat tingkat tinggi PBB diketahui pula mencoba menyembunyikan kesaksian tentang pelanggaran seksual oleh tentara dan misi kepolisian PBB di Bosnia.

Pada musim semi tahun 2004 terulang kembali kesalahan penjaga perdamaian di Kongo. Keluhan terdiri dari bahwa pasukan penjaga perdamaian PBB telah melakukan enam puluh delapan kasus pemerkosaan, pedofilia, dan prostitusi pada rakyat Kongo. Ini, diperburuk oleh laporan bahwa pasukan penjaga perdamaian telah mengganggu penyelidikan dengan membayar atau menawarkan untuk membayar saksi agar mengubah kesaksian mereka, mengancam penyidik, dan menolak untuk mengidentifikasi rekan yang dicurigai melakukan pelanggaran.

Pada akhir 2006 Penelitian intensif kemudian menyimpulkan bahwa sampai 90 persen dari perempuan terlibat dalam prostitusi normal di Balkan adalah korban perdagangan manusia. Akibatnya, bukan hanya itu, penjaga perdamaian PBB yang terlibat dalam pemerkosaan dan pedofilia, mereka, mungkin tanpa sadar (atau sadar), mendukung perdagangan perempuan dan makan pundi-pundi kejahatan terorganisir. Ahli anti perdagangan manusia dan juga mantan inspektur polisi Inggris, Paul Holmes, menunjukkan bahwa pasukan penjaga perdamaian yang mengeksploitasi perempuan yang diperdagangkan “tanpa disadari mendukung justru orang-orang yang tidak ingin lingkungan yang aman, stabil, dan aman”.

Tahun 2011 dalam sebuah tesis yang berjudul Iraq’s Next Battle: Combating Sexual Slavery in Post-Conflict Iraq, Kyle H. Goedert dari Universitas Michigan melaporkan bahwa untuk melarikan diri dari negaranya seorang penduduk Irak harus mampu mengeluarkan uang sebesar US$8,000 hingga $15,000 untuk visa palsu. Uang itu diberikan kepada agen untuk lari ke negara lain. Salah satu negara favorit pelarian selain Jordania adalah.., Indonesia.

Mei 2003 beberapa bulan setelah invasi AS di Irak, jumlah anak-anak sekolah di Baghdad berkurang drastis hingga 50%. Saat itu, Baghdad dijuluki “No-woman Zone”. Akibat mereka mengurung diri dirumah karena takut diculik dan didagangkan.

Tahun 2009, 14 wanita Uganda diiming-imingi bekerja di U.S Military base, namun ternyata dikunci, dicuri paspornya dan disiksa serta diperkosa. Tahun 2009 ini juga puncaknya ketika anak-anak lelaki di Baghdad adalah komoditi menarik untuk diperdagangkan organ tubuhnya.

Sejak tahun 2003, Syria mencatat bahwa pelacur bawah umur yang ada di negara mereka, sebanyak 50 ribu orang, berasal dari Irak akibat konflik milter. United States Uniform Code of Military Justice (UCMJ), pengadilan militer AS secara jelas dan eksplisit telah mengatakan bahwa personel militer yang di-deploy di negeri asing pun akan menerima sanksi jika mereka melakukan kejahatan dalam keikutsertaan perdagangan manusia. Namun sayangnya, catatan militer hanya untuk militer. Sementara publik telah banyak sekali mendengar bahwa banyak manusia ‘dari Asia’ yang dipaksa jadi pekerja untuk ‘membangun Irak’ dan sub-kontraktor militer adalah penyedia manusia-manusia ini. Maka itu, Juli 2011 American Civil Liberties Union, sebuah organisas warga non-profit yang terdiri dari mahasiswa hukum, pengacara dan publik luas di Amerika, menuntut pemerintah AS membuka dokumen pengadilan militer kejahatan tentara yang terlibat perdagangan manusia. Baik di Irak maupun Afganistan. Kasus ini masih dalam pertempuran di pengadilan.

Desas-desus tahun 2011, di beberapa forum militer dan kepolisian RI, terdapat kesatuan khusus yang menjaga perbatasan air wilayah RI memintah ‘jatah preman’. Uang ini berkisar antara US$ 2,500 per kepala. Modus: Para anggota kesatuan khusus ini dipersenjatai kapal laut anti bajak-laut dan senjata canggih, memburu perahu nelayan yang dicurigai membawa manusia yang lari dari Irak atau Afghan. Kapten kapal diberi ultimatum, penjara atau bayar di tempat. Dari kesaksian beberapa pengungsi Irak yang akhirnya selamat dan sampai pengungsian yang sekaligus jadi penjara di Australia (karena masuk secara ilegal), muncullah operasi gabungan antara penjaga laut RI-Aussie. Desas-desus ini semakin diperparah dengan kesaksian beberapa anak buah kapal (ABK) bawah umur yang kini dipenjara di lapas dewasa Australia akibat ikut dalam proses perdagangan manusia. (Lebih lanjut baca: Laporan Khusus Balada Bocah ABK Majalah Detik Digital 5-11 November 2012. Sumber 1 – FaceBook. Sumber 2 – PDF)

Cerita Heidi semakin melengkapi, bahwa kejahatan terhadap manusia, memang hanya bisa berlangsung jika ada pendukung aparat hukum yang terlibat.

restauran Elblag

Sebuah restoran di jantung kota Elblag. Sebelum interview, diliucuti dahulu disini oleh para penjaga keamanan rumah bordil. Mereka bahkan memaksa melihat foto-foto dalam SDCard camera dan ID. Saya tidak pakai identitas Agus. Sebab sudah terbongkar. Dan untungnya, foto-foto Poznan sudah dibackup di USB dan dikirim melalui jalur aman PGP. Pramuniaga restauran merasa kasihan dan aneh melihat satu-satunya pengunjung mereka, dari Asia pula, diperlakukan buruk di tempat ini. Mereka memberi makanan penutup dengan gratis

Heidi bicara terbata-bata. Kelihatannya ia tidak sanggup meneruskan kata-kata. Suaminya, si pilot menggengam erat jemari istrinya. Mencoba menguatkan.

Saya diam saja. Saya tahu cerita itu berat. Tapi saya lebih mau tahu, kenapa ia jadi seorang mucikari?

Suaminya menatap saya marah. “Kamu bukan manusia? Ia baru saja cerita hal yang sangat sensitif begini. Jangan lantas karena kamu kenal Lucija kamu bisa datang ke sini dan menghina istri saya!”

Heidi tidak bilang apa-apa.

Ia menjawab dengan menggulung lengan panjang bajunya.

Disana banyak terdapat bekas luka silet percobaan bunuh diri. Tidak lama kemudian, dengan diiringi tatapan melongo suaminya, ia membuka baju. Hanya pakai beha. Saya lihat ada bekas luka lama sabetan benda tajam dengan jahitan jelek sekali. Ia balik badan, banyak sekali bekas luka disana. Lebih jauh lagi, ia buka beha. Satu puting payudara, sebelah kanan, hilang. Ada bekas luka bakar di sana.

Saya pikir saya bukan robot. Sebab setelah itu menutup mulut mau muntah. Tidak kuat melihat bekas penyiksaan ini.

Dalam samar saya dengar Heidi berkata, “Lima tahun aku di neraka. Dan kamu mau mengharapkan aku jadi malaikat setelahnya? Aku harus bertahan hidup dari apa yang aku tahu”

Dengan terhuyung, saya keluar dari rumah pelacuran. Sebab hanya disana Heidi mau menyempatkan diri mau bertemu. Ia sudah tidak mau lagi bertemu keluarganya. Apalagi mencoba mengaitkan dirinya dengan masa lalu. Hanya demi sahabat akrabnya, ia mau menemui saya. Saya harus cari udara segar. Cerita Heidi semakin membuat mual.

Lepas dari para penculik, ia membantu para wanita yang diculik sopir truk antar negara.

Itu perempuan muda, libur musim panas dan mau jalan-jalan ke luar negeri. Tidak punya uang, menumpang pada sopir truk. Dan biasanya di perjalanan minuman mereka dibubuhi obat perangsang atau yang membuat tak sadarkan diri sebelum akhirnya digagahi. Ketika sadar, para perempuan muda ini menyadari bahwa mereka tergeletak di tepi jalan raya dengan pakaian seadanya. Sisanya dirampok supir. Mau pulang, tidak punya uang. Minta tolong pada pom bensin, malah diperkosa oleh si penjaga tangki. Akhirnya terlunta-lunta dan dipungut Heidi. Dan apa lagi keahlian Heidi dalam mencari nafkah untuk membantu mereka pulang ke negaranya? Yaa mereka harus bekerja, walaupun tentu saja tidak dicambuki dan disiksa.

Dan pekerjaan Heidi itu, namanya mucikari.

Sebab siapa saja, ternyata bisa ikut terjerat dalam perdagangan manusia.

mbak icih di tepi danau

Mbak Icih menatap lelaki berambut panjang dari Cilincing yang kepanasan dan lalu menceburkan dirinya lompat dalam air di tepi danau di Utara Polandia

“Jadi begitulah ceritanya Mbak Icih, tadi malam saya ada di lokalisasi pelacuran di Elblag”

Mbak Icih menatap saya lama, “Kamu sudah cerita pada Neneng?”

Saya melongo, “Kenapa saya harus cerita?”

“Kalau cinta, yaa cerita biar dia tahu, dan nggak ngarepin macem-macem dari orang macam kamu”

“Kalau cinta saya harus cerita? Kalau nggak cinta, nggak harus dong?”

“Cinta nggak cinta, pokoknya kamu harus cerita. Biar dia memutuskan untuk terus suka atau nggak”

“Lah terus saya gimana dong? Buset dah kalo dia boleh memutuskan, saya juga boleh dong?”

“Pokonya kamu harus cerita sama Neneng. Sebab yang dia tau, kamu itu kesini cuman buat dia!”

Saya semakin melongo. Cerita ini makin jadi aneh. Dan lebih aneh lagi ketika telepon genggam bergetar membawa SMS masuk. Dari Lucija. Menunggu di Kaliningrad, Rusia. Ada data baru. Ada perkembangan baru. Dan ada identitas baru. Semuanya menunggu.

Bingung. Mana yang harus dipilih? Bertemu dan bercerita pada Neneng si gadis desa, lugu nan manis, seksi dan baik hati yang telah merawat luka. Atau mengikuti Lucija yang membuat saya serasa jadi James Bond dari Cilincing. Dengan resiko, kembali akan luka-luka. Atau malah, hilangnya nyawa…

Yang mana?

Ketika bingung, yang harus dilakukan adalah melihat dimana semua ini berawal. Secara harafiah, semuanya ini berasal dari kereta.

Saya pamit pada Mbak Icih. Meninggalkannya bersama teman-teman lain yang masih bercengkrama di tepi danau di musim panas. Kembali ke penginapan, mengepak barang-barang dan.., kembalilah ke stasiun kereta.

Dan disana sebuah kereta, ternyata akan datang lima belas menit lagi. Kereta terakhir.

Kereta senja menuju Kaliningrad

Kereta senja menuju Kaliningrad. Terakhir. Ketika pilihan harus ditentukan.

This entry was posted in bangaip, sehari-hari and tagged , , . Bookmark the permalink.

7 Responses to Tentang Perburuan Wanita (Sebelas – No Woman Zone)

  1. gurusilat says:

    Salam kenal Bang Aip….

    (maaf, diam-diam saya jadi “pecandu” tulisan panjenengan)

    terima kasih sudah membawa saya berpetualang membelah eropa.
    sehat selalu Bang…

  2. Payjo says:

    Lanjutkan Bang Aip. Baru sempet komentar nih padahal baca terus tulisannya via reader,

  3. Didats says:

    Hati hati bang.

    Ceritanya ada juga di youtube, tapi jelas tak selengkap tulisan bangaip. Cerita bagus, tapi cukup bikin khawatir.

    Tapi hebat juga orang cilincing ini, bisa ditaksir bule dimana-mana. Huehe…

  4. tulisan2 yang mengerikan….. salam kenal Bang…

  5. sari musdar says:

    salam kenal Bang Aip, keren nih ceritanya walaupun sedih dan miris, dunia ini memang dikuasai teststerone ya..susah untuk memberantas perdagangan manusia. saya tunggu cerita2 di blog ini dibukukan

  6. Mata saya berkaca-kaca dan air mata saya mengalir keluar, tanpa saya sadar…terima kasih telah menulis cerita ini bang. Ya Allah, saya ga kebayang kalau keluarga atau saudara kita yg jadi korban seperti Heidi… *sobbing* :'(

  7. kunderemp says:

    Sudah lama gak diperbaharui.
    Bangaip gak apa-apa?

Leave a Reply