Tentang Tiga Bulan – Pengantar

Sudah lama tidak mempublikasi tulisan. Alasannya sederhana: takut.

Takut apa?

Takut ketahuan publik kalau saya sebenarnya gila… Masak sudah tua masih saja gila? Huahahaha…

Anyway, dalam tiga bulan ke depan saya akan rajin menulis. Bisa panjang, bisa pendek. Tapi saya akan menulis. Tidak akan ada tema. Tidak akan ada riset panjang. Tidak akan ada bahaya mengancam. Tidak seru-seruan. Simpel saja lah. Sebab semua nanti hanya hasil pikir acak belaka. Sebagai pengingat, kalau saya sebenarnya masih bisa baca tulis. Sebuah kemampuan yang hampir selama tiga tahun belakangan ini terlupakan.

Tiga tahun belakangan ini saya bertualang dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya. Dari satu pelukan obat-obat keras ke obat-obatan lain yang tidak kalah kerasnya. Saya menjadi seorang pengembara. Diantara alam sadar dan tidak sadar karena pengaruh obat-obatan (yang semuanya di dapat secara resmi) dan tindakan-tindakan yang tidak dapat saya kontrol dengan baik (tapi untungnya teman saya banyak. Jadi saya syukur saat ini masih hidup dan tidak mendekam dalam penjara).

Sekarang saya bukan pengembara lagi. Tuntas sudah petualangan saya dengan obat-obatan. Sekarang saya adalah Bangaip yang sehat dan bisa menikmati hidup bersama yang dicintai.

Hidup tidak mudah dalam tiga tahun belakangan ini. Saya kehilangan pekerjaan dan rekan kerja yang saya cintai karena sakit. Kehilangan rumah keren. Kehilangan previlige sebagai seorang kepala departemen sebuah perusahaan MNC yang dalam sehari bisa jalan-jalan ke tiga negara beda benua sekaligus. Kehilangan uang. Dan tentu saja, kehilangan kesehatan.

Sempat jidat ini pula dilabeli sebagai ‘orang cacat’ dan harus mengemis ke pemerintah lokal dan teman-teman dekat untuk minta bantuan. Sempat harus menekan malu dan harga diri demi bertahan hidup dan bisa beli susu untuk anak. Sempat jatuh di jurang maksiat dan hampir mencelakakan jiwa manusia lain. Sempat juga menipu orang hanya agar bisa jalani malam menjadi hangat dan tenang. Semuanya sempat dilakukan. Tenang saja, kalau mau sesumbar tentu saja bisa bicara “Apa sih nyang kaga gua lakonin buat survive?”

Hidup tidak mudah dalam tiga tahun belakangan ini. Tapi saya lantas bertanya-tanya dalam hati, “Lah emang idup gua dari kecil udah gampang? Kalo emang, yaelah, boleh aja sih ngeluh. Tapi kalo dari lahir emang udah jadi orang susah, bujug tong, ngaca napa? Lo mo komplen ama sapa coba? Di pesbuk mo ngeluh paling dikomentarin. Sukur-sukur di like. Tapi abis itu lo mo ngapain? Sakit ya udah jalanin aja. Sehari, setahun, sepuluh tahun, apa sih bedanya kalo kita masih punya semangat buat idup?”.

Tiga tahun memang bukan waktu yang sebentar. Tapi dalam tiga tahun ini, selain sakit, saya juga dapat hikmah. Aneh kan? Apa hikmahnya dalam hidup tiga tahun dalam kondisi ‘mati segan hidup tak gampang’?

Hikmahnya, saya berhasil memfilter orang yang mencintai saya dengan sepenuh hati.., dan yang tidak.

Hehe, bingung ya? Kok hasil dari tiga tahun berjuang cuma itu?

Jangan bingung, bray en sis. Ini memang apa adanya. Bodo amat deh kalau memang tidak ada hasil lain. Memangnya semua ini dalam hidup harus ada hasil? Lagipula jika ada, apa iya saya harus membuktikannya pada semua orang?

Anda masih baca? Syukur deh. Anda tidak baca, juga saya mah syukur saja. Hehe.

Begini, yang bikin saya masih hidup adalah: Punya kepercayaan bahwa masih saja ada manusia yang mencintai saya tanpa pamrih membuat saya tetap masih bisa bertahan hidup. Kepercayaan ini lah yang ternyata membuat saya tetap gigih untuk bisa sembuh dan keluar dari lembah penyakitan.

Lalu apa hubungannya dengan tulisan ini?

Begini, saat ini saya tidak punya pekerjaan. Saya melamar ke beberapa tempat kerja, di tolak. Sebab tiga tahun dalam sakit, banyak yang berubah di muka bumi rupanya. Dan saya, selama tiga tahun itu bagaikan ashabul kahfi, pemuda yang tidur di gua batu di dalam gunung nun jauh di sana. Bedanya saya sendirian dan tanpa ditemani oleh anjing keren. Begitu saya bangun, yaa wajar orang-orang kaget. Dan saya juga kaget. Jadi daripada saya bingung cari kerja, lebih baik pekerjaan yang mencari saya.

Dari dulu saya memang tidak pernah cari kerja. Biasanya pekerjaan yang mencari saya. Sombong? Ahh tidak juga. Itu realita. Belajar dari kakek saya Haji Ali Musa. Daripada pusing cari kerja, dia sulap rumahnya jadi bengkel. Orang yang datang ke rumah dia, menawarkan pekerjaan. Nah kecerdasan beliau yang utama, bukan hanya membuat pekerjaan mencarinya. Melainkan, menyuruh semua anak laki-lakinya bekerja di bengkel itu. Satu, dia dapat uang buat belanja. Kedua, dia membuat sistem regenerasi. Ketiga, dia dapat ongkos buruh murah. Keempat, dia kontrol semuanya dalam sebuah lingkup kerja terpadu. Hebak kan tuh aki-aki. Sampai sekarang saja (walaupun beliau sudah almarhum) saya masih bingung kok bisa-bisanya polisi pangkat rendah macam beliau punya ide cemerlang. Pantas saja dia tidak  mau lagi jadi polisi 😛

Nah si haji mantan polisi itu lah yang membuat saya punya ide. Untuk kembali duduk di bangku sekolah. Punya ilmu. Mendalami keahlian lama, menjajal keahlian baru. Umur tua tidak masalah untuk belajar kembali. Kalau saya malu sebagai satu-satunya orang yang paling tua di kelas dan satu-satunya yang berbahasa tidak sempurna, saya tidak akan belajar. Jadi harus disingkirkan lah kemaluan itu. Toh saya sudah punya satu di selangkangan, tidak perlu lagi ditambah kemaluan lain dalam hidup ini. Bikin repot saja.

Sudah sejak bulan Oktober tahun lalu, saya sekolah masak. Belajar tehnik memasak dan memahami karakter makanan. Belajar proses mulai dari kapan sebaiknya kentang itu ditanam dan dipetik hingga runtunan senyawa kimia dibalik cara membuat rendang terong. Atau bahkan Mioglobin yang sebenarnya adalah protein dengan bentuk struktur bulat yang menyimpan oksigen dan terbentuk dari rantai polipeptida, ternyata bisa dilihat secara gamblang ketika kita menggoreng daging hewan dengan minyak kelapa sedikit. Pada intinya, saya belajar jadi juru masak. Hehehe, mantap dahhh…

Bulan depan, saya sekolah lagi. Ikut bootcamp. Mendalami kembali code HTML, CSS, JS dan konco-konconya itu. Belajar ilmu baru bernama Ruby. Coba bikin game dan aplikasi ugal-ugalan yang selalu membuat saya bahagia.

Apa hubungannya dengan tiga bulan?

Sekolah masak saya akan selesai dalam tiga bulan ke depan. Coding bootcamp saya juga akan selesai. Bukan hanya edukasi saya yang akan selesai. Uang tabungan saya juga akan selesai. Sekolah, belajar mengerjakan tugas, jaga anak, bantu teman/tetangga yang membutuhkan, butuh banyak waktu rupanya. Susah cari waktu untuk bekerja. Jadi sodara sodari, saya hanya akan mengandalkan hidup dari uang tabungan yang setipis dada saya ini untuk bertahan hidup dalam tiga bulan ke depan.

Saya bahagia kalau masak. Sebagaimana bahagia yang saa ketika coding dan main skateboard bersama Novi Hidup rasanya seperti pelangi, warna-warni. Asik. Melakukan semua itu, seperti terpisah dari ruang dan waktu. Seperti hidup dalam dunia surrealisme. Tapi menyenangkan dan membuat bahagia. Ahh bingung saya menjelaskannya.

Pernah pakai komputer? Kalau pernah, apa pernah mengalami hang lalu kemudian menekan restart tombol komputer (atau melalui CLI seperti sudo reboot)?

Nah saat ini, Anda sedang menyaksikan kalau saya sedang menekan tombol re-start pada hidup saya. Re-start pada komputer itu canggih. Hanya berapa detik. Saya masih lebih lunak pada diri sendiri, dapat waktu selama tiga bulan ketika menekan tombol ini.

Jadi, dalam tiga bulan ini, saya akan menulis. Tentang apa yang saya alami. Kalau Anda mau mengikuti, silahkan ambil kesimpulan sendiri. Jangan minta sama saya, sebab saya toh tidak akan bagi-bagi kesimpulan. Saya hanya akan sekedar menulis. Bercerita tentang hidup, apa adanya. Sesuai versi saya :)

Tidak tahu, apa yang akan terjadi dalam tiga bulan ke depan. Entah hidup makin susah atau makin mudah. Saya sama sekali tidak tahu. Yang saya tahu, saya akan menjalani mimpi saya jadi kenyataan.

BTW, apa kabar? 😉

This entry was posted in sehari-hari and tagged , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Tentang Tiga Bulan – Pengantar

  1. halo, bang :)

    kabar saya baik. situ juga sudah baik, kan? alhamdulillah 😀

  2. Semoga sudah sembuh, dan bisa sehat selalu :)

  3. kunderemp says:

    Kabar saya baik.
    *telat sekali saya nengok laman ini.

  4. kabar saya alhamdulilah sehat sll bang

  5. artikel yang sangat bagus gan

Leave a Reply