Tentang Rockstar 1 – Vonis Ukulele

(*Sudah beberapa bulan terakhir ini saya hidup dalam pengaruh obat resep dokter. Obat ini sedemikian keras membuat banyak sekali efek samping dalam tubuh. Efek samping ini saya tulis dengan rajin ke dalam telepon genggam. Kini tulisan-tulisan itu dijadikan tulisan berseri. Silahkan menikmati. Jika dirasa mengganggu, jangan anggap serius, anggap saja fiksi*)

16 Maret 2013

Ruangan ini serba putih. Kira-kira berukuran empat kali empat meter persegi. Sisi selatan ruangan adalah dinding kaca tebal sekitar sepuluh milimeter sebanyak dua kali lipat untuk menahan dingin di musim salju, saat ini tentu saja bukan musim dingin, matahari menyeruak masuk menerobos dinding kaca yang dibatasi tirai putih tipis sebagai sekatnya. Ada sebuah meja di sana dengan satu kursi dan komputer. Di belakang komputer seorang lelaki setengah baya yang bernama Job dengan kepala hampir setengah botak berwajah tirus memiliki senyum hangat menjabat tangan saya dan berkata, “silahkan duduk”.

Saya duduk di seberangnya. Ada dua kursi di hadapan meja beliau. Saya ambil kursi sebelah kanan, dekat dengan dinding kaca. Agar kena hangatnya sinar matahari. Iya, ini memang bukan musim dingin, ini sudah musim semi, tapi suhu di luar masih sekitar 6-7 derajat Celcius. Masih belum hangat. Namun ruang praktek ini cukup hangat.

Dokter Job adalah salah satu ahli saraf terbaik di Eropa. Dan saya, ahh saya hanya bisa berdoa semoga saya satu-satunya orang Cilincing yang jadi pasiennya. Sebab sama sekali tidak ada niatan untuk ajak-ajak orang sekampung untuk jadi pasien beliau.

Hari ini saya datang untuk kontrol tahunan. Sebagaimana hari lainnya, hari ini seperti hari suci buat saya, setiap tahun saya datang ke ruangan ini untuk kontrol satu bagian kecil di tubuh bernama saraf otak.

Saya tidak pernah tahu apa yang salah dengan otak saya. Saya pikir saya selalu baik-baik saja. Sebagaimana manusia bumi lainnya, saya pikir saya toh normal-normal saja. Saya bisa makan, berliur, batuk, bernafas, kencing, kentut, berak, dan alhamdulillah sekali-kali masih bisa orgasme. Apa yang salah? Saya pikir tidak ada yang salah?

Sayangnya, sejak 2006 saya sering sekali kena migrain. Sakit kepala. Bukan sembarang sakit kepala. Sebab hanya menyerang bagian kanan kepala. Tidak pernah bagian kiri. Sebagaimana sakit kepala, terang saja ia hanya menyerang kepala. Tidak pernah menyerang pantat. Sudah berkali-kali saya berobat. Tanya dokter ini, tanya dokter itu jawabnya sama; banyak-banyak istirahat-dengarkan tubuh. Saya ke pengobatan alternatif, tubuh disuntik-suntikkan jarum naudzubilah banyaknya dari ujung kaki sampai ujung kepala, tetap saja tidak sukses.

Oleh teman diajak ke orang pintar. Saya sebenarnya tidak pernah percaya, buat saya Muhammad Hatta itu orang pintar, Leonardo da Vinci itu orang pintar. Mbah Jambrong dari Gunung Kidul, apanya yang pintar? Tapi karena serangan migrain makin hari makin parah hingga saya pernah jatuh tak sadarkan diri di stasiun kereta hingga satu jam penuh terkapar di sisi jalan, akhirnya saya menurut. Hebat sekali Mbah Jambrong van Gunung Kidul, sebab ia menjamin kepintarannya mampu menyembuhkan penyakit migrain saya. Segala macam jampi-jampi beliau dan aroma dupa yang membuat sesak napas (walaupun aroma baju beliau lebih membuat saya sesak napas) ternyata sukses tidak membuat saya sakit kepala sebelah, melainkan seluruhnya. Semua bagian kepala, sakit semua, ketika saya keluar dari ruang praktek beliau.

Walaupun tentu saja bukan gara-gara Mbah Jambrong, sakit kepala sebelah ini makin ajaib. Mata saya makin sensitif terhadap cahaya. Kadang-kadang ketika memimpin rapat saya harus memakai kacamata hitam. Beberapa rekan dari laboratorium di Milan bahkan membawakan kacamata khusus untuk saya, kata mereka “kamu akan terlihat lebih modis dan vampiris dengan kacamata ini”. Kampret!

Saya pun makin jarang ke tempat hiburan malam. Teman-teman bahkan sampai bosan mengajak. Bukan karena apa, sebab sering pusing melihat lampu kelap-kelip. Jangankan clubbing, main game di komputer atau tablet saja sudah jarang. Sebab hasilnya sama, saya makin sering kena serangan migrain kalau melakukan dua hal itu.

Makin hari, dunia semakin riuh. Aneh, entah kenapa? Saya sendiri tidak mengerti. Saya akhirnya membeli headphone yang katanya mampu meredam suara luar hingga 32 desibel. Suara cempreng tapi pelan Amy Winehouse dan Iwan Fals yang akhirnya mampu menghibur saya dari bisingnya dunia. Mahal? Bodo amat! Sebab hanya dengan cara ini sakit kepala sebelah saya akibat berisiknya dunia bisa dikurangi.

Tahun 2011, saya bertemu Dokter Job. Spesialis saraf otak. Saya masih ingat saat itu bulan November. Beliau memberikan obat sakti bernama Topamax. Dosisnya rendah, hanya 25 miligram per dua hari. Saya hanya minum satu tablet kecil setiap dua hari. Gampang kan? Iya gampang. Hanya syaratnya yang agak susah, katanya beliau harus diminum selama 1,5 tahun lamanya.

Waktu itu saya tercengang. Buset dah 1,5 tahun? Lama amat, dok?

“Ente mao sembuh ga? Kalo mao, jangan cerewet jangan protes!”

Akhirnya dengan pasrah (walaupun sambil bersungut-sungut), saya jalani pula 1,5 tahun hidup bersama kekasih baru bernama aneh itu. Sebagaimana selingkuhan, tentu saja ia saya sembunyikan dari tatapan anak, keluarga dan teman-teman saya. Saya malu, punya selingkuhan. Satu-satunya tempat saya berani dengan terang-terangan mengakui bahwa ia adalah selingkuhan saya adalah ketika di bandara, sebab petugas keamanan bandara selalu bertanya, “Apa ini? Kamu bawa narkoba yaa?”. Yang dengan santainya saya jawab dengan lambaian surat cinta dari dokter spesialis bedah saraf.

November 2012 saya merasa jumawa. Sudah setahun ini saya tidak pernah jatuh tak sadarkan diri. Juga tidak pernah kena serangan migrain. Prestasi saya di pabrik membaik. Saya dapat bonus. Saya juga sampai bingung. Tumben saya dapat bonus. Biasanya saya kan biasa-biasa saja. Maka akibatnya, saya putuskan secara sepihak, bahwa saya sudah tidak membutuhkan selingkuhan saya ini. Oke Topamax, sudah saatnya kita berpisah. Itu yang ada di kepala saya. Habis manis sepah dibuang. Nasibmu ibarat permen karet. Bye bye, baby

Pelan-pelan, tanpa sepengetahuan siapapun juga, kecuali saya dan pil-pil (yang saya anggap laknat) ini, saya mengurangi dosis. Dari satu tablet per dua hari, jadi satu tablet per tiga hari. Lalu jadi satu tablet per empat hari. Lalu per minggu. Lalu per dua minggu. Hingga pada 16 Februari 2013, secara total akibat pil habis, saya berhenti total dari selingkuhan saya ini.

Maret 2013 saya putuskan untuk hidup sederhana. Maksudnya sederhana adalah tidak banyak riset dan bepergian lagi sebagaimana tahun-tahun terdahulu. Saya letih. Tahun ini saya mau tiarap. Mau istirahat. Mau jadi bapak yang baik dan benar. Vivere pericoloso wannabe dan jadi adrenalin junkie itu bukanlah hidup yang sederhana. Saya putuskan untuk membantu proyek sahabat saya berkebun cabe dan membuka kolam ikan nila. Jadi tani euy. Hehe.

Sulit? Hmhh, tidak juga. Jadi bapak yang baik dan benar itu ambisi personal saya. Tidak ada yang salah buat saya pribadi untuk jadi ayah putri semata wayang yang amat saya cintai itu. Saya mencintai Novi dan saya mencintai fungsi saya sebagai ayahnya. Apapun yang terjadi, akan saya tempuh.

Tapi berhenti jadi adrenalin junkie? Ugh, itu lain ceritanya. Satu satu, pelan-pelan, saya putuskan kontak dengan beberapa orang yang mampu membuat saya hidup dalam kondisi bahaya. Ini berat sekali. Banyak yang tidak bisa menerima dan lalu memutuskan kontak selamanya. Saya sangat bisa mengerti. Kami pernah bertarung bersama menantang bahaya gelapnya malam, mempertaruhkan nyawa. Saling melindungi, saling menjaga, saling merawat. Hidup dalam kode etik, disiplin dan sumpah setia. Kini ketika salah satu harus pergi demi hidup domestikasi, mereka kecewa. Saya mengerti. Hanya bisa mengurut dada dan mengikhlaskan. Yang terjadi mungkin memang harus terjadi. Yang bisa diterima, itu yang dijalani. Seperti kata Bob Marley, sahabat baik datang dan pergi. Hidup toh tak selamanya berujung bagai cerita akhir dongeng ceria.

Akhir Maret 2013 saya rindu. Ini tak disadari. Rindu menusuk hingga pembuluh nadi. Jauh merambat ke saraf otak. Saya kembali jatuh tak sadarkan diri. Di stasiun kereta. Di kantor. Di dapur. Di depan kantor pos. Di mana-mana. Selingkuhan pelan-pelan merayap menyayat di kepala menagih janji untuk ditelan lagi.

16 Maret 2013.

Saya duduk di hadapan Dokter Job. Dari tatap matanya, saya tahu ia kecewa ketika mendengar saya memutuskan sepihak dosis yang ia berikan.

“Kenapa kamu berhenti meminum obat?”

“Karena saya tidak mau hidup bergantung dari obat”

“Selama meminum obat itu kamu bagaimana?”

“Baik-baik saja, dok. Jadi saya pikir, saya bisa menghentikannya”

“Mulai sekarang kamu minum obat ini. Dosisnya naik empat kali lipat”

Saya bengong. Ini gila. Apa-apaan ini?

“Saya nggak terima, dok!”

“Yaa kamu harus terima. Ini hidup kamu sekarang. Kamu kena serangan. Kamu harus menerima ini sebagai bagian dari hidup kamu. Obat ini mencegah serangan itu terjadi. Kamu harus bisa menerima”

“Saya nggak terima!”

Dia senyum. Mungkin bosan mendengar saya terus mengulang-ulang pernyataan bagaikan kaset rusak.

“Kamu punya keluarga disini?”

“Saya punya anak, umurnya sebentar lagi lima tahun…”

“Kalau kamu masih mau hidup. Kalau masih mau jadi bapak untuk dia, kamu harus terima kenyataan ini”

Saya mau gebrak meja. Banting kursi. Menendang apa yang ada dihadapan saya saat itu. Untuk mengungkapkan bahwa saya kesal. Saya marah. Saya kecewa. Bahwa hidup saya bergantung pada zat kimia. Saya tidak bisa terima kebebasan saya terbatas. Saya mau menunjuk-nunjuk batang hidungnya dengan jari telunjuk dan berkata bahwa ia salah.

Sayangnya, dalam hati kecil ini, saya tahu kalau ia benar. Maka tidak ada satupun tindakan diatas saya lakukan.

Sore itu, saya tidak tahu mau kemana. Resepsionis memberikan daftar janji bahwa saya harus bertemu dokter Job lagi pada tanggal 16 Juli. Perempuan berjilbab itu bilang kalau saya secepatnya harus ke apotik.

Saya tidak mau ke apotik. Saya ambil trem menuju pusat kota. Tidak tahu mau kemana. Terserah langkah kaki akan membawa.

Di trem, perempuan asing manis berambut coklat sebahu yang duduk di seberang bangku memberikan tissu. “Ini untuk kamu”, sambil senyum walaupun matanya menyiratkan kalau ia khawatir.

Saya terperangah sejenak. Lalu senyum membalasnya. Menolak. Saya bilang saya tidak apa-apa. Tapi sebentar kemudian saya sadar, kenapa ia menyodorkan tissu? Saya belum pernah dalam hidup ini bertemu dengannya. Kenapa ia memberikan sesuatu kepada saya? Apa imbalan yang mau ia terima?

Saya tanya, “Terimakasih Mbak, tapi kenapa situ memberikan tissu?”

“Untuk airmata kamu…”, jawabnya sedih.

Saya kaget luar biasa. Airmata? Airmata darimana? Dari Hongkong? Saya menunduk. Saya lihat jaket hitam bagian dada basah. Astaga! Saya lihat kaca jendela. Refleksi disana terlihat seorang lelaki berwajah melayu kuyu dengan muka kebingungan dan air mata mengalir begitu saja tumpah ruah dari sela-sela matanya. Astaga! Saya menangis rupanya. Sh*t!

Saya malu sekali. Buru-buru menyetop tombol memberhentikan trem. Tidak tahu saya ada dimana.

Saya tidak terisak-isak. Tidak ada rasa ingin menangis. Tidak ada keinginan sedikitpun terpendam ingin sok memperlihatkan emosi di depan publik. Tapi kenapa ini airmata turun begitu saja?

Saya lap air mata sambil berjalan menyisiri kanal dalam udara siang yang dingin. Sinar matahari menerpa hangat wajah. Pelan-pelan saya sadar kalau saya sudah dekat stasiun pemadam kebakaran. Dekat sana ada toko yang khusus menjual ukulele.

Etalase terpampang banyak ukulele. Diantaranya ukulele yang ada lumba-lumbanya. Ahh, putri saya pasti suka ukulele itu. Toko ini tutup. Tidak ada orang di sana. Jalan ini sepi. Dan di situ, tiba-tiba saya merasa ingin menangis. Saya jatuh duduk di tepi jalan, di depan etalase toko ukulele. Tetap tidak menangis. Entah kenapa. Mungkin karena saya sok macho. Tapi kenapa juga saya sok macho? Padahal orang sok macho kan mati muda. Lihat itu Chairil Anwar? Lihat itu Jim Morrison? Sok macho semua itu manusia. Masak saya mau ikut-ikutan gerombolan mereka?

Saya lihat matahari di atas sana. Langit biru dan awan putih beararak-arak. Saya pikir saya harus tetap bertahan hidup. Untuk diri saya sendiri dan untuk putri yang amat saya cintai.

Sambil menangis saya senyum. Hidup ini lucu sekali ternyata. Mati-matian saya menjauhi diri dari bahaya maut yang mampu mengancam jiwa. Namun apa boleh dikata, tiap orang punya jalan hidup (dan juga jalan mati) masing-masing. Dengan segala kecerdikan, saya coba mengakali agar maut tidak mengintai dari balik jendela. Tapi, itu percuma. Yang ada, saya hanya terlihat membodohi diri sendiri.

Saya tatap langit. Matahari, awan, langit, masih disana. Saya satukan jari angkat tangan beri mereka salut tanda penghormatan sambil bergumam dalam hati, “terimakasih untuk humor hari ini”.

Kaki melangkah. Tujuan selanjutnya, toko musik yang masih buka. Tiba-tiba saya punya cita-cita baru. Dalam hidup yang indah tapi singkat ini, selain jadi bapak yang baik dan benar, saya juga ingin bisa main ukulele ☺

Jikalau saya ada di kampung saya, tepatnya di Kelurahan Cilincing Tercinta Merdeka Permai Asri Dirgantara, maka saya akan serta merta mencoret-coret plang papan yang tertera di depan Karang Taruna, tempat nongkrong kami semua. Dimana disana tertulis semboyan seperti “Anu Pangkal Anu”, “Jika Anu Maka Anu”, “Dilarang Menganukan Anumu ” atau blablabla lainnya.

Sumpah mati, kalau saya disana saya mau ambil cat putih. Saya sikat semua dogma-dogma itu dan saya tiban dengan cat semprot tulisan baru “Hidup ini indah, nikmati bro selagi bisa!”

Hehehe…

This entry was posted in bangaip, sehari-hari and tagged , , . Bookmark the permalink.

12 Responses to Tentang Rockstar 1 – Vonis Ukulele

  1. LF says:

    Dante, Edgar Allan Poe, Tennyson, Dickens, Dostoevsky, Tolstoy, Great Alexander, Julius Caesar, Napoleon Bonaparte, Newton, Nobel, Kierkegaard, Beethoven, Richard Burton, Bang Aip, :) Hi Five!!

  2. iman says:

    Semoga segera diberikan kesembuhan kembali 😀

  3. Sondang says:

    Hidup adalah pilihan.

  4. manusiasuper says:

    Upload di youtube nanti rekaman main ukulele-nya ya bang.

  5. Wijaya says:

    Ahhhh…..sedih rasanya baca itu :(
    Jadi kepikiran juga sama bini saya, bang. Dia juga suka migren. Dah lama sejak tahun 2006, tapi gak pernah sampai pingsan sih. Palingan minum analgesik trus ilang. Ntar kumat lagi, minum pereda sakit lagi trus ilang lagi. Disuruh scan otak kagak mau.
    Mahal, mending buat beli beras katanya….

  6. dony says:

    tetep greget tulisannya si bapak. walaupun hidup dalam lembah migren. hehehe ( becanda )

  7. didi says:

    sekalinya mampir ke blog ini lagi, kabarnya sungguh tak sedap :(
    Saya pernah mendengar kisah seorang Prof. yg terkena migren. kabarnya justru sembuh dgn Bekam. Untuk di Jakarta berikut linknya: http://www.bmodtcenter.com/profile.html
    yg pasti bekam disni sangat lumayan menguras uang didompet *untuk pribadi, dibandingkan bekam2 pd umumnya. Dan kabarnya pun antri. Siapa tahu pas Bang Aip mudik ke Cilincing. atau mungkin dapat janjian dgn Dr.nya. Siapa tahu sang Dokter ada agenda di luar negeri. Semoga bermanfaat.

  8. edratna says:

    Semoga cepat sembuh bangaip….
    Saya juga selalu sedia obat-obat an….karena tahu-tahu kepala muter….ternyata vertigo. kalau kepala pusing sebelah sering sekali….namun setelah pensiun menjadi nyaris hilang, saya berpikir bahwa pekerjaan saya dulu nya penuh tekanan.

    Hal yang paling membuat tenang adalah doa…..
    Karena hanya kepada Nya lah kita memohon, kadang dengan kepasrahan semua menjadi terasa ringan.

  9. Antyo says:

    Sekarang bagaimana, Aip?
    #jabaterat

  10. sufehmi says:

    “Banyak yang tidak bisa menerima dan lalu memutuskan kontak selamanya”

    Ouch. Been there, done that. It hurts so much indeed.
    Tapi, keluarga kita adalah prioritas nomor 1. Kita harus mengerjakan amanah ini. Maka ya, itulah salah satu konsekuensinya.

    Dulu saya aktivis di beberapa bidang. Yang akan saya sebut satu saja, Open Source. Dan saya tekuni betul, karena saya tahu ini besar manfaatnya untuk masyarakat. Siang, malam, akhir pekan – saya jalani. Sampai ke Timor Leste pun saya sampaikan juga :)

    Tapi, banyak yang menjadi korbannya. Badan, pikiran, keluarga. Terlalu intens. Dan itu salah saya sendiri, bukan salah orang lain.

    Akhirnya suatu hari di toilet, ini tempat favorit saya untuk kontemplasi (lol), saya putuskan : cukup.
    Saya harus mulai merapikan lagi cara hidup saya. Anak-anak saya ada lima, mereka masih kecil, dan masih butuh bimbingan saya.

    Saya harus antar dulu mereka sampai menjadi insan yang bermanfaat untuk masyarakat. Setelah itu, ayuk deh kita berpacu adrenalin lagi :)

    Maka dengan tega saya rombak total hidup saya. Banyak yang kecewa. Tidak terhitung berapa kali saya mohon & meminta maaf kepada banyak orang. Tapi demi tanggung jawab saya, anak-anak saya, apa saja akan saya jalani.

    Alhamdulillah sekarang sudah jauh lumayan. Vertigo sudah jarang. Asma saya juga sudah jarang kambuh. Berat badan sudah turun… 4 kilo :) oke, masih musti berusaha lagi untuk yang satu ini 😀 hahahaha.

    Saya sekarang coba makin fokus dalam meditasi (baca: sholat). Alhamdulillah, ini sangat membantu merapikan pikiran saya, yang tadinya sangat liar, aktif, tidak kenal istirahat.

    Dulu, sering saya sampai tidak bisa tidur, karena otak saya masih terus memikirkan segala hal, memunculkan segala ide, dst. Kini sudah jauh lebih jinak dia :) dan badan saya juga menikmati hasilnya.

    Dan kemarin dapat peringatan lagi – kakak ipar yang jadi salah satu teladan saya, wafat di umur baru 50 tahun saja. Orang yang baik, hangat, blak-blakan, beliau meninggalkan 3 orang anak, belum dewasa. Serasa ada yang menampar saya.

    Mudah-mudahan saya bisa terus berusaha demi kebaikan anak-anak saya. Dan setelah itu bisa kembali lebih banyak mengabdi ke masyarakat.

    Take care Bang Aip ! For your little girl :)

  11. vmenplus says:

    mantap bangett infonya gan

Leave a Reply